Minggu, 24 Mei 2015

AKUMA NO YOROI

Part 6

“Demon kemarin yang menyerang sekolah kita lenyap”

“kenapa? Apakah dewa pelindung dan anak terkutuk itu yang melakukannya?”

“Bukan. Demon lain yang melakukannya. Murid kelas 3 yang bernama Inoo Kei, yang biasa dipanggil Hime-sama”

“Oh, si pengkhianat itu? tidak kusangka dia juga ada di sini. Sudah lama aku tidak mendengar kabarnya, kupikir dia sudah mati, ternyata dia masih hidup. Lalu bagaimana? Kita habisi saja dia?”

“Jangan. Dia adalah demon terpintar dan terlicik di antara para demon. Oleh karena itu dia bisa terus hidup meskipun levelnya tidak terlalu tinggi. Dia bukan lawan yang mudah”

“Yang penting sekarang, jangan sampai si anak terkutuk itu melakukan kontrak dengan demon itu”

---***---
Keito melangkah kakinya dengan berat. Sikap Yama pagi ini masih sama seperti malam sebelumnya. Meskipun Yama masih melakukan tugasnya seperti biasa, tapi sikapnya masih tetap dingin. Bahkan pagi ini mereka berdua sama sekali tidak berbicara. Keito ingin meminta maaf pada Yama, tapi sikap Yama yang tidak bersahabat membuat Keito selalu gagal mengatakannya.

“Keito-sama...”

Keito melihat ke arah sakunya. Chii yang telah berubah bentuk menjadi gantungan kunci melihatnya dengan cemas. Keito berusaha menunjukkan garis senyum di wajahnya untuk menghapus kegelisahan Chii. Dia mengusap kepala mungil Chii dengan lembut. Tanpa Keito sadari, mereka berdua kini telah sampai di sekolah.

Deg!

Dada Keito kembali terasa sakit. Keito berusaha menahan rasa sakitnya, dia tidak ingin menambah kecemasan Chii yang menemaninya. Semenjak kemarin, Chii terus berada di samping Keito. Keito berusaha menahan garis mukanya agar tidak terlihat seperti orang yang kesakitan.

Dada Keito kini kembali terasa ringan, rasa sakitnya tiba-tiba lenyap. Keito memegangi dadanya dengan heran. Padahal sebelumnya terasa sakit sekali, tapi kenapa rasa sakit itu langsung hilang? Seperti ada yang mengambilnya.

“Selamat pagi Keito-kun”

Keito terperanjat kaget saat mendengar ada orang yang menyapanya. Dia menoleh dan mendapati Inoo berdiri di belakangnya. Dia tersenyum dengan lembut seakan-akan tidak ada apa-apa. Keito langsung memasang sikap waspada. Begitu pula dengan Chii, matanya kini berubah menjadi biru. Auranya pun meluap keluar. Mereka berdua sudah bersiap apabila tiba-tiba Inoo menyerang mereka.

“Kalian ini... aku tidak akan menyerang kalian kok. tidak usah bersikap waspada seperti itu”

“Tapi kami tidak tahu apa yang akan kau lakukan kan?”, balas Chii.

“Kalian pikir aku ini bodoh? Tidak mungkin aku menyerang kalian disaat ada banyak orang di sekitar kita kan?”

Inoo menunjuk ke arah para siswa yang ada di sekitar mereka. Para siswa itu tampak mengamati Inoo dan Keito yang sedang bercakap-cakap. Kehadiran Hime-sama telah menarik perhatian mereka. Apalagi karena insiden kemarin siang di tangga, Keito merasa kalau seluruh murid di sekolah sudah mengetahui hal itu. Percakapan antara dirinya dan si Hime-sama pasti menjadi tanda tanya bagi siswa yang melihat.

“Kalian tenang saja. Aku sama sekali tidak berniat menyerang Keito-kun kok. aku hanya ingin menagih imbalan karena aku sudah menolongnya. Karena kemarin kami ada gangguan yang tidak disangka, aku tidak sempat meminta imbalan darinya. Dan kurasa, kini aku telah menolongnya lagi”, ucap Inoo sambil tersenyum penuh kemenangan pada Keito.

“Apa maksudmu?”, tanya Keito tidak mengerti. Inoo telah menolongnya lagi kali ini? memangnya apa yang sudah dia lakukan?

“Dadamu”. Inoo menunjuk ke arah dada Keito. “Apakah masih terasa sakit?”

Keito langsung meraba dadanya. Inoo benar, rasa sakit dadanya kini telah hilang. Bertepatan saat Inoo menyapanya. Dia melihat Inoo dengan penuh tanda tanya. Kenapa Inoo bisa tahu?

Inoo berjalan mendekati Keito. Dia kemudian berbisik di telinga Keito, “Kalau kau ingin tahu jawabannya, kau bisa menemuiku di perpustakaan. Dan kuharap kau juga sudah menyiapkan imbalan juga untukku. Take and Give. Aku bisa menjawab semua pertanyaanmu asalkan kau menyiapkan imbalan yang setimpal juga”

Inoo tersenyum simpul sebelum pergi meninggalkan Keito. Dia berjalan melewati Keito begitu saja tanpa melakukan apapun. Inoo berjalan mendekati seorang pemuda yang tampaknya terus menunggunya tadi. Keito terus menatap ke arah Inoo.

“Woi!”. Juri tiba-tiba datang dari arah belakang dan langsung merangkul Keito. “Apa yang kau bicarakan dengan Hime-sama? Apakah tadi dia meminta pertanggungjawabanmu karena masalah kemarin?”

“Tidak. Dia hanya menyapaku saja”

Juri memandang keito dengan curiga. “Sejak kapan kau akrab dengan Hime-sama sampai dia menyapamu?”

“Kau tidak perlu tahu”

“Pelit!”. Juri menjulurkan lidahnya, Keito tertawa melihat tingkah laku Juri ini.

“Ngomong-ngomong, kau merasa ada yang aneh tidak di tubuhmu?”. Keito penasaran dengan kondisi teman-temannya setelah penyerangan demon kemarin.

“Hmm... apa maksudmu? Tubuhku baik-baik saja kok. Memangnya ada apa?”, tanya Juri balik.

“Oh begitu”. Keito melangkah maju dan meninggalkan Juri yang masih terheran-heran.

Keito dan Juri asyik bercakap-cakap mengenai beberapa pembicaraan. Mereka terus berbicara mengenai acara pertandingan sepakbola yang disiarkan tadi malam. Baik Keito maupun Juri asyik membicarakan mengenai idola mereka. Di luar kelas, mereka bertemu dengan Yugo, mereka lalu mengajak Yugo ikut membicarakan mengenai pertandingan sepakbola yang cukup menegangkan itu.
Sebelumnya Keito menanyakan pada Yugo pertanyaan yang sama dengan Juri, tapi jawaban yang diberikan Yugo juga sama. Keito berpikir keras, apa yang sebenarnya telah terjadi? apakah demon itu tidak jadi memakan ingatan teman-temannya?

“Yo, Juri!”

“Hokuto!”.

Hokuto, siswa kelas sebelah, teman SMP Juri, datang menghampiri mereka. Berkat Juri, Keito juga mengenal Hokuto. Hokuto datang sambil membawa sebuah kotak yang terdiri dari 9 kotak berwarna-warni.

“Ah, itu rubik ya?”, tanya Keito saat melihat Hokuto asyik mengutak-atik kotak rubik yang dibawanya.

“Ya. Akhir-akhir ini permainan ini lagi ngetren di kelasku, aku juga berencana akan membahas mengenai permainan ini untuk artikel majalah sekolah selanjutnya”

“Memangnya kau bisa memecahkannya?”, tanya Juri.

“Aku sudah mengutak-atiknya dari tadi, tapi aku hanya bisa membuat satu sisi yang berwarna sama”, keluh Hokuto sambil terus mengutak-atik kotak rubik itu.

Saking asyiknya Hokuto memainkan kotak itu, dia tidak memperhatikan ada beberapa siswa yang berlarian. Siswa itu menabrak Hokuto. Kotak rubik yang ada di tangannya langsung terlempar. Keito berniat mengambil kotak itu, tapi ada siswa lain yang sudah mengambil kotak itu terlebih dahulu.

“Terima kasih”, ucap Keito pada orang yang telah mengambilnya.

Siswa itu hanya diam mengamati kotak yang ada di tangan kanannya itu. Keito mengamati siswa itu. tingginya kurang lebih sama dengannya. Penampilannya pun biasa saja. Tangan kirinya memegang HP, tangan kanannya memegang kotak rubik itu. Siswa itu kemudian memasukkan Hpnya ke dalam saku. Kedua tangannya kini sibuk mengutak-atik kotak rubik itu. Keito hanya bisa diam mengamati apa yang dilakukan siswa itu. Tidak butuh lama, kotak rubik itu diserahkan kembali pada Keito, siswa itu lalu pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun.

Keito sangat terkejut ketika mendapati semua sisi kotak rubik itu berwarna sama. Rubik itu telah selesai. Hokuto, Juri, dan Yugo juga sama tercengangnya dengan Keito. Terutama Hokuto, dia butuh waktu lama untuk menyelesaikan satu sisi, tapi siswa barusan bisa menyelesaikan seluruhnya dalam waktu hanya beberapa menit.

“Hei, siapa anak itu?”, tanya Hokuto pada Yugo, si informan sekolah.

“Hmm... aku jarang melihatnya. Kurasa dia murid kelas 1. Aku belum memiliki semua data murid kelas 1, kurasa setelah ini aku akan menyelidikinya”, jawab Yugo.

“Wuah, anak itu pasti hebat sekali! Dia bisa menyelesaikan ini dengan cukup mudah”, ucap Juri kagum sambil terus melihat rubik yang telah selesai itu.

Bel sekolah telah berbunyi. Keito, Juri, Yugo, dan Hokuto segera menuju ke kelas mereka masing-masing. Mereka mengikuti pelajaran dengan seksama.

“Keito-sama...”

Keito sedikit terperanjat saat Chii memanggilnya di tengah pelajaran. Dia mendekatkan wajahnya ke arah sakunya.

“Apa yang kau lakukan Chii? Sudah kubilang jangan bersuara selama di sekolah”, bisik Keito sepelan mungkin agar teman-temannya tidak mendengarnya.

“Maafkan saya Keito-sama. Saya hanya ingin memperingatkan Keito-sama sesuatu”

“Apa?”

“Saya harap, Keito-sama tidak mendengarkan perkataan demon tadi. Bagaimanapun dia adalah demon, dia adalah makhluk jahat”

“Aku tahu Chii. Sudahlah, lebih baik kau tetap diam. Aku juga ingin berkonsentrasi di pelajaran ini.
“Baik. Maafkan saya Keito-sama”

Chii kembali masuk ke dalam saku Keito. keito kembali memikirkan perkataan Inoo tadi pagi. Dia memegangi dadanya. Dadanya masih terasa sakit walaupun kini tidak sesakit tadi. Rasa sakit di dadanya menghilang setelah dia bertemu dengan Inoo. Apakah ini semua ada kaitannya?

Keito mengingat kembali isi buku yang pernah dibacanya, ‘cara untuk menghilangkan kutukan demon adalah mengikat kontrak dengan 7 demon lain’. Apakah ini berarti dirinya harus mengikat kontrak dengan demon untuk menghilangkan kutukan ini?

---***---
Waktu istirahat telah tiba. Keito berjalan menuju kantin bersama teman-temannya. Sebenarnya dalam hati kecilnya dia ingin berjalan menuju perpustakaan, dia ingin bertemu dengan Inoo dan menemukan semua jawaban atas pertanyaannya. Tapi, dia tahu pasti kalau Chii akan menentang tindakannya.

---***---
Di perpustakaan.

“Kau menunggu anak itu?”

“Tentu saja. Sebentar lagi keito-kun akan menghampiriku. Aku yakin dia akan datang kemari, bersama dengan imbalan yang kuminta darinya”

---***---
“Wah, padat sekali. Tidak ada lagi tempat duduk kosong”, keluh Juri saat melihat bangku kantin yang penuh dan ramai.

“Ah, disitu kosong”, ucap Yugo. Mereka bertiga langsung merasa gembira dan mendekati bangku tersebut, tapi langkah mereka terhenti saat melihat Takaki duduk disana. Mereka takut mendekati bangku tersebut.

“Jangan disana deh. Aku takut”, ucap Juri. Mereka bertiga langsung berbalik badan dan berniat menjauhi bangku tersebut.

“Bento-kun!”, seru seseorang. Sontak mereka bertiga menoleh. Keito melihat pemuda ceria yang kemarin bersama dengannya sedang melambaikan tangannya padanya. Pemuda yang bernama ‘Arioka’.

“Kurasa dia memanggilmu”, bisik Juri.

“Bento-kun, ayo duduk disini!”, Arioka berlari menghampiri Keito dan menarik Keito agar duduk di bangku yang sama dengan Takaki. “Kalian juga!”, pemuda itu juga menarik tangan Yugo dan Juri agar duduk bersama dengan mereka. raut muka ketiganya tampak sangat gugup duduk berdekatan dengan Takaki, tapi Takaki tampaknya tidak peduli dengan kehadiran Keito dan teman-temannya.

Di atas meja tersedia berbagai macam makanan. Mulai dari nasi goreng, ramen, katsudon, tempura, yakiniku, kari, dan masih banyak lagi. Keito menduga semua menu di kantin ada di meja itu. Arioka mulai memakan makanan yang ada di meja satu persatu. Keito hanya bisa melongo melihat Arioka melahap semua makanan itu tanpa henti.

“Bento-kun, hari ini kau makan apa?”, tanya Arioka sambil tetap melahap tempura yang ada.

“Ah, hari ini aku bawa ini...”. keito membuka kotak bekalnya dan menunjukkan isi bekalnya. Arioka mengintip isi bekal Keito, mukanya tampak terlihat sedikit kecewa.

“Eh... kau tidak membawa ayam karaage ya?”. Keito bisa merasakan nada kecewa di suara Arioka.

“Tidak. Aku hanya membawa ini saja”. keito menatap isi bekalnya. Nasi, telur, dan sedikit sayur. Keito menduga ini akibat Yama yang masih marah padanya. Biasanya Yama akan menyiapkan dua atau tiga lauk di kotak bekalnya. “Arioka-senpai... senpai suka daging ya?”

Arioka langsung mengangguk dengan semangat. “Benar. Aku sangat suka daging. Aku suka saat mengunyahnya. Kenikmatan saat mengunyahnya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata”.

Keito mengamati Arioka dengan seksama. Keito merasa ada yang aneh dengan Arioka. Matanya kini terasa bagaikan hewan buas yang kelaparan. Sesaat tadi bahkan Keito bisa melihat wajah Arioka terasa sedikit menyeramkan.

Saku baju Keito terasa bergetar. Keito melirik ke arah sakunya, dia melihat tubuh Chii gemetar. Bulu tubuhnya berdiri semua. Matanya pun berubah menjadi biru.


“Chii... kau kenapa?”, bisik Keito.

Tsuzuku ~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar