Jumat, 29 Mei 2015

13 CM

Chapter 2

“Kau benar-benar tidak tahu siapa cowok itu Takaki?”, tanya Yabu sekali lagi pada Takaki.

Takaki menghela nafas, ini sudah kesekian kalinya Yabu bertanya seperti itu. Pertanyaan itu selalu diulang oleh Yabu selama mereka menuju ke kelas. Takaki sudah malas mendengar pertanyaan Yabu.
“Sudah kubilang berkali-kali Yabu-kun... aku sama sekali tidak tahu siapa cowok itu”

Yabu melihat ke arah Takaki dengan tidak percaya. “Tapi tampaknya dia mengenalmu dengan sangat baik. Bahkan dia memanggilmu senpai. Sungguh kau tidak mengenalnya? Apa mungkin dia kouhaimu dulu waktu SMP?”

“SMPku dulu itu SMP khusus putri Yabu-kun... bagaimana bisa aku punya adik kelas cowok?”, lirih Takaki. “Tapi... rasanya aku memang tidak asing saat melihat cowok itu. Mungkin aku memang pernah bertemu dengannya, tapi aku lupa”

“Jiah... Dasar pelupa!”, Yabu menjitak pelan kepala Takaki. Takaki hanya bersungut kesal dengan sikap Yabu. “Tapi ngomong-ngomong, cowok itu jago sekali main basketnya. Meskipun pendek, tapi kemampuan dribelnya bagus. Larinya juga cepat. Lompatannya juga bisa dibilang cukup tinggi untuk ukuran tubuhnya yang pendek”

Takaki mengangguk setuju. Permainan cowok pendek itu memang sangat bagus. Lincah dan gesit. Itu bukanlah gerakan yang dimiliki oleh seseorang yang baru belajar basket. Takaki yakin kalau cowok pendek itu sudah lama bermain basket. Takaki mengingat kembali gaya permainan cowok pendek itu. Sekilas Takaki merasa pernah melihat seseorang yang bermain sama persis dengan gerakan cowok itu, tapi dia lupa bagaimana wajahnya.

“Yabu! Taka-chan!”

Serempak Yabu dan Takaki menoleh. Inoo berlari menghampiri mereka. wajahnya terlihat sangat senang. Sepertinya ada sesuatu yang membuatnya sangat bahagia.

“Ada apa Inoo-chan? Kelihatannya kau senang sekali”, tanya Takaki penasaran.

“Coba kalian tebak”, Inoo memandangi kedua temannya dengan penuh harap. Berharap kedua temannya tahu apa yang membuatnya senang. Tapi baik Yabu dan Takaki menunjukkan wajah tidak mengerti.

“Tahun ini, kita mendapatkan anggota baru yang luar biasa!”, ucap Inoo dengan semangat. Dia sudah tidak sabar ingin memberitahukan berita gembira ini pada kedua temannya.

“Anggota baru? Upacara penerimaan anggota baru saja belum kita lakukan”, ucap Takaki dengan penuh keheranan.

“Tapi anggota baru ini sudah dipastikan akan menjadi anggota klub basket kita. Aku sudah menerima formulir pendaftaran mereka”, balas Inoo riang.

“Memangnya siapa mereka?”, tanya Yabu penuh dengan rasa ingin tahu.

“Hmm... untuk klub basket putra, kita kedatangan sang MVP kejuaraan basket SMP tahun lalu. Lalu untuk klub basket putri, kita kedatangan salah satu best forward kejuaraan basket SMP tahun lalu”, ucap Inoo dengan riang.

“Hee...”, Yabu dan Takaki sontak berdecak kagum.

Kedatangan kedua anggota baru ini memang sangat diharapkan oleh klub basket. Tahun lalu, klub basket hanya menerima anggota yang biasa saja. Mereka bersusah payah agar menang dalam pertandingan. Tapi, mereka hanya bisa mencapai BEST 5 saja. Tahun ini adalah tahun terakhir Yabu, Takaki, dan Inoo berada dalam klub basket. Mereka berharap bisa mendapatkan juara 1 dalam kejuaraan Inter High walaupun Winter Cup. Kedatangan dua anggota baru yang berbakat ke klub basket membuat harapan keduanya meningkat.

“Etto... Inoo, siapa nama mereka?”, tanya Yabu ingin tahu. Wajahnya kini terlihat sangat bersemangat.

Inoo meletakkan jari telunjuknya di bibirnya sambil mengedipkan mata. “Rahasia. Kalian akan mengetahuinya nanti saat kita bertemu dengan mereka di lapangan basket”

“Huu... Pelit”, ucap Yabu sambil mencibir.

Tak lama, bel masuk berbunyi. Seluruh siswa segera masuk ke dalam kelas, tidak terkecuali Yabu, Takaki, dan Inoo. Yabu berpamitan pada Takaki dan Inoo, karena kelasnya berbeda dengan kelas dua cewek ini. takaki dan Inoo segera masuk ke dalam kelas. Mereka memilih duduk berdekatan. Tidak lama, seorang pria paruh baya masuk ke dalam kelas dan mengenalkan dirinya sebagai wali kelas. Selang beberapa waktu kemudian, kelas pun dimulai.

---***---
“Taka-chan, ayo cepat!”, Inoo menarik Takaki agar segera bangkit berdiri. Dia sudah tidak sabar ingin menuju ke lapangan basket.

“Tunggu sebentar Inoo-chan, aku harus membereskan bukuku dulu”, ucap Takaki sambil membereskan bukunya dengan tergesa-gesa.

“Uhh... ayo cepat Taka-chan! Tuh lihat, Yabu sudah menjemput kita”.

Takaki melihat ke jendela. Sosok Yabu sudah berdiri disana sambil tersenyum. Dia melambaikan tangannya ke arah Inoo dan Takaki. Takaki tahu, alasan Yabu datang ke kelasnya hanyalah karena ingin menjemput Inoo saja, tidak termasuk dirinya. Yabu memang tergila-gila dengan Inoo, walaupun dia berusaha menutupinya, tapi Takaki tahu perasaan Yabu pada Inoo.

Kenapa Takaki tahu perasaan Yabu pada Inoo? Karena dulu waktu kelas 1, Takaki pernah menyukai Yabu. Takaki diam-diam memperhatikan Yabu, tapi dia tidak berani mengungkapkan perasaannya. Selang beberapa lama, Takaki akhirnya mengetahui kalau Yabu menyukai Inoo. Patah hati sebelum menyatakan perasaan. Itulah yang terjadi pada Takaki.

Kini, Takaki hanya melihat Yabu sebagai temannya. Bahkan, Takaki mendukung percintaan temannya itu. Dia berharap hubungan keduanya bisa berjalan lancar, sebagai ganti perasaannya yang ditolak.

---***---
Gedung olahraga kini ramai dipenuhi oleh anggota baru yang ingin masuk klub basket. Sekolah ini memang hanya memiliki beberapa klub olahraga. Basket, voli, dan sepakbola. Hanya 3 klub itu saja. sisanya adalah klub seni seperti melukis, paduan suara, ukir, tari, dan klub pelajaran seperti klub biologi, matematika, fisika, bahasa inggris.

Biasanya yang sering mendapat juara saat kompetisi adalah klub pelajaran dan klub seni. Tapi, tahun kemarin, klub basket berhasil menempati 4 besar di kejuaraan Winter Cup. Tentu saja ini menjadi prestasi yang membahagiakan. Klub sepakbola dan klub voli pun semakin semangat menjalani latihan setelah melihat prestasi yang dibuat oleh klub basket.

Takaki dan Yabu tidak bisa menahan muka bahagia mereka. Mereka merasa terharu saat melihat begitu banyaknya murid baru yang berminat masuk ke klub basket. Sebagai kapten klub basket putra dan putri, Takaki dan Yabu merasa tanggung jawab mereka semakin berat. Mereka harus bisa mencapai prestasi yang lebih baik dari tahun kemarin. Menjadi juara di kejuaraan Inter High dan Winter Cup.

“Nah, silahkan semuanya berbaris dan perkenalkan diri kalian satu persatu”, ucap Inoo. Sebagai manajer, dia mengecek satu persatu murid baru yang hadir.

“Mulai dari sebelah kiri. Sebutkan nama, kelas, dan posisi kalian saat bermain basket!”, seru Inoo lagi.

“Baik!”, seluruh anggota baru menjawab serempak. Siswa yang berada di pojok sebelah kiri lalu menyebutkan nama, kelas, dan posisinya. Inoo mendengarkan sambil mengecek lembaran kertas yang dia terima. Setelah mengangguk memastikan, Inoo menyuruh siswa yang ada di sebelahnya untuk melanjutkan perkenalan diri.

“Nakajima Yuto. Kelas 1-A. Posisi center”, ucap murid yang terlihat tinggi di antara anggota baru yang lain. Pandangan Yabu langsung terfokus pada murid baru itu. Sang anggota baru yang disebut oleh Inoo tadi pagi. Sang MVP.

Takaki terlihat kaget saat melihat anggota baru itu. Takaki mengenalnya. Tentu saja. pagi ini mereka sudah bertemu. Dialah pemuda yang ditabrak Takaki tadi pagi. Takaki sama sekali tidak menduga kalau pemuda tinggi itu adalah MVP kejuaraan SMP. Tanpa disadari Takaki memegangi kembali pantatnya yang sudah tidak sakit lagi itu.

“Yamada Ryosuke. Kelas 1-A. Posisi Forward”, suara cewek itu terdengar cukup lantang di antara suara cewek yang lain. Kali ini giliran pandangan Takaki yang terfokus ke arah cewek itu. Takaki kembali kaget, cewek itu adalah cewek yang ditemuinya tadi pagi. Cewek yang datang menjemput cowok pendek itu.

“Hei, Takaki... coba lihat itu”, bisik Yabu sambil menyikut pelan tangan Takaki. Yabu menunjuk ke salah satu deretan anggota baru yang hadir. Takaki langsung melihat siapa yang dimaksud oleh Yabu. Cowok pendek yang dilihatnya tadi pagi berada di antara deretan murid baru.


“Arioka Daiki. Kelas 1-A. Posisi Forward”

Tsuzuku ~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar