Jumat, 29 Mei 2015

TEN KNIGHTS

PART 17

“RYOOCHAAAANNNNN!!!!!! Menjauh dari dia sekarang juga!!!!”, teriak Chinen dari kejauhan. Aku langsung berusaha menghindar, tapi ternyata tanganku telah mengenai sesuatu sehingga terluka. Aku meringis kesakitan.

“Brengsek! Apa yang kau lakukan pada Ryochan?”, Chinen memasang pelindung dan langsung menyerang cewek itu, tapi cewek itu berhasil mengelaknya.

“Tidak ada, aku hanya ingin berterimakasih padanya. Ya kan, Ryochan?”, cewek itu mengedipkan sebelah matanya padaku sambil menjilat tangannya. Aku bisa melihat kuku jarinya yang bertambah panjang dan berlumuran darah. Ternyata itu yang tadi mengenai tanganku hingga terluka.

“Jangan panggil dia Ryochan! Yang boleh memanggilnya seperti itu hanya aku!”, seru Chinen. Dia kembali menyerang cewek itu. Tapi semua serangan Chinen tidak ada yang bisa mengenainya. Gerakan cewek itu terlalu cepat. Cewek itu lalu mendaratkan sebuah pukulan di perut Chinen yang menyebabkan dia terpukul kebelakang.

“KAAUUU!!!!”, Chinen menatap cewek itu dengan pandangan marah. Cewek itu hanya tersenyum mengejek melihat Chinen.

“Jangan marah begitu. Cowok itu tidak suka dengan cewek yang kasar”, cewek itu lalu menghilang dari pandanganku. “Benar kan Ryochan?”, tiba-tiba saja cewek itu sudah berada di dekatku dan wajahnya mendekat ke arahku sepertinya ingin menciumku.

“Menjauh dari Ryochan cewek jelek!!”, Chinen melemparkan bola air ke arah cewek itu, kelihatannya Chinen sedang meniru kemampuan Yabu. Sayangnya cewek itu  berhasil menghindar dari serangan Chinen.

“Ahh.....dasar cewek kasar. Coba lihat, bajuku yang bagus ini jadi kotor deh”, cewek itu merapikan bajunya, “ah, lebih baik kuperkenalkan diriku dulu ya. Namaku Cikita, Aku adalah Queen, sang ratu kegelapan. Salam kenal ya, Ryochan”, kata cewek itu sambil melihat ke arahku.

“Queen,sang ratu kegelapan? Salah satu maou tertinggi?”, tanya Chinen.

“wah,aku tersanjung kalau kalian mengetahui tentangku”, cewek itu berjalan mendekati kami.

“Tapi,kenapa kalian ada disini?”, tanyaku. Aku masih mengingat perkataan master yang mengatakan bahwa semua makhluk kegelapan sedang berkumpul di suatu tempat, tapi kenapa ada makhluk kegelapan level tinggi disini?

“Hmm....aku hanya diperintahkan oleh King untuk membunuh para ksatria”, jawab Queen.

“Sama seperti Fuu”, ucap Chinen pelan.

“Fuu? Ah, maksudmu Jack? Iya, karena dia gagal melaksanakan tugasnya, akhirnya aku harus turun tangan. Merepotkan”, kata Queen.

“Jadi, dia masih hidup?”, tanyaku yang mengingat kondisi pertarungan Daiki dan Fuu yang begitu hebat.

“Hmmm iya, saat ini dia diperintahkan untuk melakukan hal lain”, jawab cewek itu.

“Hal lain? Apa itu?”, tanyaku ingin tahu.

“Aku tidak boleh memberitahumu, tapi.....”, Queen mendekatkan mukanya padaku. “Kalau kau mau menciumku, mungkin aku akan memberitahumu”.

“Brengsek! Jangan coba-coba cari kesempatan. Kubunuh kau!!!”, seru Chinen. Dia melanjutkan serangannya dan mencoba mengenai Queen, tapi sayangnya Queen berhasil menghindar dari semua serangan yang diberikan. Aku menyadari kalau Queen ini gerakannya sangat cepat.

BRUAAKKK...... Chinen terhempas ke belakang dan menghantam tiang yang ada di dekatnya. “Yuri!!!”,aku berteriak dan berlari menghampiri Chinen. Segera kugunakan kemampuanku untuk menyembuhkannya. Tidak lama, Chinen pun bangkit kembali.

“Sial, kalau terus begini, bagaimana kita bisa mengenainya?”, gumam Chinen kesal. Aku pun ikut memikirkan bagaimana caranya bisa menyerang musuh.

“Apa yang kalian bicarakan? Aku boleh ikutan?”, tiba-tiba Queen sudah berada didepan kami dan bersiap melancarkan tendangannya. Refleks aku menutup mata.Tiba-tiba tendangan Queen terhenti, aku membuka mataku, kulihat ada seseorang yang menahan kaki Queen.

“Aku tidak suka dengan cewek yang tidak sopan. Tolong berhenti menyakiti temanku”, aku melihat Yuto berdiri di depanku. Dia melempar kaki Queen sehingga Queen terlempar jauh.

“Yuto!! Sedang apa kau disini?”, pekikku kegirangan. Aku sangat senang melihat Yuto yang datang membantu kami.

“Kau datang terlambat Yutti.....”, kata Chinen.

“Kami sedang patroli di dekat sini, kemudian ada pelindung yang terpasang, jadi kami langsung menuju kemari”, jawab Yuto.

 “Kami?”, tanyaku

“Yuto, awas! Dari sebelah kiri!”, teriak Keito yang berlari menghampiri kami. Yuto tidak sempat menghindar sehingga dia terkena sedikit serangan dari Queen. Aku bisa melihat darah keluar dari bahu Yuto.

“Yuto.....bahumu.....”, kataku menunjuk bahu Yuto.

“Oh ini, ini tidak sakit kok”, Yuto menggerakkan bahunya seakan-akan tidak terjadi apa-apa. “Yang lebih penting, Keito! kau telat! Coba lihat aku jadi terluka nih....”, ucap Yuto ke arah Keito yang baru saja berkumpul bersama kami.

“Kau sendiri jalannya terlalu cepat. Terlebih, tadi aku sudah memperingatkanmu kan? Kau sendiri yang refleksnya terlalu lambat”, ucap Keito tenang.

“Sudah, sudah, yang terpenting semua baik-baik saja”, aku melerai pertengkaran kecil mereka. “Ayo kita bekerjasama menghadapi dia”, aku menunjuk Queen yang sudah berdiri dan bersiap akan melancarkan serangan berikutnya.

“Ryochan benar. Bersama-sama akan membuat menyerangnya menjadi mudah”, ucap Chinen. Kami berempat pun berkumpul dan memikirkan bagaimana menyerang musuh kami ini.

Di tempat Daiki dkk.

Api masih menyala dari arah jurang. Warga sekitar pun mulai berkumpul untuk melihat darimana sumber api itu berasal. Mobil yang dinaiki Daiki, Hika, dan Ryuu itupun hancur berkeping-keping dan tidak ada yang tersisa. Daiki, Hika, dan Ryuu yang tadi ada di dalam mobil tergeletak tidak sadarkan diri tidak jauh dari mobil. Ada 3 sosok yang mendekati 3 ksatria tersebut. Sosok tersebut seperti manusia purba dengan pakaian mereka yang mendukung penampilan mereka. wajah mereka bertiga sangat mirip, hanya tinggi badannya saja yang berbeda.

“Wah,semua berjalan sesuai rencana”, ucap sosok pertama yang bertubuh kecil.

“Coba lihat mereka. apa mereka sudah mati?”, tanya sosok kedua yang badannya lebih tinggi dari sosok yang pertama dan lebih pendek dari sosok yang ketiga.

“Aku bisa mendengar nafas mereka walaupun pelan. Mereka masih hidup kok”, ucap sosok ketiga yang lebih tinggi dari 2 sosok lainnya.

“huh, berarti tidak lama lagi mereka akan mati. Lalu, apa yang harus kita lakukan?”,tanya sosok yang tingginya sedang.

“Kita makan saja mereka. kebetulan aku sedang lapar”, kata sosok pertama. Dia membuka mulutnya bersiap untuk menyantap para ksatria yang masih tidak menyadari kehadiran mereka.

“Hentikan! Kita diperintahkan untuk membawa salah satu ksatria yang dimaksud untuk dibawa ke hadapan tuan Jack”, sosok ketiga menghentikan 2 sosok lainnya.

“Cih, lalu ksatria yang mana yang dimaksud? Ada 3 orang disini”, kata sosok pertama.

“Tuan Jack bilang, yang cewek”, kata sosok ketiga

“Cewek yang mana? Ada 2 orang disini”, kata sosok kedua.

“Yang wajahnya mirip tuan Jack. Ada tidak?”, kata sosok ketiga. Ketiga sosok itu mengamati wajah Ryuu, lalu menghampiri Daiki dan melihat wajahnya dengan seksama.

“Ah,ini orangnya. Wajahnya mirip dengan tuan Jack”, kata sosok kedua. 2 sosok yang lain mengamati wajah Daiki dan ikut mengangguk yang menyatakan bahwa itu benar wajah orang yang dicari.

“Kalau begitu, segera kita bawa dia ke tuan Jack. Tuan Jack sedang menunggu kita di kediamannya”, kata sosok ketiga sambil mengangkat tubuh Daiki dan disandarkan ke bahunya.

“Bagaimana dengan yang lain?”, tunjuk sosok pertama ke arah Hika dan Ryuu yang masih tergeletak.

“Tinggalkan saja mereka. kita juga harus segera membawa cewek ini ke hadapan tuan Jack”, kata sosok ketiga sambil berlalu pergi.

“Yaahhhh....padahal aku ingin memakan mereka. lain kali kalau aku bertemu dengan kalian lagi, aku pastikan akan memakan kalian”, kata sosok pertama.

Ketiga sosok itu pun berlalu sambil membawa Daiki yang tidak sadarkan diri bersama dengan mereka, meninggalkan Hika dan Ryuu yang masih tergeletak disana.

Di tempat Yuya

“Daichan???”, gumam Yuya pelan. Dia merasakan ada sesuatu yang sedang terjadi pada kekasihnya itu. Perasaannya jadi tidak enak.

“Jadi, ada apa kalian mencariku?”, tanya seorang pria yang duduk berseberangan dengan Yuya dan Aru. Usianya sekitar 20-30an. Wajahnya yang cukup tampan masih bisa terlihat meskipun wajahnya tertutup dengan kacamata hitam yang dia gunakan.  Badannya yang cukup proposional dan garis tubuhnya yang bagus masih bisa terlihat meskipun tertutup dengan kaos putih dan jaket jeans biru yang dia kenakan. Dialah sang alchemist yang dicari oleh master.

“Mastermeminta kami untuk membawamu kembali”, jawab Yuya.

“Heh?  Tidak mau ah. Aku tidak suka bekerjasama dengan orang tua seperti dia”, jawab pria itu sambil menghisap rokok yang ada di tangannya. Asap tebal keluar saat pria itu menghembuskan nafasnya. Yuya yang berada di tepatnya terbatuk akibat terkena asap rokok.

“Sudah kuduga kau akan bilang seperti itu tuan Jin. Master meminta kami untuk menyerahkan ini padamu”, Aru yang duduk di sebelah Yuya menyerahkan sepucuk surat kepada pria itu. Pria itu membuka surat tersebut dan mulai membacanya. Ekspresi wajahnya terus berubah saat membaca isi surat tersebut. Setelah selesai membacanya pria itu lalu membakar surat tersebut dengan pemantik api yang dikeluarkan dari sakunya.

“Apa yang kau lakukan?”, kata Yuya yang melihat surat tersebut terbakar habis.

“Kita tidak punya waktu lagi”, kata pria itu sambil memadamkan rokok di asbak yang ada di depan mereka. “Bakaki, kenapa kau tidak segera menemukanku dari kemarin? Dasar payah!”, bentak pria yang dipanggil Jin itu ke arah Yuya.

“Kau sendiri yang susah ditemukan. Kau itu yang suka sekali menghilang”, Yuya membentak balik Jin.

“Heh, begitu caranya kau bicara dengan orang yang sudah  mengajarimu hah????!!!”, bentak Jin lagi.

“Tuan Jin, Takaki, lebih baik kalian diam. Malu dilihat orang lain”, Aru melerai mereka berdua.

“Yang penting sekarang, kita harus kembali secepatnya. Sebelum upacara itu dimulai, dan kita juga harus berharap kalau mereka belum mendapatkan kunci itu”, kata Jin.

“Kunci? Kunci apa?”, tanya Yuya tidak mengerti

“Nanti kau sendiri akan tahu. Sudahlah, ayo kita segera kembali”, Jin segera beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan beberapa jumlah uang di meja, lalu beranjak pergi ke luar kafe diikuti oleh Yuya dan Aru.

Di rumah kediaman para ksatria

Inoo sedang sendirian di rumah. Inoo kemudian menyalakan televisi yang ada disitu sebagai hiburan. Televisi tersebut menyiarkan siaran berita mengenai kecelakaan di daerah pegunungan. Inoo melihat mobil yang jadi korban kecelakaan itu. Inoo mengenal mobil tersebut sebagai mobil yang membawa rombongan Hika saat pergimisi. Inoo segera mengambil teleponnya dan menghubungi Yabu yang sedang kuliah. “Semoga firasatku ini salah”, gumam Inoo pelan.

Di taman, tempat Yamada dkk

“Yosha, ayo kita mulai. Keito, bantu kami”, seru Yuto yang mulai bergerak menyerang musuh diikuti Chinen di sampingnya. Yuto menyerang dengan tinju tangannya. Musuh berhasil menghindar, hingga tinju Yuto menghantam tanah dan meninggalkan bekas seperti lubang besar. Chinen berusaha menendang musuh dari atas tapi musuh juga berhasil menghindar. Yuto dan Chinen saling bekerjasama untuk menyerang musuh. Aku bisa melihat kombinasi serangan Yuto dan Chinen yang sangat bagus. Seakan mereka berdua saling mengerti pergerakan satu sama lain.

“Yuto, perhatikan sebelah kirimu. Dia akan menyerangmu dari situ. Chii, lihat ke depan. Jangan sampai kau terkena tendangannya”, Keito memberitahu mereka arah pergerakan musuh yang dilihat dari bola kristal yang ada di depannya. Berkat Keito, mereka bisa menghindar dari serangan musuh yang sangat fatal.

“Jiah....kalian semua merepotkan”, ujar Queen. Cewek itu lalu menambah kecepatan serangannya. Yuto terkena pukulan cewek itu hingga berdarah. Tapi dia berhasil bangkit kembali seakan tidak terjadi apa-apa.

“Kenapa Yuto terlihat baik-baik saja?”, tanyaku

“Badannya itu kuat seperti badak. Kau tidak usah mengkhawatirkannya. Luka itu belum seberapa baginya”, jawab Keito yang terus memperhatikan bola kristal yang adadi tangannya.

“Chii, awass!!!”, seru Keito memperingatkan Chinen. Sayangnya, Chinen terkena pukulan telak dari cewek itu. Aku langsung menghampiri Chinen dan mengobatinya.

“Terimakasih Ryochan...”, Chinen langsung bangkit kembali dan menyerang cewek itu lagi.

“Yuto! Arahkan tinjumu ke belakang. Dia akan menyerang dari situ!”, seru Keito. Yuto pun menuruti perintah Keito dan mengarahkan tinjunya. Tepat setelah itu, cewek itu terkena tinju dari Yuto sehingga terpental jauh ke belakang.

“Berhasil! Aku mengenainya!”, ucap Yuto girang.

“Cih, tinjumu hebat juga. Meskipun aku berhasil menghindar sedikit, tapi rasa sakitnya masih terasa”, cewek itu bangkit lagi dan memegangi perutnya.

“Kenapa dia bisa bangkit lagi? aku yakin tadi tinjuku mengenainya”, tanya Yutokeheranan.

“Tidak. Tepat setelah tinjumu mengarah padanya, dia berhasil mengelak ke belakang. Tapi efek dari tinjumu itu yang membuatnya terpental”, Keito menjelaskan apa yang terjadi.

“Hoaa....aku semakin membenci cewek itu”, ucap Chinen kesal.

Tiba-tiba terdengar bunyi nada hp dari cewek itu. Queen lalu mengambil hpnya dan mengangkat teleponnya. “Oh, begitu. Baiklah. Mereka sudah mendapatkannya ya. Aku akan menuju kesana”, ucap cewek itu saat berbicara melalui telepon. “Nah, para ksatria. Bisakah pertarungan ini ditunda untuk sementara? Aku harus segera pergi nih”, tanya cewek itu.

“Enak saja! kau mau lari ya?”, seru Chinen kesal.

“Hmm....aku tidak lari kok, hanya saja aku harus segera ke tempat King. Kalian juga kalau tidak segera pergi mungkin akan terlambat lo....”, ucap cewek itu

“Pergi? Apa maksudmu?”, tanyaku tidak mengerti.

“Yang penting aku tidak punya waktu untuk kalian sekarang”, cewek itu menghilang dari hadapan kami. “Lain kali kita lanjutkan pertarungan ini ya, Ryochan”, cewek itu tiba-tiba muncul di hadapanku lalu mencium keningku.

“Heh!! Apa yang kau lakukan”, seru Chinen marah saat melihat hal itu. Dia mengarahkan pukulannya ke arah cewek itu, dan sekali lagi serangan Chinen berhasil dihindari.

“Ahahahaha....kalau kau cewek yang seperti itu, lama-lama Ryochan akan bosan lo.....Dadah....sampai jumpa lagi semua”, cewek itu lalu menghilang begitu saja seperti asap.

“Kemana dia? Keito! dimana dia?”, seru Chinen yang tampaknya masih kesal dengan cewekitu.

“Aku tidak bisa melihatnya. Gerakannya terlalu cepat. Tapi, yang pasti dia masih ada di sekitar sini. Tidak mungkin dia bisa lolos dari pelindung yang kita ciptakan”, ucap Keito lagi. tiba-tiba hp Keito bergetar, ada telepon yang masuk. Keito membaca layar hpnya, telepon itu dari master, segera diangkat telepon itu.

“Halo? Master? Ada apa?”, tanya Keito.

“Okamoto, bisa kau datang ke markas sekarang juga? Kami butuh kemampuanmu”, jawab master dari seberang telepon. Suaranya terdengar begitu panik.

“Baiklah, saya akan segera kesana”, jawab Keito lalu menutup teleponnya.

“Ada apa?”, tanya Yuto.

“Telepon dari master. Dia memintaku untuk segera ke markas. Dari nada bicaranya, tampaknya dia sekarang agak panik. Kelihatannya telah terjadi sesuatu”, jawab Keito.

“Memangnya ada apa? Apakah terjadi sesuatu pada ksatria yang lain? Yuya? Daichan? Hika?Atau Ryuu?”, tanya Chinen khawatir.

“Tenang dulu Chii, kita belum tahu situasinya. Ayo kita segera ke markas untuk mengetahui apa yang terjadi”, Yuto berusaha menenangkan Chinen yang mulai panik. “Chii, lepaskan pelindungmu sekarang”, ujar Yuto lagi.

“Eh, api....bagaimana dengan cewek itu?”, tanya Chinen.

“Mau bagaimana lagi, tampaknya kita harus membiarkan dia lepas untuk sekarang ini. Yang penting, segera kita pergi ke markas”, jawab Yuto. Chinen pun akhirnya menuruti perintah Yuto dan melepas pelindungnya. Keadaan yang hancur berantakan di sekitar kami pun segera kembali seperti semula. Bahkan, orang-orang yang ada di taman tampaknya tidak tahu apa yang sedang terjadi. Setelah melepas pelindung, kami pun bersama-sama segera pergi ke markas untuk mengetahui apa yang telah terjadi.

Tsuzuku ~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar