Sabtu, 13 Juni 2015

TEN KNIGHTS

PART 24

Di tepi pantai, pertarungan antara Yabu dan Nozomu tidak terhindarkan. Nozomu menjetikkan jarinya, seketika dari situ keluar sepercik api. Lama-lama api itu kian besar. Nozomu melempar api itu ke Yabu yang berdiri di hadapannya, tapi Yabu berhasil menghalau api itu dengan pedang air yang ada dihadapannya. Saat Yabu juga menyerang Nozomu dengan cara yang sama, yaitu melemparkan bola air yang dibentuk olehnya, Nozomu membuat bola air itu berubah menjadi uap saat terkena panas api tersebut.

“Aiyaa,api dan air. Elemen kita berdua memang tidak cocok ya”, kata Nozomu

“Tapi aku terkesan bisa bertemu lawan yang sama-sama memiliki kemampuan elemental. Api, air, tanah, dan udara adalah elemen dasar bumi ini. Selama ini aku belum pernah bertemu dengan pengendali elemental seperti dirimu. Senang bisa bertarung denganmu”, sahut Yabu.

“Api buatanku jauh lebih kuat dari api yang lain. Kau tahu? Api makhluk kegelapan memiliki satu unsur yang tidak dimiliki oleh api yang berasal dari cahaya”, saat berkata seperti itu api yang berada di tangan Nozomu perlahan berubah dari yang awalnya merah kekuningan menjadi berwarna biru.

“Api biru”, gumam Yabu. “Aku pernah mendengar tentang api itu. Api yang katanya jauh lebih panas dibandingkan dengan api yang berwarna merah. Api yang hanya dimiliki oleh makhluk kegelapan. Baru kali ini aku melihatnya secara langsung”.

“Kalau begitu akan kuberikan kau kesempatan khusus untuk mencobanya”, Nozomu bergerak maju untuk menyerang Yabu. Api biru yang ada di tangannya menyala dengan membara seakan mencari sesuatu untuk dibakar. Yabu berusaha menangkis serangan Nozomu dengan pedang air yang dimilikinya, sayang api biru itu jauh lebih panas sehingga bisa mengubah pedang air yang ada di tangan Yabu berubah menjadi uap. Pertahanan tubuh Yabu terbuka, Nozomu tidak menyiakan kesempatan itu dan dia berhasil mengenai tangan Yabu dengan api biru miliknya. Api biru itu langsung menyambar seluruh tangan Yabu dengan sekejap.

“AAHHHH!!!!”, teriak Yabu kesakitan saat api itu mulai menyambar ke seluruh tangannya. Yabu berusaha memadamkan api itu dengan air laut yang dikendalikan olehnya. Tapi api itu tetap tidak mau padam.

“Percuma. Api biru memiliki suhu panas yang jauh lebih tinggi dari api biasa. Air biasa tidak akan mampu memadamkan apiku itu. Tidak lama lagi tanganmu akan berubah menjadi debu karena panasnya apiku”.

“Jangan remehkan aku!”, Yabu mengendalikan sejumlah air dan membentuk sebuah bola yang membungkus tangannya yang telah terbakar dengan api biru. Perlahan api itu mulai berkurang cahayanya dan akhirnya padam.

“Apa yang kau lakukan?”, Nozomu membelalakkan matanya tidak percaya. Tidak disangka ada yang bisa memadamkan api biru miliknya.

“Aku tidak hanya bisa mengendalikan pergerakan air. Aku juga bisa mengubah suhu air itu. Mau jadi lebih panas atau lebih dingin. Aku mengubah suhu air yang kukendalikan menjadi sangat dingin sehingga bisa memadamkan apimu yang panas itu”, jawab Yabu. Yabu melihat tangannya yang terluka akibat terkena kobaran api biru. “Nah, sekarang giliranku untuk menyerangmu sebagai balasan atas perbuatanmu pada tanganku. Tenang saja, aku ini orang yang tahu balas budi. Sejak kecil aku diajarkan untuk selalu membalas kebaikan orang yang diberikan padaku”, Yabu lalu membuat bola air di sekitar Nozomu sehingga kini dia terkurung dalam bola air. Nozomu mengeluarkan api biru dari seluruh tubuhnya, seketika air yang membungkusnya berubah menjadi uap. Nozomu lalu melemparkan api biru ke arah Yabu, bertepatan dengan itu Yabu juga berhasil mengurung Nozomu di dalam bola air. Keduanya berhasil lepas dari serangan musuh yang sama-sama mengenai mereka.

“Tidak kusangka aku harus menggunakan itu. Kau adalah lawan yang pantas untuk itu”, tubuh Nozomu mengeluarkan api yang menyala-nyala. Api juga mulai menyala disekitar tempat berdirinya Nozomu, lama kelamaan api itu semakin luas dan berbeda dengan api biru sebelumnya. Warnanya berubah menjadi semakin gelap dan akhirnya menjadi berwarna hitam.

“Api hitam”, Yabu melihat pemandangan yang ada di depannya dengan takjub. Keringat mulai menetes dari seluruh tubuhnya, dia bisa merasakan panasnya api itu dari temnpatnya berdiri. Keringat yang keluar pun mulai mengucur dengan semakin deras.

“Api hitam ini adalah api iblis. Tidak banyak maou yang bisa mengendalikan api ini. Ada yang bilang kalau api ini berasal dari neraka. Yah, aku tidak peduli ini berasal darimana”, api hitam itu semakin menyebar dan menghanguskan apa saja yang ada di dekatnya. “Api ini jauh lebih ganas dari api biru itu, kau pasti akan hancur tidak bersisa”.

“Kalau begitu, aku juga akan menghadapimu dengan lebih serius”, Yabu berjalan ke tepi pantai. Dia berdiri menghadap ke laut dan merentangkan tangannya. “Kau tahu,  kau sangat sial bertemu denganku disini”. Air laut yang ada di tepi pantai perlahan mulai menjauh dari pantai. Seakan mereka ditarik oleh sesuatu yang berada di tengah laut. Perlahan terdapat gelombang kecil di tengah laut, gelombang itu semakin lama semakin besar, dan semakin tinggi. Hampir mencapai 5 meter.

Nozomu mengarahkan api hitam itu ke arah Yabu yang sedang berkonsentrasi mengendalikan air laut. Yabu pun mulai mengarahkan air laut yang ada di depannya, sehingga terbentuk tsunami kecil di pantai itu. Tsunami itu menghantam api hitam Nozomu. Beberapa air mulai menguap saat mendekati api hitam itu.

“Percuma, api hitam jauh lebih panas daripada api biru. Semua pasti akan kering saat mengenai api hitam!”, seru Nozomu sambil terus berusaha mengarahkan api itu kearah Yabu. Api hitam milik Nozomu dan air milik Yabu saling hantam dan saling dorong. Tidak ada tanda bahwa salah satu dari mereka akan mengalah. Keduanya semakin berkonsentrasi pada serangan yang mereka buat. Nozomu menambahkan kekuatan pada api hitamnya sehingga api itu menjadi jauh lebih besar dan bisa mendorong balik serangan tsunami dari Yabu. Yabu kemudian menambahkan lagi volume airnya dan membuat tsunami yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Serangan kedua Yabu ini berhasil dan membuat api hitam milik Nozomu padam. Nozomu sampai ikut tergulung oleh tsunami yang dibuat oleh Yabu. Dia terseret arus hingga cukup jauh dan menghantam pohon kelapa yang ada disana.

“Aku sudah bilang kan kalau kau sial bertemu denganku disini. Di laut aku akan menjadi yang tidak terkalahkan karena disini tersedia banyak air yang bisa kukendalikan”, ucap Yabu. Yabu berjalan mendekati Nozomu yang masih tersungkur.“Aku akan membuatmu tidak akan bisa menggunakan apimu itu lagi”, Yabu memegang tangan Nozomu dan memusatkan kemampuannya di tangan itu. Tiba-tiba Nozomu mulai menggigil kedinginan.

“A-a-apa yang kau lakukan?”, ucap Nozomu sambil gemetaran.

“Aku menurunkan suhu tubuhmu dengan cara mendinginkan darahmu. Tubuhmu akan terus merasa kedinginan dan bila tubuhmu tidak mampu menahannya maka kau akan mati”, ucap Yabu sambil mulai menimbun Nozomu kembali ke dalam gundukan pasir. Nozomu kembali tertimbun dalam pasir dan hanya kepalanya saja yang tampak sama seperti saat mereka pertama kali bertemu. “Ini akan membantu untuk mengatasi rasa dingin di tubuhmu. Yah, meskipun Cuma sedikit”, Yabu tersenyum jahil pada Nozomu dan meninggalkannya sendirian disana.

Seketika langkah Yabu terhenti. Dia merasakan pelindung yang dibuat Ryuu telah hilang. ‘apa yang terjadi? Apakah pertarungan telah selesai?’, gumam Yabu yang segera bergegas menuju ke tempat Ryuu berada.

Beberapa saat kemudian, Di tempat Ryuu

“Aku merasakan pelindung itu dari sini, dan sekarang pelindung itu telah hilang. Ryuu! Kau dimana?”, seru Inoo yang mencari Ryuu hingga ke tempat lokasi kecelakaan Hika dkk. Dia bisa melihat mayat golem yang bergelimpangan disekitar situ. Inoo melihat mayat golem yang terluka parah seperti terkena cabikan dan cakaran binatang buas.

“Ini benar perbuatan Ryuu, luka ini pasti akibat perbuatannya. Tapi, dimana dia sekarang? Aku hanya melihat golem ini saja”, Inoo terus mencari di sekitar situ. Akhirnya dia menemukan bercak darah yang membentuk seperti sebuah jejak. Inoo mengikuti bercak darah itu dan masuk lebih jauh ke dalam hutan. Didepannya dia bisa melihat ada sosok yang berbaring tidak jauh dari situ. Inoo mendekati sosok itu dan alangkah terkejutnya Inoo ketika melihat sosok yang sedang berbaring itu.

“Ryuu! Apa yang terjadi? Kenapa bisa jadi seperti ini?”, tanya Inoo pada sosok yang ternyata Ryuu itu. Inoo bisa melihat tubuh Ryuu yang hampir sebagian besar dipenuhi oleh bercak kehitaman. “Ryuu! Bertahanlah!”. Inoo mendekap tubuh Ryuu di tangannya.

Ryuu mulai membuka matanya, nafasnya semakin lemah. Dia membuka mulutnya, sepertinya dia ingin mengucapkan sesuatu tapi suaranya sangat pelan. “A....wa.....Ne...sa...nai”, rintih Ryuu pelan.

“Apa yang kau katakan Ryuu? Aku tidak mendengarnya”, Inoo mendekatkan telinganya ke mulut Ryuu. Inoo bisa merasakan desah nafas yang berat di telinganya.

“A...re....wa....nee....nai”, kata Ryuu lagi. Setelah berkata, nafas Ryuu mulai melemah, matanya kembali menutup. Inoo semakin panik saat melihat Ryuu yang tidak berdaya di depannya.

“Ryuu! Ryuu! Buka matamu! Bertahanlah! Aku akan membawamu kembali, bertahanlah sampai saat itu tiba!”, Inoo berusaha mengangkat tubuh Ryuu dan memapahnya berjalan kembali. Saat dia berdiri dan berbalik, dia bisa melihat Yabu yang berlari menuju ke arahnya.

“Kei! Kenapa kau bisa ada disini?”, tanya Yabu yang keheranan melihat Inoo yang adadi hadapannya. Yabu membuka mulutnya lagi untuk memarahi Inoo tapi niat itu diurungnya setelah melihat kondisi Ryuu yang sedang dipapah oleh Inoo. “Ryuu! Apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti ini?”, Yabu melihat kondisi Ryuu dengan tidak percaya.

“Aku tidak tahu. Begitu aku tiba disini, dia sudah berbaring lemah disini. Dia sempat mengatakan sesuatu padaku, tapi aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas”, jawab Inoo.

“Baiklah, ayo kita segera bawa dia kembali ke rumah Hika. Sini biar aku yang membawanya”, Yabu menawarkan diri untuk membawa Ryuu. Yabu segera menggendong Ryuu dan mulai berjalan kembali. Inoo mengikuti mereka dari belakang. Langkah Inoo terhenti ketika dia melihat ada sosok yang sepertinya mengamati mereka dari balik pepohonan.

“Daichan??”, seru Inoo kaget ketika melihat sosok itu.

“Ada apa Inoo?”, seru Yabu yang berada di depan.

“Ah,tadi aku melihat Daichan disana”, kata Inoo.

“Dimana?”

“Disana”,tunjuk Inoo ke arah tempat dia melihat Daiki. Tapi saat Inoo melihat lagi, Daiki sudah tidak berada disana. “Eh, kok tidak ada?”, Inoo melihat ke sekeliling mencari sosok Daiki, tapi Daiki tidak tampak.

“Mungkin hanya perasaanmu saja. Nanti kita kembali lagi untuk mencari Daichan sekali lagi. Yang paling penting saat ini kita harus menyembuhkan Ryuu terlebih dahulu”, ucap Yabu yang mulai berjalan lagi. Inoo masih terdiam di tempatnya berada.

“Tapi aku yakin sekali aku tadi melihat Daichan, dan rasanya tadi dia juga melihat kearahku”, gumam Inoo. Yabu kembali berseru meminta Inoo untuk segera kembali dan Inoo pun mulai meninggalkan tempat itu.

Sore harinya

Hika yang tertidur di ranjangnya mulai terbangun saat mendengar ada suara yang ada di dekatnya. Hika membuka matanya dengan perlahan dan dengan samar-samar dia bisa melihat ada seseorang yang berdiri di sampingnya. Orang itu memegang dahi Hikaru.

“Inoo?”, tanya Hika pelan.

“Ah,maaf. Ibu membangunkanmu ya?”. Hika akhirnya bisa melihat dengan jelas orang yang berdiri di sampingnya. “Ibu hanya ingin mengukur panas badanmu. Dan tampaknya sekarang kau mulai membaik”, kata Ibu Hika sambil tersenyum.

“Ibu..”, gumam Hika pelan. Hika melihat ke sekeliling kamar. “Inoo dimana bu?”.

“Inoo? Inoo dari tadi keluar. Katanya dia ada urusan sebentar”. Ibu Hika menaruh nampan yang berisi obat dan segelas air minum. “Ini obatmu. Jangan lupa untukmeminumnya. Ibu keluar dulu”. Hika melihat ibunya keluar kamar.

“Haaahh.....”,Hika mendesah. “Kenapa yang namanya cewek itu suka semaunya sendiri sih? Tadi Ryuu, sekarang Inoo. Kenapa mereka sama sekali tidak mau mendengarkan perkataan orang? Kalau Yabu kembali kemari dan tahu Inoo tidak ada disini.....”, Hika mulai membayangkan sesuatu dan tiba-tiba dia mulai merasa merinding.

Dari luar kamar terdengar ribut-ribut. Hika yang penasaran pun bangkit dan pergi keluar kamar untuk mencari tahu apa yang terjadi. Hika menuju ruang tengah dimana suara ribut-ribut itu berasal. Dia bisa melihat Yabu sedang menggendong Ryuu dan Inoo yang sedang menyiapkan alas tidur bersama ibunya. Yabu membaringkan tubuh Ryuu di atas alas tidur dengan hati-hati. Hika tampak terkejut saat melihat tubuh Ryuu yang berwarna kehitaman. Mukanya pucat pasi, nafasnya lemah. Yabu dan Inoo yang duduk di samping Ryuu pun menatap Ryuu dengan wajah cemas.

“Apa yang terjadi? Kenapa Ryuu bisa seperti itu?’, tanya Hika yang mulai bergabung bersama dengan Yabu dan Inoo.

“Kami tidak tahu. Ketika aku menemukannya, dia sudah seperti ini”, jawab Inoo. “Apa yang bisa kita lakukan?”

“Kondisi Ryuu saat ini mirip denganmu waktu itu”, kata Hika sambil menatap Yabu.

“Ya benar, waktu kau terdesak saat bertarung dengan Fuka, kau terkena racun darinya dan tubuhmu menjadi seperti ini”, timpal Inoo.

“Berarti kemungkinan besar Ryuu terkena racun”, kata Hika.

“Kalau begitu kita harus mengeluarkan racun dari tubuhnya Ryuu, sama seperti Yabu”, sahut Inoo.

“Tapi bagaimana caranya? Yang bisa mengeluarkan racun hanya Daichan. Yuya bisa menetralkan racun. Yamada bisa membantu mempercepat penyembuhan. Tapi mereka semua saat ini tidak ada disini. Kita bertiga tidak ada yang punya kemampuan seperti mereka”, jawab Hika pasrah.

“Gawat! Denyut nadinya semakin lemah. Nee, apakah kita tidak bisa melakukan sesuatu?”,kata Inoo sambil memeriksa denyut nadi Ryuu. Hika dan Yabu saling berpandangan. Mereka berdua sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukan. Perlahan kesadaran Ryuu kembali, dia membuka kedua matanya dan memegang tangan Inoo.Mulutnya bergerak seakan mengatakan sesuatu. Yabu, Hika, dan Inoo mendekatkan telinga mereka ke mulut Ryuu.

“A...ku punya permohonan pada kalian. To....long selamatkan nee-san”, lirih Ryuu pelan.

“Jangan bicara dulu. Kau masih terlalu lemah”, Inoo mencegah Ryuu untuk berbicara. Tapi Ryuu semakin memegang erat tangan Inoo.

“Nee-san dalam bahaya. Dia ditangkap oleh makhluk kegelapan dan dibawa ke kediaman Fuka”, kata Ryuu lagi. “Aku mohon kalian bisa pergi menyelamatkannya”, suaranya makin lemah dan nafasnya semakin tidak menentu.

“Nee-san sangat baik padaku. Dia menganggapku sebagai adiknya sendiri. Dia mau mendengarkan semua keluh kesahku bahkan memanjakanku. Untuk terakhir kalinya, aku ingin melakukan sesuatu sebagai adiknya, tapi aku gagal”, kesadaran Ryuu mulai menurun. “Tolong selamatkan dia dan lindungi dia”, setelah mengatakan hal itu,mata Ryuu tertutup, bahkan genggaman tangannya pun lepas.

“Ryuu? Ryuu! Sadarlah buka matamu! Bertahanlah sebentar lagi! master dan yang lainakan segera tiba disini”, ucap Inoo sambil menggoyangkan tubuh Ryuu, akan tetapi Ryuu sama sekali tidak merespon. “RYUUU!!!!”, seru Inoo.

Tsuzuku ~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar