Sabtu, 13 Juni 2015

AKUMA NO YOROI

Part 14
Warning : bagi yang sensitif, tolong jangan baca ini waktu makan ya...
Di sebuah dunia dimana hanya berisi makhluk gaib. Di suatu tempat yang gelap dan berbau.suatu tempat yang bahkan dijauhi oleh makhluk gaib yang lain karena tempat itu berisi makhluk gaib yang paling kejam, istana tempat tinggal para demon.
“ARGHHHH!!!!!! Yuya, Hentikan!!!!”
Yuya berpura-pura tidak mendengar jeritan Daiki. jeritan Daiki malah merangsang sifat liarnya.
“ARGHHH!!!! Yuya!!! Aku salah. Aku mengaku salah. Jadi tolong hentikan! Aku bisa mati kalau begini terus!”
“Belum... Ini belum cukup Daiki.... kau seenaknya pergi saat aku masih meminum darahmu. Rasa hausku semakin bertambah. Aku akan meminum semua darahmu hingga habis”. Mata merah Yuya menyala dengan terangnya.
Daiki terus meronta. Dia berusaha melepaskan taring Yuya yang menancap di lehernya. Tapi apa daya Daiki. semakin banyak darah yang dihisap oleh Yuya, kekuatannya semakin menurun. Mata Daiki kini kembali seperti semula, tidak berwarna merah lagi.
“Ahh.... darahmu memang yang paling enak Daiki...”
Yuya melepaskan taringnya. Wajahnya terasa begitu puas. Daiki langsung terbaring tidak berdaya. Tubuhnya terlihat begitu kering karena semua darahnya sudah diambil oleh Yuya.
“Yu-yu-ya... aku lapar... berikan aku daging....”
Daiki mengulurkan tangannya ke arah Yuya, tapi Yuya malah menendang Daiki hingga terpental jauh.
“Tidak. Kali ini tidak ada daging untukmu. Aku tidak akan membiarkanmu memakanku malam ini. kau sudah membuatku kesal karena membiarkanku kehausan”
Daiki hanya bisa menatap Yuya. Mata Yuya terlihat sangat dingin. Selama ini, Daiki memberikan darahnya pada Yuya sebagai penambah kekuatan Yuya. Sebagai gantinya, Daiki bebas memakan salah satu anggota tubuh Yuya saat lapar. Bagian tubuh Yuya yang dimakan oleh Daiki akan kembali seperti semula karena kekuatan regenerasi (memulihkan kembali bagian tubuh yang luka) yang dimilikinya. Sebagai salah satu demon tingkat tinggi, kemampuan regenerasi Yuya sangat cepat dibandingkan dengan demon yang lain.
“Wah, wah, Takaki-san, kalau kau biarkan Daichan seperti itu, dia bisa mati dan kau akan kesusahan mendapatkan makanan kan?”
Sebuah siluet berdiri tidak jauh dari Yuya. Mata merahnya sama bersinarnya dengan mata Yuya yang penuh dengan energi.
“Mau apa kau kemari?”, tanya Yuya ketus.
Demon itu berjalan mendekati Daiki yang tidak bisa bergerak. Energinya benar-benar telah habis. Daiki menatap demon itu dengan pandangan memelas.
“Yu...to... berikan tanganmu padaku...”
Demon itu, yang tidak lain adalah Yuto, tersenyum. “Tidak bisa Daichan. Aku tidak mau memberikan anggota tubuhku pada demon lain. Aku tidak ‘sebaik’ demon yang disana yang bersedia memberikan anggota tubuhnya untukmu”. Yuto tersenyum mengejek ke arah Yuya. Yuya hanya mendengus sambil memalingkan mukanya.
“Tapi...”, Yuto mulai bangkit berdiri lagi. “Kurasa ini lebih baik untukmu. Kau bisa mengembalikan sedikit energimu dengan ini kan?”
Yuto menjetikkan jarinya. Dalam sekejap, beberapa tubuh manusia muncul di hadapan Daiki. Dilihat dari kondisi mereka, sudah bisa dipastikan kalau itu semua adalah mayat. Tidak ada tanda kalau ada yang masih hidup. Jumlah mayat itu mungkin sekitar puluhan. Pria dan wanita bercampur menjadi satu.
Tanpa pikir panjang, Daiki langsung mengambil salah satu mayat dan mulai memakannya dengan lahap. Seluruh daging yang menempel di bagian tubuh mayat itu dilahap sampai habis oleh Daiki.
“Banyak juga yang kau makan Yuto...”, gumam Yuya sambil melihat tumpukan mayat tersebut.
“Aku hanya mengambil yang kuperlukan kok. Dengan begini, tenagaku bisa bertahan selama 2 minggu lagi”
“Darimana kau mendapat semua manusia ini?”
“Hmm... aku mencarinya di penjara. Kau tahu, jiwa yang penuh dengan kebencian merupakan makanan yang paling enak menurutku. Jiwa manusia yang sudah kotor memang pengisi energi yang terbaik. Bagaimana kalau kau juga mencobanya? Enak lo...”
“Tidak. Aku lebih suka darah daripada jiwa. Kenikmatan saat darah itu mengalir di tenggorokanku adalah kenikmatan yang tidak tergantikan”, ucap Yuya sambil membayangkan kenikmatan yang dia rasakan saat meminum darah.
“Yah... makanan setiap demon berbeda. Tapi, aku tidak habis pikir denganmu yang meminum darah demon lain”
“Itu berlaku juga bagi dia kan?”, tunjuk Yuya pada Daiki yang sedang asyik makan. Entah sudah mayat keberapa yang dia makan ini. “Bagiku, darah demon memiliki energi yang lebih besar dari darah manusia”
“Kalian berdua memang aneh. Yah, tapi, kalian berdua bukan satu-satunya demon yang seperti ini”
GREP! Daiki tiba-tiba muncul di hadapan Yuya. dengan sekali tarik, Daiki berhasil menarik tangan Yuya hingga putus. Yuya yang kaget dengan serangan Daiki yang tiba-tiba, tidak bisa berkata apa-apa.
“Bocah brengsek. Beraninya kau memutus tanganku”, kesal Yuya sambil memegang tangannya yang terputus.
Daiki tersenyum lebar pada Yuya, “Salahmu sendiri kau lengah”. Dia lalu melanjutkan makannya dengan lahap. Yuya menatap kesal ke arah Daiki yang sedang asyik memakan tangannya itu.
Yuto menatap ke arah kumpulan mayat yang kini telah menjadi tulang. Tulang-tulang itu tampak bersih dan tidak ada satupun daging yang menempel. Daiki sudah melahap habis semua daging yang tersisa.
“Kenapa tulangnya tidak kau makan juga Daichan?”, tanya Yuto.
“Kau gila? Tulang itu keras. Aku tidak suka saat mengunyahnya. Beda dengan daging. Daging terasa sangat empuk saat kau memakannya”. Daiki memasukkan satu potongan kecil daging yang tersisa. Tangan Yuya yang putus itu telah dimakan habis oleh Daiki.
“Mau kau apakan tulang itu?”, tanya Yuya saat melihat Yuto yang sedang membereskan tulang-tulang yang berceceran. Tangannya yang putus pun sudah kembali menjadi seperti semula.
“Awalnya kupikir akan kuberikan pada Hika saja, tapi melihat kondisi sekarang itu tidak mungkin. Jadi aku akan membuang tulang-tulang ini di hutan”
“Memangnya ada apa?”, tanya Daiki.
“Ah iya, aku lupa. Tujuan awalku datang kemari untuk memanggil kalian. Yang Mulia Raja meminta kita berkumpul. Suasana sudah menjadi sangat gawat”
“Aku malas... Katakan pada yang lain kalau aku tidak berminat”, kata Yuya sambil berlalu pergi.
“Tidak bisa begitu Takaki-san. Perintah kali ini adalah wajib. Kita semua diminta datang”, Yuto mulai mengeluarkan aura demonnya. Yuya juga tidak ingin kalah. Dia juga ikut mengeluarkan aura demonnya. Udara di sekitar mereka terasa sangat berat.
“Ittai!!! Apa yang kau lakukan Daiki?!”, seru Yuya pada Daiki yang kini mulai asyik menggigit tangan kiri Yuya. Daging yang ada di tangan kiri Yuya pun terlepas karena gigitan Daiki.
Yuto tersenyum menahan tawa melihat aksi Daiki dan Yuya. Daiki terlihat seperti seorang anak kecil sedangkan Yuya tampak seperti seorang ibu/ayah.
“Argh!!! Baiklah, aku akan datang. Ayo Daiki!”
Yuya menarik Daiki dan beranjak pergi menuju ruangan besar dimana semuanya berkumpul. Yuto mengikuti mereka berdua dari belakang. Ruangan itu gelap dan tidak banyak cahaya yang masuk. disana sudah berkumpul beberapa demon yang lain.
“Kalian lama sekali!!!”, seru Shin yang duduk di dekat pintu.
“Diam kau bocah! Aku sedang kesal. Kau ingin aku meminum darahmu sampai habis?”, balas Yuya. shin langsung terdiam dan tidak berani membalas.
“Sudah lengkap semua?”, terdengar suara lain yang cukup menggelegar dan menggema di ruangan itu.
“Sudah Yang Mulia. Anda bisa mulai kapan saja”, jawab Yuto sambil membungkukkan badan.
---***---
“Apa yang akan kau lakukan Inoo?”
Inoo hanya diam tidak menjawab.
“Apa yang akan kau lakukan Inoo?”, tanya Yabu sekali lagi. Inoo tetap diam.
“INOO!!!”
“BERISIK! Aku tahu Yabu! Diamlah sebentar!”, bentak Inoo balik.
Yabu kemudian diam. Dia mengamati Inoo yang tampak sibuk membolak balik lembaran buku hitam yang ada di tangannya. Buku itu bukan buku biasa. Disanalah Inoo menyimpan ‘pengetahuan’ yang dia makan. Hanya Inoo sendiri yang bisa membaca isi buku tersebut. Yabu pernah mencoba membaca isi buku itu, tapi hasilnya Yabu malah terluka parah akibat jebakan yang terpasang di buku tersebut.
“Ini dia!”, seru Inoo setelah dia menemukan apa yang dia cari di dalam buku itu. Setelah sibuk membaca isi buku itu, Inoo menutup buku itu.
“Ayo pergi”, ucap Inoo sambil bangkit berdiri. Buku hitam yang ada di tangannya sudah menghilang entah kemana.
“Kemana?”, tanya Yabu.
“Sudah jelas kan? Kita akan mengunjungi pengikat kontrak kita”, senyum Inoo penuh arti.
---***---
Yama dan Chii kini telah sampai di rumah. Begitu tiba, Chii langsung meletakkan Keito di tempat tidurnya. Tidak lama kemudian Chii langsung berubah wujud kembali menjadi seekor rubah putih kecil. Kekuatannya sudah benar-benar mencapai batasnya. Chii berubah menjadi rubah bila ada 2 kondisi. Kondisi pertama adalah apabila ada bahaya yang mendekat. Kondisi yang kedua adalah apabila kekuatannya sudah mencapai batasnya dan hampir habis. Hal itu juga berlaku pada Yama. Karena kini kekuatan Yama sudah hampir habis, maka dia terus berada dalam sosok anjing.
“Hah... memalukan. Di saat seperti ini, kita berdua tidak bisa apa-apa”, keluh Chii.
“Chii...”, panggil Yama. “Sebenarnya apa yang terjadi? aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Aku ingat kalau aku sudah dimakan oleh demon itu, lalu entah kenapa aku berhasil lolos. Sesaat kemudian aku sadar kalau kini kekuatanku berkurang lagi. Lalu, di saat aku hampir mati, tiba-tiba aku kembali pulih seperti semula. Apa yang terjadi?”, tanya Yama.
Chii terdiam sejenak. Tidak ada gunanya menutupi hal ini dari Yama. Lambat laun Yama akan tahu. Daripada Yama mengetahui hal ini dari yang lain, lebih baik kalau Chii sendiri yang memberitahunya.
“Yama, aku akan menjelaskan semuanya padamu. Tapi, setelah aku menceritakan hal ini padamu, kau harus berjanji untuk tidak memarahi Keito. Apa yang dia lakukan ini semuanya demi kebaikanmu”
Yama mengangguk setuju. Kurasa permasalahan ini tidak semudah yang dia bayangkan. Yama sudah merasa ada hal yang tidak enak semenjak dia melihat Chii terluka dan bau demon yang kuat, yang menempel di tubuh Keito.
“Emm... bagaimana aku menceritakannya ya?”, gumam Chii sambil berpikir. “Kau ingat saat kau dimakan oleh demon yang bernama Ryu itu kan?”, tanya Chii. Yama mengangguk. “Pada saat itu, jujur saja, baik aku maupun Keito-sama benar-benar panik. Kami tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya, Keito-sama pergi mengunjungi Inoo, demon yang kita temui pertama kali, yang berparas cantik itu. keito-sama meminta bantuan demon itu”
“Lalu?”
“Demon itu bersedia menolong kami dengan syarat mereka berdua harus mengikat kontrak, dan Keito-sama setuju. Akhirnya mereka berdua kini sudah mengikat kontrak”
“Tunggu dulu... kau ingin mengatakan padaku kalau Keito sudah mengikat kontrak dengan demon?”, tanya Yama. Chii mengangguk pelan. “Kenapa tidak kau cegah Chii? Padahal kau ada disana bersamanya, kenapa tidak kau hentikan dia?”
“Aku... aku tidak bisa Yama. Jujur, pada saat itu aku merasa kalau pilihan Keito-sama benar. Aku tidak melihat cara lain untuk menolongmu. Meskipun pada akhirnya itu berlawanan dengan perintah yang diberikan padaku”
Yama terduduk lesu. Dia melihat ke arah Keito yang masih terpejam. Perasaannya campur aduk. Dia tidak tahu harus bersikap apa. Marah, kecewa, kesal, sedih, bercampur menjadi satu. Dia merasa marah karena Keito mengabaikan peringatannya. Dia kecewa karena Yama mengikat kontrak dengan demon itu, dia juga sedih karena dia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Lalu, luka-lukamu itu...”, Yama mulai tersadar akan sesuatu sambil menunjuk tubuh Chii yang masih penuh dengan luka. “Itu luka ‘hukuman’ kan?”
Chii mengangguk. Yama semakin sedih melihatnya. Chii menderita karena Keito mengikat kontrak dengan demon.
“Keito tahu tentang hal ini?”, tanya Yama.
“Tidak. Aku tidak memberitahunya. Sebisa mungkin aku tidak mau memberitahunya. Aku tidak ingin dia merasa bersalah. Kalau hanya luka seperti ini aku masih bisa tahan kok Yama”
“Chii...” Yama berjalan menghampiri Chii. “Maafkan aku karena membiarkanmu menderita sendirian”
Chii menjilati muka Yama. “Tidak apa, aku senang kalau kau sudah kembali Yama”
Yama mulai menjilati luka Chii satu persatu. Yama berharap dengan sisa-sisa kekuatannya, dia bisa menyembuhkan luka Chii. Setelah beberapa saat dia mulai tersadar akan sesuatu. “Tunggu dulu Chii, kenapa aku tidak menerima hukuman sama sepertimu? Seharusnya aku juga menerimanya kan?”
“Oh, soal itu... itu karena saat ini kau bukan dewa pelindung lagi Yama”, jawab Chii.

Tsuzuku ~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar