Cast : Arioka Daiki & Yamada Ryosuke
Genre : Romance, Drama, dan sedikit angst
Cerita berdasarkan Daiki POV
Warning : Daiki jadi cewek disini.
Kalian semua pasti memiliki cinta pertama kan? Bagaimana nasib cinta pertama kalian? Apakah cinta kalian berakhir bahagia ataukah berakhir dengan penderitaan? Banyak orang yang bilang, cinta pertama hanya pantas menjadi cinta pertama. Maksudnya, tidak banyak orang yang berhasil menjalin cinta bahagia dengan cinta pertamanya. Seseorang yang menjadi cinta pertama kalian, belum tentu menjadi cinta terakhir bagi kalian. Mungkin ada beberapa orang yang sukses menjalin cinta dengan cinta pertamanya, akan tetapi orang-orang yang berhasil itu hanya sedikit. Seperti aku.
Ya, aku juga pernah merasakan cinta pertama. Cinta pertamaku adalah teman cowok yang sekelas denganku di SMP. Dia orang yang sangat ramah. Meskipun terkadang jahil. Wajahnya yang lumayan tampan membuatnya cukup populer di kalangan para siswi. Tidak sedikit para siswi yang datang ke kelasku untuk melihatnya dan mengajak untuk berkenalan. Terkadang aku merasa risih saat melihat para siswi dengan senyuman yang manja dan menggoda mendekat dengannya untuk berkenalan.
“Kenapa kau meladeni mereka satu persatu sih Yama?”.
Aku akhirnya memberanikan diri untuk menanyakan soal itu padanya saat hanya tinggal kami berdua di dalam kelas. Yama yang sedang asyik menyalin catatanku langsung menghentikan gerakannya dan menoleh ke arahku dengan pandangan yang sedikit bingung.
“Apa maksudmu Daichan?”.
Aku menghela nafas panjang. “Maksudku, kenapa kau meladeni cewek-cewek genit yang selalu minta kenalan itu? jangan-jangan kau diam-diam suka dengan hal yang seperti itu ya?”.
Yama yang mendengar pertanyaanku langsung tertawa terbahak-bahak. Aku hanya bisa menatap Yama dengan pandangan bingung. Aku terus menatapnya hingga dia selesai tertawa.
“Daichan... kau tahu... ucapanmu itu seperti cewek yang sedang cemburu pada pacarnya”.
Tiba-tiba mukaku terasa panas. Aku bisa menduga kalau saat ini mukaku terlihat seperti kepiting rebus yang berwarna merah. Sangat tidak kusangka, kalau perasaan yang lama kupendam ini bisa terbongkar dengan mudahnya di depan dia. Aku gugup dan panik. Aku tidak tahu harus berbuat apa untuk menyembunyikan perasaanku ini.
Yama hanya diam menatapku geli. Tatapannya semakin membuatku salah tingkah. Aku berusaha mengalihkan pandanganku agar tidak menatap matanya.
“Daichan... kau suka padaku?”.
Aku tersentak mendengar pertanyaan Yama. Benar saja. perasaanku benar-benar terbongkar di hadapannya. Aku bingung bagaimana menjawab pertanyaannya. Haruskah kujawab dengan jujur pertanyaan itu? haruskah kuungkapkan perasaanku saat ini di hadapannya?
“Kalau kubilang iya, kenapa?”
Aku berusaha memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanku. Kulontarkan pertanyaan itu untuk melihat reaksinya, bagaimana tanggapannya kalau dia tahu aku menyukainya.
Yama menundukkan kepalanya seperti sedang berpikir dengan keras. Aku menunggunya dalam diam. Aku merasa waktu berjalan sangat lambat. Aku sangat ingin segera mendengar jawabannya.
“Kalau kau juga menyukaiku, aku akan sangat bahagia. Karena aku juga menyukaimu”.
Aku langsung bersorak gembira saat mendengar jawaban Yama. Entah bagaimana rasanya, perasaanku berasa campur aduk. Aku betul-betul merasa sangat gembira mendengar jawaban yang terlontar dari mulut Yama.
Setelah itu, kami pun berpacaran. Aku begitu bahagia karena bisa bersama dengan orang yang kusukai. Apalagi Yama adalah cinta pertamaku. Masa SMP kulalui dengan percintaan yang indah. Meskipun banyak yang bilang kalau cinta yang dialami saat kecil adalah cinta monyet, tapi bagiku cinta ini adalah cinta yang sesungguhnya. Aku benar-benar mencintainya.
Kupikir, pada saat itu memang aku masih kecil, belum bisa berpikiran dewasa. Aku masih belum bisa mengendalikan emosiku dengan baik. Aku selalu merasa cemburu pada setiap cewek yang berbicara dengan Yama. Aku selalu mengirimkan SMS dan meneleponnya tiap hari untuk memastikan kalau dia masih menyukaiku. Aku selalu berusaha berjalan di dekatnya untuk menunjukkan kalau Yama adalah milikku. Sifat posesifku sangat kuat. Aku ingin memiliki Yama untuk diriku sendiri. aku tidak ingin Yama berpaling pada cewek lain.
“Daichan, akhir-akhir ini kau menyebalkan”.
Perkataan Inoo, teman sekelasku mengejutkanku. Inoo adalah sahabat karib yang selalu kuajak curhat. Aku selalu menceritakan masalahku padanya. Tidak terkecuali masalah mengenai hubunganku dengan Yama.
“Apanya?”, tanyaku tidak mengerti.
“Kau tahu, sifat posesifmu itu sangat menyebalkan. Hentikan sekarang juga, atau nanti kau akan menyesal”.
Aku merenung meratapi perkataan Inoo. Aku tidak merasa kalau sifatku ini menyebalkan. Ucapan Inoo tidak terlalu kuperhatikan. Aku menganggapnya sebagai bentuk kecemburuan karena aku berhasil memiliki seorang pacar sedangkan dia tidak. Seandainya aku lebih mendengarkan nasihat Inoo saat itu, tentu aku tidak akan menyesal.
2 tahun setelahnya, hubunganku dengan Yama berakhir. Yama meminta putus denganku. katanya dia tidak tahan dengan sikapku yang terlalu posesif. Dia ingin agar hubungan kami kembali seperti dulu saja, layaknya masih hanya sebatas ‘teman’. Aku berusaha memohon pada Yama agar kami bisa tetap berpacaran. Tapi, Yama tetap bersikukuh dengan keputusannya. Dia benar-benar ingin putus. Aku hanya bisa menangis meratapi hal ini.
Semenjak itu, hubunganku dengan Yama merenggang. Memang Yama bilang kalau hubungan kami lebih baik kembali seperti teman saja. tapi, aku tidak bisa melihatnya seperti itu. diam-diam aku menjauhinya karena aku tidak tahan dan tidak bisa menyembunyikan perasaanku. Akhirnya sampai saat ini aku tidak pernah berbicara lagi dengannya.
Kini aku sudah duduk di bangku kuliah. Semenjak pengalaman cintaku itu, aku jadi takut mengalami percintaan lagi. aku tidak pernah berpacaran dengan siapapun semenjak aku putus dengan Yama. Bahkan ketika ada seorang senpai yang cukup keren memintaku jadi pacarnya pun, aku sama sekali tidak berminat. Aku takut untuk jatuh cinta lagi. takut akan mengalami hal yang sama lagi.
Sebuah amplop berwarna merah yang kuterima hari ini membuatku hatiku berdebar. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari amplop itu. Tapi mataku langsung terbelalak kaget saat membaca nama pengirimnya, nama seseorang yang pernah kucintai.
YAMADA RYOSUKE.
Aku takut membuka amplop itu. Aku tidak ingin membaca isinya. Kenangan masa lalu yang buruk kembali berputar di kepalaku. Aku menghela napas panjang. Kuberanikan diri membuka amplop itu dan melihat isinya.
Aku langsung menghela nafas lega begitu melihat isi amplop itu. Sebuah undangan reuni. Kegalauan pun muncul dalam diriku. Apakah aku akan datang memenuhi undangan ini atau tidak? Kalau aku datang, aku bisa bertemu dengan Yama lagi. tapi, jika kami bertemu, apa yang harus kukatakan? Aku sendiri yang menarik diri darinya dan tidak berbicara lagi dengannya.
Aku menghubungi beberapa teman SMP-ku. Mereka mengatakan akan menghadiri reuni tersebut. Mereka juga memintaku untuk ikut hadir disana.
“Ah, mungkin aku tidak bertemu dengannya nanti. Murid SMP kan banyak. Kemungkinan kami bertemu juga kecil. Ada juga kemungkinan dia sudah melupakanku kan?”.
Akhirnya aku memutuskan untuk menghadiri reuni tersebut. Banyak teman-teman semasa SMP-ku yang datang. Aku menghela nafas lega. Aku sama sekali tidak bertemu dengan Yama. Aku juga tidak melihat dia dari tadi. Aku kemudian berjalan menuju tempat duduk untuk melepas rasa lelah yang kurasakan.
“Daichan? Apa kabar?”.
Aku tersentak kaget saat mendengar suara yang menyapaku. Aku mengenal baik suara itu meskipun sudah lama aku tidak bertemu dengannya.
“Yama...”, gumamku pelan.
Aku tidak berani menatap langsung ke matanya. Kejadian saat SMP itu membuatku tidak enak hati melihatnya. Kupikir aku tidak akan bertemu dengannya. Tidak kusangka, malah dia sendiri yang datang menghampiriku.
“Sudah lama kita tidak bertemu, kau sehat?”.
Aku mengangguk. Aku tahu kalau itu hanya pertanyaan basa-basi. Pertanyaan yang umum dilontarkan saat kebingungan mencari bahan pembicaraan. Aku hanya diam dalam kebisuan. Aku tidak berminat memulai pembicaraan dengannya.
“Daichan...”, Yama berbisik di telingaku. Telingaku langsung merasa geli dengan bisikannya. “Ada serangga di dekat kakimu”.
Sontak aku mengangkat kakiku. Kuulurkan kedua tanganku ke arah Yama. Aku sangat membenci serangga. Melihatnya saja tidak mau.
“Singkirkan! Singkirkan hewan itu dariku!!”
“Tenang Daichan... aku Cuma bercanda kok”
Aku menatap tajam ke arah Yama. Aku melihat mukanya yang tersenyum geli melihatku yang tampak sangat ketakutan. Rasa kesalku memuncak saat melihatnya tertawa.
“Tidak lucu Yama!”
“Akhirnya kau berbicara denganku...”
Aku tersentak mendengar perkataan Yama. Benar, akibat gurauan Yama tadi, aku akhirnya berbicara dengannya. Bahkan kini aku melihat wajahnya. Aku bisa wajahnya yang tampak jauh lebih dewasa sekarang dibandingkan dengan yang dulu. Dadanya juga semakin lebar. Bahunya semakin tegap. Sungguh sangat berbeda dengan Yama yang kuingat dulu.
DEG!
Jantungku kembali berdebar kencang. Aku bisa merasa detakan jantungku semakin cepat. Ini kedua kalinya aku merasa seperti ini. yang pertama, saat aku menyadari kalau Yama adalah cinta pertamaku. Yang kedua, adalah saat ini. ketika aku melihat wajahnya lagi setelah sekian tahun tidak bertemu.
“Kau kuliah dimana saat ini?”
Kuberanikan diri untuk memulai percakapan. Bisa kulihat wajah Yama yang tampak sedikit gembira saat melihatku yang antusias memulai percakapan. Berawal dari satu pertanyaan ini, akhirnya kami mulai berbicara dengan santai. Aku pun seakan lupa dengan peristiwa menyakitkan saat SMP itu.
Aku terus berbicara dengan Yama hingga acara selesai. Aku tidak menyangka kalau aku bisa berbicara santai seperti itu lagi dengannya. Kami serasa kembali seperti dulu. Saat dimana aku mulai mengenalnya dan belum mengungkapkan perasaanku. Aku merasa sangat sedih ketika harus berpisah dengannya setelah ini. rasanya sayang melewatkan hal ini.
“Ini no.Hpku, hubungi aku nanti ya”
Yama menyerahkan secarik kertas padaku berisi sebuah nomor. Aku menerima kertas itu dengan senang hati. Yama melambaikan tangannya padaku saat kami berpisah. Aku membalas lambaian tangannya. Aku terus menatapnya hingga dia menghilang dari hadapanku. Kupegang dengan erat kertas yang baru kuterima dari Yama itu.
“Tuhan. Bolehkah aku mencintainya sekali lagi? biarkan aku menjalin kisah dengannya lagi”
END
Genre : Romance, Drama, dan sedikit angst
Cerita berdasarkan Daiki POV
Warning : Daiki jadi cewek disini.
Kalian semua pasti memiliki cinta pertama kan? Bagaimana nasib cinta pertama kalian? Apakah cinta kalian berakhir bahagia ataukah berakhir dengan penderitaan? Banyak orang yang bilang, cinta pertama hanya pantas menjadi cinta pertama. Maksudnya, tidak banyak orang yang berhasil menjalin cinta bahagia dengan cinta pertamanya. Seseorang yang menjadi cinta pertama kalian, belum tentu menjadi cinta terakhir bagi kalian. Mungkin ada beberapa orang yang sukses menjalin cinta dengan cinta pertamanya, akan tetapi orang-orang yang berhasil itu hanya sedikit. Seperti aku.
Ya, aku juga pernah merasakan cinta pertama. Cinta pertamaku adalah teman cowok yang sekelas denganku di SMP. Dia orang yang sangat ramah. Meskipun terkadang jahil. Wajahnya yang lumayan tampan membuatnya cukup populer di kalangan para siswi. Tidak sedikit para siswi yang datang ke kelasku untuk melihatnya dan mengajak untuk berkenalan. Terkadang aku merasa risih saat melihat para siswi dengan senyuman yang manja dan menggoda mendekat dengannya untuk berkenalan.
“Kenapa kau meladeni mereka satu persatu sih Yama?”.
Aku akhirnya memberanikan diri untuk menanyakan soal itu padanya saat hanya tinggal kami berdua di dalam kelas. Yama yang sedang asyik menyalin catatanku langsung menghentikan gerakannya dan menoleh ke arahku dengan pandangan yang sedikit bingung.
“Apa maksudmu Daichan?”.
Aku menghela nafas panjang. “Maksudku, kenapa kau meladeni cewek-cewek genit yang selalu minta kenalan itu? jangan-jangan kau diam-diam suka dengan hal yang seperti itu ya?”.
Yama yang mendengar pertanyaanku langsung tertawa terbahak-bahak. Aku hanya bisa menatap Yama dengan pandangan bingung. Aku terus menatapnya hingga dia selesai tertawa.
“Daichan... kau tahu... ucapanmu itu seperti cewek yang sedang cemburu pada pacarnya”.
Tiba-tiba mukaku terasa panas. Aku bisa menduga kalau saat ini mukaku terlihat seperti kepiting rebus yang berwarna merah. Sangat tidak kusangka, kalau perasaan yang lama kupendam ini bisa terbongkar dengan mudahnya di depan dia. Aku gugup dan panik. Aku tidak tahu harus berbuat apa untuk menyembunyikan perasaanku ini.
Yama hanya diam menatapku geli. Tatapannya semakin membuatku salah tingkah. Aku berusaha mengalihkan pandanganku agar tidak menatap matanya.
“Daichan... kau suka padaku?”.
Aku tersentak mendengar pertanyaan Yama. Benar saja. perasaanku benar-benar terbongkar di hadapannya. Aku bingung bagaimana menjawab pertanyaannya. Haruskah kujawab dengan jujur pertanyaan itu? haruskah kuungkapkan perasaanku saat ini di hadapannya?
“Kalau kubilang iya, kenapa?”
Aku berusaha memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanku. Kulontarkan pertanyaan itu untuk melihat reaksinya, bagaimana tanggapannya kalau dia tahu aku menyukainya.
Yama menundukkan kepalanya seperti sedang berpikir dengan keras. Aku menunggunya dalam diam. Aku merasa waktu berjalan sangat lambat. Aku sangat ingin segera mendengar jawabannya.
“Kalau kau juga menyukaiku, aku akan sangat bahagia. Karena aku juga menyukaimu”.
Aku langsung bersorak gembira saat mendengar jawaban Yama. Entah bagaimana rasanya, perasaanku berasa campur aduk. Aku betul-betul merasa sangat gembira mendengar jawaban yang terlontar dari mulut Yama.
Setelah itu, kami pun berpacaran. Aku begitu bahagia karena bisa bersama dengan orang yang kusukai. Apalagi Yama adalah cinta pertamaku. Masa SMP kulalui dengan percintaan yang indah. Meskipun banyak yang bilang kalau cinta yang dialami saat kecil adalah cinta monyet, tapi bagiku cinta ini adalah cinta yang sesungguhnya. Aku benar-benar mencintainya.
Kupikir, pada saat itu memang aku masih kecil, belum bisa berpikiran dewasa. Aku masih belum bisa mengendalikan emosiku dengan baik. Aku selalu merasa cemburu pada setiap cewek yang berbicara dengan Yama. Aku selalu mengirimkan SMS dan meneleponnya tiap hari untuk memastikan kalau dia masih menyukaiku. Aku selalu berusaha berjalan di dekatnya untuk menunjukkan kalau Yama adalah milikku. Sifat posesifku sangat kuat. Aku ingin memiliki Yama untuk diriku sendiri. aku tidak ingin Yama berpaling pada cewek lain.
“Daichan, akhir-akhir ini kau menyebalkan”.
Perkataan Inoo, teman sekelasku mengejutkanku. Inoo adalah sahabat karib yang selalu kuajak curhat. Aku selalu menceritakan masalahku padanya. Tidak terkecuali masalah mengenai hubunganku dengan Yama.
“Apanya?”, tanyaku tidak mengerti.
“Kau tahu, sifat posesifmu itu sangat menyebalkan. Hentikan sekarang juga, atau nanti kau akan menyesal”.
Aku merenung meratapi perkataan Inoo. Aku tidak merasa kalau sifatku ini menyebalkan. Ucapan Inoo tidak terlalu kuperhatikan. Aku menganggapnya sebagai bentuk kecemburuan karena aku berhasil memiliki seorang pacar sedangkan dia tidak. Seandainya aku lebih mendengarkan nasihat Inoo saat itu, tentu aku tidak akan menyesal.
2 tahun setelahnya, hubunganku dengan Yama berakhir. Yama meminta putus denganku. katanya dia tidak tahan dengan sikapku yang terlalu posesif. Dia ingin agar hubungan kami kembali seperti dulu saja, layaknya masih hanya sebatas ‘teman’. Aku berusaha memohon pada Yama agar kami bisa tetap berpacaran. Tapi, Yama tetap bersikukuh dengan keputusannya. Dia benar-benar ingin putus. Aku hanya bisa menangis meratapi hal ini.
Semenjak itu, hubunganku dengan Yama merenggang. Memang Yama bilang kalau hubungan kami lebih baik kembali seperti teman saja. tapi, aku tidak bisa melihatnya seperti itu. diam-diam aku menjauhinya karena aku tidak tahan dan tidak bisa menyembunyikan perasaanku. Akhirnya sampai saat ini aku tidak pernah berbicara lagi dengannya.
Kini aku sudah duduk di bangku kuliah. Semenjak pengalaman cintaku itu, aku jadi takut mengalami percintaan lagi. aku tidak pernah berpacaran dengan siapapun semenjak aku putus dengan Yama. Bahkan ketika ada seorang senpai yang cukup keren memintaku jadi pacarnya pun, aku sama sekali tidak berminat. Aku takut untuk jatuh cinta lagi. takut akan mengalami hal yang sama lagi.
Sebuah amplop berwarna merah yang kuterima hari ini membuatku hatiku berdebar. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari amplop itu. Tapi mataku langsung terbelalak kaget saat membaca nama pengirimnya, nama seseorang yang pernah kucintai.
YAMADA RYOSUKE.
Aku takut membuka amplop itu. Aku tidak ingin membaca isinya. Kenangan masa lalu yang buruk kembali berputar di kepalaku. Aku menghela napas panjang. Kuberanikan diri membuka amplop itu dan melihat isinya.
Aku langsung menghela nafas lega begitu melihat isi amplop itu. Sebuah undangan reuni. Kegalauan pun muncul dalam diriku. Apakah aku akan datang memenuhi undangan ini atau tidak? Kalau aku datang, aku bisa bertemu dengan Yama lagi. tapi, jika kami bertemu, apa yang harus kukatakan? Aku sendiri yang menarik diri darinya dan tidak berbicara lagi dengannya.
Aku menghubungi beberapa teman SMP-ku. Mereka mengatakan akan menghadiri reuni tersebut. Mereka juga memintaku untuk ikut hadir disana.
“Ah, mungkin aku tidak bertemu dengannya nanti. Murid SMP kan banyak. Kemungkinan kami bertemu juga kecil. Ada juga kemungkinan dia sudah melupakanku kan?”.
Akhirnya aku memutuskan untuk menghadiri reuni tersebut. Banyak teman-teman semasa SMP-ku yang datang. Aku menghela nafas lega. Aku sama sekali tidak bertemu dengan Yama. Aku juga tidak melihat dia dari tadi. Aku kemudian berjalan menuju tempat duduk untuk melepas rasa lelah yang kurasakan.
“Daichan? Apa kabar?”.
Aku tersentak kaget saat mendengar suara yang menyapaku. Aku mengenal baik suara itu meskipun sudah lama aku tidak bertemu dengannya.
“Yama...”, gumamku pelan.
Aku tidak berani menatap langsung ke matanya. Kejadian saat SMP itu membuatku tidak enak hati melihatnya. Kupikir aku tidak akan bertemu dengannya. Tidak kusangka, malah dia sendiri yang datang menghampiriku.
“Sudah lama kita tidak bertemu, kau sehat?”.
Aku mengangguk. Aku tahu kalau itu hanya pertanyaan basa-basi. Pertanyaan yang umum dilontarkan saat kebingungan mencari bahan pembicaraan. Aku hanya diam dalam kebisuan. Aku tidak berminat memulai pembicaraan dengannya.
“Daichan...”, Yama berbisik di telingaku. Telingaku langsung merasa geli dengan bisikannya. “Ada serangga di dekat kakimu”.
Sontak aku mengangkat kakiku. Kuulurkan kedua tanganku ke arah Yama. Aku sangat membenci serangga. Melihatnya saja tidak mau.
“Singkirkan! Singkirkan hewan itu dariku!!”
“Tenang Daichan... aku Cuma bercanda kok”
Aku menatap tajam ke arah Yama. Aku melihat mukanya yang tersenyum geli melihatku yang tampak sangat ketakutan. Rasa kesalku memuncak saat melihatnya tertawa.
“Tidak lucu Yama!”
“Akhirnya kau berbicara denganku...”
Aku tersentak mendengar perkataan Yama. Benar, akibat gurauan Yama tadi, aku akhirnya berbicara dengannya. Bahkan kini aku melihat wajahnya. Aku bisa wajahnya yang tampak jauh lebih dewasa sekarang dibandingkan dengan yang dulu. Dadanya juga semakin lebar. Bahunya semakin tegap. Sungguh sangat berbeda dengan Yama yang kuingat dulu.
DEG!
Jantungku kembali berdebar kencang. Aku bisa merasa detakan jantungku semakin cepat. Ini kedua kalinya aku merasa seperti ini. yang pertama, saat aku menyadari kalau Yama adalah cinta pertamaku. Yang kedua, adalah saat ini. ketika aku melihat wajahnya lagi setelah sekian tahun tidak bertemu.
“Kau kuliah dimana saat ini?”
Kuberanikan diri untuk memulai percakapan. Bisa kulihat wajah Yama yang tampak sedikit gembira saat melihatku yang antusias memulai percakapan. Berawal dari satu pertanyaan ini, akhirnya kami mulai berbicara dengan santai. Aku pun seakan lupa dengan peristiwa menyakitkan saat SMP itu.
Aku terus berbicara dengan Yama hingga acara selesai. Aku tidak menyangka kalau aku bisa berbicara santai seperti itu lagi dengannya. Kami serasa kembali seperti dulu. Saat dimana aku mulai mengenalnya dan belum mengungkapkan perasaanku. Aku merasa sangat sedih ketika harus berpisah dengannya setelah ini. rasanya sayang melewatkan hal ini.
“Ini no.Hpku, hubungi aku nanti ya”
Yama menyerahkan secarik kertas padaku berisi sebuah nomor. Aku menerima kertas itu dengan senang hati. Yama melambaikan tangannya padaku saat kami berpisah. Aku membalas lambaian tangannya. Aku terus menatapnya hingga dia menghilang dari hadapanku. Kupegang dengan erat kertas yang baru kuterima dari Yama itu.
“Tuhan. Bolehkah aku mencintainya sekali lagi? biarkan aku menjalin kisah dengannya lagi”
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar