Selasa, 19 Mei 2015

TEN KNIGHTS

PART 11

“Ryochan? Kau sudah siap? Ayo kita sarapan”, suara Chinen terdengar dari arah pintu kamar. dengan tergesa-gesa kurapikan seragamku, kukenakan dasi, dan mengambil jas sekolahku. 

“Iya, tunggu sebentar lagi”, aku melihat ke cermin apakah penampilanku sudah cukup rapi atau belum. Setelah semuanya sudah kuyakini beres, kuambil tasku, lalu aku keluar.

“Woaaa.....Ryochan..... Kau cakep sekali!!!!”, Chinen memelukku dengan erat. “Hei, hei, kau mau jadi pacarku tidak?”, Chinen menatap wajahku lurus. Matanya kelihatan berbinar-binar, aku bingung mau menjawab bagaimana. Tiba-tiba Yuto muncul dari belakang Chinen dan menjitak pelan kepalanya.

“Chii,apa yang kau lakukan pagi-pagi begini? Jangan ganggu Yamachan”, Yuto menarik Chinen hingga Chinen melepas pelukannya dariku. “Selamat Pagi, Yamachan. Wah, kau terlihat cocok mengenakan seragam itu, Yamachan”, Yuto tersenyum melihatku.

“Selamat pagi juga Yuto”, balasku.

“Bagaimana persiapanmu memasuki sekolah baru?”, tanya Yuto.

“begitulah, aku agak sedikit gugup’, jawabku.

“Tenang saja, kami juga bersekolah disana kan? Jadi, kau tidak akan sendirian”, Yuto menepuk pelan bahuku. “Saa, ayo kita sarapan”, Yuto mengajakku untuk segera ke ruang makan.

Saat aku tiba disana, semua ksatria yang lain juga sudah tiba disana. Aku melihat Daiki, Keito, Ryuu, dan Hikaru mengenakan seragam yang sama denganku. Sedangkan Yabu dan Yuya terlihat mengenakan baju yang rapi, tampaknya mereka juga akan keluar. Hanya Inoo yang kulihat mengenakan pakaian yang biasa saja.

“Lama banget sih! Kita bisa telat tahu”, gerutu Ryuu kesal saat melihatku.

“Ryuu, jangan berlebihan. Nah, karena kita semua sudah berkumpul disini, ayo kita sarapan”, Yabu memimpin kami untuk berdoa. Lalu kami semua menyantap sarapan dengan lahap. Setelah semuanya selesai, kami membereskan piring kami masing-masing lalu bersiap untuk berangkat. Yabu dan Yuya pergi untukmemanaskan mobil terlebih dahulu. Setelah mobil siap, kami segera masuk kemobil. Aku, Yuto, Chii, dan Hika berada di mobil yang dikemudikan oleh Yabu. Sedangkan Daiki, Keito, dan Ryuu berada di mobil yang dikemudikan oleh Yuya. Aku melihat Inoochan berdiri di depan pintu mengantar kepergian kami.

“Hati-hati ya! Selamat belajar”, seru Inoo dari depan pintu.

“Kami berangkat dulu ya! Inoo, kau juga tolong jaga rumah ya!”, seru Yabu dari dalam mobil. Setelah melambaikan tangan kepada Inoo, mobil kemudian melaju. Mobil yang dikemudikan Yuya mengikuti dari belakang.

“Anuu,Inoo kenapa tidak ikut bersama kita?”, tanyaku.

“Dia melakukan pekerjaannya di rumah, selain itu karena dia sudah lulus, jadi sekarang dia fokus pada pekerjaannya”, jawab Yabu

“pekerjaan? Memangnya apa pekerjaan Inoo?”, tanyaku.

“Dia meneliti riset dari peneliti-peneliti yang dikirimkan padanya. Terkadang dia juga diminta untuk memberi materi kuliah pada mahasiswa dari universitas terkenal sebagai dosen tamu”, jawab Hika.

“Riset? Materi kuliah?”, tanyaku makin tidak mengerti. “Memangnya lulusan SMA boleh memberikan kuliah pada mahasiswa?”

“ah, tampaknya kau belum tahu ya. Inoo itu sudah lulus kuliah. Inoo itu anaknya jenius, IQnya 180. Di umur 18 tahun dia sudah menyandang gelar profesor. Sudah banyak perusahaan, bahkan universitas terkenal yang menawarkan pekerjaan sebagai dosen dan peneliti tetap, bahkan dia juga pernah ditawari bekerja di NASA. Tapi Inoo menolak itu semua dan memilih untuk bekerja di rumah saja”,jawab Yabu. Aku melongo mendengar jawaban Yabu. Tidak kusangka Inoo adalah seorang jenius.

“kenapa dia menolaknya? Bukankah enak dia dapat pekerjaan itu?” tanyaku lagi.

“Inoo bilang kalau dia menerima pekerjaan itu nanti dia tidak akan bisa fokus pada pekerjaannya. Karena kita juga seorang ksatria, sewaktu-waktu kita bisa saja diserang oleh musuh kan. Oleh karena itu, dia tidak mau menerimanya. Terlebih lagi, Yabu juga melarangnya menerima pekerjaan itu. Ya kan?”, jawab Yuto yang duduk disampingku.

“Inoo itu sejak dulu badannya lemah, gampang sakit-sakitan. Kalau dia capek sedikit,badannya akan langsung sakit. Aku tidak ingin dia melakukan pekerjaan yang terlalu berat. Menjadi seorang ksatria saja butuh kekuatan yang banyak”, jawabYabu. Aku terdiam. ‘Yabu perhatian sekali pada Inoo, sebenarnya apa hubungan mereka berdua?’, batinku. Aku penasaran tapi tidak jadi kutanyakan sekarang.

“lalu Yabu kun, setelah ini kau ingin kemana?”, tanyaku mengalihkan pembicaraan. Tampaknya aku tidak ingin membahas soal Inoo lebih lanjut.

“Aku akan pergi kuliah. Aku mahasiswa jurusan sosial di Universitas Waseda”, jawab Yabu.

“Eh,kau mahasiswa? Lalu, bagaimana dengan Yuya? Apa dia juga pergi kuliah setelah ini?”

“ah, dia setelah ini akan pergi bekerja. Terkadang dia membantu training artis baru di kantor agensi master”

“Kantor agensi?”

“Yup, kau tidak tahu pekerjaan master? Namanya sudah terkenal di dunia hiburan lo. Master merupakan pemilik industri hiburan no.1 di negara ini. Sudah banyak artis terkenal yang berasal dari agensinya master. Yuya juga termasuk salah satu artis disana”, Yuto menambahkan.

“Ah aku dan Yabu juga bekerja disana lo. Para ksatria yang lain juga terkadang ikut membantu”, tambah Hika.

“Memangnya apa pekerjaan kalian?”, tanyaku ingin tahu.

“Aku menulis lirik lagu baru dan terkadang mengkomposerinya. Aku juga terkadang diminta membuat aransemen lagu baru. Yabu juga sama, terkadang dia diminta membuat lagu untuk artis disana. Terkadang kami berdua bekerjasama membuat lagu baru. Sedangkan Yuto dan Chii, mereka berdua terkadang diminta menjadi model dan melatih alat musik kepada artis yang baru masuk. Ah, Daichan juga sama. Dia terkadang melatih dance pada artis disana, tapi terkadang dia juga membantuku aransemen lagu. Sedangkan untuk Keito, dia diminta melatih bahasa Inggris untuk artis yang ingin keluar negeri, ah Keito itu bisa beberapa macam bahasa lo. Inoo terkadang juga diminta untuk mengajari para training disana apabila mereka kesulitan belajar”, Hika menjelaskan padaku panjang lebar.

“Bagaimana dengan Ryuu? Dia tidak ikut membantu?”, aku sadar Ryuu tidak dibicarakan tadi.

“Ah, anak itu ya.... Ryuu itu bukan tipe anak yang gampang bergaul dengan orang lain. Kau tahu sendiri kan? Kami sendiri pun tidak tahu bagaimana berkomunikasi dengannya. Dia bahkan tidak pernah mendengarkan omongan kami. Satu-satunya yang mau dia dengarkan adalah Daichan. Dia hanya menurut pada Daichan saja. jadi terkadang dia membantu pekerjaan Daichan, tapi dia jarang membantu kami”, jawab Hika lagi.

“kenapa dia sangat dekat pada Daiki?’, tanyaku lagi.

“Karena baginya Daichan itu adalah sosok kakak idamannya. Daichan juga menyanyanginya seperti adiknya sendiri, apalagi Ryuu mirip adiknya Daichan, sehingga Daichan sangat sayang padanya”, ucap Chinen yang tiba-tiba menyahut pembicaraan setelah sekian lama dia diam tidak bersuara.

“Hee, Daichan punya adik toh. Lalu bagaimana kabar adiknya sekarang?”, tanyaku lagi. Chinen menatapku dengan sedikit bingung. Tampaknya dia tidak ingin menjawab pertanyaanku ini. Bahkan seisi mobil pun hening. Suasana di dalam mobil mulai terasa tidak enak.

“Ya-ya-yah,kau nanti akan tahu dengan sendirinya. Kami tidak bisa menceritakannya padamu sekarang, maaf ya Yama”, Hika akhirnya membuka suara. Aku pun mengangguk setuju dan berusaha untuk tidak menanyakannya lebih lanjut. Tampaknya mereka tahu apa yang terjadi dan aku menduga itu adalah sesuatu yang tidak mengenakkan. Aku tidak ingin bersikeras menanyakannya. Biarlah nanti salah satu dari mereka atau Daiki sendiri yang akan menceritakannya padaku. Sepanjang perjalanan, kami pun terdiam.

“Kita sudah sampai”, ucap Yabu memecah keheningan. Aku melihat keluar mobil dan aku menatap gerbang sekolah yang cukup besar. Kurasa ukuran gerbangnya hampir sama dengan ukuran gerbang rumah para ksatria, atau bahkan lebih besar lagi. aku termangu melihatnya sehingga tidak kusadari kalau yang lain sudah keluar dari mobil.

“Yamachan?Kau kenapa?”, Yuto membuyarkan lamunanku.

“ah,tidak apa-apa”, segera ku keluar mobil. Aku melihat banyak terparkir mobil mewah di depan sekolah. Aku juga melihat banyak wajah terkenal yang sering muncul di TV. ‘jadi ini sekolah Horikoshi? Sekolah yang terkenal elit itu? Tidak kusangka aku juga akan bersekolah disini’, gumamku.

“ah,mereka juga sudah sampai”, Chinen melambaikan tangannya ke arah mobil hitam yang ada dibelakang kami. Tampaknya rombongan satunya juga sudah tiba. Keito dan Ryuu keluar dari kursi belakang, sedangkan Daiki keluar dari kursi depan. Aku melihat Daiki bercakap-cakap sebentar dengan Yuya, kemudian mereka saling melambaikan tangan dan Daiki pun berjalan menuju ke arah kami.

“Nah, sekarang ayo kita masuk. Yabu kun, terima kasih sudah mengantar kami”, Yuto melambaikan tangan ke arah Yabu.

“Belajar yang rajin. Dan kau Yama, semoga sekolah barumu ini menyenangkan”, ujar Yabu.

“Terimakasih”, kataku. 

Yabu pun pergi melaju dengan mobilnya. Di belakangnya, Yuya mengikuti. Yuya sempat melambaikan tangan pada kami, kami pun membalasnya. Aku melihat Daiki yang tersenyum riang saat melambaikan tangan. Tanpa sadar akumengamatinya. Aku mengingat pembicaraan di dalam mobil tadi. Aku penasaran dengan Daiki ini, tapi aku tidak bisa menanyakannya. Daiki melihat ke arahku, tampaknya dia mulai sadar kalau aku melihatnya dari tadi.

“ada apa Yama? Ada sesuatu di mukaku?”, tanya Daiki.

“Ah,ti-ti-tidak, tidak ada apa-apa. Aku hanya berpikir hiasan rambutmu itu bagus”,kataku mencari alasan. ‘baka, apa yang kukatakan? Aku seperti cowok yang sedang merayu seorang cewek. Tapi aku tadi gugup sehingga tidak sengaja kukatakan itu. Aduh, gimana pendapatnya ya’, pikiranku kalut. Entah kenapa wajahku terasa panas karena malu dengan apa yang kukatakan tadi.

“Terimakasih. Aku suka hiasan rambut ini. Lucu kan? Yuya yang membelikannya untukku”,jawab Daiki sambil tersenyum. Saat itu entah kenapa aku merasa senyuman Daiki manis sekali. Sekali lagi aku tidak bisa memalingkan pandanganku dari wajahnya yang masih tersenyum itu.

“Hiiyaaa......apa yang kalian berdua lakukan? Daichan, kau sedang merayu Ryochan ya? Tidak boleh, dia milikku”, Chinen tiba-tiba datang dan merangkul tanganku dari belakang. Dia menatap Daiki sambil mencibirkan mulutnya itu. Daiki hanya menghela nafas pelan dan berjalan melewati kami.

“Ryochan, ayo kita masuk”, Chinen menarikku. Ketika aku melewati gerbang sekolah, akumerasa sedang melewati pelindung. Jadi ini maksudnya kalau di sekolah Horikoshi juga ada pelindung.

“Anuu,Chii. Tadi kita melewati pelindung ya?”, tanyaku pada Chinen. Chinen melihat kearahku dengan pandangan kesal.

“Yuri!”,seru Chinen.

“eh?”

“Yuri! Aku memintamu memanggilku seperti itu kan?”

“ah baiklah, Yu-yu-yuri”, kataku terbata-bata.

“Bagus,ada apa Ryochan?”, Chinen mengelus kepalaku. Wajahnya gembira sekali saat kupanggil Yuri.

“tadikita melewati pelindung kan?”, tanyaku.

“Yup,pelindung di sekolah ini dibuat oleh master. Pemilik sekolah ini dan master saling kenal. Jadi pemiliknya tahu tentang ksatria dan makhluk kegelapan,sehingga pemiliknya mengijinkan ada pelindung disini dan menjadikan tempat ini sekolah khusus bagi para ksatria. Makanya kau bisa masuk ke sini dengan mudah”,jawab Chinen senang.

“Kita semua nanti akan masuk kelas khusus. Di kelas khusus ini nantinya kau akan sekelas dengan para selebriti, anak yang jenius dan berprestasi, dan anak-anak orang kaya. Tidak semua orang bisa masuk kelas khusus”, Yuto menjelaskan padaku.

“eh,tapi tidak apa-apakah aku masuk kelas itu? Prestasiku kan biasa saja”, aku mulai khawatir dengan kehidupan sekolahku disini.

“Kepala sekolah disini tahu tentang kita, jadi kita dimasukkan ke kelas khusus. Ada 3 kelas khusus untuk masing-masing tingkat. Lagian peraturan di kelas khusus berbeda dengan yang kelas biasa. Di kelas khusus kita tidak wajib mengikuti semua pelajaran, asalkan kita lulus ujian, maka kita bisa naik kelas. Kau juga bisa keluar dari kelas selama pelajaran berlangsung”, Yuto menjelaskan aturan di sekolah ini.

“eh tapi, kalau begitu apa gunanya belajar di kelas kalau tidak wajib mengikuti pelajarannya?”, tanyaku yang tidak mengerti dengan sistem aneh sekolah ini.

“ya,kelas ini diperuntukkan untuk mereka yang rajin belajar. Selain itu, kalau dikelas khusus kita bebas keluar kapan saja. kalau misalnya kami mendeteksi adanya serangan musuh saat pelajaran berlangsung, maka kami bisa keluar saat itu juga tanpa perlu menunggu pelajaran berakhir”, jawab Yuto lagi.

“Nah,ayo kesini. Gedung kelas khusus dipisahkan dari gedung utama”, Yuto melangkah menjauhi gedung sekolah kelas reguler. Kami sempat berpapasan dengan beberapa murid kelas reguler.

 “Selamat pagi ketua!”, sapa beberapa murid yang sedang duduk disana.

“Pagi, kalian sedang apa?”, Daiki menjawab sapaan tersebut dan melangkah mendekati murid-murid yang sedang asyik duduk disana. Mereka tampak bercakap-cakap sebentar.

“Kenapa mereka memanggil Daiki ketua?”, tanyaku pada Yuto.

“Ya,itu karena Daichan itu ketua OSIS di sekolah ini”, jawab Yuto.

“Eh,dia ketua OSIS??”, aku terbelalak tidak percaya. Tidak kusangka Daiki adalah ketua OSIS.

“ya, seharusnya Chii, peringkat satu di sekolah ini, yang memegang posisi itu. Tapi dia tidak mau, akhirnya dia merekomendasikan Daichan untuk jadi ketua OSIS. Terlebih lagi, Daichan itu banyak fansnya, jadilah dia ketua OSIS disini”, Yuto menunjuk kerumunan murid tadi. Entah sejak kapan, kerumunan murid itu makin banyak dan mereka tampak akrab berbincang Daiki.

“Daichan itu manis kalau sedang tersenyum kan? Terlebih lagi dia baik, pintar, dan berbakat. Jadi wajar kalau banyak yang suka padanya”, tambah Yuto. Aku mengerti yang dimaksud Yuto. Aku sendiri merasa Daiki sangat manis saat dia tersenyum tadi. Aku kemudian sadar dengan hal lain.

“Chi__,eh Yuri, kau peringkat satu di sekolah ini??”, aku bertanya pada Chinen yang masih merangkul tanganku.

“Yup! Aku selalu mendapat nilai A di tiap mata pelajaran”, ucap Chinen bangga.

“Anak ini, meskipun terlihat suka bermain, tapi otaknya encer”, Yuto mengacak-acak rambut Chinen. Chinen berusaha melepaskan tangan Yuto dari rambutnya.

“Oh iya, sebagai tambahan. Daichan itu peringkat 2 di sekolah ini, dan Keito ada diperingkat ke 3. Ya kan Keito??”, ucap Chinen menoleh ke arah Keito. Keito hanya membalas dengan mengangguk.

“Eh,kalau kau Yuto??”, tanyaku pada Yuto.

“Aku peringkat ke 4”, jawab Yuto. Aku mulai merasa tidak pede masuk sekolah ini. Bukankah di kelas khusus itu juga ada anak yang jenius dan pintar, dan mereka semua bisa mengalahkan anak jenius tersebut. Tidak kusangka semua ksatria selain hebat dalam bertarung, otak mereka juga lumayan.
“La-lalu Hika dan Ryuu bagaimana?”, tanyaku. Aku berharap mereka tidak lebih pintar dariku.

“Hmm....aku tidak pernah masuk 5 besar sih, paling Cuma sampai 10 besar. Ryuu juga samakan?”, jawab Hika. Ryuu hanya mendengus dan tidak menoleh ke arahku sama sekali. Aku semakin tidak pede setelah mendengar jawaban mereka. bisakah aku menjadi sepintar mereka?

“Maa....tidak usah khawatir. Kami disini akan membantumu”, Yuto mengedipkan matanya dan menepuk punggungku untuk menghilangkan rasa khawatir yang kurasakan. Tampaknya dia mengerti apa yang kupikirkan. Daiki kembali berkumpul dengan kami dan kami pun bergegas menuju gedung sekolah kelas khusus. kami tiba di loker sepatu.

“Nah,kita pisah disini ya. Karena aku kelas 3 A, kelasku ada di lantai 3. Duluan ya.....”, Hika menaiki tangga yang ada di depan loker. Ryuu pun pergi berlalu menuju kelasnya yang ada di lantai 1, aku melihatnya sampai masuk ke sebuah ruangan yang bertuliskan 1B.

“kami berdua juga masuk kelas dulu ya....”, Daiki dan Keito pun menaiki tangga menuju kelasnya. Tinggal kami bertiga saja yang masih berada di bawah.

“Nah,Yamachan. Ayo kita menuju ke ruang guru dulu”, ucap Yuto melangkah menuju ruang guru.

“Kita sudah sampai. Semoga kau bisa sekelas dengan kami ya. Kami ada di kelas 2B,sedangkan Daichan dan Keito ada di kelas 2A. Sampai jumpa lagi ya....”, Yuto melambaikan tangan dan pergi berlalu menuju kelas dengan Chinen. Aku pun masuk dan menghampiri guru wali kelasku yang baru. Untunglah orangnya baik, dan tampaknyajuga sangat akrab dengan siswa.

“Yamada Ryosuke, nah ayo kita menuju kelasmu yang baru”, aku mengikuti guru tersebut dari belakang dan sampai di lantai 2. Kami melewati kelas 2A, aku bisa melihat Daiki yang sedang asyik berbincang dengan teman-temannya di bangku di sebelah jendela. Di belakang bangkunya, Keito duduk membaca buku. Tampaknya mereka duduk berdekatan. Aku tidak masuk di kelas yang sama dengan mereka berdua. Entah kenapa, aku merasa sedikit kecewa. Aku terus melihat mereka berdua dan hampir saja aku menabrak tubuh senseiku yang ada di depanku. Aku melihat pintu dengan tulisan 2B, berarti aku akan sekelas dengan Chinen dan Yuto. Aku menarik nafas dalam-dalam. Kutenangkan diriku dan masuk ke dalam kelas bersama dengan senseiku.

“Anak-anak,hari ini kita kedatangan murid baru. Silahkan perkenalkan dirimu”, senseiku mempersilahkanku memperkenalkan diri. Kutarik nafas panjang. “perkenalkan, namaku Yamada Ryosuke. Mulai hari ini aku akan bersekolah disini. Mohon bantuannya ya”, aku menundukkan kepalaku. Suasana hening sejenak. Aku mulai khawatir, jangan-jangan aku dianggap anak aneh.

“selamat datang di kelas ini...”, seru Yuto memecah keheningan sambil bertepuk tangan.Anak-anak lain juga bertepuk tangan dan mereka menyambutku dengan senyum. Aku menarik nafas lega. Aku melihat ke arah Yuto dan Chinen yang duduk berdekatan di belakang. Aku tersenyum dan merasa sangat berterimakasih pada mereka.

“Nah,Yamada. Tempat dudukmu di belakang sana. Silahkan duduk. Sensei menunjuk bangku kosong di sebelah Yuto. Syukurlah, aku bisa duduk disana.

“Selamat datang Yamachan”, kata Yuto pelan. Chinen pun menoleh ke arahku sambil tersenyum.

Pelajaranpun berlangsung, aku menyimak pelajaran. Untunglah, pelajarannya tidak terlalu beda dengan pelajaran di sekolahku yang dulu. Sehingga aku bisa memahaminya.Tapi sensei disini enak dalam menjelaskan, sehingga bisa dengan mudah dipahami. Aku pun belajar dengan antusias.

Di tempat lain

Yabu sedang menuju ke kampusnya. Masih ada waktu 1 jam sampai kuliah pertama berlangsung. Yabu pun memutuskan untuk mampir ke toko buku sebentar. Mobil pun berbelok ke arah toko buku dan berhenti di lampu merah, keadaan jalan saat itu sepi, hanya ada 2 mobil lain selain mobil Yabu ini. Yabu menunggu dengan sabar di lampu merah. Ketika lampu berganti hijau, Yabu segera menjalankan mobilnya.Tiba-tiba dari arah kiri, muncul truk besar melaju kencang ke arah Yabu. Yabu tidak sempat menghindarinya dan ‘BRUUAAKKKK’. Terdengar suara keras saat truk itu menabrak mobilnya Yabu. Kepala yabu menatap kemudi mobil hingga berdarah cukup banyak. Kesadarannya mulai hilang.

“Yoo....ksatria, bagaimana keadaanmu??”, sesosok pemuda menghampiri Yabu dari sampingpintu yang sudah rusak. Yabu tidak sadarkan diri hingga tidak menyadari ada yang mendekatinya. “hei, kenapa kau tidak menjawab? Apakah kau sudah mati? Haloo?? Tuan ksatria”, kata pemuda itu lagi. 

Tsuzuku ~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar