Sabtu, 23 Mei 2015

AKUMA NO YOROI

Part 5

Inoo berdiri di hadapan Keito. Matanya yang berwarna merah terus menatap Keito, seakan ingin menguak isi pikiran Keito yang ada di hadapannya. Keito hanya bisa diam terpaku melihat Inoo berdiri di hadapannya. Keito menatap mata merah Inoo. Dia masih ingat dengan jelas kalau mata Inoo berwarna hitam saat mereka bertemu tadi. Kenapa sekarang berwarna merah? Terlebih lagi, bagaimana bisa Inoo mengalahkan demon tersebut?

Inoo kini berjongkok di sebelah Keito. Mata merahnya itu masih mengamati Keito tanpa henti. Keito merasa tidak tenang saat Inoo melihatnya. Keito mengalihkan pandangannya. Entah kenapa dia merasa sangat takut melihat Inoo lebih lama lagi.

“Ermm... Hime-sama, terima kasih sudah menyelamatkanku”

“Aku tidak berniat menyelamatkanmu kok. Demon itu telah merebut makananku, dia telah berani menginjak wilayah kekuasaanku. Tentu saja aku memakannya”

Keito melihat Inoo dengan heran. Apa dia tidak salah dengar?

Tidak lama kemudian, di dekat Keito muncul kepulan asap tebal. Yama langsung melompat keluar dari balik asap itu. Dalam hitungan detik, Yama langsung menyerang Inoo. Inoo dengan gesit menghindari serangan Yama.

“Yama! Hentikan! Hime-sama telah menyelamatkanku. Kenapa kau malah menyerangnya?”
Keito berteriak, berusaha memisahkan Yama dan Inoo. Tapi Yama tidak mempedulikan perintah Keito dan terus menyerang Inoo.

“YAMA!!! HENTIKAN!!!”

Keito menggunakan kekuatan spiritualnya. Dari tangan Keito muncul seperti rantai panjang. Rantai itu kemudian mengikat Yama. Yama kini tidak bisa bergerak. Yama menatap Keito dengan pandangan marah. Matanya kini berubah wana menjadi biru, sama seperti Chii.

“APA YANG KAU LAKUKAN? LEPASKAN AKU!”, teriak Yama.

“TIDAK! KENAPA KAU TIDAK MENURUTIKU?”

“APA SALAHNYA KALAU AKU MENYERANG DEMON?”

“DEMON ITU SUDAH LENYAP. HIME-SAMA YANG MELAKUKANNYA!”

“BUKAN DEMON YANG ITU! DIA YANG KUMAKSUD!”, Yama menunjuk ke arah Inoo yang tersenyum melihat pertengkaran Yama dan Keito. “KAU TIDAK SADAR? DIA ITU DEMON!!!”

Keito terkejut mendengar perkataan Yama. Dia lalu menatap Inoo yang berdiri tegap bersandar di jendela. Inoo balas menatapnya sambil tersenyum. Senyum yang sama dengan yang dia tunjukkan saat mereka bertemu tadi.

“Kau bohong...”, ucap Keito tidak percaya.

“Yama benar, Keito-sama. Pemuda itu adalah demon. Buktinya adalah demon yang tadi lenyap. Demon lenyap bila dia kalah bertarung dengan demon yang lain, atau bila dia dimakan oleh demon lain. Bukti lain adalah matanya. Warna mata adalah ciri khusus makhluk gaib. Warna merah adalah ciri bangsa demon. Sedangkan kami dewa pelindung memiliki warna mata biru”. Chii tiba-tiba datang berkumpul. Sesuatu yang mengikatnya kini telah lenyap ketika demon yang melawannya itu juga lenyap.

“Tapi... kenapa kau tidak merasakan kalau dia demon? Seharusnya kau bisa tahu kalau dia demon dari auranya”, ucap Keito. Keito masih tidak percaya kalau Inoo adalah demon.

“Itu karena aku bisa menyembunyikan aura dan identitasku sebagai demon. Levelku berbeda dengan demon tadi”, jelas Inoo.

Keito masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Perkataan Inoo barusan menunjukkan kalau benar dia adalah demon. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Apakah dia akan tetap membiarkan Yama dan Chii menyerang Inoo, atau dia akan diam saja dan membiarkan Inoo pergi? Tapi, bila Inoo dibiarkan begitu saja, akan berbahaya. Bagaimanapun, dia adalah demon.

“Tenang saja. Aku sama sekali tidak berniat membunuhmu. Tapi, karena aku sudah menyelamatkanmu, aku meminta imbalan darimu”

Inoo berjalan mendekat ke arah Keito. Chii langsung menghalangi Inoo dengan badannya. Chii sama sekali tidak berniat membiarkan Inoo mendekat ke arah Keito.

“Minggir rubah cilik! Aku tidak punya urusan denganmu! Aku punya urusan dengan tuanmu ini”

“Tidak! Tidak akan kubiarkan kau mendekat ke arah Keito-sama! Kau harus melawanku terlebih dahulu!”

PLAK! Inoo menampar Chii. Chii terlempar ke samping sambil memegangi pipinya yang ditampar oleh Inoo.

“Kau memang lebih kuat dariku, tapi kau tidak akan bisa mengalahkanku dalam wujudmu itu. Kau sendiri tahu itu kan?”. Inoo menatap Chii. Mukanya kini terlihat kejam. Berbeda dengan sosok ‘Hime-sama’. Inoo yang ini lebih terlihat sebagai ‘demon’.

“Nah, Keito-kun. Karena aku sudah menyelamatkanmu, aku meminta imbalan darimu”

“Imbalan?”, tanya Keito. keito kini merasa sangat takut melihat Inoo yang ada di hadapannya.

“Aku ingin meminta ‘pengetahuan’ yang kau punya”

“Pengetahuan?”

“Ya, pengetahuan, atau kalian bisa menyebutnya kepintaran kalian. Itu adalah salah satu makananku. Makananku sama dengan demon bodoh yang tadi. Oleh karena itu aku memakannya. Kini, aku meminta pengetahuanmu sebagai balasan karena telah menolongmu”

“Jangan Keito-sama! Nanti anda akan bernasib sama dengan korban demon itu!”, cegah Chii.

Inoo kini mengarahkan tangannya ke kepala Keito. Keito hanya bisa diam terpaku. Dia tidak bisa bergerak. Seperti ada sesuatu yang menghentikan gerakannya.

Yama berhasil meloloskan diri dari ikatan rantai Keito. Yama segera berlari menuju ke arah Inoo. Bersamaan dengan itu, Chii juga kembali bangkit berdiri dan melompat menuju ke arah Inoo. Kedua dewa pelindung itu segera berlari menuju ke arah Keito untuk menyelamatkan tuan mereka itu. Sedikit lagi kedua dewa pelindung itu berhasil mencapai Inoo.

“Okamoto-kun? Apa yang kau lakukan disini?”

Seketika Chii dan Yama langsung menghilang dari hadapan Keito ketika ada orang lain yang hadir disitu. Inoo juga segera menjauhkan tangannya dari kepala Keito. Matanya sudah kembali menjadi hitam. Aura demon di tubuhnya pun juga menghilang. Inoo kembali menjadi sosok ‘Hime-sama’ yang dikenal para siswa.

Keito menoleh ke arah orang yang menyapanya. Betapa terkejutnya dia saat melihat Nakajima Yuto, berdiri disana tidak jauh darinya.

“Nakajima? Kenapa kau ada disini?”, tanya Keito.

“Aku sedang ke toilet. Lalu ketika aku kembali aku melihatmu sedang duduk disini. Ah, Hime-sama, kenapa anda juga ada disini? Bukankah kelas 3 ada di lantai 3?”, Yuto tampak sedikit terkejut ketika melihat Inoo yang juga berada disana.

Inoo memasang kembali topeng manusianya. Dia tersenyum dengan manis. “Tidak apa-apa. Aku juga ingin ke toilet. Toilet di lantai 3 rusak. Jadi aku turun kemari”.

“Oh begitu”. Yuto kembali menatap Keito yang masih terdiam. “Okamoto-kun, kenapa kau tidak segera masuk? Kalau begitu aku masuk kelas dulu ya”.

Yuto berlalu masuk ke dalam kelas. Keito melihat kelasnya, teman-temannya sudah kembali sadar. Bahkan mereka melanjutkan pelajaran seperti biasa, seakan-akan tidak ada yang terjadi. Keito melihat ke kelas sebelah, kelas Yuto, kondisinya pun sama. Seakan-akan tidak ada perubahan akibat serangan demon tadi.

“Bagaimana bisa? Bukankah tadi mereka diserang demon?”, gumam Keito.

“Inoo? Kau sedang apa? Aku mencarimu dari tadi”, seorang pemuda datang mendekati mereka berdua. Keito mengenali pemuda itu sebagai pemuda yang tadi bersama dengan Inoo. Pemuda yang dipanggil ‘Yabu-kun’.

“Karena aku sedang baik hati kali ini, aku akan membiarkanmu pergi secara gratis. Tapi, ketika kau datang meminta bantuanku lagi, saat itu aku meminta bayaran lebih darimu”. Inoo tersenyum sekilas sebelum berlalu pergi bersama dengan pemuda itu. “Kalau kau mencariku, kau bisa menemuiku di perpustakaan. Aku selalu berada disana”

“Untuk apa aku mencarimu lagi? Aku tidak ingin berurusan dengan demon”, balas Keito.

“Tidak. Kau pasti mencariku, karena kau membutuhkanku”. Inoo menunjuk ke arah dadanya. “Selama tanda kutukan di dadamu itu belum lenyap, kau akan membutuhkanku”.

Keito terkejut mendengar perkataan Inoo. Dia ingin menanyai Inoo soal itu lebih jauh lagi, tapi Inoo sudah keburu menghilang dari hadapannya. Kenapa Inoo bisa tahu soal itu? Apakah dia juga tahu mengenai kontrak demon itu?

---***---
“Kenapa kau menghalangiku?”

“Bukankah kau sendiri dalam kesulitan tadi? Kurasa aku melakukan hal yang benar. Jangan lupa kau harus membayarku”

“Cih. Kau sendiri yang ikut campur. Aku tidak pernah meminta bantuan darimu”

---***---
Keito menatap Yama dengan sembunyi-sembunyi. Dia tahu kalau Yama sangat marah padanya hari ini. Sejak Keito pulang sekolah, Yama terus menatapnya dengan dingin. Pada waktu Keito mengajaknya bicara, Yama hanya menjawabnya dengan ketus. Bahkan Chii juga terkena imbasnya. Biasanya Yama selalu bersikap ramah pada Chii, tapi hari ini, Yama juga berbicara ketus pada Chii.

Keito hanya bisa menatap Yama dari jauh. Dia tidak berani mendekat ke Yama selama mood Yama masih jelek. Keito tahu penyebab mood Yama jelek seharian ini. Kejadian tadi siang di sekolah adalah penyebabnya. Keito sudah melakukan 2 hal yang tidak disukai Yama. Yang pertama, Keito melarangnya bertarung dengan demon dan malah membela demon tersebut, dan yang kedua, Keito mengikatnya dengan paksa. Keito tahu kalau Yama sangat benci diikat. Berbeda dengan Chii yang patuh dengan Keito, Yama sangat suka kebebasan, dia tidak suka dikekang, apalagi diikat.

“Keito-sama, anda baik-baik saja? Apakah demon tadi melakukan sesuatu pada Keito-sama?”. Chii menatap Keito dengan cemas.

“Tidak. Berkat Nakajima yang ada disana, Inoo-senpai tidak jadi melakukan apa-apa dan pergi begitu saja”

“Maafkan kami yang tiba-tiba menghilang tadi Keito-sama. Karena panik, kami berdua langsung menghilang begitu saja. Kami takut ada manusia lain yang melihat sosok kami”

“Tidak apa. Aku mengerti. Aku justru lega kalau kalian menghilang tadi. Kalau kalian tetap ada disana, aku bingung bagaimana menjelaskannya pada Nakajima yang ada disana. Untunglah Nakajima juga tampaknya tidak melihat kalian”

Chii tersenyum lega mendengar perkataan tuannya. Chii melirik sekilas ke arah Yama yang tampaknya juga mengamati Keito secara sembunyi-sembunyi. Chii tersenyum geli melihat tingkah Yama. Chii tahu kalau meskipun Yama marah pada Keito, tapi Yama tetap memperhatikan Keito lebih dari siapapun.

“Keito-sama, besok saya juga akan tetap mengikuti tuan. Setelah saya tahu ada demon di sekolah Keito-sama, saya tidak bisa tinggal diam. Saya akan melindungi Keito-sama”

Chii menggenggam tangan Keito erat-erat. Keito bisa melihat kesungguhan dari kedua mata Chii. Raut mukanya pun terlihat serius. Keito mengangguk pelan. Dia percaya pada kata-kata Chii.

---***---
“Yama...”

Chii menghampiri Yama sedang duduk memandangi bulan yang samar-samar terlihat. Malam ini terasa begitu sunyi, hanya ada suara serangga yang terdengar. Yama melirik ke arah Chii.

“Tenang saja, Keito-sama sudah tidur. Kondisinya baik-baik saja. Sepertinya dia tidak merasa sakit kali ini”. Chii kini duduk di samping Yama.

“Aku tidak menanyakannya”, jawab Yama singkat.

“Ahahahaa.... meskipun begitu kau mencemaskannya kan? aku tahu kok”

Yama mendengus pelan mendengar perkataan Chii. Chii tertawa pelan melihat sikap Yama yang malu-malu. Tiba-tiba tawanya terhenti dan raut mukanya tampak sangat murung.

“Yama... aku takut”

“Takut apa?”, jawab Yama singkat

“Aku takut kita tidak bisa melindungi Keito-sama”

Yama hanya diam tidak menanggapi perkataan Chii. Chii memang selalu khawatir dengan kondisi Keito. Yama hanya diam memandangi langit malam yang kini tampak sangat gelap.

“Yama... para demon itu mulai menampakkan dirinya. Berarti Keito-sama akan semakin berada dalam bahaya. Kita tidak bisa melindungi Keito-sama. Aku saja tadi hampir kalah seandainya demon itu tadi tidak datang”

“Itu kan karena kau sedang lengah saja”, Yama mulai angkat bicara. “Kau pasti bisa mengalahkan para demon itu. Kau adalah salah satu dewa pelindung yang paling kuat. Demon seperti itu bukan tandinganmu”

“Itu mustahil dengan keadaanku yang sekarang. Kau tahu itu kan? demon itu juga tahu kalau aku tidak akan bisa mengalahkannya. Semenjak kejadian 10 tahun yang lalu, kondisiku terus seperti ini. Aku masih bisa mengalahkan makhluk gaib biasa, tapi aku tidak bisa kalau harus berhadapan dengan demon. Level mereka sangat tinggi”

Yama menatap Chii. Tetesan air kecil terlihat di kedua matanya. Dia tahu perasaan Chii karena dia juga mengalaminya. Ya, semenjak kejadian 10 tahun yang lalu, kekuatan mereka berdua telah berkurang lebih dari separuh. Para demon yang datang menyerang keluarga Okamoto tidak hanya menghancurkan kediaman keluarga itu, mereka juga memakan para dewa pelindung yang ada disana. Lebih dari separuh dewa pelindung musnah karena dimakan oleh demon. Yama dan Chii bisa meloloskan diri karena kekuatan mereka sangat tinggi. Tapi, sebagai gantinya kekuatan mereka berhasil direbut oleh demon.


“Kita pasti bisa mengambil kembali kekuatan kita. Aku yakin”, Yama mengucapkan hal itu untuk menenangkan dirinya dan juga Chii yang gelisah dengan kondisi mereka saat ini.

Tsuzuku ~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar