Main Cast : Okamoto Keito
DEG!
Keito meremas
dadanya. Luka bakar itu mulai terasa sakit lagi. Akhir-akhir ini Keito memang
merasa luka bakar itu semakin terasa sakit. Jantungnya berdetak kencang saat
luka bakar itu terasa sakit. Seakan-akan memberitahu tubuhnya kalau bahaya
mulai mendekat.
“Kenapa Keito?
kalau tidak cepat-cepat kau habiskan, nanti keburu masuk. Kita hanya punya
sedikit waktu lagi gara-gara insiden tadi”, tanya Juri sambil sibuk melahap
ramen di hadapannya.
Keito menatap
bekalnya. Masih banyak yang tersisa. Tapi akibat rasa sakit di dadanya itu,
nafsu makannya kini hilang. Dia bingung, apa yang harus dilakukan dengan
bekalnya itu. Yama akan marah padanya kalau dia menyisakan makanannya. Tapi,
Keito benar-benar tidak bisa memakannya hingga habis.
Chii yang diam
saja, mengamati tuannya itu dengan sedih. Dia tahu Keito merasa tidak enak
badan, tapi karena Chii saat ini sedang menyamar, dia tidak bisa seenaknya saja
muncul di hadapan Keito.
Keito menghentikan
gerakan tangannya. Sumpitnya diletakkan di meja begitu saja. Dia benar-benar
telah kehilangan selera. Sebagai gantinya, rasa sakit di dadanya semakin
bertambah. Raut wajah Keito semakin memburuk.
“Yama pasti akan
marah besar padaku”, keluh Keito saat melihat sisa makanan yang cukup banyak.
Dia mulai membungkus kembali kotak bekalnya. Tapi, gerakannya terhenti saat
melihat ada seseorang yang mengamati kotak bekalnya dari tadi.
Seorang pemuda
bertubuh pendek berdiri di dekat meja mereka. Matanya terus menatap kotak bekal
Keito. Keito bisa melihat ada air liur yang menetes dari mulut pemuda tersebut.
Dia membuka kembali tutup kotak bekalnya dan memberikannya pada pemuda
tersebut.
“Hmm... kau mau
ini?”, tanya Keito.
Pemuda itu
mengangguk dengan semangat. Matanya tampak seperti anak anjing yang mendapat
mainan.
“Kalau begitu,
silahkan...”.
Keito memberikan
kotak bekalnya pada pemuda pendek itu. Dengan segera pemuda itu langsung
menyantap makanan yang ada di kotak bekal itu dengan lahap. Keito hanya bisa
melihat pemuda itu dengan bengong. Juri yang telah menyelesaikan makanannya pun
ikut menatap pemuda itu dengan heran. Dalam hitungan beberapa detik, makanan
Keito telah habis.
“Terima kasih
banyak!!!”, seru pemuda itu sambil tersenyum lebar. Mukanya tampak seperti anak
kecil. Keito menduga kalau pemuda itu adalah anak kelas 1.
Tidak lama
kemudian, suasana kantin terasa hening. Para siswa yang ada di kantin seakan
terdiam secara serentak. Beberapa siswa bahkan berjalan keluar dari kantin
dengan ketakutan. Keito melihat sekelilingnya dengan heran, kenapa para siswa
ini terdiam?
“Yuyan!!!”
Pemuda itu
melambaikan tangannya dengan riang. Sontak Keito dan Juri melihat ke arah
lelaki yang berjalan menghampiri mereka. Para siswa yang ada di sekitar Keito
dan Juri langsung berdiri menjauh. Seakan-akan ada seekor binatang buas yang
menghampiri mereka.
“Takaki senpai”,
gumam Juri ketakutan.
Keito mengamati
sosok Takaki Yuya dengan seksama. Keito merasa aneh saat melihat sorot mata
senpai tersebut. Ada sesuatu yang membuatnya tertarik padanya, tapi pada saat
itu juga dia merasa ketakutan. Perasaannya mengatakan kalau Yuya ini bukan
orang biasa.
Yuya mengamati
Keito dan Juri secara bergantian. Dia kemudian melihat pemuda pendek yang
memanggilnya itu.
“Kau makan apa
lagi?”, tanya Yuya pada pemuda pendek itu.
“Aku diberi makanan
olehnya”.
Pemuda pendek itu
menunjuk ke arah Keito. Yuya langsung menatap tajam ke arah Keito. Keito
menelan ludahnya.
“Maaf merepotkanmu.
Anak ini memang rakus. Dia tidak pernah merasa kenyang. Terima kasih sudah
memberi dia makan”
Keito terkejut saat
mendengar ucapan terima kasih dari Yuya. Dia tidak menyangka kalau orang yang
paling ditakuti dan disegani di seluruh sekolah akan mengucapkan terima kasih
padanya. Dia lebih terkejut lagi saat melihat pemuda pendek itu dengan
santainya merangkul tangan Yuya dengan manja, tanpa ada sedikitpun rasa takut.
“Yuyaa.... aku
masih lapar... aku mau makan ‘itu’”
Yuya menghela nafas
mendengar permintaan pemuda itu. Dia pun mengangguk pelan dan mengajak pemuda
itu keluar bersama-sama. Keito dan Juri masih terdiam terpaku melihat kedua
pemuda itu. Entah apa yang mereka rasakan saat ini, rasa takut dan heran
menguasai pikiran mereka.
“Hei, siapa pemuda
pendek itu? berani sekali dia bersikap seperti itu”, tanya Keito penasaran.
“Hmm... pemuda
pendek itu namanya Arioka Daiki, murid kelas tiga. Dia sekelas dengan Takaki
senpai sejak kelas 1. Selain itu, mereka juga duduk berdekatan meskipun absen
mereka berjauhan. Arioka senpai adalah satu-satunya orang yang bisa bersikap
seperti itu pada Takaki senpai. Satu hal lagi, Arioka senpai sangat suka makan.
Bahkan di tengah pelajaran, dia tetap makan”
“Yugo! Lagi-lagi
kau mengejutkanku. Bisakah kau muncul dengan cara biasa?”, tanya Keito yang
terkejut dengan kemunculan tiba-tiba teman sekelasnya ini.
“Seperti biasa,
informasimu memang akurat”, puji Juri. Yugo tersenyum bangga mendengar ucapan
Juri.
“EHH?!?! Tunggu
dulu. Pemuda itu anak kelas 3? Kupikir anak kelas 1”, seru Keito kaget.
Deg! Deg!
Keito memegang
dadanya lagi. Kini dadanya terasa sangat sesak. Keito meremas dadanya. Saat
kemunculan mendadak dua pemuda itu, Arioka senpai dan Takaki senpai, rasa
sakitnya sempat hilang. Tapi setelah dua
pemuda itu pergi, rasa sakit di dadanya kembali terasa.
“Keito? kau kenapa?
Kau sakit?”,tanya Juri cemas.
Keito hanya terdiam
sambil memegangi dadanya. Raut mukanya memburuk. Rasa sakitnya semakin
bertambah buruk. Dadanya terasa panas dan perih, jantungnya pun berdetak dengan
kencang dan cepat. Nafas Keito pun mulai tidak beraturan.
“Lebih baik kita
bawa dia ke UKS. Ayo bantu aku Yugo”
Juri mulai memapah
Keito dibantu oleh Yugo. Mereka berdua membawa Keito ke UKS. Dokter UKS tidak
ada di tempat. Ruang UKS itu kosong. Rasa sakit di dada Keito makin menjadi.
Keito ingin mengerang kesakitan, tapi dia tidak mau melakukan hal itu karena
kedua temannya akan merasa sangat cemas.
“Kau beristirahat
saja disini. Aku akan memberitahu guru kalau kau sakit”
Keito mengangguk
mendengar ucapan Juri. Temannya ini memang terlihat payah, tapi dia bisa
diandalkan. Bel masuk pun berbunyi. Juri dan Yugo pun berjalan kembali menuju
ke kelas, sedangkan Keito masih terbaring lemah di tempat tidur UKS.
“Keito-sama...
Keito-sama... apakah tuan baik-baik saja?”
Chii kini kembali
ke sosoknya semula setelah memastikan tidak ada orang di ruang UKS. Chii sangat
cemas melihat Keito yang terus mengerang kesakitan. Chii membuka baju seragam
Keito. Mata Chii terbelalak lebar saat melihat tato tengkorak itu kini tergambar
dengan jelas.
“Keito-sama... aku
akan mencoba memberikan mantra penyembuh bagi pada Keito-sama. Mungkin ini akan
sedikit sakit”
Chii meletakkan
kedua tangannya di dada Keito. tidak lama, Keito merasakan ada sesuatu yang
hangat sekaligus dingin terasa di dadanya. Bersamaan dengan itu rasa sakit di
dada Keito semakin menjadi. Keito mengerang sejadi-jadinya.
Chii tiba-tiba
menjauhkan kedua tangannya. Chii mengendus-endus udara seakan mencium sesuatu.
Keito melirik ke arah Chii dengan heran. Alangkah terkejutnya dia saat melihat
kedua mata Chii kembali menjadi biru.
“Keito-sama...
demon itu... ada di dekat sini...dia sedang beraksi”
---***---
“Hei, kalian
merasakannya?”
“Ya, demon itu
mulai bergerak”
“Lalu bagaimana?
Siapa yang akan memburu demon tersebut?”
“Aku tidak peduli.
Aku tidak tertarik dengan demon itu”
“Aku saja. Kalian
semua jangan ikut campur. Dia buruanku”
“Eh... aku juga
ingin memburunya. Aku sangat lapar sekarang...”
“Sabarlah. Untuk
saat ini kau makan ini saja”
---***---
“Dimana? Dimana dia
sekarang Chii? Apa yang dilakukan demon itu?”, tanya Keito panik.
“Tampaknya dia
ingin memakan ingatan para siswa yang ada disini. Seperti yang dilakukannya di
taman kemarin”
Keito langsung
bangun dan beranjak pergi dari tempat tidur. Tapi langkahnya dihentikan oleh
Chii.
“Apa yang anda
lakukan Keito-sama? Anda masih lemah. Lebih baik anda beristirahat saja”
“Tapi aku tidak
bisa diam saja Chii. Teman-temanku dalam bahaya. Aku akan menyelamatkan mereka”
“Saya mengerti
Keito-sama. Saya yang akan pergi menghadapi demon tersebut. Keito-sama
beristirahat saja disini”
“Tidak mau. Aku
ikut denganmu. Aku pernah bilang kan, kalau kau bertarung, maka aku juga akan
ikut”
Chii menatap Keito.
Chii tahu kalau percuma saja menghentikan Keito saat ini. Niat Keito sudah
bulat. Chii akhirnya menyerah pada keinginan tuannya. Mengikuti perintah
majikan adalah salah satu tugas dewa pelindung.
“Baiklah, tapi
jangan jauh-jauh dari saya Keito-sama. Musuh kita kali ini adalah demon”
Keito mengangguk.
Mereka berdua kini berjalan keluar. Saat membuka pintu, Keito bisa merasakan
ada aura tidak enak yang dia rasakan. Hawa udara di lorong itu pun terasa
sangat berat. Keito merasa ada yang tidak beres dengan udara di sekitar mereka.
Seakan-akan ada sesuatu yang sangat buruk bercampur disana.
Keito melihat kelas
yang ada di dekat UKS. Seluruh penghuni kelas itu tidak sadarkan diri. Termasuk
Ueda sensei yang mengajar. Keito berlari menuju kelas yang ada di sebelahnya,
kelas tempatnya belajar, kondisi kelas itu pun sama dengan kelas yang sebelumnya.
“Gawat. Kita sudah
terlambat”. Keito menggeram marah saat melihat teman-temannya tidak sadarkan
diri. “Chii! Dimana demon itu sekarang?”, seru Keito. Amarahnya tidak dapat dia
sembunyikan.
“Keito-sama! Awas!”
Chii menarik tubuh
Keito. Bertepatan dengan itu, Keito bisa melihat ada sesuatu yang panjang yang
hampir meraih tubuhnya. Sesuatu itu tampak berbentuk seperti tangan yang
panjang. Keito bisa melihat sekilas kuku-kuku yang tajam di tangan itu. Tangan
itu kini tertarik kembali ke suatu tempat.
“Keito-sama, demon
itu ada disana. Tunggu disini. Biar aku yang menyerangnya Keito-sama”
Chii merubah
wujudnya menjadi sosoknya yang semula. Rubah putih bermata biru. Chii segera
berlari menuju arah yang diperkirakan dimana demon itu berada. Keito hanya diam
saja di tempat dan berharap kalau Chii akan baik-baik saja. Dia bisa mendengar
bunyi-bunyi dari arah Chii berada. Keito menduga kalau saat ini mereka sedang
bertarung dengan sengit.
“ARGHH!!!”
Teriakan Chii
menggema di lorong tersebut. Keito langsung berlari panik menghampiri Chii. Dia
bisa melihat Chii yang terikat oleh sesuatu. Di dekatnya ada sosok yang berdiri
tegap.
Keito menghentikan
langkahnya. Dia tampak sangat terkejut ketika melihat sosok yang berdiri itu.
Dia mengenali sosok itu sebagai salah seorang siswa yang memojokkannya tadi
pada saat insiden Hime-sama. Pemuda yang mendorong jatuh Juri.
“Tidak mungkin.
Kau... demon?”, tanya Keito tidak percaya.
“Keito-sama...
maafkan aku. Aku bertindak ceroboh dan tertangkap oleh musuh”
Demon itu melihat
ke arah Keito. Dengan cepat demon itu melempar Chii jauh-jauh dan kini demon
itu berlari menuju Keito. Chii yang terlempar tidak bisa segera bangkit karena
tubuhnya masih terikat oleh sesuatu. Keito berusaha berlari sekuat tenaga
menghindari demon tersebut.
“Yama... tolong
aku”, ucap Keito sambil memegangi antingnya. Itu salah satu cara untuk
memanggil dewa pelindung.
Demon itu kini
hanya tinggal beberapa senti saja dari Keito. Tangan demon itu kini bisa meraih
seragam Keito.
“Gawat. Dia akan
menangkapku”, gumam Keito.
BRAK! Tiba-tiba
demon yang mengejar Keito terlempar. Di hadapan Keito kini berdiri seorang
pemuda. Pemuda itu kini bergerak cepat menuju demon tadi. Keito bisa melihat
secara samar-samar kalau pemuda itu menghajar demon itu habis-habisan.
Terakhir, entah apa yang dilakukan orang itu, tiba-tiba demon itu lenyap tak
berbekas.
Karena gerakan
pemuda itu yang sangat cepat, Keito bahkan tidak sempat melihat wajahnya. Dari
langkah kakinya yang mendekat, Keito tahu kalau pemuda itu berjalan
mendekatinya.
TAP. Pemuda itu
berhenti tepat di depan Keito. Keito mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah
pemuda yang menolongnya itu. Mata Keito terbelalak kaget saat melihat wajah
yang cukup dikenalnya. Wajah yang baru saja dia temui tadi.
“Hime... sama...”
Tsuzuku ~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar