Sabtu, 20 Juni 2015

TEN KNIGHTS

PART 29

“Hei kalian! Ada yang lihat Daichan?”, tanya Yuya. Mukanya terlihat panik saat melihat Daiki yang tidak ada disana.

“Kukira dia sedang ke toilet, sebentar lagi mungkin dia akan kembali. Tenang saja...”, kata Hika.

“Yabai, aku lengah sedikit saja dia sudah tidak ada”, gumam Yuya pelan.

“Ada apa Yuya?”, tanya Inoo yang menjadi lawan latihan Yuya.

“Ah, Daichan tidak ada. Aku juga tidak tahu kemana dia pergi”, jawab Yuya.

“Kau terlalu berlebihan. Sebentar lagi dia juga kembali”, kata Yuto.

“Eh, tapi cukup lama juga dia keluar lo.... keito juga belum kembali. Kemana ya?”, kataku. Inoo dan Yuya saling berpandangan. Entah kenapa aku bisa melihat raut wajah tegang di antara mereka. Inoo melihat ke sekeliling, mencari keberadaan Daiki. Tak lama kemudian Daiki datang dan bergabung bersama kami.

“Daichan!”, seru Yuya saat melihat Daiki berkumpul bersama mereka.

“Eh, ada apa?”, tanya Daiki dengan muka polos.

“Kau ini darimana? Kenapa tidak memberitahuku kemana kau pergi?”, bentak Yuya. Nada suaranya jauh lebih tinggi dari biasanya hingga membuat kami semua merasa ketakutan.

“Ma-ma-maaf. Aku tadi haus dan pergi mengambil minuman. Lalu aku mampir ke toilet sebentar”, jawab Daiki. Aku bisa melihat raut wajahnya yang ketakutan.

“Lain kali jangan menghilang seperti ini lagi. Kemanapun kau pergi, laporkan dulu padaku. Mengerti?”, seru Yuya lagi. Daiki hanya mengangguk saja. Wajahnya terus menunduk ke bawah. Yuya memeluk Daiki, “Maafkan aku. Aku tidak marah padamu. Hanya saja aku takut kalau kau akan menghilang lagi”.

“Aku tidak akan meninggalkan kalian lagi kok. Aku tidak akan menghilang”, kata Daiki.

“Maaf aku mengganggu kalian, Daichan kau tahu dimana Keito? dia belum kembali dari tadi”, tanya Inoo.

“Keito? ah, aku tadi melihatnya keluar. Sepertinya dia keluar dengan terburu-buru. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Dia belum kembali?”, tanya Daiki balik. Sekilas Inoo ragu dengan ucapan Daiki.

“Daichan, benarkah apa yang kau katakan tadi?”, tanya Hika.

“Soal Keito? Iya, aku mengatakan yang sebenarnya kok”, jawab Daiki mantap. Hika berdiri dan mendekati Daiki. Hika menggenggam tangan Daiki erat.

“Aku tanya sekali lagi, kau tidak bohong kan?”, tanya Hika lagi.

“Iya”, jawab Daiki mantap. Hika menatap mata Daiki lekat-lekat, kemudian menghela nafas.

“Yuya, kupikir sebaiknya kau mengecek Hpmu sewaktu-waktu. Mungkin ada telepon atau sms dari pekerjaanmu”, kata Hika sambil bicara seakan berbisik pada Yuya.

“Aku mengerti. Terima kasih sudah mengingatkanku”, kata Yuya.

“Saa, semuanya. Latihan hari ini sampai disini saja”, kata Hika membuyarkan kami yang masih latihan. Kami semua lalu masuk ke dalam rumah. Tiba-tiba aku merasakan ada hawa pembunuh yang sangat kuat dari arah belakang. Aku menoleh dan melihat Daiki yang sedang membereskan peralatan kami. Daiki melihat ke arahku dan tersenyum. Aku pun juga membalas dengan senyum. ‘Perasaan apa itu tadi?’, pikirku.

Hari sudah menjelang malam. Matahari sudah mulai terbenam, tapi Keito belum juga kembali. Beberapa ksatria mulai tampak gelisah. Aku bisa melihat Inoo yang terus menerus melihat ke luar jendela. Tak lama kemudian dia bangkit dan berjalan menuju keluar.

 “Inoo! Kau mau kemana?”, tanya Yabu yang melihat Inoo keluar tergesa-gesa.

“Aku ingin mencari Keito sebentar. Aku takut kalau terjadi sesuatu padanya. Dia sama sekali tidak menghubungi kita”, jawab Inoo.

“Tunggu, aku ikut denganmu!”, seru Yabu yang juga berlari menyusul Inoo. Aku melihat mereka berdua pergi berlalu begitu saja. sebenarnya apa yang terjadi sih?

Inoo dan Yabu telah berada di luar rumah Hikaru. Tapi mereka tidak bertemu dengan Keito disana. Karena sudah malam hari, maka mereka susah melihat karena gelap.

“Aku punya firasat tidak enak...”, kata Inoo.

“Soal Keito?”, tanya Yabu.

“Yabu, kau tahu kan?”, tanya Inoo sambil memelankan suaranya seakan takut kalau suaranya akan terdengar oleh orang lain.

“Soal apa?”

“Itu...”, Inoo seakan ragu untuk melanjutkan perkataannya. Setelah melihat sekeliling dan memastikan tidak ada orang di sekitar sana, dia melanjutkan perkataannya, “Soal Daichan”.

Yabu menatap Inoo dengan ragu-ragu, kemudian menghela nafas. “Ternyata kau sudah tahu juga rupanya”. Perkataan Yabu membuat Inoo terkejut.

“Kau sudah tahu? Kupikir kau tidak tahu”, tanya Inoo heran. Setahu dia hanya dia dan Keito yang tahu.

“Kau ingat kemarin aku menerima telepon dari master kan? Pada saat itu master memberitahuku mengenai Daichan dan Ryuu. Aku diminta untuk tetap waspada terhadap Daichan. Aku sendiri tidak mau mempercayainya, tapi melihat ekspresimu saat ini kurasa itu benar”, kata Yabu. “Kau sendiri tahu darimana?”.

“Aku tahu mengenai Daichan saat aku pergi menyelidiki sekali lagi dengan Keito. Kau masih ingat saat kubilang aku melihat Daichan di hutan saat menemukan Ryuu? Saat itu melalui kemampuan Keito, aku melihat bahwa Daichan menyerang Ryuu. Awalnya aku tidak ingin menceritakan hal ini pada siapapun sebelum kecurigaan kami benar. Tapi, kalau Keito hilang seperti ini, aku mulai curiga lagi pada Daichan”, kata Inoo.

“Tenang saja. selama berada di rumah itu, Daichan tidak akan bisa berbuat apa-apa. Kau tidak usah khawatir”.

“Kenapa kau bisa bilang begitu?”

“Kau lupa? Disamping Daichan saat ini ada Yuya. Dia tidak akan mungkin bisa menggunakan kemampuannya bila Yuya ada di sampingnya. Aku tidak tahu apakah Yuya mengetahui soal Daichan atau tidak, yang jelas saat ini dia akan terus berada di samping Daichan. Yang lebih penting, kita harus mencari Keito terlebih dahulu. Dari tadi aku berusaha menghubunginya tapi tidak tersambung. Sebenarnya dia ada dimana?”, kata Yabu.

Mereka terus mencari Keito dalam keadaan pencahayaan yang kurang. Wilayah sekitar rumah Hikaru memang tidak terlalu banyak rumah, sehingga pencahayaan tidak terlalu banyak di daerah situ.

“Susah sekali mencarinya dalam keadaan gelap seperti ini. Seandainya saja tadi waktu keluar aku membawa.....”, BRUKK!!! Tiba-tiba Yabu terjatuh, tampaknya dia tersandung sesuatu.

“Kau tidak apa-apa?”, tanya Inoo.

“Aku baik-baik saja, ini bukan pertama kalinya aku jatuh setelah tersandung sesuatu”, jawab Yabu sambil memegangi wajahnya yang sakit. Dia teringat kembali saat dia jatuh akibat tersandung kepala Nozomu. ‘jangan-jangan di dekat kakiku ada kepala lagi?’, pikir Yabu.

“Kyyaaa!!! Yabu!”, teriak Inoo saat melihat penyebab tersandungnya Yabu. Yabu bisa melihat ada sepasang kaki yang menjulur ke jalanan dari sebuah lorong kecil di sebelah mereka. ‘Syukurlah, bukan kepala’, pikir Yabu lagi. Yabu melihat sang pemilik kaki, alangkah terkejutnya mereka begitu tahu kaki itu milik Keito.

“Keito! Kenapa kau bisa ada disini?”, tanya Inoo sambil mendekat ke arah Keito. Inoo menggoyangkan tubuh Keito dan tangannya seperti menyentuh sesuatu. Inoo melihat ke arah tangannya dan dia melihat tangannya itu penuh dengan darah.

“Inoo, apa yang ada di tanganmu itu? Kau berdarah?”, tanya Yabu.

“Bukan. Ini bukan darahku. Ini darah Keito. Yabu, coba lihat”, Inoo menunjukkan genangan darah di sekitar tubuh Keito. Jumlah darah yang keluar cukup banyak. Inoo memeriksa tubuh Keito, akhirnya dia menemukan sumber luka di tubuh Keito. Luka di perutnya akibat tusukan sesuatu yang tajam terbuka lebar dan sama sekali tidak menutup. Darah terus menerus keluar dari luka itu.

“Kita harus segera membawanya kembali. Kalau terus disini, dia bisa kehabisan darah”, kata Yabu sambil berusaha mengangkat tubuh Keito. Tiba-tiba tangan Yabu dipegang oleh Keito. Tampaknya kesadarannya mulai kembali.

“Keito!”, seru Yabu saat melihat matanya yang mulai terbuka.

“Da....chan.....luk.....lapan”, kata Keito terbata-bata. Suaranya tidak terlalu terdengar jelas.

“Sepertinya dia mengucapkan sesuatu”, kata Inoo sambil mendekatkan telinganya ke mulut Keito untuk mendengar lebih jelas apa yang dikatakan oleh Keito.

“Itu bukan Daichan. Itu adalah makhluk kegelapan”, ucap Keito lirih. Setelah mengatakan hal itu, kesadaran Keito kembali hilang. Inoo dan Yabu saling berpandangan dengan terkejut saat mendengar apa yang diucapkan oleh Keito.

“Daichan yang bersama kita itu, bukan Daichan yang sesungguhnya?”, kata Yabu tidak percaya.

“Itu adalah makhluk kegelapan?”, tanya Inoo juga.

Mereka berdua terdiam sejenak setelah mendengarkan perkataan Keito barusan. Mereka berusaha mencerna perkataan Keito. Tiba-tiba mereka berdua tersadar dengan hal yang harus mereka lakukan.

“Yang penting, ayo kita bawa Keito kembali terlebih dahulu. Kita harus menghentikan darahnya yang terus menerus keluar itu”, ucap Yabu sambil mulai mengangkat tubuh Keito dan memapahnya. Inoo juga membantu Yabu memapah Keito.

Di rumah Hikaru

“Inoo dan Yabu belum kembali juga ya?”, kataku sambil melihat ke luar.

“Keito juga, kenapa tidak diangkat sih?”, gerutu Yuto kesal sambil mengutak-atik Hpnya. Sedari tadi dia berusaha menelepon Keito, tapi sama sekali tidak diangkat.

“Arara, mereka belum kembali juga?”, tanya Chinen yang baru saja berkumpul bersama kami.

“Belum. Yang lain kemana?”, tanyaku.

“Daichan dan Yuya sedang ada di kamar. Yuya memaksa Daichan untuk beristirahat lagi. Hika sedang mengantar ibunya pergi”, jawab Chinen.

“Pergi?”, tanya Yuto.

“Iya, ibuku kuminta untuk tinggal di rumah bibiku untuk sementara waktu. Meskipun rumah ini dilapisi oleh pelindung buatan master, tapi tidak ada jaminan tempat ini akan selalu aman. Jadi aku memintanya pergi untuk sementara waktu selama kalian semua berkumpul disini”, ucap Hika yang baru berkumpul bersama kami.

“Ah, maafkan kami Hika. Gara-gara kami, ibumu sampai harus pergi”, kataku.

“Tidak apa. Ibuku sudah terbiasa dengan situasi ini kok”, kata Hika lagi. “Ah, mereka sudah tiba”, kata Hika sambil menuju ke pintu depan.
Tidaklama aku bisa mendengar bunyi pintu yang dibuka. ‘kemampuan Hika memang mengagumkan’, gumamku. Itu pasti rombongan Inoo dkk, aku bisa mendengar suara Inoo.

“Yamada! Cepat kemari!”, seru Hika. Aku langsung berlari menghampiri mereka. Begitu sampai di pintu, aku melihat Inoo dan Yabu memapah Keito yang berlumuran darah.

“Apa yang terjadi?”, tanyaku. Aku masih bisa melihat darah menetes dari tubuh Keito.

“Kami menemukannya sudah dalam kondisi seperti ini. Yamada, aku minta tolong, segera hentikan pendarahan di tubuh Keito”, ucap Inoo.

“Serahkan padaku. Aku akan mencoba menghentikan pendarahannya”, ucapku sambil mulai menggunakan kemampuanku.

“Keito! apa yang terjadi padamu?”, seru Yuto yang baru tiba. Mukanya terlihat panik. “Inoo, Yabu, apa yang terjadi?”, tanya Yuto.

“Kami berdua juga tidak tahu. Kami menemukannya terbaring bersimbah darah di sebuah lorong kecil yang cukup jauh dari sini”, jawab Yabu.

“Apakah dia diserang oleh musuh?”, tanya Hika. Yabu dan Inoo saling berpandangan. Mereka memikirkan perkataan Keito sebelumnya dan bingung bagaimana memberitahukan ke ksatria yang lain.

“Apa yang terjadi? Kenapa ribut sekali”, ucap Yuya yang ikut berkumpul bersama kami. Daiki mengikuti di belakangnya.

“Keito? kenapa bisa terluka seperti ini? Apa yang sudah terjadi?”, tanya Daiki. Inoo menatap Daiki dengan tatapan tajam seakan berusaha untuk menyerangnya. Yabu melihat ke arah Inoo dan memberi isyarat agar tidak melakukan apapun terlebih dahulu.

Aku memusatkan kemampuanku pada luka yang ada di perut Keito. Perlahan aku bisa melihat luka itu mulai menutup, dan akhirnya luka itu menutup dengan sempurna. Tidak ada darah yang menetes keluar.

“Aku sudah menutup lukanya, dengan ini dia tidak akan kehilangan darah lebih banyak lagi. Tapi, karena dia sudah kehilangan banyak darah, kurasa dia perlu donor darah”, kataku.

“Sayang sekali Yamada, itu tidak mungkin. Darah ksatria tidak tergantikan. Dalam darah ksatria tidak hanya mengandung sel darah saja, tapi kemampuan mereka juga ada. Kalau sembarangan menerima donor dari darah lain yang bukan ksatria, maka akan terjadi reaksi penolakan yang cukup hebat. Meskipun golongan darahnya sama, dan sama-sama darah ksatria, tetap tidak bisa”, ucap Inoo.

“Kalau begitu bagaimana caranya mengembalikan stok darah dalam tubuh Keito?”, tanyaku.

“Kami biasanya meminum obat penambah darah yang diberikan oleh master. Obat ini akan membantu mempercepat pembentukan sel darah”, ucap Inoo lagi.

“Ah, sepertinya aku punya obat itu. Tunggu aku carikan dulu”, kata Hika sambil berlalu masuk ke dalam rumah.

“Lebih baik kita bawa Keito ke kamarnya. Tidak mungkin kan kita membaringkannya didepan pintu terus menerus”, kata Chinen. Kami semua mengangguk setuju. Yuto menawarkan diri untuk menggendong Keito dan membawanya ke kamar. Aku membantu Yuto membaringkan Keito di tempat tidurnya.

“Maaf, hanya ini yang kupunya”, kata Hika sambil membawa beberapa obat. Jumlahnya tidak sampai 10 tablet.

“Ini belum cukup Hika”, kata Yuto.

“Untuk saat ini, kita berikan obat itu saja dulu. Sebentar lagi master dan Jin akan tiba disini, aku akan menghubungi mereka dan memintanya untuk membawa obat itu”, kata Yabu sambil keluar kamar. Inoo mengikutinya dari belakang.

“Aku keluar dulu ya... lebih baik membiarkan Keito istirahat. Ayo, yang lain juga segera kembali”, kata Hika sambil meminta ksatria yang lain untuk keluar darikamar.

Di halaman rumah

“Yabu, apa yang harus kita lakukan? Kalau apa yang dikatakan Keito itu benar, apa yang harus kita lakukan?”, tanya Inoo.

“Sebelumnya kita harus mengkonfirmasi perkataan Keito dulu, benarkah Daichan yang itu adalah makhluk kegelapan? Dia sangat mirip dengan Daichan yang asli. Tidak ada satupun yang berbeda”, kata Yabu.

“Kurasa tidak, bunyi jantung mereka berbeda”, kata Hika yang tiba-tiba ikut berkumpul bersama mereka berdua.

“Hika...kau mendengarkan kami?”, tanya Inoo.

“Tunggu dulu, apa maksudmu bunyi jantungnya berbeda?”, tanya Yabu.

“Berkat kemampuanku ini aku bisa mendengar berbagai jenis suara, suara sekecilpun akan terdengar olehku. Ketika Daichan pertama kali datang kemari aku merasa aneh, bunyi detak jantungnya berbeda dari biasanya. Kupikir awalnya itu hanya persaanku saja. Tapi, begitu aku mendengar percakapan Inoo dan Keito, kecurigaanku mulai terbukti”, kata Hika.

“Kau mendengarkan percakapanku dengan Keito?”, tanya Inoo.

“Inoochan, kau lupa ya? Tidak ada satupun rahasia yang tidak kuketahui”, Hika mengucapkan itu sambil tersenyum bangga.

“Jadi, kau juga mengetahui soal Daichan sejak awal”, ucap Yabu.

“Ya, aku sudah curiga sejak awal. Yang membuatku bimbang adalah, kalau benar Daichan yang ada disini adalah makhluk kegelapan, bagaimana caranya dia bisa menembus pelindung?”, kata Hika lagi.

“Benar juga, pelindung buatan master berbeda dengan pelindung buatan kita. Pelindung yang dibuat oleh ksatria bertujuan untuk bertarung dengan makhluk kegelapan dan melindungi manusia. Sehingga yang bisa ada di dalam pelindung hanya musuh dan ksatria saja. Sedangkan pelindung yang dibuat oleh master berfungsi untuk menghalau makhluk kegelapan sehingga tidak ada satupun makhluk kegelapan yang bisa menembusnya”, kata Inoo.

“Kita harus membuat tindakan. Kalau terus dibiarkan, ksatria yang lain bisa dalam bahaya”, ucap Yabu.

Mereka bertiga berpikir keras, seperti memikirkan sesuatu. “Aku punya ide, dengarkan baik-baik”, kata Inoo. Dia kemudian membisikkan idenya itu pada dua temannya.

“Jangan bodoh Inoo. Itu terlalu berbahaya. Tidak. Aku tidak setuju dengan rencanamu itu”, kata Yabu.

“Tapi..... “, ucap Inoo.

“Kurasa ide yang dimiliki Inoo adalah ide bagus. Semakin cepat kita melakukannya, semakin baik”, kata Hika.

“Baiklah. Aku sependapat dengan kalian. Tapi, kau harus berhati-hati Inoo”, ucap Yabu.

“Tenang saja. Rencana ini akan berhasil”, kata Inoo. Hika terlihat mengetikkan sesuatu di hpnya.

“Kau sedang apa Hika?”, tanya Yabu yang melihat Hika sibuk mengetikkan sms.

“Aku memberitahunya mengenai rencana ini. Semakin banyak orang yang terlibat, maka kesuksesan akan semakin besar”, ucap Hika.

“Siapa yang kau maksud?”, tanya Yabu. Hika hanya tersenyum dan menunjukkan nama penerima pesan yang muncul di Hpnya. Seketika Inoo dan Yabu memandang nama itu tidak percaya.

“Tunggu dulu. Orang itu juga tahu semuanya?”, tanya Inoo tidak percaya.

“Ya,instingnya jauh lebih tajam dari kita semua lo”, kata Hika lagi.

“Setidaknya kalau dia memang mengetahui semuanya, maka kita bisa lebih tenang”, kata Yabu.

Tiga hari telah berlalu. Keito masih saja belum sadarkan diri. Persediaan obat penambah darah pun sudah mulai menipis. Beberapa kali kami berusaha menghubungi master, tapi tidak ada jawaban. Yabu bilang mungkin mereka saat ini berada diluar area sehingga sinyal telepon tidak sampai ke mereka. Aku tidak mau nasib Keito berakhir seperti Ryuu.

“Kalian semua, bersemangatlah. Keito pasti akan baik-baik saja. Berkat obat penambah darah yang ada, persediaan darah Keito mulai meningkat kan? Aku yakin, tidak lama lagi master akan tiba disini”, kata Yabu berusaha meningkatkan semangat teman-temannya.

“Benar kata Yabu. Kita harus tetap semangat”, ucap Inoo menambahkan. “oke deh, untuk makan siang hari ini aku saja yang masak. Aku akan pergi belanja membeli bahan-bahannya”.

“Aku akan pergi denganmu”, kata Yabu.

“Aku pergi dengan Daichan saja. Dia juga pernah tinggal di daerah ini kan? Jadi dia pasti hafal daerah sini”, ucap Inoo sambil melihat ke arah Daiki yang sedang duduk di sebelah Yuya.

“Tidak boleh. Kondisi tubuhnya masih terlalu lemah”, ucap Yuya.

“Aku tidak apa Yuya. Kondisi tubuhku sudah mulai membaik kok. Aku bisa pergi keluar kok”, kata Daiki.

“Tapi.....”, kata Yuya. mukanya tampak cemas seperti tidak ingin membiarkan Daiki pergi sendirian.

“Tenang saja Yuya, Daichan tidak sendirian kok. Aku juga bersamanya. Aku janji akan menjaganya”, kata Inoo.

“Baiklah kalau begitu. Jangan lama-lama. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku”, ucapYuya lagi.

“Aku mengerti”, ucap Daiki sambil tersenyum. Inoo dan Daiki pun pergi keluar bersama-sama.

Daiki menunjukkan arah jalan menuju pasar pada Inoo. Inoo berjalan terlebih dahulu didepan. Daiki berjalan di belakang. Di tangan Daiki ada sebilah pisau yang cukup tajam. Daiki bersiap menyerang Inoo dengan pisau itu sebelum Inoo menyadarinya. Daiki pun mengarahkan pisau itu ke arah Inoo dan mulai berlari ke arahnya.

Tsuzuku~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar