Sabtu, 20 Juni 2015

AKUMA NO YOROI

Part 19
Suasana di kediaman Okamoto terlihat sepi. Yama sedang sibuk membersihkan rumah. Meskipun dengan sosoknya yang seekor anjing, Yama tetap berusaha membersihkan rumah agar rumah tetap terlihat bersih. Sebenarnya, Yama ingin pergi berbelanja bahan makanan untuk makan malam nanti seperti yang biasa dia lakukan. Akan tetapi, dengan kondisinya saat ini hal itu tidak mungkin. Tidak ada cerita seekor anjing bisa berbicara dengan manusia dan pergi berbelanja.
Ada satu hal lagi yang membuat Yama tidak ingin meninggalkan rumah sekejap-pun. Ya, tentu saja ini akibat 3 demon yang datang tiba-tiba di kediaman mereka. Yama sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi dan apa tujuan para demon itu datang kemari.
Ada suatu hal yang selalu mengganggu pikiran Yama. Kenapa para demon itu mengikat kontrak dengan Keito? Apa untungnya buat mereka? Memang, mereka bisa membuat keuntungan dengan meminta imbalan pada manusia yang telah mengikat kontrak dengan mereka. Tapi, apa hanya dengan itu mereka sudah puas? Yama pun tahu kalau para demon dilarang dekat dengan manusia, tapi kenapa 3 demon ini malah mengikat kontrak dengan Keito? Ada sesuatu yang belum terungkap disini dan Yama berusaha mengungkap kebenarannya.
Yama mengintip ke arah ruang tamu dimana 3 demon itu berada. Mereka bertiga tidak melakukan apa-apa. Sungguh pemandangan yang tidak terduga. Yama menduga kalau demon itu selalu bertindak liar. Tapi, melihat 3 demon itu sekarang, mereka terlihat seperti manusia. Hika sedang berbaring santai, Yabu menyandarkan diri ke dinding sambil membuka sebuah buku, entah dia membaca buku itu atau tidak.
Yama lebih tertarik dengan apa yang dilakukan Inoo. Bukan karena Inoo melakukan tindakan yang aneh, tapi karena Inoo sedang mengamati foto salah satu leluhur keluarga Okamoto. Yama berusaha mendekat untuk melihat siapa yang sedang dilihat Inoo lebih dekat.
“Kaoru-san?”, gumam Yama heran. ‘Kenapa demon itu melihat foto Kaoru-san seperti itu? apa mereka pernah bertemu sebelumnya? Aku tidak pernah ingat melihat Kaoru-san bertemu dengan demon itu maupun berbicara dengannya’, batin Yama.
Yama lebih heran lagi saat melihat ekspresi wajah Inoo. Itu bukanlah wajah demon. Itu adalah wajah manusia. Wajah yang mengekspresikan perasaan rindu dan sayang. Yama sama sekali tidak menyangka kalau demon bisa berekspresi seperti itu. Yama benar-benar penasaran, apa hubungan Inoo dengan Kaoru-san.
“Ternyata kau punya hobi yang jelek ya, anjing kecil”
Yama langsung terperanjat kaget saat mendapati Hika sudah berdiri di belakangnya. Akibat teriakan kecil Yama, Yabu dan Inoo juga menyadari kehadiran Yama. Hika tersenyum geli melihat Yama yang tampak panik karena aksi ‘mengintip’nya ketahuan oleh Hika.
“Bagaimana bisa? Sejak kapan?”, tanya Yama.
“Hmm... sejak kau mengamati kami dari sana”, Hika menunjuk ke arah ruang dimana Yama pertama kali berada. “Aku selalu menyadari kalau kau sedang mengawasi kami. Tapi lama kelamaan kau mendekat dan mengintip kami dari dekat”
“Apa yang kau inginkan anjing cilik?”
Yama kembali terkejut saat melihat Inoo sudah berdiri tepat di hadapannya. ‘Apakah para demon memang suka muncul tiba-tiba’, batin Yama kesal. Yama juga msih ingat ketika Inoo dan Yabu muncul di kamar Keito secara tiba-tiba. Begitu pula saat tadi pagi Inoo membangunkan Keito.
“Hei, aku tanya apa yang kau inginkan”. Inoo mengangkat tubuh Yama dengan salah satu tangannya. Yama langsung mengarahkan cakarnya ke wajah Inoo, tapi belum sampai cakar Yama mengenai wajahnya, Inoo sudah melempar Yama terlebih dahulu. “Bocah tengik!”, kesal Inoo.
“Justru aku yang ingin bertanya pada kalian. Apa yang kalian rencanakan?”, Yama bersuara agak keras setengah membentak. “Apa mau kalian? Kenapa kalian muncul satu persatu di hadapan Keito? Kalian juga memintanya mengikat kontrak dengan kalian. Bukankah demon dilarang berhubungan dengan manusia? Kenapa kalian malah mendekat ke Keito dan mengikat kontrak dengannya?”
Yama mengatur nafasnya kembali setelah semua pertanyaan yang ada di kepalanya sudah dia keluarkan. Yabu hanya melihat sekilas ke arah Yama dan kembali melanjutkan kegiatan membacanya. Kelihatan sekali kalau Yabu tidak berniat ikut repot. Hika melirik ke arah Inoo sekilas, sedangkan Inoo hanya tersenyum mendengar semua pertanyaan Yama.
“Apa imbalannya?”, Inoo memperlihatkan senyum manisnya kepada Yama. Tapi Yama malah merasa jengkel melihatnya.
“Apa maksudmu?”, tanya Yama.
“Kau ingin aku menjawab pertanyaanmu kan? Jadi kau harus memberi imbalan kepadaku dulu, baru aku akan menjawab pertanyaanmu. Give and Take”
“Untuk apa aku memberi imbalan kepadamu?”
“Kalau begitu, aku tidak ingin menjawab pertanyaanmu. Aku tidak ingin memberikan sesuatu dengan gratis”
Yama hanya berdecak kesal. Sedangkan Inoo tersenyum puas karena berhasil membuat Yama bungkam. Inoo segera berbalik untuk menjauh dari Yama.
“Kaoru-san”
Langkah Inoo terhenti saat dia mendengar sebuah nama yang digumamkan oleh Yama. Yabu bahkan menghentikan gerakan tangannya saat dia akan membalik sebuah halaman. Hanya Hika yang bertanya-tanya tidak mengerti.
“Apa hubunganmu dengan Kaoru-san?”, tanya Yama lagi.
“Apa maksudmu?”, Inoo kembali melihat Yama dengan senyum di wajahnya. “Aku tidak kenal dengan orang yang kau sebut ‘Kaoru-san’”
“Jangan bohong. Aku melihatmu sedang mengamati foto Kaoru-san!”, Yama menunjuk ke arah foto Kaoru yang terpajang. “Kenapa demon sepertimu bisa mengenal Kaoru-san? Apa semua kejadian ini ada hubungannya dengan beliau?”
---***---
“Keito, ayo kita pergi ke kantin. Aku sudah lapar...”
“Tunggu sebentar Juri”, Keito tampak sibuk membereskan mejanya. “Nah, ayo pergi”
Juri memandang Keito dengan heran. “Kau tidak membawa bekal? Tumben”
“Ah iya. Sekali-kali aku juga ingin makan di kantin”
Keito berbohong. Alasan sebenarnya karena Yama tidak bisa membuatkan bekal untuknya. Dengan kondisinya yang masih berbentuk anjing, tidak mungkin dia bisa memasak. Untuk sarapan pagi ini saja, Chii-lah yang membantu Yama. Tapi, karena Chii tidak sepandai Yama, maka yang bisa dibuat Chii hanya yang ringan-ringan saja. Sampai Yama kembali seperti semula, Keito harus bersabar tidak membawa bekal.
Suasana kantin tampak ramai seperti biasanya. Jam makan siang memang adalah saat yang paling ditunggu oleh para murid. Semua berebutan agar bisa mendapatkan makanan terlebih dahulu karena perut mereka sudah berteriak minta diisi.
Keito bersusah payah untuk memesan makanan. Ini pertama kalinya semenjak bersekolah disini Keito memakan makanan di kantin. Biasanya Keito selalu membawa bekal buatan Yama. 10 menit kemudian Keito berhasil mendapatkan satu paket ramen lengkap beserta dengan tempura dan katsudon.
Setelah selesai mendapatkan makanan, Keito dan Juri segera mencari tempat duduk. Hampir semua bangku disana telah kosong. Semua? Tidak. Ada satu bangku disana yang tetap kosong. Semua orang takut untuk duduk disana setelah melihat siapa yang sedang duduk disana.
Keito berpura-pura tidak melihat ke arah bangku yang kosong itu. Keito mempercepat langkah kakinya untuk menjauhi bangku itu, tapi sayangnya, sosoknya telah tertangkap basah.
“Bento-kun! Disini! Disini!”
Keito langsung menghela nafas panjang. Suara Arioka-senpai terdengar jelas di telinganya. Dia berniat untuk mengindahkan panggilan tersebut, tapi dia tidak berani. Dengan pasrah, Keito mendekat ke arah Daiki. Juri pun mengikuti Keito dari belakang.
“EH??? Kau tidak membawa bekal, bento-kun???”
Daiki melihat nampan makanan yang dibawa oleh Keito. Raut wajah kecewa terlihat jelas di mukanya. Entah kenapa, Keito merasa bersalah pada senpainya itu.
Tiba-tiba Keito merasa sakunya bergetar. Chii mengeluarkan auranya. Tampaknya dia cukup geram saat melihat demon yang memangsa kekuatannya ada di hadapannya.
“Chii, tenanglah. Tidak ada gunanya kau menyerangnya disini. Bersabarlah”, bisik Keito.
Chii segera menuruti perintah tuannya. Tampaknya Chii bisa menenangkan dirinya kembali. Tapi, Keito tahu dari sorot mata Chii kalau dia merasa kebencian dan kemarahan.
“Ukh... Aneh, padahal aku merasa tadi kalau kau membawa daging. Aku bisa mencium bau daging dari dirimu”, Daiki menunjukkan ekspresi kecewa, mukanya terlihat seperti anak kecil.
Keito langsung terkejut saat tiba-tiba Daiki menarik kerah Keito. Chii sudah bersiap untuk menyerang Daiki. Keito bisa melihat sekilas warna merah di mata Daiki. Keito mengira kalau Daiki akan menyerang Keito disana. Tapi ternyata Daiki tidak menyerang Keito, Daiki mencoba mengendus Keito.
Yuya yang sedari tadi berada di sebelah Daiki langsung menarik Daiki agar kembali ke bangkunya. Tindakan Daiki barusan menarik perhatian orang-orang yang ada di sekitar mereka.
“Apa yang kau lakukan?”. Yuya menjitak pelan kepala Daiki.
Daiki mencibir, “Habisnya... aku mencium bau daging dari tubuhnya. Jadi aku ingin memastikan saja. Yuyan... aku mau daging...”, rengek Daiki.
“Habiskan dulu semua makananmu. Nanti akan kukasih”
“Benarkah? Hore!!!”, Daiki berteriak kegirangan. Dengan segera, Daiki langsung melahap semua makanan yang ada di meja.
Keito hanya melihat senpainya itu dengan tercengang. Dia mulai ragu, apakah benar Arioka senpai yang dilihatnya ini adalah demon? Tingkahnya bahkan mirip seperti anak kecil.
Perhatian Keito kini teralihkan pada segerombolan murid yang duduk tidak jauh dari mereka. Murid-murid itu tampak sibuk mendiskusikan sesuatu. Beberapa di antara mereka ada yang terlihat depresi.
“Ada apa sih?”, tanya Keito heran.
“Ah itu... mereka itu adalah penggemar Inoo. Inoo hari ini tidak masuk sekolah tanpa keterangan. Jadi semua penggemarnya panik”, sahut Daiki sambil sibuk menyendok makanan.
DEG! Keito terdiam saat mendengar nama Inoo disebut.
“Eh? Hime-sama tidak masuk? Bukankah itu tidak aneh? Hampir semua siswa setidaknya pernah tidak masuk satu kali kan?”, sahut Juri yang tampaknya sudah tidak terlihat takut lagi.
“Tapi si Inoo itu memang tidak pernah absen masuk sekolah. Ini pertama kalinya. Apalagi si Yabu, teman dekat Inoo juga tidak masuk sekolah. Aku juga tidak tahu ini ada hubungannya atau tidak. Tapi, Hikaru yang merupakan teman baik mereka juga tidak masuk hari ini”, sahut Daiki lagi.
“Eh... aneh. Keito, kau tahu sesuatu?”, tanya Juri.
DEG! Dada Keito berdetak semakin kencang.
“Eh? Kenapa kau tanya aku?”, Keito berusaha menutupi kegugupannya.
“Bukankah akhir-akhir ini kau dekat dengan Hime-sama? Kupikir kau tahu sesuatu yang tidak diketahui oleh yang lain”, selidik Juri.
“Mana aku tahu. Memangnya aku sedekat apa?”
“Benarkah kau tidak tahu apa-apa?”, selidik Juri sekali lagi. Tampaknya dia berusaha mencari tahu informasi mengenai Inoo pada dia.
“Aku benar-benar tidak tahu Juri... kau ini kenapa sih?”, ucap Keito setengah kesal.
“Ya sudah kalau begitu”
Keito melihat ke arah Juri. Juri terlihat sangat kesal. Keito tidak mengerti apa yang membuat Juri kesal. Keito juga sedikit terkejut saat tiba-tiba Yuya memegang kepala Keito.
“A-a-ada apa?”, tanya Keito gugup.
Keito langsung ketakutan saat ingat bahwa Takaki-senpai yang ada di hadapannya ini juga demon. Takaki sama sekali tidak mengindahkan Keito. Dia malah menyibakkan poni Keito sehingga dahi Keito kini terlihat jelas. Setelah melihat dahi Keito cukup lama, Yuya menjauhkan tangannya dari kepala Keito dan segera beranjak pergi. Daiki juga beranjak pergi mengikuti Yuya dari belakang. Keito melihat kepergian keduanya sambil memegang dahinya yang baru saja diperhatikan oleh Takaki.
“Kenapa dia memperhatikan dahiku?”, gumam Keito.
“Entahlah. Mungkin dia jatuh cinta pada dahimu?”, celetuk Yugo yang tiba-tiba muncul di samping Keito.
“Yugo! Sejak kapan kau memperhatikanku?”
“Sejak tadi. Tadi aku berniat makan bersama kalian, tapi aku mengurungkan niatku saat melihat kalian duduk semeja dengan pasangan kelas 3 yang menyeramkan itu”, Yugo kemudian melihat ke arah Juri yang masih cemberut. “Dia kenapa?”, bisik Yugo.
“Entahlah”, jawab Keito sambil mengangkat bahu. “Ah, lebih baik kita segera kembali, sebentar lagi waktunya masuk”
Keito segera membereskan nampan makanannya. Karena tergesa-gesa, Keito tidak sadar ada seseorang yang lewat di belakangnya. Tabrakan tidak terelakkan.
“Kau tidak apa-apa?”
Keito melihat sosok pemuda yang ditabraknya. Seorang pemuda berwajah blasteran.
“Maaf. Aku tidak melihatmu”
“Tidak apa-apa, aku juga salah karena lewat tiba-tiba”, ucap pemuda itu lagi. “Namaku Jesse” Pemuda itu mengulurkan tangannya.
“Aku Keito”. Keito membalas uluran tangan itu. Tiba-tiba Keito merasa ada yang aneh. Pandangan matanya kabur. Kepalanya terasa berat.
“Nah, Keito. Aku akan mengintip ingatanmu sebentar”, bisik Jesse. “Aku butuh informasi mengenai keberadaan Inoo, Yabu dan Hika. Aku tahu kau mengetahui sesuatu tentang mereka”

Tsuzuku ~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar