Jumat, 29 Mei 2015

Aku Pembawa Kedamaian!

Genre : ??? (Saya juga g tau...)
Main Cast : Yaotome Hikaru
Suram.
Itu kata yang tepat untuk menggambarkan suasana di ruangan ini. Meskipun wajah semuanya terlihat gembira, aku bisa merasakan kalau ada awan mendung di atas kepala mereka. Semua? Tidak. Hanya ada beberapa orang yang diliputi wajah suram.
Aura suram yang terasa dimulai dari pojok ruangan. Dari sosok pemuda yang tampak asyik bermain dengan memukul-mukul pahanya seakan sedang asyik bermain drum. Meskipun kelihatannya gerakannya sangat energik, tapi aku merasa gerakannya tidak lebih dari melepas emosi.
Aura suram yang kedua berasal dari pemuda pendek dan chubby yang sedang asyik bermain game. Meskipun kelihatannya dia sangat fokus dengan permainannya, tapi aku merasa itu adalah salah satu cara untuk menghilangkan perhatiannya.
Apa yang membuat mereka berdua begitu?
Itu jawaban yang sangat mudah. Aku melihat ke arah Yamada dan Keito yang sedang asyik berbincang sambil melihat majalah fashion. Akhir-akhir ini mereka memang terlihat dekat. Bahkan dari cerita Yamada, mereka berdua kini sering keluar bersama.
Wajar sajalah Chinen terlihat kesal. Dulu dialah yang sering diajak keluar oleh Yamada, tapi kini Yamada lebih memilih mengajak Keito. Waktu kutanyakan kenapa Yamada tidak pernah mengajak Chinen lagi, dia menjawab kalau bersama dengan Chii, dompetnya akan lebih cepat habis. Berbeda dengan Keito yang tidak pernah minta traktir.
Dan karena Yamada sering mengajak Keito, Yuto kini ikutan suram. Pasalnya, Keito dulu lebih akrab dengannya. Ketika Keito sudah mulai dekat dengan Yamada, Yuto merasa kalau sekarang dia menjadi terabaikan.
Aku menghela nafas panjang melihat 4 anggota grup yang lebih muda itu. Sekilas, sikap mereka terlihat lucu. Bagaikan pertengkaran anak-anak. Terkadang aku merasa geli melihatnya. Aura suram mereka memang tidak sebanding dengan aura yang dimiliki anggota tertua dan anggota termuda BEST ini. Aura 2 orang ini jauh lebih suram.
Aku melihat ke arah Yabu yang serius mengerjakan tugas kuliahnya. Akhir-akhir ini aku sering melihatnya mengerjakan tugas maupun belajar di tengah-tengah pekerjaan. Yabu terlihat seperti mahasiswa teladan yang mengerjakan tugas dengan serius.
Serius?
Menurutku tidak. Itu lebih ke arah murung daripada serius. Aku sudah mengenal Yabu cukup lama, jadi aku tahu Mana wajahnya saat serius, Mana yang murung. Itu jelas wajahnya yang sedang murung.
"Hika, lagu ini enak lo...."
Daiki mengganti lagu yang diputar. Saat ini aku dan dia sedang asyik mendengarkan lagu bersama-sama menggunakan headset. Mukanya terlihat ceria seperti biasa. Tapi aku masih bisa merasakan aura suram dan tegang di mukanya.
Aku tahu penyebabnya. Itu semua gara-gara ucapan Yuya waktu LTL. Yuya mengaku kalau sudah menghilangkan DVD berharga milik Daiki. Semenjak saat itu, Daiki dan Yuya seakan berjauhan, seakan sedang bermusuhan.
"Inoo-kun, kau ini apa-apaan? Ahahaha"
Terdengar suara Yuya sedang tertawa dengan Inoo. Ya... Inilah sebab kenapa 2 orang ini murung. Kedekatan Inoo dan Yuya. Aku bahkan tidak menyangka kalau 2 orang ini bisa dekat, mengingat hubungan mereka dulu yang tidak terlalu akrab. Dulu, Inoo lebih dekat dengan Yabu, Yuya lebih dekat dengan Daiki. Bahkan Daiki adalah satu-satunya yang bisa akrab dengan Yuya sejak junior dulu. Begitu pula hubungan Yabu dan Inoo.
Ah... Aku sudah tidak tahan lagi. Aku tidak ingin ada aura suram di ruangan ini. Aku segera bangkit dan keluar ruangan untuk mengambil minum dan merencanakan ide. Setelah semuanya terpikirkan dengan mantap, aku kembali.
"Yama, Chii, kalian berdua diminta ke lokasi"
Yamada yang asyik berbicara dengan Keito dan Chinen yang asyik bermain game, langsung melihat ke arahku dengan serempak.
"Kami? Kenapa? Bukankah waktunya masih setengah jam lagi?", tanya Yamada.
"Aku tidak tahu. Lebih baik kalian segera kesana"
"Kau tidak bohong kan?", Chinen menatapku dengan curiga.
Aku menggeleng mantap. Yamada dan Chinen saling berpandangan sebentar, kemudian mereka keluar bersama-sama.
Aku menatap kepergian mereka berdua. Tentu saja itu bohong. Tidak ada yang memanggil mereka. Aku melakukan itu agar mereka memiliki waktu untuk bersama.
"Sekarang Yuto dan Keito", gumamku.
Ah, kupikir aku tidak perlu khawatir lagi. Yuto dan Keito sudah berbincang lagi seperti biasa. Rupanya setelah Yamada pergi, Yuto langsung menghampiri Keito. Aura suram di kepala Yuto sudah hilang.
"Tinggal mereka berdua", gumamku sambil melihat ke arah Yabu dan Daiki.
Aku mendekat ke arah Yabu. "Kau mengerjakan apa sih?"
"Tugas kuliah", jawab Yabu singkat.
"Sulit?"
Yabu mengangguk.
"Inoo-chan, kau bisa kesini sebentar?"
Inoo menoleh ke arahku. Dia lalu meninggalkan Yuya dan menghampiri kami berdua.
"Ada apa?", tanya Inoo.
"Tampaknya Yabu kesulitan mengerjakan tugas, bisa kau Bantu dia?"
"Boleh saja. Yang Mana?"
Dalam sekejap, Yabu dan Inoo tampak sibuk berbincang mengenai tugas kuliah. Sesekali aku melihat Yabu tertawa. Aura murungnya telah hilang.
"Tinggal mereka"
Aku melihat ke arah Yuya dan Daiki yang saling diam. Yuya asyik memainkan HPnya, sedangkan Daiki sibuk mendengarkan musik.
"Hei, mau sampai kapan kalian musuhan? Ayo sana baikan", ucapku pada Yuya.
"Tapi..."
"Tidak ada tapi-tapian, cepat baikan sana"
Aku mendorong Yuya agar mendekat ke arah Daiki. Aku melihat Yuya berbicara sungguh-sungguh dengan Daiki. Awalnya ekspresi Daiki tidak berubah, tapi entah apa yang dikatakan Yuya, Daiki terlihat ceria kembali dan mereka berdua terlihat akrab.
Aku tersenyum lega. Suasana suram sudah hilang. Kini ruangan seperti dihiasi oleh bunga. Aku tersenyum melihat teman-temanku.
"Aku pembawa kedamaian"

END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar