Jumat, 29 Mei 2015

AKUMA NO YOROI

Part 8

Inoo tersenyum senang melihat Keito yang terengah-engah menghampirinya. Dia sudah menduga kalau Keito akan menghampirinya. Inoo segera menutup buku yang dibacanya dan mengembalikan buku itu ke tempatnya semula.

Dengan tergesa-gesa Keito berjalan mendekati Inoo. Mukanya tampak cukup serius. “Hime-sama, kau bilang kau bisa menjawab semua pertanyaanku kan? Kau tahu segalanya kan?”

Inoo tersenyum bangga. “Tentu saja. Aku memiliki semua pengetahuan yang ada di dunia ini. Tidak ada satupun yang tidak kuketahui”

“Kalau begitu, kau tahu cara mengembalikan dewa pelindung yang dimakan oleh demon kan?”

“Tentu saja”

Raut wajah Keito tampak sangat lega. Segaris senyuman muncul di wajahnya. “Bagaimana caranya? Beri tahu aku. Akan kuberikan apa yang kau minta”

Inoo menepuk pundak Keito. “Tidak semudah itu. Aku akan memberitahumu kalau kau memberikan imbalan yang kuinginkan. Kau tahu maksudku kan?”

“Akan kuberikan semua pengetahuanku. Ingatanku. Semuanya. Asalkan kau beri tahu caranya mengembalikan Yama”

Chii yang sedari tadi diam mengamati Keito akhirnya tidak bisa tinggal diam. Chii muncul di hadapan Inoo dan Keito dengan sosok manusianya. Matanya masih berwarna biru, tanda kalau Chii waspada dengan demon yang ada di hadapannya itu.

“Keito-sama! Apa yang anda lakukan? Tuan tidak boleh memberikan demon ini apa yang dia mau. Keito-sama, kalau tuan memberikan pengetahuan Tuan padanya, keito-sama akan menjadi orang bodoh dan tidak tahu apa-apa. Prestasi Keito-sama akan turun, dan beasiswa Keito-sama terancam dicabut”. Chii menahan Keito dengan ucapannya.

Kini Keito menatap Chii dengan serius. “Aku tidak peduli! Aku ingin Yama kembali! Apapun akan kulakukan untuk mengembalikan Yama. Bila ada cara untuk mengembalikannya, aku akan melakukan apapun, aku akan mengorbankan apapun. Bagiku, kalian berdua adalah keluargaku. Aku tidak ingin kehilangan salah satu dari kalian”.

Chii tersentak mendengar ucapan Keito. Dia sadar betapa dalamnya perasaan tuannya itu pada dirinya dan Yama. Chii tidak bisa membalas perkataan Keito. Dia kehabisan kata-kata. Tapi Chii tetap tidak bisa menerima kenyataan kalau tuannya itu meminta bantuan pada makhluk gaib yang paling kejam, demon. Apalagi demon jugalah yang menanam kutukan pada Keito. chii menatap kesal ke arah Inoo. Inoo melihatnya dengan senyum kemenangan. Memang benar, Chii sendiri bahkan tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan Yama.

“Tapi Keito-sama...”. chii menatap tuannya itu dengan pandangan mata memelas, berharap kalau tuannya itu berubah pikiran.

“Chii, biarkan aku melakukan hal ini. Kau tidak usah khawatir. Kau juga ingin Yama kembali kan? Bagimu dia seperti saudaramu kan? Kau yang selalu bersamanya pasti menginginkan dia kembali lebih dari siapapun kan?”

Chii menundukkan kepalanya. Ucapan Keito benar. Chii-lah yang paling terpukul saat Yama ditelan oleh demon itu. chii sendiri tidak bisa mengendalikan emosinya dan langsung menyerang demon itu. sebagian hatinya setuju dengan tindakan tuannya, tapi sebagian kecil hatinya dia tidak terima. Melindungi Keito dari demon adalah perintah dari Kenichi-sama, dan itu perintah yang tidak boleh dilanggar.

“Chii, kumohon... hanya ini satu-satunya mengembalikan Yama”. Keito menatap Chii. Hati Chii langsung luluh saat melihat pandangan mata Keito yang memohon padanya. Baru pertama kali ini Chii melihat mata Keito yang seperti ini.

‘Maafkan saya Kenichi-sama. Maafkan aku Yama. Aku telah gagal melaksanakan tugasku’, gumam Chii dalam hati. Seketika Chii merasa ada sesuatu yang mencambuk tubuhnya. Chii menggigit bibirnya dan berusaha menahan rasa sakit. Itulah hukuman bagi dewa pelindung yang tidak bisa melakukan perintah yang diberikan pada mereka. Tubuh mereka akan merasa sakit seakan dicambuk oleh sesuatu yang tidak terlihat. Tubuh Chii terasa sangat sakit, tapi dia berusaha agar Keito tidak mengetahui rasa sakit yang dia rasa.

“Chii?”, tanya Keito

Chii menatap Keito. Keito melihat Chii dengan cemas. Keito takut kalau Chii tetap tidak bisa menerima keputusannya. Keito tidak tahu apa yang sedang diderita oleh Chii. Inoo tersenyum lebar melihat Chii. Inoo tahu apa yang sedang terjadi pada Chii. Bagi demon yang mengetahui segalanya, Inoo langsung tahu apa yang dirasakan oleh Chii.

“Baiklah Keito-sama. Saya akan mendukung Keito-sama”

Keito tersenyum lega mendengar ucapan Chii. Inoo pun tertawa tanpa suara. Inoo tahu, ketika Chii mengatakan hal itu, rasa sakit yang diderita Chii semakin menjadi. Apa yang dilakukan oleh Chii adalah kesalahan besar bagi dewa pelindung.

Keito berbalik arah menatap Inoo yang sedari tadi diam mengamati mereka berdua. “Kuberikan pengetahuanku. Beritahu aku caranya”

“Aku akan mengambil imbalanku dulu”.

Inoo meletakkan tangannya di kepala Keito. Inoo menarik keluar ‘sesuatu’ dari kepala Keito. ‘sesuatu’ itu seperti pita film yang panjang. Itulah yang disebut ‘pengetahuan’ oleh Inoo. Inoo terus menarik pengetahuan Keito hingga pada saat pita itu mulai cukup panjang, dia memotong pita itu dan memasukkannya kembali ke dalam kepala Keito.

Inoo membuka mulutnya dan memasukkan pita panjang itu ke dalam mulutnya. Seluruh pita itu langsung masuk ke dalam mulutnya dan dalam sekali telan, pita itu sudah masuk ke dalam perutnya. Inoo mengelus perutnya, wajahnya terlihat cukup puas.

“Untunglah kau cukup pintar. Pengetahuan yang kau punya ini cukup bermutu dan rasanya enak”

“Seperti yang sudah disepakati. Beri tahu aku cara mengembalikan Yama”

“Tenang saja. Aku sangat puas dengan pengetahuanmu. Aku akan memberitahumu caranya”. Inoo terdiam sejenak seperti berpikir. “Untuk menarik keluar korban yang telah dimakan oleh demon. Kau perlu bantuan dari demon lain untuk menarik keluar korban yang telah ditelan oleh demon tersebut”

“Menarik keluar? Lalu, bagaimana caranya aku bisa meminta bantuan demon lain?”. Keito menatap Inoo, “bisakah kau membantuku menyelamatkan Yama?”

Inoo menggeleng dan membalikkan badannya. “Tidak mau. Aku berjanji untuk memberitahumu caranya, tapi aku tidak berjanji untuk membantumu”

Keito menahan tangan Inoo. “Kumohon bantu aku. Aku akan membayarmu lagi. Aku akan memberikan apa yang kau mau”

Inoo tetap diam. Dia melihat buku-buku yang tertata rapi di lemari. Dia mengambil salah satu buku, membukanya, dan mulai membaca isinya. “Meskipun kau memberikan semua pengetahuan yang kau punya sekarang, itu tidak cukup untuk membayar bantuanku”. Inoo mengucapkan itu dengan dingin.
Keito kebingungan. Dia tidak tahu lagi caranya untuk membujuk Inoo. Keito menatap ke arah Chii yang hanya diam bersandar di dinding. Keito merasa sakit di dadanya. Dia kemudian teringat sesuatu.

“Hime-sama. Ayo kita mengikat kontrak”

Chii yang sedari tadi menahan rasa sakit, langsung terperanjat kaget mendengar ucapan Keito. Dia tidak menduga kalau Keito akan bertindak sejauh ini. Inoo yang membaca langsung mengalihkan matanya kembali menatap ke arah Keito.

“Kontrak? Denganku?”, tanya Inoo memastikan.

“Iya. Kalau kau mengikat kontrak denganku, kau bisa mengambil pengetahuanku kapanpun dan sebanyak apapun yang kau mau”

“Keito-sama. Apa yang tuan lakukan?”, seru Chii.

Inoo tertawa terbahak-bahak. “Baru kali ini aku melihat ada manusia yang dengan sukarela mengikat kontrak dengan demon. Kuberitahu dulu, mengikat kontrak dengan demon tidak sama dengan makhluk gaib yang lain. kau tahu kan?”

Keito mengangguk. Dia sudah mengetahui hal itu. Yama juga pernah memberitahunya. Chii hanya terdiam pasrah. Rasa sakitnya semakin menjadi. Saking sakitnya, Chii sampai tidak bisa mengeluarkan suaranya. Chii tahu kalau mengikat kontrak dengan demon adalah salah satu cara untuk melepas kutukan Keito.

“Yama pasti marah padaku kalau dia tahu soal ini”, gumam Chii pelan.

“Baiklah. Aku akan mengikat kontrak denganmu. Dengan ini aku juga diuntungkan. Aku tidak perlu susah-susah mencari makanan lagi”

Inoo tersenyum. Dia berjalan mendekati keito. inoo menyibakkan poni rambut Keito hingga dahi Keito yang lebar tampak. Inoo langsung mengecup dahi Keito. Keito merasa dahinya terasa panas. Ada sesuatu yang tercetak di dahinya.

“Dengan ini, kontrak selesai. Aku sudah memberikan tandaku di tubuhmu”. Inoo tersenyum puas. Keito hanya bisa memegangi dahinya yang panas sambil melongo. Rasa sakit di dadanya pun sedikit berkurang.

Inoo mengambil HP dari sakunya dan mulai mengetik sebuah SMS. “sebentar lagi dia kemari”, ucap Inoo sambil memasukkan Hpnya lagi ke dalam saku.

“Dia?”, tanya Keito tidak mengerti.

“Demon yang memakan demon pelindungmu”, jawab Inoo singkat.

“Kau kenal demon itu?”, tanya Keito kaget.

“Waktu aku mengambil pengetahuanmu tadi, aku juga melihat sekilas ingatanmu. Aku tahu apa yang terjadi. Aku juga tahu demon yang melakukannya”

Keito diam tidak mengerti. Tidak lama kemudian, pintu perpustakaan terbuka. Dari arah pintu, sesosok pemuda masuk ke dalam. Keito kenal dengan baik pemuda yang masuk ini. Demon yang tadi memakan Yama. Demon itu langsung menghampiri Inoo dan mendorongnya hingga Inoo terpojok.

“Inoo... apa maksudmu?”, tanya pemuda itu.

“Seperti yang kukatakan. Kembalikan dewa pelindung yang kau telan tadi”

“Tidak mau. Kenapa aku harus menuruti perkataanmu?”

“Aku sudah memintanya dengan baik-baik, Ryuu”

Pemuda itu menoleh ke arah Keito yang diam mengamati mereka. Ryuu segera menghampiri Keito dan menyibakkan dahinya. “Sudah kuduga. Kau mengikat kontrak dengan si anak terkutuk”. Pemuda yang dipanggil ‘Ryuu’ itu melihat ke arah Inoo dengan kesal.

“Benar. Cepat kembalikan dewa pelindung yang kau telan”, perintah Inoo.

“Sudah terlambat. Dewa pelindung itu sudah menjadi satu dengan tubuhku. Dia tidak bisa dikeluarkan lagi”

Inoo tertawa mendengar ucapan pemuda itu. “Jangan bohong padaku , Ryuu. Dewa pelindung yang kau telan itu 3x lebih kuat dari kau. Butuh waktu setidaknya 2 hari untuk mencernanya. Apalagi kalau baru saja kau menelannya, tentu dia masih bisa dikeluarkan dengan mudah”

Pemuda itu mendecakkan bibirnya mendengar perkataan Inoo. Dia mundur beberapa langkah dan mengambil ancang-ancang seakan bersiap menyerang Inoo. Pemuda itu sama sekali tidak berniat menuruti perkataan Inoo.

“Kau ingin melawanku Ryuu?”

“Kau lebih lemah dariku. levelmu masih ada di bawahku”, ucap pemuda demon itu dengan sombong.

“Jangan sombong anak muda. Aku memang lebih lemah darimu. Tapi aku jauh lebih tua darimu. Aku tahu semua kelemahanmu. Aku bisa mengalahkanmu dengan mudah meskipun kau lebih kuat”.

Keito menelan ludahnya. Bulu kuduknya berdiri. Keito merasa hawa dalam perpustakaan menjadi jauh lebih dingin. Seluruh hawa dingin ini berasal dari Inoo. Aura di sekitar Inoo terasa sangat menyeramkan. Bahkan pemuda sombong itu langsung mundur beberapa langkah melihat aura Inoo yang keluar.

“Cih, baiklah”. Pemuda itu akhirnya menyerah. Dia tidak ingin bertarung dengan Inoo.

Inoo tersenyum. Aura gelap yang menyelimutinya telah hilang. Hawa dingin itu pun lenyap. Inoo berjalan mendekati Ryuu. Dia meletakkan tangannya di perut Ryuu. Dengan sekali gerakan, Inoo mencabik perut Ryuu dan membukanya. Dari dalam perut Ryuu, sesosok anjing kecil keluar. Tubuh anjing kecil itu terbalut dengan cairan lengket.

“YAMA!”.

Keito menjerit saat melihat sosok anjing kecil berwarna hitam yang keluar dari perut pemuda itu. Itu adalah sosok Yama yang sebenarnya. Keito langsung berlari menghampiri Yama dan memeluknya.

“Yama! Yama!”. Keito terus memanggil nama Yama. “Terima kasih”, ucap Keito pada Inoo.

“Lebih baik kau segera membasuh tubuhnya. meskipun dia sudah keluar, tubuhnya tidak akan tahan kalau ada cairan demon yang menempel di tubuhnya”, jelas Inoo.

Keito mengangguk. Dia segera menggendong Yama dan berlari keluar menuju kamar mandi. Chii juga berubah kembali menjadi gantungan kunci dan masuk ke dalam saku Keito. mereka bertiga kemudian langsung menghilang dari pandangan Inoo dan Ryuu.

“Gara-gara kau, aku kehilangan makanan yang berharga”. Ryuu mengusap perutnya. Dan seketika luka di perutnya lenyap. “Semua berjalan sesuai rencanamu”

Inoo tersenyum. “Tentu saja. Aku tahu kalau Keito akan kemari meminta bantuanku kalau salah satu dari dewa pelindungnya itu dalam bahaya. Terlebih lagi, kau juga mendapatkan keuntungan kan? ¾ kekuatan dewa pelindung itu kini kau miliki”

Ryuu membalas dengan senyum. “Benar. Kini aku harus sudah cukup puas dengan ini saja. terlebih, dengan membiarkan Yama hidup, aku bisa bermain-main dengannya lebih lama lagi”. Tidak lama, bel masuk berbunyi. Inoo dan Ryuu segera menuju ke pintu keluar untuk kembali ke kelas masing-masing.

“Inoo. Kini kau telah menjadi pengkhianat. Mereka pasti tidak akan tinggal diam”


“Sudah dari dulu aku disebut pengkhianat. Aku sudah siap untuk itu. Mengikat kontrak dengan anak itu juga salah satu cara untuk mencapai impianku”

Tsuzuku ~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar