Part 15
Yama syok mendengar kata-kata Chii. Apa maksudnya dengan ‘bukan dewa pelindung lagi’?
Chii yang sadar dengan keterkejutan Yama langsung buru-buru membenarkan kata-katanya. “Ah, maksudku, saat ini kau bukan dewa pelindung Kenichi-sama lagi”
“Heh? Apa maksudmu? Aku malah tidak mengerti”
“Yama, sebelum ini kita berdua adalah dewa pelindung Kenichi-sama kan?”. Yama mengangguk. “Setelah Kenichi-sama pergi, kita berdua diminta untuk melindungi Keito-sama kan? Waktu itu, sesaat sebelum Kenichi-sama pergi, Kenichi-sama memutuskan kontrak denganmu. Lalu, dengan kekuatannya, dia membuat agar kau mengikat kontrak dengan Keito-sama. Tanpa sepengetahuanmu, kau telah menjadi dewa pelindung Keito-sama. Sedangkan aku masih tetap dewa pelindung Kenichi-sama”
“Apa hubungannya hukuman itu dengan hal ini?”, tanya Yama.
“Kau masih ingat perintah terakhir yang diucapkan Kenichi-sama?”
“Melindungi Keito dari demon dan berusaha agar menjauhkan demon dari Keito sampai kutukan itu lenyap”, jawab Yama mantap. Ingatannya masih sangat jelas mengenai perintah itu.
“Ya. Itulah perintah dari Kenichi-sama. Karena aku telah membiarkan Keito-sama mengikat kontrak dengan demon, itu berarti aku telah melanggar perintah yang diberikan oleh Kenichi-sama. Sedangkan kau, Keito-sama tidak memerintahkanmu untuk menghalanginya berdekatan dengan demon kan? Jadi kau sama sekali tidak melanggar perintah apapun”
Keterkejutan Yama membuatnya mulutnya menganga tanpa sadar. “Tunggu dulu. Kalau aku menjadi dewa pelindung Keito. Kenapa kau tidak? Kenapa kau tetap menjadi dewa pelindung Kenichi-sama?”
Chii menghela nafas panjang. “Itu karena kau dan aku berbeda. Aku tidak bisa mengikat kontrak dengan orang yang memiliki kekuatan spiritual yang lebih rendah dari majikanku sebelumnya. Karena kekuatan Keito-sama lebih rendah dari Kenichi-sama, aku tidak bisa mengikat kontrak dengannya”
Yama terdiam. Dia tidak bisa mengatakan apapun. Dia tahu kalau dia dan Chii memang tipe dewa pelindung yang berbeda. Chii sudah lama menjadi dewa pelindung, jauh sebelum Yama. Sejauh yang Yama tahu, Chii tidak pernah mengikat kontrak dengan anggota keluarga Okamoto selain kepala keluarga yang memiliki kekuatan spiritual yang paling besar.
Rasa kesal mulai timbul dari dalam diri Yama. Rasa kesal terhadap ayah dari anak laki-laki yang sedang tertidur pulas ini. Sang kepala keluarga Okamoto. Kenapa Kenichi-sama seenaknya saja memutuskan kontrak dengannya? Kenapa Kenichi-sama tidak memberitahunya terlebih dahulu? Apa susahnya memberitahunya tentang hal ini?
Yama memandang lekat-lekat Keito yang masih tertidur. Dia sama sekali tidak mengetahui kalau dia adalah dewa pelindung Keito. Apa maksudnya Kenichi-sama melakukan hal ini?
"Dimana ini?”, ucap Keito saat membuka kedua matanya.
---***---
Keheningan memenuhi ruangan yang tampak sedikit terang itu. 10 pasang mata merah yang duduk di meja menutup mulut mereka rapat-rapat. Tidak ada satupun yang berani mengeluarkan suara. Mereka menunggu kata-kata yang keluar dari sosok besar bermata merah seperti darah yang duduk di bangku paling pojok.
Keheningan memenuhi ruangan yang tampak sedikit terang itu. 10 pasang mata merah yang duduk di meja menutup mulut mereka rapat-rapat. Tidak ada satupun yang berani mengeluarkan suara. Mereka menunggu kata-kata yang keluar dari sosok besar bermata merah seperti darah yang duduk di bangku paling pojok.
“Bunuh Inoo dan Yabu”
Suara itu terdengar menggelegar di seluruh ruangan. kemarahan dan kebencian sangat terasa dari nada bicara sosok itu.
“Tapi Yang Mulia. Yabu-san adalah salah satu tetua demon. Kita tidak bisa membunuhnya begitu saja. Itu adalah aturan yang ada”, bantah demon yang memiliki paras paling cantik dari semua demon yang ada disana. “Yabu-san adalah demon kedua setelah Yang Mulia. Dia adalah calon Raja Iblis berikutnya”
Sang raja melotot ke arah Taiga. Dia kemudian melihat ke arah Yuya yang sedang duduk bersandar di kursinya dengan malas. “Kalau begitu. Yuya, bunuh Yabu dan jadilah tetua demon selanjutnya”
“Eh?! Aku?!”, Yuya langsung bangkit berdiri dari bangkunya karena terkejut.
“Kau ingin membantah?”, sang Raja melotot ke arah Yuya. “Levelmu jauh lebih tinggi dari dia, kau bisa membunuhnya dengan mudah. Apalagi bila kau membunuhnya, posisi tetua demon akan menjadi milikmu yang berarti kau akan menjadi Raja Iblis berikutnya. Apa kau tidak suka?”.
Yuya hanya terdiam di bangkunya. Dia sama sekali tidak menyangka akan diberi posisi seperti ini. membunuh Yabu memang perkara mudah baginya, tapi dia sama sekali tidak berniat menjadi tetua demon. Sangat merepotkan menurutnya.
“Rasakan...”, bisik Daiki. Yuya melihat ke arah Daiki dengan pandangan kesal.
“Lalu...”, Sang Raja kembali bersuara. “Kurung Hikaru dalam penjara bawah tanah. Beri dia siksaan yang setimpal. Hokuto, aku ingin kau menjaganya. Kali ini, aku memberikanmu kesempatan lagi. jangan sampai Hikaru lolos. Kalau kau gagal untuk yang kedua kalinya, kau mengerti apa yang akan terjadi kan?”
Hokuto mengangguk. Ketakutan mulai menyerang dirinya. Hokuto tahu apa yang akan diterimanya bila dia gagal melaksanakan perintah ini. Tugasnya menangkap Yabu dan Inoo telah gagal, mereka berdua berhasil lolos. Seandainya Hikaru berhasil lolos juga, kali ini, Hokuto yakin kalau dia tidak akan hidup lagi untuk yang kedua kalinya.
“Bagaimana dengan bocah terkutuk itu Yang Mulia?”, tanya Yuto.
“Untuk sementara ini biarkan saja, masih ada beberapa bulan lagi untuknya. Sementara itu, Yugo dan Juri, awasi dia”
“Baik, Yang Mulia”, ucap Yugo dan Juri kompak.
---***---
“Inoo, tempat ini...”
“Inoo, tempat ini...”
Yabu mengamati sekelilingnya. Pohon-pohon yang menjulang tinggi, kabut yang tebal, serta bau darah dan bau tidak enak lainnya memenuhi tempat itu. Beberapa demon berukuran kecil tampak berkeliaran di tempat itu. Ya, inilah tempat kedua yang dihindari oleh makhluk gaib lainnya. Hutan Neraka. Disini adalah tempat tinggal bagi demon-demon kecil.
“Kenapa kita kemari? Bukankah kau bilang kita menuju tempat anak terkutuk itu?”
“Sebelum itu, aku ingin menyiapkan sesuatu”, jawab Inoo.
Yabu mengikuti Inoo yang berjalan ke suatu tempat. Inoo menghentikan langkahnya di suatu kubangan kering. Inoo tersenyum lebar saat menemukan apa yang dia cari.
“Benar dugaanku. Disini ada”
Yabu melihat benda putih yang ada di tangan Inoo. “Tulang? Tulang manusia?”
“Ya. Hari ini adalah jadwal makan si Yuto. Biasanya dia membuang manusia yang dia makan disini”
“Eh, bukankah Yuto hanya memakan jiwa? Sedangkan manusia-manusia ini sudah berubah bentuk menjadi tulang”, Yabu melihat tumpukan tulang manusia yang ada di kaki Inoo. Tulang itu sangat bersih. Tidak ada satupun daging yang menempel.
“Cara makan ini... Daiki yang memakan dagingnya”, gumam Inoo sambil mengamati tulang yang sangat bersih itu.
“Daiki? Tumben. Biasanya dia memakan bagian tubuh Yuya kan?”, sahut Yabu.
“Entahlah. Mungkin mereka sedang bertengkar? Lagipula rasa lapar Daiki itu tidak ada habisnya”, balas Inoo.
Inoo mulai memunguti tulang itu satu persatu dan memasukkannya ke dalam sesuatu yang tampak seperti tas kecil. Sedangkan yabu hanya diam saja melihat Inoo.
“Hei Inoo, rencanamu ini, apa ada kaitannya dengan cewek itu?”
Inoo hanya diam saja sambil terus memunguti tulang-tulang itu. Yabu hanya menghela nafas saja. dia tahu kalau pertanyaan ini tidak akan dijawab oleh Inoo. Tapi, melihat sikap Inoo ini, Yabu bisa menduga kalau ini semua sangat berkaitan dengan cewek itu. Satu-satunya perempuan yang begitu berpengaruh bagi Inoo.
“Untuk apa kau membawa tulang-tulang ini?”, tanya Yabu berusaha mengalihkan topik.
“Untuk oleh-oleh”, Inoo tersenyum penuh arti. “Kita harus mempersiapkan segalanya. Nah, semua sudah beres”. Inoo memasukkan satu potongan tulang terakhir dalam tasnya dan menutupnya.
“Ayo cepat pergi dari sini. Tempat ini sangat dekat dengan istana. Kalau kita ketahuan, bisa berbahaya”, ucap Yabu sambil melihat menara istana yang terlihat dari tempat mereka berada.
---***---
“Kenapa aku bisa ada di rumah? Seingatku aku masih berada di sekolah”.
“Kenapa aku bisa ada di rumah? Seingatku aku masih berada di sekolah”.
Keito berusaha bangkit dari tidurnya. Dia memegang tanda kutukan di dadanya. Sama sekali tidak terasa sakit. Padahal sebelumnya dia merasakan sakit yang teramat sangat, sampai-sampai dia tidak bisa berkonsentrasi penuh melawan makhluk gaib.
“Keito-sama! Anda tidak apa-apa? Anda tidak terluka?”, ucap Chii cemas. Wajahnya tampak sangat lucu dan menggemaskan membuat Keito tersenyum saat melihatnya.
“Tidak apa”. Keito menggerakkan tubuhnya, menunjukkan kalau dia tidak apa-apa. “Entah kenapa aku merasa baik-baik saja”
“Keito-sama, apa yang terjadi? kami menemukan Keito-sama tergeletak tidak sadarkan diri”, tanya Chii.
“Aku juga tidak terlalu ingat. Tenagaku tiba-tiba lemas, lalu aku terpisah dari Yama. Setelah itu, aku dikepung oleh beberapa makhluk gaib. Aku mencoba melawan mereka, tapi karena keadaanku yang sangat lemah, aku tidak bisa menyerang mereka. Lalu yang kuingat aku tidak sadarkan diri”
“Lalu, apa yang terjadi dengan para makhluk gaib itu? waktu kami menemukan Keito-sama, kami sama sekali tidak bertemu dengan makhluk gaib lain”, tanya Chii.
“Ah, aku juga tidak tahu”, Keito mencoba mengingat apa yang terjadi. “Samar-samar aku merasa ada yang menolongku. Tapi, aku juga tidak yakin”
Chii terdiam menahan nafas. “Jangan-jangan...”, sebuah pikiran masuk ke dalam kepala Chii. Dia bisa mengira apa yang telah terjadi pada Keito. “Tapi, tidak... itu... itu tidak mungkin...”. Chii berusaha menghilangkan pikiran yang ada di dalamnya. Dia berpikir kalau demon yang merebut kekuatannya itulah yang menolong Keito. Tapi, Chii menolak mentah-mentah hal itu.
Yama langsung menunduk. Perasaan bersalah menghantuinya. Seandainya dia tidak meninggalkan Keito begitu saja, tentu dia bisa melindungi Keito dari makhluk gaib.
“Keito...”, panggil Yama pelan. “Maafkan aku, aku meninggalkanmu begitu saja”. Yama mengeluarkan keberaniannya. Dia tidak berani menatap Keito secara langsung.
Keito memandang Yama. Dengan lembut Keito membelai bulu Yama. “Aku tahu kok. kau sangat mencemaskan Chii sehingga meninggalkanku begitu saja. Terima kasih sudah menyelamatkan Chii, Yama”
Keito mengangkat tubuh Yama dan menggendongnya. “Aku sangat senang melihat kalian berdua baik-baik saja. Kalian satu-satunya keluarga yang kupunya”. Keito memeluk Yama. Yama bisa merasakan ada tetesa air kecil yang membasahi badannya yang kecil itu.
Yama merasa matanya mulai buram. Sebisa mungkin dia menahan air matanya agar tidak jatuh. Yama tahu penderitaan Keito. Sejak kecil berpisah dengan keluarganya. Tapi, Keito tidak pernah mengeluh ataupun menangis. Dia sama sekali berusaha agar tidak merepotkan Yama dan Chii.
“Uwah... adegan yang mengharukan”
Yama, Chii dan Keito langsung tersentak kaget. Secara otomatis Chii dan Yama menggeram pada kedua sosok yang ada di hadapan mereka.
“Hime-sama... Yabu-san... kenapa kalian ada disini?”. Keito sangat terkejut saat melihat Inoo dan Yabu berada dalam kamarnya.
“Kenapa kalian bisa masuk kemari? bukankah ada pelindung di sekitar rumah ini?”, geram Yama.
“Pelindung yang seperti itu sih bisa kuhancurkan dengan mudah. Bahkan makhluk gaib dengan level rendah pun bisa masuk ke tempat ini”, balas Inoo. “Hmm... meskipun kau sudah kembali sehat, tapi kekuatan spiritualmu belum kembali sepenuhnya ya?”
Yama menggeram kesal. Rasa kesalnya semakin menjadi saat melihat Inoo yang menatapnya dengan pandangan mengejek. Tapi, dia lebih kesal pada dirinya yang melemah. Akibat kekuatannya yang berkurang, pelindung yang dipasang Yama juga menurun efektifitasnya.
“Mau apa kalian kemari?’, ucap Chii gusar. Dia sama sekali tidak menyukai kedua demon yang ada di hadapannya.
“Wo...wo...wo... tenang... aku datang dalam damai...”, Inoo mengacungkan kedua jarinya, membentuk tanda peace. “Aku kemari untuk memberitahu cara mengembalikan kekuatan kalian berdua”
Yama dan Chii langsung tersentak kaget. Keito juga sama. Inoo tertawa kecil melihat ekspresi kaget ketiga makhluk yang ada di hadapannya. Ekspresi kaget mereka sama.
“Mengembalikan kekuatan kami?”, tanya Yama penuh curiga.
“Benar. Kalian pasti depresi berat karena kalian merasa lemah kan?”. Yama dan Chii mengiyakan dalam hati. “Aku tahu caranya mengembalikan kekuatan kalian sepenuhnya. Keito-kun, kau ingin tahu?”
Wajah Keito langsung berubah cerah. Berita ini adalah berita yang sangat membahagiakan baginya. “Tolong beritahu aku, Hime-sama”
“Tunggu dulu”, cegah Chii. “Kau... pasti merencanakan sesuatu kan? Tidak mungkin kau akan memberikan kami informasi secara gratis”
Inoo tersenyum. “Wah, kau pintar rupanya. Benar, aku akan memberitahu kalian kalau kau memberiku ‘imbalan’. Take and Give. Tapi, imbalan yang kuminta kali ini bukan ‘pengetahuan’. Ada hal lain yang kuinginkan”
“Hal lain?”, tanya Keito.
“Ya. Seperti sebelumnya. Aku ingin kau mengikat kontrak dengan demon lain”
“Demon lain? Siapa?”, tanya Keito yang tidak melihat ada demon lain selain Yabu dan Inoo.
“Yaotome Hikaru. Demon kelas A”
Tsuzuku ~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar