Part 9
“Hmm... Inoo sudah mengikat
kontrak dengan anak itu...”
“Si bocah itu juga tampaknya
membantu Inoo dalam hal ini”
“Oh... makanya kau memintaku
untuk segera pergi dari tempat itu”
“Aku tidak ingin menambah masalah
yang tidak perlu. Terlebih lagi, apa kau tidak sadar kalau kau mengeluarkan
aura berbahaya?”
“Ehehehe... daripada aku,
bukankah kau yang lebih berbahaya? Moodmu sedang jelek kan? Kurasa kau sedang
haus sekali sekarang”
“Kalau kau sudah tahu, ayo cepat
kita lakukan. Aku sudah menuruti permintaanmu, sekarang waktunya kau menuruti
permintaanku”
“Aku tahu... Take and Give kan?”
---***---
“Inoo telah berkhianat. Anak itu
sudah terang-terangan menkhianati kita”
“Yang mulia sudah memberikan
perintah. Inoo sudah tidak dianggap salah satu di antara kita”
“Itu artinya, kita boleh
menghabisinya kan?”
---***---
Keito terus membersihkan tubuh
Yama di kamar mandi. Cairan lengket yang menempel di bulu-bulu tubuh anjing
kecil itu susah sekali disingkirkan. Keito sudah berulangkali menyiram tubuh
Yama dengan air, tapi cairan itu tetap saja menempel. Keito bahkan tidak peduli
dengan suara bel sekolah yang menandakan pelajaran berikutnya akan dimulai.
Yang ada dipikiran Keito saat ini adalah menyelamatkan Yama.
“Uhh... kenapa? Kenapa cairan ini
susah sekali hilang?”, gerutu Keito.
Chii hanya diam saja mengamati
Keito. Dia bisa saja membantu Keito dengan menggunakan kekuatannya, meskipun
Chii juga ragu apakah dia bisa menghilangkan cairan itu atau tidak. Chii terus
menggigit bibirnya sendiri agar suaranya tidak keluar. Ya, semenjak tadi, Chii
terus berusaha menahan rasa sakit di tubuhnya. Meskipun sekarang tubuhnya tidak
merasakan cambukan yang tidak terlihat itu lagi, tapi Chii masih bisa merasakan
sakit.
“Keito-sama... maafkan saya yang
tidak bisa melakukan apapun”, lirih Chii pelan. Saking pelannya, bahkan Keito
tidak bisa mendengarnya.
“Yama... kumohon. Buka matamu...
kau sudah bebas, jadi kumohon, buka matamu”, lirih Keito.
Keito terus membasuh tubuh Yama
dengan air yang mengalir. Entah sudah berapa liter air yang digunakan, bahkan
sebagian baju Keito sudah basah terkena air. Akan tetapi, itu masih belum cukup
untuk menghilangkan cairan lengket itu.
“Okamoto-kun? Sedang apa kau
disini?”
Keito terperanjat kaget saat
melihat ada seseorang yang datang menghampirinya. Saking sibuknya Keito pada
Yama, dia bahkan tidak menyadari ada seseorang di belakangnya.
“Nakajima-kun...”, gumam Keito
pelan.
“Kenapa Okamoto-kun? Apa yang
sedang kau lakukan? Kenapa tubuhmu basah semua?”, tanya Yuto heran saat
mendapati Keito sedang terduduk di salah satu bilik toilet dan tubuhnya basah.
Awalnya Keito heran dengan
pertanyaan yang diajukan oleh Yuto, tapi setelah melihat Yama yang ada
pangkuannya, dia mengerti. Yama saat ini telah kembali menjadi wujudnya yang
semula, tentu saja manusia biasa tidak bisa melihatnya. Termasuk Yuto. Saat
ini, yang dilihat Yuto adalah sosoknya yang sedang terduduk lemas dan dalam
kondisi basah.
“Ah... ini aku...”, Keito bingung
bagaimana menjelaskan pada Yuto apa yang sedang dia lakukan. Keito berpikir
kalau Yuto saat ini mengira dia sedikit ‘gila’, karena melakukan hal yang tidak
jelas.
“Kau sakit? Kau tidak enak badan?
Biar kupanggilkan guru kemari”. Yuto memegang dahi Keito yang kini terasa
sedikit panas. Tubuh Keito memang sedikit terasa panas setelah dia mengikat
kontrak dengan Inoo. Yuto yang mengira Keito demam langsung berdiri dan
memutuskan untuk memanggil guru.
Keito mengulurkan tangannya dan
menahan Yuto, sebuah ide terlintas di kepalanya. “Err... tidak usah
Nakajima-kun. Sebaiknya kupikir aku pulang saja. Benar katamu, aku sedikit
tidak enak badan”.
Keito berbohong soal kondisinya.
Sebenarnya dia tidak merasa sakit sama sekali, tapi dia rasa itu adalah
keputusan yang tepat. Dia ingin segera pulang untuk merawat Yama. Mungkin di
salah satu buku ajaran keluarganya ada cara untuk menolong Yama.
Yuto menatap Keito yang terlihat
sangat lemah. “Hmm... baiklah. Kalau begitu, aku akan membantumu mengambilkan
tasmu dan meminta ijin pada guru agar kau bisa pulang lebih cepat”
“Eh? Tidak usah Nakajima-kun.
Biar aku sendiri saja. Kau tidak usah repot-repot. Apalagi kau bukan teman
sekelasku”
Yuto memegang kepala Keito dan
membelai rambutnya dengan lembut. “Tidak apa. Tidak mungkin aku membiarkan
orang yang sakit berjalan sendirian kan? Aku akan merasa tidak enak kalau
membiarkan kau sendiri. Lebih baik sekarang kau keluar dari sini, keringkan
bajumu agar demammu tidak semakin bertambah parah. Biar aku saja yang
mengambilkan tasmu. Ya?”
Keito mengangguk. Yuto segera
keluar dan menuju ke kelas Keito. keito menatap punggung Yuto yang berjalan
menjauh. Keito tidak menyangka kalau Yuto akan membantunya sampai seperti ini.
Keito memang tidak terlalu sering berbicara dengan Yuto, jadi dia tidak terlalu
tahu bagaimana Yuto yang sebenarnya. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Yuto
adalah orang yang sangat baik.
“Yama... bertahanlah sebentar.
Mungkin di rumah aku bisa menemukan cara untuk menyelamatkanmu”, bisik Keito
pelan pada Yama yang ada di pelukannya. Yama hanya diam tidak bergerak, tapi
Keito bisa merasakan nafas pelan Yama di tangannya.
Tidak berapa lama, Yuto datang
kembali membawa tas Keito. Keito menerimanya dengan tangan kirinya, sedangkan
tangan kanannya sedang menggendong Yama. Keito berusaha agar tangan kanannya
terlihat normal dan tidak terlihat aneh. Setelah mengucapkan terima kasih pada
Yuto, Keito segera bergegas pulang ke rumah.
Keito mempercepat langkahnya. Dia
sudah tidak sabar ingin segera sampai di rumah. Dia ingin segera menyelamatkan
Yama. Tidak berapa lama, Keito sudah berada di luar gerbang sekolah. Tanpa
disadari oleh Keito, ada beberapa pasang mata yang mengamatinya sejak dia
keluar sekolah.
“Ufufufufu..... rupanya si anak
terkutuk itu masih belum tahu cara menghilangkan cairan demon yang menempel
itu”, gumam seorang pemuda berparas cantik yang terus mengamati Keito dari
jendela kelas di lantai 3.
“Kau sendiri tidak memberitahu
caranya kan?”, balas pemuda yang duduk di sebelahnya.
“Tidak. Dia hanya meminta untuk
membebaskan dewa pelindung itu dari Ryuu. Ya sudah, kulakukan. Aku sudah
berbaik hati memberitahunya kalau lebih baik cairan demon itu segera
dihilangkan”
“Tapi kau tidak bilang padanya
kalau cairan demon itu tidak bisa hilang dengan air biasa kan?”
“Tidak. Dia tidak tanya. Dia
sendiri yang menyimpulkan kalau air bisa menghilangkan cairan demon itu”
“Kau memang demon yang paling
licik, Inoo”
“Aku sudah terbiasa mendengar hal
itu. Kau yang paling tahu kan?”
“Kau harus lebih berhati-hati,
akibat tindakanmu ini, kau sudah dianggap musuh. Bahkan olehku sekalipun”
“Sebentar lagi kau juga akan
dianggap musuh kok. Kau akan bernasib sama denganku. Ah, kurasa Ryuu juga akan
bernasib sama”, Inoo tersenyum menyeringai sambil melihat pemuda yang duduk di
sebelahnya.
“Apa maksudmu?”, tanya pemuda itu
tidak mengerti.
“Kau pikir, kenapa aku meminta
Ryuu bekerjasama denganku? Kau pikir kenapa aku memintanya untuk memakan dewa
pelindung itu?”, Inoo tersenyum penuh kemenangan.
Pemuda yang duduk di sebelahnya
itu langsung menatap Inoo dengan tidak percaya. Matanya terbuka lebar.
“Jangan-jangan kau....”
“Yup. Aku sudah merencanakan ini
semua. Dengan rencana ini, si anak terkutuk itu akan segera menemuimu. Kau,
satu-satunya tetua demon, pasti tahu bagaimana caranya menghilangkan cairan
demon itu kan? aku juga tahu sih... tapi aku tidak bisa menghilangkannnya.
Hanya kau yang bisa kan? maka dari itu, kau juga termasuk bagian dari
rencanaku, Yabu...”
“Kau memang benar-benar licik”,
pemuda itu menghela nafas panjang.
“Aku sudah bosan mendengar hal
itu”. Inoo tertawa pelan tanpa suara.
---***---
Keito langsung masuk ke dalam
rumah dengan tergesa-gesa. Tanpa melepas sepatunya, dia langsung masuk ke dalam
rumah sambil menggendong Yama yang tampak semakin lemah.
“Chii! Bantu aku!”, perintah
Keito. Chii segera berubah kembali menjadi sosok manusianya dan membantu Keito.
“Aku akan mencari cara untuk menyembuhkan Yama di salah satu buku milik
keluargaku. Kau bantu Yama, terus aliri tubuh Yama dengan air hingga cairan itu
hilang”
Chii segera menuruti permintaan
Keito. Dengan penuh perhatian, Chii mengangkat tubuh Yama dengan hati-hati dan
membawanya ke kamar mandi. Rasa sakit di tubuh Chii belum hilang sepenuhnya,
tapi Chii masih bisa menahannya agar Keito tidak curiga. Dia tidak ingin
menambah kecemasan Keito. Sama seperti Keito, bagi Chii, Yama saat ini adalah
prioritas utama.
Keito langsung membongkar lemari
tua di sebuah ruangan. Dia membuka buku-buku yang ada disana satu persatu.
Berharap ada suatu cara untuk menyembuhkan Yama. Buku-buku yang sudah dibuka
olehnya dilempar begitu saja, sehingga keadaan ruangan itu sangat berantakan.
Keito tidak bisa menyembunyikan emosinya yang tidak terkontrol.
“SIAL! Tidak adakah yang tahu
cara menghilangkan cairan demon itu?”, ucap Keito. Kekesalannya memuncak dan
tidak bisa tertahankan lagi.
“KEITO-SAMA! KEITO-SAMA! Cepat
kemari!”
Teriakan Chii yang menggema di
seluruh rumah mengagetkan Keito. sebenarnya Keito sedikit kesal dengan
panggilan Chii. Tapi, Keito langsung sadar kalau itu salah dan menahan
emosinya. Chii sama sekali tidak berbuat salah, jadi tidak ada alasan untuk
memarahinya. Keito segera menghampiri dewa pelindung cilik itu.
“Ada apa Chii?”, tanya Keito.
Tanpa perlu dijawab oleh Chii,
Keito langsung tahu alasan Chii memanggilnya. Mata Keito langsung terbuka lebar
saat melihat Yama kini telah membuka matanya. Meskipun Yama masih dalam sosok
seekor anjing kecil, tapi matanya sudah mulai terbuka. Dengan tatapan sayu,
Yama melihat ke arah Keito.
“Yama!!!”, Keito langsung berlari
menghampiri dewa pelindung itu. Keito langsung memeluk Yama. Butiran air kecil
mulai menetes dan membasahi tubuh Yama. Keito merasakan kalau ada sesuatu yang
menempel di tangannya. Dia melepas pelukannya dan melihat cairan demon itu
masih menempel di tubuh Yama.
“Maafkan saya Keito-sama. Saya
sudah berulangkali membasuh tubuh Yama dengan air, tapi cairan itu tetap tidak
mau hilang. Akhirnya saya membagi kekuatan saya dengan Yama karena kondisi
tubuhnya sudah sangat lemah. Saya tidak menyangka, berkat itu, kesadaran Yama
kembali”
Keito membelai kepala Chii dengan
lembut. Dalam hati, Keito merasa bersalah karena sudah merasa kesal dengan
Chii. “Kerja bagus Chii. Berkat usahamu, kini Yama sudah sadar kembali.
Dibandingkan aku yang sama sekali tidak menemukan cara untuk menyembuhkan Yama”
Chii tersenyum senang mendengar
pujian dari tuannya. Dia merasa lega bisa membuat tuannya sedikit senang. Dia
juga merasa lega Yama bisa sadar kembali.
“Yama? Kau tidak apa-apa? Apa
masih ada yang terasa sakit?”, tanya Keito.
Yama hanya menatap Keito dan Chii
secara bergantian. Telinganya terkulai lemah. Matanya pun tampak semakin sayu.
Yama hanya mengedip-ngedipkan kedua matanya pertanda kalau dia bisa mendengar
ucapan Keito dan Chii. Tidak berapa lama kemudian, mata Yama mulai menutup
kembali.
“Yama!!!”, seru Keito panik. Dia
takut Yama tidak akan membuka matanya lagi.
“Tenang saja Keito-sama, Yama
hanya tertidur. Saya bisa merasakannya. Mungkin Yama lelah karena tenaganya
hampir hilang. Bahkan kini kekuatan Yama yang tersisa mungkin hanya sekitar ¼
saja. Kurasa demon yang memakan Yama itu telah mengambil kekuatannya lagi.
Butuh waktu lama untuk Yama pulih kembali”
“begitu ya...”, gumam Keito
sambil pelan-pelan berdiri menjauh dari Yama. “Baiklah, untuk sementara ini,
aku akan mencari cara untuk menghilangkan cairan demon yang menempel ini.
Kurasa cairan demon ini juga salah satu penyebab pemulihan Yama terhambat”
Keito beranjak pergi keluar
ruangan. Baru beberapa langkah, Keito berhenti. “Kurasa dia tahu cara
menghilangkannya”
Chii melihat ke arah Keito dengan
heran. “Siapa yang Keito-sama maksud?”
“Inoo-senpai, si Hime-sama, demon
yang telah mengikat kontrak denganku. Dia bilang dia tahu segalanya, jadi
kupikir dia juga tahu bagaimana cara menghilangkan cairan demon itu dari Yama”
“Keito-sama ingin meminta bantuannya
lagi?”, keluh Chii. Ada sesuatu dalam hatinya yang membuatnya sedih. Dia tidak
menyangka kalau tuannya akan meminta bantuan demon itu lagi.
Tiba-tiba ada sesosok makhluk
gaib muncul di antara Chii dan Keito. Wujud makhluk gaib itu seperti seekor
burung kecil, sama sekali tidak terlihat berbahaya. Akan tetapi, auranya terasa
sangat gelap. Chii otomatis langsung
berubah menjadi rubah putih bermata biru. Dia langsung berhadapan dengan
makhluk gaib dan menghalangi makhluk gaib itu mendekati Keito dan Yama.
“Saya datang atas perintah
Inoo-sama. Saya membawa pesan dari tuan untuk disampaikan pada si anak
terkutuk, Okamoto Keito”, ucap makhluk gaib itu.
“Dari Hime-sama?”, tanya Keito.
“Inoo-sama meminta si anak
terkutuk untuk datang ke sekolah malam ini jam 12 bersama dengan kedua dewa
pelindungnya. Inoo sama akan memberitahukan cara untuk memulihkan dewa
pelindung anda. Jangan lupa, siapkan imbalan untuk Hime-sama”
Tsuzuku ~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar