Dari arah pepohonan, di luar
kantin, terdapat sosok yang mengamati Keito dari kejauhan. Sosok itu sudah
sedari tadi mengamati gerakan Keito. Sosok itu berusaha agar dirinya tidak
ketahuan oleh siapapun, terutama Keito.
“Hmm... rupanya sekarang saatnya
makan siang ya? Ngomong-ngomong apakah aku tidak terlalu sedikit memberikan
lauknya ya? Karena terbawa emosi, aku Cuma menyiapkan telur saja. seharusnya
aku menyiapkan makanan seperti biasanya, terlebih lagi dia masih kurang enak
badan”, gumam Yama. Rupanya sosok yang mengamati Keito dari tadi itu adalah
Yama.
Yama mengikuti Keito ke sekolah.
Berbeda dengan Chii yang melindungi Keito di dekatnya dengan cara menyamar,
Yama memilih mengikuti Keito secara sembunyi-sembunyi. Dia kepikiran dengan
perkataan Chii, bahwa Chii tidak bisa melawan demon itu sendirian. Dia juga
tidak ingin terlambat menemui Keito di saat dia membutuhkannya.
Sekarang Yama mulai ragu, apakah
Keito akan memanggilnya bila dia dalam bahaya? Sikapnya terhadap Keito
membuatnya berpikir ulang. Yama mulai menyesali sikapnya yang dingin.
“Kenichi-sama, kenapa anda
menyuruhku menemani bocah ini?”, keluh Yama. Dia mengingat kembali perkataan
terakhir Kenichi-sama, ayah Keito. Masih jelas dalam ingatan Yama setiap ucapan
dan raut wajah Kenichi-sama saat mengucapkannya.
Flashback
“Yama, mulai saat ini,
kuperintahkan kau melindungi Keito bersama dengan Chii. Lindungilah dia, temani
dia, jadilah teman yang paling dekat dengannya. Lakukan apa yang tidak bisa
kulakukan Yama... aku tidak bisa menemani anak itu Yama, ini salahku dia jadi
incaran para demon”, ucap Kenichi-sama.
“Anda ingin pergi kemana? Saya
akan mengikuti anda kemanapun anda pergi, saya adalah dewa pelindung
Kenichi-sama”
Kenichi-sama menggeleng pelan.
“Aku akan pergi Yama. Aku tidak bisa lagi berada di sisi anak itu. Dosaku
terlalu besar. Lindungi dia Yama, lindungi dia selama aku tidak ada. Ini
permintaanku seumur hidup Yama... kumohon...”
Yama memandang tuannya itu, dia
tidak bisa menolak lagi perintah tuannya bila tuannya sudah berkata seperti
itu. Yama mengangguk dengan berat hati. Kenichi-sama tersenyum lega saat Yama menuruti
perintahnya. Yama menekukkan kakinya, meletakkan kedua tangannya di lantai, dan
menundukkan kepalanya. Yama bersujud di hadapan kenichi-sama. Selama bersujud,
Yama berusaha menahan agar emosinya tetap terkendali. Yama tahu, sujud yang
dilakukan ini adalah penghormatan terakhir yang dilakukan olehnya. Setelah ini,
dia tidak bisa melakukannya lagi.
“Selamat jalan Kenichi-sama, saya
akan menjaga Keito-sama dengan taruhan nyawa saya”
Kenichi-sama tersenyum lebar
sebelum akhirnya melangkah pergi. Yama hanya bisa memandang punggung tuannya
itu. Punggung yang selalu diikutinya. Kini dia tidak bisa lagi melindungi
punggung itu.
DEG!
Yama kembali tersadar dari
lamunannya. Ada sesuatu yang membuatnya kembali sadar. Yama merasakan ada yang
mengamatinya. Yama mengarahkan pandangannya ke seluruh sekolah, dia berusaha
mencari sosok yang mengamatinya. Dia mengamati seluruh siswa satu persatu, tapi
karena banyaknya siswa yang berkeliaran karena ini waktunya istirahat, Yama
tidak bisa menemukan siapa yang mengamatinya.
“Siapa? Siapa yang mengamatiku?
Bagaimana dia bisa melihat sosokku?”, gumam Yama sambil terus mencari sosok
yang mengamatinya.
Tanpa disadari oleh Yama, seorang
pemuda tersenyum lebar sambil melihat Yama dari balik bayangan. Pemuda itu
tertawa pelan saat melihat Yama yang kebingungan mencarinya.
“Akhirnya, aku bisa bertemu lagi
denganmu Yama-kun... ayo kita bermain-main lagi seperti dulu”, ucap pemuda itu
sambil mengetikkan sesuatu di Hpnya.
---***---
“Chii... kau kenapa?”
Keito mengamati Chii yang gemetar
dari tadi. Auranya tidak terkendali. Keito mulai sedikit panik, bagaimana kalau
seandainya teman-temannya, Arioka-senpai dan Takaki-senpai mulai menyadari hal
ini.
BRAK.
Keito sedikit terkejut saat
Takaki menggerakkan kursinya dan mulai bangkit berdiri. Takaki kemudian berlalu
pergi tanpa mengatakan sepatah katapun. Keito melirik ke arah Juri dan Yugo,
mereka berdua tampak menghela nafas lega begitu melihat Takaki pergi. Keito
kembali menatap Arioka yang kini masih saja sibuk menghabiskan makanan yang ada
di atas meja. Keito melongo saat mendapati bahwa makanan yang tersisa kini
hanya satu tempura saja. Nafsu makan Keito kembali hilang saat melihat belasan
piring kosong yang ada di atas meja.
“Bento-kun? Kenapa tidak makan?
Kau kehilangan nafsu makan lagi?”, tanya Arioka.
“Ah eh iya. Entah kenapa hari ini
aku tidak selera makan lagi”, Keito menatap makanan yang masih tersisa cukup
banyak. Keito menghela nafas berat. Yama akan semakin marah padanya kalau
mengetahui hal ini.
“Itu boleh untukku? Aku masih
belum kenyang”. Arioka menunjuk makanan Keito.
“Ah silahkan...”, Keito
menyodorkan kotak bekalnya ke Arioka. Dengan segera, Arioka menghabiskan
makanan yang ada di kotak bekal Keito.
“DAIKI!”
Seluruh kantin langsung terdiam
mendengar seruan Takaki. Arioka segera menoleh ke arah pintu, Takaki berdiri
disana. Tampaknya dia menunggu Arioka pergi menghampirinya dari tadi. Arioka
langsung bangkit berdiri.
“Terima kasih makanannya!”, seru
Arioka sebelum pergi.
Keito diam-diam mengamati Arioka.
Arioka menghampiri Takaki yang sudah menunggunya dari tadi. Mereka berdua lalu
pergi meninggalkan kantin. Suasana di dalam kantin mulai ramai kembali saat
kedua orang itu pergi.
“Uwah... kaget aku. Kupikir ada
apa Takaki senpai berteriak seperti itu. Ternyata Cuma untuk memanggil Arioka
senpai”, ucap Juri.
“Tapi, hubungan mereka berdua
memang cukup dekat ya... Takaki senpai sampai menemani Arioka senpai makan.
Padahal Takaki senpai tadi tidak makan sedikitpun lo...”, gumam Yugo.
“Eh benarkah?”, tanya Keito. Dia
memang tidak memperhatikan Takaki sama sekali. Perhatiannya terfokus pada
Arioka yang duduk di hadapannya.
“Aku kan duduk di hadapan Takaki
senpai. Jadi aku selalu menatapnya tadi karena takut. Tapi tadi tampaknya dia
sama sekali tidak peduli dan sibuk melihat Hpnya”, balas Yugo. Suaranya terdengar
cukup keras.
“Yugo, kau tidak perlu berteriak
seperti itu”, balas Keito. Suaranya pun terdengar cukup keras. Keito akhirnya
mulai menyadari ada yang aneh.
Suasana di kantin kini kembali
senyap. Keito melihat ke sekelilingnya, kosong, tidak ada satupun siswa disana.
Padahal Keito yakin, beberapa saat lalu kantin itu masih penuh dengan beberapa
siswa.
Chii tiba-tiba muncul di
hadapannya. Sosoknya kembali seperti semula, sosok pemuda bertubuh mungil. Akan
tetapi, mata biru dan ekornya masih tampak dalam sosok itu.
“Chii, apa yang kau lakukan?
Kalau Juri dan Yugo melihatmu...”.
Keito menoleh ke samping, betapa
terkejutnya dia saat mendapati Juri dan Yugo tidak ada di sampingnya. Kini
dirinya benar-benar sendirian di kantin itu. Hanya ada dia dan Chii.
“Apa yang terjadi?”. Keito kini
benar-benar bingung. Dia tidak tahu apa yang terjadi.
“Maafkan saya Keito-sama.
Seharusnya saya segera mengatakannya pada Keito-sama. Saya merasakan ada demon
di sekitar sini tadi. Tapi, karena auranya sempat menghilang beberapa saat
tadi, saya pikir demon itu telah pergi, tapi ternyata dia melakukan serangan
mendadak ini”
“Demon? Apakah Hime-sama yang
melakukannya?”
Chii menggeleng. “Bukan
Keito-sama. Ini perbuatan demon lain. Auranya berbeda dengan Inoo itu”
“Lalu, kemana teman-temanku? Apa
mereka benar-benar lenyap?”, tanya Keito panik.
“Mereka tidak lenyap, aku hanya
memindahkan mereka saja”
Keito menoleh. Seorang pemuda
berdiri di depan pintu. Pemuda itu asyik mengutak-atik Hpnya. Keito mengamati
pemuda itu, dia mengenali pemuda itu, pemuda yang ditemuinya pagi ini. Pemuda
yang bisa menyelesaikan kotak rubik hanya dalam waktu beberapa menit.
“Siapa kau?”, tanya Keito. Chii
berdiri di hadapan Keito, berusaha untuk melindungi Keito dengan tubuhnya.
Pemuda itu melihat ke arah Keito.
Dia tersenyum lebar. Senyumannya seperti senyuman anak jahil. “Kalau kau ingin
tahu tentang diriku, kau bisa menanyakannya pada dewa pelindungmu. Kurasa
mereka mengenalku dengan baik”
“Kau mengenalnya Chii?”, bisik
Keito.
“Tidak Keito-sama. Saya baru kali
ini melihatnya”
Kepulan asap putih tiba-tiba
muncul di hadapan Keito. Yama muncul dari balik asap itu. Keito terkejut saat
melihat Yama muncul dengan sendirinya. Biasanya Yama baru muncul jika
dipanggil. Keito bisa melihat mata Yama berubah menjadi biru. Aura Yama pun
tampak jauh lebih ganas dari biasanya. Amarahnya tidak terkendali. Baru kali
ini dia melihat Yama semarah ini.
Pemuda itu tertawa senang saat
melihat Yama. “Sudah kuduga, kau pasti akan muncul jika tuanmu berada dalam
bahaya”
“Yama, kau mengenalnya?”, tanya
Keito.
“Aku sangat mengenalnya. Tidak
mungkin aku melupakannya. Bau ini, perasaan ini, suara itu, kau adalah demon
yang kutemui 10 tahun yang lalu. Demon yang sudah merebut kekuatanku!”. Suara
Yama mulai meninggi. Keito bisa merasakan kemarahan Yama dalam suaranya.
“Merebut kekuatanmu? Kapan?”.
Keito mulai bertanya-tanya. Baru kali ini dia mendengar hal ini. Yama memang
tidak pernah membicarakan soal dirinya. Tapi Keito sama sekali tidak menduga
kalau Yama memiliki rahasia seperti ini.
“Chii, kau tahu soal ini?”
Chii diam tak menjawab. Keito
langsung tahu kalau Chii juga mengetahui hal ini. Tiba-tiba dia merasa sedikit
sedih. Yama dan Chii mengetahui segalanya tentang dia, tapi Keito sama sekali
tidak mengetahui apapun tentang mereka berdua.
“CHII! Mundur dari sini! Bawa
Keito pergi! Biar aku saja yang menghadapinya!”, perintah Yama.
“Itu mustahil Yama... kau bukan
tipe penyerang. Biarkan aku membantumu”
“Kalau begitu, siapa yang
melindungi Keito? Biar aku saja yang menghadapinya. Apalagi aku punya urusan
pribadi dengannya”, ucap Yama lagi.
“Itu benar rubah cilik. Biarkan
dia yang melawanku. Aku sama sekali tidak tertarik dengan mainan yang lain
selain dia”. Pemuda itu tersenyum mengejek ke arah Yama. Yama semakin kesal
dengan sikap yang ditunjukkan oleh pemuda itu.
Chii akhirnya menyerah dan segera
menarik Keito untuk mundur menjauh. Dalam hati, Chii tahu perasaan Yama.
Seandainya dia berada di posisi Yama, tentu dia akan melakukan hal yang sama.
Keito hanya bisa pasrah saat Chii
menariknya mundur. Dia hanya bisa melihat pertarungan antara Yama dengan demon
itu dari jauh. Yama dan demon itu mulai bertarung dengan sengit. Sama sekali
tidak ada jeda pertarungan di antara keduanya. Keito tahu, kalau Yama berusaha
mati-matian untuk melawan demon itu. Keito juga sadar kalau Yama bertarung
dengan tidak imbang melawan demon itu.
‘Apa tidak ada yang bisa
kulakukan untuknya?’, batin Keito.
“YAMA!!!”
Teriakan Chii menyadarkan Keito.
Keito melihat bahwa Yama kini telah terdesak. Tubuhnya tidak bisa bergerak
lagi. Keito bisa melihat luka yang cukup parah di seluruh tubuh Yama. Demon itu
kini berdiri di atas Yama. Tangannya mencengkeram tubuh Yama dengan erat.
Mulutnya terbuka lebar.
“Selamat makan...”, ucap demon
itu sambil mengarahkan tubuh Yama ke mulutnya.
GLEK! Dalam sekejap tubuh Yama
tertelan masuk ke dalam tubuh demon itu. Chii dan Keito hanya bisa melihat
adegan itu. Keito langsung terduduk lemas saat melihat Yama telah dimakan oleh
demon tersebut.
“UWAAAA.....!!!!”. Tanpa
diperintah, Chii langsung menyerang demon itu. Chii telah berubah menjadi sosok
rubah putih bermata biru. Chii menyerang demon itu dengan membabi buta. Tapi,
demon itu bisa menghindari semua serangan Chii.
“Terima kasih makanannya. Sampai
jumpa....”, setelah mengucapkan hal itu, demon itu langsung menghilang.
Bersamaan dengan hilangnya demon itu, suasana kantin kembali seperti semula.
Seluruh siswa telah kembali. Mereka beraktivitas seakan tidak terjadi apa-apa.
Chii dengan sigap langsung berubah menjadi gantungan kunci dan kembali ke dalam
saku Keito.
“Keito? ada apa? Kenapa kau duduk
disini?”. Keito mendongakkan kepalanya. Dia mendapati Juri dan Yugo berdiri di
hadapannya. Keito masih lemas mengingat apa yang terjadi pada Yama.
DEG!
Dadanya kembali terasa sakit.
Keito memegangi dadanya. Tiba-tiba dia teringat sesuatu. Keito langsung bangkit
dan berlari menuju ke suatu tempat meninggalkan Juri dan Yugo yang masih
kebingungan.
“Keito-sama, kita mau kemana?”
Keito tidak menjawab pertanyaan
Chii. Dia terus berlari. Langkahnya terhenti di depan sebuah ruangan yang
bertuliskan ‘PERPUSTAKAAN’. Chii terkejut saat membaca tulisan itu.
“Keito-sama? Apa yang anda
pikirkan? Jangan masuk”
Keito tidak mendengarkan
perkataan Chii. Dia membuka pintu perpustakaan itu dan masuk ke dalam.
Kehadiran Keito disambut oleh Inoo dengan senyumnya yang lebar. Inoo tersenyum
puas saat melihat Keito menghampirinya.
“Aku sudah menunggumu,
Keito-kun...”
Tsuzuku ~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar