“Lama kita tidak bertemu kak, apa kabarmu?”, ujar pemuda itu ke arah Daiki. Kulihat Daiki masih terdiam terpaku, tidak bergeming sedikitpun.
“Ka-ka-kau....kenapa kau ada disini?”, Hika bertanya pada pemuda itu.
“Hmm...aku awalnya hanya berjalan-jalan saja, tapi tiba-tiba King memberi perintah padaku untuk membunuh semua ksatria kalau bertemu dengan mereka. kebetulan, setelah aku menerima perintah itu, aku bertemu dengan yabu san, jadi kupikir dialah target pertamaku. Kemudian kalian datang satu persatu, akhirnya rencanaku jadi berantakan. Tapi, aku tidak menyangka kalau kakakku yang cantik ini juga datang kemari”, pemuda itu menjawab Hika sambil menoleh ke arah Daiki. Daiki masih tetap sama, tidak bergeming sedikitpun. Pemuda itu lalu melihat kearahku, “Hee... ada wajah baru disini. Jadi dia ksatria yang baru??”.
“Fuu....”, lirih Daiki pelan, akhirnya dia mulai membuka suara. Pemuda itu menoleh ke arah Daiki dan mulai mendekatinya. Pemuda itu terus berjalan sehingga jarak antara pemuda itu dengan Daiki semakin dekat.
“Kakak....”,ucap pemuda itu. Daiki mengulurkan tangannya, tampaknya dia ingin menyentuh pemuda itu. Aku melihat pemuda itu memegang sesuatu di tangannya, benda itu berkilat, dan pemuda itu mengarahkan benda itu pada Daiki.
“AWASS!!!! Daiki! Cepat menghindar!’, aku berteriak memperingatkan Daiki saat melihat ada sebilah pisau di tangan pemuda itu. Tampaknya pemuda itu ingin menikam Daiki dengan pisau itu. Tapi sayangnya, Daiki telat menghindar sehingga pisau itu berhasil menancap di tubuh Daiki. Seketika Daiki roboh di hadapan pemuda itu.
“TIDAAKKK!!! DAICHAN!! Apa yang kau lakukan?”, Chinen berteriak histeris saat melihat Daiki roboh. Dia segera berlari menghampiri Daiki, “dia kakakmu! Apa yang ingin kau lakukan sebenarnya??”, aku bisa melihat setetes air mata turun dari mata Chinen. Dia memeluk Daiki yang masih lemas akibat tikaman tadi.
“kakak? Orang ini? Dia sudah bukan kakakku lagi. Pembunuh seperti dia tidak pantas untuk hidup”, pemuda itu menatap dingin Chinen dan Daiki yang ada dihadapannya. ‘pembunuh? Apa yang dia maksud? Kenapa dia bilang Daiki adalah seorang pembunuh?’, tanyaku dalam hati.
“Kejadian itu tidak disengaja! Seharusnya kau juga tahu hal itu! Tidak mungkin Daichan membunuh orangtuanya dengan sengaja!”, seru Chinen. Kata-kata Chinen kembali mengejutkanku, apa yang terjadi pada orangtua Daiki, apa mereka sudah mati?
“Huh,sengaja atau tidak. Dialah yang menyebabkan orangtuaku tewas. Mata dibalas mata, gigi dibalas gigi, nyawa pun dibalas nyawa. Dia sudah tidak punya hak lagi untuk hidup”, pemuda itu lalu menendang Chinen hingga Chinen terlempar jauh.
Aku segera berdiri untuk mendekat kesana, tapi Hika sudah terlebih dahulu menembakkan pistolnya ke arah pemuda itu. Beberapa tembakan berhasil mengenai bahu pemuda itu. Pemuda itu tersungkur. Aku kemudian mendekat agar bisa menyelamatkan Daiki dan Chinen. Tiba-tiba di hadapanku muncul lagi gerombolan zombie. Tampaknya pemuda itu kembali memanggil mereka.
“Karena kalian semua ada disini sekalian saja kuhabisi kalian semua....”, pemuda itu kembali bangkit. Zombie-zombie itu mulai bergerak menuju ke arahku, Hika, dan Chinen yang masih tergeletak. Gerakan mereka sangat cepat sehingga aku sangat yakin kalau mereka akan menangkapku. Tiba-tiba semua zombie yang ada berubah menjadi debu. Aku kemudian melihat Daiki yang tadi masih tergeletak lemah,kembali bangkit. Pisau yang menancap di tubuhnya sudah dia lepaskan. Bersamaan dengan itu, aku bisa melihat darah yang merembes keluar dari baju seragamnya.
“Kau,kau ingin membunuhku kan? Jadi aku saja yang menghadapimu”, Daiki berjalan kearah Chinen yang tampaknya juga mulai bangkit. “Chii, kau sudah sadar kan? Cepatlah menjauh dari sini bersama dengan Hika, Yama, dan Yabu”, Daiki membantu Chinen untuk berdiri.
“Tidak! Aku akan disini untuk membantumu. Aku sudah janji padamu kalau aku akan membantumu saat kau sedang kesulitan kan? Aku akan menepati janji itu”, Chinen bersikeras untuk tetap tinggal bersama dengan Daiki. Daiki mendorongnya menjauh, mengisyaratkan agar Chinen pergi meninggalkannya.
“Chii, terimakasih karena kau masih ingat janjimu waktu itu. Tapi, kali ini aku akan menghadapinya sendirian. Aku tidak menjamin keselamatan kalian saat berada disini, jadi kumohon untuk segera pergi dari sini. Jaga mereka semua ya...”, Daiki memohon pada Chinen untuk pergi meninggalkannya. Chinen memeluk Daiki dengan erat, “Kau, kau tidak boleh kalah. Kau harus menang melawannya. Berjanjilah kau akan menyusul kami”, bisik Chinen, suaranya parau dan matanyaagak sembab.
“aku janji....”, Daiki tersenyum pada Chinen. Chinen melepaskan pelukannya, lalu berlari menjauhi Daiki dan menghampiri kami.
“Hika, Ryochan, ayo kita segera pergi dari sini”, Chinen menarik tanganku untuk menjauhi Daiki dan pemuda itu.
“Ta-tapi, bagaimana dengan Daiki?”, tanyaku
“Kita akan pergi menjauh dari sini, Daiki akan bertarung dengannya sendirian”
“sendirian? Tapi, kita harus menolongnya. Yuri, tidakkah kau lihat Daiki terluka? Dia bisa kalah”, aku tidak ingin meninggalkan Daiki sendirian.
“Yama, kita harus pergi dari sini. Daichan akan menggunakan kemampuannya sehingga dia tidak menjamin keselamatan kita semua. Kau tidak usah khawatir, Yabu pernah bilang kan, kalau Daichan adalah salah satu ksatria yang paling tangguh diantara kami? Jadi, Daichan pasti akan baik-baik saja”, Hika menepuk bahuku dan mendorongku agar mengikuti mereka berdua. Hika menoleh ke arah Daiki, “Daichan! Kami akan menunggumu, jadi pastikan kau kembali. Mengerti?”. Daiki tersenyum ke arah kami seperti mengisyaratkan bahwa dia akan baik-baik saja. aku membantu Hika menggotong tubuh Yabu yang masih tergeletak tidak sadarkan diri. Kami kemudian pergi menjauhi Daiki.
“Hee....kau yakin tidak akan meminta pertolongan mereka, kakakku yang manis?”, ucap pemuda itu ke arah Daiki.
“Tidak perlu, ini hanya pertengkaran kakak adik biasa kan? Masalah keluarga tidak perlu melibatkan orang luar”, Daiki menjawab pertanyaan pemuda itu sambil tersenyum.
“Kau benar!”, setelah berkata begitu pemuda itu langsung mengarahkan tendangannya kearah daiki, tapi Daiki berhasil mengelaknya. Daiki pun melayangkan pukulan ke arah pemuda itu dan pemuda itu juga berhasil mengelaknya. Kedua orang itu saling menyerang tapi keduanya sama-sama bisa saling mengelak dan menyerang dengan baik.
“Kemampuan bertarungmu semakin baik, kakak”, ucap pemuda itu.
“Kau juga, padahal dulu kau anak yang cengeng dan selalu manja kepada ibu”, ucap Daiki.
“aku bukan lagi Fuu yang kau kenal dulu kak. Sekarang aku adalah Jack. Salah satu petinggi di istana kegelapan”.
“Bagiku dari dulu sampai sekarang, kau tetaplah Fuu, adikku yang sangat kusayangi”.
“hubungan kita sudah berakhir sejak hari itu kak”, pemuda itu melayangkan beberapa batu ke arah Daiki, tapi Daiki bisa menghindar bahkan dia sempat membalikkan serangan batu tersebut kembali ke arah pemuda yang mengaku sebagai Jack tersebut.
Jack mulai mengeluarkan sesuatu. Di sekitar tubuhnya keluar serbuk yang berwarna hitam. Keadaan ini persis ketika Daiki menggunakan kemampuannya. Tanpa pikir panjang, Daiki pun juga menggunakannya. Mereka kemudian saling menyerang dan kekuatan mereka mulai bertabrakan karena seimbang dan menimbulkan bunyi seperti ledakan.
DUUAAARRRRRR!!!!!! Apapun yang berada di sekitar mereka hancur menjadi debu. Keadaan di sekitar mereka seperti padang pasir. Ledakan kekuatan mereka berdua menimbulkan sebuah lobang yang besar di tengah-tengah mereka. baik Daiki maupun Jack masih sanggup berdiri dan tampaknya berhasil menghindar dari serangan tersebut. Mereka berdua kembali berusaha saling menyerang satu sama lain.
Di tempat Yamada
Aku mendengar suara ledakan yang cukup keras. Beberapa saat kemudian aku seperti melihat pusaran debu yang bertebaran di udara.
“Tampaknya kekuatan mereka berdua seimbang”, gumam Hika.
“Tidak mungkin. Daichan lebih kuat dari Fuu, dia tidak mungkin akan kalah. Kau tahukan kalau Fuu jauh lebih lemah dari Daichan”, ucap Chinen.
“Chii, dia sudah bukan lagi Fuu yang kita kenal dulu. Dia sudah banyak berubah. Bahkan dia tadi berusaha membunuh Daichan, kakaknya sendiri bukan?”, ucap Hika lagi.
“Tidak! Aku tidak mau percaya kalau Daichan akan kalah. Aku tidak mau dia mengalami hal itu lagi. waktu dia mengalami kejadian itu, aku tidak bisa melakukan apa-apa,saat ini juga sama”, air mata Chinen mulai turun.
“Aku juga ingin membantunya, tapi jika kita ada disana, kita hanya akan mempersulitnya”, ucap Hika sedih. Apakah benar tidak ada yang bisa kami lakukan untuk membantu Daiki?
“Hika, kau bawa HP?”, seru Chinen tiba-tiba.
“Bawa. Kenapa?”
“pinjam. Aku akan menghubungi seseorang”
“Siapa?”,kataku.
“Hanya dia satu-satunya yang bisa membantu Daichan”, Chinen mulai menelpon seseorang. Siapa yang dimaksud oleh Chinen?
Di tempat Daiki
Kedua kakak beradik ini melanjutkan pertarungan mereka. perlahan gerakan keduanya mulai melambat. Tampaknya mereka berdua sama-sama sudah mengalami kelelahan. Badan yang terluka, terlebih sama-sama mengeluarkan kemampuan yang seimbang membuat pertarungan keduanya berjalan dengan seimbang.
“Ini yang terakhir, aku tidak sanggup lagi”, gumam Daiki pelan. Daiki mengumpulkan sisa-sisa energi yang dia miliki untuk mengeluarkan kemampuannya. Jack yang melihat hal itu juga melakukan hal yang sama dengan kakaknya. Mereka sama-sama mengeluarkan kemampuan mereka yang terakhir.
DUUAARRRRRRR!!!!!!!!!!!!!!!!!
Di tempat Yamada
Aku kembali mendengar suara ledakan itu lagi. kali ini suaranya jauh lebih keras dan efek yang ditimbulkan jauh lebih dahsyat dari yang pertama. Aku melihat kearah ledakan. Bahkan langit yang berada di daerah itu pun mulai berwarna hitam. Apa yang sebenarnya sedang terjadi disana? Bagaimana dengan Daiki?
Tsuzuku ~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar