Part 11
Keito, Inoo, dan Yabu kini sudah
berada dalam perpustakaan lagi. Keito masih menggendong Yama yang makin
terlihat melemah.
“Hime-sama... tolonglah Yama.
Tubuhnya sudah tidak kuat lagi”, pinta Keito dengan memelas.
Inoo tersenyum singkat. “Sebelum
itu, aku ingin imbalan darimu”
“Apapun akan kuberikan untukmu.
Ingatanku, pengetahuanku, sebanyak apapun akan kuberikan. Asalkan Yama bisa
selamat”
Inoo menggeleng pelan. “Imbalan
yang kuminta kali ini bukan yang seperti itu. Aku masih kenyang setelah aku
memakan pengetahuanmu kemarin. Aku bukan demon yang terlalu rakus. Aku ingin
kau melakukan apa yang kuminta sebagai imbalannya”.
Kali ini giliran Keito yang
menatap Inoo dengan heran. Apa maksudnya?
“Aku ingin kau melakukan kontrak
lagi. Dengan dia”. Inoo menunjuk ke arah Yabu yang berdiri di sampingnya. Yabu
menunjukkan ekspresi terkejut. Yabu tidak menyangka Inoo akan berbuat hingga
sejauh ini. Keito juga sama. Dia tidak menyangka akan segera melakukan kontrak
lagi.
“Dengan dia? Kenapa?”, tanya
Keito tidak mengerti.
“Sudah kubilang tadi kan kalau
Yabu adalah salah satu tetua demon. Dia adalah demon tertua kedua setelah Yang
Mulia Raja. Tidak ada ruginya kau mengikat kontrak dengannya”. Inoo melirik ke
arah Keito yang terlihat masih enggan menuruti permintaannya. “Asal kau tahu
saja. Cairan demon hanya bisa dihilangkan oleh sesama demon. Tapi, bukan demon
sembarangan. Demon yang menghilangkannya harus demon yang tingkatannya lebih
tinggi dari demon pemilik cairan tersebut. Aku tidak bisa menghilangkan cairan
itu. Jujur saja, tingkatanku memang lebih rendah dari Ryuu, si pemilik cairan
demon itu. Akan tetapi, Yabu lebih tinggi tingkatannya dari Ryuu. Jadi
satu-satunya yang bisa menolong anjing kecil itu hanya Yabu saja”
“Tapi, aku tidak harus mengikat
kontrak dengannya kan?”, tanya Keito lagi.
“AHAHAHAHA....”, kali ini giliran
Yabu yang tertawa. Suara tawanya terdengar menggema di dalam ruang
perpustakaan. “Kau pikir demon akan menuruti permintaan manusia begitu saja
dengan GRATIS? Tidak mungkin! Motto kami adalah Give and Take. Kami akan melakukan
apapun, asalkan ada bayaran yang setimpal”
“Kalau begitu, aku cukup
membayarmu saja kan? Tidak usah mengikat kontrak segala”, Keito berusaha agar
tidak mengikat kontrak dengan demon lebih banyak lagi. Keito tahu kalau dia
melakukan hal ini lagi, Chii akan sangat sedih dan menyalahkan dirinya lagi.
keito juga takut dengan amarah Yama saat mengetahui hal itu.
“Kalau kau tidak mau mengikat
kontrak dengan Yabu, maka kami tidak akan menolong anjing kecil itu”, Inoo
menunjuk ke arah Yama. “Coba lihat, tubuhnya semakin lama semakin lemah.
Kasihan sekali...”
Keito melihat ke arah Yama.
Batinnya bergejolak. Apa yang harus dia lakukan?
---***---
“Hei, hentikan. Mau sampai kapan
kau makan?”
“Eh? Tapi aku butuh tenaga untuk
mengisi energiku. Tadi kau sudah minum sampai puas kan? Sekarang giliranku
mengisi tenaga. Gara-gara kau, tenagaku berkurang”
“Kau ini... tidakkah kau mengerti
situasi sekarang? Rubah kecil itu semakin mendekat. Kalau kau terus seperti
ini, dia akan menemukanmu”
“Terus kenapa? Masalah?”
“Yah... sebenarnya tidak sih.
Meskipun kalian berdua bertarung pun, kau bisa mengalahkannya dengan mudah”
“Kalau begitu sekarang diamlah.
Biarkan aku makan. Lagipula kurasa si cebol itu sekarang sedang menuju ke arah
rubah kecil itu”
---***---
Chii yang masih dalam wujud
seekor rubah putih kecil, masih berkeliling sambil menelurusi bau targetnya.
Semakin lama dia berjalan, dia merasa kalau dia semakin dekat dengan targetnya.
Bulu-bulu di tubuhnya mulai berdiri seiring berjalannya waktu. Rasa takut mulai
merayapinya. Chii kembali teringat pertarungannya dengan demon yang merebut
kekuatannya itu. hanya dengan beberapa langkah saja, Chii bisa dikalahkan
dengan mudah. Chii menelan ludahnya, bila dia berhadapan dengan demon itu lagi.
bisakah dia menang?
Langkah Chii terhenti. Chii bisa
merasakan ada sesuatu di hadapannya. Salah satu makhluk gaib, akan tetapi aura
yang dikeluarkannya sangat berbeda dengan makhluk gaib biasanya, aura yang
sangat kejam.
“Demon...”, gumam Chii pelan.
Chii berusaha menganalisis aura demon tersebut dan dia tahu kalau demon yang
ada di hadapannya ini bukanlah demon yang dia cari, melainkan demon yang lain.
Dalam kesunyian malam, Chii bisa
mendengar bunyi langkah kaki yang semakin mendekat. Demon yang ada di
hadapannya itu mulai berjalan mendekatinya. Chii langsung memasang kuda-kuda,
bersiap untuk melakukan gerakan bila demon itu mendadak menyerangnya.
“Arara? Apa-apaan ini? aku
merasakan ada aura dewa pelindung di sekitar sini. Kupikir itu aura milik si
anjing itu, tapi ternyata malah rubah kecil yang kutemui”
Seorang pemuda berdiri di hadapan
Chii. Matanya yang berwarna merah menatap Chii dengan pandangan seakan
meremehkan. Chii mengamati wajah pemuda yang berdiri di hadapannya itu. Chii
merasa pernah melihat wajah itu. Dan Chii merasa kalau dia melihat wajah itu
belum lama ini.
“Kau... bukankah kau yang melawan
Yama waktu itu?”, tanya Chii memastikan.
Pemuda itu menggeleng, “Bukan.
Itu bukan aku. Itu kakak kembarku. Aku adik kembarnya”, jawab pemuda itu. Chii
langsung menggeram melihat pemuda itu. Demon di depannya ini memiliki hubungan
dengan demon yang telah melukai Yama dan merebut kekuatannya. Chii tidak bisa
menyembunyikan kekesalannya lagi.
“Kenapa kau mencari Yama?”
Pemuda itu mengamati bulan yang
bersinar terang di luar. “Aku hanya ingin melihat, bagaimana wujud dewa
pelindung yang telah dikalahkan 2x oleh kakakku”. Pemuda itu kembali melihat ke
arah Chii. “Aku juga ingin menanyakan sesuatu padanya”
“Menanyakan sesuatu?”, tanya
Chii.
“Kakak sudah melawannya 2x dan
menang. Dia juga sudah merebut kekuatannya. Tapi, yang aku herankan, kenapa dia
tidak membunuhnya saja dan membiarkan dewa pelindung itu tetap hidup? Bahkan
dia membiarkan ¼ kekuatannya masih tersisa. Aku tidak mengerti”
Chii sedikit terusik dengan
perkataan demon itu. dia berusaha memikirkan perkataan demon itu. perkataan
demon itu ada sedikit benarnya. Kenapa Yama dibiarkan tetap hidup? Kenapa demon
itu tidak langsung membunuhnya saja sebelum memakannya? Kenapa demon itu tidak
merebut seluruh kekuatannya saja? Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi kepala
Chii sehingga membuatnya lupa dengan tujuannya semula, mencari demon yang
merebut kekuatannya.
DEG!
Chii tiba-tiba ambruk. Chii mulai
mengerang kesakitan. Tubuhnya kembali terasa seperti dicambuk. Chii mengerang
kesakitan. Dia tahu rasa sakit ini. Hukuman yang akan dia terima bila dia tidak
bisa melakukan tugasnya dengan baik. Chii sudah pernah menerima hukuman ini
saat Keito melakukan kontrak pertama kali dengan Inoo. Chii kira dia tidak akan
merasakan rasa sakit ini lagi.
“Keito-sama... jangan-jangan
Keito-sama telah...”
---***---
“Nah, apa keputusanmu Keito? Kau
akan mengikat kontrak dengan Yabu atau tidak?”. Inoo tampaknya mulai tidak
sabar mendengar jawaban Keito. Tapi dalam hatinya, Inoo berharap Keito menerima
tawaran itu. Dia tidak ingin rencananya berantakan.
Keito kembali menatap Yama yang
tergolek lemah. “Maafkan aku Yama, aku kembali melanggar janjiku. Ini semua
untuk menolongmu”, bisik Keito pelan ke arah telinga Yama.
Keito menatap Inoo dan Yabu. “Baiklah,
aku akan melakukan kontrak itu. Apa yang harus kulakukan?”
Inoo tersenyum puas mendengar
perkataan Keito. Rencananya berhasil. Dia langsung mendorong tubuh Keito untuk
mendekat ke arah Yabu. Keito kini berdiri berhadapan dengan Yabu. Mata Yabu
kini telah berubah menjadi merah. Aura demonnya merembes keluar. Keito bergidik
ketakutan saat menatap mata merah Yabu.
“Yabu, ayo lakukan. Kau masih
ingat dengan rencanaku kan? Ini adalah salah satu caranya”, bisik Inoo.
Yabu mendesah pelan. Dia kembali
teringat pembicaraannya dengan Inoo sebelum Keito datang. Sebuah ‘ide gila’
yang dirancang oleh Inoo. Sebagian hatinya tidak ingin mengikuti rencana Inoo,
tapi entah kenapa, sisi dirinya yang lain bergejolak dengan penuh semangat saat
mendengar rencana Inoo. Yabu mengamati Keito dari ujung kepala hingga ujung
kaki. Yabu bisa merasakan kekuatan spiritual Keito yang sangat tinggi.
Benar-benar makanan yang sesuai.
“Sebelum kau mengikat kontrak
denganku. kuberitahu terlebih dahulu apa ‘imbalan’ yang harus kau berikan
padaku”. Keito menatap Yabu dengan harap-harap cemas. Dia berharap imbalan yang
diminta Yabu tidak terlalu berat. “Tenaga. Itu imbalan yang harus kau berikan
padaku. Setiap kali aku melakukan perintahmu, aku ingin kau memberikan tenagamu
padaku”
Keito merenung mendengar permintaan
Yabu. Keito merasa sedikit lega saat mendengar ‘imbalan’ yang diminta oleh Yabu
adalah tenaganya. Awalnya Keito mengira kalau ‘imbalan’ yang akan diminta
adalah sesuatu yang sangat sulit dan tidak bisa dia berikan.
“Baiklah. Akan kuberikan tenagaku
padamu. Kau bisa mengambilnya sebanyak apapun yang kau mau. Asalkan kau mau
menyembuhkan Yama”, Keito mengangguk setuju ke arah Yabu.
“Kuharap kau tidak menyesal
mengikat kontrak denganku”, ucap Yabu sambil berjalan mendekat ke arah Keito.
“Aku sudah pernah mengikat
kontrak dengan 1 demon sebelumnya. Tidak ada masalah besar kalau aku mengikat
kontrak dengan satu demon lagi”
Yabu menyibakkan poni yang menutupi
dahi Keito. Sama seperti yang dilakukan oleh Inoo, Yabu mengecup dahi Keito. Seketika
dahi Keito terasa panas. Ada sesuatu yang menempel di dahinya. Sama seperti
yang dia rasakan ketika mengikat kontrak dengan Inoo.
“Kalau begitu, aku akan langsung
mengambil imbalanku”.
Yabu memegang kedua bahu Keito.
Keito bisa merasa ada sesuatu yang ditarik keluar dari dalam tubuhnya.
Bersamaan dengan itu, Keito bisa merasakan ada tubuhnya mulai lemas. Rupanya,
tenaga Keito benar-benar telah diambil oleh Yabu.
“Nah, kurasa sudah cukup segini”.
Yabu melepaskan pegangannya dari
tubuh Keito. mendadak Keito langsung terjatuh karena kakinya terasa sangat
lemas. Yabu ikut berjongkok di hadapan Keito. Tangannya mengarah ke arah Yama
yang ada di gendongan Keito. Perlahan, Yabu mengusap tubuh Yama beberapa kali.
Cairan lengket yang menempel di tubuh Yama perlahan menghilang. Kini sudah
tidak ada lagi cairan lengket yang menempel di tubuh Yama. Nafas Yama pun
kembali seperti semula. Raut mukanya perlahan mulai terlihat membaik. Keito
menghela nafas lega melihat kondisi Yama.
Inoo yang melihat keduanya dari
kejauhan, tersenyum dengan sangat puas melihat rencananya berjalan dengan
sangat mulus. Inoo mengernyitkan alisnya. Dia merasakan sesuatu dari kejauhan.
Inoo menoleh ke luar jendela. Dia bisa melihat ada seorang pemuda berdiri di
tengah halaman.
“Cih, rupanya mereka sudah mulai
bergerak”. Inoo langsung menyambar Yabu dan membawanya pergi. Inoo dan Yabu
segera pergi ke luar ruangan tanpa mengatakan sepatah katapun pada Keito. Keito
yang ditinggal sendirian hanya bisa menatap kepergian keduanya dengan bingung.
“Mau kemana mereka? Kenapa
terburu-buru seperti itu?”
Yama yang mulai kembali
kesadarannya, perlahan membuka matanya. Keito yang sangat gembira begitu
melihat Yama kembali membuka matanya lagi.
“Keito? sedang apa? Dimana ini?”
Keito langsung memeluk Yama tanpa
menghiraukan pertanyaan Yama. Saking eratnya pelukan Keito, Yama merasa sedikit
sesak akibat kesulitan bernafas.
Telinga Yama langsung berdiri
tegak. Yama mendengar sesuatu. Sesuatu yang membahayakan. Yama berusaha
memfokuskan pendengarannya.
“CHII!!!”
Yama langsung melepas pelukan
Keito dan berlari cepat meninggalkan Keito. Keito yang masih tidak mengerti
dengan apa yang terjadi langsung berlari mengikuti Yama. Keito merasa ada
sesuatu yang terjadi pada Chii hingga Yama harus berlari seperti itu.
“Yama... Tunggu aku...”, seru
Keito. Tapi Yama terus berlari tanpa mempedulikan Keito. semakin lama, jarak
Keito dan Yama semakin jauh. Keito tidak sanggup berlari lagi. Kakinya
benar-benar lemas. Tenaganya benar-benar hilang setelah diambil oleh Yabu tadi.
“Chii... sebenarnya apa yang
terjadi?”, cemas Keito.
---***---
“Kenapa kita harus lari sih?”,
tanya Yabu yang masih kesal ditarik tiba-tiba oleh Inoo.
“Baka! Hokuto ada disini”, jawab
Inoo.
“Hokuto? Mau apa dia disini?”,
tanya Yabu.
“Tidak hanya Hokuto, Shin juga
ada disini”
“Shin juga? Kenapa?”
Inoo menatap Yabu dengan kesal.
“Kau ini... Masa kau tidak mengerti?”
“Jangan-jangan mereka...”.
Tampaknya Yabu mulai mengerti apa yang terjadi.
“Benar. Tampaknya pengkhianatan
kita sudah ketahuan. Sang Raja sudah mulai berniat untuk melenyapkan kita.
Kelihatannya mereka berdua diutus kemari untuk melenyapkan kita”. Inoo
menggigit jarinya. Dia sama sekali tidak menyangka kalau sang Raja akan
bertindak jauh lebih cepat dari yang dia rencanakan. Dia sudah menduga hal ini
akan terjadi, tapi tidak secepat ini.
Tsuzuku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar