Minggu, 24 Mei 2015

AKUMA NO YOROI

PART 7

Dari arah pepohonan, di luar kantin, terdapat sosok yang mengamati Keito dari kejauhan. Sosok itu sudah sedari tadi mengamati gerakan Keito. Sosok itu berusaha agar dirinya tidak ketahuan oleh siapapun, terutama Keito.

“Hmm... rupanya sekarang saatnya makan siang ya? Ngomong-ngomong apakah aku tidak terlalu sedikit memberikan lauknya ya? Karena terbawa emosi, aku Cuma menyiapkan telur saja. seharusnya aku menyiapkan makanan seperti biasanya, terlebih lagi dia masih kurang enak badan”, gumam Yama. Rupanya sosok yang mengamati Keito dari tadi itu adalah Yama.

Yama mengikuti Keito ke sekolah. Berbeda dengan Chii yang melindungi Keito di dekatnya dengan cara menyamar, Yama memilih mengikuti Keito secara sembunyi-sembunyi. Dia kepikiran dengan perkataan Chii, bahwa Chii tidak bisa melawan demon itu sendirian. Dia juga tidak ingin terlambat menemui Keito di saat dia membutuhkannya.

Sekarang Yama mulai ragu, apakah Keito akan memanggilnya bila dia dalam bahaya? Sikapnya terhadap Keito membuatnya berpikir ulang. Yama mulai menyesali sikapnya yang dingin.

“Kenichi-sama, kenapa anda menyuruhku menemani bocah ini?”, keluh Yama. Dia mengingat kembali perkataan terakhir Kenichi-sama, ayah Keito. Masih jelas dalam ingatan Yama setiap ucapan dan raut wajah Kenichi-sama saat mengucapkannya.

Flashback

“Yama, mulai saat ini, kuperintahkan kau melindungi Keito bersama dengan Chii. Lindungilah dia, temani dia, jadilah teman yang paling dekat dengannya. Lakukan apa yang tidak bisa kulakukan Yama... aku tidak bisa menemani anak itu Yama, ini salahku dia jadi incaran para demon”, ucap Kenichi-sama.

“Anda ingin pergi kemana? Saya akan mengikuti anda kemanapun anda pergi, saya adalah dewa pelindung Kenichi-sama”

Kenichi-sama menggeleng pelan. “Aku akan pergi Yama. Aku tidak bisa lagi berada di sisi anak itu. Dosaku terlalu besar. Lindungi dia Yama, lindungi dia selama aku tidak ada. Ini permintaanku seumur hidup Yama... kumohon...”

Yama memandang tuannya itu, dia tidak bisa menolak lagi perintah tuannya bila tuannya sudah berkata seperti itu. Yama mengangguk dengan berat hati. Kenichi-sama tersenyum lega saat Yama menuruti perintahnya. Yama menekukkan kakinya, meletakkan kedua tangannya di lantai, dan menundukkan kepalanya. Yama bersujud di hadapan kenichi-sama. Selama bersujud, Yama berusaha menahan agar emosinya tetap terkendali. Yama tahu, sujud yang dilakukan ini adalah penghormatan terakhir yang dilakukan olehnya. Setelah ini, dia tidak bisa melakukannya lagi.

“Selamat jalan Kenichi-sama, saya akan menjaga Keito-sama dengan taruhan nyawa saya”

Kenichi-sama tersenyum lebar sebelum akhirnya melangkah pergi. Yama hanya bisa memandang punggung tuannya itu. Punggung yang selalu diikutinya. Kini dia tidak bisa lagi melindungi punggung itu.

DEG!

Yama kembali tersadar dari lamunannya. Ada sesuatu yang membuatnya kembali sadar. Yama merasakan ada yang mengamatinya. Yama mengarahkan pandangannya ke seluruh sekolah, dia berusaha mencari sosok yang mengamatinya. Dia mengamati seluruh siswa satu persatu, tapi karena banyaknya siswa yang berkeliaran karena ini waktunya istirahat, Yama tidak bisa menemukan siapa yang mengamatinya.

“Siapa? Siapa yang mengamatiku? Bagaimana dia bisa melihat sosokku?”, gumam Yama sambil terus mencari sosok yang mengamatinya.

Tanpa disadari oleh Yama, seorang pemuda tersenyum lebar sambil melihat Yama dari balik bayangan. Pemuda itu tertawa pelan saat melihat Yama yang kebingungan mencarinya.

“Akhirnya, aku bisa bertemu lagi denganmu Yama-kun... ayo kita bermain-main lagi seperti dulu”, ucap pemuda itu sambil mengetikkan sesuatu di Hpnya.

---***---
“Chii... kau kenapa?”

Keito mengamati Chii yang gemetar dari tadi. Auranya tidak terkendali. Keito mulai sedikit panik, bagaimana kalau seandainya teman-temannya, Arioka-senpai dan Takaki-senpai mulai menyadari hal ini.

BRAK.

Keito sedikit terkejut saat Takaki menggerakkan kursinya dan mulai bangkit berdiri. Takaki kemudian berlalu pergi tanpa mengatakan sepatah katapun. Keito melirik ke arah Juri dan Yugo, mereka berdua tampak menghela nafas lega begitu melihat Takaki pergi. Keito kembali menatap Arioka yang kini masih saja sibuk menghabiskan makanan yang ada di atas meja. Keito melongo saat mendapati bahwa makanan yang tersisa kini hanya satu tempura saja. Nafsu makan Keito kembali hilang saat melihat belasan piring kosong yang ada di atas meja.

“Bento-kun? Kenapa tidak makan? Kau kehilangan nafsu makan lagi?”, tanya Arioka.

“Ah eh iya. Entah kenapa hari ini aku tidak selera makan lagi”, Keito menatap makanan yang masih tersisa cukup banyak. Keito menghela nafas berat. Yama akan semakin marah padanya kalau mengetahui hal ini.

“Itu boleh untukku? Aku masih belum kenyang”. Arioka menunjuk makanan Keito.

“Ah silahkan...”, Keito menyodorkan kotak bekalnya ke Arioka. Dengan segera, Arioka menghabiskan makanan yang ada di kotak bekal Keito.

“DAIKI!”

Seluruh kantin langsung terdiam mendengar seruan Takaki. Arioka segera menoleh ke arah pintu, Takaki berdiri disana. Tampaknya dia menunggu Arioka pergi menghampirinya dari tadi. Arioka langsung bangkit berdiri.

“Terima kasih makanannya!”, seru Arioka sebelum pergi.

Keito diam-diam mengamati Arioka. Arioka menghampiri Takaki yang sudah menunggunya dari tadi. Mereka berdua lalu pergi meninggalkan kantin. Suasana di dalam kantin mulai ramai kembali saat kedua orang itu pergi.

“Uwah... kaget aku. Kupikir ada apa Takaki senpai berteriak seperti itu. Ternyata Cuma untuk memanggil Arioka senpai”, ucap Juri.

“Tapi, hubungan mereka berdua memang cukup dekat ya... Takaki senpai sampai menemani Arioka senpai makan. Padahal Takaki senpai tadi tidak makan sedikitpun lo...”, gumam Yugo.

“Eh benarkah?”, tanya Keito. Dia memang tidak memperhatikan Takaki sama sekali. Perhatiannya terfokus pada Arioka yang duduk di hadapannya.

“Aku kan duduk di hadapan Takaki senpai. Jadi aku selalu menatapnya tadi karena takut. Tapi tadi tampaknya dia sama sekali tidak peduli dan sibuk melihat Hpnya”, balas Yugo. Suaranya terdengar cukup keras.

“Yugo, kau tidak perlu berteriak seperti itu”, balas Keito. Suaranya pun terdengar cukup keras. Keito akhirnya mulai menyadari ada yang aneh.

Suasana di kantin kini kembali senyap. Keito melihat ke sekelilingnya, kosong, tidak ada satupun siswa disana. Padahal Keito yakin, beberapa saat lalu kantin itu masih penuh dengan beberapa siswa.
Chii tiba-tiba muncul di hadapannya. Sosoknya kembali seperti semula, sosok pemuda bertubuh mungil. Akan tetapi, mata biru dan ekornya masih tampak dalam sosok itu.

“Chii, apa yang kau lakukan? Kalau Juri dan Yugo melihatmu...”.

Keito menoleh ke samping, betapa terkejutnya dia saat mendapati Juri dan Yugo tidak ada di sampingnya. Kini dirinya benar-benar sendirian di kantin itu. Hanya ada dia dan Chii.

“Apa yang terjadi?”. Keito kini benar-benar bingung. Dia tidak tahu apa yang terjadi.

“Maafkan saya Keito-sama. Seharusnya saya segera mengatakannya pada Keito-sama. Saya merasakan ada demon di sekitar sini tadi. Tapi, karena auranya sempat menghilang beberapa saat tadi, saya pikir demon itu telah pergi, tapi ternyata dia melakukan serangan mendadak ini”

“Demon? Apakah Hime-sama yang melakukannya?”

Chii menggeleng. “Bukan Keito-sama. Ini perbuatan demon lain. Auranya berbeda dengan Inoo itu”

“Lalu, kemana teman-temanku? Apa mereka benar-benar lenyap?”, tanya Keito panik.

“Mereka tidak lenyap, aku hanya memindahkan mereka saja”

Keito menoleh. Seorang pemuda berdiri di depan pintu. Pemuda itu asyik mengutak-atik Hpnya. Keito mengamati pemuda itu, dia mengenali pemuda itu, pemuda yang ditemuinya pagi ini. Pemuda yang bisa menyelesaikan kotak rubik hanya dalam waktu beberapa menit.

“Siapa kau?”, tanya Keito. Chii berdiri di hadapan Keito, berusaha untuk melindungi Keito dengan tubuhnya.

Pemuda itu melihat ke arah Keito. Dia tersenyum lebar. Senyumannya seperti senyuman anak jahil. “Kalau kau ingin tahu tentang diriku, kau bisa menanyakannya pada dewa pelindungmu. Kurasa mereka mengenalku dengan baik”

“Kau mengenalnya Chii?”, bisik Keito.

“Tidak Keito-sama. Saya baru kali ini melihatnya”

Kepulan asap putih tiba-tiba muncul di hadapan Keito. Yama muncul dari balik asap itu. Keito terkejut saat melihat Yama muncul dengan sendirinya. Biasanya Yama baru muncul jika dipanggil. Keito bisa melihat mata Yama berubah menjadi biru. Aura Yama pun tampak jauh lebih ganas dari biasanya. Amarahnya tidak terkendali. Baru kali ini dia melihat Yama semarah ini.

Pemuda itu tertawa senang saat melihat Yama. “Sudah kuduga, kau pasti akan muncul jika tuanmu berada dalam bahaya”

“Yama, kau mengenalnya?”, tanya Keito.

“Aku sangat mengenalnya. Tidak mungkin aku melupakannya. Bau ini, perasaan ini, suara itu, kau adalah demon yang kutemui 10 tahun yang lalu. Demon yang sudah merebut kekuatanku!”. Suara Yama mulai meninggi. Keito bisa merasakan kemarahan Yama dalam suaranya.

“Merebut kekuatanmu? Kapan?”. Keito mulai bertanya-tanya. Baru kali ini dia mendengar hal ini. Yama memang tidak pernah membicarakan soal dirinya. Tapi Keito sama sekali tidak menduga kalau Yama memiliki rahasia seperti ini.

“Chii, kau tahu soal ini?”

Chii diam tak menjawab. Keito langsung tahu kalau Chii juga mengetahui hal ini. Tiba-tiba dia merasa sedikit sedih. Yama dan Chii mengetahui segalanya tentang dia, tapi Keito sama sekali tidak mengetahui apapun tentang mereka berdua.

“CHII! Mundur dari sini! Bawa Keito pergi! Biar aku saja yang menghadapinya!”, perintah Yama.

“Itu mustahil Yama... kau bukan tipe penyerang. Biarkan aku membantumu”

“Kalau begitu, siapa yang melindungi Keito? Biar aku saja yang menghadapinya. Apalagi aku punya urusan pribadi dengannya”, ucap Yama lagi.

“Itu benar rubah cilik. Biarkan dia yang melawanku. Aku sama sekali tidak tertarik dengan mainan yang lain selain dia”. Pemuda itu tersenyum mengejek ke arah Yama. Yama semakin kesal dengan sikap yang ditunjukkan oleh pemuda itu.

Chii akhirnya menyerah dan segera menarik Keito untuk mundur menjauh. Dalam hati, Chii tahu perasaan Yama. Seandainya dia berada di posisi Yama, tentu dia akan melakukan hal yang sama.

Keito hanya bisa pasrah saat Chii menariknya mundur. Dia hanya bisa melihat pertarungan antara Yama dengan demon itu dari jauh. Yama dan demon itu mulai bertarung dengan sengit. Sama sekali tidak ada jeda pertarungan di antara keduanya. Keito tahu, kalau Yama berusaha mati-matian untuk melawan demon itu. Keito juga sadar kalau Yama bertarung dengan tidak imbang melawan demon itu.

‘Apa tidak ada yang bisa kulakukan untuknya?’, batin Keito.

“YAMA!!!”

Teriakan Chii menyadarkan Keito. Keito melihat bahwa Yama kini telah terdesak. Tubuhnya tidak bisa bergerak lagi. Keito bisa melihat luka yang cukup parah di seluruh tubuh Yama. Demon itu kini berdiri di atas Yama. Tangannya mencengkeram tubuh Yama dengan erat. Mulutnya terbuka lebar.

“Selamat makan...”, ucap demon itu sambil mengarahkan tubuh Yama ke mulutnya.

GLEK! Dalam sekejap tubuh Yama tertelan masuk ke dalam tubuh demon itu. Chii dan Keito hanya bisa melihat adegan itu. Keito langsung terduduk lemas saat melihat Yama telah dimakan oleh demon tersebut.

“UWAAAA.....!!!!”. Tanpa diperintah, Chii langsung menyerang demon itu. Chii telah berubah menjadi sosok rubah putih bermata biru. Chii menyerang demon itu dengan membabi buta. Tapi, demon itu bisa menghindari semua serangan Chii.

“Terima kasih makanannya. Sampai jumpa....”, setelah mengucapkan hal itu, demon itu langsung menghilang. Bersamaan dengan hilangnya demon itu, suasana kantin kembali seperti semula. Seluruh siswa telah kembali. Mereka beraktivitas seakan tidak terjadi apa-apa. Chii dengan sigap langsung berubah menjadi gantungan kunci dan kembali ke dalam saku Keito.

“Keito? ada apa? Kenapa kau duduk disini?”. Keito mendongakkan kepalanya. Dia mendapati Juri dan Yugo berdiri di hadapannya. Keito masih lemas mengingat apa yang terjadi pada Yama.

DEG!

Dadanya kembali terasa sakit. Keito memegangi dadanya. Tiba-tiba dia teringat sesuatu. Keito langsung bangkit dan berlari menuju ke suatu tempat meninggalkan Juri dan Yugo yang masih kebingungan.

“Keito-sama, kita mau kemana?”

Keito tidak menjawab pertanyaan Chii. Dia terus berlari. Langkahnya terhenti di depan sebuah ruangan yang bertuliskan ‘PERPUSTAKAAN’. Chii terkejut saat membaca tulisan itu.

“Keito-sama? Apa yang anda pikirkan? Jangan masuk”

Keito tidak mendengarkan perkataan Chii. Dia membuka pintu perpustakaan itu dan masuk ke dalam. Kehadiran Keito disambut oleh Inoo dengan senyumnya yang lebar. Inoo tersenyum puas saat melihat Keito menghampirinya.


“Aku sudah menunggumu, Keito-kun...”

Tsuzuku ~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar