Jumat, 05 Juni 2015

AKUMA NO YOROI

Part 11

Keito, Inoo, dan Yabu kini sudah berada dalam perpustakaan lagi. Keito masih menggendong Yama yang makin terlihat melemah.

“Hime-sama... tolonglah Yama. Tubuhnya sudah tidak kuat lagi”, pinta Keito dengan memelas.
Inoo tersenyum singkat. “Sebelum itu, aku ingin imbalan darimu”

“Apapun akan kuberikan untukmu. Ingatanku, pengetahuanku, sebanyak apapun akan kuberikan. Asalkan Yama bisa selamat”

Inoo menggeleng pelan. “Imbalan yang kuminta kali ini bukan yang seperti itu. Aku masih kenyang setelah aku memakan pengetahuanmu kemarin. Aku bukan demon yang terlalu rakus. Aku ingin kau melakukan apa yang kuminta sebagai imbalannya”.

Kali ini giliran Keito yang menatap Inoo dengan heran. Apa maksudnya?

“Aku ingin kau melakukan kontrak lagi. Dengan dia”. Inoo menunjuk ke arah Yabu yang berdiri di sampingnya. Yabu menunjukkan ekspresi terkejut. Yabu tidak menyangka Inoo akan berbuat hingga sejauh ini. Keito juga sama. Dia tidak menyangka akan segera melakukan kontrak lagi.

“Dengan dia? Kenapa?”, tanya Keito tidak mengerti.

“Sudah kubilang tadi kan kalau Yabu adalah salah satu tetua demon. Dia adalah demon tertua kedua setelah Yang Mulia Raja. Tidak ada ruginya kau mengikat kontrak dengannya”. Inoo melirik ke arah Keito yang terlihat masih enggan menuruti permintaannya. “Asal kau tahu saja. Cairan demon hanya bisa dihilangkan oleh sesama demon. Tapi, bukan demon sembarangan. Demon yang menghilangkannya harus demon yang tingkatannya lebih tinggi dari demon pemilik cairan tersebut. Aku tidak bisa menghilangkan cairan itu. Jujur saja, tingkatanku memang lebih rendah dari Ryuu, si pemilik cairan demon itu. Akan tetapi, Yabu lebih tinggi tingkatannya dari Ryuu. Jadi satu-satunya yang bisa menolong anjing kecil itu hanya Yabu saja”

“Tapi, aku tidak harus mengikat kontrak dengannya kan?”, tanya Keito lagi.

“AHAHAHAHA....”, kali ini giliran Yabu yang tertawa. Suara tawanya terdengar menggema di dalam ruang perpustakaan. “Kau pikir demon akan menuruti permintaan manusia begitu saja dengan GRATIS? Tidak mungkin! Motto kami adalah Give and Take. Kami akan melakukan apapun, asalkan ada bayaran yang setimpal”

“Kalau begitu, aku cukup membayarmu saja kan? Tidak usah mengikat kontrak segala”, Keito berusaha agar tidak mengikat kontrak dengan demon lebih banyak lagi. Keito tahu kalau dia melakukan hal ini lagi, Chii akan sangat sedih dan menyalahkan dirinya lagi. keito juga takut dengan amarah Yama saat mengetahui hal itu.

“Kalau kau tidak mau mengikat kontrak dengan Yabu, maka kami tidak akan menolong anjing kecil itu”, Inoo menunjuk ke arah Yama. “Coba lihat, tubuhnya semakin lama semakin lemah. Kasihan sekali...”

Keito melihat ke arah Yama. Batinnya bergejolak. Apa yang harus dia lakukan?

---***---
“Hei, hentikan. Mau sampai kapan kau makan?”

“Eh? Tapi aku butuh tenaga untuk mengisi energiku. Tadi kau sudah minum sampai puas kan? Sekarang giliranku mengisi tenaga. Gara-gara kau, tenagaku berkurang”

“Kau ini... tidakkah kau mengerti situasi sekarang? Rubah kecil itu semakin mendekat. Kalau kau terus seperti ini, dia akan menemukanmu”

“Terus kenapa? Masalah?”

“Yah... sebenarnya tidak sih. Meskipun kalian berdua bertarung pun, kau bisa mengalahkannya dengan mudah”

“Kalau begitu sekarang diamlah. Biarkan aku makan. Lagipula kurasa si cebol itu sekarang sedang menuju ke arah rubah kecil itu”

---***---
Chii yang masih dalam wujud seekor rubah putih kecil, masih berkeliling sambil menelurusi bau targetnya. Semakin lama dia berjalan, dia merasa kalau dia semakin dekat dengan targetnya. Bulu-bulu di tubuhnya mulai berdiri seiring berjalannya waktu. Rasa takut mulai merayapinya. Chii kembali teringat pertarungannya dengan demon yang merebut kekuatannya itu. hanya dengan beberapa langkah saja, Chii bisa dikalahkan dengan mudah. Chii menelan ludahnya, bila dia berhadapan dengan demon itu lagi. bisakah dia menang?

Langkah Chii terhenti. Chii bisa merasakan ada sesuatu di hadapannya. Salah satu makhluk gaib, akan tetapi aura yang dikeluarkannya sangat berbeda dengan makhluk gaib biasanya, aura yang sangat kejam.

“Demon...”, gumam Chii pelan. Chii berusaha menganalisis aura demon tersebut dan dia tahu kalau demon yang ada di hadapannya ini bukanlah demon yang dia cari, melainkan demon yang lain.

Dalam kesunyian malam, Chii bisa mendengar bunyi langkah kaki yang semakin mendekat. Demon yang ada di hadapannya itu mulai berjalan mendekatinya. Chii langsung memasang kuda-kuda, bersiap untuk melakukan gerakan bila demon itu mendadak menyerangnya.

“Arara? Apa-apaan ini? aku merasakan ada aura dewa pelindung di sekitar sini. Kupikir itu aura milik si anjing itu, tapi ternyata malah rubah kecil yang kutemui”

Seorang pemuda berdiri di hadapan Chii. Matanya yang berwarna merah menatap Chii dengan pandangan seakan meremehkan. Chii mengamati wajah pemuda yang berdiri di hadapannya itu. Chii merasa pernah melihat wajah itu. Dan Chii merasa kalau dia melihat wajah itu belum lama ini.

“Kau... bukankah kau yang melawan Yama waktu itu?”, tanya Chii memastikan.

Pemuda itu menggeleng, “Bukan. Itu bukan aku. Itu kakak kembarku. Aku adik kembarnya”, jawab pemuda itu. Chii langsung menggeram melihat pemuda itu. Demon di depannya ini memiliki hubungan dengan demon yang telah melukai Yama dan merebut kekuatannya. Chii tidak bisa menyembunyikan kekesalannya lagi.

“Kenapa kau mencari Yama?”

Pemuda itu mengamati bulan yang bersinar terang di luar. “Aku hanya ingin melihat, bagaimana wujud dewa pelindung yang telah dikalahkan 2x oleh kakakku”. Pemuda itu kembali melihat ke arah Chii. “Aku juga ingin menanyakan sesuatu padanya”

“Menanyakan sesuatu?”, tanya Chii.

“Kakak sudah melawannya 2x dan menang. Dia juga sudah merebut kekuatannya. Tapi, yang aku herankan, kenapa dia tidak membunuhnya saja dan membiarkan dewa pelindung itu tetap hidup? Bahkan dia membiarkan ¼ kekuatannya masih tersisa. Aku tidak mengerti”

Chii sedikit terusik dengan perkataan demon itu. dia berusaha memikirkan perkataan demon itu. perkataan demon itu ada sedikit benarnya. Kenapa Yama dibiarkan tetap hidup? Kenapa demon itu tidak langsung membunuhnya saja sebelum memakannya? Kenapa demon itu tidak merebut seluruh kekuatannya saja? Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi kepala Chii sehingga membuatnya lupa dengan tujuannya semula, mencari demon yang merebut kekuatannya.

DEG!

Chii tiba-tiba ambruk. Chii mulai mengerang kesakitan. Tubuhnya kembali terasa seperti dicambuk. Chii mengerang kesakitan. Dia tahu rasa sakit ini. Hukuman yang akan dia terima bila dia tidak bisa melakukan tugasnya dengan baik. Chii sudah pernah menerima hukuman ini saat Keito melakukan kontrak pertama kali dengan Inoo. Chii kira dia tidak akan merasakan rasa sakit ini lagi.

“Keito-sama... jangan-jangan Keito-sama telah...”

---***---
“Nah, apa keputusanmu Keito? Kau akan mengikat kontrak dengan Yabu atau tidak?”. Inoo tampaknya mulai tidak sabar mendengar jawaban Keito. Tapi dalam hatinya, Inoo berharap Keito menerima tawaran itu. Dia tidak ingin rencananya berantakan.

Keito kembali menatap Yama yang tergolek lemah. “Maafkan aku Yama, aku kembali melanggar janjiku. Ini semua untuk menolongmu”, bisik Keito pelan ke arah telinga Yama.

Keito menatap Inoo dan Yabu. “Baiklah, aku akan melakukan kontrak itu. Apa yang harus kulakukan?”

Inoo tersenyum puas mendengar perkataan Keito. Rencananya berhasil. Dia langsung mendorong tubuh Keito untuk mendekat ke arah Yabu. Keito kini berdiri berhadapan dengan Yabu. Mata Yabu kini telah berubah menjadi merah. Aura demonnya merembes keluar. Keito bergidik ketakutan saat menatap mata merah Yabu.

“Yabu, ayo lakukan. Kau masih ingat dengan rencanaku kan? Ini adalah salah satu caranya”, bisik Inoo.

Yabu mendesah pelan. Dia kembali teringat pembicaraannya dengan Inoo sebelum Keito datang. Sebuah ‘ide gila’ yang dirancang oleh Inoo. Sebagian hatinya tidak ingin mengikuti rencana Inoo, tapi entah kenapa, sisi dirinya yang lain bergejolak dengan penuh semangat saat mendengar rencana Inoo. Yabu mengamati Keito dari ujung kepala hingga ujung kaki. Yabu bisa merasakan kekuatan spiritual Keito yang sangat tinggi. Benar-benar makanan yang sesuai.

“Sebelum kau mengikat kontrak denganku. kuberitahu terlebih dahulu apa ‘imbalan’ yang harus kau berikan padaku”. Keito menatap Yabu dengan harap-harap cemas. Dia berharap imbalan yang diminta Yabu tidak terlalu berat. “Tenaga. Itu imbalan yang harus kau berikan padaku. Setiap kali aku melakukan perintahmu, aku ingin kau memberikan tenagamu padaku”

Keito merenung mendengar permintaan Yabu. Keito merasa sedikit lega saat mendengar ‘imbalan’ yang diminta oleh Yabu adalah tenaganya. Awalnya Keito mengira kalau ‘imbalan’ yang akan diminta adalah sesuatu yang sangat sulit dan tidak bisa dia berikan.

“Baiklah. Akan kuberikan tenagaku padamu. Kau bisa mengambilnya sebanyak apapun yang kau mau. Asalkan kau mau menyembuhkan Yama”, Keito mengangguk setuju ke arah Yabu.

“Kuharap kau tidak menyesal mengikat kontrak denganku”, ucap Yabu sambil berjalan mendekat ke arah Keito.

“Aku sudah pernah mengikat kontrak dengan 1 demon sebelumnya. Tidak ada masalah besar kalau aku mengikat kontrak dengan satu demon lagi”

Yabu menyibakkan poni yang menutupi dahi Keito. Sama seperti yang dilakukan oleh Inoo, Yabu mengecup dahi Keito. Seketika dahi Keito terasa panas. Ada sesuatu yang menempel di dahinya. Sama seperti yang dia rasakan ketika mengikat kontrak dengan Inoo.

“Kalau begitu, aku akan langsung mengambil imbalanku”.

Yabu memegang kedua bahu Keito. Keito bisa merasa ada sesuatu yang ditarik keluar dari dalam tubuhnya. Bersamaan dengan itu, Keito bisa merasakan ada tubuhnya mulai lemas. Rupanya, tenaga Keito benar-benar telah diambil oleh Yabu.

“Nah, kurasa sudah cukup segini”.

Yabu melepaskan pegangannya dari tubuh Keito. mendadak Keito langsung terjatuh karena kakinya terasa sangat lemas. Yabu ikut berjongkok di hadapan Keito. Tangannya mengarah ke arah Yama yang ada di gendongan Keito. Perlahan, Yabu mengusap tubuh Yama beberapa kali. Cairan lengket yang menempel di tubuh Yama perlahan menghilang. Kini sudah tidak ada lagi cairan lengket yang menempel di tubuh Yama. Nafas Yama pun kembali seperti semula. Raut mukanya perlahan mulai terlihat membaik. Keito menghela nafas lega melihat kondisi Yama.

Inoo yang melihat keduanya dari kejauhan, tersenyum dengan sangat puas melihat rencananya berjalan dengan sangat mulus. Inoo mengernyitkan alisnya. Dia merasakan sesuatu dari kejauhan. Inoo menoleh ke luar jendela. Dia bisa melihat ada seorang pemuda berdiri di tengah halaman.

“Cih, rupanya mereka sudah mulai bergerak”. Inoo langsung menyambar Yabu dan membawanya pergi. Inoo dan Yabu segera pergi ke luar ruangan tanpa mengatakan sepatah katapun pada Keito. Keito yang ditinggal sendirian hanya bisa menatap kepergian keduanya dengan bingung.

“Mau kemana mereka? Kenapa terburu-buru seperti itu?”

Yama yang mulai kembali kesadarannya, perlahan membuka matanya. Keito yang sangat gembira begitu melihat Yama kembali membuka matanya lagi.

“Keito? sedang apa? Dimana ini?”

Keito langsung memeluk Yama tanpa menghiraukan pertanyaan Yama. Saking eratnya pelukan Keito, Yama merasa sedikit sesak akibat kesulitan bernafas.

Telinga Yama langsung berdiri tegak. Yama mendengar sesuatu. Sesuatu yang membahayakan. Yama berusaha memfokuskan pendengarannya.

“CHII!!!”

Yama langsung melepas pelukan Keito dan berlari cepat meninggalkan Keito. Keito yang masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi langsung berlari mengikuti Yama. Keito merasa ada sesuatu yang terjadi pada Chii hingga Yama harus berlari seperti itu.

“Yama... Tunggu aku...”, seru Keito. Tapi Yama terus berlari tanpa mempedulikan Keito. semakin lama, jarak Keito dan Yama semakin jauh. Keito tidak sanggup berlari lagi. Kakinya benar-benar lemas. Tenaganya benar-benar hilang setelah diambil oleh Yabu tadi.

“Chii... sebenarnya apa yang terjadi?”, cemas Keito.

---***---
“Kenapa kita harus lari sih?”, tanya Yabu yang masih kesal ditarik tiba-tiba oleh Inoo.

“Baka! Hokuto ada disini”, jawab Inoo.

“Hokuto? Mau apa dia disini?”, tanya Yabu.

“Tidak hanya Hokuto, Shin juga ada disini”

“Shin juga? Kenapa?”

Inoo menatap Yabu dengan kesal. “Kau ini... Masa kau tidak mengerti?”

“Jangan-jangan mereka...”. Tampaknya Yabu mulai mengerti apa yang terjadi.

“Benar. Tampaknya pengkhianatan kita sudah ketahuan. Sang Raja sudah mulai berniat untuk melenyapkan kita. Kelihatannya mereka berdua diutus kemari untuk melenyapkan kita”. Inoo menggigit jarinya. Dia sama sekali tidak menyangka kalau sang Raja akan bertindak jauh lebih cepat dari yang dia rencanakan. Dia sudah menduga hal ini akan terjadi, tapi tidak secepat ini.

“Lebih baik kita segera bersembunyi, kau memang bisa menghadapi Shin. Tapi Hokuto lain soal. Dia adalah salah satu demon tingkat tinggi, kau pun tidak akan bisa melawannya”, ucap Inoo lagi.

Tsuzuku 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar