Minggu, 17 Mei 2015

TEN KNIGHTS

Part 10

“Kami semua pergi dulu ya, Daichan, Yuya, Yamada, tolong jaga rumah ya. Yamada kuharap kau bisa belajar dari mereka. Kalian berdua, ajari Yamada dengan benar ya”, Yabu berpamitan pada kami bertiga yang ditinggal sendirian di rumah.

“Hai, Leader!!!”, jawab Yuya dan Daiki kompak.

“Hati-hati di jalan”, kataku. Yabu, Inoo dan Ryuu menaiki mobil putih yang tadi dipakai menjemputku. Hika, Keito, Yuto, dan Chinen berada di mobil hitam yang kemarin dipakai Yuya. Aku mengamati 2 mobil itu hingga keluar rumah.

“Saa, ayo kita latihan sekarang. Kau mau yang mana dulu? Latihan membuat pelindung atau belajar ilmu beladiri dulu?”, tanya Yuya padaku.

“Yang mana duluan terserah kalian saja”, Jawabku.

“Baiklah,kalau begitu kita latihan membuat pelindung saja dulu. Ayo ikut aku”, Yuya berjalan menuju ke belakang rumah. “Nah, kita latihan disini saja”, kami tiba di hamparan halaman yang luas yang ada di belakang rumah. Disini angin bertiup sepoi-sepoi, hawanya pun sejuk, benar-benar enak. Yuya berdiri di tengah halaman, aku berjalan mendekatinya, sedangkan Daiki duduk di samping halaman. Daiki mengeluarkan headset dari sakunya dan memasangnya.

“sebelumnya aku ingin menanyakanmu sesuatu, kau tahu apa kemampuanmu?”, tanya Yuya.

“Healing”,jawabku.

“Kau tahu bagaimana cara menggunakannya?”

“Aku pernah menggunakannya secara tidak sadar saat ingin mengobati luka ibuku”

“Bagaimana rasanya saat itu?”

“Aku tidak tahu, tiba-tiba saja aku bisa menggunakannya”

“Kalau begitu, coba sekarang kau bayangkan suasana saat itu dan apa yang terjadi padamu. Pejamkan matamu dan cobalah berkonsentrasi. Bayangkan saat ini didepanmu ibumu sedang terluka, lalu kau ingin menggunakan kekuatanmu untuk mengobatinya”

Aku mulai memejamkan mata, aku kembali mencoba mengingat apa yang terjadi saat aku mendapati ibuku yang terluka dan aku berusaha mengobatinya. Tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu dari dalam tubuhku. Terasa seperti ada yang meledak-ledak. Badanku seperti dilapisi sesuatu yang tipis.

“Oke, sekarang buka matamu”, perintah Yuya. Aku membuka mataku. Aku melihat diriku tampak sedang dibalut oleh sesuatu yang tampak seperti asap berwarna putih.“Itulah yang kami sebut energi. Kau sudah melewati tahap pertama”.

“Energi berasal dari kemampuan khususmu, kekuatan tubuh dan kekuatan mentalmu. Semakin kuat ketiga sumber energi itu, maka energi yang kau punya semakin besar. Tahap berikutnya adalah pengendalian energi. Kau perlu mengendalikan energimu agar tidak cepat habis. Energi itu seperti bahan bakar, bila terlalu sering digunakan maka akan cepat habis, akibatnya badanmu akan semakin lemah dan kemampuanmu tidak akan bisa digunakan. Energi yang tidak terkontrol juga akan menyebabkan kemampuanmu akan terus keluar dan bisa membahayakan sekitarmu”,jelas Yuya.

“sepertiyang terjadi pada Yuto dan Daiki dulu ya?”, tanyaku.

“Ah,kau tahu soal itu rupanya. Yuto dan Daichan memang memiliki energi yang sangat besar melampaui kekuatan fisik dan mental mereka, sehingga mereka tidak dapatmengendalikannya dengan baik. Mereka butuh waktu yang cukup lama sehingga mereka bisa mengontrolnya dengan baik”, ucap Yuya. “Lalu, mengapa mereka tidak bisa mengontrolnya?”, tanyaku.

“Begini, dalam tubuh seorang ksatria, ada 3 macam kekuatan. Kekuatan fisik, mental dan kemampuan khusus. 3 kekuatan ini saling berkaitan dan saling mengimbangi membentuk sebuah energi. Bila salah satu kekuatan itu lemah, maka energi yang terbentuk akan tidak terkontrol. Energi ini juga berfungsi sebagai pelindung alami dalam tubuh, tujuannya untuk menghambat kemampuan khususmu agar tidak keluar terus menerus dan bisa mengontrol seberapa besar kekuatan yang akan kalian gunakan. Oleh karena itu seorang ksatria harus memiliki fisik dan mental yang kuat. Untuk kasus Yuto dan Daichan, itu karena kemampuan khusus mereka yang sangat hebat dan kekuatan fisik dan mental mereka yang masih lemah, karena 3 kekuatan ini tidak imbang maka energi mereka tidak terkontrol, akibatnya mereka tidak bisa mengontrol kemampuan khususnya dan kemampuan khusus mereka terusmenerus keluar” jelas Yuya.

“apa akibatnya kalau kemampuan khusus yang dimiliki keluar secara terus menerus?”,tanyaku

“Badanmu akan semakin lemah dan umurmu akan memendek karena kemampuan khususmu akan mengambil waktu kehidupanmu. Akibatnya yang paling buruk, kau bisa mati. Bahkan ada beberapa kemampuan yang bisa membahayakan orang lain juga dan bisa menyebabkan kematian orang banyak”, Yuya menatap sekilas ke arah Daiki yang tampaknya asyik mendengarkan musik. Mukanya tampak sedikit sedih. Aku mengerti siapa yang dimaksud Yuya dalam ucapannya tersebut.

“Bagaimanacara mengontrol energi tersebut?”, tanyaku

“Sepertiyang sudah kukatakan tadi, 3 kekuatan itu harus seimbang. Karena tadi kau bisa mengeluarkan kemampuanmu dan membentuknya menjadi energi dalam jumlah yang bisa dibilang ‘normal’, maka bisa dibilang kau sudah bisa mengontrol energi tersebut. Coba lihat, dari tadi jumlah asap putih yang mengelilingimu itu tidak bertambah atau berkurang kan? Itu berarti energimu dalam keadaan ‘stabil’”,Yuya menunjuk asap putih yang berada di sekelilingku.

“wuah,kau langsung bisa mengontrol energimu. Hebat! Aku saja butuh waktu 2 tahun untuk bisa mengendalikannya. Bahkan aku hampir saja membunuh master”, ujar Daiki yang secara tiba-tiba berada di sampingku.

“membunuh?”,tanyaku pada Daiki.

“Yup,kau tahu kemampuanku kan? Waktu itu, master yang mengajariku langsung soal pengendalian energi ini, tapi karena pengendalianku parah, aku berkali-kali melukai master dengan racun. Untunglah, 1 tahun kemudian Yuya datang kemari. Yuya yang akhirnya mengajariku pengendalian ini karena dia tidak akan terkena racunku. Ah, Yuya ini juga yang mengajari Yuto lo.....”, Daiki mengatakan hal itu dengan wajah yang riang seakan-akan itu hanya candaan saja.

“baiklah,kalau begitu kita akan masuk ke tahap selanjutnya yaitu membuat pelindung. Perhatikan dengan baik ya...”, setelah Yuya berkata demikian, di sekitar tubuhnya aku bisa melihat seuatu yang tampaknya seperti asap putih yang menyelimutinya,perlahan-lahan asap itu menjadi semakin transparan dan akhirnya membentuksesuatu seperti setengah bola dengan Yuya yang berada di dalamnya. Lama-lama lapisan itu semakin besar dan kami pun masuk di dalam lapisan itu.

“Inilah pelindung, ukuran pelindung disesuaikan dengan besarnya energi yang dikeluarkan. Semakin besar dan luas pelindung maka semakin banyak energi yang dikeluarkan”, ucap Yuya. “untuk membuat pelindung, kau harus memenuhi syarat yang penting”, kata Yuya lagi.

“Syarat penting?”, tanyaku.

“Ya,saat membuat pelindung, rasa ‘ingin melindungi’mu harus kuat. Kalau kau tidak bisa, maka pelindung tidak akan tercipta”, terang Yuya.

“Rasa ingin melindungi?”, tanyaku.

“Yup,pelindung adalah sesuatu yang dibuat untuk melindungi orang lain. Itulah tujuan utama pelindung. Semakin kuat rasa ingin melindungimu, maka semakin kuat pula pelindungmu. Pelindung ini tidak bisa dirusak dari dalam maupun dari luar oleh musuh. Satu-satunya cara untuk melepas pelindung adalah bila sang pembuat pelindung sendiri yang melepaskannya atau sang pembuat pelindung terluka parah atau mati”, terang Yuya lagi.

“bagaimana cara mengeluarkan perasaan itu?”

“gampang,bayangkan saja orang yang ingin kau lindungi. Buatlah perasaan itu menjadi kuat. Energimu akan merespon perasaanmu itu dan pelindung akan tercipta. Nah,sekarang kau cobalah”, Yuya melepas pelindungnya. Aku mulai membayangkan ibuku,aku ingin melindunginya. Aku terus berpikir seperti itu, perlahan aku merasa energi itu semakin menguat dan semakin besar. Perlahan aku melihat ada sesuatu yang seperti membungkusku dalam bentuk seperti bola. Sama seperti Yuya tadi. Aku mencoba mengeluarkan energi yang lebih besar, pelindung yang kubuat ini juga meluas bahkan ukurannya 2x lipat dari pelindung yang dicontohkan oleh Yuya tadi.

“Berhasil. Aku berhasil membuatnya”, aku gembira melihat pelindung yang aku ciptakan. Akumelihat ke arah Yuya dan Daiki yang tampaknya sedikit terkejut dengan pelindung yang kuciptakan ini.

“Wuah,Yama, kau jenius! Kau baru pertama kali belajar tapi langsung bisa membuat pelindung sebesar itu. Biasanya kalau yang baru pertama kali belajar, pelindung yang dibuat seukuran dengan yang tadi kucontohkan. Kau benar-benar jenius”,puji Yuya.

“akuhanya mengikuti apa yang kau katakan saja kok”, aku tertunduk sedikit malu dengan pujian Yuya.

“kurasatidak ada lagi yang perlu kuajarkan padamu. Kau sudah melakukannya dengan baik. Kalau begitu sekarang kau belajar ilmu beladiri dengan Daichan saja”.

“Anuu....Yuya, aku ada pertanyaan”

“Apa?Kau sudah melakukannya dengan baik jadi kurasa tidak ada masalah”

“bagaimana cara melepas pelindung ini?”

“Ohiya, aku belum memberitahumu ya. Gampang, hentikan saja energimu. Maka pelindungnya juga akan hilang”. Aku mencoba menghentikan aliran energi di dalam tubuhku. Perlahan-lahan energi yang keluar seperti masuk kembali ke dalam tubuhku dan lapisan pelindung itu lenyap.

“Kalau begitu sekarang giliranku ya..... “ Daiki melepas headsetnya. “kau pernah belajar ilmu beladiri sebelumnya?”, tanya Daiki padaku. Yuya duduk di tempat Daiki tadi dan asyik menonton kami.

“waktu kecil ayahku pernah mengajariku beberapa ilmu beladiri dasar. Aku juga pernah belajar kendo sebentar saat SMP”, jawabku.

“Pantas kau mempunyai fisik yang cukup. Baiklah sebelumnya aku bertanya padamu. Pada saat bertarung nanti, kau ingin bertarung dengan  tangan kosong atau dengan senjata?”

“Senjata? Kupikir para ksatria bertarung dengan kemampuannya”, tanyaku.

“Kemampuanmu tidak bisa digunakan secara terus menerus. Seperti kata Yuya tadi, bila digunakan terus menerus maka akan membahayakan nyawamu. Makanya biasanya ada batas waktu tertentu dari masing-masing kemampuan untuk bekerja. Contohnya kemampuan milik Inoochan, ‘illusion’ yang hanya bisa bekerja dalam waktu 15 menit saja. setelah itu kemampuannya akan hilang dan butuh beberapa waktu lagi untuk menggunakannya kembali. Oleh karena itu, para ksatria bertarung tidak hanya menggunakan kemampuannya saja tapi juga dengan pertarungan fisik”, jelas Daiki panjang lebar.

“lalu para ksatria yang lain bertarung menggunakan senjata apa?”, tanyaku ingin tahu.

“Hika bertarung dengan pistol, terkadang juga dengan pisau. Keito, Ryuu, Yuya, dan Yuto bisa bertarung dengan tangan kosong. Chii biasanya menggunakan tongkat.Inoo menggunakan 2 pedang pendek. Yabu menggunakan pedang panjang. Sedangkan aku biasanya menggunakan tombak, tapi aku bisa menggunakan semua jenis senjata”, Daiki menjelaskan satu satu senjata para ksatria.

“Aku ingin belajar ilmu beladiri saja dulu, setelah itu aku akan belajar ilmu pedang. Aku dulu pernah mempelajarinya, jadi kupikir itu yang kupilih”, jawabku mantap.

“Oke,kalau begitu, kita mulai latihannya. Sekarang_____”, Daiki mulai mengambil jarak dariku “____coba kau serang aku sekarang. Serang aku terus menerus hingga kau bisa memukulku”. Aku agak ragu melakukannya, masa’ aku memukul cewek sih. Ini pertama kalinya aku memukul cewek karena ibu selalu bilang tidak baik memukul cewek.

“Kenapa diam?”, tanya Daiki

“Ah,anuu aku.....” aku ragu menjawabnya.

“Ah,kau ragu memukulku karena aku cewek ya? Tidak apa-apa kok. Lagian belum tentu kau bisa memukulku” Daiki tersenyum melihatku. Entah kenapa, aku sedikit kesal mendengar ucapan Daiki barusan. Aku mulai mengambil kuda-kuda. Aku bersiap-siap menyerang Daiki. Aku mengarahkan kepalan tanganku ke arah Daiki, tapi dengan sigap Daiki menghindar. Aku kembali menyerangnya , lagi-lagi Daiki bisamenghindar. Kulayangkan tendanganku, Daiki berhasil mengelak, dia memegangikakiku dan mendorongku sampai jatuh.

“Ayokita terus lakukan sampai kau berhasil memukulku”, Daiki tersenyum lebar. Dia masih berdiri di tempat yang tadi, bahkan dia tidak bergerak satupun dari sana.Aku bangkit dan kembali menyerangnya, tapi dengan mudah aku didorong jatuh.Kami terus melakukan hal yang sama berulang-ulang. Yuya yang melihat kami dari kejauhan hanya menghela nafas, “Yama, semangat ya!”, lirih Yuya.

Malam harinya

Aku terduduk lemas di ruang utama. Badanku rasanya sakit semua. Latihan fisik yang kujalani bersama dengan Daiki membuat badanku rasanya berat dan lelah. Bahkansampai latihan berakhir pun aku tidak bisa memukul Daiki. Malah berkali-kaliaku jatuh, badanku awalnya tadi penuh dengan memar, tapi berkat kemampuanku memar itu sudah hilang. Akan tetapi, perasaan capek itu masih ada.

“Ryochan, kami pulang!!!”, Chinen tiba-tiba masuk dan memelukku. Badanku langsung merasa kesakitan saat ditindih oleh Chinen. “Aduh....”, rintihku pelan.

“Kenapa Ryochan? Kau sakit? Apa perlu panggil dokter?”, Chinen mengamatiku dengan cemas.

“tidak, Cuma badanku rasanya agak sakit sedikit”, aku memaksakan diri untuk tersenyum. Aku tidak bisa bilang padanya kalau badanku sakit saat ditindih olehnya.

“gara-gara latihan tadi ya? Gimana latihannya? Wah, Daichan emang kejam. Kau tidak apa-apa?”, tanya Chinen cemas, tampaknya dia tidak tahu kalau penyebab sakitku karena ditindih olehnya.

“ah tidak, ini Cuma karena aku kurang berolahraga saja dan tiba-tiba harus latihan yang berat. Jadi wajar saja kalau badanku jadi kaku”.

“Huf, jadi cowok kok lemah sih”, ujar Ryuu yang sudah memasuki ruangan. Tampaknya rombongan Yabukun juga sudah kembali.

“Ryuu! Jangan bicara kasar pada  Ryochan. Ryochan jangan khawatir, nanti aku akan meminta Daichan untuk meringankan latihan kalian”, Chinen mengedipkan sebelah matanya padaku.

“yang benar itu dia meningkatkan kekuatan fisiknya, bukan malah latihan yang dikurangi”, ujar Daiki yang juga memasuki ruangan diikuti oleh Yuya dan Yuto.Ryuu langsung memeluk Daiki saat itu juga,

“Tadaima,neechan”, ucap Ryuu manja pada Daiki.

“Okaeri,Ryuuchan”, jawab Daiki lembut.

“Daichan,kau jangan jahat-jahat pada Ryochanku. Coba lihat gara-gara kamu mukanya jadi kesakitan nih”, Chinen memeluk wajahku dengan erat. Aku sampai sesak nafas. 

“Jelas saja dia tampak kesakitan. Itu bukan karena latihannya Daichan, tapi karena kau menindih badannya. Ayo cepat menyingkir”, Yuto menarik tubuh Chinen. Akhirnya, rasa sakit yang kurasakan jadi agak berkurang.

“eh benarkah? Maafkan aku Ryochan......”, Chinen merangkul tanganku dengan manja.

“Tidak apa-apa”, jawabku pelan. Tubuhku masih terasa sedikit sakit.

“Wah,tampaknya kalian semua berkumpul disini”, Yabu masuk. Dibelakangnya ada Keito,Hika, dan Inoo.

“Yamada,ini seragam dan buku barumu”, Yabu memberikan sebuah tas besar padaku.

“Seragam dan tas baru?”, tanyaku heran.

“Ya, mulai besok kau akan pindah sekolah ke Horikoshi Gakuen. Kami para ksatria juga bersekolah disana. Lebih baik para ksatria bersekolah di tempat yang sama. Itu menurut master”, ucap Yabu lagi.

“Eh,tapi bagaimana dengan sekolah lamaku? Apa kata ibuku?”

“master sudah membicarakannya dengan ibumu dan ibumu menyetujui hal itu. Horikoshi gakuen memiliki pelindung disana, jadi kau bisa belajar dengan aman tanpa adanya gangguan dari musuh. Master sudah mengurus semua kepindahanmu, jadi kau bisa langsung masuk besok”, tambah Yabu lagi. 

Aku masih tidak percaya dengan yang Yabu ucapkan. Hari ini aku pindah ke rumah baru, besoknya pindah ke sekolah baru. Selama menjadi ksatria, semua lingkungan yang berada disekitarku perlahan juga berubah.

Tsuzuku ~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar