Minggu, 31 Mei 2015

TEN KNIGHTS

PART 21

Gerakanku langsung terhenti, aku merasakan adanya pelindung yang dibuat. Begitu pula dengan Chinen dan Keito yang sedang melakukan latihan tanding bersama, tanpa adanya perintah mereka langsung berhenti. Jin yang menyerangku pun juga ikut berhenti. Ya, kami semua bisa merasakan kalau ada pelindung yang sedang dibuat. Karena semua anggota ada disini, satu-satunya yang bisa membuat pelindung hanyalah Yuya.

“Ah,si bodoh itu rupanya. Yah kuharap dia tidak segera mati saja...”, gumam Jin pelan.

“Yuya sedang bertarung dengan siapa ya?”, tanyaku pelan. Aku sedikit khawatir dengan keadaan Yuya, dia sekarang sedang sendirian di luar sana. Apakah dia mampu menghadapi musuh sendirian? Bagaimana kalau ada maou yang muncul? BRUGHHH!!! Tiba-tiba kepalan tangan Jin mengenai mukaku. Aku terpental jauh ke belakang. Aku memegangi pipiku yang sakit akibat terkena pukulan darinya. Sejak tadi aku terus menerima pukulan yang seperti ini.

“Ryosuke! Apa yang kau lakukan? Sudah kubilang jangan lengah selama latihan!”, bentak Jin ke arahku yang masih memegangi pipiku. “Dan kalian berdua! Siapa yang menyuruh kalian untuk berhenti? Terus latihan sampai kusuruh kalian berhenti!”, bentak Jin ke arah Chinen dan Keito yang segera melanjutkan lagi duel mereka setelah mendengar perkataan Jin.

Aku kemudian bangkit dan kucoba menyerangnya dengan mengarahkan pukulan dan tendangan ke arah Jin, akan tetapi semua serangan itu bisa ditangkis Jin dengan mudah. Berkali-kali aku jatuh ke belakang karena serangan dari Jin. Untungnya, berkat kemampuanku aku bisa segera mengobati tubuhku yang luka dan bisa segera bangkit. Aku terus menerus melakukannya hingga aku terbiasa.

“Ryosuke, aku dari tadi menyerangmu, tapi kenapa kau tidak pernah menyerangku?”, tanyaJin.

“Eh,maksudnya? Aku terus menyerangmu dari tadi kan?”

“Bukan. Yang kumaksud adalah, kenapa kau tidak menyerangku dengan menggunakan kemampuanmu? Kau terus menyerangku dengan menggunakan tangan kosong. Yah, kuakui teknik bertarungmu juga lumayan. Siapa yang mengajarimu?”

“Aku pernah diajari oleh ayahku waktu kecil. Lalu setelah sampai disini, Daichan yang mengajariku. Terkadang Ryuu juga mengajariku”

“Ah, pantas. Gaya bertarungmu hampir mirip dengan Daiki. Ryuu juga dilatih oleh Daiki, makanya gaya bertarung mereka sama. Yah... dia sangat hebat dalam hal ini, kurasa kau belajar dari orang yang tepat. Akan tetapi, sampai kapan kau akan terus bertarung dengan tangan kosong? Kenapa kau tidak menyerangku dengan menggunakan kemampuanmu?”

“Kemampuanku? Tapi, setahuku kemampuanku tidak bisa digunakan untuk menyerang”

“Kata siapa? Semua kemampuan yang dimiliki para ksatria bisa digunakan dalam pertarungan. Kau saja yang tidak tahu bagaimana menggunakannya”

“Ah,benarkah? Lalu bagaimana caranya aku bisa menggunakannya?”

“Kau tahu prinsip dasar kemampuanmu?”. Aku menggeleng. “Kemampuanmu adalah healing kan? Menyembuhkan luka. Healing bekerja dengan cara menghidupkan kembali sel tubuh yang telah mati sehingga sel tersebut bisa bekerja lagi seperti sediakala. Healing juga bisa bekerja dengan cara mengambil sel yang telah mati tersebut dan mempercepat tubuh untuk memproduksi sel baru sehingga proses penyembuhan berjalan dengan cepat. Selama ini yang kau lakukan hanyalah menghidupkan kembali sel yang telah mati, kau juga terus melakukan itu selama pertarungan ini tadi. Tapi, kau sama sekali tidak pernah melakukan hal yang kedua, yaitu mengambil sel yang telah mati”, Jin menjelaskan secara panjang lebar.

“Bagaimana kau bisa tahu cara kerja kemampuanku?”, tanyaku yang kagum dengan penjelasan Jin. Seakan-akan dia memiliki tubuhku saja.

“Aku bisa melihat kerja sel. Tidak hanya tubuh, tapi semua komponen yang ada di bumi ini. Itulah prinsip dasar alchemi. Itulah mengapa aku bisa melihat kemampuanpara ksatria”, Jin terdiam sebentar lalu kembali melanjutkan pembicaraannya.“ Lebih baik kau segera mempelajari kemampuanmu agar kau bisa menggunakan kemampuanmu dalam pertarungan. Berlatihlah agar kau bisa menggunakan prinsip yang kedua, yaitu mengambil sel yang telah mati dan mempercepat penyembuhan. Kalau kau bisa melakukannya, maka kau akan menjadi tidak terkalahkan selama pertarungan”

“Eh?! Bagaimana bisa dengan melakukan itu aku menjadi yang tidak terkalahkan?”

“Kalau kau mampu mengambil sel yang telah mati dari dalam tubuhmu, kau bisa melemparkan sel tubuh yang mati ke arah musuhmu. Itu sama saja dengan melemparkan rasa sakit terhadap mereka. terlebih lagi, kau bisa segera menyembuhkan lukamu selama pertarungan dan kondisi tubuhmu akan tetap prima selama pertarungan. Tubuh yang tidak pernah terluka selama pertarungan, itu akan membuatmu menjadi yang terkuat, sama halnya seperti Yuya”.

“Apakah aku bisa melakukan hal itu?”

“Itulah kenapa aku melakukan latihan ini. Aku mengajarimu agar cepat terbiasa dengan kemampuanmu. Buktinya, kau bisa dengan cepat menyembuhkan lukamu dan bisa menyerangku lagi kan? Itu adalah kemajuan yang bagus. Kau juga sudah terbiasa dengan energi yang keluar dalam jumlah besar, dan sudah bisa mengendalikannya dengan baik. Hal berikutnya yang perlu kau pelajari hanya mencoba melemparkan rasa sakit yang kau derita ke arah musuhmu”, Jin tersenyum cukup lebar. Melihatnya yang seperti itu aku merasa kalau dia tidak terlalu menyebalkan.

Pertarungan kami berdua pun dilanjutkan. Kami berdua terus melancarkan serangan satu dengan yang lain. Perlahan aku mulai terbiasa dengan pertarungan ini. Awalnya, aku merasa kecapekan, tapi sekarang tubuhku sudah mulai terbiasa, dan tidak merasa capek. Aku merasa aku mulai mengerti apa yang diucapkan oleh Jin tadi.

Di tempat Yuya

“Sial! Siapa kau sebenarnya? Kenapa tidak ada satupun serangan dari kita yang berhasil melukainya?”, geram Kiriyama. Yuya berdiri tidak jauh dari mereka berdua,tubuhnya bahkan tidak tergores satupun. Dia menatap Kiriyama dengan senyum mengejek.

“Nullification.Ternyata benar kalau kemampuan ini sangat merepotkan. Tapi aku tidak menyangka akan sesulit ini untuk menghadapinya”, ucap Nakama pelan. Dia berusaha untuk bangkit setelah Yuya melemparnya cukup jauh.

“Nah,kalian tadi bilang ingin membunuhku kan? Sayangnya, aku tidak mau mati dengan percuma di tangan kalian. Kalian tidak akan bisa melukaiku sedikitpun”, Yuya melompat maju ke arah Kiriyama dan mulai menendangnya sampai mengenai tembok. Nakama mengeluarkan cairan dari mulutnya, akan tetapi cairan itu tidak berhasil mengenai tubuh Yuya. Cairan itu mengenai apapun yang berada di dekatnya, benda-benda yang terkena cairan itu meleleh, seperti terkena sesuatu yang sangat asam dan panas. Dari arah tempat Kiriyama terlempar, ada sesuatu yang seperti duri tajam mengarah lurus ke arah Yuya, akan tetapi, duri itu langsung patah ketika mengenai nullification milik Yuya. semua usaha kedua musuh ini sia-sia saja.

“Kalian berdua lumayan hebat juga. Siapa kalian sebenarnya?”, tanya Yuya.

“Kami berdua adalah prajurit kegelapan. Kami adalah makhluk kegelapan yang bersumpah setia mengabdi pada petinggi maou dan sang necromancer”, jawab Nakama. Yuya mengangguk paham.

“Oh...begitu rupanya. Kalian termasuk maou, akan tetapi status kalian masih dibawah maou tingkat tinggi seperti Jack. pantas kalian lebih lemah daripada mereka”.

“Jangan meremehkan kami!!”, teriak Kiriyama sambil menyerang Yuya. Kuku tangannya berubah menjadi duri yang tajam. Kiriyama mengarahkan tangannya tepat ke muka Yuya. Akan tetapi, kuku itu langsung patah seperti mengenai sesuatu yang keras.

“Aku tidak meremehkan kalian. Hanya saja, perbedaan kekuatan di antara kita cukup besar”, ucap Yuya sambil mulai menyerang Kiriyama dan Nakama bergantian. Yuya sama sekali tidak memberikan kedua musuhnya itu kesempatan untuk menyerangnya.

Di rumah Hika

Sesampainya di rumah Hikaru, mereka semua disambut oleh ibunya Hikaru. Yabu menjelaskan apa yang terjadi pada ibu Hikaru, Ryuu dan Hika langsung dirawat oleh seorang dokter yang sudah mengenal dekat keluarga Yaotome. Setelah mendapat pengobatan, Yabu dan Inoo memberi kesempatan kedua orang itu untuk beristirahat. Yabu meminjam telepon untuk menghubungi markas dan memberitahu apa yang terjadi pada master, sedangkan Inoo tetap berjaga di ruangan tempat Ryuu beristirahat.

“Begitulah master. Semua yang saya sampaikan hanya itu saja. Hika dan Ryuu sudah ditemukan dan mereka terluka parah, akan tetapi kondisi mereka sudah cukup membaik saat ini. Sedangkan untuk Daichan, kami belum mengetahui keberadaannya. Setelah ini, saya akan mencoba mencari Daichan sekali lagi”, ujar Yabu di telepon. Tampaknya dia sedang menghubungi master. Setelah selesai berbicara, Yabu menutup teleponnya dan kembali ke kamar tempat Hika berada. Saat masuk ke dalam kamar, dia melihat Hika terduduk di kasurnya dan melihat ke luar jendela seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Kau tidak tidur? Lebih baik simpan tenagamu. Kau terluka cukup parah dan perlu istirahat”, ucap Yabu yang saat ini duduk di kursi di samping tempat tidur Hika.

“Yah, aku tadi sudah cukup beristirahat kok. Badanku sudah juga tidak terlalu sakit. Jadi kupikir tidak apa-apa aku duduk seperti ini kan?”

“Aku tahu. Tapi, jangan bebani tubuhmu lebih dari ini”. Hika tertawa melihat Yabu. “Kenapa tertawa? Ada yang salah dengan ucapanku?”, tanya Yabu keheranan.

“Ah tidak. Aku hanya merasa deja vu saja. Dulu waktu kau yang terluka parah akibat serangan Fuu, aku mengatakan hal yang sama persis denganmu”

“Ah,iya juga”, Yabu akhirnya ikut tertawa juga. Yabu kemudian memegang tangan Hika, dia mengusap pelan perban yang membalut luka di tangan Hika. “Bagaimana? Masih terasa sakit kah?”, tanya Yabu.

“Hmm....rasa sakitnya sudah berkurang. Apa yang tadi kau lakukan padaku?”, Hika memegangi tangannya yang terluka dan mencoba menggerakkan tangan yang diperban tersebut.

“Aku tadi hanya melancarkan peredaran darah dalam tubuhmu saja kok. Aku mengendalikan darah dalam tubuhmu dan membuatnya bisa beredar dengan lancar. Hal ini bisa membantumu mengurangi rasa sakit yang kau rasakan”.

“Eh?! Kau bisa mengendalikan darah juga? Sejak kapan?”, tanya Hika kaget.

“Ah, baru akhir-akhir ini saja kok. Aku sering menggunakannya pada Inoo kalau dia sedang kelelahan. Itu membantu kondisi tubuhnya tetap sehat. Aku tidak mengendalikan darah, hanya mengendalikan air yang berada dalam sel darah saja, sehingga secara tidak langsung aku bisa mengendalikan darah”

“Uwah, kalau kemampuanmu ini digunakan saat pertarungan pasti berguna. Kau bisa mengendalikan lawanmu dengan mengendalikan darah mereka”

“Tidak. Kemampuan ini hanya bisa dipakai kalau aku bersentuhan langsung dengan tubuh”.Yabu menyentuh luka yang ada di muka Hika dan mengusap muka Hika dengan lembut.“Aku belum bisa mengendalikannya dari jarak jauh. Terlebih, kalau ingin mengendalikan lawan, bukankah itu tugasnya kemampuannya Inoo?”

“Sayang sekali.....”, gumam Hika pelan.

Tok,tok, tok. Terdengar suara ketukan pintu. Tidak lama kemudian masuklah seorang wanita, wanita itu menggunakan dress panjang, rambutnya digelung, dan mukanya persis dengan Hikaru. Di tangannya terdapat sebuah nampan berisi piring makanan dan air minum.

“Okaa-san”, kata Hika saat melihat wanita itu masuk.

“Ah, syukurlah kau sudah bangun. Bagaimana keadaanmu?”, tanya wanita itu.

“Sudah lumayan baikan kok. Berkat dokter dan Yabu”, Hika mengedipkan sebelah matanya ke arah Yabu.

“Lebih baik kau jangan banyak gerak terlebih dahulu. Istirahat saja. Yabu juga, kau bisa bersantai di rumah ini. Tidak perlu khawatir dengan makhluk kegelapan, rumah ini juga telah dipasang pelindung dan selama bertahun-tahun tidak ada makhluk kegelapan yang tahu”, ucap Ibu Hikaru sambil meletakkan nampan itu dimeja yang ada di ruangan tersebut. “Nah, ayo makan. Kalian pasti sudah lapar. Aku membawakan kalian makanan. Inoo dan Morimoto sudah kuberi makanan juga”, ibu Hikaru menyuruh mereka berdua untuk memakan makanan yang ada.

“Terima kasih. Maaf sudah merepotkan anda”, Yabu menundukkan kepalanya ke arah ibu Hikaru.

“Tidak usah seformal itu Yabu-kun. Kau bisa memanggilku ibu. Semua ksatria sudah kuanggap sebagai anak sendiri. Tidak usah sungkan”, kata ibu Hika sambil tersenyum.

“Baiklah, ibu”, kata Yabu sambil malu-malu. Ibu Hika langsung tersenyum dengan wajah yang bahagia. Tidak lama setelah itu, ibu Hika keluar dari ruangan meninggalkan mereka berdua. “Ibumu sama sekali tidak berubah. Waktu dulu aku datang kemari dia juga sangat ramah”.

“Ya....itulah ibuku”, jawab Hika bangga.

“Ah,ngomong-ngomong, aku sudah memberitahu master soal kalian dan hilangnya Daichan. Master bilang akan segera membawa ksatria yang lain untuk menyusul kemari bersama dengan Jin”,

“Eh?! Jin sudah datang? Kalau begitu Yuya juga sudah pulang?”

“Ya semestinya begitu kan? Memangnya kenapa?”

“Yabai....dia pasti sudah tahu soal hilangnya Daichan. Aduh, aku mesti bagaimana waktu bertemu dengannya? Dia pasti akan memukulku habis-habisan”.

“Jangan berlebihan. Yuya tidak seburuk itu”.

“Kau tidak tahu sih.... Bagi Yuya, Daichan itu nomor satu. Kalau sesuatu terjadi pada Daichan, dia pasti akan membalasnya. Karena aku sering sekelompok dengan Daichan baik waktu patroli maupun pergi misi, kalau Daichan terluka dan dia tahu Daichan terluka, maka dia akan mencariku dan menanyakan soal luka pada Daichan. Aku sering jadi korban amukannya”, desah Hika pelan.

“Memang apa salahnya khawatir dengan orang yang kau sukai?”

Hika menatap Yabu, kemudian mendesah nafas lagi, “Ah iya, kalian berdua memang mirip. Sama-sama overprotektif terhadap kekasih kalian. Kau juga sama. Kalau terjadi sesuatu dengan Inoo pasti kau tidak bisa tenang. Bahkan aku bisa bilang kalau Yuya masih lebih mending daripada kau. Yuya masih memperbolehkan Daichan pergi sendiri. Sedangkan kau, kemanapun Inoo pergi, kau selalu ikut. Tidak pernah sekalipun aku melihat Inoo pergi sendiri tanpamu. Kau tahu? Aku sampai sedikit cemburu terhadap kalian”.

“Cemburu? Kau cemburu padaku? Kau suka pada Inoo?”, selidik Yabu penuh curiga.

“Bukan begitu maksudku. Aku hanya iri dengan kedekatan kalian, kalian sangat dekat sehingga seakan-akan itu hal yang wajar. Aku juga ingin merasa seperti itu”

“Ah begitu. Kau pasti akan mendapatkan seseorang yang akan membuatmu merasa seperti itu. Kau akan menemukan seseorang yang akan membuatmu merasa kau ingin selalu melindunginya. Kau akan mempertaruhkan segalanya untuk orang tersebut”

“Kurasa aku sudah menemukannya”, gumam Hika pelan sambil menatap ke arah laut yang terlihat dari jendela kamar Hika. Memang, rumah Hika sangat dekat dengan pantai sehingga bisa terlihat laut dari rumah Hika.

“Eh siapa? Apa aku juga mengenalnya? Kau tidak pernah cerita soal ini”, Yabu semangat menanyai temannya itu. Matanya berbinar dengan rasa ingin tahu.

“Jika sudah waktunya nanti, aku akan memberitahumu”, Hika tersenyum. Yabu hanya menatap Hika dengan mata yang penuh rasa penasaran.

Tsuzuku ~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar