PART 25
BRUKK!! Bunyi ban yang tampaknya terantuk oleh batu di jalan. “Aduh”, kataku pelan sambil memegang kepalaku yang terbentur jendela mobil. Tampaknya aku tertidur. Aku membuka mataku dan melihat pemandangan di luar jendela. Aku bisa melihat laut yang memantulkan cahaya matahari senja sehingga tampak berkilauan.
“Ah,maaf. Kami membangunkanmu ya? Yuya, sudah kubilang hati-hati kalau menyetir”, ucap Yuto sambil melihat ke arahku.
“Aku tidak tahu kalau ada batu tadi. Aku baru sadar kalau ada batu saat mobil sudah sangat dekat dengan batu itu”, kata Yuya memberi alasan. “Gomen ne, Yamada”.
“Ah, tidak apa-apa. Aku minta maaf kalau aku sampai tertidur padahal Yuya sama sekali tidak tidur”, kataku yang merasa tidak enak pada Yuya yang terus menyetir mobil sedangkan aku sama sekali tidak bisa membantu apapun.
“Tidak apa. Hanya aku yang bisa menyetir disini. Chinen juga tertidur sama sepertimu jadi tidak usah merasa sungkan. Lagian aku akhir-akhir ini sudah terbiasa tidak tidur”, ucap Yuya lagi. Aku melihat Chinen yang tertidur di pangkuanku. Wajahnya yang sedang tertidur manis sekali.
“Nanti setelah tiba disana sebaiknya kau langsung istirahat saja Yuya”, ucap Yuto sambil melihat ke arah Yuya. Tiba-tiba HP Yuto berdering, ada telepon yang masuk.
“Moshi-moshi, Yuto desu. Ah master.....iya.....baik......aku mengerti. Akan kusampaikan ke Yuya”, setelah selesai berbicara di telepon, Yuto segera menutup teleponnya. “Yuya,master tadi memberitahu kita untuk mempercepat laju mobil. Ada situasi gawat sedang terjadi”.
“Ada apa?”, tanyaku.
“Ibu Hika tadi menelepon master. Katanya Ryuu terluka parah, kondisinya kritis dan meminta master untuk segera tiba disana”
“Terluka? Seberapa parah?”, tanyaku lagi.
“Aku tidak tahu. Master bilang mereka membutuhkan bantuan Yamada dan juga Yuya”, kata Yuto lagi.
“Eh?Aku juga? Kenapa?”, tanya Yuya
“Entahlah, yang penting ayo kita segera bergegas kesana. Tuh lihat, mobil master sudah melaju cepat dan hampir meninggalkan kita”, Yuto menunjuk ke arah depan dan melihat mobil master melaju dengan kencang meninggalkan kami.
“Jin sialan! Yamada, lebih baik kau duduk dengan tenang di belakang dan tolong pegang Chii dengan erat supaya tidak jatuh. Yuto, kencangkan sabuk pengamanmu”, setelah berkata seperti itu, Yuya menekan gas dan mobil pun melaju dengan cepat. Aku segera memegangi Chinen yang masih tertidur pulas yang hampir jatuh. Aku memeluknya dengan erat di tanganku supaya dia tidak terjatuh.
Yuya memacu mobil dengan kecepatan tinggi, seakan telah terjadi balapan menegangkan antara Yuya dan Jin. Berkali-kali aku menjaga badanku agar tidak terantukjendela lagi. Bahkan aku mulai merasa mual akibat guncangan mobil yang terlalu hebat. Aku melihat ke arah Chinen yang masih tertidur pulas, seakan dia tidak bisa merasakan guncangan yang hebat ini. Yuto pun terlihat tenang saja, seakan mobil melaju dalam kecepatan normal.
“Ah, kita sudah hampir tiba”, kata Yuto. Aku melihat ke arah luar jendela. Aku bisa melihat sebuah rumah sederhana bertingkat. Tidak banyak rumah yang ada disekitarnya. Mobil depan sudah masuk ke dalam rumah, disusul oleh kami. Aku kaget karena ternyata meskipun rumahnya terlihat sederhana, tapi halamannya cukup luas.
“Chii! Mau sampai kapan kau tidur? Ayo bangun. Kita sudah tiba!”, seru Yuto. Seketika Chinen membuka matanya dan duduk. Kami berempat lalu keluar dari mobil. Di depan pintu telah menunggu seorang wanita. Wajahnya mirip sekali dengan Hika.
“Selamat datang, kami semua sudah menunggu kalian”, kata wanita itu. “Sebaiknya kita segera masuk, silahkan ikuti saya”. Wanita itu masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa. Kami semua pun mengikutinya masuk ke dalam rumah. Meskipun rumah itu cukup sederhana, tapi bagian dalamnya lumayan luas.
“Ryuu!! Buka matamu! Bertahanlah!”, seru seseorang dari dalam rumah. Kami semua saling berpandangan dan segera menuju ke asal suara. Kami masuk ke sebuah ruangan. Di tengah ruangan kami bisa melihat Inoo,Yabu, dan Hika yang sedang duduk. Di hadapan mereka terbaring seseorang, sosoknya berwarna kehitaman. Sekilas aku tidak mengenal siapa itu, tapi begitu aku melihatnya dengan seksama, aku baru sadar kalau itu Ryuu.
“Astaga, apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti ini?”, tanya master kepada mereka bertiga.
“Master....kami tidak tahu. Waktu kami menemukannya, keadaannya sudah seperti ini”, jawab Inoo sambil terisak. Aku pun mendekati Ryuu untuk melihatnya lebih dekat.
“Tampaknya dia terkena racun”, master memeriksa kondisi tubuh Ryuu. “Denyut nadinya semakin lemah”, kata master sambil memeriksa denyut nadi di tengkuk leher Ryuu (keterangan: denyut nadi di sekitar leher paling mudah dideteksi daripada di tangan, jadi bila ada pasien tidak sadarkan diri, lebih baik memeriksa didaerah itu terlebih dahulu). “Nafasnya juga semakin lemah”, master mendekatkan telinganya di wajah Ryuu. “Takaki dan Yamada, kalian harus membantuku. Takaki, gunakan kemampuanmu untuk menetralkan racun di tubuh Ryuu. Yamada, gunakan kemampuanmu untuk meningkatkan kekuatan tubuh Ryuu”, perintah master.
Aku dan Yuya dengan sigap menuruti perintah master. Aku mengeluarkan kemampuanku dengan sekuat tenaga. Yuya juga melakukan hal yang sama. Ksatria yang lain mengamati kami dengan tegang sambil berharap kami akan berhasil. Kami semua sudah berusaha sekuat tenaga, tapi tidak timbul perubahan pada kondisi tubuh Ryuu. Bahkan kondisinya semakin memburuk.
“Percuma, racun sudah terlalu lama berada di tubuhnya. Kalian harus bisa mengeluarkan racun dalam tubuhnya terlebih dahulu”, kata Jin yang mengamati kondisi tubuh Ryuu.
“Tapi bagaimana caranya? Hanya Daichan saja yang bisa melakukan hal itu”, kata Yuya.
Aku tiba-tiba teringat sesuatu, “Yuri, kau bisa menggunakan kemampuanmu untuk meniru kemampuannya Daichan kan?”.
“Maafkan aku Ryochan, aku tidak bisa. Aku memang bisa meniru kemampuan ksatria, tapi hanya kemampuan Daichan yang tidak bisa kutiru. Kemampuannya sangat membahayakan”, jawab Chinen sedih.
Master dan Yuya berusaha sekuat tenaga mereka. Perlahan, bercak kehitaman di tubuh Ryuu berkurang. Akan tetapi, sepertinya kondisinya belum juga membaik.
“To-tolong selamatkan nee-san”, ucap Ryuu. Matanya kembali tertutup, bahkan desah nafasnya pun semakin lemah
“Tenanglah, aku janji padamu. Yang penting sekarang bertahanlah terlebih dahulu”, kataku sambil menggenggam erat tangan Ryuu, “Ryuu?”, perasaanku tidak enak. Aku mencoba menggoyangkan tubuhnya. Tidak ada respon dari Ryuu. “Ryuu?”, tanyaku sekali lagi. Aku mengeluarkan kemampuanku dengan sekuat tenaga. Master mengecek sekali lagi denyut nadi Ryuu, wajahnya tampak sedih dan dia melihat ke kami semua kemudian menggeleng. Aku kemudian bisa mendengar suara tangisan Inoo.
“Ryosuke....”, kata Jin sambil menepuk pundakku. Aku terus saja berusaha menyembuhkan Ryuu.
“Ryosuke, sudah cukup”, kata Jin lagi.
“Tidak. Aku pasti bisa menyembuhkannya”, aku tidak menghiraukan perkataan Jin.
“Ryosuke, kita sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kau tidak akan bisa membangkitkan orang yang sudah mati”, kata Jin. Kemampuanku berhenti keluar. Tidak terasa air mataku mulai menetes.
“Nande?? Bercak kehitaman di tubuhnya sudah mulai berkurang, harusnya kondisinya semakin membaik”, tanyaku sambil tidak kuasa membendung air mata yang terus mengalir.
“Dia sudah terlalu lama terkena racun. Racun tersebut sudah mulai menyebar diseluruh sel tubuhnya. Yang dilakukan oleh Yuya dan master hanya menetralkan racun yang ada di permukaan. Sedangkan sel yang terkena racun sudah tidak bisa ditolong lagi”, kata Jin sambil menjelaskan padaku.
“Aku tahu ini berat untuk kalian semua. Berusahalah untuk tetap tegar. Kalian sudah tahu resiko pekerjaan kalian kan?”, ucap master sambil melihat semua ksatria yang ada. “Besok pagi, aku akan membawa Morimoto kembali ke keluarganya”, master lalu berdiri dan pergi keluar ruangan, Jin mengikuti di belakangnya. Suasana didalam ruangan sangat berat. Tidak ada satupun yang bisa berkata-kata, hanya suara isakan tangisan yang terdengar di ruangan itu.
Aku melihat Yuya yang duduk di samping Ryuu, dia menggunakan kemampuannya. “Aku akan terus melakukannya hingga semua bercak kehitaman ini menghilang. Aku tidak mau dia kembali dengan tubuh seperti ini. Setidaknya, hanya hal ini yang bisa kulakukan”, kata Yuya sambil terus berkonsentrasi. Perlahan aku bisa melihat bercak kehitaman mulai menghilang dari tubuh Ryuu, tubuhnya pun terlihat seperti sediakala. Aku terus menggenggam tangan Ryuu yang mulai terasa dingin. Aku melihat ke wajah Ryuu yang tampak tenang. Aku baru sebentar bertemu dengannya dan kami harus berpisah dengan cara seperti ini.
Yuya telah selesai menggunakan kemampuannya. Aku bisa melihat ekspresi wajahnya cukup kelelahan. Perlahan aku melepas genggaman tanganku pada Ryuu. Yabu mendekat ke arah kami sambil membawa selembar selimut dan mulai menyelimuti tubuh Ryuu.
“Ryuu, terima kasih atas segalanya. Kami pasti akan memenuhi permintaanmu. Kami akan berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan Daichan seperti yang kau inginkan. Maafkan kami semua yang tidak bisa melakukan sesuatu untukmu. Kau ksatria yang hebat. Aku pasti tidak akan melupakan semua perjuanganmu”, ucap Yabu sambil mengelus kepala Ryuu. Para ksatria yang lain juga mulai berkumpul di dekat Ryuu. Kami Cuma terdiam memandang Ryuu, seakan kami semua bisa berkomunikasi dengan Ryuu lewat pikiran kami. Sepanjang malam kami semua berada di sisi Ryuu.
Keesokanpaginya
Matahari pagi bersinar dengan terangnya. Cahayanya masuk lewat jendela yang ada diruangan tersebut. Kami semua masih terjaga dan duduk di samping Ryuu. Master dan Jin kemudian masuk ke dalam ruangan bersama dengan seseorang.
“Sudah waktunya. Kami akan membawa Morimoto kembali”, ucap master. Jin mengangkat tubuh Ryuu dengan hati-hati dan membawanya keluar ruangan menuju mobil yang sudah bersiap di depan. Aru sudah menunggu di mobil, dia membuka pintu mobil bagian belakang, Jin membawa masuk Ryuu ke dalam mobil.
“Aru, sedang apa kau disini?”, tanya Chinen.
“Aku diminta datang kemari untuk membantu master mengantar Ryuu”, jawab Aru. “Aku turut sedih atas kejadian ini. Aku harap kalian semua tetap tegar atas kejadian ini”, ucap Aru sekali lagi sambil menundukkan badannya pada kami.
“Semuanya, kami berangkat dulu. Jangan bertindak gegabah. Terutama untuk Yaotome dan Yabu, kalian harus beristirahat, badan kalian masih terluka. Yamada, bisa aku minta tolong padamu untuk menyembuhkan luka mereka?”, tanya master padaku.
“Baik, serahkan padaku”, jawabku dengan mantap.
“Kalian, jangan lupa untuk tetap berlatih. Meskipun aku tidak ada disini, kalian harus tetap melatih tubuh kalian. Kalau kalian tidak ingin bernasib sama dengan Ryuu”, ucap Jin.
“Jin!”, bentak Aru. Jin hanya mendengus dan masuk ke dalam mobil. Aru dan master kemudian masuk ke dalam mobil. Kami semua terus berada disana hingga mobil yang mengantar Ryuu tidak tampak lagi.
“Ayo kita kembali masuk ke dalam rumah”, ucap Hika yang memecah keheningan. Kami semua mengangguk dan masuk ke dalam rumah tanpa berkata apapun. Kami menuju kembali ke ruang tengah. Alas tidur yang digunakan Ryuu masih tergeletak disana. Inoo kemudian merapikan alas tidur itu, melipatnya, dan meletakkannya kembali ke tempatnya semula. Hikaru terlihat berjalan sempoyongan dan hampir jatuh. Aku dengan sigap membantunya agar tidak jatuh.
“Ah, terima kasih Yamada. Tubuhku agak sedikit lemas”, kata Hika.
“Tidak apa. Lebih baik kita istirahat dulu. Jin tadi sudah bilang kalau kau harus istirahat kan? Aku akan membantu menyembuhkanmu”, aku mulai memapah Hikaru kembali ke kamarnya.
“Anoo, Yamada. Bisa kau sembuhkan Yabu juga? Dia juga terluka”, kata Inoo.
“Eh? Aku tidak apa-apa kok”, kata Yabu. Inoo memegang tangan kiri Yabu, seketika Yabu menjerit kesakitan. “ADDUUUHHH!!!! Ittai!”.
“Yappari, sudah kuduga kau terus menahan rasa sakit di tanganmu itu. Kau terus memegang tanganmu itu”, kata Inoo lagi. Inoo membuka lengan jaket Yabu dan kami semua bisa melihat luka bakar di tangannya.
“Yabu, apa yang terjadi? Kau sampai luka bakar seperti ini”, tanya Yuto yang juga melihat tangan Yabu.
“Ah, ini luka saat aku bertarung dengan Nozomu”, jawab Yabu.
“Nozomu? Dare?”, tanya Hika.
“Hmm? Dia bilang kalau dia salah satu prajurit kegelapan. Dia juga pengendali elemental, sama seperti aku. Bedanya, dia mengendalikan api. Dia sangat kuat”,kata Yabu lagi.
“Ah, prajurit kegelapan ya? Aku juga pernah menghadapi 2 orang dari mereka. Kira-kira mereka ada berapa ya? Yang kita ketahui baru 3 orang saja”, sahut Yuya.
“Entahlah, tapi yang jelas, kita harus tetap siaga menghadapi makhluk kegelapan”, kata Yabu.
“Yang lebih utama itu memulihkan diri terlebih dahulu. Saa, ayo kembali ke kamar dan beristirahat. Yamada, kau bisa membawa Hika kembali ke kamarnya kan?”, Inoo menuntun Yabu menuju ke kamar. Aku memapah Hikaru dan mengikuti mereka dari belakang. Yuto, yuya, dan Chinen tetap menunggu di ruang tengah.
Sementara itu, di mobil.
Jin menyetir mobilnya dengan hati-hati, sebisa mungkin dia mengendarai tanpa menimbulkan guncangan. Master duduk di sebelahnya. Ryuu berada di kursi belakang bersama dengan Aru.
“Pak tua, kau juga menyadarinya kan?”, Jin mulai membuka suara.
“Ya. Tapi aku tidak mau bicara lebih banyak karena tidak ada bukti yang kuat”, jawab master.
“Warna auranya, bentuk racunnya, dan cara karakteristiknya mirip dengan yang dimiliki oleh Daiki”, kata Jin.
“Tapi, apa tidak mungkin kalau itu juga perbuatan Fuka? Kemampuan racun yang dimiliki oleh Fuka berasal dari Arioka. Jadi, ada kemungkinan kalau racun mereka sama kan?”.
“Tidak. Meskipun racun mereka sama, karakteristik dan warna aura mereka tetap berbeda. Milik Fuka berwarna jauh lebih gelap dari milik Daiki. Sedangkan yang kulihat di tubuh Ryutaro, berwarna sama seperti milik Daiki”.
“Kau ingin mengatakan kalau yang melakukan hal ini pada Morimoto adalah Arioka?”.
“Saat ini aku berpikiran seperti itu. Aku tidak akan mengatakannya pada ksatria yang lain. Mereka sudah kehilangan salah seorang rekan mereka. Kalau mereka juga mengetahui racun yang menewaskan Ryutaro berasal dari Daiki. Aku tidak bisa membayangkan perasaan mereka. Biarlah ini jadi rahasia kita terlebih dahulu. Meskipun aku yakin ada beberapa ksatria yang juga menyadari hal ini”, kata Jin lagi. Master hanya terdiam dan memandang jalan di depan mereka.
Tsuzuku ~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar