Sabtu, 30 Mei 2015

AKUMA NO YOROI

Part 9

“Hmm... Inoo sudah mengikat kontrak dengan anak itu...”

“Si bocah itu juga tampaknya membantu Inoo dalam hal ini”

“Oh... makanya kau memintaku untuk segera pergi dari tempat itu”

“Aku tidak ingin menambah masalah yang tidak perlu. Terlebih lagi, apa kau tidak sadar kalau kau mengeluarkan aura berbahaya?”

“Ehehehe... daripada aku, bukankah kau yang lebih berbahaya? Moodmu sedang jelek kan? Kurasa kau sedang haus sekali sekarang”

“Kalau kau sudah tahu, ayo cepat kita lakukan. Aku sudah menuruti permintaanmu, sekarang waktunya kau menuruti permintaanku”

“Aku tahu... Take and Give kan?”

---***---
“Inoo telah berkhianat. Anak itu sudah terang-terangan menkhianati kita”

“Yang mulia sudah memberikan perintah. Inoo sudah tidak dianggap salah satu di antara kita”

“Itu artinya, kita boleh menghabisinya kan?”

---***---
Keito terus membersihkan tubuh Yama di kamar mandi. Cairan lengket yang menempel di bulu-bulu tubuh anjing kecil itu susah sekali disingkirkan. Keito sudah berulangkali menyiram tubuh Yama dengan air, tapi cairan itu tetap saja menempel. Keito bahkan tidak peduli dengan suara bel sekolah yang menandakan pelajaran berikutnya akan dimulai. Yang ada dipikiran Keito saat ini adalah menyelamatkan Yama.

“Uhh... kenapa? Kenapa cairan ini susah sekali hilang?”, gerutu Keito.

Chii hanya diam saja mengamati Keito. Dia bisa saja membantu Keito dengan menggunakan kekuatannya, meskipun Chii juga ragu apakah dia bisa menghilangkan cairan itu atau tidak. Chii terus menggigit bibirnya sendiri agar suaranya tidak keluar. Ya, semenjak tadi, Chii terus berusaha menahan rasa sakit di tubuhnya. Meskipun sekarang tubuhnya tidak merasakan cambukan yang tidak terlihat itu lagi, tapi Chii masih bisa merasakan sakit.

“Keito-sama... maafkan saya yang tidak bisa melakukan apapun”, lirih Chii pelan. Saking pelannya, bahkan Keito tidak bisa mendengarnya.

“Yama... kumohon. Buka matamu... kau sudah bebas, jadi kumohon, buka matamu”, lirih Keito.

Keito terus membasuh tubuh Yama dengan air yang mengalir. Entah sudah berapa liter air yang digunakan, bahkan sebagian baju Keito sudah basah terkena air. Akan tetapi, itu masih belum cukup untuk menghilangkan cairan lengket itu.

“Okamoto-kun? Sedang apa kau disini?”

Keito terperanjat kaget saat melihat ada seseorang yang datang menghampirinya. Saking sibuknya Keito pada Yama, dia bahkan tidak menyadari ada seseorang di belakangnya.

“Nakajima-kun...”, gumam Keito pelan.

“Kenapa Okamoto-kun? Apa yang sedang kau lakukan? Kenapa tubuhmu basah semua?”, tanya Yuto heran saat mendapati Keito sedang terduduk di salah satu bilik toilet dan tubuhnya basah.

Awalnya Keito heran dengan pertanyaan yang diajukan oleh Yuto, tapi setelah melihat Yama yang ada pangkuannya, dia mengerti. Yama saat ini telah kembali menjadi wujudnya yang semula, tentu saja manusia biasa tidak bisa melihatnya. Termasuk Yuto. Saat ini, yang dilihat Yuto adalah sosoknya yang sedang terduduk lemas dan dalam kondisi basah.

“Ah... ini aku...”, Keito bingung bagaimana menjelaskan pada Yuto apa yang sedang dia lakukan. Keito berpikir kalau Yuto saat ini mengira dia sedikit ‘gila’, karena melakukan hal yang tidak jelas.

“Kau sakit? Kau tidak enak badan? Biar kupanggilkan guru kemari”. Yuto memegang dahi Keito yang kini terasa sedikit panas. Tubuh Keito memang sedikit terasa panas setelah dia mengikat kontrak dengan Inoo. Yuto yang mengira Keito demam langsung berdiri dan memutuskan untuk memanggil guru.

Keito mengulurkan tangannya dan menahan Yuto, sebuah ide terlintas di kepalanya. “Err... tidak usah Nakajima-kun. Sebaiknya kupikir aku pulang saja. Benar katamu, aku sedikit tidak enak badan”.

Keito berbohong soal kondisinya. Sebenarnya dia tidak merasa sakit sama sekali, tapi dia rasa itu adalah keputusan yang tepat. Dia ingin segera pulang untuk merawat Yama. Mungkin di salah satu buku ajaran keluarganya ada cara untuk menolong Yama.

Yuto menatap Keito yang terlihat sangat lemah. “Hmm... baiklah. Kalau begitu, aku akan membantumu mengambilkan tasmu dan meminta ijin pada guru agar kau bisa pulang lebih cepat”

“Eh? Tidak usah Nakajima-kun. Biar aku sendiri saja. Kau tidak usah repot-repot. Apalagi kau bukan teman sekelasku”

Yuto memegang kepala Keito dan membelai rambutnya dengan lembut. “Tidak apa. Tidak mungkin aku membiarkan orang yang sakit berjalan sendirian kan? Aku akan merasa tidak enak kalau membiarkan kau sendiri. Lebih baik sekarang kau keluar dari sini, keringkan bajumu agar demammu tidak semakin bertambah parah. Biar aku saja yang mengambilkan tasmu. Ya?”

Keito mengangguk. Yuto segera keluar dan menuju ke kelas Keito. keito menatap punggung Yuto yang berjalan menjauh. Keito tidak menyangka kalau Yuto akan membantunya sampai seperti ini. Keito memang tidak terlalu sering berbicara dengan Yuto, jadi dia tidak terlalu tahu bagaimana Yuto yang sebenarnya. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Yuto adalah orang yang sangat baik.

“Yama... bertahanlah sebentar. Mungkin di rumah aku bisa menemukan cara untuk menyelamatkanmu”, bisik Keito pelan pada Yama yang ada di pelukannya. Yama hanya diam tidak bergerak, tapi Keito bisa merasakan nafas pelan Yama di tangannya.

Tidak berapa lama, Yuto datang kembali membawa tas Keito. Keito menerimanya dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya sedang menggendong Yama. Keito berusaha agar tangan kanannya terlihat normal dan tidak terlihat aneh. Setelah mengucapkan terima kasih pada Yuto, Keito segera bergegas pulang ke rumah.

Keito mempercepat langkahnya. Dia sudah tidak sabar ingin segera sampai di rumah. Dia ingin segera menyelamatkan Yama. Tidak berapa lama, Keito sudah berada di luar gerbang sekolah. Tanpa disadari oleh Keito, ada beberapa pasang mata yang mengamatinya sejak dia keluar sekolah.

“Ufufufufu..... rupanya si anak terkutuk itu masih belum tahu cara menghilangkan cairan demon yang menempel itu”, gumam seorang pemuda berparas cantik yang terus mengamati Keito dari jendela kelas di lantai 3.

“Kau sendiri tidak memberitahu caranya kan?”, balas pemuda yang duduk di sebelahnya.

“Tidak. Dia hanya meminta untuk membebaskan dewa pelindung itu dari Ryuu. Ya sudah, kulakukan. Aku sudah berbaik hati memberitahunya kalau lebih baik cairan demon itu segera dihilangkan”

“Tapi kau tidak bilang padanya kalau cairan demon itu tidak bisa hilang dengan air biasa kan?”

“Tidak. Dia tidak tanya. Dia sendiri yang menyimpulkan kalau air bisa menghilangkan cairan demon itu”

“Kau memang demon yang paling licik, Inoo”

“Aku sudah terbiasa mendengar hal itu. Kau yang paling tahu kan?”

“Kau harus lebih berhati-hati, akibat tindakanmu ini, kau sudah dianggap musuh. Bahkan olehku sekalipun”

“Sebentar lagi kau juga akan dianggap musuh kok. Kau akan bernasib sama denganku. Ah, kurasa Ryuu juga akan bernasib sama”, Inoo tersenyum menyeringai sambil melihat pemuda yang duduk di sebelahnya.

“Apa maksudmu?”, tanya pemuda itu tidak mengerti.

“Kau pikir, kenapa aku meminta Ryuu bekerjasama denganku? Kau pikir kenapa aku memintanya untuk memakan dewa pelindung itu?”, Inoo tersenyum penuh kemenangan.

Pemuda yang duduk di sebelahnya itu langsung menatap Inoo dengan tidak percaya. Matanya terbuka lebar. “Jangan-jangan kau....”

“Yup. Aku sudah merencanakan ini semua. Dengan rencana ini, si anak terkutuk itu akan segera menemuimu. Kau, satu-satunya tetua demon, pasti tahu bagaimana caranya menghilangkan cairan demon itu kan? aku juga tahu sih... tapi aku tidak bisa menghilangkannnya. Hanya kau yang bisa kan? maka dari itu, kau juga termasuk bagian dari rencanaku, Yabu...”

“Kau memang benar-benar licik”, pemuda itu menghela nafas panjang.

“Aku sudah bosan mendengar hal itu”. Inoo tertawa pelan tanpa suara.

---***---
Keito langsung masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa. Tanpa melepas sepatunya, dia langsung masuk ke dalam rumah sambil menggendong Yama yang tampak semakin lemah.

“Chii! Bantu aku!”, perintah Keito. Chii segera berubah kembali menjadi sosok manusianya dan membantu Keito. “Aku akan mencari cara untuk menyembuhkan Yama di salah satu buku milik keluargaku. Kau bantu Yama, terus aliri tubuh Yama dengan air hingga cairan itu hilang”

Chii segera menuruti permintaan Keito. Dengan penuh perhatian, Chii mengangkat tubuh Yama dengan hati-hati dan membawanya ke kamar mandi. Rasa sakit di tubuh Chii belum hilang sepenuhnya, tapi Chii masih bisa menahannya agar Keito tidak curiga. Dia tidak ingin menambah kecemasan Keito. Sama seperti Keito, bagi Chii, Yama saat ini adalah prioritas utama.

Keito langsung membongkar lemari tua di sebuah ruangan. Dia membuka buku-buku yang ada disana satu persatu. Berharap ada suatu cara untuk menyembuhkan Yama. Buku-buku yang sudah dibuka olehnya dilempar begitu saja, sehingga keadaan ruangan itu sangat berantakan. Keito tidak bisa menyembunyikan emosinya yang tidak terkontrol.

“SIAL! Tidak adakah yang tahu cara menghilangkan cairan demon itu?”, ucap Keito. Kekesalannya memuncak dan tidak bisa tertahankan lagi.

“KEITO-SAMA! KEITO-SAMA! Cepat kemari!”

Teriakan Chii yang menggema di seluruh rumah mengagetkan Keito. sebenarnya Keito sedikit kesal dengan panggilan Chii. Tapi, Keito langsung sadar kalau itu salah dan menahan emosinya. Chii sama sekali tidak berbuat salah, jadi tidak ada alasan untuk memarahinya. Keito segera menghampiri dewa pelindung cilik itu.

“Ada apa Chii?”, tanya Keito.

Tanpa perlu dijawab oleh Chii, Keito langsung tahu alasan Chii memanggilnya. Mata Keito langsung terbuka lebar saat melihat Yama kini telah membuka matanya. Meskipun Yama masih dalam sosok seekor anjing kecil, tapi matanya sudah mulai terbuka. Dengan tatapan sayu, Yama melihat ke arah Keito.

“Yama!!!”, Keito langsung berlari menghampiri dewa pelindung itu. Keito langsung memeluk Yama. Butiran air kecil mulai menetes dan membasahi tubuh Yama. Keito merasakan kalau ada sesuatu yang menempel di tangannya. Dia melepas pelukannya dan melihat cairan demon itu masih menempel di tubuh Yama.

“Maafkan saya Keito-sama. Saya sudah berulangkali membasuh tubuh Yama dengan air, tapi cairan itu tetap tidak mau hilang. Akhirnya saya membagi kekuatan saya dengan Yama karena kondisi tubuhnya sudah sangat lemah. Saya tidak menyangka, berkat itu, kesadaran Yama kembali”

Keito membelai kepala Chii dengan lembut. Dalam hati, Keito merasa bersalah karena sudah merasa kesal dengan Chii. “Kerja bagus Chii. Berkat usahamu, kini Yama sudah sadar kembali. Dibandingkan aku yang sama sekali tidak menemukan cara untuk menyembuhkan Yama”

Chii tersenyum senang mendengar pujian dari tuannya. Dia merasa lega bisa membuat tuannya sedikit senang. Dia juga merasa lega Yama bisa sadar kembali.

“Yama? Kau tidak apa-apa? Apa masih ada yang terasa sakit?”, tanya Keito.

Yama hanya menatap Keito dan Chii secara bergantian. Telinganya terkulai lemah. Matanya pun tampak semakin sayu. Yama hanya mengedip-ngedipkan kedua matanya pertanda kalau dia bisa mendengar ucapan Keito dan Chii. Tidak berapa lama kemudian, mata Yama mulai menutup kembali.

“Yama!!!”, seru Keito panik. Dia takut Yama tidak akan membuka matanya lagi.

“Tenang saja Keito-sama, Yama hanya tertidur. Saya bisa merasakannya. Mungkin Yama lelah karena tenaganya hampir hilang. Bahkan kini kekuatan Yama yang tersisa mungkin hanya sekitar ¼ saja. Kurasa demon yang memakan Yama itu telah mengambil kekuatannya lagi. Butuh waktu lama untuk Yama pulih kembali”

“begitu ya...”, gumam Keito sambil pelan-pelan berdiri menjauh dari Yama. “Baiklah, untuk sementara ini, aku akan mencari cara untuk menghilangkan cairan demon yang menempel ini. Kurasa cairan demon ini juga salah satu penyebab pemulihan Yama terhambat”

Keito beranjak pergi keluar ruangan. Baru beberapa langkah, Keito berhenti. “Kurasa dia tahu cara menghilangkannya”

Chii melihat ke arah Keito dengan heran. “Siapa yang Keito-sama maksud?”

“Inoo-senpai, si Hime-sama, demon yang telah mengikat kontrak denganku. Dia bilang dia tahu segalanya, jadi kupikir dia juga tahu bagaimana cara menghilangkan cairan demon itu dari Yama”

“Keito-sama ingin meminta bantuannya lagi?”, keluh Chii. Ada sesuatu dalam hatinya yang membuatnya sedih. Dia tidak menyangka kalau tuannya akan meminta bantuan demon itu lagi.

Tiba-tiba ada sesosok makhluk gaib muncul di antara Chii dan Keito. Wujud makhluk gaib itu seperti seekor burung kecil, sama sekali tidak terlihat berbahaya. Akan tetapi, auranya terasa sangat gelap.  Chii otomatis langsung berubah menjadi rubah putih bermata biru. Dia langsung berhadapan dengan makhluk gaib dan menghalangi makhluk gaib itu mendekati Keito dan Yama.

“Saya datang atas perintah Inoo-sama. Saya membawa pesan dari tuan untuk disampaikan pada si anak terkutuk, Okamoto Keito”, ucap makhluk gaib itu.

“Dari Hime-sama?”, tanya Keito.

“Inoo-sama meminta si anak terkutuk untuk datang ke sekolah malam ini jam 12 bersama dengan kedua dewa pelindungnya. Inoo sama akan memberitahukan cara untuk memulihkan dewa pelindung anda. Jangan lupa, siapkan imbalan untuk Hime-sama”

Sesaat setelah makhluk gaib itu menyampaikan pesan, makhluk gaib itu langsung berubah menjadi sesosok kertas putih. Keito dan Chii hanya saling berpandangan tidak mengerti.

Tsuzuku ~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar