Minggu, 31 Mei 2015

AKUMA NO YOROI

Part 10

“Apa yang kau rencanakan Inoo?”

Inoo yang sedari tadi membaca buku, melihat ke arah Yabu sekilas, lalu melanjutkan membaca buku yang ada di tangannya. Dari mukanya, Inoo sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaan Yabu. Yabu juga mengerti kalau Inoo tidak akan segampang itu menjawab pertanyaannya. Mereka berdua sudah hidup lama bersama-sama sehingga masing-masing mengerti apa yang ada di pikiran satu sama lain. Inoo dengan mudah bisa memprediksi pikiran Yabu, akan tetapi Yabu tetap tidak bisa membaca apa yang ada di pikiran Inoo.

Malam itu terasa sunyi sekali. Suasana sekolah pada malam hari memang terasa mencekam. Beberapa makhluk gaib yang bersembunyi pada siang hari, kini mulai berkeliaran. Suasana di dalam sekolah kini terasa begitu ramai dengan banyaknya makhluk gaib yang berkeliaran. Bagi manusia biasa, mungkin pemandangan ini terasa menakutkan. Tapi, bagi yang memiliki kemampuan spiritual, mereka akan melihat pemandangan yang menjijikkan dan menakutkan. Beberapa makhluk gaib yang tidak jelas bentuknya, beberapa roh siswa yang bunuh diri yang terus berkeliaran, bahkan ada penampakan beberapa roh prajurit jaman perang yang berkeliaran ke seluruh sekolah dengan anggota tubuh yang tidak lengkap.

TENG!

Jam sekolah berbunyi 12 kali menunjukkan kalau saat ini sudah pukul 12 malam. Seluruh makhluk gaib yang ada langsung bersorak gembira. Inilah saat mereka bisa mengeluarkan kekuatan mereka secara sempurna. Tidak terkecuali bagi para demon.

Inoo tersenyum mendengar suara jam yang berdentang nyaring itu. dia langsung menutup bukunya dan mengembalikan buku itu lagi ke salah satu rak buku.

“Sebentar lagi dia akan kemari”, ucap Inoo sambil tersenyum.

“Kenapa kau menyuruhnya datang kemari? terlebih lagi, kenapa kau menyuruhku menemui anak itu?”

Inoo menatap ke arah Yabu, “Bukankah sudah jelas? Aku ingin kau menghilangkan cairan demon yang ada di tubuh dewa pelindung itu”

“Dan kenapa aku harus menuruti perkataanmu? Apa untungnya bagiku?”

Inoo tersenyum tipis. Perlahan dia berjalan menuju Yabu. Inoo mendekatkan bibirnya ke salah satu telinga Yabu dan mulai membisikkan sesuatu. Ekspresi Yabu perlahan berubah saat mendengar apa yang dibisikkan oleh Inoo. Matanya melebar. Mulutnya pun terbuka lebar. Seakan tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

“Kau gila!”, komentar Yabu setelah Inoo selesai berbicara.

“Nah bagaimana? Ini bukan ide yang buruk kan? Bekerjasamalah denganku. Take and Give”

Yabu hanya bisa terdiam sambil terus memikirkan apa yang dibisikkan oleh Inoo tadi. Dia ragu menerima tawaran Inoo atau tidak.

Beberapa makhluk gaib langsung memasang sikap waspada. Makhluk gaib yang memiliki telinga, membuka telinga mereka lebar-lebar. Bagi mereka yang memiliki hidung, mereka mengangkat hidung mereka tinggi-tinggi seakan mencium sesuatu. Bagi mereka yang memiliki mata, mata mereka langsung terkunci pada sosok manusia yang berdiri di halaman sekolah.

“Keito-sama... Ayo kita pulang. Ini bukan ide yang bagus. Sejak awal saya tidak percaya dengan demon itu”

Chii berusaha menahan Keito agar tidak melangkah lebih jauh lagi. Chii bisa merasakan bahwa ada banyak makhluk gaib yang berkeliaran disana. Dan mereka sedang mengawasi Keito. Bagi makhluk gaib, manusia dengan kekuatan spiritual merupakan ancaman, apalagi kalau kekuatannya sangat hebat. Tapi, bagi makhluk gaib yang levelnya tinggi, manusia dengan kekuatan spiritual merupakan makanan lezat yang langka.

Keito juga merasakan hal yang sama. Dia bisa merasakan banyak mata yang sedang mengawasinya. Keito melirik ke arah Yama yang terbaring lemah dalam pelukannya. Semakin lama, kondisi Yama memang semakin buruk. Meskipun Chii telah memberikan sebagian kekuatannya, tapi itu belum cukup untuk memulihkan kondisi Yama. Keito berharap kalau Inoo benar-benar bisa menyelamatkan Yama dan memulihkannya seperti sedia kala.

“Tidak. aku akan terus maju dan menemui Hime-sama”

Keito terus berjalan maju tanpa mempedulikan Chii. Chii hanya bisa pasrah dan mengikuti Keito. Tidak lama kemudian, beberapa makhluk gaib mulai menyerang mereka. Satu persatu Chii membasmi makhluk gaib itu pergi. Keito juga membasmi beberapa makhluk gaib yang menyerangnya dengan menggunakan kekuatan spiritual yang dia miliki. Serangan yang dilancarkan Keito hanya bisa menghalau makhluk gaib saja, tidak sampai memusnahkannya. Hal ini dikarenakan Keito hanya bisa menggunakan satu tangannya saja, sedang tangannya yang lain sibuk menggendong Yama.

“Sst... ayo kemari”

Seorang lelaki meraih tangan Keito dan menariknya pergi. Beberapa makhluk gaib yang menghadang mereka langsung mundur begitu saja seakan takut dengan lelaki yang menarik tangan Keito ini. Keito menatap punggung lelaki yang meraih tangannya ini dengan bingung. Keito sama sekali tidak mengenalnya. Tapi dari aura yang dikeluarkan lelaki ini, Keito bisa merasakan kalau lelaki ini bukan manusia.

“Nah, kita sudah sampai”

Lelaki itu berhenti di depan sebuah ruangan. Keito masih berusaha mengatur nafasnya kembali. Laki-laki yang menarik tangannya itu berlari dengan cukup cepat sehingga Keito kewalahan menyamakan ritme lari mereka. Setelah nafasnya kembali teratur, Keito mendongakkan kepalanya dan membaca tulisan nama ruangan tersebut. PERPUSTAKAAN.

“Ah, rupanya disini lagi”, gumam Keito. “Terima kasih sudah mengantarku. Ngg... kau siapa?”

Keito berusaha mengamati dengan baik wajah lelaki yang telah menolongnya itu, tapi karena gelapnya suasana di sekitar mereka, Keito hanya bisa melihat dengan samar-samar. Sekilas Keito bisa melihat gigi gingsul lelaki itu yang terlihat sedikit berkilauan.

“Tidak lama lagi aku akan menyapamu kok. Sampaikan salamku pada Yabu ya...”, ucap pemuda itu sambil berlalu pergi meninggalkan Keito sendirian.

Keito membuka mulutnya dan ingin bertanya sedikit lebih jauh, tapi tampaknya lelaki itu kini telah menghilang dalam kegelapan. Keito sangat yakin kalau lelaki itu bukan manusia. Tapi, yang jadi pertanyaan dalam benak Keito adalah, ‘siapa dia?’, ‘kenapa dia menolongku’, dan ‘siapa itu Yabu? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu’.

Keito meraih pintu perpustakaan dengan sebelah tangannya. Ketika dia akan membuka pintu ruangan itu, Keito sadar ada sesuatu yang kurang.

“Chii?”

Keito mencari sosok Chii kemana-mana. Sosok dewa pelindung bertubuh kecil itu tidak ada dimanapun. Keito mulai merasa sedikit panik. Kapan dia terpisah dari Chii? Apakah pada saat lelaki itu datang dan menarik tangannya?

Keito berusaha menyipitkan kedua matanya, memperlebar pandangannya agar bisa menemukan sosok Chii yang dicarinya. Tapi, dengan kegelapan seperti ini, mustahil bisa melihat.

CKLEK. Pintu perpustakaan terbuka. Keito sedikit terperanjat kaget saat mendengar pintu itu terbuka dan sosok Inoo berdiri disana.

“Keito-kun? Kalau kau sudah tiba, kenapa kau tidak segera masuk?”

Keito masih mengalihkan pandangannya dan melihat sekelilingnya, berharap Chii akan segera tiba dan muncul di hadapannya. Keito memegang antingnya dan memanggil nama Chii berulangkali, akan tetapi Chii tetap tidak muncul. Keito semakin panik. Dewa pelindung akan segera datang ketika dipanggil dengan cara seperti itu, akan tetapi Chii tetap tidak muncul walau namanya dipanggil berulangkali.

“Ah, si rubah cilik itu tidak ada disini ya?”

Inoo mulai memahami situasi Keito. Keito menatap tajam ke arah Inoo. Dari pandangan matanya, terlihat kalau Keito seakan menyalahkan Inoo. Menurut Keito, hilangnya Chii merupakan salah satu perbuatan Inoo.

“Hei, jangan salah paham. Aku sama sekali tidak berbuat apa-apa”, bela Inoo. Tapi Keito sama seklai tidak mengalihkan pandangannya dari Inoo.

“Ada apa Inoo?”

Yabu muncul dari belakang Inoo. Sekilas, Keito tidak mengenali Yabu yang berdiri disana. Akan tetapi setelah Keito mengamatinya cukup lama, Keito ingat kalau dia pernah bertemu dengan Yabu beberapa kali. Yabu selalu ada bersama dengan Inoo.

Keito menepuk dahinya. Kini dia tahu siapa yang dimaksud dengan ‘Yabu’ oleh lelaki misterius yang menolongnya. Muncul beberapa pertanyaan dalam benaknya. Tapi semakin banyak pertanyaan itu, Keito semakin pusing memikirkan jawabannya.

“Rubah cilik yang selalu bersama dengan bocah ini hilang. Keito-kun menuduhku bahwa aku yang menyebabkan si dewa pelindung itu hilang”, jelas Inoo.

Keito melihat ke arah Yabu dengan pandangan curiga. Dari perkataan Inoo, Keito menduga kalau Yabu ini tahu mengenai identitas Inoo sebenarnya. Tidak hanya itu, Yabu tampaknya sudah mengetahui identitas mengenai dirinya. Keito tidak bisa melepas pandangannya dari Yabu.

“Ah, ini memang bukan pertama kalinya kalian bertemu, tapi kurasa kalian tidak pernah mengenalkan diri masing-masing. Yabu sudah mengetahui siapa dirimu, tapi kau belum mengetahui siapa sebenarnya Yabu”

Keito menelan ludahnya. Sebuah kalimat muncul di kepalanya. Dia sudah bisa mengira apa yang akan diucapkan Inoo.

“Dia Yabu Kota. Sama sepertiku, dia juga demon. Tapi, dia bukan demon biasa, dia adalah salah satu tetua demon. Demon kedua yang telah lama hidup setelah Raja”

‘Yappari’, gumam Keito.

“Hmm??? Sepertinya kau tidak terlalu terkejut. Apa sebelum ini kau sudah mengetahui siapa Yabu sebenarnya?”, tanya Inoo heran.

“Dia sudah bisa mengira kalau aku adalah demon, sama sepertimu”, jawab Yabu sambil melirik ke arah Keito. Lirikan matanya terasa sangat menusuk. Keito mengalihkan pandangannya, berusaha tidak bertatapan dengan Yabu lebih lama lagi.

“Hee... dia memang cukup pintar”, gumam Inoo.

“Lalu, dimana Chii? Kalian berdua tahu dimana dia kan?”, tanya Keito.

Inoo dan Yabu saling berpandangan satu sama lain. Secara serempak mereka langsung melihat ke arah Keito.

“Kami berdua terus berada disini dari tadi dan tidak keluar sekalipun. Memang kami bisa merasakan hawa keberadaanmu di sekolah ini, tapi kami tidak melakukan apa-apa. Kami hanya menunggu kalian datang dengan tenang. Apalagi banyak makhluk gaib yang berkeliaran disini, kami malas berurusan dengan mereka semua”, jelas Yabu.

“Yang lebih penting, bukankah kau kemari karena ada urusan denganku?”, Inoo berjalan mendekat ke arah Keito. “Lihat. Selagi kita berbicara, kondisinya semakin lemah”. Inoo menunjuk ke arah Yama yang kini semakin mengkhawatirkan. Nafasnya semakin memburu, bulu-bulunya perlahan rontok, dan badannya terus gemetar tanpa henti.

Kepanikan Keito bertambah.  Kondisi Yama semakin buruk. Dia ingin segera memulihkannya. Tapi di sisi lain, Keito juga mencemaskan Chii yang menghilang tanpa kabar. Keito takut kalau terjadi sesuatu pada Chii tanpa diketahui olehnya. Keito berpikir keras. Dia tidak tahu mana yang harus diutamakan.

“Lebih lama dari ini, dia akan mati”, gumam Inoo sambil tersenyum.

Keito melemparkan pandangannya ke arah kegelapan. Sekali lagi dia berharap kalau Chii akan segera datang. Tapi, Chii tetap tidak datang meskipun Keito telah memanggilnya berkali-kali. Sementara itu, Yama semakin melemah. Keito bisa merasakan aura kehidupan Yama perlahan mulai menghilang.

“Chii, maafkan aku. Aku akan segera mencarimu setelah ini”

Dengan berat hati keito membalikkan badannya dan berjalan mendekati Inoo. Keito memutuskan untuk memulihkan Yama terlebih dahulu. Keito tidak ingin kehilangan Yama. Setelah Yama kembali pulih, keito akan segera mencari Chii.

“kau yakin tidak mencari rubah cilik itu?”, goda Inoo.

Keito menggeleng, “Chii pasti akan baik-baik saja. Aku yakin kalau dia akan datang kemari. Saat ini, Yama lebih membutuhkan pertolongan. Tolong sembuhkan dia. Kau tahu caranya kan?”. Keito menyodorkan tubuh Yama ke Inoo.

“Tentu saja. Ayo masuk”, Inoo mengajak Keito dan Yabu masuk ke dalam ruang perpustakaan.

---***---
Beberapa meter dari perpustakaan, sesosok rubah kecil berjalan pelan di tengah kerumunan makhluk gaib. Rubah itu tampak mengamati satu persatu makhluk gaib yang dia temui. Berkali-kali langkahnya terhenti saat mendengar namanya dipanggil.

“Maafkan saya Keito-sama. Untuk kali ini, saya tidak bisa memenuhi panggilan Keito-sama”

Chii kembali berjalan dan mengamati makhluk gaib satu-persatu. Dia berusaha menutup telinganya rapat-rapat agar tidak mendengar suara Keito yang memanggilnya berulang kali. Hati Chii terus merasa sakit saat mendengar suara Keito. Akan tetapi, Chii merasa kalau urusan yang ada di hadapannya ini lebih penting.

“Dimana dia? Aku bisa merasakan dengan jelas kalau dia ada di sekitar sini”, gumam Chii. “Seandainya aku bisa mengingat dengan jelas sosok demon itu, aku bisa langsung mengenalinya dengan sekejap”

Chii terus berjalan mengikuti instingnya. Semakin lama, dia merasa aura demon itu semakin kuat. Chii melangkahkan kakinya dengan terburu-buru. Dia ingin segera menemui demon yang dicarinya itu.

---***---
“Hei, dia datang mencarimu”

“Eh, dia siapa?”


“Kau lupa? Si rubah putih itu. Dewa pelindung yang kau ambil kekuatannya 10 tahun yang lalu”

Tsuzuku ~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar