PART 14
Aku melihat langit di daerah sana masih berwarna hitam legam. Seakan-akan sesuatu yang buruk telah terjadi.
“Sial! Ini orang pergi kemana sih? Teleponnya tidak diangkat sama sekali”, gerutu Chinen kesal sambil mengutak-atik HP Hika.
“Tunggu, Chii kau bisa diam sebentar? Aku sepertinya mendengar sesuatu”, Hika menaruh tangannya di telinganya seperti sedang mencoba mendengarkan sesuatu. “Ada sesuatu yang mendekat kemari___”, Hika memejamkan matanya, berusaha mendengarkan lebih jelas. Aku dan Chinen terdiam mematung disana, menunggu apa yang dikatakan Hika, “____tampaknya seperti suara mobil, dan semakin mendekat kemari”.
Aku melihat ada sesuatu dari jauh yang mendekati kami, awalnya aku tidak bisa melihatnya dengan jelas, tapi lama kelamaan aku bisa melihatnya. Ada sebuah mobil hitam sedang menuju kemari. Aku kenal mobil itu, itu mobil Yuya. Aku menarik nafas lega.
“Maaf, aku datang terlambat. Kalian semua baik-baik saja?”, ucap Yuya dari dalam mobil.
“Kau kemana saja sih? Aku dari tadi berusaha meneleponmu tapi tidak kau angkat. Untung, kau segera menuju kemari”, gerutu Chinen kesal.
“Sudahlah, ayo cepat naik. Kita harus menuju ke tempat Daichan”, Yuya membuka pintu belakang dan pintu samping kemudi, Chinen duduk di depan, sedangkan aku dan Hika membopong Yabu untuk masuk ke dalam mobil. Setelah semuanya naik, mobil pun melaju cepat ke arah ledakan tadi, dimana Daiki berada.
“Kenapa kau bisa tahu kami ada disini?”, tanyaku
“Aku bertanya pada Keito apa yang terjadi. Awalnya aku merasa ada yang membuat pelindung, lalu pelindung itu lenyap, akan tetapi ada pelindung baru lagi yang dibuat dan sepertinya tidak sama dengan pelindung yang pertama, jadi kurasa ada sesuatu yang tidak beres, lalu Keito tadi memberitahukanku semuanya yang dia lihat. Lalu aku langsung menuju kemari setelah mendengar apa yang terjadi. Benarkah Fuu yang kalian hadapi?”
“Ya, kami semua melihatnya dan benar itu dia. Bahkan dia benar-benar ingin membunuh Daichan”, jawab Chinen. Matanya terpaku keluar mobil menghadap lurus ke jalan.
“Yang penting kita harus kesana. Syukurlah kau kemari, sehingga ada orang yang bisa membantu Daichan. Cuma kau satu-satunya yang bisa membantunya saat bertarung”,tambah Hika.
“Ya, kuharap aku tidak datang terlambat”, tambah Yuya.
Yuya menambah kecepatan mobilnya. Kami akhirnya tiba di tempat yang kami maksud. Betapa kagetnya kami semua dengan pemandangan yang terhampar di depan kami. Aku melihat hamparan padang pasir yang luas, tidak ada satupun bangunan yang ada disana, semua tampaknya telah hancur menjadi debu. Tempat ini bagaikan telah dibom. Di sana aku juga melihat ada lubang-lubang besar di tanah. Sebenarnya apa yang terjadi disini hingga semua ini bisa terjadi?
“Wah,untunglah aku masih memasang pelindung di sekitar sini jadinya tidak akan berpengaruh pada dunia sekitar”, ucap Hika sambil melihat sekeliling, “dimana Daichan?”
Aku juga melihat ke sekeliling tapi aku tidak dapat menemukan sosok manusia satupun.
“Disana! Aku mendengar suara jantung seseorang, arahnya dari sini”, Hika menunjuk kesuatu arah dan berlari menuju ke arah tersebut, “Chii, kau tetap disini. Jaga Yabu”, perintah Hika.
Kami semua lalu berjalan mengikuti Hika yang memimpin kami. Dari kejauhan aku dapat melihat ada kumpulan serbuk berwarna hitam yang membentuk seperti sebuah bola yang mengelilingi sesuatu.
“Apa itu?”, tanyaku menunjuk ke bola hitam yang kulihat.
“Itu Daichan! Gawat, kemampuannya tidak terkontrol. Kalian berdua tetap disini, biar aku yang membawa Daichan!”, perintah Yuya.
Aku dan Hika berdiri di tempat sedangkan Yuya mulai berlari menghampiri Daiki. Aku juga ingin ikut dengan Yuya, tapi Hika melarangku dan memintaku untuk tetap menunggunya disini.
“Daichan....”,l irih Yuya pelan. Daiki terbaring lemah, di tubuhnya terdapat bercak kehitaman yang muncul. Bahkan waktu Yuya menggoyangkan tubuhnya, mata Daiki tidak mau terbuka. Beberapa serbuk racun terus merembes keluar dari tubuh Daiki.
“Daichan, maaf aku terlambat”, bisik Yuya pelan. Perlahan, Yuya mengangkat tubuh Daiki, dan membopongnya. Yuya kembali membawa Daiki yang pingsan. Aku mendekat dan melihat kondisi Daiki, tubuhnya dipenuhi oleh bercak kehitaman, kondisinya hampir sama seperti Yabu. Sama seperti Yabu, Daiki juga mengalami beberapa luka di tubuhnya, bahkan luka yang diakibatkan tikaman pisau tadi masih mengeluarkan darah.
“Sampai separah ini.... apa yang terjadi?”, ucap Hika
“Kelihatannya dia memaksakan diri sampai batas kekuatannya, hingga akhirnya jadi seperti ini. Lagi-lagi dia seperti ini dan selalu saja aku datang terlambat”, ucap Yuya sedih.
“Ayo, kita kembali ke rumah, Chii dan Yabu menunggu di mobil”, kami menuju kembali ke mobil.
Sesampainya di mobil, kami segera disambut oleh Chinen yang menunggu di luar mobil. Raut mukanya terlihat cemas sekali.
“Daichan! Bagaimana keadaannya?”, Chinen berlari menghampiri kami. “Astaga, kenapa bisa jadi seperti ini?”.
“kekuatannya sekarang tidak terkontrol, coba lihat ini”, Yuya menunjukkan gelang yang ada di tangan kanan Daiki. Gelang itu menghitam dan terlihat retak. “Gelang ini digunakan untuk membantu mengendalikan kemampuan yang keluar. Bila ini sampai rusak, berarti kekuatan yang dikeluarkan sangat besar dan gelang ini tidak mampu mengendalikannya”, tambah Yuya.
“Lalu, Fuu? Apa dia kalah?”, tanya Chinen pada kami.
“Entahlah, kami hanya menemukan Daichan saja disana. Tidak ada tanda dari makhluk lain. Aku hanya mendengar suara jantung Daichan saja”, ucap Hika. Dia kembali mencoba mendengarkan suara-suara yang ada untuk memastikan apakah ada orang lain.“Tidak ada, aku tidak mendengarnya. Tapi, meskipun begitu aku merasa dia masih ada di sekitar sini. Dia tidak mungkin bisa keluar dari pelindung ini”, ucap Hika lagi.
“kurasa saat ini dia sedang bersembunyi di suatu tempat. Lebih baik kita segera kembali___” ucap Chinen sambil melihat Daiki “___saat ini Daichan dan Yabu adalah prioritas utama kita”.
“Kau benar, Hika, kau yang menyetir, aku akan tetap berada disamping Daichan untuk saat ini, Racun di tubuhnya terus mengalir keluar. Dengan ‘nullification’, aku akan menghalangi racun Daichan mendekati kalian dan aku akan mencoba menetralkan racun Daichan ini”, Yuya masuk dan duduk di kursi belakang. Yabu yang masih tidak sadarkan diri duduk di tengah. Aku duduk di samping kiri Yabu sedangkan Yuya di samping kanannya. Yuya masih memeluk erat Daiki seakan-akan tidak mau melepaskannya. Aku masih merasakan Yuya memakai kekuatannya. Hika duduk di belakang kemudi dan Chinen duduk di sebelahnya. Hika melepaskan pelindungnya, aku melihat keadaan kembali seperti semula dan mobil pun melaju kembali ke rumah.
Selama perjalanan, kami tidak berbicara satupun. Kejadian yang kami alami barusan sangat berat. 2 orang ksatria terluka parah. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya, tapi aku bisa tahu pasti kalau pertarungan ini mempertaruhkan nyawa. Aku memandang ke arah yabu dan Daiki yang masih tidak sadarkan diri,mengetahui bahwa mereka berdua masih hidup saja sungguh kabar yang menggembirakan. Aku berdoa agar mereka berdua kembali sehat seperti sebelumnya.
Kami sudah tiba di rumah. Yuya segera keluar dengan menggendong Daiki. Aku mencoba memapah Yabu dengan bantuan Hika. Chinen membantu membukakan pintu untuk kami.Di dalam, kami disambut oleh ksatria lain yang menunggu kami.
“Kota! Kau baik-baik saja?”, Inoo segera berlari menghampiri Yabu.
“Tenanglah Inoo, luka Yabu sudah disembuhkan oleh Yamada. Saat ini dia masih pingsan akibat syok yang diderita. Kupikir sebentar lagi dia akan siuman. Masalahnya sekarang____”, Hika menoleh ke arah Daiki yang ada di gendongan Yuya.
“Daichan, dia baik-baik sajakah?”, tanya Yuto
“kakak, kakak, apa yang terjadi pada kakak?”, tanya Ryuu
“Tenanglah kalian semua”, master muncul dari ruang utama. Aku bahkan tidak menyadari bahwa master ada disini. “Takaki, cepat bawa Arioka kemari”, master meminta Yuya untuk membawa Daiki masuk ke dalam ruang utama. “dan kau, Yamada, kami juga membutuhkan kemampuanmu. Bisakah kau kemari juga?”, master memintaku untuk masuk. Aku mengangguk.
“Saat ini, kita harus menekan racun yang keluar dari tubuh Arioka terlebih dahulu. Yuya, gunakan kemampuanmu untuk menetralkan racunnya. Yamada, tolong sembuhkan luka Arioka”, aku dan Yuya melakukan apa yang diperintahkan oleh master. Master melihat gelang Daiki yang sudah rusak, lalu menoleh ke arah Yuto, “Nakajima, bisakah aku pinjam gelangmu sebentar?”. Yuto mengangguk dan menyerahkan gelangnya pada master. “Chinen, bisakah kau meniru kemampuan Takaki? Aku ingin kau berjaga-jaga bila terjadi sesuatu”, Chinen menggangguk. “dan kalian semua, berkumpullah di dekat Chinen”, para ksatria yang lain mulai berkumpul disekitar Chinen.
Master meletakkan gelang Yuto di tangan kiri Daiki, lalu master mengeluarkan gelang yang sama dari sakunya dan meletakkannya di tangan kanan Daiki, menggantikan gelang yang sudah rusak tadi. Aku mendengar master mengatakan sesuatu, akan tetapi aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Aku berusaha fokus padatugasku. Perlahan-lahan luka di tubuh Daiki mulai menutup. Setiap racun yang keluar dari tubuh Daiki akan dinetralkan oleh Yuya. Perlahan-lahan aku melihat bercak hitam itu seperti berjalan dan berkumpul di gelang yang ada di kedua tangan Daiki. Gelang yang berwarna hijau itu mulai kehitaman, dan akhirnya berwarna hitam legam dan ‘kraakkk’, aku mendengar ada bunyi yang retak. Kedua gelang itu retak. Bersamaan dengan itu, bercak hitam di tubuh Daiki hilang.
“Semua telah selesai, selanjutnya kita tinggal menunggu dia sadar saja”, master melepas kedua gelang yang ada di tangan Daiki. Semua ksatria yang berada diruangan itu menarik nafas lega.
“Takaki, bawa Arioka ke kamarnya. Jangan biarkan dia keluar kamarnya untuk sementara ini. Energi tubuhnya masih belum terkontrol dengan baik, aku ingin kau berada di sampingnya untuk sementara waktu ini, untuk berjaga saja, sampai gelang yang baru dibuat”. Yuya mengangguk. Aku bisa melihat raut muka kelegaan dariwajahnya.
“Dan hal itu juga berlaku untukmu Nakajima___”, master melihat ke arah Yuto. “Sama seperti Arioka, kau tidak boleh keluar sampai gelangmu jadi”
“Aku harus terus berada di kamar?”, tanya Yuto yang tidak percaya dengan perkataan master.
“Ya, sama seperti Arioka, kau juga tidak mampu mengendalikan kekuatanmu dengan baik tanpa gelang ini. Kau boleh keluar asal Chinen bersamamu. Dia bisa meniru kemampuan Takaki, jadi kurasa tidak masalah kalau kau keluar dengan Chinen. Tapi kau dilarang keluar rumah dan di rumah ini kau tidak boleh naik ke lantai atas. Kau mengerti??”, ujar master. Yuto hanya bisa mengangguk pasrah.
“Aku sudah tahu semua yang terjadi melalui Okamoto. Yaotome, Chinen, dan Yamada, kalian sudah melakukan hal yang terbaik. Terima kasih”, ucap master.
“Tapi master, kami tidak tahu apakah kami sudah mengalahkan Fuu atau belum. Terlebih lagi kami membiarkan Yabu dan Daichan terluka parah. Kami bisa dibilang gagal...”, Hika menundukkan kepalanya. Master menghampiri Hika, “kalian semua masih hidup kan? Yabu dan Arioka pun bisa terselamatkan, tidak ada satupun yang tewas itu sudah cukup melegakan”.
“Yamada, kau sudah menggunakan kemampuanmu dengan baik. Terima kasih ya”, master berkata padaku.
“Aku hanya melakukan apa yang kubisa saja master”, kataku.
“kalau begitu, aku kembali dulu ke markas. Aku akan segera membuatkan gelang yang baru. Banyak kejadian yang terjadi hari ini, lebih baik kalian semua beristirahat”, setelah mengucapkan hal itu, master pergi. Tinggal kami para ksatria yang masih ada di ruang utama.
“Kalau begitu, aku akan membawa Daichan ke kamarnya”, Yuya menggendong Daiki lagi.
“Tunggu, aku ikut denganmu. Aku akan membantu membersihkan tubuhnya”, ujar Chinen.
“Aku juga akan membawa Yabu ke kamar”, Hika menggendong Yabu di punggungnya.
“Yamachan, ayo kita kembali ke kamar. Kau perlu beristirahat. Kau pasti lelah menggunakan kemampuanmu terus menerus kan?”, Yuto mengajakku kembali ke kamar.
“Tunggu Yuto, malam ini yang berpatroli siapa? Masa’ Cuma aku dan Keito saja?”, ucap Ryuu.
“Kau tadi juga dengar perkataan master kan? Aku tidak boleh keluar rumah. Jadi aku tidak bisa ikut berpatroli dengan kalian”, jawab Yuto.
“Kalau begitu, aku saja yang menggantikanmu, Yuto”, Inoo menawarkan diri. “Hika, tolong jaga Yabu selama aku pergi”, ucap Inoo pada Hika.
“Serahkan padaku!”, Hika mengacungkan jempolnya ke arah Inoo sambil tersenyum.
“Inoochan, arigatou. Saa, Yamachan. Ayo kita kembali ke kamar”. Aku dan Yuto pun pergi menuju ke kamar. Kami masuk ke kamar masing-masing. Kurebahkan diriku ke ranjang. Entah kenapa, tiba-tiba aku merasa capek yang luar biasa. Bahkan, ketika aku berusaha duduk, tubuhku seakan tidak mau digerakkan.
“Kurasa ini akibat aku menggunakan kemampuanku secara terus menerus”, gumamku.
Aku kembali membayangkan apa yang terjadi hari ini. Ini adalah hari pertama aku bertarung dengan musuh. Aku berhadapan dengan sekumpulan zombie, menyembuhkan luka Yabu dan Daiki, melihat secara langsung bagaimana para ksatria bertarung menggunakan kemampuannya, lalu bertemu dengan musuh yang ternyata adalah seorang pemuda. Terlebih lagi, pemuda itu mengaku sebagai adik dari Daiki, Chinen dan Hika memanggil pemuda itu Fuu. Lalu pembicaraan mereka tadi selama pertarungan berlangsung. Apa yang mereka maksud dengan pembunuh? Apa yang sebenarnya terjadi dengan orangtua Daiki?
“Tunggu dulu”, aku tiba-tiba ingat sesuatu. Kubuka tasku dan aku mencari sesuatu.“ketemu, ini dia”, aku meraih sebuah buku, buku harian ayahku. Kubuka halaman buku itu satu persatu. “ah, ini dia”. Aku mulai membaca isi halaman buku tersebut.
Tanggal xx, bulan xx, tahun xx
Hari ini, aku mendengar hal yang mengejutkan dari temanku, Kenichi. Sepasang ksatria telah meninggal. Ya, mereka adalah Arioka Taichi dan istrinya, Arioka Maki. Aku tidak percaya kalau mereka telah tiada, karena aku tahu seberapa kuat dan tangguhnya 2 orang itu. Kenichi mengatakan, mereka meninggal bukan karena diserang oleh makhluk kegelapan, akan tetapi kecelakaan akibat kekuatan anaknya yang tidak terkontrol. Baru diketahui kalau anak mereka adalah seorang ksatria generasi berikutnya, sama seperti mereka. Aku lalu pergi mengunjungi kediaman Arioka, rumah mereka rata dengan tanah, tidak tampak bahwa dulu ada rumah yang berdiri disitu. Aku mencari tahu keberadaan anak Taichi saat ini. Kenichi mengatakan bahwa si sulung Arioka telah diasuh oleh Chinen Miki, adik dari Maki. Sedangkan si bungsu berada di kediaman keluarga Arioka yang lain. Aku berharap Ryosuke nantinya bisa berteman dengan anak-anak Taichi. Taichi dan Maki telah banyak membantuku, jadi kuharap aku bisa membalas bantuan mereka.
Selesai membaca, aku menutup buku harian ayah. Sebagian besar, aku mengerti apa yang terjadi. Aku pun berharap aku bisa membantu Daiki. ‘aku akan memenuhi keinginanmu, ayah...’
Tsuzuku ~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar