Sabtu, 20 Juni 2015

AKUMA NO YOROI

Part 18
Waktu terasa sangat cepat berlalu. Matahari kini telah menggantikan tugas sang rembulan untuk menerangi bumi dengan sinarnya yang berkilauan. Seluruh penghuni bumi yang terlelap, mulai terbangun karena terkena pancaran cahaya dari sang surya. Para penduduk bumi mulai bangun dan melaksanakan aktivitas mereka seperti biasanya.
“Keito-sama... Ayo bangun. Sudah waktunya Keito-sama bersiap untuk ke sekolah”
Chii kini kembali berwujud seperti manusia. Tenaganya telah kembali. Dengan lembut, Chii berusaha membangunkan Keito yang masih berada di alam mimpi.
“Bagaimana Chii? Keito sudah bangun?”, tanya Yama yang masuk ke dalam kamar sambil mendorong kereta kecil berisi makanan. Tidak seperti Chii, Yama masih belum bisa memulihkan dirinya. Sosok Yama masih dalam sosok anjing hitam kecil. Kekuatannya yang tinggal sedikit membuatnya belum mampu menggunakan kekuatan spiritualnya.
Chii menggeleng. Keito masih belum terbangun juga meskipun Chii telah membangunkannya berkali-kali. Keito memang susah bangun pagi, akan tetapi kali ini Keito lebih susah dibangunkan daripada biasanya.
“Mungkin dia masih lelah karena harus berkali-kali menggunakan kekuatan spiritualnya. Apa tidak lebih baik dia beristirahat di rumah saja hari ini?”, ucap Chii khawatir sambil melihat Keito yang masih memejamkan mata.
“Aku tidak setuju”. Inoo muncul tiba-tiba dari arah belakang Yama. Hampir saja Yama mendorong kereta berisi makanan yang ada di depannya karena kaget dengan kemunculan Inoo yang tiba-tiba. “Bocah itu harus tetap masuk sekolah atau kita akan mendapat masalah”
Inoo berjalan menghampiri Keito. Inoo mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Dengan cepat, Inoo meninju Keito tepat di perutnya. Seketika itu juga Keito membuka matanya dan menjerit kesakitan.
“ITTAAAIIIIII!!!!”, jerit Keito sambil memegangi perutnya yang terasa sangat sakit akibat sesuatu yang menghantam perutnya. Keito langsung mengerti apa yang terjadi saat melihat Inoo yang berdiri di hadapannya dengan tangan yang masih mengepal.
“Selamat pagi Keito-kun. Mau sampai kapan kau terlarut dalam mimpi? Sudah waktunya kau berangkat ke sekolah”, sapa Inoo sambil tersenyum. Keito langsung merinding saat melihat senyuman Inoo yang sebenarnya terlihat sangat indah.
“Tidak bisakah Keito-sama mengambil hari libur? Keito-sama terlihat sangat capek hari ini, aku ingin Keito-sama beristirahat saja untuk memulihkan dirinya”, ucap Chii.
Inoo langsung melihat Chii dengan tatapan mata yang tajam. “Bukankah tadi sudah kubilang, kalau kita akan mendapat masalah kalau anak ini tidak segera masuk sekolah. Jadi, mau tidak mau, lebih baik dia masuk sekolah. Ini demi keselamatan kita semua”
“Apa maksudmu? Apa hubungannya Keito masuk sekolah atau tidak dengan keselamatan kita semua?”, tanya Yama yang tidak mengerti.
Inoo menghembuskan nafas panjang. “Saat ini Keito sedang menjadi perhatian para demon. Perlu kalian tahu, para prajurit demon yang berada dalam perintah langsung Raja Demon semua ada di sekolah itu. kami semua diperintahkan untuk mengawasi Keito disana”. Inoo berhenti sebentar. “Saat ini, aku, Yabu, dan Hika, telah dituduh sebagai pengkhianat karena kami melakukan kontrak dengan manusia, apalagi dosa kami semakin besar karena melakukan kontrak dengan manusia yang telah ditunjuk sebagai ‘makanan’ Raja”, ucap Inoo sambil menunjuk ke arah tanda kutukan yang terletak di dada Keito.
“Untuk saat ini, keberadaan kami bertiga belum diketahui oleh demon yang lain. Aku dan Yabu sudah memasang pelindung di sekitar rumah ini agar aura demon kami tidak terdeteksi. Seluruh demon pasti sudah menaruh kecurigaan pada Keito dan pengawasan padanya akan semakin ketat. Bila Keito tidak masuk hari ini, maka beberapa demon yang pintar akan langsung kemari dan menyerang kita tanpa ampun”, ucap Inoo lagi.
“Kalau begitu, kau memintaku agar tetap menjalani kegiatanku ke sekolah seperti biasanya?”, tanya Keito. Inoo mengangguk mengiyakan. “Kalau begitu bagaimana dengan kalian bertiga? Kalian tidak berangkat ke sekolah?”
“Itu tidak mungkin! Kami bertiga akan menunggu kau dengan manis di rumah ini”, ucap Inoo. Yama langsung menunjukkan ekspresi tidak suka dengan ucapan Inoo. “Selain itu, kau adalah umpan yang bagus untuk memancing Daichan kemari. kita bisa langsung mengalahkannya dan mengambil kembali kekuatan si rubah kecil ini dari Daichan”, ucap Inoo lagi.
“Keito-sama menjadi umpan? Tidak. aku tidak akan membiarkannya melakukan hal yang berbahaya”, tolak Chii.
“Tenang saja. Dia tidak akan melakukan hal yang membahayakan. Dia cukup pergi dan pulang sekolah seperti biasanya. Nanti Daichan sendiri yang akan mengikutinya kemari. Kita harus bisa memancing Daichan kemari sendirian. Akan sangat merepotkan kalau dia tidak sendiri kemari”, ucap Inoo.
“Baiklah. Aku akan segera bersiap ke sekolah”.
Keito mulai bangkit dari tempat tidurnya dan mulai berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sementara itu, Chii membantu Yama melakukan tugasnya. 30 menit kemudian, Keito sudah siap untuk berangkat ke sekolah.
Keito sudah akan melangkah ke luar rumah, tiba-tiba Inoo menghentikannya.
“Ada apa?”, tanya Keito.
Inoo menempelkan sesuatu seperti kertas ke dahi Keito. Kertas itu bercahaya sebentar dan kemudian lenyap. “Nah, dengan ini kita bisa menyembunyikan tanda kontrak kau dan Hika”. inoo kemudian menyerahkan sebuah kantung kecil berwarna merah. “Bawa ini, dan jangan sampai kau melepaskannya dari tubuhmu”
“Apa ini?”, tanya Keito sambil mengamati kantung itu.
“Ini adalah umpan untuk menangkap Daichan”
“Umpan? Memangnya apa isinya?”, tanya Keito penasaran saat mengetahui ada sesuatu di dalam kantung itu.
Inoo tersenyum. Dia kemudian mendorong Keito agar segera pergi. “Kau tidak perlu tahu. Kau cukup membawanya saja. Daichan sendiri yang akan mengikutimu nanti”
Keito hanya mengangguk menurut. Dia pun kemudian berangkat ke sekolah bersama dengan Chii. Seperti biasa, Chii berubah bentuk menjadi gantungan kunci mini. Kali ini, Yama berjaga sendirian di rumah. Dengan kondisi badannya yang seperti itu, dia akan menyusahkan Chii. Terlebih lagi, Yama tidak bisa membiarkan 3 demon yang kini tinggal bersama mereka. Sampai saat ini Yama tidak bisa percaya dengan 3 demon itu, apalagi terhadap demon berwajah cantik itu. Yama yakin Inoo memiliki tujuan lain, apa itu, Yama belum mengetahuinya.
Inoo kembali masuk ke dalam rumah, meninggalkan Yama yang masih berdiri di luar sambil mengawasi kepergian Keito. inoo kembali masuk ke ruang tengah dimana Yabu dan Hika berada.
“Kau sudah bangun Hika”, ucap Inoo saat melihat Hika yang kini telah membuka matanya. “Cepat sekali pemulihan dirimu”
“Itu karena kau memberikan makanan yang cukup banyak untukku, jadi aku bisa memulihkan diriku lebih cepat”, jawab Hika. “Tapi apa benar kita akan aman berada disini? Bukankah lebih baik membiarkan Keito tetap disini? Jesse pasti akan mengintip ingatannya dan dia akan tahu kalau kita ada disini”, ucap Hika lagi.
“Tidak apa-apa. Aku sudah membuat ingatan Keito sedikit kacau. Kalau ada yang akan mengintip ingatannya, maka dia akan mendapat ingatan palsu. Aku juga sudah membuat tanda kontrak kita tidak terlihat, sehingga akan memberi kita sedikit waktu”, balas Inoo.
“Kau yakin itu cukup untuk memancing Daiki kemari?”, tanya Yabu tiba-tiba.
“Ya. Daichan sudah mengenal baik ‘benda’ yang ada di dalam kantung itu. Dia pasti akan mengikuti bocah itu untuk mendapatkan ‘benda’ yang ada di dalam kantung itu”, jawab Inoo.
“Tapi, bukankah itu akan berbahaya? Kau tahu sendiri betapa buasnya Daiki saat dia lapar. Tidak ada kemungkinan kalau Daiki tidak akan memakan Keito”, ucap Yabu.
“Hee... tidak kusangka kau ternyata baik juga. Kau mengkhawatirkan bocah itu?”, ucap Inoo meledek. Yabu hanya mendengus kesal. “Yah, kemungkinannya 50% kalau Daiki akan menyerang Keito. Tapi, tenang saja. Daiki memang rakus, tapi dia tidak sembarangan memilih makanan. Jika dia tidak dalam kondisi lapar berat, kurasa Daiki hanya akan menyerang Keito saja, tidak sampai membunuhnya”
“Memangnya apa isi kantung itu?”, tanya Hika penasaran.
“Kau tidak tahu? Dari auranya saja kau bisa mengetahuinya kan?”, balas Yabu.
Hika mengangkat bahunya tanda tidak tahu. “Aku bisa merasakan aura hebat dari kantung itu, tapi hanya itu, tidak lebih”
Inoo tersenyum, “Yang aku masukkan ke dalam kantung itu adalah sebuah potongan daging kok”
“Potongan daging? Hanya dengan itu Daiki akan mengikuti Keito?”, tanya Hika.
Inoo tersenyum lagi, “Tentu saja itu bukan potongan daging biasa. Sudah kubilang kan, kalau Daichan sudah mengenal baik ‘benda’ yang ada di dalam kantung itu kan? Potongan daging itu berasal dari daging milik Yuya, tentu saja Daichan akan berusaha untuk mendapatkan daging itu”
“Tapi aku tidak mengerti”, Yabu mulai bicara lagi. “Kenapa kita berusaha menangkap Daiki terlebih dahulu? Kenapa tidak dimulai dari Ryuu saja? Aku dan Hika bisa mengalahkan Ryuu dengan mudah, jadi lebih baik kita mengalahkan Ryuu dulu dan mengembalikan kekuatan si anjing hitam itu kan?”
Inoo berjalan pelan. Pandangannya kini menatap ke arah taman yang ada disamping rumah. “Tidak. Meskipun Ryuu adalah demon kelas D, tapi dia adalah demon ‘jenis baru’. Kemampuannya hampir mirip dengan Daichan. Kita tidak bisa meremehkannya”
Inoo mengarahkan tangannya ke luar. Dia kemudian menarik nafas panjang seperti ingin menikmati udara di taman tersebut. “Daripada si anjing hitam itu, kupikir kita lebih membutuhkan kekuatan si rubah itu. Si rubah itu adalah tipe pelindung, jadi dia bisa membuat pelindung yang kuat. Pelindung yang kita buat ini tidak bertahan lama, jadi kita membutuhkan kekuatan pelindung dari rubah itu”
Hika menggaruk-garuk kepalanya yang tidak terlalu gatal. Tampaknya dia tidak mengerti sepenuhnya apa yang disampaikan oleh Inoo. “Terserah kau sajalah. Aku menyerahkan semuanya pada kalian. Aku sudah sangat lega terbebas dari hukuman yang diberikan oleh Yang Mulia Raja”
Inoo tersenyum senang mendengar ucapan Hika. inoo juga melemparkan senyum ke arah Yabu, tapi Yabu hanya mengalihkan pandangan.
“Segitu berharganya kah wanita itu hingga kau melakukan semua ini, Inoo?”, gumam Yabu pelan. Sekilas dia melirik ke arah Inoo yang tampak sedang mengamati foto wanita yang bernama Kaoru tersebut.
---***---
111 tahun yang lalu.
“Inoo! Hentikan! Kau akan memancing amarah Yang Mulia Raja”, Yabu berusaha menghentikan Inoo yang akan menghampiri seorang manusia.
Inoo hanya terdiam. Matanya masih terpaku pada sosok wanita muda yang sedang berada di tengah taman bunga. Kecantikan wanita itu terlihat sepadan dengan puluhan bunga yang ada disana. Semua orang yang lewat pasti akan terpana dengan kecantikan wanita muda itu. Termasuk Inoo.
“Kau menyukainya?”, tanya Yabu.
Inoo tersentak. Pertanyaan itu membuatnya ragu. ‘Aku? Jatuh cinta pada manusia?’, gumam Inoo dalam hati.
“Tidak boleh. Kau tidak boleh menyukainya! Manusia dan demon tidak boleh bersatu. Itu adalah hal yang tabu bagi kita. Lupakan dia, atau kau akan menyesal di kemudian hari”
---***---
Keito melangkah menuju sekolah. Tanpa disadarinya, ada beberapa pasang mata merah yang mengamatinya dari suatu tempat.
“Lihat. Tampaknya bocah terkutuk itu tetap masuk sekolah”, ucap Ryuu.
“Kau benar. Kupikir, setelah kejadian semalam, dia tidak bisa bangkit karena kekuatannya melemah”, ucap Shin yang tadi malam juga berada di sekolah.
Yuya melirik sekilas ke arah Daiki, Daiki meletakkan telunjuknya di bibirnya sambil mengedipkan sebelah matanya, meminta Yuya agar tetap diam tentang kejadian semalam.
“Bocah itu lumayan juga. Dia sudah mengikat kontrak dengan 2 demon dan dia masih hidup sampai sekarang”, ucap Yugo.
“2? Bukankah sekarang telah menjadi 3?”, tanya Juri.
“Belum bisa dipastikan apakah dia sudah mengikat kontrak dengan Hika atau belum. Tapi melihat cara Hika kabur, aku sangat yakin kalau anak itu yang telah membantu Hika”, ucap Taiga.
“Sayang sekali Hoku tidak bisa bersama dengan kita lagi. Padahal aku sudah memperingatinya waktu itu”
“Kalau kau tahu hal itu akan terjadi, kenapa kau tidak membantu Hoku, Yuto?”, geram Jesse.
“Bukankah Hoku yang disuruh menjaga Hika? Aku sudah berbaik hati memperingatkannya, tapi dia tetap tidak bisa melaksanakan tugasnya dengan baik”, kilah Yuto.
“Kehilangan Hoku memang kerugian yang besar bagi kita. Kita tidak punya demon kelas A lagi selain Daiki. Daiki, kuharap kau bisa melakukan tugasmu dengan baik kalau kau tidak ingin bernasib sama dengan Hoku”, ucap Taiga kepada Daiki. Matanya menunjukkan kalau dia sedang mengancam Daiki.
Daiki tidak mempedulikan ancaman Taiga. Dia malah merangkul tangan Yuya. Tanpa persetujuan Yuya, Daiki langsung memakan tangan Yuya yang ada di dalam pelukannya. Yuya hanya bisa pasrah dan membiarkan Daiki melahap tangannya.
“Daiki! kau dengar tidak sih? Ini bukan saatnya bermain-main”, rupanya Juri cukup kesal dengan sikap Daiki yang tidak peduli itu.
“Berisik! Kalian tidak lihat aku sedang makan?”. Daiki menatap Juri kesal. Mata merahnya terlihat menyala. Aura yang dikeluarkan Daiki terasa menyakitkan dan menakutkan. Semua demon yang ada di ruangan itu tanpa sadar langsung mundur selangkah. Juri hendak membuka mulutnya lagi untuk memarahi Daiki.
“Hentikan. Kalau kau membuatnya marah, kau akan dimakan habis olehnya”, ucap Yuya. “Anak ini sangat berbahaya kalau dia sedang lapar, dia tidak akan segan-segan memakan temannya sendiri. kau pun juga tidak akan berdaya kalau kau dilahap sampai habis olehnya kan?”. Yuya mengelus-elus kepala Daiki untuk membuatnya tenang. “Kalian masih ingat kejadian 10 tahun lalu itu kan? Hampir seluruh pasukan demon yang ada tewas bukan karena serangan musuh, tapi karena dilahap oleh Daiki. Tentunya kalian juga tidak ingin bernasib seperti itu kan?”

Tsuzuku~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar