Minggu, 17 Mei 2015

Jealous

FF One Shoot TakaDai

Genre : Romance, Shounen Ai

Suara alunan musik terdengar si sebuah ruangan. Bersama dengan alunan musik itu, terdengar hentakan kaki yang bergerak sesuai irama. Beberapa grup Johnny's junior berkumpul disana untuk latihan.

Bokura wa heisei only...

Yup itulah salah satu lirik lagu yang berdengung di ruangan itu. Grup Hey! Say! 7 sedang melakukan latihan untuk perform mereka di Music Station keesokan harinya. Lagu Hey! Say! yang dibawakan oleh grup ini sedang popular Dan menduduki puncak Oricon selama beberapa hari ini. Meskipun grup ini hanya bersifat kontemporer, tapi ini merupakan suatu prestasi yang menggembirakan. Terlebih lagu ini digunakan sebagai OST sebuah anime yang berjudul lovely complex. Menambah kepopuleran lagu ini.

Yuto, Yamada, Chinen Dan Yuya terlihat gembira karena hasil yang mereka capai. Berkali-kali mereka mendapat ucapan selamat Dan pujian, baik Dari sesama junior, senpai, bahkan Dari staff. Terkecuali Daiki. Meskipun dia tetap tersenyum seperti biasa, tapi aura murung tetap tergambar di wajahnya.

"Kau kenapa?", tanya Inoo, sang ketua Dari grup Johnny's Jr yang sama dengan Daiki, J.J.Ekspress. Hubungan Daiki dan Inoo memang cukup dekat. Sejak grup ini terbentuk, mereka selalu bersama.

Daiki menghela nafas panjang. "Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit lelah". Daiki menutupi kepalanya dengan selembar handuk yang dia bawa. Meskipun kepalanya tertutup handuk, matanya masih bisa melihat sosok Yuya yang sedang duduk di kursi yang berseberangan dengannya, di pangkuan Yuya, Chinen duduk disana. Dada Daiki langsung terasa panas. Rasa panas itu semakin menjadi saat melihat Yuya dan Chinen asyik berbincang dengan akrab. Sesekali Yuya tertawa lebar, mukanya terlihat sangat senang. Daiki langsung menundukkan kepalanya. Dia tidak ingin melihat adegan itu lebih lama lagi.

Beberapa hari ini Daiki memang selalu gelisah. Dia selalu merasa kesal saat melihat kedekatan Yuya dan Chinen. Daiki tahu kalau Chinen suka duduk di pangkuan orang. Bahkan Chinen pernah duduk di pangkuannya. Tapi, dia tetap merasa tidak suka melihat kedekatan Yuya dan Chinen.

"Padahal aku yang paling dekat dengannya", gumam Daiki pelan. Inoo yang duduk di samping Daiki secara tidak sengaja mendengar ucapan Daiki. Inoo langsung melihat ke arah Yuya yang sedang memangku Chinen. Tanpa perlu penjelasan, Inoo langsung mengerti kenapa Daiki bertingkah seperti itu. Dia tersenyum simpul, seperti sedang merencanakan sesuatu.

"Latihan selesai!", ucap sang pelatih. Beberapa junior yang lain langsung merasa lega saat akhirnya latihan dance mereka yang cukup ketat berakhir.

Daiki langsung menuju ke ruang ganti. Dia ingin cepat-cepat pulang. Dia tidak tahan melihat keakraban Yuya dan Chinen lebih lama lagi. Daiki lalu membereskan tasnya dan bersiap untuk pulang.

"Kau mau pulang?".

Daiki tersentak kaget saat mendengar suara yang cukup dikenalnya itu. Perlahan Daiki menoleh, benar saja, Yuya berdiri di depan pintu.

"Kau kenapa? Inoo bilang kau aneh akhir-akhir ini. Kau juga sepertinya menjauhiku belakangan hari ini", tanya Yuya. Daiki terdiam. Dia tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan itu. Haruskah dia berkata kalau dia tidak suka melihat Yuya akrab dengan Chinen?

"Tidak apa-apa kok. Aku hanya sedikit capek. Aku ingin segera pulang". Daiki lalu bergegas menuju pintu.

"Kalau begitu tunggu aku. Aku juga ingin pulang. Kita pulang bersama ya..", Yuya mencegah Daiki keluar dengan mencengkeram tangannya. Entah kenapa, spontan Daiki langsung mengibaskan tangannya. Yuya terbelalak kaget melihat sikap Daiki.

"Ah... Eh... Aku pulang sendiri saja. Kau pulang bareng dengan Chinen saja", Daiki mencoba mencari alasan.

"Chinen? Rumahku dan rumahnya kan tidak searah. Terlebih lagi, kenapa kau bawa-bawa nama Chinen?".

"Kalian kan sangat akrab akhir-akhir ini. Aku sering melihat kalian bermain bersama. Chinen juga sering duduk di pangkuanmu".

Yuya tersenyum saat mendengar ucapan Daiki. "Kau cemburu?".

Daiki mengalihkan kepalanya, "tidak kok".

Yuya langsung menarik tangan Daiki. Daiki tidak bisa melawan Yuya yang memiliki tenaga lebih besar darinya. Tidak lama, Daiki mendapati dirinya kini duduk berhadapan dengan Yuya. Tidak hanya itu, Daiki kini duduk di pangkuan Yuya. Sama seperti yang dilakukan Chinen. Yuya melingkarkan kedua tangannya di pinggang Daiki, mengunci gerakan Daiki, seakan tidak ingin membiarkan Daiki lari.

"Apa yang kau lakukan?", Daiki berusaha melepaskan diri Dari Yuya. Akan tetapi Yuya Malah semakin memperat pelukannya. "Lepaskan! Kalau ada yang datang bagaimana?".

"Tidak mau. Aku tidak akan melepaskannya sampai kau bilang kau tidak marah padaku".

"Aku tidak marah kok. Sudah, Ayo cepat lepaskan!", Daiki tetap berontak. Tapi Yuya tetap tidak melonggarkan pelukannya.

"Kau masih marah tuh. Aku tidak mau melepaskannya, kecuali...", Yuya menatap wajah Daiki. Mata Yuya menatap lekat mata Daiki. Daiki seakan terbius oleh pandangan mata Yuya.

"Apa?", tanya Daiki.

"Kau memberikan sebuah ciuman padaku. Disini", Yuya menunjuk bibirnya. Daiki terkejut mendengar permintaan Yuya. Daiki mengalihkan pandangannya, dia malu melakukan permintaan Yuya itu.

"Kau tidak mau melakukannya? Berarti aku tidak akan melepaskanmu bahkan kalau teman-teman datang, aku akan tetap seperti ini".

Daiki menelan ludah. Dia bisa mendengar suara Dari balik pintu. Teman-temannya sudah mulai menuju kemari. Dia tidak ingin dilihat teman-temannya dalam kondisi yang memalukan ini. "Baiklah...". Daiki mulai mendekatkan bibirnya ke arah bibir Yuya. Salah satu tangan Yuya memegang kepala Daiki, memastikan kalau Daiki tidak akan berpaling lagi.

CKLEK. Pintu ruangan terbuka. Yuto, Inoo, dan beberapa junior lainnya mulai masuk ke dalan ruangan.

"Eh, ternyata kalian berdua ada disini", ucap Yuto.

Yamada melihat ke arah Daiki yang berdiri diam. "Daichan, kau kenapa? Mukamu sepertinya merah sekali. Kau sakit?".

"Tampaknya dia sedikit demam", Yuya langsung memegang tangan Daiki. "Kami berdua pulang dulu ya. Sampai besok". Yuya dan Daiki berlalu keluar meninggalkan ruangan. Inoo tersenyum kecil melihat kedua temannya itu. Kurang lebih dia tahu apa yang terjadi di antara mereka berdua.

Mereka berdua kini telah keluar Dari kantor. Lampu-lampu jalan mulai menyala. Langit telah berubah menjadi gelap. Tampaknya hari sudah mulai menjelang malam.

"Hei, mau sampai kapan kau menggandeng tanganku. Ayo lepaskan, kalau dilihat orang bagaimana?". Daiki akhirnya mulai membuka suara. Wajahnya masih terlihat merah.

Yuya melihat ke sekeliling mereka, "Tidak ada orang yang melihat kok. Lagian sekarang sudah malam. Tidak ada yang bisa melihat dengan jelas apa yang kita lakukan".

"Tapi...".

"Kalau kau mau, sebenarnya Dari tadi kau bisa melepaskan tanganku kan? Tapi kau tidak melakukannya", Yuya tersenyum. Daiki langsung mengalihkan pandangannya. Jantungnya terus berdebar kencang sejak di ruang ganti tadi. Benar kata Yuya, kalaupun dia mau dia bisa melepaskan tangan Yuya Dari tadi. Tapi dia tidak melakukannya.

"Daiki...", bisik Yuya lembut. Daiki tersentak kaget. "Kau manis kalau sedang cemburu".

BLETAK! Daiki langsung menjitak kepala Yuya. "BAKAAA!!!!"

END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar