Part 10
“Apa yang kau rencanakan Inoo?”
Inoo yang sedari tadi membaca
buku, melihat ke arah Yabu sekilas, lalu melanjutkan membaca buku yang ada di
tangannya. Dari mukanya, Inoo sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaan
Yabu. Yabu juga mengerti kalau Inoo tidak akan segampang itu menjawab
pertanyaannya. Mereka berdua sudah hidup lama bersama-sama sehingga
masing-masing mengerti apa yang ada di pikiran satu sama lain. Inoo dengan
mudah bisa memprediksi pikiran Yabu, akan tetapi Yabu tetap tidak bisa membaca
apa yang ada di pikiran Inoo.
Malam itu terasa sunyi sekali.
Suasana sekolah pada malam hari memang terasa mencekam. Beberapa makhluk gaib
yang bersembunyi pada siang hari, kini mulai berkeliaran. Suasana di dalam
sekolah kini terasa begitu ramai dengan banyaknya makhluk gaib yang
berkeliaran. Bagi manusia biasa, mungkin pemandangan ini terasa menakutkan.
Tapi, bagi yang memiliki kemampuan spiritual, mereka akan melihat pemandangan
yang menjijikkan dan menakutkan. Beberapa makhluk gaib yang tidak jelas
bentuknya, beberapa roh siswa yang bunuh diri yang terus berkeliaran, bahkan
ada penampakan beberapa roh prajurit jaman perang yang berkeliaran ke seluruh
sekolah dengan anggota tubuh yang tidak lengkap.
TENG!
Jam sekolah berbunyi 12 kali
menunjukkan kalau saat ini sudah pukul 12 malam. Seluruh makhluk gaib yang ada
langsung bersorak gembira. Inilah saat mereka bisa mengeluarkan kekuatan mereka
secara sempurna. Tidak terkecuali bagi para demon.
Inoo tersenyum mendengar suara
jam yang berdentang nyaring itu. dia langsung menutup bukunya dan mengembalikan
buku itu lagi ke salah satu rak buku.
“Sebentar lagi dia akan kemari”,
ucap Inoo sambil tersenyum.
“Kenapa kau menyuruhnya datang kemari?
terlebih lagi, kenapa kau menyuruhku menemui anak itu?”
Inoo menatap ke arah Yabu,
“Bukankah sudah jelas? Aku ingin kau menghilangkan cairan demon yang ada di
tubuh dewa pelindung itu”
“Dan kenapa aku harus menuruti
perkataanmu? Apa untungnya bagiku?”
Inoo tersenyum tipis. Perlahan
dia berjalan menuju Yabu. Inoo mendekatkan bibirnya ke salah satu telinga Yabu
dan mulai membisikkan sesuatu. Ekspresi Yabu perlahan berubah saat mendengar
apa yang dibisikkan oleh Inoo. Matanya melebar. Mulutnya pun terbuka lebar.
Seakan tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
“Kau gila!”, komentar Yabu
setelah Inoo selesai berbicara.
“Nah bagaimana? Ini bukan ide
yang buruk kan? Bekerjasamalah denganku. Take and Give”
Yabu hanya bisa terdiam sambil
terus memikirkan apa yang dibisikkan oleh Inoo tadi. Dia ragu menerima tawaran
Inoo atau tidak.
Beberapa makhluk gaib langsung
memasang sikap waspada. Makhluk gaib yang memiliki telinga, membuka telinga
mereka lebar-lebar. Bagi mereka yang memiliki hidung, mereka mengangkat hidung
mereka tinggi-tinggi seakan mencium sesuatu. Bagi mereka yang memiliki mata,
mata mereka langsung terkunci pada sosok manusia yang berdiri di halaman
sekolah.
“Keito-sama... Ayo kita pulang.
Ini bukan ide yang bagus. Sejak awal saya tidak percaya dengan demon itu”
Chii berusaha menahan Keito agar
tidak melangkah lebih jauh lagi. Chii bisa merasakan bahwa ada banyak makhluk
gaib yang berkeliaran disana. Dan mereka sedang mengawasi Keito. Bagi makhluk
gaib, manusia dengan kekuatan spiritual merupakan ancaman, apalagi kalau
kekuatannya sangat hebat. Tapi, bagi makhluk gaib yang levelnya tinggi, manusia
dengan kekuatan spiritual merupakan makanan lezat yang langka.
Keito juga merasakan hal yang
sama. Dia bisa merasakan banyak mata yang sedang mengawasinya. Keito melirik ke
arah Yama yang terbaring lemah dalam pelukannya. Semakin lama, kondisi Yama
memang semakin buruk. Meskipun Chii telah memberikan sebagian kekuatannya, tapi
itu belum cukup untuk memulihkan kondisi Yama. Keito berharap kalau Inoo benar-benar
bisa menyelamatkan Yama dan memulihkannya seperti sedia kala.
“Tidak. aku akan terus maju dan
menemui Hime-sama”
Keito terus berjalan maju tanpa
mempedulikan Chii. Chii hanya bisa pasrah dan mengikuti Keito. Tidak lama
kemudian, beberapa makhluk gaib mulai menyerang mereka. Satu persatu Chii
membasmi makhluk gaib itu pergi. Keito juga membasmi beberapa makhluk gaib yang
menyerangnya dengan menggunakan kekuatan spiritual yang dia miliki. Serangan
yang dilancarkan Keito hanya bisa menghalau makhluk gaib saja, tidak sampai
memusnahkannya. Hal ini dikarenakan Keito hanya bisa menggunakan satu tangannya
saja, sedang tangannya yang lain sibuk menggendong Yama.
“Sst... ayo kemari”
Seorang lelaki meraih tangan
Keito dan menariknya pergi. Beberapa makhluk gaib yang menghadang mereka
langsung mundur begitu saja seakan takut dengan lelaki yang menarik tangan
Keito ini. Keito menatap punggung lelaki yang meraih tangannya ini dengan
bingung. Keito sama sekali tidak mengenalnya. Tapi dari aura yang dikeluarkan
lelaki ini, Keito bisa merasakan kalau lelaki ini bukan manusia.
“Nah, kita sudah sampai”
Lelaki itu berhenti di depan
sebuah ruangan. Keito masih berusaha mengatur nafasnya kembali. Laki-laki yang
menarik tangannya itu berlari dengan cukup cepat sehingga Keito kewalahan
menyamakan ritme lari mereka. Setelah nafasnya kembali teratur, Keito
mendongakkan kepalanya dan membaca tulisan nama ruangan tersebut. PERPUSTAKAAN.
“Ah, rupanya disini lagi”, gumam
Keito. “Terima kasih sudah mengantarku. Ngg... kau siapa?”
Keito berusaha mengamati dengan
baik wajah lelaki yang telah menolongnya itu, tapi karena gelapnya suasana di
sekitar mereka, Keito hanya bisa melihat dengan samar-samar. Sekilas Keito bisa
melihat gigi gingsul lelaki itu yang terlihat sedikit berkilauan.
“Tidak lama lagi aku akan
menyapamu kok. Sampaikan salamku pada Yabu ya...”, ucap pemuda itu sambil
berlalu pergi meninggalkan Keito sendirian.
Keito membuka mulutnya dan ingin
bertanya sedikit lebih jauh, tapi tampaknya lelaki itu kini telah menghilang
dalam kegelapan. Keito sangat yakin kalau lelaki itu bukan manusia. Tapi, yang
jadi pertanyaan dalam benak Keito adalah, ‘siapa dia?’, ‘kenapa dia
menolongku’, dan ‘siapa itu Yabu? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu’.
Keito meraih pintu perpustakaan
dengan sebelah tangannya. Ketika dia akan membuka pintu ruangan itu, Keito
sadar ada sesuatu yang kurang.
“Chii?”
Keito mencari sosok Chii
kemana-mana. Sosok dewa pelindung bertubuh kecil itu tidak ada dimanapun. Keito
mulai merasa sedikit panik. Kapan dia terpisah dari Chii? Apakah pada saat
lelaki itu datang dan menarik tangannya?
Keito berusaha menyipitkan kedua
matanya, memperlebar pandangannya agar bisa menemukan sosok Chii yang
dicarinya. Tapi, dengan kegelapan seperti ini, mustahil bisa melihat.
CKLEK. Pintu perpustakaan
terbuka. Keito sedikit terperanjat kaget saat mendengar pintu itu terbuka dan
sosok Inoo berdiri disana.
“Keito-kun? Kalau kau sudah tiba,
kenapa kau tidak segera masuk?”
Keito masih mengalihkan
pandangannya dan melihat sekelilingnya, berharap Chii akan segera tiba dan
muncul di hadapannya. Keito memegang antingnya dan memanggil nama Chii
berulangkali, akan tetapi Chii tetap tidak muncul. Keito semakin panik. Dewa
pelindung akan segera datang ketika dipanggil dengan cara seperti itu, akan tetapi
Chii tetap tidak muncul walau namanya dipanggil berulangkali.
“Ah, si rubah cilik itu tidak ada
disini ya?”
Inoo mulai memahami situasi
Keito. Keito menatap tajam ke arah Inoo. Dari pandangan matanya, terlihat kalau
Keito seakan menyalahkan Inoo. Menurut Keito, hilangnya Chii merupakan salah
satu perbuatan Inoo.
“Hei, jangan salah paham. Aku
sama sekali tidak berbuat apa-apa”, bela Inoo. Tapi Keito sama seklai tidak
mengalihkan pandangannya dari Inoo.
“Ada apa Inoo?”
Yabu muncul dari belakang Inoo.
Sekilas, Keito tidak mengenali Yabu yang berdiri disana. Akan tetapi setelah
Keito mengamatinya cukup lama, Keito ingat kalau dia pernah bertemu dengan Yabu
beberapa kali. Yabu selalu ada bersama dengan Inoo.
Keito menepuk dahinya. Kini dia
tahu siapa yang dimaksud dengan ‘Yabu’ oleh lelaki misterius yang menolongnya.
Muncul beberapa pertanyaan dalam benaknya. Tapi semakin banyak pertanyaan itu,
Keito semakin pusing memikirkan jawabannya.
“Rubah cilik yang selalu bersama
dengan bocah ini hilang. Keito-kun menuduhku bahwa aku yang menyebabkan si dewa
pelindung itu hilang”, jelas Inoo.
Keito melihat ke arah Yabu dengan
pandangan curiga. Dari perkataan Inoo, Keito menduga kalau Yabu ini tahu
mengenai identitas Inoo sebenarnya. Tidak hanya itu, Yabu tampaknya sudah
mengetahui identitas mengenai dirinya. Keito tidak bisa melepas pandangannya
dari Yabu.
“Ah, ini memang bukan pertama
kalinya kalian bertemu, tapi kurasa kalian tidak pernah mengenalkan diri
masing-masing. Yabu sudah mengetahui siapa dirimu, tapi kau belum mengetahui
siapa sebenarnya Yabu”
Keito menelan ludahnya. Sebuah
kalimat muncul di kepalanya. Dia sudah bisa mengira apa yang akan diucapkan
Inoo.
“Dia Yabu Kota. Sama sepertiku,
dia juga demon. Tapi, dia bukan demon biasa, dia adalah salah satu tetua demon.
Demon kedua yang telah lama hidup setelah Raja”
‘Yappari’, gumam Keito.
“Hmm??? Sepertinya kau tidak
terlalu terkejut. Apa sebelum ini kau sudah mengetahui siapa Yabu sebenarnya?”,
tanya Inoo heran.
“Dia sudah bisa mengira kalau aku
adalah demon, sama sepertimu”, jawab Yabu sambil melirik ke arah Keito. Lirikan
matanya terasa sangat menusuk. Keito mengalihkan pandangannya, berusaha tidak
bertatapan dengan Yabu lebih lama lagi.
“Hee... dia memang cukup pintar”,
gumam Inoo.
“Lalu, dimana Chii? Kalian berdua
tahu dimana dia kan?”, tanya Keito.
Inoo dan Yabu saling berpandangan
satu sama lain. Secara serempak mereka langsung melihat ke arah Keito.
“Kami berdua terus berada disini
dari tadi dan tidak keluar sekalipun. Memang kami bisa merasakan hawa keberadaanmu
di sekolah ini, tapi kami tidak melakukan apa-apa. Kami hanya menunggu kalian
datang dengan tenang. Apalagi banyak makhluk gaib yang berkeliaran disini, kami
malas berurusan dengan mereka semua”, jelas Yabu.
“Yang lebih penting, bukankah kau
kemari karena ada urusan denganku?”, Inoo berjalan mendekat ke arah Keito.
“Lihat. Selagi kita berbicara, kondisinya semakin lemah”. Inoo menunjuk ke arah
Yama yang kini semakin mengkhawatirkan. Nafasnya semakin memburu, bulu-bulunya
perlahan rontok, dan badannya terus gemetar tanpa henti.
Kepanikan Keito bertambah. Kondisi Yama semakin buruk. Dia ingin segera
memulihkannya. Tapi di sisi lain, Keito juga mencemaskan Chii yang menghilang
tanpa kabar. Keito takut kalau terjadi sesuatu pada Chii tanpa diketahui olehnya.
Keito berpikir keras. Dia tidak tahu mana yang harus diutamakan.
“Lebih lama dari ini, dia akan
mati”, gumam Inoo sambil tersenyum.
Keito melemparkan pandangannya ke
arah kegelapan. Sekali lagi dia berharap kalau Chii akan segera datang. Tapi,
Chii tetap tidak datang meskipun Keito telah memanggilnya berkali-kali.
Sementara itu, Yama semakin melemah. Keito bisa merasakan aura kehidupan Yama
perlahan mulai menghilang.
“Chii, maafkan aku. Aku akan
segera mencarimu setelah ini”
Dengan berat hati keito membalikkan
badannya dan berjalan mendekati Inoo. Keito memutuskan untuk memulihkan Yama
terlebih dahulu. Keito tidak ingin kehilangan Yama. Setelah Yama kembali pulih,
keito akan segera mencari Chii.
“kau yakin tidak mencari rubah
cilik itu?”, goda Inoo.
Keito menggeleng, “Chii pasti
akan baik-baik saja. Aku yakin kalau dia akan datang kemari. Saat ini, Yama
lebih membutuhkan pertolongan. Tolong sembuhkan dia. Kau tahu caranya kan?”.
Keito menyodorkan tubuh Yama ke Inoo.
“Tentu saja. Ayo masuk”, Inoo
mengajak Keito dan Yabu masuk ke dalam ruang perpustakaan.
---***---
Beberapa meter dari perpustakaan,
sesosok rubah kecil berjalan pelan di tengah kerumunan makhluk gaib. Rubah itu
tampak mengamati satu persatu makhluk gaib yang dia temui. Berkali-kali
langkahnya terhenti saat mendengar namanya dipanggil.
“Maafkan saya Keito-sama. Untuk
kali ini, saya tidak bisa memenuhi panggilan Keito-sama”
Chii kembali berjalan dan
mengamati makhluk gaib satu-persatu. Dia berusaha menutup telinganya
rapat-rapat agar tidak mendengar suara Keito yang memanggilnya berulang kali.
Hati Chii terus merasa sakit saat mendengar suara Keito. Akan tetapi, Chii
merasa kalau urusan yang ada di hadapannya ini lebih penting.
“Dimana dia? Aku bisa merasakan
dengan jelas kalau dia ada di sekitar sini”, gumam Chii. “Seandainya aku bisa
mengingat dengan jelas sosok demon itu, aku bisa langsung mengenalinya dengan
sekejap”
Chii terus berjalan mengikuti
instingnya. Semakin lama, dia merasa aura demon itu semakin kuat. Chii
melangkahkan kakinya dengan terburu-buru. Dia ingin segera menemui demon yang
dicarinya itu.
---***---
“Hei, dia datang mencarimu”
“Eh, dia siapa?”
“Kau lupa? Si rubah putih itu.
Dewa pelindung yang kau ambil kekuatannya 10 tahun yang lalu”
Tsuzuku ~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar