Sabtu, 30 Mei 2015

TEN KNIGHTS

PART 20

Yabu yang mendengar teriakan Inoo langsung berlari menghampirinya. Inoo mengacungkan kedua pedangnya ke arah sesuatu yang baru saja keluar dari balik semak. Yabu pun langsung membentuk pedang dengan air yang dibawanya, bersiap membantu Inoo untuk melawan apa yang dilihat olehnya.

“Woi, ini aku!”, seru sosok yang keluar dari semak itu. Yabu dan Inoo mengamati sosokitu. Mereka berdua menarik nafas lega. Hikaru berdiri tepat di depan mereka. Mereka berdua lalu menurunkan pedang yang ada di tangan mereka.

“Hika! Kau selamat!”, Yabu berlari menghampiri Hikaru yang berjalan dengan tertatih-tatih.

“Kalian ini.... kalian ingin membunuhku ya?”, lirik Hika ke arah pedang yang ada ditangan Inoo dan Yabu.

“Kukira kau tadi musuh yang bersembunyi dan akan menyerang kami, jadi spontan aja kami mengeluarkan pedang”, Inoo mengembalikan pedang yang ada di tangannya kembali ke sarung pedangnya, begitu pula dengan Yabu yang mengubah pedangnya kembali menjadi air dan membentuk genangan disana.

“Hika, ada apa? Siapa yang kau temukan?”, terdengar suara dari belakang Hikaru. Yabu dan Inoo menoleh ke asal suara dan melihat Ryuu yang mendekat ke arah mereka. Sama seperti Hika, kondisi badannya penuh luka dan jalannya pun tertatih-tatih.

“Ryuu! Kau juga selamat! Syukurlah kami bisa menemukan kalian semua!”, Inoo berlari menghampiri Ryuu dan membantunya berjalan.
“Kalian berdua kenapa ada disini?”, tanya Hika sambil menyandarkan dirinya ke sebatang pohon yang ada di dekat situ.

“Kami melihat berita kecelakaan kalian di TV, lalu master meminta kami berdua untuk menyusul kemari melihat keadaan kalian. Begitu sampai disini kami melihat kondisi mobil kalian yang seperti itu...”, Yabu menunjuk ke puing-puing mobil yang berserakan dan hangus terbakar itu. “Kami sempat panik karena tidak menemukan kalian saat kami tiba disini. Apa yang sebenarnya terjadi?”, Yabu menghentikan ucapannya dan menyadari sesuatu, “Daichan mana? Aku tidak melihatnya”.

Hika dan Ryuu saling bertukar pandang. Hika menghela nafas panjang dan mulai berbicara. “Kami dalam perjalanan kembali pulang, tiba-tiba ada truk yang menabrak kami dari depan. Aku tidak sempat menghindar, akibatnya terjadi tabrakan dan mobil kami terjatuh ke dalam jurang ini. Suatu keajaiban kami masih bisa selamat meskipun kami jatuh seperti ini”, Hika melihat ke atas, dia bisa melihat seberapa dalam mereka jatuh.

“Begitu kami tersadar, kami sudah terlempar dari mobil. Saat kami bangun, kami tidak melihat nee-san disini. Akhirnya kami memutuskan untuk mencarinya di dekat sini, siapa tahu dia terlempar agak jauh dari posisi kami”, tambah Ryuu.

“Lalu?”, tanya Inoo

“Kami sama sekali tidak bisa menemukannya. Nee-san hilang begitu saja. kami juga tidak tahu apakah dia selamat atau tidak”, jawab Ryuu. Hika pun menunduk,wajahnya tampak murung.

“Yang penting sekarang, kalian tenangkan diri dulu. Aku yakin Daichan baik-baik saja sekarang meskipun saat ini dia tidak berada disini. Pertama-tama, Kita harus melaporkan apa yang terjadi disini pada master. Lalu, Master akan membantu kita mencari Daichan”, Yabu berusaha tetap bersikap tenang saat melihat raut wajah Hika dan Ryuu. Yabu merasa apa yang dikatakannya itu tepat. Hika dan Ryuu terluka parah, kalau mereka tetap meneruskan pencarian terhadap Daichan, itu sama saja dengan bunuh diri. Meminta pertolongan dari master dan teman ksatria yang lain mungkin adalah pilihan yang tepat.

“Disini tidak ada sinyal. Aku sudah berusaha menghubungi markas tapi tidak terhubung”,kata Inoo yang terus mengutak-atik hpnya. Dia bahkan menjulurkan tangannya ke atas untuk mencari sinyal.

“Kalau begitu, kita ke rumahmu saja Hika. Rumahmu di daerah sini kan?”, tanya Yabu.

“Ya, kalau kita terus menyusuri jalan ini, dalam waktu kurang lebih setengah jam kita akan tiba di rumahku”, jawab Hika. Yabu membantu Hika untuk berdiri dan memapahnya, sedangkan Inoo membantu Ryuu. Mereka berempat berjalan menyusuri jalan setapak kecil menuju rumah Hika yang juga di daerah itu.

Ditempat lain, jauh di dalam kegelapan.

“Kakakku yang manis, akhirnya kau disini”, Fuu membelai kepala Daiki yang masih tidak sadarkan diri. Daiki berbaring di atas sebuah ranjang, tangan dan kaki Daiki diikat oleh rantai yang berat. Badannya penuh luka akibat kecelakaan yang menimpa pada dirinya.

“Tuan Jack, ada yang ingin saya laporkan”, sosok yang tinggi masuk ke dalam ruangan. Dia merupakan salah satu sosok yang membawa Daiki ke hadapan Fuka. Sosok itu duduk bersujud di hadapan Fuka.

“Ada apa?”

“Beberapa pasukan di luar mengatakan mereka melihat beberapa ksatria di daerah ini. Dua orang diantaranya adalah dua ksatria yang bersama dengan ksatria cewek yang ada disana, dua orang lagi tampaknya ksatria lain yang baru datang kemari”

“Hmm....berarti mereka sudah mengetahui kalau kakak berada di tanganku”, Fuka melihat ke arah Daiki yang masih tertidur. “Terus awasi mereka”.

“Kami tidak perlu menyerang mereka?”

“Tidak usah, King sudah memutuskan bahwa ‘mereka’ akan bergerak. ‘mereka’ akan memberi waktu kepada kita dan ‘mereka’ yang akan menghadapi para ksatria itu. Kita hanya harus fokus dengan tugas yang diberikan pada kita, menangkap ‘sang kunci’ dan menjaganya sampai hari kebangkitan”.

“Baik, Tuan Jack. Ah, ada pesan dari Queen kalau dia sudah menemukan tempat sang necromancer, anda diminta membawa ‘sang kunci’ kesana”.

“Begitu? Baiklah. Terima kasih atas laporanmu. Kau boleh pergi”. Sosok itu kemudian berdiri dan pergi keluar ruangan.

“Sayang sekali kakak, takdirmu sudah ditetapkan. Kematianmu sudah ditetapkan sejak kau dilahirkan. Padahal, aku ingin membunuhmu dengan tanganku sendiri”, Jack tersenyum puas melihat Daiki.

Sepulang sekolah, di rumah para ksatria

Kami berempat telah kembali dari sekolah. Begitu masuk ke dalam rumah, kami sudah disambut oleh Jin yang sudah berdiri disana menunggu kami dengan wajah yang tampak kesal menunggu.

“Osoi! Ayo kita mulai latihannya. Cepat ganti baju kalian dan berkumpul di halaman belakang”, Jin langsung pergi menuju ke halaman belakang. Kami berempat segera berganti baju dan menuju ke halaman belakang. Begitu sampai disana, aku terkejut dengan apa yang kulihat. Halaman belakang yang rapi, berubah menjadi berantakan. Aku bisa melihat dinding rumah yang mengalami keretakan dimana-mana. Tanah pun menjadi retak dan banyak seperti lubang di tanah. Pohonyang ada di dekat sana juga terbelah menjadi dua dan ada beberapa pohon yang hanya tinggal bagian bawahnya saja. ‘apa yang sebenarnya terjadi disini?’,tanyaku dalam hati.

“Hyaa....apa yang sudah terjadi disini? Seperti ada pertempuran besar yang baru saja terjadi disini”, ucap Yuto yang ada di belakangku.

“Oh ini? Ini akibat aku tadi melatih Yuya. seperti yang sudah kuduga, kekuatan yang dimilikinya sangat besar. Aku melatihnya hingga dia bisa mengeluarkan 70% kekuatannya, maka jadilah seperti ini keadaannya”, ucap Jin santai.

“Memangnya Yuya itu sekuat apa sih? Benarkah dia yang paling kuat diantara kalian semua?”, bisikku pelan pada Chinen yang ada di sebelahku.

“Hmm...Ya, bisa dibilang dia memang yang paling kuat diantara kami semua. Sebelum Yuya datang, Yuto dan Daichan adalah ksatria yang paling kuat, kemampuan mereka memiliki daya penghancur yang paling besar. Tapi, saat mereka berdua melakukan latih tanding dengan Yuya yang telah bergabung dengan kami, mereka berdua bisa dikalahkan dengan mudah. Semua kemampuan khusus kami tidak ada yang mempan terhadapnya”, jawab Chinen. Aku mengingat kemampuan Yuya, nullification, kemampuan itu bisa menetralkan semua serangan. Aku tidak menyangka kalau kemampuan itu begitu hebat.

“Apa yang kalian lakukan disitu! Ayo cepat mulai latihannya”, seru Jin. Kami semua segera berlari menghampiri Jin.

“Lalu,dimana Yuya?”, tanyaku sambil melihat sekeliling. Aku tidak melihat Yuya dari tadi. Di dalam rumah juga tidak ada.

“Dia sedang patroli. Kalian tidak usah mengkhawatirkannya. Dia sendiri pasti bisa mengatasi makhluk kegelapan yang muncul. Aku hanya merasakan makhluk kegelapan level rendah yang berkeliaran di sekitar sini. Meskipun aku merasa ada sesuatu yang lain.....”, Jin mendongak ke langit dan memejamkan matanya. Tampaknya dia sedang merasakan sesuatu. “Ah, sudahlah. Kita tidak usah memikirkan si bodoh itu. Nah, coba kalian keluarkan energi kalian”.

Aku mencoba mengeluarkan energi yang ada di dalam diriku. Aku melakukannya seperti yang pernah diajarkan Yuya padaku. Aku melihat ke ksatria yang lain. Mereka juga sedang mengeluarkan energi mereka, tapi aku bisa merasakan besarnya energi tiap orang berbeda. Aku merasa Yuto dan Chinen mengeluarkan energi yang lebih besar daripada aku dan Keito. aku juga bisa merasakan kalau energiku paling lemah diantara mereka bertiga.

“Hmm....Yuto, energimu memang besar, sama seperti Daiki. Chinen, kemampuanmu sudah meningkat, energimu jauh lebih besar daripada saat kita terakhir kali bertemu. Keito, kau sama sekali tidak ada peningkatan. Dan kau, Ryosuke, seperti yang kuduga, kau yang paling lemah diantara semua ksatria yang ada”, ucap Jin saat mengamati kami satu persatu.

Jin memberikan kami masing-masing sepasang gelang berwarna putih. Gelang ini sepertinya terbuat dari kaca, tapi juga ringan seperti plastik. Jin meminta kami memakai gelang ini. Begitu gelang ini dipakai, aku bisa merasakan sesuatu yang berubah dari dalam diriku.

“Ini gelang stimulasi. Gelang ini akan membantu kalian meningkatkan kemampuan kalian dan membantu kalian mengeluarkan energi yang lebih besar dari yang kalian keluarkan saat ini. Kalian bisa merasakan ada yang berubah pada tubuh kalian kan?”, Jin bertanya pada kami. Kami semua mengangguk.

“Tapi, kenapa tubuhku mulai merasa lemas?”, tanya Yuto.

“Ya tentu saja. gelang ini memicu kalian mengeluarkan energi yang lebih besar dari yang biasa kalian keluarkan. Kalian sudah tahu kan kalau mengeluarkan energi itu butuh tenaga juga? Kalau kalian tidak bisa mengendalikan energi kalian yang keluar saat ini, tidak butuh waktu lama bagi kalian untuk mati”, ucap Jin enteng. “Latihan ini bertujuan agar kalian terbiasa mengeluarkan energi dalam jumlah besar”.

“Tunggu Jin! Apa yang kau lakukan? Kalau begini bisa bahaya”, seru Chinen. Baru saja Chinen menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba tanah yang menjadi pijakan kami hancur, membentuk sebuah lubang yang cukup besar dan cukup dalam. Aku melihat Yuto yang terduduk lemas, aku bisa melihat energi yang keluar dari tubuhnya cukup besar. Chinen menarikku menjauhi Yuto. Keito pun juga menghindar.

“Ah....sudah kubilang kalau kau harus bisa mengendalikan energimu...”, Jin mengarahkan tangannya ke tanah. Tiba-tiba tanah yang kami pijaki bergerak dan membawa kami bertiga ke atas, meninggalkan Yuto sendirian di bawah. Setelah kami semua keluar, lubang di tanah itu menutup, mengurung yuto di dalamnya.

“Apa yang kau lakukan?”, tanya Keito.

“Aku akan mengurungnya sementara di bawah sana sampai dia bisa mengendalikan kemampuannya.Tenang saja, meskipun lubang ini tertutup, masih ada rongga udara disana, jadi dia masih bisa bernafas. Akan tetapi, persediaan oksigen disana akan semakin menipis sehingga dia bisa mati karena kehabisan oksigen. Kau dengar kan Yuto? Kalau kau tidak bisa mengendalikan kemampuanmu secepat mungkin, kau bisa mati dan tertimbun di bawah sana”, seru Jin.

“Aku dengar! Tidak apa-apa, aku pasti bisa mengendalikannya dan aku tidak mau mati disini!”, suara Yuto terdengar dari dalam tanah. Aku menarik nafas lega, setidaknya aku tahu Yuto masih hidup di bawah sana.

“Nah, untuk kalian bertiga.....”, Jin melihat ke arah kami, “Chinen, kau akan melakukan latih tanding bersama dengan Keito”.

“Eh?? Tunggu dulu. Aku tidak pernah menang melawan Chii”, ucap Keito.

“Ini kesempatan bagus untuk meningkatkan kemampuan bertarungmu. Sekaligus membantu kalian menguasai pengendalian energi yang keluar secara berlebihan. Dan kau Ryosuke, aku sendiri yang akan melatihmu. Bersiaplah!”, Jin melihat ke arahku sambil tersenyum. Jujur, aku tidak suka melihat senyumnya saat ini. Seperti ada sesuatu yang tidak enak yang akan terjadi. Keito hanya mengangguk pasrah mendengar keputusan Jin.

Di jalan raya, di sebuah kafe

“Dasar si Jin itu! Dia memang tidak pernah mengurangi tenaga yang dikeluarkannya. Badanku masih sakit semua ini”, Yuya terduduk di sebuah kafe. Dia memegangi tangannya yang memar akibat latihan yang dia jalani bersama dengan Jin. Dia menyamar menggunakan kacamata dan topi. Pekerjaannya sebagai model, membuat dia mudah dikenali banyak orang. Yuya melihat ke arah jalan, dia bisa melihat banyak orang yang berlalu lalang. Suasana di dalam kafe pun ramai, banyak orang terlebih pasangan muda berada di tempat itu. Yuya merasa tempat yang ramai akan membantunya menyamarkan diri dan tidak akan ada yang memperhatikannya.

Tiba-tiba dua orang pemuda datang ke meja Yuya dan duduk di kursi di hadapan Yuya. Yuya hanya melihat kedua orang pemuda di hadapannya ini dengan muka heran.

“Boleh,kami duduk disini? Tidak ada bangku kosong lagi di tempat ini, hanya disini tempat kosong yang ada”, ucap salah satu pemuda yang berambut hitam. Cara bicaranya seperti orang osaka, logat kansainya masih terasa meskipun kelihatannya pemuda itu mencoba berbicara ala orang tokyo.

“Seharusnya kalian tanya itu sebelum kalian duduk. Kalau kalian sudah duduk seperti itu,apa yang bisa kukatakan lagi”, ucap Yuya cuek. Dia sama sekali tidak ingin menanggapi siapapun. Moodnya sedang jelek.

“Ah,maafkan kelancangan kami”, ucap pemuda pirang yang ada di sebelahnya. Tampaknya pemuda itu juga berasal dari Osaka juga. “Ah, bagaimana kalau kita berkenalan dulu? Namaku Nakama Junta, sedangkan dia Kiriyama Akito”, ucap pemuda pirang itu lagi sambil tersenyum berusaha bersikap ramah terhadap Yuya. “Siapa namamu?”.

“Untuk apa aku memberitahu namaku pada orang yang baru kutemui?”, ucap Yuya yang masih saja bersikap acuh.

“Yang kudengar, kau adalah seorang yang gentleman, tapi tampaknya kau tidak lebih dari orang berandalan, Takaki Yuya”, ucap pemuda yang bernama Kiriyama Akito itu. Yuya terkejut dan melihat dua orang pemuda yang ada di hadapannya.

“Bagaimana kalian bisa tahu?”, tanya Yuya kaget.

“Tidak hanya mengenai namamu, kami juga tahu semuanya. Takaki Yuya, 20 tahun, seorang model papan atas. Berhenti sekolah saat SMA karena ingin mengejar karir sebagai model. Punya seorang pacar yang manis bernama Arioka Daiki. Ah, yang lebih penting lagi, kau dan pacarmu sama-sama seorang ksatria”, ucap pemuda yang bernama Nakama Junta itu.

“Siapa, kalian berdua sebenarnya?”

“Kami diperintahkan untuk menghabisi para ksatria sebelum hari kebangkitan”, jawab Nakama Junta.

“Siapa yang memerintahkan kalian?”, tanya Yuya. kali ini dia memasang sikap waspada.

“Bukankah tidak perlu kami jawab, kau sudah tahu jawabannya?”, Kiriyama tersenyum ke arah Yuya.

Yuya langsung memasang pelindung. Hanya ada mereka bertiga yang berada di dalam pelindung.

Tsuzuku ~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar