Part 13
Daiki menatap Keito yang masih terbaring. Matanya masih terpejam. Kelihatannya Keito sama sekali tidak terlihat akan segera sadar. Meskipun raut wajah Keito kini terlihat lebih baik dan tidak kesakitan seperti tadi. Berkat Daiki, rasa sakit yang diderita oleh Keito kini telah menghilang.
“Aiyah... Yabai na...”
Daiki menggumam pelan. Dia bisa merasakan ada sesuatu yang berbahaya datang dari belakang. Tidak hanya itu, Daiki bisa merasakan ada benturan dua aura demon di lantai atas. Sepertinya ada dua demon yang sedang bertarung.
“Kau disana rupanya. Aku mencarimu dari tadi bocah nakal”
Daiki menoleh, “Yuya...”
“Berani sekali kau keluar disaat aku sedang minum HAH?!”, mata Yuya yang berwarna merah tampak begitu bercahaya di kegelapan malam. Daiki merasa ketakutan saat ini. Daiki sudah menduga kalau Yuya akan sangat kesal kalau dia pergi begitu saja di saat Yuya membutuhkannya, tapi Daiki tidak menduga kalau Yuya akan sekesal ini.
Yuya melirik ke sosok yang berada di dekat Daiki. “Kau pergi meninggalkanku gara-gara bocah terkutuk ini?”. Yuya mencengkeram leher Daiki. “Jangan bilang kau memberikan darahmu padanya”
Daiki meronta. Cengkeraman tangan Yuya sangat erat sehingga membuat Daiki susah bernafas. “Ti...dak... aku hanya memberikan sedikit kekuatanku padanya”
“Kenapa? Untuk apa kau memberikan kekuatanmu padanya?”, tanya Yuya tanpa melepaskan tangannya dari leher Daiki.
“Ah, aku hanya membalasnya. Dia pernah memberikanku makanan, jadi aku menolongnya sedikit untuk membalas budi”
“Balas budi?”. Yuya tertawa terbahak-bahak. “Daiki, kau sudah bukan manusia lagi. Kau kini adalah demon. Untuk apa kau masih menyimpan emosimu sebagai manusia? Kau lupa siapa yang menyebabkanmu menjadi seperti ini?”
Daiki terdiam. Daiki menundukkan kepalanya. Dia tidak ingin melihat wajah Yuya. Daiki sendiri tidak mengerti mengapa dia melakukan hal itu. Daiki melakukannya tanpa sadar. Mungkin jiwa manusianya masih tersisa sedikit dalam tubuhnya.
Yuya melepaskan tangannya dari leher Daiki. “Ayo pergi. Kalau kau terus disini bersamanya, yang lain bisa mengira kalau kau berkhianat. Hokuto kini telah diperintah untuk membunuh Yabu dan Inoo. Yang Mulia kini tidak main-main. Bahkan dia tidak segan-segan ingin membunuh Yabu yang merupakan salah satu tetua demon. Atau kau setuju dengan ide gila si Inoo itu?”
Yuya berbalik dan melangkah pergi terlebih dahulu meninggalkan tempat itu. Daiki melihat sekali lagi ke arah Keito yang masih tidak sadarkan diri. Daiki memejamkan matanya dan berbalik pergi mengikuti Yuya yang telah berjalan terlebih dahulu. Sosok keduanya kini telah menghilang dalam kegelapan.
---***---
Yabu dan Inoo kini berada di sebuah tempat. Entah dimana, yang jelas, tempat mereka berada bukanlah dunia manusia juga bukan dunia gaib. Mereka ada di sebuah dimensi. Berkat Inoo, mereka berdua bisa bersembunyi di salah satu dimensi. Para demon yang sedang mencari mereka pun tampaknya tidak akan bisa menemukan mereka secepat itu.
Yabu dan Inoo kini berada di sebuah tempat. Entah dimana, yang jelas, tempat mereka berada bukanlah dunia manusia juga bukan dunia gaib. Mereka ada di sebuah dimensi. Berkat Inoo, mereka berdua bisa bersembunyi di salah satu dimensi. Para demon yang sedang mencari mereka pun tampaknya tidak akan bisa menemukan mereka secepat itu.
“Dimana kita?”, tanya Yabu melihat pemandangan sekelilingnya yang cukup aneh dan janggal.
“Kita ada di salah satu dimensi. Yang jelas kita tidak berada di dunia manusia maupun di dunia gaib. Untuk sementara kita akan aman disini. Para demon tidak mengetahui tempat ini, yah kecuali ‘dia’. Kalau ‘dia’ pasti tahu tempat ini”, jawab Inoo.
“Di tengah perjalanan tadi aku tidak merasakan hawa kehadiran Hokuto. Apakah benar dia mencari kita”
“Ya. Tapi tepat sebelum Hokuto melacak keberadaan kita, aku sudah memindahkan kita berdua ke dimensi lain. selain itu, tampaknya Hika juga membantu kita”
“Hikaru? Kenapa?”
“Dia ingin membantu kita. Di antara semua demon, hanya Hika yang peduli dengan demon yang lain. Anak itu memang tidak seperti demon, dia lebih mirip manusia. Kita juga terbantu dengan pertolongannya kan? Hika bisa bertarung dengan imbang melawan Hokuto”
“Kau sudah menduganya kan? Kau sudah mengira kalau Hika akan menolong kita kan? Oleh karena itu kau bersikap akrab dengannya. Kau juga memintaku untuk bersikap akrab dengan Hika”
Inoo tersenyum. Wajah liciknya samar-samar terlihat dari senyumannya yang terlihat manis itu. Melihat senyuman Inoo yang seperti itu, Yabu langsung mengerti tanpa perlu penjelasan Inoo. Wajahnya yang manis dan cantik menutupi wajah liciknya dengan rapi. Yabu menatap Inoo lekat-lekat. Wajahnya seperti ingin menanyakan sesuatu.
“Apa?”, tanya Inoo.
“Kau serius soal itu Inoo? Lawan kita adalah Yang Mulia Raja Demon. Dia bukan demon biasa yang bisa kita hadapi dengan mudah. Rencanamu ini akan sulit untuk berhasil”
“Aku tahu. Makanya aku sudah mempersiapkan hal ini jauh-jauh. Aku bukan tipe yang bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu”
Yabu menghela nafas panjang. Mata merahnya kini telah kembali seperti semula. Dia ingin menyimpan tenaganya dan tidak ingin membuang ‘imbalan’ yang sudah diberikan Keito dengan Cuma-Cuma.
“Setelah ini apa rencanamu?”, tanya Yabu
“Hmm... Kita lihat saja nanti”, jawab Inoo sambil tersenyum.
---***---
Yama berjalan sambil mengendus-endus lantai, berusaha mencari bau Keito. tapi, saking banyaknya makhluk gaib yang berkeliaran, bau keito kini tersamarkan dan tidak bisa dilacak oleh Yama. Chii juga berusaha membantu Yama dengan kemampuan pendengarannya, tapi karena dia dalam kondisi lemah, kemampuan pendengarannya menurun. Akan tetapi, Chii masih berusaha untuk melacak keberadaan Keito.
Chii dan Yama menegakkan ekornya dengan serempak. Yama memusatkan perhatiannya ke indera penciumannya. Chii juga melakukan hal yang sama.
Yama berjalan sambil mengendus-endus lantai, berusaha mencari bau Keito. tapi, saking banyaknya makhluk gaib yang berkeliaran, bau keito kini tersamarkan dan tidak bisa dilacak oleh Yama. Chii juga berusaha membantu Yama dengan kemampuan pendengarannya, tapi karena dia dalam kondisi lemah, kemampuan pendengarannya menurun. Akan tetapi, Chii masih berusaha untuk melacak keberadaan Keito.
Chii dan Yama menegakkan ekornya dengan serempak. Yama memusatkan perhatiannya ke indera penciumannya. Chii juga melakukan hal yang sama.
“Yama, bau ini...”
“Ya, tidak salah lagi. itu adalah bau Keito. dia ada di dekat sini”
Yama langsung berlari menuju ke tempat Keito. bau Keito kini bisa tercium dengan jelas. Yama terus merasa cemas. Hatinya tidak tenang. Dia berharap Keito baik-baik saja dan tidak terluka. Bila Keito terluka, Yama akan merasa sangat bersalah karena Yama telah meninggalkan Keito begitu saja. Keito mungkin memanggilnya, tapi Yama tidak mendengarnya.
“Keito-sama!!!”
Chii langsung melompat turun dari punggung Yama. Dia langsung berlari ke depan. Yama bisa melihat alasan kenapa Chii berlari dengan tergesa-gesa. Dia bisa melihat Keito terbaring tidak jauh dari mereka. Tanpa disuruh, Yama segera mempercepat langkahnya.
“Keito-sama...”
Chii langsung memeluk tuan kesayangannya itu. Baik Chii maupun Yama, keduanya menghela nafas lega. Keito terlihat baik-baik saja meskipun sendirian. Yama merasa bersalah saat melihat wajah tidur Keito. Dia tidak tahu apa yang harus dikatakannya kalau Keito bangun nanti.
“Untunglah Keito-sama baik-baik saja... Hiks... Hiks... Hiks...” Chii mulai meneteskan air matanya. Berkali-kali dia menjilati wajah Keito dengan lembut.
“Eh? Tunggu dulu...”
Chii menghentikan gerakannya. Dia melihat Yama yang sedang mengendus seluruh tubuh Keito dengan seksama.
“Kenapa Yama?”, tanya Chii yang penasaran dengan tingkah aneh Yama.
“Bau ini... bau demon...”
“Ha? Apa katamu?”
Chii ikut mengendus tubuh Keito. Benar. Ada bau demon yang menempel di tubuh Keito. Bagi Chii, itu wajar saja karena Keito sudah mengikat kontrak dengan demon, jadi wajar kalau ada bau demon yang menempel di tubuhnya. Bahkan Chii bisa mencium bau demon lain selain bau Inoo. Ternyata dugaan Chii benar kalau Keito telah mengikat kontrak dengan demon lain. Chii masih ragu menceritakan soal itu pada Yama, dia mengira kalau sekarang bukan waktu yang tepat. Chii juga belum bisa menceritakan soal ‘hukuman’ yang diterima olehnya.
“Eh?”, Chii merasa ada bau yang sangat dikenalnya. dia kemudian mengendus lagi tubuh Keito dengan seksama. Chii membelalakkan matanya. Mata birunya kini terlihat bersinar.
“Chii?”, tanya Yama khawatir. Saat ini kekuatan Chii sedang meluap keluar. Yama sering melihatnya seperti ini saat Chii sedang bertemu musuh. Apakah di sekitar mereka ada musuh?
“Bau ini... ini bau demon yang memakan kekuatanku! Kenapa? Kenapa di tubuh Keito-sama ada bau demon itu?”, seru Chii sambil terbawa emosi.
Yama ikut kaget mendengar kata-kata Chii. Dia dan Chii mengalami nasib yang sama. Kekuatan mereka berdua sama-sama diambil oleh demon 10 tahun yang lalu. Berbeda dengan Yama yang bisa mengingat dengan jelas wajah demon yang mengambil kekuatannya, Chii sama sekali tidak bisa mengingat dengan jelas wajah demon yang mengambil kekuatannya. Yang Chii ingat hanyalah bau dan aura demon itu saja.
“Sial! Kenapa bisa begini! Dia tidak melakukan sesuatu pada Keito-sama kan?”
Chii langsung memeriksa seluruh badan Keito. Chii dan Yama tidak melihat ada satu luka pun di tubuh Keito. Meskipun begitu, Chii tetap merasa khawatir, mengingat bahwa demon yang dia cari dan dia benci, sempat melakukan kontak dengan Keito. Seandainya dia tidak terjatuh dan terluka, tentu dia bisa menemukan demon itu sebelum demon itu bertemu dengan Keito.
BRAK! BRUK! PRANG!
Yama dan Chii menoleh ke atas. Mereka bisa mendengar ada suara yang cukup keras dari lantai di atas mereka. sebenarnya keduanya sudah menyadari ada sesuatu yang terjadi di atas. Tapi, karena hal ini tidak berkaitan dengan Keito, mereka tidak ambil pusing. Dari kemampuan indera penciuman yang lemah, Chii dan Yama bisa memperkirakan kalau ada dua demon di atas mereka.
“Lebih baik kita segera pulang ke rumah sebelum kita terlibat sesuatu”, usul Yama.
Chii mengangguk setuju. Dengan kondisi mereka berdua saat ini, sangat tidak memungkinkan bagi mereka untuk bertarung. Chii tidak tahu kenapa kedua demon yang ada di atas tidak mencari mereka, tapi Chii merasa bersyukur karena mereka tidak harus bertarung dengan dua demon itu. Dari aura yang terpancar, Chii bisa menebak kalau dua demon ini adalah demon tingkat tinggi. Bahkan level mereka jauh lebih tinggi dari Inoo.
Dengan menggunakan sisa-sisa kekuatannya, Chii mengubah wujudnya kembali seperti manusia. Sebenarnya Chii masih belum pulih, tapi hanya ini satu-satunya cara untuk membawa Keito kembali. Meskipun Yama kini telah kembali pulih, tapi karena kekuatannya belum kembali seperti semula, maka dia tidak bisa mengubah wujudnya seperti manusia.
Chii mengangkat tubuh Keito dan menggendongnya. Yama hanya bisa diam melihat Chii melakukannya. Sebenarnya Yama merasa tidak enak dengan Chii. Tubuh Chii penuh luka. Tapi, Yama sendiri masih belum bisa mengembalikan wujudnya menjadi seperti manusia. Dengan berat hati, Yama membiarkan Chii menggendong Keito pulang. Keduanya bergegas membawa Keito pergi keluar sekolah sebelum ada masalah lain yang menghadang.
---***---
Hikaru dan Hokuto kini telah bertarung dengan sengit. Hokuto terus menyerang dengan sabit besar yang ada di tangannya. Sedangkan Hika terus melompat menghindar dari serangan Hokuto. Hikaru balik menyerang Hokuto dengan melemparkan sesuatu seperti jarum ke arah Hokuto. Hokuto berhasil mengelak dari serangan itu. dinding dan lantai yang terkena jarum itu meleleh aklibat racun yang menempel di jarum tersebut.
Hikaru dan Hokuto kini telah bertarung dengan sengit. Hokuto terus menyerang dengan sabit besar yang ada di tangannya. Sedangkan Hika terus melompat menghindar dari serangan Hokuto. Hikaru balik menyerang Hokuto dengan melemparkan sesuatu seperti jarum ke arah Hokuto. Hokuto berhasil mengelak dari serangan itu. dinding dan lantai yang terkena jarum itu meleleh aklibat racun yang menempel di jarum tersebut.
“Ini pertarungan yang sia-sia. Kau dan aku sama-sama kuat”, seru Hokuto.
“Memang benar. Level kita berdua sama. Tapi ‘asal’ kita berbeda”, balas Hika.
“Jadi... kau benar-benar ingin mengikuti rencana Inoo itu? kau ingin mengkhianati bangsamu sendiri?”, tanya Hokuto. Hikaru tampak terkejut. “Kenapa? Kau pikir kami tidak tahu apa yang direncanakan oleh Inoo? Taiga tahu segalanya. Dia sama pintarnya dengan Inoo. Dia bisa langsung menebak apa yang direncanakan oleh Inoo”
“Hee... rupanya sudah ketahuan ya, Hmm... Yah... kurasa ide Inoo itu tidak buruk juga. Dia hanya berencana untuk mengembalikan kami seperti semula kan?”
“Kalian gila! Seharusnya kalian senang bisa terlahir kembali menjadi demon setelah kalian mati. Demon adalah makhluk gaib yang terkuat! Tidak ada yang bisa mengalahkan kita. Kita adalah bangsa yang tidak terkalahkan!”
“Demon sepertimu tahu apa tentang perasaan kami?!”, bentak Hika. “Tidak ada manusia yang menginginkan menjadi makhluk yang kejam dan abadi setelah dia mati!”
“Heh, rupanya setelah lama berkumpul dengan manusia, kau jadi ingat kenanganmu saat dulu kau masih menjadi manusia? Kau terlalu naif Hika! Sekali menjadi demon, kau tidak akan bisa kembali lagi! tidak akan!”
“Kita tidak akan tahu sebelum mencoba kan?”
Hika kembali melemparkan jarum beracun ke arah Hokuto. Bertepatan dengan itu Hokuto melayangkan sabit besarnya ke arah Hika. Aura keduanya bertabrakan sehingga menyebabkan semua yang ada di sekitar mereka hancur lebur. Makhluk gaib yang ada disana pun ikut menjadi korban keganasan mereka berdua. Rasanya bakal sulit menghentikan pertarungan dua demon ini.
“Hentikan kalian berdua!”
Hokuto dan Hika langsung menghentikan gerakan mereka secara serentak. Seorang pemuda berparas cantik berdiri di dekat jendela. Wajah cantiknya tidak kalah dari Inoo. Mata merahnya terlihat sangat kontras dengan kulitnya yang putih. Sebuah rantai berdarah keluar dari tubuh pemuda itu. rantai itu kemudian mengikat tubuh Hika dan Hokuto.
“Taiga... kenapa kau ada disini?”, tanya Hokuto.
“Aku datang untuk menghentikan pertarungan konyol kalian. Yang Mulia memintaku membawa kalian berdua kembali. Sebuah hukuman yang berat telah menanti kalian berdua”, jawab demon bernama Taiga itu. Hika dan Hokuto hanya bisa pasrah dan menuruti Taiga. Mereka sama sekali tidak bisa berkutik melawan demon yang berwajah cantik itu.
Tsuzuku ~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar