Rabu, 10 Februari 2016

LITTLE PRANK, MORE REGRET

Part 2

Cast : Yamada Ryosuke, Nakajima Yuto, Shida Mirai, Nishiuchi Mariya, Kawaguchi Haruna
Main cast : Reader (kalian yg baca :))
Genre : Romance, dengan sedikit angst
Note : niatnya tamat di part 2 ini, tapi krn ada penambahan cerita, jd agak panjang.

Canggung.

Itulah satu kata yang menggambarkan keadaan kami saat ini. Peristiwa yang terjadi 2 tahun lalu itulah yang membuat hubungan kami menjadi seperti ini saat ini. Meskipun saat ini Yuto terlihat biasa berbicara dengan Ryosuke, tapi aku bisa merasakan kalau ada sedikit rasa canggung juga pada dirinya. Bagaimanapun, hubungan kami berempat tidak sebaik dulu.
Aku bersyukur Mariya sekelas denganku. Jadi setidaknya aku memiliki teman lain yang bisa kuajak ngobrol. Aku memilih duduk di sebelah Mariya. Bukannya aku tidak ingin duduk dengan Mirai, tapi kau tahulah... hubungan kami tidak sebaik dulu dan aku tidak tahu apa yang ada di pikiran Mirai tentangku.

Tempat dudukku sedikit jauh dari tempat duduk Mirai. Mirai duduk di deretan kedua dari depan sedangkan aku duduk di deretan kedua dari belakang. Kami sama sekali belum bertukar sapa, hanya bertukar senyuman saat aku tanpa sengaja melihatnya tadi. Aku tersenyum lega saat mengetahui Yuto duduk di belakangku. Setidaknya, Yuto membuatku tenang. Tapi, ketenangan itu hanya sesaat ketika aku mengetahui Ryosuke duduk di sebelahku. Yah, kami memang sekelas, mau bagaimana lagi?

“Akhirnya kita sekelas lagi”

Yuto mengajakku bicara. Ya.. setidaknya hubunganku dengan Yuto memang tidak memburuk. Kami sangat dekat dan beberapa teman kami juga mengetahui hal itu. Aku pun bisa berbicara lancar dengan Keito yang juga menjadi teman sekelasku. Ini bukan pertama kalinya aku bertemu dengan Keito, kau ingat dia kan? Keito adalah salah satu teman band Yuto dan seperti yang sudah kubilang sebelumnya, aku sudah mengenal semua anggota band Yuto.

Sesekali aku mencuri pandang ke sebelahku. Aku tidak tahu mengapa aku melakukan hal itu. Itu refleks kulakukan. Tapi, kelihatannya Ryosuke tidak tertarik dan asyik berbicara dengan teman yang lain. Yah, mungkin bagi Ryosuke kami sekarang hanya sekedar teman.

Aku tidak tahu apa yang kurasakan saat ini. Aku sangat bahagia karena aku bisa sekelas lagi dengan Yuto. Aku bisa melewatkan masa terakhirku di SMA dengannya. Tapi, dalam hati kecilku, aku juga sedikit senang ketika mengetahui Ryosuke juga berada disini. Apa mungkin dalam sudut hatiku aku masih menyukai Ryosuke? Bukankah sekarang aku sudah memantapkan hati dan memilih Yuto? Oh Tuhan... kenapa kau mempertemukan kami lagi disini. Kenapa kau membuat kami berempat bertemu kembali?

Hari-hari di kelas 3 ini kulalui dengan biasa. Yah, tidak ada rasa semangat yang kupikirkan seperti sebelum hari ini. Aku bermimpi bisa melalui hari dengan penuh senyum dan ceria. Tapi, diluar dugaanku, aku tidak bisa tersenyum begitu saja. Entah kenapa, ada sesuatu yang menahan garis wajahku untuk tersenyum.

Aku melirik ke arah Ryosuke dan Mirai. Mereka berdua bisa bersikap seperti biasa, senyum tetap mengambang di wajah mereka. tapi mereka tidak sedekat dulu. Berita bahwa hubungan mereka telah lama berakhir itu sepertinya benar.

“Nah, silahkan duduk sesuai dengan urutan no.absen kalian ya”

Aku mengutuk diriku sendiri. Karena dulu aku, Yuto, Ryosuke, dan Mirai pernah sekelas saat kelas 1, maka no.absen kami berdekatan. Itu artinya aku sekelompok dengan mereka.

Dan...ping pong! Saat aku duduk di tempat kelompok 4, aku langsung mengenali beberapa wajah yang sangat familiar bersama dengan 2 teman sekelasku yang lain. Mirai dan Ryosuke duduk bersebelahan, masing-masing ada bangku kosong di sebelah mereka, tapi aku memilih duduk di depan mereka, dan Yuto di sebelahku.

Awalnya aku terus menunduk. Tidak berani menatap langsung mata mereka berdua, tapi tidak mungkin aku menunduk terus menerus kan? Kuberanikan diri untuk menatap mereka berdua. Selain itu, berkat Yuto, tidak ada suasana canggung di antara kami, aku bisa melebur dengan sempurna di kelompok. Sekali lagi, semua berkat Yuto.

Aku melirik ke arah Mirai dan Ryosuke, mereka terlihat baik-baik saja. Ingin sekali aku bertanya pada mereka berdua, kenapa mereka putus? Apakah gara-gara aku? Atau mungkin ada sebab lain? Aku terus mengulangi pertanyaan itu di kepalaku berulang-ulang saat melihat mereka berdua.

---***---
Entah sejak kapan, hari apa, sedang apa, aku tidak ingat. Yang jelas, kini aku bisa berbicara lagi dengan Mirai tanpa kesulitan. Yah, meskipun kami tidak sedekat dulu lagi. Kini Mariya-lah yang jauh lebih dekat denganku. Apa-apa aku selalu bersama dengan Mariya.

Yang mengejutkanku berikutnya adalah, Ryosuke sudah memiliki pacar baru. Namanya Kawaguchi Haruna. Gosipnya, mereka sudah menjadi kekasih sejak kelas 2. Yah, aku sih tidak masalah Ryosuke punya pacar atau tidak. Tapi kalau kubilang aku tidak sedih, itu bohong. Aku sedih saat mengetahui tentang hal ini. Karena setidaknya dalam hati kecilku aku berharap Ryosuke masih menyimpan perasaan padaku.

‘Seandainya aku memilihmu untuk menjadi pacarku’

Kalimat itu kembali terngiang. Kalimat terakhir yang diucapkan Ryosuke sebelum kami berpisah. Sejujurnya pada saat itu aku sangat senang karena pada akhirnya Ryosuke memilihku daripada Mirai. Tapi, karena aku tidak tega merusak hubungan Mirai dengan Ryosuke, maka aku memutuskan untuk diam saja dan menjauhinya. Tapi, setelah mengetahui fakta bahwa Ryosuke tidak mengejarku kembali setelah putus dengan Mirai, maka aku memantapkan hati untuk melupakan dia.

Untuk apa aku mengingat Ryosuke lagi? Dia sudah memiliki seseorang. Orang yang bisa menemaninya setelah kehilangan Mirai. Itu juga salahku sendiri. Aku tidak teguh mempertahankan Ryosuke, bukankah itu artinya aku tidak terlalu menyukainya? Aku melepasnya begitu saja demi bersama dengan orang yang dipilihnya. Pada akhirnya pun Ryosuke tidak memilihku, bukankah itu sama saja baginya? Aku tidak terlalu berharga baginya.

“Yamada-kun”

Aku memanggilnya. Ya, aku memutuskan untuk tidak memanggilnya Ryosuke lagi. Kami sudah tidak sedekat dulu, untuk apa memanggilnya dengan nama kecilnya?

Ryosuke melihatku dengan sedikit terkejut. Mungkin dia kaget karena aku akhirnya memanggilnya, atau karena aku kembali memanggilnya ‘Yamada’ bukan ‘Ryosuke’? Aku tidak peduli. Aku memutuskan untuk melupakan semuanya dan mulai maju ke depan. Tidak ada gunanya mengenang masa lalu kan?

“Iya? Ada apa?”

Ryosuke menatap lurus ke mataku. Ah, kebiasaannya belum berubah juga. Ryosuke terbiasa menatap lurus mata lawan bicaranya. Hal inilah yang pertama kalinya membuatku tertarik padanya. Entah kenapa, aku merasa ada sesuatu yang berdetak sekilas saat aku melihat matanya, yah, kurasa itu mungkin karena aku kaget ketika akhirnya kami berdua bisa berbicara lagi.

“Ini... soal tugas kelompok kita”

Aku buru-buru mengalihkan pandanganku dan menyodorkan lembaran tugas di depannya. Pandangannya kini terfokus pada kertas tugas yang ada di depanku. Syukurlah, dia tidak menatapku lagi.

“Ryo-chan”

Aku menoleh. Di dekat pintu ada seorang gadis cantik berdiri sambil melambaikan tangannya ke arah kami. Rambutnya tergerai lurus, tubuhnya yang proposional, membuatnya cantik.

“Ah Haruna!”

Ah, jadi cewek itulah pacar baru Ryosuke. Sama cantiknya dengan Mirai. Selera Ryosuke memang bagus. Ryosuke segera berjalan menghampiri kekasihnya yang sudah menunggu.

“Tunggu sebentar. Aku mau membahas masalah ini dulu”

Kulihat cewek itu tersenyum mengangguk. Ryosuke kembali menuju ke arahku.

“Pacarmu?”, tanyaku. Dia mengangguk tanpa melihat ke arahku. “Kita bisa bahas ini lain kali. Kau pergi saja dengannya. Tidak baik membuat seorang gadis menunggu”

“Tidak. Kau punya urusan lebih dulu denganku. Setelah urusan kita selesai, baru aku pergi dengan Haruna. Aku tidak mau membuatmu menunggu”

Deg. Ah, sifat gentlemannya masih ada. Betapa aku rindu dengan sifatnya yang seperti ini. Aku harus segera menjauh dari Ryosuke sebelum aku kembali jatuh ke masa lalu.

“Ryosuke... Kawaguchi sudah menunggumu. Pergi sana. Biar aku yang membantunya”

“Yuto...”

Yuto datang mendekat ke arah kami. Tidak bisa kuungkapkan, betapa leganya aku saat melihat Yuto. Ryosuke melihat ke arah Yuto, lalu ke arahku. Aku mengangguk, memberitahunya bahwa tidak apa kalau dia pergi, Yuto bisa membantuku. Ryosuke menghela nafas, lalu bangkit berdiri. Sebelum pergi dia mendekatkan dirinya ke arahku, dan berbisik padaku dengan suara yang sangat pelan.

“Kau memanggil Yuto dengan nama kecilnya, tapi kenapa kau memanggilku dengan ‘Yamada’?”

Aku terkesiap. Aku bahkan mencoba menusuk diriku dengan pensil runcing di tanganku, memastikan yang kudengar itu nyata. Kenapa Ryosuke mengatakan hal seperti itu? Apa yang terjadi?

“Hei? Sampai kapan kau mau bengong? Ayo kita kerjakan ini”

Yuto memegang tanganku. Dan berkat itu aku kembali ke dunia nyata. Aku mengangguk sebelum kembali duduk di hadapan Yuto dan mulai mengerjakan tugas kami bersama-sama.

---***---
‘Hei, kau sedang apa?’

Aku mengernyit saat membaca isi pesan yang kuterima. No tidak dikenal. Kukira dari Yuto, tapi bukan. Siapa ini?

‘Aku Ryosuke’

Deg! Ryosuke?

‘Jelas saja aku tahu nomormu. Bukankah kita mendapat data teman sekelas hari ini?’

"Ah iya ya", gumamku saat membaca balasan Ryosuke ketika aku bertanya darimana dia mendapat nomorku. Ya, nomorku telah ganti sesaat setelah masuk kelas 2. Yang tahu Nomor baruku hanya temanku di kelas 2 dan Yuto saja.

Aku terdiam. Aku tidak tahu harus membalas apa. Kami sudah tidak saling bertukar email atau apapun selama setahun ini. Rasanya jadi canggung. Apalagi aku sudah memutuskan untuk tidak berurusan dengan Ryosuke lagi. Berusaha untuk melupakan perasaanku padanya dan fokus pada Yuto.

Belum selesai perasaan gundahku. Pesan dari Ryosuke kembali masuk.

'Aku ingin bertanya soal tugas kita. Tadi aku meninggalkanmu saat diskusi kita belum selesai. Bagaimana tugasnya? Apakah kau sudah tahu jawabannya?'

Aku tersenyum lega. Ryosuke hanya bertanya soal tugas. Kupikir dia akan bertanya soal sesuatu yang lebih pribadi. Aku menjawab pesan itu. Dan beberapa menit kemudian, kami sibuk bertukar pesan seperti dulu. Aku kembali hanyut dalam kenangan masa lalu. Saking asyiknya, kami tidak sadar kalau hari sudah terlalu malam.

'Kalau begitu, selamat tidur. Jangan sampai kau terlambat'

Aku tersenyum saat membaca pesan terakhir dari Ryosuke. Sudah lama sekali aku tidak mendapat pesan sebelum tidur seperti ini.

Eh? Tunggu sebentar. Kenapa dadaku berdebar seperti ini? Tidak seharusnya aku berdebar seperti ini. Harusnya aku melupakannya. Kenapa aku malah mengingatnya lagi?

Yuto. Yuto. Yuto. Aku menggumamkan nama Yuto berulangkali. Berusaha melupakan sosok Ryosuke dalam pikiranku. Bukankah saat ini aku menyukai Yuto? Kenapa aku masih berdebar karena Ryosuke?

---***---
Back to the past.

Ya, hubungan kami semua kembali seperti dulu. Kami berempat mulai menghabiskan waktu bersama. Bersenda gurau seperti dulu. Tapi ada satu hal yang berubah. Aku dan Mirai tidak memanggil Yamada dengan sebutan 'Ryosuke' lagi. Kami memanggillnya dengan sebutan 'Yamada'. Yamada pun memanggil kami dengan nama belakang kami. Hal itulah yang membuat ada jeda diantara kami. Tapi satu hal yang berbeda juga, aku dan Yuto saling memanggil nama kecil. Itulah perbedaan antara dulu dan sekarang.

"Ryo-chan..."

Kami semua menoleh. Pacar Yamada menunggu di luar sambil melambaikan tangannya ke arah kami. Yamada pamit ke kami lalu menghampiri pacarnya. Entah kenapa, kami bertiga pun ikut bubar. Mirai pergi bersama temannya. Yuto pamit padaku, dia bilang kalau ingin bertemu teman sebandnya.

"Kawaguchi Haruna. Dia berpacaran dengan Yamada Ryosuke mulai pertengahan kelas dua. Gosipnya, Yamada yang menembaknya terlebih dahulu"

Aku terkejut dengan kedatangan Mariya. Dia tersenyum padaku seolah tahu apa yang kupikirkan.

"Kau penasaran soal cewek itu kan?"

"Jangan bicara sembarangan", aku menyenggol pelan lengan Mariya. Mariya tahu betul apa yang kupikirkan.

"Lupakan Yamada"

Aku terkesiap mendengar ucapan Mariya.

"Dia memilih Mirai daripada kau dulu, dia bahkan tidak berusaha mengambil kembali hatimu saat dia putus dengan Mirai. Sekarang dia bahkan berpacaran dengan Kawaguchi. Dia sudah melupakan perasaannya padamu. Kau tahu itu kan?"

Aku mengangguk. Ucapan Mariya benar. Yamada sudah memiliki kekasih baru. Akupun sudah mulai menyukai Yuto dan yakin kalau dialah orang yang tepat untukku. Tapi kenapa aku tidak bisa melupakannya?

---***---
Semalaman aku berpikir keras mengenai ini. Akibatnya, tercipta sebuah kantung mata hitam di mataku. Dengan langkah gontai aku melangkah masuk ke dalam kelas. Aku ingin memejamkan mataku sebentar sebelum pelajaran dimulai, tapi tampaknya Mariya tidak mengijinkanku. Dia mengguncang tubuhku dengan keras. Memaksaku untuk tetap bangun.

“Apa sih?”, ucapku ketus.

“Kau tidak akan percaya ini”, dia berhenti sebentar, mukanya terlihat sangat bahagia. “Aku dengar dari Keito kalau Yuto akan menembakmu sebentar lagi!!!”

Tsuzuku ~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar