Sepanjang perjalanan aku terdiam. Aku masih berat hati meninggalkan ibu sendirian. Benarkah tidak apa-apa meninggalkan ibu sendirian? Benarkah ibu tidak akan diserang oleh makhluk kegelapan? Pikiranku bercampuk aduk. Aku melihat pemandangan di luar mobil, tampaknya mobil yang kunaiki ini melaju menjauhi kota.
“Rumah kami ada di pinggir kota. Tempatnya luas dan sepi. Pemandangannya juga bagus. Aku yakin kau akan betah tinggal disana”, Inoo berkata sambil melihatku, tampaknya dia mengerti apa yang kupikirkan.
Mobil terus melaju, dan tampaknya memasuki suatu wilayah desa. Sepanjang perjalanan aku melihat ada beberapa rumah tapi melihat kondisi rumahnya, aku jadi tidak yakin apakah ada orang yang tinggal disana. Suasananya benar-benar sepi, bahkan aku bisa mendengar suara serangga.Tiba-tiba aku kembali merasakan sensasi yang aneh. Aku menduga kami melewati pelindung.
“pelindung tadi dibuat oleh master. Pelindung tadi adalah pelindung lapis pertama, tidak akan ada makhluk kegelapan yang bisamelewati pelindung tadi. Bahkan manusia biasa tidak akan bisa melewati pelindung tadi tanpa seijin kami. Sampai daerah sini kita sudah aman, tidak perlu mengkhawatirkan musuh”, Yabu menjelaskan padaku sambil tetap fokus menyetir. “Ah, coba lihat itu rumah yang akan kamu tempati nanti”, Yabu menunjuk ke luar jendela. Aku bisa melihat rumah antik tua bergaya barat beradadi tempat yang agak tinggi. ‘Jadi, itu rumah para ksatria’, gumamku.
Kami semakin mendekati rumah tersebut dan aku kembali merasakan sensasi yang kurasakan beberapa saat yang lalu, tampaknya kami melewati pelindung lagi.
“Yang tadi adalah pelindung lapis kedua. Salah satu ksatria yang membuatnya. Kami membuat pelindung itu secara bergantian”, Yabu kembali menjelaskan padaku. Saat Yabu selesai menjelaskan kami telah sampai di pagar rumah, pagar rumah itu kemudian terbuka sendiri dan mobil akhirnya masuk. Mobil kemudian berhenti tepat di depan rumah. Kami pun turun dari mobil, tak jauh dari situ aku melihat mobil hitam yang terparkir. Aku mengenali mobil itu, itu mobil yang dikemudikan oleh Yuya kemarin. Aku melihat rumah bergaya barat tersebut, aku sudah menduga bahwa rumah ini memang besar saat melihatnya di kejauhan tadi tapi aku tidak menyangka akan sebesar ini.
“Ayo masuk”, Yabu mendorong pintu yang tingginya mungkin seukuran 3 meter tersebut hingga terbuka. Aku pun mengikuti 3 orang lainnya masuk ke dalam rumah. Saat masuk, aku melihat ruangan yang cukup besar dengan tangga yang berada di sisi kanan dan kiri. Aku mendongak ke atas. Aku menduga ada rumah ini terdiri dari 3 lantai. Di bagian atas tengah ruangan aku melihat sebuah lampu gantung yang cukup besar, lampu itu memantulkan cahaya yang berwarna warni sehingga tampak seperti terbuat dari kristal.
“Okaerinasai, Yabu, Inoo, Ryu.... “ aku mendongak ke lantai 2, disana berdiri 2 orang pemuda. Aku mengenali wajah mereka, mereka berdua ada di ruangan master saat aku berada disana. “....dan Yamada kun?”, ucap cowok itu sambil tersenyum. Aku bisa melihat giginya yang gingsul saat tersenyum.
“Tadaima. Hika, keito. Dimana yang lain?”,tanya Yabu.
“Kurasa mereka semua sedang berkumpul di ruang utama”, pemuda gingsul tadi menjawab. 2 pemuda itu kemudian turun dan menghampiri kami.
“Yo yamada! Perkenalkan aku hika dan cowok ininamanya keito. kita memang sudah bertemu kemarin, tapi tampaknya kita belum sempat berkenalan”, pemuda gingsul itu menyalami tanganku. Pemuda yang bernama keito yang berada di sebelahnya juga menyalami tanganku tanpa sepatah kata pun.Berbeda dengan hika yang riang, kurasa sifat keito ini adalah pendiam.
“Salam kenal juga. Yoroshiku onegaishimasu”, ucapku.
“Saa.... ayo segera menuju ke ruang utama. Kurasa mereka semua sudah menantikan kehadiranmu”. Hika merangkulku dan menuntunku ke sebuah ruangan.
Di ruang utama
“Saa minna..... terima kasih sudah menunggu.Ayo kita sambut teman kita yang baru. Yamada Ryosuke!!”. Hika berkata dengan heboh. Aku sedikit malu saat masuk ke dalam ruangan. Di dalam ruangan itu aku melihat Yuya, Yuto, Chii, dan seorang cewek yang pernah kulihat wajahnya. Aku ingat dialah cewek yang menyelamatkanku kemarin.
“Wuuaaah..... akhirnya kau datang juga”, Chinen tiba-tiba memelukku dengan erat. Aku bingung harus bagaimana. Yuto menarik Chiiuntuk melepaskan pelukannya. “Selamat datang, Yamada kun”. Yuto tersenyum kearahku.
“Wah, wah, wah, masa yang disambut Cuma Yamada saja sih?”, Ryuu yang sedari tadi berada di belakangku mulai bicara. Raut mukanya tampak kesal saat melihatku.
“Okaerinasai, Ryuu chan juga Yabu kun dan Inoochan”, si cewek bertudung kemarin mendekat dan menyambut kedatangan Yabu, Inoo, dan Ryuu.
“Selamat bergabung dengan kami Yamada, namaku Daiki. Salam kenal”,cewek itu melihat ke arahku sambil tersenyum riang. Tiba-tiba Ryuu memeluk Daiki dan mulai bertingkah manja,
“Tadaima, nee-chan”, ucap Ryuu manja. Daiki hanya tersenyum dan mengelus kepala Ryuu.
“Hei, hei, kenapa kalian semua berdiri di pintu? Ayo duduk. Kasihan Yamada berdiri sejak tadi”, Hika memerintahkan semuaorang untuk duduk. Semua duduk di sofa lebar yang berada di sana.
“Nah, ayo kita perkenalkan diri kita sekali lagi pada Yamada kun supaya dia ingat nama-nama kita”, ucap Yabu.
“Hee.... tapi kita kan memang sudah saling kenal ya kan Ryo chan?”, kata Chinen yang berada di sebelahku sambil merangkul tanganku.
“selain nama, kita juga akan mengenalkan kemampuan khusus kita kepada Yamada kun, kita semua sudah tahu kemampuan dia kan? Lebih baik dia juga tahu kemampuan kita masing-masing”. Kata yabu sekali lagi.
“hee... gitu ya. Baiklah kalau gitu aku mulai duluan yak!”, Chii berdiri di hadapanku. “Namaku Chinen Yuri, aku biasa dipanggil Chii tapi kau boleh memanggilku Yuri, umurku 17 tahun, kemampuanku adalah ‘copypaste’”.
“Copypaste?”, tanyaku heran.
“Yup, aku bisa meniru seseorang mulai dari penampilan hingga kekuatannya”, Chii memegang tanganku “Contohnya seperti ini nih”, setelah Chinen melepas tanganku, aku melihat sosok yang serupa denganku sedang berdiri di hadapanku. “Nah, aku meniru sosokmu, mirip kan?”. Aku melihat Chinen yang kini berubah wujud menjadi diriku. Aku melihat mulai dari atas hingga ke bawah, semuanya sama. Bahkan suaranya Chinen pun berubah menjadi mirip denganku. Tidak berapa lama, Chinen pun kembali berubah menjadi dirinya lagi.“nah, itu tadi kemampuanku. Tapi aku hanya bisa meng’copy’ seseorang hanya dalam waktu 5 menit saja”. Aku tidak bisa berkomentar apapun melihat kemampuan Chii. “Yuto, kau berikutnya. Kita memperkenalkan masing-masing sesuai arah jarum jam saja”, tunjuk Chii pada Yuto yang ada di sebelah kanan Chii.
“Namaku Nakajima Yuto, 17 tahun, kemampuanku adalah ‘Crusher’. Aku bisa menghancurkan apapun karena kekuatan fisikku melebihi orang biasa. Contohnya......” Yuto berjalan ke arah dinding dan menempelkan telapak tangannya ke dinding. DUARR!!!. Permukaan dinding yang ditempeli oleh telapak tangan Yuto pun hancur membentuk cekungan di sekitar tangannya Yuto.
“Yuto.... ini sudah berapa kalinya kau menghancurkan rumah? Nanti kau yang harus memperbaiki dinding itu”, gerutu Yabu kesal.
“Ahahahaha.... tapi kalau tidak ada contohnya, Yamada tidak akan tahu kekuatanku. Lagian aku hanya memakai sedikit kekuatanku”. Yuto kembali menuju tempat duduknya semula.
“kekuatan Yuto itu sangat kuat lo, kami sempat dibuat kerepotan saat dia pertama kali datang kemari, saat itu dia tidak bisa mengendalikan kekuatannya. Rumah ini hampir saja menjadi puing bangunan”, bisik Chinen kepadaku. Aku bisa membayangkan bagaimana kalau kekuatan itu diarahkan keorang lain, pasti tulang dadanya bisa patah semua.
“ah, berikutnya aku ya. Takaki yuya, 20 tahun, kemampuan ‘nullification’. Aku bisa menetralkan semua serangan yang diarahkan padaku. Yuto, kau bisa membantuku memberi contoh pada Yamada?”, Yuto berdiri dan mengambil pot yang ada di atas meja. Yuto kemudian melemparkan pot tersebut ke arah Yuya. Aku langsung berpikir kalau pot itu akan mengenai wajah Yuya,tapi ternyata pot itu berhenti tepat di depan muka Yuya. Yuya kemudian mengambil pot itu dan mengembalikan pot itu ke tempatnya semula. “Yuto, kau dendam padaku ya? Kenapa melemparnya tepat ke arah mukaku sih? Kalau mukaku luka bagaimana? Pekerjaanku bisa terancam”.
Yuto hanya tertawa terkekeh ke arah Yuya. “kan, kau selalu bisa mengelak”, ucap Yuto memberi alasan.
“pekerjaan?”, tanyaku ke arah Yuya.
“eh, kau tidak tahu Yamada? Aku seorang model majalah yang cukup terkenal lo. Aku sering muncul di majalah-majalah”
“Oh, begitu. Aku tidak tahu”. Semua orang yang ada disitu tertawa mendengar jawabanku. Yuya melihatku dengan tatapan mata yang sedih. ‘pantas rasanya aku pernah melihat wajahnya, ternyata dia seorang model toh’, gumamku pelan.
“sudahlah Yuya, tidak semua orang tahu dirimu”, daiki menenangkan Yuya. “namaku Arioka Daiki, 17 tahun, kemampuanku adalah ‘poison’”.
“poison?”, tanyaku ke arah daiki.
“Yup, yang berarti ‘racun’. Aku bisa memberikan lawanku racun. Kau pernah bertemu denganku saat bertarung dengan si‘muka rata’ kan? Itulah kekuatanku”.
“daichan tidak bisa memperlihatkan kemampuannya disini, kau bisa melihatnya saat dia bertarung saja. kemampuannya cukup membahayakan. Semua orang yang ada disini bisa menjadi korbannya. Yah,kecuali aku sih”, Daiki menjitak pelan kepala Yuya.
‘kemampuan yang cukup membahayakan, tapi saat aku melihatnya bertarung kemarin, aku tidak merasakan aura yang berbahaya darinya’. Tiba-tiba aku teringat sesuatu.
“anuu... daiki san, terima kasih sudah menolongku kemarin”.
“ah, itu hanya kebetulan saja aku berada disana kok. Sama sekali tidak ada niatan untuk menolongmu. Kebetulan saja ‘muka rata’ yang harus kubasmi berada di dekatmu. Jadinya ya, sekali menyelam minum air”, daiki tersenyum lebar ke arahku.
“cara bicara daichan memang seperti itu,meskipun mukanya tersenyum tapi omongannya itu kadang menusuk. Hati-hati saat bicara dengannya ya”, bisik Chinen pelan.
Aku melihat ke orang yang berikutnya mendapat giliran bicara. Sekarang giliran ryuu. Tapi cewek tomboi itu sama sekali tidak menggubrisku.
“Ryuu, sekarang giliranmu”, Yabu mengingatkan Ryuu.
“aku tadi sudah memperkenalkan diriku kan? Buat apa aku harus memberitahukannya kemampuanku? Toh, tadi dia sudah melihataku bertarung jadi dia sudah tahu kemampuanku”, Ryuu asyik memainkan hpnya.
“Ryuu, kami semua sudah melakukannya. Sekarang giliranmu, mau kan?”, ujar daiki ke arah Ryuu. Ryuu meletakkan hpnya, dan dengan pandangan kesal dia menoleh ke arahku.
“Morimoto Ryutaro, 16 tahun, kemampuanku ‘animal possession’”, ucap Ryuu singkat.
“animal possession?”, aku bertanya heran tapi tampaknya Ryuu tidak menggubris pertanyaanku.
“kemampuan Ryuu adalah mengubah fungsi tubuhnya menjadi seperti hewan. Contohnya, dia bisa mengubah tangannya menjadi sepasang sayap, kaki depan atau seperti capit kepiting. Kau sudah melihatnya saat bertarung tadi kan? Dia mengubah tangannya menjadi sepasang sayap, saat itu dia berubah menjadi seekor burung”, inoo menjelaskan padaku. Aku mengangguk mengerti. Ryuu melirik tajam ke arahku, aku pura-pura tidak melihatnya.
“kalau begitu sekarang giliranku”, ujar keito.ini pertama kalinya aku mendengar suaranya, suaranya tenang dan pelan, sesuai dengan imej yang kupikirkan tentangnya. “Namaku Okamoto keito, 17 tahun, kemampuanku adalah ‘watching’. Aku bisa melihat apa yang terjadi saat ini, masa lalu dan masa depan seseorang melalui bola kristal ini”, keito mengangkat bola kristal yang berada di hadapannya.
“dia inilah yang pertama kali menyadari bahwa kau adalah ksatria juga sama seperti kami. Berkat dia, kami bisa tahu tentangmu”, Chinen memberitahuku.
“dan dia jugalah yang memberitahu kami kalau ada makhluk kegelapan yang menyerangmu tadi pagi. Dia melihatnya melalui bola kristal tersebut”, tambah Yabu.
“hee, berarti secara tidak langsung kau sudah menyelamatkan nyawaku. Terima kasih banyak”, ucapku ke Keito.
“Sama-sama”, balas Keito sambil tersenyum.
“Oke, sekarang aku ya. Namaku Inoo Kei, 19 tahun, kemampuanku adalah ‘illusion’. Aku bisa memberikan ilusi kepada musuh dan membuatnya bergerak sesuai dengan keinginanku”.
“berarti saat tadi bertarung, Inoo san sedang memberikan ilusi pada musuh ya?”, tanyaku.
“Benar, aku bisa memberikan ilusi padanya kalau kami bertatapan saja. Tapi kekuatanku ini tidak bertahan lama, aku hanya bisa memberikan ilusi selama 15 menit saja. Lewat dari itu, musuh akan mengambil kesadarannya kembali”, Inoo menjelaskan lagi padaku.
“Namaku Yabu Kota, 20 tahun, kemampuan kuadalah ‘water bender’. Aku bisa mengendalikan air sesukaku dan bisa membentuknya sesukaku juga”, sambil berkata seperti itu, Yabu menggerakkan tangannya ke arah pot yang berisi air di dekat dinding. Air di dalam pot itu lalu keluar dan bergerak perlahan menuju ke tangan Yabu. Air itu tampak seperti ‘hidup’ saat Yabu menggerakkan tangannya dan air itu seperti ‘menari’ mengikuti pergerakan tangan Yabu. Aku melihat pemandangan itu dengan takjub. Lalu Yabu mengarahkan tangannya kembali ke pot dan air itu kembali masuk ke dalam pot.
“kemampuanmu itu memang tidak pernah gagal membuat kagum. Berapa kali pun kulihat tetap saja menarik”, ucap Hika yang tampaknya juga sama kagumnya denganku. “Oh ya, sebagai tambahan Yamada, perlu kau ketahui juga kalau dia juga pemimpin kita para ksatria. Bisa dibilang dia adalah ‘leader’ bagi kita semua”, tambah Hika. “baiklah, aku yang terakhir.Yaotome Hikaru, 18 tahun, kemampuanku adalah ‘voice’. Aku bisa mendengar suara apapun, bahkan sekecil apapun suara itu. Contohnya, aku bisa mendengar suara detak jantung Yuya”, Hika menunjuk Yuya yang berada di tempat yang cukup jauhdari Hika. “Bunyinya deg, deg, deg”, ucap Hika sambil memejamkan mata.
“Hika, meskipun kau bisa mendengar detak jantungku, tapi Yamada tidak akan bisa mendengarnya”, ucap Yuya.
“He souka? Jya, coba kau bisikkan satu kata ke daichan dan aku akan mendengar apa yang kau bisikkan”, perintah Hika pada Yuya.Yuya membisikkan satu kata ke daiki, daiki tersenyum, tapi Hika mulai merengut kesal. “Yuya, awas kau”, geram Hika.
“memangnya apa yang mereka bicarakan?”,tanyaku penasaran. Hika tampaknya ragu menjawab pertanyaanku.
Daiki dan Yuya tertawa pelan. “sudahlah Hika, beritahu saja dia. Kau mendengarku kan?”, yuya tidak berhenti tertawa.
“Hika hentai. Itu tadi yang diucapkan yuya ke daichan”, ucap Hika pelan. Hika menoleh ke arah Yuya dan daiki yang masih tertawa dengan wajah kesal.
“Kau harus hati-hati dengannya Ryo-chan, dia bisa mendengar apapun. Kalau kau kentut saja dia pasti mendengarnya. Kalau mau berbicara jelek tentangnya saja dia langsung tahu. Tidak ada namanya rahasia saat dia berada disini. Jadi kalau kau ingin berbicara buruk tentangnya, bicaralah saat dia tidak ada”, bisik Chinen pelan.
“Chii, aku mendengarnya”, Hika menoleh ke arah Chii sambil tersenyum nakal.
“Tuh kan”, tambah Chinen. Aku mengangguk mengerti.
“sekarang aku sudah tahu nama kalian semua dan kemampuan kalian. Aku mohon bimbingannya selama aku berada disini. Mungkin aku memang merepotkan, tapi aku mohon kerjasamanya”. Aku berdiri kemudian membungkukkan badan.
“kami semua juga mohon bantuannya ya. Kami akan memerlukan kekuatanmu untuk membasmi makhluk kegelapan. Selamat datang dirumah ini”, ucap Yabu.
Aku melihat mereka semua, mulai saat ini merekalah temanku. Teman seperjuanganku. Bersama-sama kami akan memberantas makhluk kegelapan, dan kuharap aku bisa bekerjasama dengan baik dengan mereka semua.
Tsuzuku ~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar