Part 6
“Demon kemarin yang menyerang
sekolah kita lenyap”
“kenapa? Apakah dewa pelindung
dan anak terkutuk itu yang melakukannya?”
“Bukan. Demon lain yang
melakukannya. Murid kelas 3 yang bernama Inoo Kei, yang biasa dipanggil
Hime-sama”
“Oh, si pengkhianat itu? tidak
kusangka dia juga ada di sini. Sudah lama aku tidak mendengar kabarnya, kupikir
dia sudah mati, ternyata dia masih hidup. Lalu bagaimana? Kita habisi saja
dia?”
“Jangan. Dia adalah demon
terpintar dan terlicik di antara para demon. Oleh karena itu dia bisa terus hidup
meskipun levelnya tidak terlalu tinggi. Dia bukan lawan yang mudah”
“Yang penting sekarang, jangan
sampai si anak terkutuk itu melakukan kontrak dengan demon itu”
---***---
Keito melangkah kakinya dengan
berat. Sikap Yama pagi ini masih sama seperti malam sebelumnya. Meskipun Yama
masih melakukan tugasnya seperti biasa, tapi sikapnya masih tetap dingin.
Bahkan pagi ini mereka berdua sama sekali tidak berbicara. Keito ingin meminta
maaf pada Yama, tapi sikap Yama yang tidak bersahabat membuat Keito selalu
gagal mengatakannya.
“Keito-sama...”
Keito melihat ke arah sakunya.
Chii yang telah berubah bentuk menjadi gantungan kunci melihatnya dengan cemas.
Keito berusaha menunjukkan garis senyum di wajahnya untuk menghapus kegelisahan
Chii. Dia mengusap kepala mungil Chii dengan lembut. Tanpa Keito sadari, mereka
berdua kini telah sampai di sekolah.
Deg!
Dada Keito kembali terasa sakit.
Keito berusaha menahan rasa sakitnya, dia tidak ingin menambah kecemasan Chii
yang menemaninya. Semenjak kemarin, Chii terus berada di samping Keito. Keito
berusaha menahan garis mukanya agar tidak terlihat seperti orang yang
kesakitan.
Dada Keito kini kembali terasa
ringan, rasa sakitnya tiba-tiba lenyap. Keito memegangi dadanya dengan heran.
Padahal sebelumnya terasa sakit sekali, tapi kenapa rasa sakit itu langsung
hilang? Seperti ada yang mengambilnya.
“Selamat pagi Keito-kun”
Keito terperanjat kaget saat
mendengar ada orang yang menyapanya. Dia menoleh dan mendapati Inoo berdiri di
belakangnya. Dia tersenyum dengan lembut seakan-akan tidak ada apa-apa. Keito
langsung memasang sikap waspada. Begitu pula dengan Chii, matanya kini berubah
menjadi biru. Auranya pun meluap keluar. Mereka berdua sudah bersiap apabila
tiba-tiba Inoo menyerang mereka.
“Kalian ini... aku tidak akan
menyerang kalian kok. tidak usah bersikap waspada seperti itu”
“Tapi kami tidak tahu apa yang
akan kau lakukan kan?”, balas Chii.
“Kalian pikir aku ini bodoh?
Tidak mungkin aku menyerang kalian disaat ada banyak orang di sekitar kita
kan?”
Inoo menunjuk ke arah para siswa
yang ada di sekitar mereka. Para siswa itu tampak mengamati Inoo dan Keito yang
sedang bercakap-cakap. Kehadiran Hime-sama telah menarik perhatian mereka.
Apalagi karena insiden kemarin siang di tangga, Keito merasa kalau seluruh murid
di sekolah sudah mengetahui hal itu. Percakapan antara dirinya dan si Hime-sama
pasti menjadi tanda tanya bagi siswa yang melihat.
“Kalian tenang saja. Aku sama
sekali tidak berniat menyerang Keito-kun kok. aku hanya ingin menagih imbalan
karena aku sudah menolongnya. Karena kemarin kami ada gangguan yang tidak
disangka, aku tidak sempat meminta imbalan darinya. Dan kurasa, kini aku telah
menolongnya lagi”, ucap Inoo sambil tersenyum penuh kemenangan pada Keito.
“Apa maksudmu?”, tanya Keito
tidak mengerti. Inoo telah menolongnya lagi kali ini? memangnya apa yang sudah
dia lakukan?
“Dadamu”. Inoo menunjuk ke arah
dada Keito. “Apakah masih terasa sakit?”
Keito langsung meraba dadanya.
Inoo benar, rasa sakit dadanya kini telah hilang. Bertepatan saat Inoo menyapanya.
Dia melihat Inoo dengan penuh tanda tanya. Kenapa Inoo bisa tahu?
Inoo berjalan mendekati Keito.
Dia kemudian berbisik di telinga Keito, “Kalau kau ingin tahu jawabannya, kau
bisa menemuiku di perpustakaan. Dan kuharap kau juga sudah menyiapkan imbalan
juga untukku. Take and Give. Aku bisa menjawab semua pertanyaanmu asalkan kau
menyiapkan imbalan yang setimpal juga”
Inoo tersenyum simpul sebelum
pergi meninggalkan Keito. Dia berjalan melewati Keito begitu saja tanpa
melakukan apapun. Inoo berjalan mendekati seorang pemuda yang tampaknya terus
menunggunya tadi. Keito terus menatap ke arah Inoo.
“Woi!”. Juri tiba-tiba datang
dari arah belakang dan langsung merangkul Keito. “Apa yang kau bicarakan dengan
Hime-sama? Apakah tadi dia meminta pertanggungjawabanmu karena masalah
kemarin?”
“Tidak. Dia hanya menyapaku saja”
Juri memandang keito dengan
curiga. “Sejak kapan kau akrab dengan Hime-sama sampai dia menyapamu?”
“Kau tidak perlu tahu”
“Pelit!”. Juri menjulurkan
lidahnya, Keito tertawa melihat tingkah laku Juri ini.
“Ngomong-ngomong, kau merasa ada
yang aneh tidak di tubuhmu?”. Keito penasaran dengan kondisi teman-temannya
setelah penyerangan demon kemarin.
“Hmm... apa maksudmu? Tubuhku
baik-baik saja kok. Memangnya ada apa?”, tanya Juri balik.
“Oh begitu”. Keito melangkah maju
dan meninggalkan Juri yang masih terheran-heran.
Keito dan Juri asyik
bercakap-cakap mengenai beberapa pembicaraan. Mereka terus berbicara mengenai
acara pertandingan sepakbola yang disiarkan tadi malam. Baik Keito maupun Juri asyik
membicarakan mengenai idola mereka. Di luar kelas, mereka bertemu dengan Yugo,
mereka lalu mengajak Yugo ikut membicarakan mengenai pertandingan sepakbola
yang cukup menegangkan itu.
Sebelumnya Keito menanyakan pada
Yugo pertanyaan yang sama dengan Juri, tapi jawaban yang diberikan Yugo juga
sama. Keito berpikir keras, apa yang sebenarnya telah terjadi? apakah demon itu
tidak jadi memakan ingatan teman-temannya?
“Yo, Juri!”
“Hokuto!”.
Hokuto, siswa kelas sebelah,
teman SMP Juri, datang menghampiri mereka. Berkat Juri, Keito juga mengenal
Hokuto. Hokuto datang sambil membawa sebuah kotak yang terdiri dari 9 kotak
berwarna-warni.
“Ah, itu rubik ya?”, tanya Keito
saat melihat Hokuto asyik mengutak-atik kotak rubik yang dibawanya.
“Ya. Akhir-akhir ini permainan
ini lagi ngetren di kelasku, aku juga berencana akan membahas mengenai
permainan ini untuk artikel majalah sekolah selanjutnya”
“Memangnya kau bisa
memecahkannya?”, tanya Juri.
“Aku sudah mengutak-atiknya dari
tadi, tapi aku hanya bisa membuat satu sisi yang berwarna sama”, keluh Hokuto
sambil terus mengutak-atik kotak rubik itu.
Saking asyiknya Hokuto memainkan
kotak itu, dia tidak memperhatikan ada beberapa siswa yang berlarian. Siswa itu
menabrak Hokuto. Kotak rubik yang ada di tangannya langsung terlempar. Keito
berniat mengambil kotak itu, tapi ada siswa lain yang sudah mengambil kotak itu
terlebih dahulu.
“Terima kasih”, ucap Keito pada
orang yang telah mengambilnya.
Siswa itu hanya diam mengamati
kotak yang ada di tangan kanannya itu. Keito mengamati siswa itu. tingginya
kurang lebih sama dengannya. Penampilannya pun biasa saja. Tangan kirinya
memegang HP, tangan kanannya memegang kotak rubik itu. Siswa itu kemudian
memasukkan Hpnya ke dalam saku. Kedua tangannya kini sibuk mengutak-atik kotak
rubik itu. Keito hanya bisa diam mengamati apa yang dilakukan siswa itu. Tidak
butuh lama, kotak rubik itu diserahkan kembali pada Keito, siswa itu lalu pergi
begitu saja tanpa mengatakan apapun.
Keito sangat terkejut ketika
mendapati semua sisi kotak rubik itu berwarna sama. Rubik itu telah selesai.
Hokuto, Juri, dan Yugo juga sama tercengangnya dengan Keito. Terutama Hokuto,
dia butuh waktu lama untuk menyelesaikan satu sisi, tapi siswa barusan bisa
menyelesaikan seluruhnya dalam waktu hanya beberapa menit.
“Hei, siapa anak itu?”, tanya
Hokuto pada Yugo, si informan sekolah.
“Hmm... aku jarang melihatnya.
Kurasa dia murid kelas 1. Aku belum memiliki semua data murid kelas 1, kurasa
setelah ini aku akan menyelidikinya”, jawab Yugo.
“Wuah, anak itu pasti hebat
sekali! Dia bisa menyelesaikan ini dengan cukup mudah”, ucap Juri kagum sambil
terus melihat rubik yang telah selesai itu.
Bel sekolah telah berbunyi.
Keito, Juri, Yugo, dan Hokuto segera menuju ke kelas mereka masing-masing.
Mereka mengikuti pelajaran dengan seksama.
“Keito-sama...”
Keito sedikit terperanjat saat
Chii memanggilnya di tengah pelajaran. Dia mendekatkan wajahnya ke arah
sakunya.
“Apa yang kau lakukan Chii? Sudah
kubilang jangan bersuara selama di sekolah”, bisik Keito sepelan mungkin agar
teman-temannya tidak mendengarnya.
“Maafkan saya Keito-sama. Saya
hanya ingin memperingatkan Keito-sama sesuatu”
“Apa?”
“Saya harap, Keito-sama tidak
mendengarkan perkataan demon tadi. Bagaimanapun dia adalah demon, dia adalah
makhluk jahat”
“Aku tahu Chii. Sudahlah, lebih
baik kau tetap diam. Aku juga ingin berkonsentrasi di pelajaran ini.
“Baik. Maafkan saya Keito-sama”
Chii kembali masuk ke dalam saku
Keito. keito kembali memikirkan perkataan Inoo tadi pagi. Dia memegangi
dadanya. Dadanya masih terasa sakit walaupun kini tidak sesakit tadi. Rasa
sakit di dadanya menghilang setelah dia bertemu dengan Inoo. Apakah ini semua
ada kaitannya?
Keito mengingat kembali isi buku
yang pernah dibacanya, ‘cara untuk menghilangkan kutukan demon adalah mengikat
kontrak dengan 7 demon lain’. Apakah ini berarti dirinya harus mengikat kontrak
dengan demon untuk menghilangkan kutukan ini?
---***---
Waktu istirahat telah tiba. Keito
berjalan menuju kantin bersama teman-temannya. Sebenarnya dalam hati kecilnya
dia ingin berjalan menuju perpustakaan, dia ingin bertemu dengan Inoo dan
menemukan semua jawaban atas pertanyaannya. Tapi, dia tahu pasti kalau Chii
akan menentang tindakannya.
---***---
Di perpustakaan.
“Kau menunggu anak itu?”
“Tentu saja. Sebentar lagi
keito-kun akan menghampiriku. Aku yakin dia akan datang kemari, bersama dengan
imbalan yang kuminta darinya”
---***---
“Wah, padat sekali. Tidak ada
lagi tempat duduk kosong”, keluh Juri saat melihat bangku kantin yang penuh dan
ramai.
“Ah, disitu kosong”, ucap Yugo.
Mereka bertiga langsung merasa gembira dan mendekati bangku tersebut, tapi
langkah mereka terhenti saat melihat Takaki duduk disana. Mereka takut
mendekati bangku tersebut.
“Jangan disana deh. Aku takut”,
ucap Juri. Mereka bertiga langsung berbalik badan dan berniat menjauhi bangku
tersebut.
“Bento-kun!”, seru seseorang.
Sontak mereka bertiga menoleh. Keito melihat pemuda ceria yang kemarin bersama
dengannya sedang melambaikan tangannya padanya. Pemuda yang bernama ‘Arioka’.
“Kurasa dia memanggilmu”, bisik
Juri.
“Bento-kun, ayo duduk disini!”, Arioka
berlari menghampiri Keito dan menarik Keito agar duduk di bangku yang sama
dengan Takaki. “Kalian juga!”, pemuda itu juga menarik tangan Yugo dan Juri
agar duduk bersama dengan mereka. raut muka ketiganya tampak sangat gugup duduk
berdekatan dengan Takaki, tapi Takaki tampaknya tidak peduli dengan kehadiran
Keito dan teman-temannya.
Di atas meja tersedia berbagai
macam makanan. Mulai dari nasi goreng, ramen, katsudon, tempura, yakiniku,
kari, dan masih banyak lagi. Keito menduga semua menu di kantin ada di meja
itu. Arioka mulai memakan makanan yang ada di meja satu persatu. Keito hanya
bisa melongo melihat Arioka melahap semua makanan itu tanpa henti.
“Bento-kun, hari ini kau makan
apa?”, tanya Arioka sambil tetap melahap tempura yang ada.
“Ah, hari ini aku bawa ini...”.
keito membuka kotak bekalnya dan menunjukkan isi bekalnya. Arioka mengintip isi
bekal Keito, mukanya tampak terlihat sedikit kecewa.
“Eh... kau tidak membawa ayam
karaage ya?”. Keito bisa merasakan nada kecewa di suara Arioka.
“Tidak. Aku hanya membawa ini
saja”. keito menatap isi bekalnya. Nasi, telur, dan sedikit sayur. Keito
menduga ini akibat Yama yang masih marah padanya. Biasanya Yama akan menyiapkan
dua atau tiga lauk di kotak bekalnya. “Arioka-senpai... senpai suka daging ya?”
Arioka langsung mengangguk dengan
semangat. “Benar. Aku sangat suka daging. Aku suka saat mengunyahnya.
Kenikmatan saat mengunyahnya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata”.
Keito mengamati Arioka dengan
seksama. Keito merasa ada yang aneh dengan Arioka. Matanya kini terasa bagaikan
hewan buas yang kelaparan. Sesaat tadi bahkan Keito bisa melihat wajah Arioka
terasa sedikit menyeramkan.
Saku baju Keito terasa bergetar.
Keito melirik ke arah sakunya, dia melihat tubuh Chii gemetar. Bulu tubuhnya
berdiri semua. Matanya pun berubah menjadi biru.
“Chii... kau kenapa?”, bisik
Keito.
Tsuzuku ~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar