Part 16
Main Cast : Okamoto Keito
Genre : Fantasy, Supernatural
Genre : Fantasy, Supernatural
“Demon kelas A?”, tanya Keito. Dia baru tahu kalau ada pembagian kelas di antara demon.
“Tunggu dulu. Aku tidak setuju dengan hal ini!”, Yama tiba-tiba menyela. “Aku tidak akan membiarkan Keito mengikat kontrak dengan demon lagi. Sudah cukup dia mengikat kontrak dengan kalian, jangan suruh dia mengikat kontrak dengan demon lagi!”
Yama berusaha mencegah agar Keito tidak terlibat dengan demon lagi. Dia tidak ingin Chii semakin menderita karena hal ini. Mengikat kontrak dengan demon, itu berarti Chii akan menerima hukuman lagi untuk yang ketiga kalinya. Belum lagi Keito yang akan merasa kesulitan saat memenuhi permintaan para demon yang terkenal egois ini.
“Kenapa Yama? Ini kan kesempatan bagus. Aku tidak keberatan mengikat kontrak dengan satu demon lagi. Dengan ini kekuatan kalian akan kembali kan?”. Keito sudah bersungguh-sungguh menyetujui usul Inoo. Dia tahu kalau Yama akan menentangnya, tapi ini juga demi dirinya.
“Yama, tenanglah dulu”, Chii berusaha menenangkan Yama. Dia tahu kenapa Yama bersikap seperti itu. “Ada yang ingin kutanyakan pada kalian”, ucap Chii pada Inoo dan Yabu yang terlihat cukup tenang.
“Apa?”, tanya Inoo.
“Kenapa Keito-sama harus mengikat kontrak dengan demon lagi? Tidak adakah cara lain untuk mengembalikan kekuatan kami selain mengikat kontrak?”, tanya Chii.
“Justru kita membutuhkan bantuan demon ini untuk mengembalikan kekuatan kalian”, ucap Inoo. “Sebenarnya, Yabu ini bisa mengalahkan Ryu, demon yang memakan kekuatan si anjing ini, dengan mudah. Tapi, untuk mengalahkan demon yang merebut kekuatan si rubah ini, kita butuh bantuan Hika”
“Eh? Kenapa? Apa bedanya demon yang memakan kekuatanku dengan demon yang memakan kekuatan Chii?”, tanya Yama.
“Ahh... inilah sebabnya aku tidak suka makhluk gaib kelas rendah. Pengetahuan mereka kurang”, gumam Inoo sambil melihat ke arah Chii dan Yama bergantian. Yama merasa sangat kesal dengan ucapan Inoo barusan, sedangkan Chii masih bisa mengendalikan dirinya. “Baiklah. Aku akan memberitahu kalian. Berterimakasihlah karena kali ini aku memberikan informasi secara gratis”
“Nah...”, Inoo mulai berbicara. “Kami, para demon, adalah makhluk gaib terkuat. Kalian tahu itu kan?”. Keito mengangguk. Yama dan Chii langsung memasang muka malas saat mendengar Inoo. “Demon hanya bisa dibunuh oleh demon yang lain yang levelnya lebih tinggi atau setara dengannya. Dalam bangsa demon sendiri, berdasarkan tingkat kekuatannya, kami dibagi menjadi 4 kelas. Kelas tertinggi adalah kelas A, sedangkan kelas terendah adalah kelas D”
Inoo kemudian menatap ke arah Chii dan Yama secara bergantian. “Kalian tahu kelas demon yang memakan kekuatan kalian?”. Chii dan Yama menggeleng. Mereka bahkan baru tahu kalau ada pembagian tingkat dalam demon.
“Ryu, demon yang memakan kekuatanmu itu, dia adalah demon kelas C. Yabu ini adalah demon kelas B, jadi dia bisa mengalahkan Ryu”, jelas Inoo. “Sedangkan demon yang memakan kekuatan rubah ini adalah demon kelas A. Jadi baik Yabu maupun aku, tidak akan bisa mengalahkannya”
“Hime-sama, kau demon kelas apa?”, tanya Keito polos. Inoo langsung pura-pura tidak mendengar pertanyaan itu. Yabu langsung tertawa pelan melihat reaksi Inoo.
“Inoo adalah demon paling rendah di antara kami semua. Dia adalah demon kelas D”, jawab Yabu. Inoo langsung melotot kesal ke arah Yabu. Yabu berusaha berpura-pura tidak melihat raut wajah Inoo yang kesal.
“Lalu, untuk mengalahkan demon yang merebut kekuatanku itu, kau ingin agar Keito-sama mengikat kontrak dengan demon yang bernama Yaotome ini? kenapa harus melibatkan Keito-sama? Aku bisa mengalahkan demon itu dengan kekuatanku sendiri”, ucap Chii kesal. Dia merasa kalau Inoo telah meremehkannya.
“Kau? Dengan kondisi seperti itu?”. Inoo tertawa mendengar perkataan Chii. “Kau yang tidak bisa apa-apa ini bisa kukalahkan dengan mudah. Tidak usah sok tegar. Aku tahu kalau kalian berdua sudah mencapai batasnya. Atau mungkin...”, Inoo langsung tersenyum simpul melihat ke tubuh Chii yang penuh luka. “Kau takut menerima hukuman lagi kalau tuanmu ini mengikat kontrak dengan demon?”
Chii langsung mengarahkan cakarnya yang tajam ke arah Inoo. Dengan gesitnya, Inoo langsung melompat menghindari serangan mendadak Chii yang tidak terlalu kuat. Inoo tertawa terbahak-bahak melihat Chii yang semakin kelelahan akibat menyerang Inoo secara gegabah.
Yama langsung melompat ke depan Chii. Dengan sisa tenaganya dia berusaha membuat pelindung tipis di antara dirinya dan Inoo. Tapi, pelindung itu tidak bertahan lama. Sama seperti Chii, Yama langsung terlihat kelelahan akibat membuat pelindung.
“Hukuman?”, Keito melihat ke arah Chii. “Apa maksudnya itu Chii?”
“Eh? Kau tidak tahu soal ini? Baiklah aku akan memberitahumu”, Inoo berjalan menuju Keito. Dengan sigap Chii melompat ke arah Inoo. Cakar Chii yang tajam berhasil membuat luka tipis di wajah Inoo yang cantik dan putih itu.
“Rubah brengsek!”, gerutu Inoo sambil memegang pipinya yang terluka.
“Jangan bicara yang tidak perlu!”, bentak Chii. Chii lalu melihat ke arah Keito yang tampak sedikit ketakutan dengan sikap Chii yang mendadak menjadi buas. Chii mengubah ekspresi wajahnya kembali menjadi Chii yang lembut dan imut. “Tidak ada apa-apa Keito-sama. Ini bukan hal yang penting. Demon ini hanya bicara asal saja”
Keito mengamati Chii dengan ragu. Dia yakin ada sesuatu yang disembunyikan oleh Chii. Keito ingin bertanya lagi. Tapi melihat ekspresi liar yang ditunjukkan Chii barusan, Keito mengurungkan niatnya. Dia tidak ingin melihat wajah Chii yang seperti itu lagi.
Keito mengamati Yama dan Chii bergantian. Keito bisa merasa kalau mereka berdua sangat lemah dan tidak berdaya. Melihat kondisi keduanya, Keito akhirnya bisa memutuskan.
“Baiklah”, suara Keito memecah ketegangan yang terjadi. “Aku menerima usulmu itu. Aku akan mengikat kontrak dengan demon itu. Yama, Chii, kuharap kalian tidak keberatan dengan keputusanku ini”
Inoo tersenyum penuh kemenangan pada Yama dan Chii. Senyum itu hampir sama dengan senyum mengejek. Yama merasa sangat kesal melihatnya.
“Tunggu dulu, Keito! Aku tidak setuju! Aku dan Chii bisa merebut kekuatan kami kembali tanpa bantuan demon ini”, cegah Yama. Dia tidak ingin Keito berurusan dengan demon lagi. Dia juga tidak ingin Chii menderita akibat hukuman lagi.
Keito menggeleng. “Tidak, Yama. Kalian tidak akan bisa. Aku tahu itu. Benar apa yang dikatakan Hime-sama, aku juga bisa melihat kalau kalian berdua benar-benar sudah di ambang batas. Bahkan hal ini juga mempengaruhi proses pemulihan tubuh kalian. Biasanya kalian berdua tidak butuh waktu lama untuk memulihkan diri, tapi kini lihat kondisi kalian. Hingga saat ini, tubuh kalian belum kembali seperti semula. Jangankan melindungiku, melindungi diri kalian sendiri saja kalian tidak akan bisa”
Yama dan Chii terdiam mendengar perkataan Keito. Sesuatu yang tajam seperti telah menusuk dada mereka. Perkataan Keito benar. Kekuatan mereka sangat minim saat ini. Untuk membuat satu pelindung tipis dan membuat luka kecil di demon ini saja mereka sudah sangat kelelahan.
“Tapi...”, Yama masih tidak rela dengan keputusan Keito. Chii menghentikan Yama. Dia tahu kalau Keito tidak akan mengubah keputusannya. Ini sama seperti saat Keito memutuskan untuk mengikat kontrak dengan Inoo.
“Keito-sama sudah memutuskannya. Kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi”, ucap Chii. “Kami akan mendukung keputusanmu Keito-sama”, Chii menunduk pada Keito.
“Tapi Chii...”. Chii langsung menatap Yama tajam. Dia meminta agar Yama tetap diam. Chii tidak ingin Keito tahu mengenai hukuman itu. Yama hanya bisa pasrah melihat Chii.
“Maafkan aku. Aku tahu kalau kalian merasa kecewa dan marah padaku. Tapi, aku harap kalian berdua bisa mengerti. Aku melakukan ini juga demi kalian”, Keito merasa sangat bersalah pada Yama dan Chii. Tapi bagi Keito, tidak ada cara lain lagi selain ini.
“Apa yang dikatakan Keito itu benar. Ini keputusan yang bagus”, ucap Inoo. “Terlebih, bila mengikat kontrak dengan para demon, bukankah itu juga membantunya menghilangkan kutukan itu? tanda kutukannya itu akan hilang kalau dia mengikat kontrak dengan 7 demon kan?”, tambahnya.
Keito terkejut mendengar ucapan Inoo. “Bagaimana kau bisa tahu?”
“Tidak ada yang tidak kuketahui”, ucap Inoo. “Nah, karena kau sudah setuju. Aku akan mempersiapkan lingkaran sihir yang diperlukan untuk memanggil Hika kemari”
Inoo lalu mengeluarkan secarik kertas. Ada sesuatu yang tergambar di lingkaran tersebut. Inoo lalu membuat lingkaran sihir sesuai dengan gambar di kertas tersebut.
“Untuk apa lingkaran sihir ini?”, tanya Keito.
“Untuk memanggil Hika kemari. Saat ini dia tidak bisa kemana-mana, jadi kita sendiri yang akan memaksanya datang kemari dengan ritual pemanggilan setan. Kau pernah dengar soal ini kan?”, jawab Inoo sambil terus menggambar lingkaran sihir.
“Tidak bisa kemana-mana? Apa maksud kalian?”, tanya Keito lagi.
“Saat ini ada kemungkinan kalau Hika sedang dikurung oleh sang Raja karena dituduh berkhianat. Oleh karena itu, dengan ritual ini, kita bisa memanggil Hika kemari secara paksa”, jawab Yabu.
“Berkhianat? Apa maksud kalian?”, tanya Keito. Tapi baik Yabu dan Inoo sama sekali tidak mau menjawab. Chii merasa ada yang aneh dengan sikap mereka berdua.
“Tunggu dulu!”, sahut Yama tiba-tiba. “Aku tidak bisa membiarkan Keito melakukan hal ini. banyak manusia yang gagal melakukan ritual ini dan akhirnya malah berbalik dibunuh oleh demon yang dipanggilnya”
Inoo tertawa kecil mendengar ucapan Yama. “Itu karena mereka tidak tahu cara melakukan ritual ini dengan benar. Serahkan saja pada kami, kami adalah demon, kami yang lebih tahu soal ini dibandingkan kalian. Ritual ini tidak akan gagal”
Tidak berapa lama, Inoo telah selesai menggambar lingkaran sihir. Yabu mengecek kembali lingkaran sihir yang dibuat oleh Inoo. Setelah yakin kalau gambar itu benar, Inoo meminta Keito berdiri di tengah lingkaran tersebut. Inoo menyerahkan selembar kertas yang berisi mantra pemanggil demon.
“Tunggu dulu, ini belum lengkap”, cegah Inoo saat Keito akan membaca mantra. Tiba-tiba di tangan kanan Inoo ada botol kecil yang berisi cairan merah, sedangkan di tangan kirinya ada kantung besar. Inoo membuka tutup botol itu dan menuangkan cairan merah yang ada di dalamnya ke tengah-tengah lingkaran tersebut. Dari baunya, Yama dan Chii tahu kalau cairan merah itu adalah darah.
“Ini... darah?”, Keito akhirnya sadar dengan cairan merah itu.
Inoo tersenyum, “Benar. Ini adalah darah milik Hika sendiri. Dengan menuangkan darah demon yang akan dipanggil, maka persentase Hika akan muncul semakin tinggi. Karena belum tentu demon yang dipanggil dengan ritual ini adalah demon yang diinginkan. Itulah kenapa banyak manusia yang mati karena ritual ini”, ucap Inoo sambil melirik ke arah Yama.
“Kapan kau mengambilnya?”, tanya Yabu.
“Humm... aku punya darah semua demon kok. Punyamu juga. Aku sudah bersiap-siap kalau seandainya ini diperlukan. Dan ternyata aku tidak salah”, jawab Inoo.
Yabu berdecak kesal mendengar ucapan Inoo. Mendengar dia memiliki darahnya, membuat Yabu yakin kalau partnernya ini adalah demon yang licik. Yabu sedikit merasa beruntung karena Inoo ada di pihaknya. Tidak ada yang tahu persis rencana apa yang ada di dalam kepalanya. Bahkan Taiga sekalipun tidak akan bisa menandingi kepintaran Inoo ini meskipun Taiga adalah salah satu demon spesial.
“Nah Keito-kun”, Inoo menoleh ke arah Keito. “Semoga berhasil. Tenang saja, Hika pasti datang kemari. Tapi, ini akan sedikit sulit, jadi keluarkan semua tenagamu ya...”, Inoo tersenyum tipis.
---***---
Di penjara bawah tanah istana demon, berulangkali terdengar raungan. Raungan yang seperti raungan hewan buas. Bahkan beberapa demon kelas rendah sempat berlari ketakutan karena mendengar raungan itu dan berlari sejauh mungkin agar tidak mendengar raungan tersebut.
Di penjara bawah tanah istana demon, berulangkali terdengar raungan. Raungan yang seperti raungan hewan buas. Bahkan beberapa demon kelas rendah sempat berlari ketakutan karena mendengar raungan itu dan berlari sejauh mungkin agar tidak mendengar raungan tersebut.
“Hika... kau meraung tidak ada gunanya”
“Yu... to...”, gumam Hika saat melihat Yuto yang berdiri santai di balik pintu besi yang memisahkan mereka.
“Kondisimu saat ini menyedihkan sekali Hika...”, ejek Yuto saat melihat badan Hika yang penuh luka akibat siksaan yang diterima. Mata merah Hika perlahan mulai meredup dan kembali menjadi berwarna hitam. Hika terus meraung untuk mengekspresikan rasa sakit yang diderita olehnya.
“Apa yang kau lakukan disini Yuto?”. Sebuah sabit besar berada di leher Yuto. “Bukankah aku yang ditugaskan untuk menjaganya? Kau tidak ada urusan disini”
“Jangan begitu Hokuto”, dengan cepat Yuto kini sudah berada di belakang Hokuto. “Aku hanya penasaran melihat Hika. Hanya itu”
Hokuto menghilangkan sabit besar yang ada di tangannya. “Kau sudah melihatnya kan? Kalau begitu, cepat pergi dari sini”
Yuto tersenyum. Perlahan kakinya melangkah menuju ke lantai atas. “Kuharap kau akan baik-baik saja Hokuto. Sayang sekali kalau kami kehilangan salah satu demon kelas A”
“Apa maksudmu?”, tanya Hokuto tidak mengerti.
“Kau tahu kan kalau Inoo itu adalah demon yang pintar? Entah apa yang direncanakan olehnya. Mungkin saja dia berencana melepaskan Hika dari sini”
Hokuto tertawa mendengar ucapan Yuto. “Itu tidak mungkin terjadi. Mereka tidak akan bisa masuk kemari. Apalagi Jesse telah memasang pelindung di sekitar sini”
Yuto balas tersenyum mendengar ucapan Hokuto. “Mereka tidak perlu susah-susah kemari. Mereka bisa saja menyuruh Hika yang keluar”, ucap Yuto sesaat sebelum dia menghilang dari pandangan Hokuto.
Hokuto mengernyitkan kedua alisnya, berusaha memikirkan arti ucapan Yuto. Hokuto tertawa mendengar ucapan Yuto yang tampak tidak masuk akal. Dia kemudian melangkah menuju bilik penjara Hika, memastikan kalau Hika meringkuk kesakitan karena siksaan yang diterima.
Hokuto terkejut saat melihat bilik penjara Hika kosong. Sosok Hika tidak tampak dimanapun. Hokuto kemudian masuk ke dalam bilik penjara. Ruangan itu benar-benar kosong. Hika tidak ada disana.
“TIDAK MUNGKIN!!!!”, teriak Hokuto panik saat melihat Hikaru lenyap.
Yuto yang mendengar jeritan Hokuto langsung tersenyum menahan tawa. “Sayang sekali ya, padahal kalau bisa, aku tidak ingin demon kelas A sepertimu mati, Hokuto”
Tsuzuku ~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar