Part 8
Inoo tersenyum senang melihat
Keito yang terengah-engah menghampirinya. Dia sudah menduga kalau Keito akan
menghampirinya. Inoo segera menutup buku yang dibacanya dan mengembalikan buku
itu ke tempatnya semula.
Dengan tergesa-gesa Keito
berjalan mendekati Inoo. Mukanya tampak cukup serius. “Hime-sama, kau bilang
kau bisa menjawab semua pertanyaanku kan? Kau tahu segalanya kan?”
Inoo tersenyum bangga. “Tentu
saja. Aku memiliki semua pengetahuan yang ada di dunia ini. Tidak ada satupun
yang tidak kuketahui”
“Kalau begitu, kau tahu cara
mengembalikan dewa pelindung yang dimakan oleh demon kan?”
“Tentu saja”
Raut wajah Keito tampak sangat
lega. Segaris senyuman muncul di wajahnya. “Bagaimana caranya? Beri tahu aku.
Akan kuberikan apa yang kau minta”
Inoo menepuk pundak Keito. “Tidak
semudah itu. Aku akan memberitahumu kalau kau memberikan imbalan yang
kuinginkan. Kau tahu maksudku kan?”
“Akan kuberikan semua
pengetahuanku. Ingatanku. Semuanya. Asalkan kau beri tahu caranya mengembalikan
Yama”
Chii yang sedari tadi diam
mengamati Keito akhirnya tidak bisa tinggal diam. Chii muncul di hadapan Inoo
dan Keito dengan sosok manusianya. Matanya masih berwarna biru, tanda kalau
Chii waspada dengan demon yang ada di hadapannya itu.
“Keito-sama! Apa yang anda
lakukan? Tuan tidak boleh memberikan demon ini apa yang dia mau. Keito-sama,
kalau tuan memberikan pengetahuan Tuan padanya, keito-sama akan menjadi orang
bodoh dan tidak tahu apa-apa. Prestasi Keito-sama akan turun, dan beasiswa
Keito-sama terancam dicabut”. Chii menahan Keito dengan ucapannya.
Kini Keito menatap Chii dengan
serius. “Aku tidak peduli! Aku ingin Yama kembali! Apapun akan kulakukan untuk
mengembalikan Yama. Bila ada cara untuk mengembalikannya, aku akan melakukan
apapun, aku akan mengorbankan apapun. Bagiku, kalian berdua adalah keluargaku.
Aku tidak ingin kehilangan salah satu dari kalian”.
Chii tersentak mendengar ucapan
Keito. Dia sadar betapa dalamnya perasaan tuannya itu pada dirinya dan Yama.
Chii tidak bisa membalas perkataan Keito. Dia kehabisan kata-kata. Tapi Chii
tetap tidak bisa menerima kenyataan kalau tuannya itu meminta bantuan pada
makhluk gaib yang paling kejam, demon. Apalagi demon jugalah yang menanam
kutukan pada Keito. chii menatap kesal ke arah Inoo. Inoo melihatnya dengan
senyum kemenangan. Memang benar, Chii sendiri bahkan tidak tahu bagaimana
caranya mengembalikan Yama.
“Tapi Keito-sama...”. chii
menatap tuannya itu dengan pandangan mata memelas, berharap kalau tuannya itu
berubah pikiran.
“Chii, biarkan aku melakukan hal
ini. Kau tidak usah khawatir. Kau juga ingin Yama kembali kan? Bagimu dia
seperti saudaramu kan? Kau yang selalu bersamanya pasti menginginkan dia
kembali lebih dari siapapun kan?”
Chii menundukkan kepalanya.
Ucapan Keito benar. Chii-lah yang paling terpukul saat Yama ditelan oleh demon
itu. chii sendiri tidak bisa mengendalikan emosinya dan langsung menyerang
demon itu. sebagian hatinya setuju dengan tindakan tuannya, tapi sebagian kecil
hatinya dia tidak terima. Melindungi Keito dari demon adalah perintah dari
Kenichi-sama, dan itu perintah yang tidak boleh dilanggar.
“Chii, kumohon... hanya ini
satu-satunya mengembalikan Yama”. Keito menatap Chii. Hati Chii langsung luluh
saat melihat pandangan mata Keito yang memohon padanya. Baru pertama kali ini
Chii melihat mata Keito yang seperti ini.
‘Maafkan saya Kenichi-sama.
Maafkan aku Yama. Aku telah gagal melaksanakan tugasku’, gumam Chii dalam hati.
Seketika Chii merasa ada sesuatu yang mencambuk tubuhnya. Chii menggigit
bibirnya dan berusaha menahan rasa sakit. Itulah hukuman bagi dewa pelindung
yang tidak bisa melakukan perintah yang diberikan pada mereka. Tubuh mereka
akan merasa sakit seakan dicambuk oleh sesuatu yang tidak terlihat. Tubuh Chii
terasa sangat sakit, tapi dia berusaha agar Keito tidak mengetahui rasa sakit
yang dia rasa.
“Chii?”, tanya Keito
Chii menatap Keito. Keito melihat
Chii dengan cemas. Keito takut kalau Chii tetap tidak bisa menerima
keputusannya. Keito tidak tahu apa yang sedang diderita oleh Chii. Inoo
tersenyum lebar melihat Chii. Inoo tahu apa yang sedang terjadi pada Chii. Bagi
demon yang mengetahui segalanya, Inoo langsung tahu apa yang dirasakan oleh
Chii.
“Baiklah Keito-sama. Saya akan
mendukung Keito-sama”
Keito tersenyum lega mendengar
ucapan Chii. Inoo pun tertawa tanpa suara. Inoo tahu, ketika Chii mengatakan
hal itu, rasa sakit yang diderita Chii semakin menjadi. Apa yang dilakukan oleh
Chii adalah kesalahan besar bagi dewa pelindung.
Keito berbalik arah menatap Inoo
yang sedari tadi diam mengamati mereka berdua. “Kuberikan pengetahuanku.
Beritahu aku caranya”
“Aku akan mengambil imbalanku
dulu”.
Inoo meletakkan tangannya di
kepala Keito. Inoo menarik keluar ‘sesuatu’ dari kepala Keito. ‘sesuatu’ itu
seperti pita film yang panjang. Itulah yang disebut ‘pengetahuan’ oleh Inoo.
Inoo terus menarik pengetahuan Keito hingga pada saat pita itu mulai cukup
panjang, dia memotong pita itu dan memasukkannya kembali ke dalam kepala Keito.
Inoo membuka mulutnya dan
memasukkan pita panjang itu ke dalam mulutnya. Seluruh pita itu langsung masuk
ke dalam mulutnya dan dalam sekali telan, pita itu sudah masuk ke dalam
perutnya. Inoo mengelus perutnya, wajahnya terlihat cukup puas.
“Untunglah kau cukup pintar.
Pengetahuan yang kau punya ini cukup bermutu dan rasanya enak”
“Seperti yang sudah disepakati.
Beri tahu aku cara mengembalikan Yama”
“Tenang saja. Aku sangat puas
dengan pengetahuanmu. Aku akan memberitahumu caranya”. Inoo terdiam sejenak
seperti berpikir. “Untuk menarik keluar korban yang telah dimakan oleh demon.
Kau perlu bantuan dari demon lain untuk menarik keluar korban yang telah
ditelan oleh demon tersebut”
“Menarik keluar? Lalu, bagaimana
caranya aku bisa meminta bantuan demon lain?”. Keito menatap Inoo, “bisakah kau
membantuku menyelamatkan Yama?”
Inoo menggeleng dan membalikkan
badannya. “Tidak mau. Aku berjanji untuk memberitahumu caranya, tapi aku tidak
berjanji untuk membantumu”
Keito menahan tangan Inoo.
“Kumohon bantu aku. Aku akan membayarmu lagi. Aku akan memberikan apa yang kau
mau”
Inoo tetap diam. Dia melihat
buku-buku yang tertata rapi di lemari. Dia mengambil salah satu buku,
membukanya, dan mulai membaca isinya. “Meskipun kau memberikan semua
pengetahuan yang kau punya sekarang, itu tidak cukup untuk membayar bantuanku”.
Inoo mengucapkan itu dengan dingin.
Keito kebingungan. Dia tidak tahu
lagi caranya untuk membujuk Inoo. Keito menatap ke arah Chii yang hanya diam
bersandar di dinding. Keito merasa sakit di dadanya. Dia kemudian teringat
sesuatu.
“Hime-sama. Ayo kita mengikat
kontrak”
Chii yang sedari tadi menahan
rasa sakit, langsung terperanjat kaget mendengar ucapan Keito. Dia tidak
menduga kalau Keito akan bertindak sejauh ini. Inoo yang membaca langsung
mengalihkan matanya kembali menatap ke arah Keito.
“Kontrak? Denganku?”, tanya Inoo
memastikan.
“Iya. Kalau kau mengikat kontrak
denganku, kau bisa mengambil pengetahuanku kapanpun dan sebanyak apapun yang
kau mau”
“Keito-sama. Apa yang tuan
lakukan?”, seru Chii.
Inoo tertawa terbahak-bahak.
“Baru kali ini aku melihat ada manusia yang dengan sukarela mengikat kontrak
dengan demon. Kuberitahu dulu, mengikat kontrak dengan demon tidak sama dengan
makhluk gaib yang lain. kau tahu kan?”
Keito mengangguk. Dia sudah
mengetahui hal itu. Yama juga pernah memberitahunya. Chii hanya terdiam pasrah.
Rasa sakitnya semakin menjadi. Saking sakitnya, Chii sampai tidak bisa
mengeluarkan suaranya. Chii tahu kalau mengikat kontrak dengan demon adalah
salah satu cara untuk melepas kutukan Keito.
“Yama pasti marah padaku kalau
dia tahu soal ini”, gumam Chii pelan.
“Baiklah. Aku akan mengikat
kontrak denganmu. Dengan ini aku juga diuntungkan. Aku tidak perlu susah-susah
mencari makanan lagi”
Inoo tersenyum. Dia berjalan
mendekati keito. inoo menyibakkan poni rambut Keito hingga dahi Keito yang
lebar tampak. Inoo langsung mengecup dahi Keito. Keito merasa dahinya terasa
panas. Ada sesuatu yang tercetak di dahinya.
“Dengan ini, kontrak selesai. Aku
sudah memberikan tandaku di tubuhmu”. Inoo tersenyum puas. Keito hanya bisa
memegangi dahinya yang panas sambil melongo. Rasa sakit di dadanya pun sedikit berkurang.
Inoo mengambil HP dari sakunya
dan mulai mengetik sebuah SMS. “sebentar lagi dia kemari”, ucap Inoo sambil
memasukkan Hpnya lagi ke dalam saku.
“Dia?”, tanya Keito tidak
mengerti.
“Demon yang memakan demon
pelindungmu”, jawab Inoo singkat.
“Kau kenal demon itu?”, tanya
Keito kaget.
“Waktu aku mengambil
pengetahuanmu tadi, aku juga melihat sekilas ingatanmu. Aku tahu apa yang
terjadi. Aku juga tahu demon yang melakukannya”
Keito diam tidak mengerti. Tidak
lama kemudian, pintu perpustakaan terbuka. Dari arah pintu, sesosok pemuda
masuk ke dalam. Keito kenal dengan baik pemuda yang masuk ini. Demon yang tadi
memakan Yama. Demon itu langsung menghampiri Inoo dan mendorongnya hingga Inoo
terpojok.
“Inoo... apa maksudmu?”, tanya
pemuda itu.
“Seperti yang kukatakan.
Kembalikan dewa pelindung yang kau telan tadi”
“Tidak mau. Kenapa aku harus
menuruti perkataanmu?”
“Aku sudah memintanya dengan
baik-baik, Ryuu”
Pemuda itu menoleh ke arah Keito
yang diam mengamati mereka. Ryuu segera menghampiri Keito dan menyibakkan
dahinya. “Sudah kuduga. Kau mengikat kontrak dengan si anak terkutuk”. Pemuda
yang dipanggil ‘Ryuu’ itu melihat ke arah Inoo dengan kesal.
“Benar. Cepat kembalikan dewa
pelindung yang kau telan”, perintah Inoo.
“Sudah terlambat. Dewa pelindung
itu sudah menjadi satu dengan tubuhku. Dia tidak bisa dikeluarkan lagi”
Inoo tertawa mendengar ucapan
pemuda itu. “Jangan bohong padaku , Ryuu. Dewa pelindung yang kau telan itu 3x
lebih kuat dari kau. Butuh waktu setidaknya 2 hari untuk mencernanya. Apalagi kalau
baru saja kau menelannya, tentu dia masih bisa dikeluarkan dengan mudah”
Pemuda itu mendecakkan bibirnya
mendengar perkataan Inoo. Dia mundur beberapa langkah dan mengambil
ancang-ancang seakan bersiap menyerang Inoo. Pemuda itu sama sekali tidak berniat
menuruti perkataan Inoo.
“Kau ingin melawanku Ryuu?”
“Kau lebih lemah dariku. levelmu
masih ada di bawahku”, ucap pemuda demon itu dengan sombong.
“Jangan sombong anak muda. Aku
memang lebih lemah darimu. Tapi aku jauh lebih tua darimu. Aku tahu semua
kelemahanmu. Aku bisa mengalahkanmu dengan mudah meskipun kau lebih kuat”.
Keito menelan ludahnya. Bulu
kuduknya berdiri. Keito merasa hawa dalam perpustakaan menjadi jauh lebih
dingin. Seluruh hawa dingin ini berasal dari Inoo. Aura di sekitar Inoo terasa
sangat menyeramkan. Bahkan pemuda sombong itu langsung mundur beberapa langkah
melihat aura Inoo yang keluar.
“Cih, baiklah”. Pemuda itu
akhirnya menyerah. Dia tidak ingin bertarung dengan Inoo.
Inoo tersenyum. Aura gelap yang
menyelimutinya telah hilang. Hawa dingin itu pun lenyap. Inoo berjalan
mendekati Ryuu. Dia meletakkan tangannya di perut Ryuu. Dengan sekali gerakan,
Inoo mencabik perut Ryuu dan membukanya. Dari dalam perut Ryuu, sesosok anjing
kecil keluar. Tubuh anjing kecil itu terbalut dengan cairan lengket.
“YAMA!”.
Keito menjerit saat melihat sosok
anjing kecil berwarna hitam yang keluar dari perut pemuda itu. Itu adalah sosok
Yama yang sebenarnya. Keito langsung berlari menghampiri Yama dan memeluknya.
“Yama! Yama!”. Keito terus
memanggil nama Yama. “Terima kasih”, ucap Keito pada Inoo.
“Lebih baik kau segera membasuh
tubuhnya. meskipun dia sudah keluar, tubuhnya tidak akan tahan kalau ada cairan
demon yang menempel di tubuhnya”, jelas Inoo.
Keito mengangguk. Dia segera
menggendong Yama dan berlari keluar menuju kamar mandi. Chii juga berubah
kembali menjadi gantungan kunci dan masuk ke dalam saku Keito. mereka bertiga
kemudian langsung menghilang dari pandangan Inoo dan Ryuu.
“Gara-gara kau, aku kehilangan
makanan yang berharga”. Ryuu mengusap perutnya. Dan seketika luka di perutnya
lenyap. “Semua berjalan sesuai rencanamu”
Inoo tersenyum. “Tentu saja. Aku
tahu kalau Keito akan kemari meminta bantuanku kalau salah satu dari dewa
pelindungnya itu dalam bahaya. Terlebih lagi, kau juga mendapatkan keuntungan
kan? ¾ kekuatan dewa pelindung itu kini kau miliki”
Ryuu membalas dengan senyum.
“Benar. Kini aku harus sudah cukup puas dengan ini saja. terlebih, dengan
membiarkan Yama hidup, aku bisa bermain-main dengannya lebih lama lagi”. Tidak
lama, bel masuk berbunyi. Inoo dan Ryuu segera menuju ke pintu keluar untuk
kembali ke kelas masing-masing.
“Inoo. Kini kau telah menjadi
pengkhianat. Mereka pasti tidak akan tinggal diam”
“Sudah dari dulu aku disebut
pengkhianat. Aku sudah siap untuk itu. Mengikat kontrak dengan anak itu juga
salah satu cara untuk mencapai impianku”
Tsuzuku ~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar