PART 16
“Pagiiii, Ryoooochaaaaannnnnn!!!!!!”, seru Chinen yang langsung memelukku ketika aku keluar kamar. Dia memelukku sangat erat sehingga rasanya aku jadi sulit bernafas.
“Pa-pa-pagi, Yu-yu-yuri.....”, jawabku dengan susah payah.
“Chii, pagi-pagi kau sudah mengganggu Yamachan lagi. Apa kau tidak bosan begitu terus??”, ucap Yuto yang bergabung bersama kami.
“Biar saja. Bilang saja kau cemburu dengan kami, ya kan Ryochan?”
“Cemburu? Buat apa? Aneh-aneh saja.....”, Yuto pun berlalu pergi meninggalkan kami berdua. Kami langsung menuju ruang makan untuk sarapan.
“Pagiii!!!!”, ucap Chinen ceria saat masuk ke ruang makan.
“Ciiieeeee, pasangan baru sudah tiba. Suit, suit...”, ucap Hika.
“Eh,kau tahu dari mana Hika?”, Chinen melihat ke arah Daiki yang sedang ngobrol dengan Ryuu.
“Aku kan punya pendengaran yang super. Kau lupa? Tidak ada satu rahasia pun di rumah ini yang tidak kuketahui”, Hika menunjukkan telinganya.
“Oh iya ya, iya benar kami sudah jadian. Ya kan Ryochan?”, Chinen merangkul tanganku dengan erat. Aku diam tidak mengatakan apapun.
“Yamachan, kau dipaksa Chii buat jadi pacarnya ya?”, tanya Yuto.
“Enak saja. aku tidak memaksanya kok. Kami benar-benar saling mencintai”.
“Tapi kelihatannya tidak begitu”, Yuto melihat ke arahku yang diam saja dari tadi.
“Eh?? Kalian berdua jadian? Sejak kapan?”, Inoo yang baru saja masuk langsung bertanya pada kami.
“Sejak kemarin malam”, jawab Chinen riang.
“Hee....selamat ya Chii”, Inoo menepuk kepala Chinen pelan. Aku hanya diam saja dan melihat Chinen yang tersenyum riang. Sekilas aku melihat Daiki, dia tertawa kecil saat melihatku. Tampaknya hanya dia saja yang tahu kebenaran dari hubunganku dengan Chinen.
Kami pun segera berangkat sekolah dan menjalani rutinitas seperti biasa. Selama beberapa hari kami menjalani rutinitas seperti ini. Tidak ada makhluk kegelapan yang menyerang kami. Selama patroli kami hanya bertemu dengan makhluk kegelapan yang lemah saja sehingga mudah untuk dibereskan. Beberapa hari terakhir ini aku memutuskan untuk masuk ke klub sepak bola di sekolah. Beberapa ksatria yang lain juga mengikuti kegiatan klub sehingga aku pun memutuskan untuk mengikuti salah satu juga. Hika ikut klub memanah, Keito ikut klub sastra, Ryuu klub atletik, dan Chinen klub senam, Yuto tidak mengikuti kegiatan klub apapun, tapi dia sering membantu klub-klub beladiri yang membutuhkan bantuannya. Sedangkan Daiki, karena dia ketua OSIS jadi dia sibuk dengan kegiatan OSISnya sehingga tidak punya waktu untuk mengikuti sebuah klub.
Suatu hari, master datang ke rumah kami. Dia datang bersama dengan seorang wanita, umurnya mungkin seumuran dengan Yabu.
“Kyaa....Aruu.... hisashiburi.... genki ka?”, Chinen menghampiri cewek tersebut. Mereka saling berpelukan, tampaknya mereka adalah sahabat dekat.
“Aku baik-baik saja kok. Kyaa..... sudah lama kita tidak bertemu ya. Minna, apa kabar?”, kata cewek itu pada kami.
“Anoo,dia siapa ya?”, tanyaku.
“Oh iya, Ryochan sini. Nao, perkenalkan ini pacarku, Yamada Ryosuke”, aku mengulurkan tanganku dan dia membalasnya.
“Perkenalkan, aku Ogata Arushi. Panggil saja Aru. Aku adalah sekretaris pribadi master”, kata cewek itu.
“kenapa kalian datang kemari?”, tanya Chinen.
“Master ingin menemui kalian, aku juga kesini untuk menemaninya”, jawab Aru.
“Ada yang ingin kubicarakan dengan kalian. Apa kalian sudah berkumpul semua?”, tanya master. Yabu berdiri dan mulai menghitung jumlah ksatria yang ada.
“Sudah lengkap master. Ada apa?”, jawab Yabu setelah yakin semua ksatria telah berkumpul.
“Kalian tahu kan kalau saat ini jumlah makhluk kegelapan yang menyerang kalian tidak terlalu banyak? Bahkan bisa dibilang makhluk kegelapan yang menyerang kalian itu adalah yang berlevel rendah”, kata master memulai pembicaraan.
“Level rendah?”, tanyaku memotong pembicaraan.
“ya, tidak semua makhluk kegelapan itu memiliki kekuatan yang sama. Semakin pintar mereka, semakin tinggi level mereka. untuk makhluk yang hanya menyerang secara membabi buta dan bergerak dengan dikendalikan itu termasuk level rendah. Yang termasuk level rendah itu seperti muka rata dan zombie yang kita hadapi tempo hari”, jawab Chinen yang duduk di sampingku.
“Kalau yang pernah menyerang ke rumahmu itu, yang bisa terbang itu termasuk level menengah. Karena mereka bisa bicara dan bergerak sesuai keinginan mereka sendiri”, tambah Yabu menjelaskan.
“Lalu yang level tinggi itu seperti apa?”, tanyaku
“Fuu itulah contoh makhluk kegelapan level tinggi. Mereka yang berlevel tinggi mampu mengendalikan semua yang berlevel rendah dan sedang, dan mereka sangat kuat”,jawab Daiki. Semua yang ada di ruangan langsung diam mendadak setelah Daiki berbicara seperti itu.
“benar kata Arioka. Bahkan tidak ada jaminan kalau seorang ksatria mampu mengalahkan satu makhluk kegelapan level tinggi sendirian. Untuk makhluk kegelapan level tinggi itu kami memanggilnya maou”, kata master.
“Lalu, apa yang ingin anda beritahukan pada kami master?”, tanya Yabu lagi.
“Akhir-akhir ini tingkah dari para makhluk kegelapan mencurigakan. Biasanya mereka selalu berkeliaran dan mereka yang level sedang juga biasanya juga ikut berkeliaran. Tapi, akhir-akhir ini yang level sedang malah tidak pernah menampakkan diri dan yang level rendah jumlahnya hanya sedikit. Yang pertama membuatku curiga adalah ketika Fuu menyerang kalian. Biasanya makhluk level tinggi tidak pernah secara langsung menyerang ksatria”, tambah master lagi. “akupun lalu meminta Okamoto untuk menyelidiki sesuatu”, master melihat ke arah Keito dan sepertinya memintanya untuk mengatakan sesuatu. Keito pun mengangguk dan mulai membuka mulut untuk berbicara.
“Aku diminta master untuk melihat pergerakan dari para makhluk kegelapan. Aku melihat ke sekeliling kota dengan bola kristalku untuk mencari dimana saja para makhluk kegelapan itu berada. Lalu aku menemukan sesuatu. Beberapa makhluk kegelapan tampaknya menuju ke arah barat. Mereka sepertinya sedang berkumpul disana”, jelas Keito.
“ke arah barat? Untuk apa mereka berkumpul disana?”, tanya Hika penasaran.
“aku tidak bisa melihatnya dengan jelas karena sepertinya ada yang menghalangi penglihatanku. Tapi, tampaknya mereka seperti sedang menyiapkan sesuatu”, kata Keito lagi.
“Sesuatu?Tidak bisakah kau mengira apa sesuatu itu?”, tanya Hika lagi.
“Kemungkinan para makhluk kegelapan sedang berusaha untuk membangkitkan ‘dia’”, jawab master. Semua para ksatria selain aku tersontak kaget dengan perkataan master.
“Tidak mungkin. Tapi, bukankah ‘dia’ sudah disegel? Tidak mungkin semudah itu untuk melepaskannya”, kata Inoo tidak percaya.
“Ya, kupikir juga begitu. Tapi ternyata para makhluk kegelapan itu tampaknya sudah mengetahui bagaimana melepas segelnya”, jawab master.
“Anu, maaf aku menyela lagi, siapa yang kalian maksud dengan ‘dia’?”, tanyaku penasaran.
“Ah,aku belum memberitahumu ya. Baiklah kuceritakan dari awal saja”, master menyandarkan punggungnya ke kursi dan mulai bercerita.
“kau tahu asal muasal mengapa ada ksatria dan makhluk kegelapan?”, tanya master padaku. Aku menggeleng.
“Dahulu para makhluk kegelapan berkeliaran dan selalu berusaha untuk menguasai tempat manusia. Karena mereka selalu mengganggu, maka 4 orang yang memiliki kemampuan khusus diminta untuk membasmi makhluk kegelapan. Mereka adalah magician yang memiliki kemampuan sihir, sorcerer yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan makhluk hidup, alchemist yang memiliki kemampuan mengendalikan alam, dan yang terakhir adalah seorang necromancer yang bisa mengendalikan makhluk yang sudah mati. Mereka berempat bekerjasama untuk membasmi makhluk kegelapan. Keadaan ini terus berlanjut selama beberapa saat hingga kejadian yang tidak terduga terjadi”, master berhenti sejenak lalu melanjutkan ceritanya.
“Sang necromancer tanpa sengaja membangkitkan maou yang terkuat. Karena tidak mampu mengendalikannya, akhirnya necromancer tersebut dirasuki oleh maou itu dan akhirnya dikendalikan olehnya. Dengan kekuatan sang necromancer dan maou tersebut, mereka membangkitkan semua makhluk kegelapan yang ada dan mulai menyerang manusia secara membabibuta. Keadaan semakin bertambah parah saat sang sorcerer yang berusaha menghentikan mereka pun terbunuh. Magician dan alchemist pun membentuk sebuah pasukan untuk membantu mereka membasmi makhluk kegelapan. Pasukan itulah yang disebut ksatria. Para ksatria dipilih dari murid-murid unggulan magician, sorcerer, alchemist dan necromancer”, master berdiri dan melihat keluar jendela.
“para ksatria, magician dan alchemist yang tersisa bekerjasama untuk membasmi makhluk kegelapan. Mereka akhirnya berhasil mendesak sang necromancer dan mengalahkannya. Tapi karena kekuatan necromancer dan maou itu sangat kuat, akhirnya mereka memutuskan untuk menyegelnya. Tapi, sebelum itu sang necromancer mengatakan bahwa dia akan bangkit lagi dan para makhluk kegelapan akan terus menyerang manusia. Untuk mencegah hal itu terjadi, magician dan alchemist memberitahu para ksatria bahwa keturunan mereka akan menjadi ksatria dan pertarungan ini akan terus berlanjut hingga semua makhluk kegelapan musnah”. Master berhenti dan melihat semua ksatria yang ada di ruangan tersebut.
“Jadi, kami semua yang ada disini adalah keturunan dari ksatria yang dulu?”, tanyaku.
“Ya, di dalam tubuh kalian semua, terdapat darah ksatria yang dulu berjuang melawan necromancer tersebut”, jawab master.
“Lalu, bagaimana dengan magician, sorcerer, dan alchemist tersebut? Apakah tidak ada keturunan dari mereka yang masih hidup?”, tanyaku lagi.
“Kau ini bagaimana sih, master adalah salah satu magician. Beliau adalah keturunan dari magician itu”, sahut Ryuu dengan ketus.
“Eh? Benarkah?”, aku melihat ke arah master dengan tidak percaya.
“Ya. Karena sorcerer telah tewas saat itu, jadi tidak ada sorcerer yang baru. Tapi, keturunan alchemist masih hidup”, jawab master.
“Oh,begitu....”, aku mengangguk mengerti. “Lalu, dimana sang alchemist itu master?”, tanyaku lagi.
“Pertanyaan bagus. Dia adalah orang yang sibuk sehingga susah mengetahui keberadaannya. Aku kemarin melacak keberadaannya dan aku mengetahui kalau dia sekarang berada di Amerika”, jawab master. “Nah, Takaki. Aku ingin kau pergi kesana untuk menjemputnya”, master melihat ke arah Yuya.
“EHH?! Aku? Aku tidak mau berurusan dengannya.....”, Yuya memasang wajah melas dan kelihatan sekali kalau dia tidak ingin bertemu dengannya.
“Jadi,maksud master dia akan kembali??”, ujar Yabu riang. Mukanya tampak berseri-seri, berbeda sekali dengan raut muka Yuya yang tampaknya tidak suka dengan kehadirannya.
“Ya. Dan kau Takaki, bersiaplah untuk menjemputnya. Aru akan menemanimu ke Amerika untuk menemuinya”, kata master lagi. Yuya hanya mengangguk pasrah menuruti perintah master. Daiki yang berada di sampingnya menepuk punggungnya dengan pelan.
“Lalu, aku juga punya misi untuk kalian para ksatria. Aku ingin beberapa dari kalian pergi ke barat dimana para makhluk kegelapan berkumpul. Aku ingin kalian mengecek apakah benar mereka sedang berkumpul disana”, ucap master lagi.
“Kalau begitu biar aku saja yang pergi. Aku dulu tinggal di daerah sana, jadi aku kenal daerah itu”, Daiki mengacungkan tangannya untuk menawarkan diri.
“Kau yakin Daichan?”, Yuya menatapnya dengan rasa khawatir.
“Ya. Lebih baik yang pergi kesana adalah orang yang sudah kenal baik dengan daerah itu kan?”, kata Daiki lagi.
“Tapi, kau sendirian kesana.....”, kata Yuya yang tampaknya masih khawatir.
“tenang saja Yuya, aku juga akan kesana untuk menemaninya”, sahut Hika. “Aku dulu juga tinggal di daerah itu. Terlebih keluarga kami juga ada disana jadi serahkan saja semuanya pada kami”, tambah hika lagi. Dia menepuk pundak Yuya dan menaruh tangan di dadanya untuk menunjukkan bahwa dia bisa diandalkan.
“Keluarga?”, tanyaku.
“Yup, keluargaku tinggal disana. Aku dan Daichan kan saudara sepupu”, jawab Hika.
“Berarti kau dan Chii juga bersaudara?”, tanyaku.
“Eh, bukan. Aku dan Daichan itu saudara sepupu dari pihak ayahnya. Sedangkan Daichan dan Chii itu saudara sepupu dari pihak ibunya”, Hika menjelaskan padaku.
“Ngomong-ngomong Yama, dari mana kau tahu aku dan Chii itu saudara sepupu? Perasaan aku tidak pernah memberitahumu”, tanya daiki padaku.
“Eh, aku tahu karena kau yang cerita”, aku mengarang alasan. Aku tidak memberitahunya kalau aku tahu dari buku harian ayahku.
“Oh, benarkah? Kok aku lupa ya?”, daiki tampak berusaha mengingatnya. Ya wajarlah dia tidak ingat, itu kan hanya karanganku saja.
“Hanya kalian berdua saja yang pergi?”, tanya master pada Hika dan Daiki.
“Kalau mau, aku juga ingin mengajak Ryuu juga. Ryuu kan sudah berpengalaman untuk misi luar. Dia lebih sering melakukan misi daripada kami. Ryuu, kau mau ikut?”,tanya Daiki pada Ryuu.
“Tentu saja”, Ryuu menjawab dengan mantap.
“Kalau begitu misi kali ini akan dilakukan oleh Arioka, Yaotome, dan Morimoto. Takaki bertugas untuk menjemput alchemist di Amerika, dan kalian yang tersisa.....”,master melihat ke arah kami “kalian tetap melakukan patroli seperti biasa. Kalian mengerti?”, kata master.
“Iyaa.....”,jawab semua ksatria kompak.
“Baiklah, kalau begitu aku kembali ke markas. Kalian semua bersiap-siap untuk pergi”, master pamit dan kembali menuju ke markas. Sedangkan Aru masih berada di rumah dan menunggu Yuya sambil bersiap-siap.
Di lantai 3
“Kau akan baik-baik saja kan?”, tanya Yuya di depan pintu kamar Daiki.
“Tenang saja. misi kali ini hanya mengintai saja kan? Kami tidak akan bertarung langsung dengan para musuh”, ucap Daiki yang masih membereskan barang yang akan dibawa.
“Tapi, disana kan.....”, Yuya tidak melanjutkan ucapannya. Dia hanya terdiam. Dia tahu kalau tempat yang akan dituju Daiki adalah tempat tinggalnya dulu, dimana peristiwa itu terjadi. Daiki yang sudah merapikan barangnya, mengangkat tasnya dan menghampiri Yuya yang tertunduk diam.
“Aku akan baik-baik saja. tidak usah khawatir. Terlebih lagi ada Hika dan Ryuu yang akan membantuku kan”, Daiki mengusap lembut wajah Yuya.
“Justru aku lebih khawatir padamu”.
“Khawatir padaku? Kenapa?”, tanya Yuya
“Kau akan pergi menjemput sang alchemist dengan Aru kan? Kalian hanya pergi berdua saja”
“Ah,kau cemburu? Kau takut aku selingkuh dengan Aru?”, Yuya mulai tersenyum nakal. Tampaknya dia amat senang melihat Daiki yang seperti ini. Daiki hanya terdiam menunduk.
“Kau jangan khawatir. Aku selalu bilang kalau aku akan selalu ada disampingmu kan?”,Yuya mulai memeluk Daiki dengan lembut. “Tidak mungkin aku selingkuh kalau aku punya pacar semanis ini”, Yuya memegang dagu Daiki dan mengangkatnya sehingga dia bisa melihat wajah Daiki seutuhnya. Sedetik kemudian, Yuya mengecup bibir Daiki dengan lembut. “Percayalah padaku, ya?”, ucap Yuya. Daiki hanya mengangguk.
Beberapa menit kemudian....
Daiki, Hika, Ryuu, dan Yuya sudah berada di pintu depan. Kami semua mengantar kepergian mereka.
“Daichaann...jaga dirimu ya.... Hika dan Ryuu juga. Selesaikan misi dengan baik dan segera pulang ya.....”, ucap Chinen sambil memeluk Daiki. “.......dan Kau Yuya! Sebaiknya kau jangan macam-macam dengan Aru”, tunjuknya ke arah Yuya.
“Wakatta....’,jawab Yuya.
“Daiki...”, kataku
“daichan saja. Semua orang disini memanggilku Daichan. Hanya kau yang memanggilku Daiki. Jadi, panggil aku Daichan juga”, kata Daiki.
“Daichan,hati-hati ya”, kataku pada Daiki. Daiki membalasnya dengan senyum.
“Yuya, cepat temukan si Alchemist itu dan bawa dia pulang dengan segera. Kau tidak ingin membuat Daichan khawatir kan?”, kata Yuto.
“Beres.Serahkan padaku”, kata Yuya.
“Aru, titip Yuya ya... kalau dia macam-macam, segera lapor padaku”, ucap Daiki kepada Aru.
“baik, aku akan menjaganya dengan baik. Aku pasti akan melaporkan semua tingkah lakunya padamu”, Aru menjabat tangan Daiki. Mereka saling tersenyum.
“Kami berangkat!!!’, ucap mereka berempat. Kami melambaikan tangan dan melihat keempat orang itu pergi. Tinggal kami berenam saja yang masih ada di rumah.
Sudah beberapa hari berlalu sejak mereka berempat pergi. Terkadang kami menerima telepon atau sms dari mereka. jadi, kami tahu bahwa mereka baik-baik saja. Yuya masih belum menemukan si Alchemist. Sedangkan rombongan Daiki dkk masih melacak dimana tempat para makhluk kegelapan itu berkumpul. Kami berenam yang tersisa membasmi makhluk kegelapan yang ada sesuai perintah master. Terkadang kami melakukannya secara berpasangan. Tapi ada juga yang melakukannya sendirian, seperti Yuto dan Keito. Aku sering bersama dengan Chinen saat bertarung dengan musuh. Lama-kelamaan aku bisa menyesuaikan cara bertarungku dengan Chinen.
Suatu hari sepulang sekolah.....
“Ryochan, ayo kita kencan”, kata Chinen tiba-tiba.
“Eh? Kencan?”, aku kaget dengan perkataan Chinen barusan.
“Iya, kencan. Semenjak kita pacaran kita belum kencan satu kalipun. Jadi sekarang ayo kita kencan. Mumpung kita ada waktu yang agak luang”, kata Chinen menggebu-gebu.
“Tapi, bukankah kita juga harus patroli sekarang ini?”, tanyaku.
“Tapi....saat ini adalah saat yang tepat. Kita tidak tahu lagi kapan kita punya waktu yang agak longgar setelah ini”, tiba-tiba raut wajah Chinen menjadi murung. Aku jadi tidak tega melihatnya.
“Sudahlah yamachan, kalian berdua pergi saja. urusan patroli hari ini serahkan padaku saja”, ucap Yuto yang mendengarkan pembicaraan kami dari tadi.
“Asyikk!!! Yutti, kau baik deh”, Chinen langsung memeluk Yuto, tapi Yuto segera mendorongnya untuk melepaskan pelukannya. “Saa.... Ryochan ayo kita pergi. Hmm,kemana dulu ya?”, Chinen langsung menarik tanganku keluar kelas. Aku tidak sempat mengatakan apapun pada Yuto. Aku melihat dia melambaikan tangannya dari kelas. Kami berpapasan dengan Keito di lorong. Kami pergi begitu saja tanpa berkata apapun padanya.
“Mau kemana mereka?”, tanya Keito yang menghampiri Yuto yang ada di kelas.
“Kencan. Chii memaksa Yamachan untuk kencan dengannya. Awalnya Yamachan menolaknya, tapi aku mengusulkan mereka untuk tetap pergi dan biar tugas patroli hari ini aku yang menggantikannya”, jawab Yuto. “Aku ingin mereka lebih banyak bersenang-senang. Kita tidak tahu kan kapan musuh akan menyerang, sehingga setiap waktu luang yang kita miliki saat ini sangat berharga”.
“kau memang orang yang baik. Baiklah, kalau begitu aku juga akan membantumu patroli hari ini”, ucap Keito.
“Eh,aku sendiri juga tidak apa kok”, Yuto menolak dengan halus tawaran Keito.
“Aku tidak ingin kau terlalu kelelahan saat bertarung dengan musuh nanti. Kau selalu saja melakukan semuanya sendirian. Setidaknya aku ingin meringankan bebanmu. Aku tahu semuanya, jadi kau tidak perlu sungkan padaku”, kata Keito lagi.
“Terimakasih Keito”.
Di taman
Aku terduduk diam di pinggir taman. Entah kenapa, aku merasa sangat capek. Padahal aku hanya berjalan-jalan saja dengan Chinen. Melihatku yang agak kelelahan, Chinen lalu memutuskan untuk pergi membeli minuman sedangkan aku menunggu disini. Aku melihat di sekitarku. Terdapat banyak orang, pasangan remaja dan orangtua, keluarga yang sedang bermain bersama, semua terlihat sangat menyenangkan. Aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika makhluk kegelapan menguasai dunia ini.
“Kyyaaa......”,seorang cewek jatuh di depanku. Aku menghampirinya untuk membantunya berdiri.
“kau tidak apa-apa?”, kataku pada cewek itu.
“Terimakasih”, cewek itu tertunduk malu, suaranya halus sekali. Wajahnya tidak terlihat karena dia memakai topi.
“Kau tidak terluka?”, aku melihat ke arah kakinya. Terlihat darah keluar dari kakinya. Reflek aku memegang lukanya. Aku menggunakan kemampuanku untuk menyembuhkannya. Seketika luka di kaki cewek itu menutup. Setelah itu aku baru sadar apa yang kulakukan. ‘duh, bagaimana aku menjelaskan hal ini?’, pikirku.
“Tidak kusangka, aku bertemu dengan seorang ksatria disini”, kata cewek itu. Aku mendongak melihat ke arah cewek itu. Aku bisa melihat mukanya yang cukup cantik dan matanya yang berwarna berbeda. Dia tersenyum saat melihatku. ‘siapa cewek ini? Kenapa dia bisa tahu tentangku’, pikirku lagi. tiba-tiba dia mengangkat tangannya, aku tidak tahu apa yang ingin dilakukannya.
“RYOOCHAAAANNNNN!!!!!! Menjauh dari dia sekarang juga!!!!”
Di Amerika
“Aru, infonya benar gak sih? Kita sudah berhari-hari mencarinya tapi tidak ketemu”, ucap Yuya kelelahan. Dia sudah terlalu capek berjalan mengelilingi kota untuk mencari si alchemist.
“menurut master dia ada di sekitar sini”, jawab Aru singkat sambil terus berjalan.
“Kau juga mengatakan hal yang sama saat aku bertanya padamu tadi, kemarin, kemarin lusa, dan kemarin-kemarinnya juga”, gerutu Yuya mulai jengkel. Aru hanya diam dan terus melanjutkan perjalanannya. Yuya yang kesal hanya diam bersandar disebuah tiang jalan. Dia melihat ke seberang jalan, “Aruu, itu diaaa.....”, Yuya menunjuk seseorang di seberang jalan dan segera berlari menyusulnya.
Di barat, tempat rombongan Daiki dkk
“gawat,kita harus segera kembali dan memberitahu master soal ini”, kata Hika. Mereka bertiga berkumpul di suatu tempat. Mereka mengamati suatu tempat dari kejauhan.
“Kita tidak punya waktu lagi, ayo segera kembali”, ujar Daiki. Mereka segera menaiki mobil dan melaju kembali ke rumah. Tiba-tiba dari arah berlawanan muncul truk besar yang melaju ke arah mereka.
“HIKAAA!!! Ke kiri, ke kiri, arahkan mobilnya kesana”, seru Ryuu panik. Tapi, truk itu segera menghantam mobil mereka. Mobil itu pun terguling beberapa saat dan akhirnya jatuh ke dalam jurang. DUAARRRR!!!! Terdengar suara ledakan keras dari arah jurang, bersamaan dengan itu timbul asap dan api dari arah jurang.
Tsuzuku ~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar