Inoo berdiri di hadapan Keito.
Matanya yang berwarna merah terus menatap Keito, seakan ingin menguak isi
pikiran Keito yang ada di hadapannya. Keito hanya bisa diam terpaku melihat
Inoo berdiri di hadapannya. Keito menatap mata merah Inoo. Dia masih ingat dengan
jelas kalau mata Inoo berwarna hitam saat mereka bertemu tadi. Kenapa sekarang
berwarna merah? Terlebih lagi, bagaimana bisa Inoo mengalahkan demon tersebut?
Inoo kini berjongkok di sebelah
Keito. Mata merahnya itu masih mengamati Keito tanpa henti. Keito merasa tidak
tenang saat Inoo melihatnya. Keito mengalihkan pandangannya. Entah kenapa dia
merasa sangat takut melihat Inoo lebih lama lagi.
“Ermm... Hime-sama, terima kasih
sudah menyelamatkanku”
“Aku tidak berniat
menyelamatkanmu kok. Demon itu telah merebut makananku, dia telah berani
menginjak wilayah kekuasaanku. Tentu saja aku memakannya”
Keito melihat Inoo dengan heran.
Apa dia tidak salah dengar?
Tidak lama kemudian, di dekat
Keito muncul kepulan asap tebal. Yama langsung melompat keluar dari balik asap
itu. Dalam hitungan detik, Yama langsung menyerang Inoo. Inoo dengan gesit
menghindari serangan Yama.
“Yama! Hentikan! Hime-sama telah
menyelamatkanku. Kenapa kau malah menyerangnya?”
Keito berteriak, berusaha
memisahkan Yama dan Inoo. Tapi Yama tidak mempedulikan perintah Keito dan terus
menyerang Inoo.
“YAMA!!! HENTIKAN!!!”
Keito menggunakan kekuatan
spiritualnya. Dari tangan Keito muncul seperti rantai panjang. Rantai itu
kemudian mengikat Yama. Yama kini tidak bisa bergerak. Yama menatap Keito
dengan pandangan marah. Matanya kini berubah wana menjadi biru, sama seperti
Chii.
“APA YANG KAU LAKUKAN? LEPASKAN
AKU!”, teriak Yama.
“TIDAK! KENAPA KAU TIDAK
MENURUTIKU?”
“APA SALAHNYA KALAU AKU MENYERANG
DEMON?”
“DEMON ITU SUDAH LENYAP.
HIME-SAMA YANG MELAKUKANNYA!”
“BUKAN DEMON YANG ITU! DIA YANG
KUMAKSUD!”, Yama menunjuk ke arah Inoo yang tersenyum melihat pertengkaran Yama
dan Keito. “KAU TIDAK SADAR? DIA ITU DEMON!!!”
Keito terkejut mendengar
perkataan Yama. Dia lalu menatap Inoo yang berdiri tegap bersandar di jendela.
Inoo balas menatapnya sambil tersenyum. Senyum yang sama dengan yang dia
tunjukkan saat mereka bertemu tadi.
“Kau bohong...”, ucap Keito tidak
percaya.
“Yama benar, Keito-sama. Pemuda
itu adalah demon. Buktinya adalah demon yang tadi lenyap. Demon lenyap bila dia
kalah bertarung dengan demon yang lain, atau bila dia dimakan oleh demon lain.
Bukti lain adalah matanya. Warna mata adalah ciri khusus makhluk gaib. Warna
merah adalah ciri bangsa demon. Sedangkan kami dewa pelindung memiliki warna
mata biru”. Chii tiba-tiba datang berkumpul. Sesuatu yang mengikatnya kini
telah lenyap ketika demon yang melawannya itu juga lenyap.
“Tapi... kenapa kau tidak
merasakan kalau dia demon? Seharusnya kau bisa tahu kalau dia demon dari
auranya”, ucap Keito. Keito masih tidak percaya kalau Inoo adalah demon.
“Itu karena aku bisa
menyembunyikan aura dan identitasku sebagai demon. Levelku berbeda dengan demon
tadi”, jelas Inoo.
Keito masih tidak percaya dengan
apa yang didengarnya. Perkataan Inoo barusan menunjukkan kalau benar dia adalah
demon. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Apakah dia akan tetap
membiarkan Yama dan Chii menyerang Inoo, atau dia akan diam saja dan membiarkan
Inoo pergi? Tapi, bila Inoo dibiarkan begitu saja, akan berbahaya. Bagaimanapun,
dia adalah demon.
“Tenang saja. Aku sama sekali
tidak berniat membunuhmu. Tapi, karena aku sudah menyelamatkanmu, aku meminta
imbalan darimu”
Inoo berjalan mendekat ke arah
Keito. Chii langsung menghalangi Inoo dengan badannya. Chii sama sekali tidak
berniat membiarkan Inoo mendekat ke arah Keito.
“Minggir rubah cilik! Aku tidak
punya urusan denganmu! Aku punya urusan dengan tuanmu ini”
“Tidak! Tidak akan kubiarkan kau
mendekat ke arah Keito-sama! Kau harus melawanku terlebih dahulu!”
PLAK! Inoo menampar Chii. Chii
terlempar ke samping sambil memegangi pipinya yang ditampar oleh Inoo.
“Kau memang lebih kuat dariku,
tapi kau tidak akan bisa mengalahkanku dalam wujudmu itu. Kau sendiri tahu itu
kan?”. Inoo menatap Chii. Mukanya kini terlihat kejam. Berbeda dengan sosok
‘Hime-sama’. Inoo yang ini lebih terlihat sebagai ‘demon’.
“Nah, Keito-kun. Karena aku sudah
menyelamatkanmu, aku meminta imbalan darimu”
“Imbalan?”, tanya Keito. keito
kini merasa sangat takut melihat Inoo yang ada di hadapannya.
“Aku ingin meminta ‘pengetahuan’
yang kau punya”
“Pengetahuan?”
“Ya, pengetahuan, atau kalian
bisa menyebutnya kepintaran kalian. Itu adalah salah satu makananku. Makananku
sama dengan demon bodoh yang tadi. Oleh karena itu aku memakannya. Kini, aku
meminta pengetahuanmu sebagai balasan karena telah menolongmu”
“Jangan Keito-sama! Nanti anda
akan bernasib sama dengan korban demon itu!”, cegah Chii.
Inoo kini mengarahkan tangannya
ke kepala Keito. Keito hanya bisa diam terpaku. Dia tidak bisa bergerak.
Seperti ada sesuatu yang menghentikan gerakannya.
Yama berhasil meloloskan diri
dari ikatan rantai Keito. Yama segera berlari menuju ke arah Inoo. Bersamaan
dengan itu, Chii juga kembali bangkit berdiri dan melompat menuju ke arah Inoo.
Kedua dewa pelindung itu segera berlari menuju ke arah Keito untuk
menyelamatkan tuan mereka itu. Sedikit lagi kedua dewa pelindung itu berhasil
mencapai Inoo.
“Okamoto-kun? Apa yang kau
lakukan disini?”
Seketika Chii dan Yama langsung
menghilang dari hadapan Keito ketika ada orang lain yang hadir disitu. Inoo
juga segera menjauhkan tangannya dari kepala Keito. Matanya sudah kembali
menjadi hitam. Aura demon di tubuhnya pun juga menghilang. Inoo kembali menjadi
sosok ‘Hime-sama’ yang dikenal para siswa.
Keito menoleh ke arah orang yang
menyapanya. Betapa terkejutnya dia saat melihat Nakajima Yuto, berdiri disana
tidak jauh darinya.
“Nakajima? Kenapa kau ada
disini?”, tanya Keito.
“Aku sedang ke toilet. Lalu
ketika aku kembali aku melihatmu sedang duduk disini. Ah, Hime-sama, kenapa anda
juga ada disini? Bukankah kelas 3 ada di lantai 3?”, Yuto tampak sedikit
terkejut ketika melihat Inoo yang juga berada disana.
Inoo memasang kembali topeng
manusianya. Dia tersenyum dengan manis. “Tidak apa-apa. Aku juga ingin ke
toilet. Toilet di lantai 3 rusak. Jadi aku turun kemari”.
“Oh begitu”. Yuto kembali menatap
Keito yang masih terdiam. “Okamoto-kun, kenapa kau tidak segera masuk? Kalau
begitu aku masuk kelas dulu ya”.
Yuto berlalu masuk ke dalam
kelas. Keito melihat kelasnya, teman-temannya sudah kembali sadar. Bahkan
mereka melanjutkan pelajaran seperti biasa, seakan-akan tidak ada yang terjadi.
Keito melihat ke kelas sebelah, kelas Yuto, kondisinya pun sama. Seakan-akan
tidak ada perubahan akibat serangan demon tadi.
“Bagaimana bisa? Bukankah tadi
mereka diserang demon?”, gumam Keito.
“Inoo? Kau sedang apa? Aku
mencarimu dari tadi”, seorang pemuda datang mendekati mereka berdua. Keito
mengenali pemuda itu sebagai pemuda yang tadi bersama dengan Inoo. Pemuda yang
dipanggil ‘Yabu-kun’.
“Karena aku sedang baik hati kali
ini, aku akan membiarkanmu pergi secara gratis. Tapi, ketika kau datang meminta
bantuanku lagi, saat itu aku meminta bayaran lebih darimu”. Inoo tersenyum
sekilas sebelum berlalu pergi bersama dengan pemuda itu. “Kalau kau mencariku,
kau bisa menemuiku di perpustakaan. Aku selalu berada disana”
“Untuk apa aku mencarimu lagi?
Aku tidak ingin berurusan dengan demon”, balas Keito.
“Tidak. Kau pasti mencariku,
karena kau membutuhkanku”. Inoo menunjuk ke arah dadanya. “Selama tanda kutukan
di dadamu itu belum lenyap, kau akan membutuhkanku”.
Keito terkejut mendengar
perkataan Inoo. Dia ingin menanyai Inoo soal itu lebih jauh lagi, tapi Inoo
sudah keburu menghilang dari hadapannya. Kenapa Inoo bisa tahu soal itu? Apakah
dia juga tahu mengenai kontrak demon itu?
---***---
“Kenapa kau menghalangiku?”
“Bukankah kau sendiri dalam
kesulitan tadi? Kurasa aku melakukan hal yang benar. Jangan lupa kau harus
membayarku”
“Cih. Kau sendiri yang ikut
campur. Aku tidak pernah meminta bantuan darimu”
---***---
Keito menatap Yama dengan
sembunyi-sembunyi. Dia tahu kalau Yama sangat marah padanya hari ini. Sejak
Keito pulang sekolah, Yama terus menatapnya dengan dingin. Pada waktu Keito
mengajaknya bicara, Yama hanya menjawabnya dengan ketus. Bahkan Chii juga
terkena imbasnya. Biasanya Yama selalu bersikap ramah pada Chii, tapi hari ini,
Yama juga berbicara ketus pada Chii.
Keito hanya bisa menatap Yama
dari jauh. Dia tidak berani mendekat ke Yama selama mood Yama masih jelek.
Keito tahu penyebab mood Yama jelek seharian ini. Kejadian tadi siang di
sekolah adalah penyebabnya. Keito sudah melakukan 2 hal yang tidak disukai
Yama. Yang pertama, Keito melarangnya bertarung dengan demon dan malah membela
demon tersebut, dan yang kedua, Keito mengikatnya dengan paksa. Keito tahu
kalau Yama sangat benci diikat. Berbeda dengan Chii yang patuh dengan Keito,
Yama sangat suka kebebasan, dia tidak suka dikekang, apalagi diikat.
“Keito-sama, anda baik-baik saja?
Apakah demon tadi melakukan sesuatu pada Keito-sama?”. Chii menatap Keito
dengan cemas.
“Tidak. Berkat Nakajima yang ada
disana, Inoo-senpai tidak jadi melakukan apa-apa dan pergi begitu saja”
“Maafkan kami yang tiba-tiba
menghilang tadi Keito-sama. Karena panik, kami berdua langsung menghilang
begitu saja. Kami takut ada manusia lain yang melihat sosok kami”
“Tidak apa. Aku mengerti. Aku
justru lega kalau kalian menghilang tadi. Kalau kalian tetap ada disana, aku
bingung bagaimana menjelaskannya pada Nakajima yang ada disana. Untunglah
Nakajima juga tampaknya tidak melihat kalian”
Chii tersenyum lega mendengar
perkataan tuannya. Chii melirik sekilas ke arah Yama yang tampaknya juga
mengamati Keito secara sembunyi-sembunyi. Chii tersenyum geli melihat tingkah
Yama. Chii tahu kalau meskipun Yama marah pada Keito, tapi Yama tetap
memperhatikan Keito lebih dari siapapun.
“Keito-sama, besok saya juga akan
tetap mengikuti tuan. Setelah saya tahu ada demon di sekolah Keito-sama, saya
tidak bisa tinggal diam. Saya akan melindungi Keito-sama”
Chii menggenggam tangan Keito
erat-erat. Keito bisa melihat kesungguhan dari kedua mata Chii. Raut mukanya
pun terlihat serius. Keito mengangguk pelan. Dia percaya pada kata-kata Chii.
---***---
“Yama...”
Chii menghampiri Yama sedang
duduk memandangi bulan yang samar-samar terlihat. Malam ini terasa begitu
sunyi, hanya ada suara serangga yang terdengar. Yama melirik ke arah Chii.
“Tenang saja, Keito-sama sudah
tidur. Kondisinya baik-baik saja. Sepertinya dia tidak merasa sakit kali ini”.
Chii kini duduk di samping Yama.
“Aku tidak menanyakannya”, jawab
Yama singkat.
“Ahahahaa.... meskipun begitu kau
mencemaskannya kan? aku tahu kok”
Yama mendengus pelan mendengar
perkataan Chii. Chii tertawa pelan melihat sikap Yama yang malu-malu. Tiba-tiba
tawanya terhenti dan raut mukanya tampak sangat murung.
“Yama... aku takut”
“Takut apa?”, jawab Yama singkat
“Aku takut kita tidak bisa
melindungi Keito-sama”
Yama hanya diam tidak menanggapi
perkataan Chii. Chii memang selalu khawatir dengan kondisi Keito. Yama hanya
diam memandangi langit malam yang kini tampak sangat gelap.
“Yama... para demon itu mulai
menampakkan dirinya. Berarti Keito-sama akan semakin berada dalam bahaya. Kita
tidak bisa melindungi Keito-sama. Aku saja tadi hampir kalah seandainya demon
itu tadi tidak datang”
“Itu kan karena kau sedang lengah
saja”, Yama mulai angkat bicara. “Kau pasti bisa mengalahkan para demon itu.
Kau adalah salah satu dewa pelindung yang paling kuat. Demon seperti itu bukan
tandinganmu”
“Itu mustahil dengan keadaanku
yang sekarang. Kau tahu itu kan? demon itu juga tahu kalau aku tidak akan bisa
mengalahkannya. Semenjak kejadian 10 tahun yang lalu, kondisiku terus seperti
ini. Aku masih bisa mengalahkan makhluk gaib biasa, tapi aku tidak bisa kalau
harus berhadapan dengan demon. Level mereka sangat tinggi”
Yama menatap Chii. Tetesan air
kecil terlihat di kedua matanya. Dia tahu perasaan Chii karena dia juga
mengalaminya. Ya, semenjak kejadian 10 tahun yang lalu, kekuatan mereka berdua
telah berkurang lebih dari separuh. Para demon yang datang menyerang keluarga Okamoto
tidak hanya menghancurkan kediaman keluarga itu, mereka juga memakan para dewa
pelindung yang ada disana. Lebih dari separuh dewa pelindung musnah karena
dimakan oleh demon. Yama dan Chii bisa meloloskan diri karena kekuatan mereka
sangat tinggi. Tapi, sebagai gantinya kekuatan mereka berhasil direbut oleh
demon.
“Kita pasti bisa mengambil
kembali kekuatan kita. Aku yakin”, Yama mengucapkan hal itu untuk menenangkan
dirinya dan juga Chii yang gelisah dengan kondisi mereka saat ini.
Tsuzuku ~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar