Selasa, 16 Februari 2016

TEN KNIGHTS - AFTER THAT

TakaDai sekuel version

Chapter 3


Keiko-san menuntun mereka ke sebuah kamar. Kamar itu sangat rapi. Dalam ruangan itu penuh dengan barang anak perempuan. Yuya dan Daiki bisa menebak kalau kamar ini adalah bekas kamar anak perempuan Keiko-san. Di atas meja rias yang ada di dalam kamar, ada sebuah pigura terpajang disana. Sama dengan yang ada di ruang tamu, foto ini merupakan foto Keiko-san dengan anak perempuannya.

"Malam ini kalian menginap saja disini. Kuharap kalian bisa nyaman. Maaf kalau tempat tidurnya mungkin sedikit sempit", ucap Keiko-san.

"Eh?! Tunggu dulu! Kita berdua tidur sekamar??", Daiki terbelalak kaget. Keiko-san langsung melihat Daiki dengan ekspresi bingung. Yuya langsung merangkul Daiki dan membekap mulutnya dengan tangannya. Daiki berontak berusaha melepaskan tangan Yuya yang membekap mulutnya.

"Diam! Keiko-san mengira kalau kita adalah pasangan yang sudah menikah. Jadi wajar saja kalau kita tidur sekamar kan?", bisik Yuya.

"Tapi kita kan memang belum menikah!!!", balas Daiki sambil berbisik.

"Ayolah Daichan... Ini cuma semalam kok. Bersabarlah...", pinta Yuya.

Daiki melihat Yuya dengan tajam. Akhirnya dia mengalah. "Baiklah. Malam ini kita akan tidur bersama. Tapi...". Daiki melotot ke arah Yuya. "Awas kalau kau berniat macam-macam", ancam Daiki. Yuya hanya menelan ludahnya dan mengangguk pasrah.

"Kalian kenapa? Kalian keberatan tidur disini?", tanya Keiko-san yang sedari tadi bingung dengan tingkah laku Yuya dan Daiki.

Spontan Yuya dan Daiki menggeleng secara bersamaan. Mereka kompak menunjukkan wajah tersenyum. Keiko-san menghela nafas lega karena Yuya dan Daiki tidak tampak keberatan untuk tinggal di kamar ini.

"Kalian berdua beristirahatlah dulu disini. Aku akan menyiapkan makan malam untuk kalian. Kalau sudah siap, aku akan memanggil kalian".

"Terima kasih Keiko-san", balas Yuya. Dia menundukkan badannya untuk menunjukkan rasa terima kasih. Keiko-san menbalas Yuya dengan tersenyum dan segera keluar Dari kamar, meninggalkan Yuya dan Daiki berduaan di kamar.

"Haaah....", Yuya membaringkan badannya di kasur. Dia melepas semua rasa penat dan lelah yang dia rasakan akhir-akhir ini. Semenjak pertarungan dengan maou di tempat segel, mereka tidak pernah beristirahat dengan nyaman. Ini pertama kalinya mereka benar-benar bisa bersantai setelah sekian lama.

Berbeda dengan Yuya, Daiki Malah berjalan mengamati semua perabotan yang ada di dalam kamar itu. Terutama foto yang ada di atas meja. Daiki menatap lekat-lekat sosok perempuan yang ada disana.

"Ternyata dugaanku tidak salah. Itu benar dia", gumam Daiki sambil mengangguk mantap.

Yuya yang hampir tertidur langsung terbangun kembali mendengar ucapan Daiki, "Kenapa Daichan?".

"Perempuan ini...", Daiki menunjuk ke arah sosok perempuan yang ada di foto. "Ini roh perempuan yang tadi menuntun kita saat masuk ke dalam kota ini. Dia terus menuntun kita hingga kita bertemu dengan Keiko-san. Sesaat setelah kita bertemu dengan Keiko-san, roh ini hilang. Waktu itu aku sempat melihat kalau roh ini terlihat sangat sedih saat bertemu dengan Keiko-san, ternyata ini sebabnya...", jelas Daiki. Yuya mengamati sosok perempuan itu. Dia kemudian mengangguk mengerti. Yuya juga mengenali sosok perempuan itu sebagai sosok roh perempuan yang pernah menuntun mereka.

"Jadi, ini artinya kalau anak perempuan Keiko-san sudah meninggal?".

Daiki mengangguk. Ya, karena sudah menjadi roh, tentu saja orang itu sudah meninggal.

"Kasihan Keiko-san...", gumam Yuya.

Tiba-tiba Daiki dikejutkan dengan bayangan perempuan yang terpantul di kaca. Perempuan itu terlihat transparan. Daiki lebih terkejut lagi saat melihat wajah perempuan itu. Wajah perempuan yang sama dengan yang ada di foto. Perempuan itu melihat ke arah Daiki dengan wajah penuh kecemasan. Sepertinya ada sesuatu yang ingin dia bicarakan dengan Daiki.

"Kenapa dia ada disini?", tanya Yuya yang tampaknya juga ikut terkejut dan heran saat melihat roh perempuan itu. Daiki pun berjalan mendekati Yuya, mereka berdua duduk di atas tempat tidur sambil mengamati roh perempuan itu.

Roh itu membuka mulutnya. Mulutnya terus berkomat-kamit seakan mengatakan sesuatu, tapi Yuya tidak bisa mendengar apa yang dikatakan roh itu. Yuya melirik ke arah Daiki. Berbeda dengannya, Daiki tampak serius melihat roh itu. Tampaknya dia bisa mendengar apa yang diucapkan roh itu.

"Oh begitu...", Daiki mengangguk mengerti.

"Apa yang dia bicarakan?", tanya Yuya.

"Eh?? Kau tidak bisa mendengarnya?".

Yuya menggeleng. "Aku tidak mendengar apa-apa. Aku bisa melihatnya, tapi aku sama sekali tidak bisa mendengar apa yang dia bicarakan".

"Eh iya ta?? Aku bisa mendengarnya dengan jelas kok. Kenapa ya??".

"Mungkin karena kau pernah dirasuki oleh sang sorcerer sehingga kau secara tidak langsung juga memiliki kemampuannya".

"Mungkin juga...", gumam Daiki.

"Terus dia bilang apa?", tanya Yuya yang masih penasaran.

"Ah, dia...", Daiki melirik sekilas ke arah roh itu. "Dia ingin kita tinggal disini bersama dengan Keiko-san. Dia ingin kita menemaninya menggantikan dia...".

"EhH?!!?!! Tinggal disini? apa maksudnya Daichan?", tanya Yuya yang masih tidak mengerti dengan permintaan yang diberikan oleh roh gadis itu.

PRANG!

Daiki dan Yuya langsung terperanjat kaget ketika mendengar sesuatu seperti barang pecah. Mereka berdua langsung keluar kamar dan menuju sumber suara. Mereka berada di dapur, tempat suara itu berasal. Mereka berdua terkejut ketika mendapati Keiko-san dalam keadaan tersungkur. Di dekatnya terdapat pecahan beberapa piring. Daiki langsung menghampiri Keiko-san. Daiki semakin terkejut ketika mendapati darah keluar dari mulut Keiko-san.

"Keiko-san! Keiko-san! Anda tidak apa-apa?", seru Daiki panik.

Yuya langsung membereskan pecahan piring yang berserakan agar Daiki dan Keiko-san tidak terluka gara-gara itu. Setelah Yuya berhasil menyingkirkan seluruh pecahan piring tersebut, Yuya dengan sigap membantu Daiki dan mengangkat Keiko-san dan membawanya ke sofa yang berada di ruang tamu.

"Keiko-san...", lirih Daiki. Keiko-san masih belum membuka matanya.

Roh gadis itu kembali muncul di hadapan Daiki dan Yuya. Raut wajah gadis itu tampak semakin sedih. Tangannya terjulur ke arah Keiko-san, roh itu ingin menyentuh wajah ibunya, tapi karena sosoknya yang transparan, roh itu tidak dapat merasakan sentuhannya. Melihat roh itu dan Keiko-san yang terbaring tidak sadarkan diri, Daiki langsung mengerti alasan permintaan roh itu untuk meminta mereka berdua tinggal disana bersama Keiko-san.

"Jadi ini alasanmu kenapa kau ingin kami tinggal disini?", tanya Daiki pada roh tersebut. Roh gadis itu mengangguk. Daiki menghela nafas panjang, "bisakah kau ceritakan secara rinci apa yang sebenarnya terjadi? Penyakit apa yang diderita oleh Keiko-san, ibumu?".

Roh itu tampak menjelaskan apa yang terjadi pada Daiki. Yuya yang sama sekali tidak bisa mendengar apa-apa, memutuskan untuk merawat Keiko sedangkan Daiki dengan serius mendengarkan cerita roh gadis itu. Yuya mengambil lap basah dari dapur dan mengelap darah yang ada di wajah Keiko-san. Yuya juga dengan hati-hati membersihkan tangan Keiko-san yang terkena simbahan darah.

"Jadi begitu rupanya", gumam Daiki setelah roh itu selesai bercerita. "Yuya, bisa kau kemari sebentar? Aku mau menjelaskan semuanya"

Yuya mengangguk dan mendekati Daiki. Daiki lalu mulai bercerita, "Roh gadis ini namanya Mika. Dia anak satu-satunya Keiko-san. Mika ini meninggal akibat kecelakaan. Dia belum bisa meninggalkan dunia ini karena dia tidak tenang meninggalkan Keiko-san sendirian. Sejak dulu, Keiko-san memiliki penyakit parah. Katanya, penyakit Keiko-san bertambah parah setelah Mika meninggal. Mika cemas dan takut kalau terjadi apa-apa pada Keiko-san, jadi dia meminta kita tinggal disini merawat Keiko-san"

Yuya mengangguk mengerti. Kini mereka berdua sudah mengetahui dengan jelas apa yang terjadi. Yuya menatap Keiko-san yang terbaring lemah. Muka Keiko-san tampak jauh lebih pucat dari sebelumnya. Mereka berdua kini menyadari betapa kurus dan kecilnya tubuh Keiko-san ini.

"Apa yang akan kau lakukan Daichan?", Yuya menatap Daiki dengan serius.

"Aku...aku ingin tetap disini. Aku tidak tega meninggalkan Keiko-san sendirian dengan kondisi seperti ini", jawab Daiki pelan. "Kau sendiri bagaimana Yuya? Kau juga akan tetap disini kan?", Daiki menatap Yuya dengan penuh harap.

"Baiklah. Kurasa kita harus tetap tinggal disini dan menjaga Keiko-san. Keiko-san sudah menyelamatkan kita, dan roh gadis itu juga sudah membantu kita. Jadi, kurasa lebih baik kita membalas budi dengan merawat Keiko-san". Daiki tersenyum gembira mendengar ucapan Yuya. "Terlebih, aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian kan?", ucap Yuya lagi.

Daiki langsung berlari memeluk Yuya dengan gembira. "Kau memang orang yang paling baik".

"Nghh....".

Yuya dan Daiki langsung mendekati Keiko-san yang tampaknya mulai sadar. Muka keduanya tampak sangat cemas. Keiko-san yang mulai sadar itu bisa melihat raut wajah Daiki dan Yuya. Dia tersenyum saat melihat ada dua wajah cemas menantinya.

"Keiko-san... Syukurlah anda sudah sadar", Daiki langsung memeluk Keiko-san, sedangkan Yuya menghela nafas lega.

"Kalian ini... kalian seperti melihat orang mati yang hidup kembali". Keiko-san terdiam sejenak dan melihat bekas darah yang menempel di bajunya. "Hah... jadi kalian sudah tahu ya?"

Daiki dan Yuya mengangguk secara bersamaan. Yuya langsung menyodorkan segelas air putih pada Keiko-san, sedangkan Daiki masih memegangi tangan Keiko-san dan melihatnya dengan cemas.

"Sudah berapa lama anda mengidap penyakit ini?", tanya Daiki.

Keiko-san terdiam sejenak. Dia menatap Daiki lekat-lekat dan akhirnya memutuskan untuk menceritakan semuanya. "Sejak aku masih muda, aku memiliki penyakit parah. Leukimia. Itu penyakit yang kuderita. Kupikir, aku tidak akan bisa bertahan hidup lama. Tapi, ternyata aku bisa menikah dan memiliki seorang anak. Itu suatu keajaiban untukku. Suamiku selalu mendukungku dan menyemangatiku tanpa henti. Anakku itu juga salah satu alasan aku bisa bertahan hidup. Tapi, tidak kusangka kalau mereka berdua meninggalkanku lebih dulu. Kini aku sendirian. Aku sangat senang begitu tahu kalian ada disini, tapi begitu memikirkan kalau kalian akan pergi, aku kembali merasa sedih"

Daiki dan Yuya terdiam. Yuya maju dan duduk di sebelah Keiko-san.
"Tenang saja Keiko-san, mulai hari ini Keiko-san tidak akan sendirian lagi. Kami berdua akan tinggal disini dan menemani Keiko-san. Tentu hal ini juga perlu persetujuan dari Keiko-san, bagaimana?"

Keiko-san membelalakkan matanya, dia melihat Yuya dan Daiki bergantian. "Benarkah? Benarkah kalian berdua akan menemaniku disini?".

Daiki menggenggam erat tangan Keiko-san. "Benar Keiko-san. Mika juga meminta kami untuk menemani Keiko-san"

"Mika? Mika anakku?", tanya Keiko-san. Daiki mengangguk. "Kalian kenal Mika? Bagaimana bisa?"

"Keiko-san, dalam perjalanan kami kemari, kami dituntun oleh banyak roh, salah satunya adalah roh Mika. Mika juga merasa tidak tenang meninggalkan Keiko-san sendirian hingga akhirnya dia meminta kami untuk menemani Keiko-san", jelas Daiki.

Keiko menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Air matanya perlahan menetes. "Terima kasih Mika, terima kasih. Daiki dan Yuya, kalian berdua memang sangat baik"

Daiki dan Yuya tersenyum mendengar ucapan Keiko. "Nah berarti mulai saat ini kami berdua akan tinggal disini bersama Keiko-san karena sepertinya Keiko-san tidak keberatan. Benar kan Keiko-san?", ucap Yuya sambil melirik sekilas ke arah Keiko. Keiko mengangguk.

"Kalau begitu, aku akan segera menyiapkan makanan", Keiko langsung bangkit berdiri dan berjalan menuju dapur.

"Eh? Tidak usah Keiko-san, biar aku saja yang menyiapkannya", cegah Yuya.

"Tidak perlu. Kau disini saja. Badanku sudah enakan kok", Keiko bersikeras untuk pergi ke dapur. Yuya hanya bisa pasrah dan membiarkan Keiko pergi.

"Kau bisa tenang sekarang. Biarkan kami yang menjaga Keiko-san", ucap Daiki pada roh gadis itu. Roh itu memeluk Daiki. Roh itu juga melihat ke arah Yuya sekilas. Mulutnya terbuka seperti mengatakan sesuatu. Tapi dari gerak bibirnya Yuya tahu kalau roh itu mengucapkan kata 'terima kasih'. Yuya membalas roh itu dengan senyuman. Setelah itu, roh itupun menghilang.

"Hei, kau tidak ingin mengabari master dan yang lain? Sudah berhari-hari kita menghilang. Kurasa mereka sedang mencari kita sekarang", ucap Daiki.

Yuya menggeleng. "Di rumah ini tidak ada telepon. HP juga tidak ada. Kurasa beberapa hari lagi aku akan mengirim surat untuk mereka. Untuk sementara, kita temani Keiko-san saja dulu"

Tidak berapa lama, Keiko memanggil mereka berdua. Mereka berdua menuju ke dapur. Di atas meja sudah tersedia berbagai macam makanan. Mereka bertiga kemudian menyantap makanan itu dengan lahap.

---***---

Tidak terasa, sudah beberapa hari Yuya dan Daiki tinggal bersama dengan Keiko-san. Mereka bertiga hidup bagaikan seperti sebuah keluarga. Yuya dan Daiki dengan penuh kasih sayang, memberikan perhatiannya kepada Keiko-san. Dengan telaten juga mereka berdua merawat Keiko-san.

Yuya merasa sangat lega dengan kehidupan mereka kini. Semenjak tinggal dengan Keiko-san, akhirnya dirinya dan Daiki bisa hidup dengan ‘normal’. Tidak ada lagi kegiatan membasmi makhluk kegelapan dan baginya, tidak ada lagi pekerjaan sebagai seorang model. Di desa ini, makhluk kegelapan yang muncul hanya sedikit. Hal ini dikarenakan pelindung yang dipasang oleh sang sorcerer menghalangi makhluk kegelapan muncul disini.

Memang, terkadang Yuya merindukan saat-saat dimana dia melakukan tugas sebagai seorang ksatria. Dia juga merindukan kegiatannya sebagai seorang model. Tapi bagi Yuya, dia merasa sangat senang bila Daiki bisa menjalani hidup seperti manusia biasa pada umumnya. Semenjak kecil, Daiki selalu berurusan dengan makhluk kegelapan, dan ini pertama kalinya Daiki bisa bebas dari makhluk kegelapan.

Tujuan Yuya mengajak Daiki menikah adalah agar Daiki bisa memiliki sebuah keluarga. Agar Daiki bisa terbebas sejenak dari tugasnya menjadi seorang ksatria. Kini, dengan tinggal bersama dengan Keiko-san, Daiki sudah bisa merasakan sebuah ‘keluarga’ yang diidamkan Daiki sejak kecil.

Yuya memutuskan tidak menghubungi master dan teman-temannya yang lain. Yuya ingin agar Daiki bisa hidup tenang untuk sementara tanpa menjalankan tugasnya sebagai seorang ksatria. Bila dia menghubungi master sekarang, pastilah mereka diminta segera kembali dan menjalani kehidupan seperti biasanya. Yuya sudah menceritakan hal ini pada Daiki dan tampaknya Daiki setuju saja dengan keputusan Yuya. Walaupun awalnya Daiki merasa tidak enak kalau mereka menghilang begitu saja, tapi dalam hatinya dia juga ingin terbebas dari tugas ksatria. Mereka berdua akan menghubungi master kembali bila mereka sudah cukup puas dengan kehidupan ‘normal’ mereka dan mereka siap menjalani tugas mereka kembali sebagai seorang ksatria.

10 tahun kemudian...

Di sebuah padang rumput yang luas, terdapat seorang anak kecil laki-laki sedang asyik bermain bola disana. Usia anak itu mungkin sekitar 5 tahun. Dengan riang, anak itu menggelindingkan bolanya kesana kemari. Mukanya tampak selalu gembira saat melihat bola yang digenggamnya itu berhasil ditangkap dan dilemparkan kembali.

JPRET!

Suara lensa kamera yang berputar dan seberkas cahaya blitz kamera mengejutkan anak lelaki itu. gerakan anak itu langsung terhenti dan melihat seorang pria tinggi yang sedang mengarahkan kameranya ke arah anak laki-laki itu. pria tinggi itu langsung menurunkan kameranya dan tersenyum lembut ke arah anak laki-laki itu yang tampaknya sedikit ketakutan dengan kehadirannya.

“Paman siapa?”, tanya anak laki-laki itu. mukanya yang polos tampak sangat menggemaskan.

“Hmm... paman sedang memotret di sekitar sini. Lalu paman melihatmu sedang bermain bola dengan asyiknya. Tanpa sadar, paman ingin memotretmu. Kau takut pada paman?”, pria itu berjalan mendekat ke arah anak laki-laki itu, tapi anak itu berjalan menjauhi pria itu.

“Papa bilang, Daiya tidak boleh berbicara dengan orang asing”, jawab anak laki-laki itu polos.

Pria itu tersenyum mendengar jawaban anak laki-laki itu. “Namamu Daiya? Kau anak pintar”. Pria itu terdiam mengamati wajah anak laki-laki kecil itu dan mengamatinya dengan seksama.

“Kenapa paman?”, tanya anak itu penasaran.

Pria itu sedikit terkejut dengan perkataan anak kecil itu. “Tidak. wajahmu mengingatkan paman dengan teman paman. Wajahmu sangat mirip dengannya. Paman sudah lama tidak bertemu dengan mereka, entah bagaimana keadaan mereka sekarang dan dimana mereka sekarang, paman sama sekali tidak tahu”. Wajah pria itu sedikit murung sambil mengingat-ingat wajah yang sudah lama tidak ditemuinya.

“Daiya! Kamu dimana? Ayo pulang!”

Terdengar suara anak perempuan dari kejauhan. Anak laki-laki yang bernama Daiya itu langsung mengambil bolanya dan berlari menuju asal suara yang memanggilnya. Beberapa langkah kemudian, anak itu berhenti dan menoleh kembali ke arah pria tinggi itu.

“Da dah paman....”

Anak laki-laki itu melambaikan tangannya ke arah pria tinggi itu sambil tersenyum lebar. Tidak lama kemudian, anak itu langsung membalikkan badannya dan melanjutkan lari kecilnya.

“Ahahaha... anak yang lucu. Dia bilang takut padaku, tapi dia melambaikan tangan padaku dengan riangnya”, pria tinggi itu tertawa kecil melihat tingkah anak kecil itu.

Tidak lama kemudian, HP pria itu bergetar. Pria itu mengambil HP tersebut dari sakunya. Dia tersenyum sekilas saat melihat nama yang muncul di layar Hpnya. Pria itu menekan tombol terima panggilan dan mulai menjawab panggilan telepon dari teman lamanya itu.

“Moshi-moshi, Yamachan”, jawab pria itu riang sambil berjalan menjauhi padang rumput itu.

---***---
“Kak Yuki!!!”. Daiya melambaikan tangannya dengan riang saat melihat anak perempuan kecil berjalan mendekat ke arahnya. Anak perempuan itu tersenyum riang saat melihat adiknya berlari kecil menghampirinya.

“Ah, akhirnya ketemu. Kau darimana saja? habis main di padang rumput?”, tanya anak perempuan itu sambil melihat bola yang dipegang adiknya itu.
“Iya. Daiya suka main disana. Disana luas”, jawab Daiya riang.

Yuki mengelus-elus rambut adiknya itu dengan gemas saat melihat wajah adiknya yang lucu. “Tapi hati-hati ya. Jangan main jauh-jauh”. Daiya mengangguk. “Ah iya, mama menyuruh kita cepat pulang karena hari ini mama akan mengajak kita mengunjungi makam Keiko-san”.

Kedua anak kecil itu berjalan riang menuju rumah. Daiki sudah menanti kedua anak kecil itu di depan pintu. Di tangannya terdapat sebuah buket bunga besar. Daiki tersenyum lega saat melihat kedua anak kecil itu kembali ke rumah dengan senyum mengembang di wajah mereka.

“Kami pulang mama!!!”. Kedua anak itu menyapa Daiki dengan riang. Daiki menyambut kedatangan keduanya dengan memeluk mereka secara bersamaan.

“Ayo pergi. Papa sudah menunggu kita disana”

Kedua anak itu mengangguk. Masing-masing dari mereka menggandeng tangan Daiki. Sepanjang perjalanan, Yuki dan Daiya bercerita macam-macam. Daiki mendengarkan ocehan kedua anaknya sambil tersenyum. Tak lama, mereka kini telah tiba di sebuah pemakaman. Daiki melambaikan tangannya pada Yuya yang sudah menanti mereka.

“Papa!!!!!”

Daiya langsung melepaskan pegangan tangannya dari Daiki dan berlari menuju Yuya. Yuya langsung memeluk Daiya dengan erat dan menggendongnya. Daiya ini memang sangat dekat dengan papanya. Sifat Daiya mirip dengan Yuya, tapi wajahnya lebih mirip dengan Daiki. Berbeda dengan Yuki yang memiliki wajah mirip dengan Yuya tapi sifatnya mirip dengan Daiki.

Mereka sekeluarga kini berkumpul di depan makam Keiko-san. Di sebelah makam Keiko-san, juga terdapat makam anak dan suaminya. Ini adalah permintaan terakhir Keiko-san. Dia ingin dimakamkan bersama dengan keluarganya. Keiko-san meninggal 5 tahun yang lalu, tepat setelah Daiya dilahirkan. Oleh karena itu, Daiya tidak mengenal Keiko-san. Yuki yang waktu itu juga masih berumur 3 tahun juga tidak bisa mengingat dengan jelas Keiko-san. Tapi Daiki dan Yuya memberitahu kedua anaknya itu tentang Keiko-san, sehingga Daiya dan Yuki menganggap Keiko-san sebagai nenek mereka.

Daiki dan Yuya memberikan salam dan penghormatan seperti yang biasanya mereka lakukan. Yuki dan Daiya meniru apa yang dilakukan oleh kedua orang tua mereka. Yuya dan Daiki menaruh buket bunga dan menyiram makam dengan air.

“Yuki, Daiya, kalian boleh pergi duluan. Papa dan mama mau membersihkan makam Keiko-san dulu”

“Baik mama...”, jawab kedua anak itu kompak.

Yuki dan Daiya langsung berlari keluar sedangkan Yuya dan Daiki masih sibuk membersihkan makam keluarga Keiko-san.

“Kakak, aku mau kesana dulu sebentar ya... ada kupu-kupu yang lucu disana”, seru Daiya sambil berlalu pergi tanpa mendengarkan jawaban kakaknya. Yuki hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan adiknya yang susah diatur itu.

Yuki kini duduk di pinggir jalan sambil menunggu Daiya kembali. Tidak lama kemudian ada beberapa anak lelaki yang mengerumuni Yuki. Anak-anak nakal ini tampaknya ingin mengerjai Yuki. Salah satu anak itu melemparkan seekor kecoak ke arah Yuki. Anak nakal yang lain menarik rambut Yuki dan berusaha mengambil jepit rambut Yuki. Yuki berusaha melawan, tapi keempat anak nakal itu mengerumuni Yuki dan mengepungnya sehingga Yuki tidak bisa melarikan diri.

“Hei lepaskan aku, anak-anak nakal!”, seru Yuki marah karena rambutnya ditarik.

Tidak lama kemudian, Daiya kembali dan melihat kakaknya dikerjai.

“Apa yang kalian lakukan pada kakak???”, teriak Daiya marah. Daiya langsung meninju salah satu anak nakal itu, tapi anak itu berhasil mengelak. Sebaliknya, anak itu malah membalas meninju Daiya hingga Daiya terjatuh dan bibirnya terluka.

“Daiya!!!”, jerit Yuki saat melihat adiknya itu jatuh. Yuki langsung mendorong anak-anak itu dan berlari menghampiri Daiya. Yuki terkejut saat melihat ada darah yang mengalir dari mulut Daiya. Rupanya bibir Daiya sobek saat tergores jalan.

“Kalian... apa yang kalian lakukan pada adikku?”, geram Yuki. Emosinya meningkat.

Keempat anak nakal itu mulai gemetar ketakutan saat melihat wajah Yuki yang sedikit menakutkan. Udara di sekitar mereka mendadak berubah menjadi sangat dingin. Keempat anak itu langsung membalikkan badan mereka untuk segera lari dari tempat itu. tapi terlambat, tubuh keempat anak itu kini telah membeku oleh es.  Es ini berasal dari tubuh Yuki.

“Astaga... Apa yang terjadi...”

Daiki dan Yuya yang mendengar keributan dan merasakan firasat yang tidak enak, segera berlari menghampiri Daiya dan Yuki. Alangkah terkejutnya mereka berdua saat melihat ada empat anak laki-laki yang membeku dalam es. Daiki melihat ke arah Yuki yang tampak marah. Butir-butir es kecil keluar dari tubuhnya. Cuaca di sekitar mereka pun berubah. Salju perlahan turun dan semakin lama semakin deras seakan ada badai salju yang datang.

“Yuki... kau... kau punya kemampuan khusus ternyata...”, gumam Daiki tidak percaya. Daiki sudah menebak kalau anaknya nanti akan memiliki kemampuan khusus karena baik dirinya maupun Yuya juga memiliki kemampuan khusus.

“Yuki!!! Hentikan! Sadarlah nak... kau bisa membunuh mereka!”, Yuya mengguncang-guncang tubuh Yuki. Tapi Yuki sama sekali tidak bergeming. Matanya terus menatap empat anak nakal yang sudah mencelakai Daiya. Kebencian terpancar dari sorot matanya.

Daiki segera menggendong Daiya yang terluka untuk menjauh dari Yuki. Semua yang berada di dekat Yuki berubah menjadi es. Hanya Yuya yang bisa mendekati Yuki karena kemampuan nullification miliknya.

“Yuki!!! Ini papa!!! Kau tidak bisa mengenali papamu sendiri? kalau kau terus begini, mama dan adikmu juga bisa ikut celaka!”, panggil Yuya lagi.

Yuki sama sekali tidak bergeming. Sepertinya kesadaran Yuki telah hilang. Kemampuannya keluar secara meledak-ledak. Yuki tidak bisa mengontrol kekuatannya. Yuya berusaha menetralkan kemampuan Yuki dengan menggunakan nullification miliknya. Tapi, saking kuatnya kemampuan Yuki, Yuya kewalahan menetralkan kemampuan Yuki. Yuki sama seperti Daiki yang tidak bisa mengontrol kekuatannya.

“Kau memang benar-benar mirip dengan mamamu”, gumam Yuya pelan.

Daiya terus menggenggam baju Daiki karena ketakutan dengan kekuatan milik kakaknya itu. sekejap dia merasa takut mendekati Yuki yang tidak terkontrol. Daiya merasa kalau itu bukanlah Yuki kakaknya. Dia tidak mengenal anak perempuan yang menakutkan itu. Dari kejauhan Daiya bisa melihat Yuya yang terus berusaha menekan kekuatan Yuki dan menyadarkannya.

“Daiya! Kau mau kemana?”, teriak Daiki saat melihat Daiya berlari mendekat ke arah Yuya dan Yuki. “Jangan kesana Daiya! Bahaya!”, teriak Daiki sambil memperingatkan Daiya. Daiya terus berlari dan tidak mendengarkan perkataan Daiki. daiki akhirnya ikut berlari menyusul Daiya.

“Daiya? Kenapa kemari? cepat menjauh bersama dengan mamamu!”, perintah Yuya saat melihat Daiya datang mendekat.

Daiya menggeleng. Dia mendekat ke arah Yuki. Daiya membuka kedua tangannya lebar-lebar dan segera memeluk Yuki. Daiki dan Yuya terkejut saat melihat apa yang dilakukan Daiya.

“Kakak... Ini Daiya... Hentikan kak... sadarlah... “, ucap Daiya pelan. Yuki masih berdiri terpaku dan tidak bergeming. “Kakak... Daiya mohon... Hentikan...”

Seketika ada cahaya yang keluar dari dalam tubuh Daiya. Cahaya berwarna kuning keemasan. Cahaya itu terasa hangat. Salju yang menumpuk di sekitar Yuki pun perlahan mulai mencair. Es yang membekukan empat anak itu juga. Cahaya dari dalam tubuh Daiya telah mencairkan seluruh es yang keluar dari tubuh Yuki. Daiki dan Yuya yang melihat itu saling berpandangan satu sama lain. Daiya ternyata juga memiliki kemampuan khusus seperti kakaknya dan kedua orangtuanya.

Yuki dan Daiya sama-sama kehilangan keseimbangan. Keduanya hampir jatuh. Tapi Yuya dan Daiki dengan sigap menangkap tubuh kedua anaknya sebelum menyentuh tanah. Kedua anak kecil itu langsung kehilangan kesadaran di pelukan kedua orangtua mereka.

“Bagaimana ini Daichan? Kedua anak kita sama-sama memiliki kemampuan khusus”

“Aku juga sama sekali tidak menyangka. Kupikir aku tidak akan melahirkan anak dengan kemampuan khusus. Tapi ternyata aku salah, aku malah melahirkan 2 orang anak yang memiliki kemampuan khusus”

“Apakah mereka termasuk ksatria keturunan darah murni?”

“Entahlah... aku tidak tahu. Tapi kalau itu benar, bencana itu bisa terulang lagi”

Yuya kemudian bangkit sambil menggendong Yuki. “Kita harus kembali Daichan. Kita harus menemui master. Aku tidak mempermasalahkan Daiya, tapi Yuki, dia sama sepertimu. Dia tidak bisa mengontrol kekuatannya. Kita butuh bantuan master untuk mengendalikannya”

Tsuzuku ~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar