Selasa, 16 Februari 2016

TEN KNIGHTS - AFTER THAT

TakaDai sekuel version

Chapter 2


Daiki dan Yuya kini telah berada di dalam rumah. Kondisi di dalam rumah tidak jauh berbeda dengan kondisi rumah lain pada umumnya, terlihat cukup 'normal' untuk sebuah rumah sang necromancer. Perabotan yang ada cukup sederhana dan minimalis. Rumah kecil itu terlihat jauh lebih nyaman dan enak untuk ditinggali seakan melupakan fakta kalau rumah ini berada di tengah pemakaman. Daiki berjalan menghampiri sebuah rak buku yang cukup besar yang berada tidak jauh dari situ. Dia mengamati satu persatu buku yang ada di rak, mencari kitab necromancy yang diminta oleh sang sorcerer. Yuya mengawasi bagian dalam rumah itu, berusaha untuk tetap waspada terhadap jebakan atau perangkap yang mungkin dipasang di dalam rumah ini. Ucapan Keiko-san sesaat sebelum mereka berpisah kembali terngiang di kepalanya. 'jangan sampai kalian terkena perangkap'.

"Daichan..... kau sudah menemukannya?", tanya Yuya sambil terus melihat tengkorak hidup yang berdiri di depan pintu.

"Belum... Dan yang lebih penting lagi, aku tidak tahu kitabnya seperti apa. Semua buku yang ada disini ditulis dengan tulisan kuno. Aku sama sekali tidak bisa membacanya. Aku hanya bisa mengira-ngira saja isinya apa. Tahu begini aku akan minta bantuan Inoo saja", keluh Daiki sambil melihat buku yang ada di rak satu persatu.

"Kau sendiri yang minta kita saja yang pergi, tidak usah minta bantuan yang lain".

"Iya iya....". Daiki mengambil sebuah buku yang cukup tebal. Halaman buku itu mulai menguning. Daiki membuka halaman buku itu satu persatu. Banyak lingkaran sihir dan simbol-simbol necromancy berada di buku itu. "Jangan-jangan buku ini yang dimaksud", gumam Daiki.

"Kau sudah menemukannya?", tanya Yuya. Dia terus berdiri dengan cemas. Perasaannya tidak enak dari tadi. Ada sesuatu di dalam rumah ini yang membuatnya merasa tidak enak.

"Kurasa begitu. Aku sudah mengecek semua buku, hanya buku ini saja yang kurasa kitab itu. Simbol necromancy dan lingkaran sihir banyak tergambar di buku ini. Aku memang tidak bisa membaca tulisannya, tapi aku tahu beberapa simbol necromancy. Jadi kurasa buku ini yang kita cari", kata Daiki sambil menutup buku yang dibacanya itu.

Yuya berjalan menghampiri Daiki, dia melihat buku yang dimaksud oleh Daiki. Yuya mencoba mengangkat buku yang cukup tebal itu. "BERATT!!!", keluh Yuya sambil membawa buku itu. Daiki hanya tertawa melihat Yuya yang kesusahan membawa buku itu.

"Lalu, dimana api hitam itu? Sang sorcerer bilang kalau kita harus menghancurkan buku ini dengan membakarnya di api hitam. Tapi, baik di dalam rumah ini, maupun di sekitar pemakaman, aku tidak melihat ada api yang menyala. Apalagi api hitam", gumam Daiki.

Rangka hidup yang berdiri di depan pintu tiba-tiba berjalan masuk ke dalam rumah. Rangka itu menghampiri Daiki dan Yuya. Rangka itu menunjuk ke sebuah arah, lalu berjalan pergi menunjuk ke arah yang ditunjuk. Daiki dan Yuya hanya berdiri penuh dengan tanda tanya, mereka berdua saling berpandangan.

"Jangan bilang kalau rangka itu ingin kita mengikutinya", kata Yuya.

"Kupikir begitu. Dia sepertinya ingin menuntun kita ke suatu tempat", kata Daiki. Rangka itu kemudian berhenti dan melihat ke arah mereka, seakan menandakan kalau dia sedang menunggu Daiki dan Yuya untuk mengikutinya. Daiki dan Yuya saling berpandangan, mereka akhirnya mulai bergerak mengikuti rangka itu. Rangka itu kemudian kembali berjalan lagi. Mereka terus berjalan hingga sampai ke sebuah makam. Rangka itu tiba-tiba hancur. Daiki berjongkok dan melihat tulisan di batu nisan makam tersebut.

"Ini makam siapa?", tanya Yuya.

Daiki mengangkat bahunya, "Entahlah, tidak ada tulisan apapun di batu nisan ini". Daiki mengusap batu nisan itu. Tiba-tiba makam itu terbuka, Daiki dan Yuya bisa melihat sebuah peti mati yang ada di dalamnya. Daiki membuka peti mati itu secara perlahan. "Kosong", ucap Daiki saat melihat tidak ada apapun di peti mati itu.

"Apa maksudnya ini?", tanya Yuya tidak mengerti. Dia meletakkan kitab necromancy yang berat itu di tanah, dan kemudian berjongkok untuk melihat peti mati itu lebih dekat.

"Tunggu, ada sesuatu disini", Daiki melihat sebuah ukiran di tutup peti mati. Sebuah lambang Necromancer tergambar di peti mati itu. "Ada lambang sang necromancer disini. Masa iya ini peti mati sang necromancer??".

"Bukannya sang necromancer itu disegel bersama maou yang merasukinya? Tidak mungkin dia dimakamkan di tempat ini", kata Yuya.

"Itu memang peti matiku", tiba tiba terdengar suara seseorang dari arah belakang. Daiki dan Yuya tersentak kaget saat melihat ada sesosok lelaki berdiri di hadapan mereka. Wajahnya cukup rupawan, badannya tinggi, dan satu hal yang lebih mencengangkan, tubuh lelaki itu transparan!

"Anda siapa?", tanya Daiki.

"Perkenalkan, aku adalah sang necromancer", ucap lelaki itu. Daiki dan Yuya langsung terperanjat kaget saat mendengarnya. Mereka sama sekali tidak mempercayai kalau sang necromancer berdiri di hadapan mereka.

"Anda sang necromancer? Tapi bukankah anda.....", Yuya tidak mampu melanjutkan perkataannya. Dia ragu bagaimana memilih kata yang tepat untuk berbicara dengan seseorang yang selalu dianggap berbahaya bagi mereka.

"Aku memang telah disegel bersama dengan dewa maou yang merasukiku. Tapi yang disegel oleh magician dan alchemist hanyalah tubuh fisikku saja. Kesadaranku, atau lebih tepatnya jiwaku telah lama lepas dari tubuh itu. Sang sorcerer membantuku melepaskan jiwaku ini dari tubuhku, tapi sebagai gantinya dia harus kehilangan nyawanya", raut wajah sang Necromancer kini berubah menjadi sedih. Daiki kini yakin kalau sang necromancer yang berdiri di hadapan mereka ini bukanlah orang jahat.

"Aku meminta bantuan sang sorcerer untuk menemukan seseorang yang mampu menghancurkan kitab milikku. Aku tidak ingin kitab itu jatuh di tangan orang yang salah. Tubuh fisikku saja kini disalahgunakan oleh para maou itu. Aku sangat menyesal tidak bisa mengendalikan maou itu, malah aku yang akhirnya dikendalikan", ucap sang Necromancer. Mukanya penuh dengan rasa penyesalan. "Akhirnya, setelah sekian tahun aku menunggu, kalian datang. Sang sorcerer yang mengutus kalian kan?". Daiki dan Yuya mengangguk.

"Tapi, bagaimana caranya kami menghancurkan buku ini? Kami sama sekali tidak melihat ada api hitam", tanya Daiki sambil menunjuk kitab necromancy yang kini telah dipegang kembali oleh Yuya.

"Oleh karena itu kini aku muncul kembali. Aku menggunakan sedikit kekuatan sang sorcerer dan sedikit kekuatanku yang tersisa". Tiba-tiba rumah yang ada di tengah pemakaman itu meledak. Api mulai membara di rumah itu. Pada awalnya, api itu berwarna kuning terang, perlahan, api itu mulai menjadi gelap dan pada akhirnya api itu berwarna hitam. "Nah, sekarang lemparkan kitab itu ke dalam api hitam itu. Tapi, berhati-hatilah, jangan sampai kalian terkena semburan api hitam itu".

"Api apa itu?", tanya Yuya sambil mengamati bara api yang tampaknya seperti hidup itu. Api itu menggeliat kesana kemari dengan liar, bagaikan binatang buas yang berusaha melepaskan rantai yang mengikatnya.

"Satu-satunya api kegelapan yang paling berbahaya, api hitam. Api ini bisa menghancurkan apapun. Apapun yang terkena api ini, akan hancur sampai tidak bersisa, dan tidak bisa dikembalikan lagi. Kitab milikku itu mengandung ilmu magis juga, sehingga tidak mudah untuk menghancurkannya. Satu-satunya cara hanya membakarnya dengan api hitam ini", jelas sang necromancer.

Yuya maju sambil membawa buku itu. Daiki tetap berdiam diri di tempat untuk menghindari semburan api yang menggeliat kesana kemari. Berkat kemampuannya, Yuya bisa menghindar dari semburan liar api itu. Yuya kini telah berada sangat dekat dengan api itu. Dia mengangkat buku berat yang ada di tangannya dengan susah payah, bersiap untuk melemparkan buku itu ke dalam api.

"Oh begitu rupanya, kenapa sang sorcerer meminta kami yang menghancurkan buku itu. Karena hanya Yuya yang bisa mendekati buku itu dengan aman, tanpa takut terluka, karena kemampuan nullifiaction yang dimilikinya", gumam Daiki sambil terus memperhatikan Yuya dari belakang.

Yuya melemparkan kitab itu ke dalam api. BLAR! Api hitam itu menyala semakin besar. Seakan seperti melahap habis sesuatu yang baru saja masuk ke dalam kobaran api. Kobaran api bergerak semakin liar. Beberapa makam yang ada di dekat situ mulai hancur terkena semburan api hitam. Lapisan pelindung pun tampaknya mulai sedikit rusak. Yuya bisa melihat ada sedikit lubang yang terbentuk di atas api. Sang necromancer berdiri di hadapan Yuya dan melakukan sesuatu. Perlahan api hitam itu mulai padam. Nyala api hitam itu semakin kecil, dan lama-lama api hitam itu padam.

"Terima kasih atas bantuan kalian. Kini tidak ada lagi yang perlu ku khawatirkan", sang necromancer tersenyum pada Daiki dan Yuya. "Kekuatanku kini telah habis. Aku tidak bisa muncul lagi. Aku juga tidak bisa menjaga tempat ini lagi. Jadi lebih baik kalian segera pergi dari tempat ini sebelum aku benar-benar lenyap". Sesaat setelah sang necromancer berkata seperti itu, perlahan tubuh sang necromancer mulai lenyap.

"Apa maksud anda?", tanya Daiki.

"Aku telah membuat perangkap untuk menjebak siapapun yang masuk ke dalam pelindung ini. Untuk mencegah orang-orang yang berniat jahat. Kalian berdua aman karena aku tidak mengaktifkannya untuk kalian. Tapi, bila aku telah lenyap nanti, perangkap itu akan aktif kembali dan kalian tidak bisa keluar dari tempat ini. Jadi lebih baik kalau kalian segera pergi dari sini". Tapi sayang, saat sang necromancer selesai berkata, wujudnya kini telah benar-benar lenyap.

"Tunggu dulu.... perangkap apa yang ada di tempat ini?", tanya Daiki.

"Entahlah, perasaanku mulai tidak enak dari tadi", jawab Yuya. Yuya melihat ke sekeliling mereka, firasat buruknya kini terbukti. "Sudah kuduga. Kelihatannya kita memang tidak akan mudah keluar dari sini Daichan....".

Daiki dan Yuya kini berdiri saling membelakangi. Mereka tampak berusaha melindungi punggung satu sama lain. Dari arah makam, beberapa mayat bangkit dari makamnya dan kini berjalan menuju Daiki dan Yuya. Sebenarnya, mayat hidup ini tidak ada bedanya dengan zombie, makhluk kegelapan. Selain zombie, ada beberapa makhluk lain yang juga ikut bangkit. Beberapa di antaranya wujudnya sudah tidak berbentuk lagi. Makhluk-makhluk ini berdiri mengelilingi Daiki dan Yuya, seakan menandakan kalau mereka tidak ingin membiarkan Daiki dan Yuya lolos dari mereka.

"Sepertinya kita harus bertarung melawan mereka Daichan".

"Kurasa hal itu mustahil Yuya....".

Yuya melirik Daiki dengan heran, "kenapa? Kau capek?", tanya Yuya. "Bukankah kemampuanmu kini telah kembali? Apa jangan-jangan sekarang kemampuanmu hilang lagi?"

Daiki menggeleng, "Kau lupa? Aku tidak bisa menggunakan kemampuanku selama kau ada. Kemampuanmu menghalangiku menggunakan kemampuanku. Bila kau menghilangkan kemampuanmu, kau sendiri yang akan terkena racun dariku", jawab Daiki.

"Ah iya ya", Yuya menepuk punggung tangannya. "Terus apa yang harus kita lakukan? Kita masih bisa melawan mereka dengan tangan kosong kan?".

"Kalau begitu caranya, kita bisa kehabisan tenaga. Apa kau tidak melihat kalau jumlah mereka ini sangat banyak. Aku yakin kalau mereka ini sama dengan makhluk kegelapan yang lain. Apalagi kita sama sekali tidak memiliki senjata".

"Lalu maksudmu kita hanya berdiam saja disini sambil menunggu mereka membukakan jalan untuk kita?".

Daiki mengamati makhluk-makhluk kematian itu satu persatu, "Tidak ada cara lain". Daiki menarik tangan Yuya, "Kau masih bisa lari kan? Ayo kita lari sekuat tenaga keluar dari sini". Mereka berdua kini mulai berlari sambil menghindar dari makhluk yang menghadang mereka. Bahkan Daiki dan Yuya menendang dan menghajar makhluk yang terus menghadang mereka.

Mereka berdua kini telah berada di dekat pelindung. Tinggal beberapa langkah lagi mereka bisa keluar dari sana. Tiba-tiba di hadapan mereka berdiri sesosok makhluk bertubuh yang cukup besar. Makhluk itu berkaki empat, memiliki ekor, dan berkepala tiga. Masing-masing dari kepala makhluk itu mengeluarkan air liur yang cukup banyak. Tampang mereka cukup menjijikkan. Daiki dan Yuya seketika menghentikan langkahnya saat melihat makhluk itu berdiri di hadapan mereka.

"Cerberus.....", gumam Daiki. "Kenapa makhluk ini ada disini?", tanya Daiki sambil melihat dengan takjub makhluk mengerikan yang ada di hadapannya.

"Cerberus? Maksudmu makhluk yang katanya merupakan anjing penjaga pintu neraka itu?", ucap Yuya tidak percaya. Dia melihat wajah makhluk itu dan mengamatinya baik-baik. "Tapi, mukanya sama sekali tidak terlihat seperti anjing", komentar Yuya saat melihat muka makhluk itu yang benar-benar tidak berbentuk. Mukanya benar-benar terlihat hancur berantakan. Hanya mulutnya yang lebar, lidah yang menjulur, dan ludah yang terus menetes, yang benar-benar terlihat jelas di muka makhluk itu. Makhluk itu melihat ke arah Yuya dengan tajam ketika Yuya berkomentar seperti itu. Yuya menelan air ludahnya saat melihat ketiga kepala makhluk itu melihat ke arahnya.

"Tampaknya dia tersinggung saat mendengar ucapanmu", bisik Daiki.

"Tapi mukanya memang benar-benar tidak terlihat seperti anjing", ucap Yuya lagi. Makhluk itu melihat lagi ke arah Yuya. Yuya bergidik ngeri saat melihat ada 3 pasang mata yang melihat ke arahnya.

"Sudahlah. Yang penting bagaimana caranya kita bisa lolos dari dia? Melawannya dengan tangan kosong tampaknya sangat susah. Aku juga tidak bisa menggunakan kemampuanku", Daiki berpikir dengan keras, memikirkan bagaimana caranya mereka bisa lolos dari cerberus ini

Cerberus itu mengangkat satu kaki depannya dan mengarahkannya ke arah Daiki dan Yuya. Dengan sigap, Daiki dan Yuya melompat ke samping, menghindar dari serangan cerberus itu. Cerberus itu terus menggerakkan kedua kakinya dan ekornya untuk terus menyerang. Daiki dan Yuya terus melompat kesana kemari, sambil melayangkan serangan ke arah cerberus itu. Tidak lupa, mereka juga menyerang makhluk lain yang menyerang mereka dari arah belakang.

Tiba-tiba terdengar ada sebuah alunan lagu. Nada-nadanya sangat lembut, makhluk-makhluk mengerikan yang mengurung dan menyerang mereka langsung berhenti. Tidak terkecuali cerberus yang berdiri di hadapan mereka. Mereka semua berhenti, seakan-akan ada sesuatu yang mengikat mereka.

"Kalian berdua! Ayo cepat keluar dari sana, sebelum makhluk-makhluk itu bergerak kembali!", seru seseorang dari balik pelindung. Daiki dan Yuya langsung berlari keluar menuruti perintah orang tersebut. Sesampainya di luar, mereka bisa melihat seseorang sedang berdiri menunggu mereka disana. Di tangannya terdapat sebuah seruling. Daiki dan Yuya tidak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka saat melihat wajah orang yang berdiri di hadapan mereka.

"Keiko-san??", seru Daiki dan Yuya saat melihat Keiko berdiri di hadapan mereka.

"Kalian baik-baik saja? Untunglah aku segera datang kemari", ucap Keiko.

"Keiko-san, siapa anda sebenarnya?", tanya Yuya. "Sebelum kita berpisah tadi, anda memperingatkan kami tentang perangkap. Seakan anda tahu apa yang terjadi di tempat ini. Anda juga tahu kalau kami ini adalah ksatria".

"EHH?!?!?!", seru Daiki kaget. Dia sama sekali tidak tahu apa yang dikatakan Yuya tadi.

"Kurasa kita akan melakukan pembicaraan panjang. Ayo ikut aku. Rumahku ada di dekat sini. Lebih enak berbicara disana. Banyak yang akan kujelaskan pada kalian. Kalian juga, banyak yang ingin kalian tanyakan kan?", ucap Keiko sambil berjalan menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh Dari sana. Daiki dan Yuya pun mengikuti Keiko ke Mobil. Mereka bertiga pun menuju ke rumah Keiko.

Setelah beberapa menit berjalan, mobil itu berhenti di sebuah rumah sederhana. Keiko mengajak Daiki dan Yuya untuk masuk ke dalam rumah. Mereka bertiga pun masuk. Suasana di dalam rumah terlihat cukup sederhana.

"Kalian berdua duduk saja disana", Keiko menunjuk sofa yang ada di ruang tengah.

Daiki dan Yuya berjalan menuju sofa, lalu duduk disana sesuai perintah Keiko. Keiko sendiri menuju ke suatu tempat. Daiki melihat-lihat pigura yang terpajang di atas perapian. Pigura itu memuat foto 2 orang perempuan. Foto itu adalah foto Keiko bersama perempuan lain yang lebih muda. Daiki mengamati perempuan itu, "sepertinya aku pernah melihat perempuan ini", gumam Daiki.

"Kenapa Daichan?", tanya Yuya.

"Hei, kau merasa pernah melihat perempuan itu tidak?", Daiki menunjuk perempuan yang ada di samping Keiko dalam foto.

Yuya mengamati perempuan yang dimaksud oleh Daiki. "Kau benar. Aku pernah merasa melihat perempuan itu. Tapi dimana ya??".

"Maaf membuat kalian menunggu", Keiko muncul di hadapan mereka sambil membawa nampan berisi 3 galas cangkir. "Kuharap kalian bakal suka, ini teh racikanku sendiri". Keiko memberikan Daiki dan Yuya masing-masing 1 gelas. Baru harum teh langsung tercium Dari gelas tersebut. Daiki dan Yuya meminum teh itu.

"Enak....", kata Daiki dan Yuya kompak. Keiko tersenyum mendengarnya.

"Nah, kalian pasti bertanya-tanya, siapa aku sebenarnya", kata Keiko. Daiki dan Yuya mengangguk. "Hmm... Darimana aku bercerita ya", Keiko berdiri dan mengambil sesuatu Dari lemari. Di tangan Keiko kini terdapat sebuah kotak. Kotak itu cukup berdebu dan kelihatan cukup usang. Keiko membuka kotak itu, dan mengambil selembar lukisan. Keiko membentangkan lukisan di hadapan Yuya dan Daiki. Seorang lelaki terlukis di lembaran tersebut.

"Laki-laki ini... Bukankah ini sang necromancer?", tanya Daiki saat melihat lukisan itu.

"Memang apa hubungannya dengan sang necromancer?", tanya Yuya.

"Leluhurku merupakan salah satu murid sang necromancer. Dia juga salah satu ksatria dulunya. Waktu kejadian buruk itu terjadi, leluhurku ditunjuk untuk menjaga kediaman sang necromancer. Keluarga kami menjaga kediaman sang necromancer, hal itu sudah menjadi tradisi", jelas Keiko.

"Tunggu, berarti Keiko-san juga seorang ksatria?", tanya Yuya.

Keiko tertawa dan menggeleng, "Tidak. Sudah beberapa puluh tahun di keluarga kami tidak ada satupun keluarga kami yang menjadi seorang ksatria. Tapi meskipun begitu, tugas untuk menjaga makam dan kediaman sang necromancer itu tetap kami jalankan meskipun kami bukan seorang ksatria".

"Lalu, apa yang tadi anda lakukan disana? Makhluk-makhluk itu langsung berhenti saat mendengar Nada Dari seruling tersebut", tanya Daiki.

"Oh itu", Keiko mengambil seruling yang dimaksud dan menunjukkannya ke Daiki. "Seruling ini diberikan ke keluarga kami. Seruling ini berisi kekuatan magis Dari sang necromancer. Seruling ini bisa menghentikan perangkap yang aktif. Sang necromancer sendiri yang memberikannya ke leluhurku. Dia bilang, suatu saat akan ada ksatria yang datang dan menghancurkan buku itu".

"Lalu kenapa anda bisa tahu kalau kami ini adalah ksatria?", tanya Yuya.

Keiko tersenyum, "Kalian berdua tiba-tiba datang Dari tempat yang jauh. Kalian pun berhenti di dekat tempat kediaman sang necromancer. Dari situ aku bisa menduga kalau kalian adalah ksatria. Terlebih lagi,  ekspresi Yuya yang terkejut saat aku tahu kalian seorang ksatria membuktikan dugaanku".

"Kenapa Keiko-san yakin kalau kami ini benar-benar seorang ksatria? Kalau kami ini musuh bagaimana?", tanya Daiki.

"Aku bisa membedakan orang baik dengan orang jahat kok. Kalian berdua sama sekali tidak terlihat jahat", Keiko tersenyum melihat Daiki dan Yuya. "Ah, rupanya hari sudah semakin malam. Kalian menginap saja disini. Aku akan menyiapkan malam malam untuk kita".

"Eh, tidak usah repot-repot Keiko-san", ucap Daiki.

"Tidak apa-apa. Lagipula aku sangat senang ada yang datang berkunjung. Selama ini aku terus sendirian", ucap Keiko. Yuya dan Daiki langsung tidak enak saat mendengar ucapa itu.

"Eh, Keiko-san tinggal sendirian?", tanya Yuya.

"Aku dulu punya seorang anak perempuan. Tapi dia kini telah meninggal. Sejak kecil anak itu memang sering sakit-sakitan", jawab Keiko. Keiko melangkah ke dapur dan menyiapkan makanan.

'Hmm... Jadi itu anak perempuannya', batin Daiki. 'Eh, tunggu dulu, jangan-jangan perempuan ini.....'

Tsuzuku~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar