Rabu, 13 Mei 2015

AKUMA NO YOROI

PART 4

Main Cast : Okamoto Keito

DEG!

Keito meremas dadanya. Luka bakar itu mulai terasa sakit lagi. Akhir-akhir ini Keito memang merasa luka bakar itu semakin terasa sakit. Jantungnya berdetak kencang saat luka bakar itu terasa sakit. Seakan-akan memberitahu tubuhnya kalau bahaya mulai mendekat.

“Kenapa Keito? kalau tidak cepat-cepat kau habiskan, nanti keburu masuk. Kita hanya punya sedikit waktu lagi gara-gara insiden tadi”, tanya Juri sambil sibuk melahap ramen di hadapannya.

Keito menatap bekalnya. Masih banyak yang tersisa. Tapi akibat rasa sakit di dadanya itu, nafsu makannya kini hilang. Dia bingung, apa yang harus dilakukan dengan bekalnya itu. Yama akan marah padanya kalau dia menyisakan makanannya. Tapi, Keito benar-benar tidak bisa memakannya hingga habis.

Chii yang diam saja, mengamati tuannya itu dengan sedih. Dia tahu Keito merasa tidak enak badan, tapi karena Chii saat ini sedang menyamar, dia tidak bisa seenaknya saja muncul di hadapan Keito.

Keito menghentikan gerakan tangannya. Sumpitnya diletakkan di meja begitu saja. Dia benar-benar telah kehilangan selera. Sebagai gantinya, rasa sakit di dadanya semakin bertambah. Raut wajah Keito semakin memburuk.

“Yama pasti akan marah besar padaku”, keluh Keito saat melihat sisa makanan yang cukup banyak. Dia mulai membungkus kembali kotak bekalnya. Tapi, gerakannya terhenti saat melihat ada seseorang yang mengamati kotak bekalnya dari tadi.

Seorang pemuda bertubuh pendek berdiri di dekat meja mereka. Matanya terus menatap kotak bekal Keito. Keito bisa melihat ada air liur yang menetes dari mulut pemuda tersebut. Dia membuka kembali tutup kotak bekalnya dan memberikannya pada pemuda tersebut.

“Hmm... kau mau ini?”, tanya Keito.

Pemuda itu mengangguk dengan semangat. Matanya tampak seperti anak anjing yang mendapat mainan.
“Kalau begitu, silahkan...”.

Keito memberikan kotak bekalnya pada pemuda pendek itu. Dengan segera pemuda itu langsung menyantap makanan yang ada di kotak bekal itu dengan lahap. Keito hanya bisa melihat pemuda itu dengan bengong. Juri yang telah menyelesaikan makanannya pun ikut menatap pemuda itu dengan heran. Dalam hitungan beberapa detik, makanan Keito telah habis.

“Terima kasih banyak!!!”, seru pemuda itu sambil tersenyum lebar. Mukanya tampak seperti anak kecil. Keito menduga kalau pemuda itu adalah anak kelas 1.

Tidak lama kemudian, suasana kantin terasa hening. Para siswa yang ada di kantin seakan terdiam secara serentak. Beberapa siswa bahkan berjalan keluar dari kantin dengan ketakutan. Keito melihat sekelilingnya dengan heran, kenapa para siswa ini terdiam?

“Yuyan!!!”

Pemuda itu melambaikan tangannya dengan riang. Sontak Keito dan Juri melihat ke arah lelaki yang berjalan menghampiri mereka. Para siswa yang ada di sekitar Keito dan Juri langsung berdiri menjauh. Seakan-akan ada seekor binatang buas yang menghampiri mereka.

“Takaki senpai”, gumam Juri ketakutan.

Keito mengamati sosok Takaki Yuya dengan seksama. Keito merasa aneh saat melihat sorot mata senpai tersebut. Ada sesuatu yang membuatnya tertarik padanya, tapi pada saat itu juga dia merasa ketakutan. Perasaannya mengatakan kalau Yuya ini bukan orang biasa.

Yuya mengamati Keito dan Juri secara bergantian. Dia kemudian melihat pemuda pendek yang memanggilnya itu.

“Kau makan apa lagi?”, tanya Yuya pada pemuda pendek itu.

“Aku diberi makanan olehnya”.

Pemuda pendek itu menunjuk ke arah Keito. Yuya langsung menatap tajam ke arah Keito. Keito menelan ludahnya.

“Maaf merepotkanmu. Anak ini memang rakus. Dia tidak pernah merasa kenyang. Terima kasih sudah memberi dia makan”

Keito terkejut saat mendengar ucapan terima kasih dari Yuya. Dia tidak menyangka kalau orang yang paling ditakuti dan disegani di seluruh sekolah akan mengucapkan terima kasih padanya. Dia lebih terkejut lagi saat melihat pemuda pendek itu dengan santainya merangkul tangan Yuya dengan manja, tanpa ada sedikitpun rasa takut.

“Yuyaa.... aku masih lapar... aku mau makan ‘itu’”

Yuya menghela nafas mendengar permintaan pemuda itu. Dia pun mengangguk pelan dan mengajak pemuda itu keluar bersama-sama. Keito dan Juri masih terdiam terpaku melihat kedua pemuda itu. Entah apa yang mereka rasakan saat ini, rasa takut dan heran menguasai pikiran mereka.

“Hei, siapa pemuda pendek itu? berani sekali dia bersikap seperti itu”, tanya Keito penasaran.

“Hmm... pemuda pendek itu namanya Arioka Daiki, murid kelas tiga. Dia sekelas dengan Takaki senpai sejak kelas 1. Selain itu, mereka juga duduk berdekatan meskipun absen mereka berjauhan. Arioka senpai adalah satu-satunya orang yang bisa bersikap seperti itu pada Takaki senpai. Satu hal lagi, Arioka senpai sangat suka makan. Bahkan di tengah pelajaran, dia tetap makan”

“Yugo! Lagi-lagi kau mengejutkanku. Bisakah kau muncul dengan cara biasa?”, tanya Keito yang terkejut dengan kemunculan tiba-tiba teman sekelasnya ini.

“Seperti biasa, informasimu memang akurat”, puji Juri. Yugo tersenyum bangga mendengar ucapan Juri.

“EHH?!?! Tunggu dulu. Pemuda itu anak kelas 3? Kupikir anak kelas 1”, seru Keito kaget.

Deg! Deg!

Keito memegang dadanya lagi. Kini dadanya terasa sangat sesak. Keito meremas dadanya. Saat kemunculan mendadak dua pemuda itu, Arioka senpai dan Takaki senpai, rasa sakitnya sempat hilang. Tapi  setelah dua pemuda itu pergi, rasa sakit di dadanya kembali terasa.

“Keito? kau kenapa? Kau sakit?”,tanya Juri cemas.

Keito hanya terdiam sambil memegangi dadanya. Raut mukanya memburuk. Rasa sakitnya semakin bertambah buruk. Dadanya terasa panas dan perih, jantungnya pun berdetak dengan kencang dan cepat. Nafas Keito pun mulai tidak beraturan.

“Lebih baik kita bawa dia ke UKS. Ayo bantu aku Yugo”

Juri mulai memapah Keito dibantu oleh Yugo. Mereka berdua membawa Keito ke UKS. Dokter UKS tidak ada di tempat. Ruang UKS itu kosong. Rasa sakit di dada Keito makin menjadi. Keito ingin mengerang kesakitan, tapi dia tidak mau melakukan hal itu karena kedua temannya akan merasa sangat cemas.

“Kau beristirahat saja disini. Aku akan memberitahu guru kalau kau sakit”

Keito mengangguk mendengar ucapan Juri. Temannya ini memang terlihat payah, tapi dia bisa diandalkan. Bel masuk pun berbunyi. Juri dan Yugo pun berjalan kembali menuju ke kelas, sedangkan Keito masih terbaring lemah di tempat tidur UKS.

“Keito-sama... Keito-sama... apakah tuan baik-baik saja?”

Chii kini kembali ke sosoknya semula setelah memastikan tidak ada orang di ruang UKS. Chii sangat cemas melihat Keito yang terus mengerang kesakitan. Chii membuka baju seragam Keito. Mata Chii terbelalak lebar saat melihat tato tengkorak itu kini tergambar dengan jelas.

“Keito-sama... aku akan mencoba memberikan mantra penyembuh bagi pada Keito-sama. Mungkin ini akan sedikit sakit”

Chii meletakkan kedua tangannya di dada Keito. tidak lama, Keito merasakan ada sesuatu yang hangat sekaligus dingin terasa di dadanya. Bersamaan dengan itu rasa sakit di dada Keito semakin menjadi. Keito mengerang sejadi-jadinya.

Chii tiba-tiba menjauhkan kedua tangannya. Chii mengendus-endus udara seakan mencium sesuatu. Keito melirik ke arah Chii dengan heran. Alangkah terkejutnya dia saat melihat kedua mata Chii kembali menjadi biru.

“Keito-sama... demon itu... ada di dekat sini...dia sedang beraksi”

---***---
“Hei, kalian merasakannya?”

“Ya, demon itu mulai bergerak”

“Lalu bagaimana? Siapa yang akan memburu demon tersebut?”

“Aku tidak peduli. Aku tidak tertarik dengan demon itu”

“Aku saja. Kalian semua jangan ikut campur. Dia buruanku”

“Eh... aku juga ingin memburunya. Aku sangat lapar sekarang...”

“Sabarlah. Untuk saat ini kau makan ini saja”

---***---
“Dimana? Dimana dia sekarang Chii? Apa yang dilakukan demon itu?”, tanya Keito panik.

“Tampaknya dia ingin memakan ingatan para siswa yang ada disini. Seperti yang dilakukannya di taman kemarin”

Keito langsung bangun dan beranjak pergi dari tempat tidur. Tapi langkahnya dihentikan oleh Chii.

“Apa yang anda lakukan Keito-sama? Anda masih lemah. Lebih baik anda beristirahat saja”

“Tapi aku tidak bisa diam saja Chii. Teman-temanku dalam bahaya. Aku akan menyelamatkan mereka”

“Saya mengerti Keito-sama. Saya yang akan pergi menghadapi demon tersebut. Keito-sama beristirahat saja disini”

“Tidak mau. Aku ikut denganmu. Aku pernah bilang kan, kalau kau bertarung, maka aku juga akan ikut”

Chii menatap Keito. Chii tahu kalau percuma saja menghentikan Keito saat ini. Niat Keito sudah bulat. Chii akhirnya menyerah pada keinginan tuannya. Mengikuti perintah majikan adalah salah satu tugas dewa pelindung.

“Baiklah, tapi jangan jauh-jauh dari saya Keito-sama. Musuh kita kali ini adalah demon”

Keito mengangguk. Mereka berdua kini berjalan keluar. Saat membuka pintu, Keito bisa merasakan ada aura tidak enak yang dia rasakan. Hawa udara di lorong itu pun terasa sangat berat. Keito merasa ada yang tidak beres dengan udara di sekitar mereka. Seakan-akan ada sesuatu yang sangat buruk bercampur disana.
Keito melihat kelas yang ada di dekat UKS. Seluruh penghuni kelas itu tidak sadarkan diri. Termasuk Ueda sensei yang mengajar. Keito berlari menuju kelas yang ada di sebelahnya, kelas tempatnya belajar, kondisi kelas itu pun sama dengan kelas yang sebelumnya.

“Gawat. Kita sudah terlambat”. Keito menggeram marah saat melihat teman-temannya tidak sadarkan diri. “Chii! Dimana demon itu sekarang?”, seru Keito. Amarahnya tidak dapat dia sembunyikan.

“Keito-sama! Awas!”

Chii menarik tubuh Keito. Bertepatan dengan itu, Keito bisa melihat ada sesuatu yang panjang yang hampir meraih tubuhnya. Sesuatu itu tampak berbentuk seperti tangan yang panjang. Keito bisa melihat sekilas kuku-kuku yang tajam di tangan itu. Tangan itu kini tertarik kembali ke suatu tempat.

“Keito-sama, demon itu ada disana. Tunggu disini. Biar aku yang menyerangnya Keito-sama”

Chii merubah wujudnya menjadi sosoknya yang semula. Rubah putih bermata biru. Chii segera berlari menuju arah yang diperkirakan dimana demon itu berada. Keito hanya diam saja di tempat dan berharap kalau Chii akan baik-baik saja. Dia bisa mendengar bunyi-bunyi dari arah Chii berada. Keito menduga kalau saat ini mereka sedang bertarung dengan sengit.

“ARGHH!!!”

Teriakan Chii menggema di lorong tersebut. Keito langsung berlari panik menghampiri Chii. Dia bisa melihat Chii yang terikat oleh sesuatu. Di dekatnya ada sosok yang berdiri tegap.

Keito menghentikan langkahnya. Dia tampak sangat terkejut ketika melihat sosok yang berdiri itu. Dia mengenali sosok itu sebagai salah seorang siswa yang memojokkannya tadi pada saat insiden Hime-sama. Pemuda yang mendorong jatuh Juri.

“Tidak mungkin. Kau... demon?”, tanya Keito tidak percaya.

“Keito-sama... maafkan aku. Aku bertindak ceroboh dan tertangkap oleh musuh”

Demon itu melihat ke arah Keito. Dengan cepat demon itu melempar Chii jauh-jauh dan kini demon itu berlari menuju Keito. Chii yang terlempar tidak bisa segera bangkit karena tubuhnya masih terikat oleh sesuatu. Keito berusaha berlari sekuat tenaga menghindari demon tersebut.

“Yama... tolong aku”, ucap Keito sambil memegangi antingnya. Itu salah satu cara untuk memanggil dewa pelindung.

Demon itu kini hanya tinggal beberapa senti saja dari Keito. Tangan demon itu kini bisa meraih seragam Keito.

“Gawat. Dia akan menangkapku”, gumam Keito.

BRAK! Tiba-tiba demon yang mengejar Keito terlempar. Di hadapan Keito kini berdiri seorang pemuda. Pemuda itu kini bergerak cepat menuju demon tadi. Keito bisa melihat secara samar-samar kalau pemuda itu menghajar demon itu habis-habisan. Terakhir, entah apa yang dilakukan orang itu, tiba-tiba demon itu lenyap tak berbekas.

Karena gerakan pemuda itu yang sangat cepat, Keito bahkan tidak sempat melihat wajahnya. Dari langkah kakinya yang mendekat, Keito tahu kalau pemuda itu berjalan mendekatinya.

TAP. Pemuda itu berhenti tepat di depan Keito. Keito mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah pemuda yang menolongnya itu. Mata Keito terbelalak kaget saat melihat wajah yang cukup dikenalnya. Wajah yang baru saja dia temui tadi.


“Hime... sama...”

Tsuzuku ~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar