PART 22
BLAARRR!!!Terdengar suara ledakan di dekat mereka. Ledakan itu mengakibatkan terbentuk sebuah lubang besar. Yuto melompat keluar dari lubang itu. Mukanya tersenyum bangga. Tampaknya dia sudah bisa mengendalikan kemampuannya.
“Bagus. Kau sudah bisa mengendalikan energimu”, ucap Jin puas melihat Yuto.
“Hiyaa....kalau lebih lama dari ini, aku bisa mati kehabisan nafas di dalam sana. Rasanya sesak sekali di dalam sana, panas lagi, lihat bajuku sampai basah begini”, Yuto kemudian melepas bajunya yang basah karena keringat itu. Dia mengibaskan bajunya untuk mengeringkannya.
“Ah, kupikir tadi ada apa disini. Ternyata latihan kalian belum selesai ya?”, kata Yuya yang tiba-tiba muncul dari arah pintu belakang. Aku melihat Yuya dan tidak ada luka satupun di tubuhnya.
“Siapa tadi yang kau hadapi?”, tanya Jin.
“Ah, aku tadi berhadapan dengan 2 maou. Mereka menyebut diri mereka sebagai prajurit kegelapan. Mereka mengatakan kalau mereka adalah makhluk kegelapan yang bersumpah pada petinggi maou dan sang necromancer. Meskipun maou, tapi kekuatan mereka masih di bawah kekuatan para petinggi maou”.
“Lalu, kau bisa mengalahkan mereka tanpa terluka kan?”, tanya Yuto.
“Yup. Mereka berdua sangat hebat. Tapi sayang, serangan mereka tidak ada yang bisa mengenaiku. Jadi kuhabisi saja mereka sebelum mereka merepotkan kita”, ucap Yuya enteng.
“Sasuga! Kau memang ksatria nomor satu diantara kita”, ucap Yuto lagi sambil menepuk pundak Yuya.
“Hari ini cukup sampai disini saja. Kita lanjutkan lagi besok”, ucap Jin sambil berjalan masuk ke dalam rumah. Akan tetapi dia dihadang oleh seseorang dihadapan pintu. “Uwaah... kaget aku. Kenapa kau ada disini pak tua?”. Master muncul dari arah pintu.
“Ada berita dari Yabu dan Inoo. Mereka sudah menemukan Yaotome dan Morimoto. Saat ini mereka berada di rumah Yaotome. Mereka berdua terluka parah, akan tetapi nyawa mereka tidak dalam kondisi membahayakan”, kata master. Aku menghela nafas lega.
“Lalu? Daichan bagaimana master?”, tanya Yuya cemas.
“Untuk Arioka, dia...”, master berhenti sejenak sambil melihat ke arah kami semua,“kata Yabu, saat ini keberadaannya tidak diketahui. Yaotome dan Morimoto yang pergi bersamanya juga tidak tahu dimana dia. Mereka tidak tahu apa yang terjadi saat mereka jatuh ke dalam jurang”.
“Jadi, ada beberapa kemungkinan. Yang pertama, dia terlempar sangat jauh dari lokasi Hika dan Ryutaro dan kalian belum bisa menemukannya. Yang kedua, dia selamat dari kecelakaan mobil itu dan sempat melompat keluar. Yang ketiga, dia diculik oleh makhluk kegelapan karena dia adalah ‘kunci’ yang mereka perlukan. Meskipun aku berani bertaruh 99.99% yang benar itu yang ketiga”, kata Jin sambil mulai menyalakan rokoknya. Kami semua menatap Jin dengan melotot, terlebih Yuya, dia mengepalkan tangannya seakan siap untuk menghajar Jin.
“Hentikan Akanishi. Jangan membuat emosi yang tidak perlu. Kalian juga tenanglah. Sampai kita tahu pasti dimana Arioka, jangan memikirkan hal yang buruk terlebih dahulu. Besok pagi kita akan pergi kesana juga. Saat ini istirahat saja dulu, simpan tenaga kalian untuk menghadapi sesuatu yang tidak terduga. Kemungkinan terburuk besok kita akan memasuki wilayah musuh sehingga bisa dikatakan pertarungan tidak bisa dihindari”, master menengahi kami semua dan berusaha membuat suasana menjadi lebih tenang. Kami semua kembali masuk ke dalam rumah dan beristirahat untuk mempersiapkan esok hari.
Keesokan paginya, aku bangun lebih awal. Aku langsung bersiap. Kemarin malam aku sudah mengemasi barang-barang apa saja yang perlu dibawa. Master bilang tidak usah bawa barang banyak dan bawa yang perlu saja. Aku juga menelepon ibuku dan menceritakan semuanya. Aku meminta doa ibu agar dia selalu melindungiku.
“Ryochan?? Kau sudah bangun? Ayo segera kumpul!!”, terdengar suara Chinen dari balik pintu. Aku pun membawa tasku dan segera keluar dari kamar. Disana aku melihat Chinen yang tersenyum menungguku di balik pintu. Aku menatap Chinen, kubalas senyumannya. Dia langsung berlari memelukku.
“Pagi Yuri”, balasku. Aku melihat ada 2 tongkat kecil di pinggang Chinen.
“Ah ini. Ini senjataku. Aku biasanya hanya membawanya saat patroli dan misi saja. Karena master bilang kita harus tetap waspada, jadinya kubawa senjataku”, kata Chinen seakan tahu apa yang ingin kutanyakan. Tidak lama, Yuto juga bergabung dengan kami. Kami bertiga segera menuju ke ruang tengah. Master, Jin, Keito, dan Yuya sudah menunggu disana.
“Osoi na....”, ucap Jin saat melihat kami bertiga datang berkumpul.
“Oke, semuanya sudah ada disini. Karena kita ada 7 orang, kita akan membawa 2 mobil. Takaki dan Akanishi masing-masing akan mengemudi mobil. Nakajima, Chinen, dan Yamada, kalian akan ikut mobil Takaki. Okamoto, kau satu mobil dengan kami. Kami perlu kau untuk memantau keadaan. Mobil kami berada di depan dan Takaki kau ikuti kami dari belakang”, kata master. Kami pun segera menuju mobil masing-masing. Kedua mobil itu tampak sama, baik tipe, warna, semuanya sama.
“Yuri, sebenarnya ada satu hal yang ingin kutanyakan”, bisikku pada Chinen yang sedang merangkul tanganku.
“Hmm apa?”
“Sebenarnya semua mobil yang kalian kendarai itu darimana? Bukankah Cuma ada 2 mobil di rumah ini? Yang satunya kan dibawa rombongan Hika dkk. Lalu, satunya hancur saat tabrakan Yabu dulu”.
“Kata siapa? Master menyediakan 10 mobil untuk kami kok. Kalau seandainya kami butuh pergi ke suatu tempat, kami bisa segera pergi”.
“Semua ksatria bisa mengendarai mobil?”, tanyaku lagi.
“Ahahaha....Cuma ada 5 orang ksatria yang bisa. Yabu, Hika, Yuya, Inoo, dan Daichan saja yang bisa. Kami berempat sisanya belum bisa”.
“Eh, Daichan? Bukankah dia seumuran dengan kita? Dia sudah bisa mengendarai mobil?”,tanyaku tidak percaya.
“Iya. Waktu Yuya belajar naik mobil, Daichan juga belajar, bahkan dia sudah menguasainya di usianya yang ke-15 tahun. Hika juga sudah bisa mengendarai mobil waktu dia usia 16 tahun. Ah, satu hal lagi, Keito memang tidak bisa mengendarai mobil, tapi dia bisa naik motor”, jawab Chinen lagi. Aku merasa mengetahui satu hal baru lagi dari para ksatria ini.
Kami semua segera masuk ke mobil masing-masing. Yuya duduk di belakang kemudi. Yuto duduk di sebelahnya. Sedangkan aku dan Chinen duduk di bangku belakang. Yuya segera menyalakan mobilnya dan mobil pun melaju mengikuti mobil master yang berada di depan.
Perjalanan kami sangat jauh. Sudah berjam-jam kami melakukan perjalanan ini. Sesekali kami berhenti untuk mengisi bensin dan makan. Selain itu, kami segera melanjutkan perjalanan. Master bilang semakin cepat kami tiba disana semakin baik. Master juga meminta kami untuk selalu waspada selama perjalanan.
Siang harinya, di rumah Hikaru
“Yabu, Hika, kalian di dalam?”, Inoo mengetuk pintu kamar Hika. Yabu yang tertidur disamping ranjang Hika terbangun mendengar suara Inoo dari luar. Begitu pula Hika yang sedang tertidur pulas, matanya mulai terbuka saat mendengar ada suara ketukan dari arah pintu. Yabu berdiri dan membuka pintu. Inoo berdiri di depan pintu dengan muka panik.
“Ada apa Inoo?”, kata Yabu melihat ekspresi wajah Inoo yang tidak biasa.
“Kalian melihat Ryuu tidak?”, ucap Inoo. Terdengar nada panik dari suaranya.
“Kami sedang tidur dari tadi. Aku saja baru bangun saat mendengar suaramu. Memangnya ada apa?”, kata Hika.
“Aku tadi keluar sebentar dari kamar Ryuu untuk mengambil makan siangnya. Begitu aku kembali ke kamar, dia sudah tidak ada. Kupikir dia sedang pergi ke kamar mandi dan akan segera kembali. Tapi hampir setengah jam dia tidak kembali kekamarnya. Aku sudah mencari di seluruh rumah dan di sekitar rumah ini. Keluarganya Hika juga membantuku. Tapi, kami sama sekali tidak menemukannya”, jawab Inoo panik.
“Mungkinkah dia diculik?”, kata Yabu menggumam.
“Tidak mungkin. Rumah ini dilapisi oleh pelindung. Tidak semudah itu makhluk kegelapan masuk kemari”, kilah Hika. “Mungkin dia sedang berjalan-jalan sebentar. Sebentar lagi mungkin dia kembali”, tambah Hika lagi.
“Itu tidak mungkin. Kondisi tubuhnya memang membaik, tapi untuk berjalan jauh itu masih tidak memungkinkan”, jawab Inoo lagi.
“Berarti tinggal satu kemungkinan, dia pergi keluar untuk mencari Daichan. Anak itu sangat sayang pada Daichan. Dia pasti tidak mau tinggal diam dan memutuskan untuk pergi mencarinya. Sial, Daichan sudah hilang, sekarang Ryuu juga”, kata Yabu lagi.
“Kalau begitu gawat donk. Kita juga harus segera menyusulnya. Banyak makhluk kegelapan berkumpul di daerah sini. Kalau dia harus bertarung, dia dalam kondisi yang tidak menguntungkan”, Hika berusaha bangkit dari ranjangnya, tapi langsung dicegah oleh Yabu.
“Tidak. Kau masih terluka dan kondisimu juga belum membaik. Kau di rumah saja. Aku yang akan pergi mencarinya”, ucap Yabu.
“Kalau begitu aku juga ikut”, kata Inoo.
“Tidak, aku ingin kau tetap disini menjaga Hika. Aku sendiri saja sudah cukup”, cegah Yabu.
“Tidak mau. Aku tidak mau membiarkanmu pergi sendirian. Aku akan ikut bersamamu”, paksa Inoo. Dia bersikeras untuk ikut dengan Yabu.
“Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu. Disini kau lebih aman. Terlebih lagi, aku butuh seseorang untuk menjaga Hika yang masih lemah disana”.
“Tapi....”
“Aku pasti akan kembali dengan selamat. Aku juga akan membawa kembali Ryuu. Aku janji”.
“Berjanjilah padaku kalau kau tetap baik-baik saja”, bisik Inoo sambil memeluk Yabu dengan erat. Yabu membalas pelukan Inoo. Mereka berdua berpelukan seakan-akan tidak ingin melepaskan satu sama lain.
“Aku tidak pernah melanggar janjiku”, kata Yabu. Setelah itu dia melepas pelukannya. Hika berdiri menghampiri mereka berdua.
“Pastikan kau membawa Ryuu kembali. Kalau kau tidak kembali sampai malam tiba, maka aku akan pergi menyusulmu. Tidak peduli kau akan semarah apa, aku akan menyusulmu dan menemukanmu. Aku sudah mengatakannya dulu kan? Aku akan terus mendukungmu dan melindungimu. Aku akan mengulurkan tanganku kalau kau sedang kesulitan”, Hika mengarahkan kepalan tangannya ke arah Yabu. Yabu membalas kepalan tangan Hika dan tersenyum. Yabu keluar dari kamar meninggalkan Hika dan Inoo sendirian di kamar.
“Tenanglah Inoo, Yabu pasti menemukan Ryuu. Mereka berdua pasti akan kembali kemari”, Hika mengusap pelan rambut Inoo. Inoo mengangguk pelan dan berharap agar hal itu yang terjadi.
Di jurang.
Ryuu berjalan dengan tertatih-tatih. Dia terus menyusuri jurang di sekitar tempat kecelakaan yang menimpanya. Berkali-kali dia menyusuri jurang itu, tapi dia tidak menemukan apa yang dia cari. “Ughh, nee-san, kau dimana?”, Ryuu menyandarkan tubuhnya ke pohon yang ada di dekatnya. Dia beristirahat sebentar karena lelah. Kondisi tubuhnya memang belum sepenuhnya membaik tapi dia memaksakan diri untuk bergerak.
Tiba-tiba Ryuu bisa merasakan ada sesuatu yang mendekat ke arahnya. Dia bisa mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya. “Satu, dua, ah tidak, tiga langkah kaki. Aku bisa mendengarnya. Apakah musuh? Ah tidak, bisa saja itu nee-san. Tapi langkah kakinya terlalu banyak”, Ryuu lalu bangkit berdiri dan mulai memasang wajah waspada. Langkah kaki itu semakin dekat, lama-lama Ryuu bisa melihat ada beberapa sosok yang mendekat ke arahnya. Ada 3 sosok yang mendekat ke arahnya. Yang paling kiri bertubuh paling pendek, yang paling kanan paling tinggi di antara yang lain. Sedangkan yang di tengah tingginya rata-rata, seukuran dengan manusia pada umumnya. Segera Ryuu bersembunyi di antara pohondi dekat situ.
“Golem....”,ucap Ryuu pelan. Dia tidak menyangka akan bertemu makhluk kegelapan di sekitar sini.
“Hei, hei, mereka sudah tidak ada disini. Padahal kupikir aku bisa menyantap mereka. Aku lapar....”, ucap golem yang paling pendek.
“Kan sudah kubilang kalau mereka sudah dibawa pergi oleh kedua temannya yang lain”, ucap golem bertubuh sedang.
“Cih,seharusnya aku langsung memakannya saja waktu itu”, ucap golem pendek itu lagi.
“Apa boleh buat. Tuan Jack memerintahkan kita untuk membawa ksatria cewek itu saja sesegera mungkin”, ucap golem yang bertubuh paling tinggi itu. Ryuu tersentak kaget mendengar pembicaraan para golem itu. ‘ksatria cewek? Apa mereka yang membawa pergi nee-san? Tadi mereka juga menyebut Tuan Jack. Itu Fuu kan?’, gumam Ryuu dalam hati. Dia terus memasang telinga mendengar pembicaraan ketiga golem itu.
“Ah, kastria cewek itu ya. Wajahnya memang mirip dengan tuan Jack. Dia yang dicari oleh para petinggi maou kan? Kasihan anak itu, tidak lama lagi dia akan mati demi kebangkitan sang dewa, ahahahahahaa.....”, golem bertubuh pendek itu tertawa dengan keras. Ryuu tidak tahan lagi bersembunyi dan memutuskan untuk keluar dari persembunyiannya.
“Hei golem jelek! Kalian bawa kemana nee-san?”, seru Ryuu ke arah ketiga golem itu. Ketiga golem itu terkejut saat melihat Ryuu.
“Arara...bukankah dia ini salah satu ksatria yang terluka disini itu? Kenapa dia kembali lagi kemari?”, kata golem yang bertubuh sedang.
“Iinjanai? Kebetulan aku sedang lapar dan ingin memakan daging ksatria. Tidak disangka dia sendiri yang menghampiri kita. Lucky....”, ucap golem bertubuh pendek. Golem itu menatap Ryuu dengan mata yang penuh dengan nafsu memburu. Mulutnya terus meneteskan air liur seakan tidak bisa menyembunyikan rasa laparnya.
“Kalian tidak dengar pertanyaanku apa?? Aku tanya pada kalian dimana nee-san!”, teriak Ryuu ke arah ketiga golem yang ada di depannya.
“Nee-san?Ah, maksudmu ksatria cewek yang kami bawa pergi itu ya? Memang apa urusannya denganmu?”, tanya golem yang bertubuh tinggi.
“Meskipun kami tahu dia ada dimana, kami tidak akan memberitahumu”, kata golem bertubuh sedang.
“Sou,sou, apa gunanya memberitahu pada buruan yang sebentar lagi akan mati. Percuma!”, seru golem bertubuh pendek.
“Kalau begitu, akan kugunakan cara kasar untuk membuat kalian mau memberitahuku dimana nee-san. Aku akan menghajar kalian bertiga dan kalian akan memberitahukan tempatnya padaku”, geram Ryuu.
“Coba saja kalau kau bisa nona....”, golem bertubuh pendek itu lalu berlari ke arah Ryuu dan membuka mulutnya seakan ingin menyantap Ryuu yang ada dihadapannya.
Tsuzuku~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar