Selasa, 16 Juni 2015

TEN KNIGHTS

PART 27

“Daichan??”,tanya Yuya tidak percaya melihat cewek yang berdiri di hadapannya. Cewek itu hanya diam dan memandangi mereka bertiga. Pakaiannya lusuh, badannya penuh dengan goresan, dan dia bertelanjang kaki. Segala prasangka buruk mereka mengenai Daiki seakan lenyap begitu melihatnya saat ini yang tampak begitu lemah. Yuya menghampiri Daiki untuk melihatnya lebih dekat. Diamatinya Daiki dari atas hingga ke bawah. Perlahan dia mengusap wajah Daiki untuk memastikan bahwa yang berdiri di hadapannya itu adalah orang yang sangat dia sayangi.

“Tadaima, Yuya”, Daiki mulai membuka suara dan tersenyum melihat Yuya. Yuya langsung memeluk Daiki dengan erat. Betapa rindunya dia dengan kekasihnya itu. Sudah lama dia tidak melihatnya dan mendengar suaranya. Chinen dan Yuto yang melihat dari jauh hanya bisa terdiam mengamati dua orang itu. Chinen tak kuasa menahan air matanya melihat saudara sepupunya itu telah kembali.

“Okaeri, Daichan”, kata Chinen yang langsung berlari memeluk Daiki tanpa mempedulikan Yuya yang juga ada disana.

“Tadaima Chii, Yuto”, jawab Daiki sambil melihat ke arah Chinen dan Yuto. Daiki membalas pelukan Chinen juga.

“Kau membuat kami cemas saja. Kau menghilang kemana? Kami semua mencarimu”, tanya Yuto sambil menarik Chinen untuk melepas pelukannya dari Daiki.

Tiba-tiba Daiki terjatuh lemas, dengan sigap Yuya langsung menahan tubuh Daiki. “Kau tidak apa-apa?”, tanya Yuya cemas.

“Aku hanya merasa lelah saja. Maafkan aku Yuya, tampaknya aku tidak kuat untuk berdiri lagi”, kata Daiki sambil memegang erat lengan Yuya.

“Daijoubu. Jangan memaksakan dirimu. Kau sudah kembali kemari saja aku sangat bersyukur”, kata Yuya lagi. Yuya mengangkat tubuh Daiki dan mulai menggendongnya. “Ayo kita kembali terlebih dahulu. Aku yakin teman-teman yang lain juga senang saat melihatmu kembali. Mereka semua juga mencarimu”. Mereka berempat pun berjalan kembali kerumah Hikaru.

Sementara itu di rumah Hikaru....

Aku keluar dari kamar dan menuju ke ruang tengah. Tidak ada siapapun disana. Aku berkeliling rumah dan tidak menemukan teman-teman ksatria yang lain. Kemana mereka??

“Ah, Yamada kun”, sapa ibu Hikaru yang berpapasan denganku. “Sedang apa?”

“Ah, itu... saya keluar sebentar dari kamar. Saya berpikir kenapa suasana rumah sepi sekali dan saya tidak menemukan teman-teman yang lain”, jawabku.

“Oh, mereka semua sedang keluar”, kata ibu Hikaru.

“Keluar? Kemana?”

“Hmm...ibu kurang tahu. Pertamanya ibu lihat Inoo dan Keito keluar duluan. Lalu berikutnya Yuya, Yuto dan Chii juga ikut keluar”.

“Oh, begitu”.

“Kalau mau Yamada-kun tunggu di ruang tengah saja sambil menonton TV. Sekali-kali beristirahatlah. Ibu mau memasak makan siang untuk kalian”.

“Ah, kalau begitu. Saya membantu ibu memasak saja”.

“Ah, ibu menghargai bantuanmu, tapi tidak usah. Sudah banyak yang membantu ibu masak. Kamu istirahat saja. Ya?”, kata ibu Hika sambil mendorongku ke ruang tengah. Aku hanya pasrah menuruti kemauannya. Sebenarnya, aku tidak ingin kembali ke ruangan ini. Adegan tadi malam kembali membayangi pikiranku. Kunyalakan TV untuk mengalihkan perhatianku.

“Kau ada disini rupanya”, Hika tiba-tiba muncul dari balik pintu.

“Hika....”

“Aku terbangun dan tidak menemukanmu di kamar, lalu aku mendengar suaramu sedang bercakap dengan ibuku. Lalu aku kemari”.

“Kau sudah baikan?”

“Berkatmu kondisi tubuhku jadi jauh lebih baik. Kemampuanku juga sudah bisa kugunakan lagi. Terima kasih ya”

“Ah tidak, aku senang kemampuanku bisa digunakan untuk membantu orang lain. Tapi.....”, aku terdiam dan kembali mengingat kejadian Ryuu.

Hikaru menatap ke arahku, tampaknya dia mengerti apa yang kupikirkan. “Lebih baik kau harus tetap semangat daripada terus bermuram diri mengenai Ryuu. Semuram apapun kau, Ryuu tidak akan kembali lagi. Terlebih lagi, Ryuu itu tidak suka kalau ada orang yang terlalu memperhatikannya”.

“Aku tidak tahu bagaimana caranya melupakannya”

“Hmm..... kalau begitu, maaf aku menanyakan ini sebelumnya, bagaimana caramu tetap ceria setelah kematian ayahmu?”

“Waktu itu aku masih kecil, jadi aku tidak terlalu tahu arti dari kematian yang sesungguhnya. Terlebih lagi, aku harus tetap ceria agar tidak membuat ibuku sedih”.

“Nah, bagaimana kalau kau melakukannya cara yang sama saat ini? Kau harus tetap ceria agar tidak membuat temanmu sedih. Kita semua adalah rekan seperjuangan, kita tertawa bersama, menangis bersama, dan susah bersama. Jangan menanggung segalanya sendirian. Kami semua ada di sampingmu. Jangan lupakan itu”.

“Aku mengerti. Maaf telah membuatmu cemas. Aku juga akan meminta maaf kepada yang lain nanti kalau mereka sudah kembali”.

“Baguslah kalau begitu. Kita tidak akan melupakan Ryuu, oleh karena itu kita harus berjuang untuk dirinya juga”.

Aku menganggukkan kepalaku dengan mantap. Aku merasa bersemangat lagi setelah berbicara dengan Hika. Aku kemudian menatap foto keluarga yang terpajang diruangan itu. Tampak ada foto sepasang orangtua dengan 4 orang anak mereka. 2 orang anak perempuan dan 2 orang anak lelaki. Aku mengenal salah satu anak lelaki di foto itu yang mirip dengan Hikaru.

“Itu foto keluargamu?”, aku menunjuk ke foto yang terpajang itu.

“Yup. Kau tahu yang mana aku?”.

“Yang itu kan? Anak paling kecil yang ada di tengah itu. Wajahmu tidak jauh beda dengan saat ini, bahkan kau jauh lebih manis waktu kau kecil”.

“Hentikan. Aku merasa merinding waktu kau bilang aku manis. Kalau cowok yang mengatakan aku manis, rasanya aneh”.

“Ahhahahhaaaa”,aku tertawa mendengar perkataan Hikaru. Hikaru juga ikut tertawa setelah itu.

“Lalu anggota keluargamu yang lain ada dimana? Selama aku berada di rumah ini, aku hanya bertemu dengan ibumu saja”.

“Kau tidak bertemu dengan kakak-kakakku? Mereka ada disini kok. Semua kakak perempuanku ada di rumah ini. Kalau kakak laki-lakiku ada di luar kota karena pekerjaan. Sedangkan ayahku, dia sudah meninggal”.

“Ah, maafkan aku, aku tidak tahu soal ayahmu”.

“Tidak apa kok. Sama seperti ayahmu, ayahku meninggal saat aku masih kecil. Ini takdir yang tidak bisa dihindari oleh para ksatria”.

“Takdir?”

“Kau belum tahu? Bila ada ksatria baru yang lahir dari keturunannya, maka ksatria yang lama akan kehilangan kemampuannya, mereka akan melemah dan perlahan mereka akan mati. Kejadian ini terus berulang sejak dulu”.

“Tidak bisakah takdir itu dirubah?”

“Aku tidak tahu. Ayah Yuya dan Yuto yang dulunya seorang ksatria juga telah tiada, begitu pula dengan ibu Chii dan Keito. Untuk kasus Yabu, Inoo dan Ryuu, kakek nenek mereka yang merupakan seorang ksatria juga telah tiada”.

“Oh begitu.....”

“Yah, meskipun penyebab kematian mereka berbeda-beda. Ayahku dan ayahmu tewas dalam pertarungan. Ibu Chii meninggal karena tubuhnya yang sangat lemah. Ayah Yuya dan Yuto tewas karena dibunuh oleh makhluk kegelapan. Ibu Keito meninggal karena kecelakaan. Sedangkan untuk orangtua daichan kau sudah tahu sebabnya kan?”.

Aku terdiam mendengar cerita Hikaru. Ternyata bukan hanya dia yang menderita akibat kehilangan orangtua. Tidak heran mereka semua tampak tegar. Aku merasa malu dengan diriku yang merasa lemah.

“Ah, mereka sudah kembali”, kata Hika lalu menuju ke pintu depan. Aku hanya bertanya dalam hati, ‘siapa yang dimaksud oleh Hika?’. Tak lama aku mendengar suara Chinen dari arah pintu.

“Tadaima!!”,seru Chinen. Hika berdiri mematung di pintu depan. Aku mendekat ke arah mereka dan membalas sapaan Chinen.

“Okaerinasai Yuri....”, aku tertegun begitu melihat seorang cewek yang digendong oleh Yuya. Aku dan Hika tidak sanggup berkata-kata.

“Ryochan,maaf aku tahu kau sedang kelelahan, tapi bisakah kau menyembuhkan luka Daichan dan memulihkan tenaganya?”, perkataan Chinen menyadarkanku dari rasa keterkejutanku.

“Da...daichan?? dimana kalian menemukannya? Kenapa tubuhnya penuh luka seperti itu? Apa yang terjadi?”, tanya Hika.

“Kami bertemu dengannya di dekat rumahnya. Kami bertiga tadi pergi ke rumah Daichan, lalu tiba-tiba dia muncul di hadapan kami sudah dalam kondisi seperti ini. Terlebih lagi setelah itu dia langsung pingsan tidak sadarkan diri. Kami juga tidak tahu secara detail apa yang terjadi padanya”, jawab Yuto.

“Kita bisa menanyainya nanti, yang penting kita harus memulihkannya dulu. Yamada, aku mohon bantuanmu”, kata Yuya.

“Serahkan padaku. Aku akan berusaha sekuat tenaga menyembuhkannya”, kataku mantap. Aku senang sekali melihat Daiki kembali lagi pada kami.
Hika menuntun kami ke sebuah kamar. Dengan hati-hati Yuya membaringkan Daiki yang pingsan di atas tempat tidur. Aku bisa melihat luka yang cukup banyak ditubuhnya. lengan, wajah, lehernya penuh dengan luka. Terlebih lagi kakinya yang tidak memakai alas kaki, luka di kakinya seakan menunjukkan dia berjalan melewati jalan yang tajam. Dengan sigap aku langsung menggunakan kemampuanku untuk menyembuhkannya. Perlahan luka di tubuh daiki mulai menutup.

“Kenapa Hika?”, tanya Chinen pada Hika yang tampaknya sedari tadi mengamati Daiki dengan muka serius.

“Apa kalian tidak merasa aneh?”, tanya Hika. Kami semua yang ada di ruangan melihat ke arah Hika dengan muka bingung.

“Aneh apanya?”, tanyaku.

“Jarang sekali aku melihat Daichan terluka parah seperti ini. Kalaupun dia terluka parah, biasanya di tubuhnya keluar bercak kehitaman meskipun sedikit, karena kemampuannya mulai tidak terkendali. Terlebih lagi.....”, Hika terdiam dan tampaknya seperti sedang mendengarkan sesuatu dengan serius.

“Kau ini bicara apa Hika? Seharusnya kau senang kalau dia bisa kembali dengan selamat kan? Makhluk kegelapan tidak berhasil menangkapnya sehingga kemungkinan terbukanya segel itu akan semakin kecil”, bantah Yuya yang sedari tadi terus menggenggam tangan Daiki.

“Ah, maaf. Lupakan saja kata-kataku barusan”, kata Hika lagi. Sekilas aku melihat ke arah Hikaru, wajahnya menunjukkan ekspresi yang sangat serius saat melihat Daiki. Aku tidak terlalu memikirkan hal itu dan berusaha memfokuskan diri untukmemusatkan kemampuan healingku pada luka Daiki sehingga dia bisa segera sadar.

Hampir sejam aku menggunakan kemampuanku pada Daiki. Saat ini kondisi tubuhnya sudah membaik. Luka di tubuhnya sudah sepenuhnya menutup. Aku terduduk lemas setelah selesai menggunakan kemampuanku. Tampaknya tubuhku kekurangan tenaga. Dengan sigap Chinen menyangga tubuhku agar aku tidak terjatuh.

“Terima kasih Yamada”, kata Yuya. Aku bisa melihat raut wajahnya yang menunjukkan rasa lega.

“Ini sudah merupakan tugasku”, kataku.

Perlahan Daiki membuka matanya. Tampaknya setelah tubuhnya mulai pulih, kesadarannya juga kembali.

“Daichan??", tanyaku. Daiki membuka matanya dan melihat ke sekelilingnya.

“Yamada? Ini dimana?”, tanya Daiki yang kebingungan melihat tempatnya yang baru.

“Kau sekarang ada di rumahku. Syukurlah kau bisa kembali kemari dengan selamat Daichan”, jawab Hika.

“Hika....”

“Tadaima!!”, seru seseorang dari arah pintu.

“Ah, itu Keito dan Inoo. Mereka juga sudah kembali. Aku akan memberitahu mereka kabar gembira ini”, kata Yuto sambil berlalu menuju pintu.

“Okaeri Inoo, Keito”, Yuto menyambut 2 orang temannya itu yang baru saja kembali.

“Kau kenapa? Mukamu kelihatannya senang”, tanya Keito.

“Daichan telah kembali. Saat ini dia sedang beristirahat di kamar. Dan sekarang ini dia baru saja sadar”, jawab Yuto. Keito dan Inoo saling berpandangan dengan terkejut. Mereka tidak tahu apakah ini adalah kabar baik atau kabar buruk. “Apa yang kalian lakukan? Ayo cepat masuk”, kata Yuto lagi yang lalu masuk ke dalam rumah meninggalkan Inoo dan Keito yang masih terdiam di pintu.

“Hei Inoo, apa maksudnya ini? Daichan telah kembali? Tapi Daichan kan .....”, bisik Keito.

“Aku juga tidak mengerti. Sebaiknya kita pastikan dulu dengan mata kepala kita sendiri”. Mereka berdua segera masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamar yang dimaksud oleh Yuto. Alangkah terkejutnya mereka begitu melihat Daiki yang duduk bersandar di tempat tidur.

“Inoo....Keito.....”, kata Daiki begitu melihat mereka berdua masuk ke dalam.

“Ini....ini benar-benar kau Daichan?”, tanya Keito tidak percaya.

“Aku pulang.....”, kata Daiki lagi sambil tersenyum seperti biasanya. Keito dan Inoo tidak bisa berkata-kata. Suara itu, sosok itu, senyum itu, semuanya menunjukkan kalau orang yang ada di hadapan mereka adalah Daiki.

“Kalian berdua kenapa? Kalian seperti melihat hantu saja”, kata Yuto yang tertawa melihat Keito dan Inoo yang bengong.

“Ta...tapi, aku melihat kalau Daichan ....”, belum sempat Keito menyelesaikan omongannya, kakinya sudah diinjak oleh Inoo. Keito meringis kesakitan sambil melihat ke arah Inoo. Inoo menunjukkan ekspresi agar Keito tetap diam dan tidak mengatakan pada siapapun mengenai apa yang mereka lihat di bola kristal tadi.

“Syukurlah kau sudah kembali Daichan... aku mencemaskanmu karena kau menghilang begitu saja”, kata Inoo sambil memeluk Daiki.

“Maafkan aku sudah membuat kalian semua khawatir....”, kata Daiki.

“Apa yang terjadi padamu?”, tanya Hika.

“Aku diculik oleh makhluk kegelapan. Begitu sadar, aku sudah dikurung di sebuah ruangan yang gelap. Kaki dan tanganku diikat. Aku berusaha kabur dari sana,tapi karena penjagaannya yang ketat aku berkali-kali gagal dan mereka selalu bisa menangkapku kembali. Suatu saat makhluk kegelapan yang menjagaku lengah, sehingga aku bisa memanfaatkan hal itu untuk melarikan diri. Dengan sisa kemampuanku aku berusaha melawan makhluk kegelapan yang mencoba menangkapku lagi. aku terus berjalan lalu aku bertemu dengan Yuya, Yuto, dan Chii”, Daiki menceritakan pada kami apa yang terjadi padanya. Semua hanya terdiam mendengarkan cerita itu.

“Kau tidak bertemu dengan Ryuu?”, tanya Inoo.

“Tidak. Kenapa?”, tanya Daiki.

“Jadi, kau tidak tahu apa yang terjadi padanya?”, tanya Inoo lagi.

“Ryuu? Apa yang terjadi padanya?”, tanya Daiki balik. Semua terdiam, Yuya akhirnya menceritakan hal itu pada Daiki.

“Ryuu telah tewas karena serangan oleh makhluk kegelapan”, jawab Yuya. Daiki terkejut dan air matanya mulai menetes.

“Ryuu... bagaimana bisa? Bagaimana bisa ini terjadi?”, kata Daiki sambil menangis. Air matanya tidak kuasa terbendung. Yuya memeluknya untuk menenangkan Daiki yang terus menangis. Keito dan Inoo saling berpandangan, mereka berdua lalu pergi keluar kamar. Mereka berbicara agak jauh dari kamar.

“Apa yang sebenarnya terjadi? Aku tidak mengerti. Sudah jelas kalau pembunuh Ryuu adalah Daichan. Dia yang kita lihat di bola kristal tadi dan penglihatanku tidak mungkin salah. Tapi, melihat Daichan seperti itu, aku jadi ragu”, kata Keito sambil bersuara pelan agar tidak terdengar oleh siapapun.

“Aku tidak meragukan kemampuanmu. Sosok yang kita lihat saat menyerang Ryuu adalah Daichan. Itu bukan ilusi, aku bisa menjaminnya. Aku tidak tahu mana yang benar. Pokoknya saat ini, kau jangan menceritakan pada siapapun apa yang kau lihat. Kita juga tidak bisa menjamin 100% bahwa Daichan yang menyerang Ryuu itu adalah Daichan yang sama dengan yang kita kenal. Sampai kita punya bukti yang cukup kuat, jangan ceritakan pada siapapun. Aku tidak mau timbul perpecahan di antara kita. Menuduh teman sendiri sebagai seorang pembunuh itu terlalu kejam”, kata Inoo. Keito mengangguk. Mereka sepakat untuk tidak menceritakan apa yang mereka lihat dan tetap diam sampai waktunya tiba.

Tsuzuku ~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar