Genre : Drama, School Life, Shounen Ai
Cast : All member JUMP
Main Cast : Takaki Yuya and Arioka Daiki
Intro
Musim semi telah tiba, menandakan bahwa tahun ajaran baru telah dimulai. Bunga sakura yang mekar dengan indahnya seperti menyambut para siswa baru yang bersiap untuk memulai kehidupan baru di sekolah baru. Muka-muka sumringah terpancar di wajah para siswa baru itu. Dengan langkah semangat, mereka mulai melangkahkan kaki menuju ke SMA Horikoshi. Salah satu sekolah favorit di kota ini.
Di tengah-tengah muka bahagia para siswa baru, ada satu siswa yang tampak murung. Aura hitam tampak menyelimuti dirinya. Sesekali dia menendang kerikil yang ada di jalan. Sesekali juga dia menghela nafas panjang. Sama sekali tidak ada semangat yang terpancar di tubuhnya.
"Daichan... daijoubu?", seorang cowok cantik menepuk bahunya. Raut wajahnya tampak sangat khawatir melihat kondisi teman cowoknya yang tampak tidak bersemangat.
"Daijoubu yama chan. Aku hanya sedikit mengantuk", balas cowok yang dipanggil 'daichan' tersebut.
Cowok itu kemudian menepuk bahu daichan itu sekali lagi. "Tidak usah sok tegar. Aku tahu kok kalau ini sangat berat bagimu. Aku siap mendengarkan keluh kesahmu kapan saja".
Daiki, nama sebenarnya cowok itu, mengangguk sambil tersenyum. Teman cowoknya ini memang sangat perhatian padanya. Yamada memang selalu menemaninya di saat susah. Saat Daiki terpuruk akibat ditinggal sang nenek 3 hari yang lalu, Yamada selalu menemaninya.
Nenek. Daiki teringat kembali pada neneknya. Dia masih belum bisa melupakan kesedihan akibat kehilangan sang nenek. Baginya, neneknya adalah satu-satunya keluarganya. Ibu Daiki sudah tiada saat Daiki masih bayi, sedangkan ayahnya sibuk bekerja di luar negeri sejak kematian ibunya. Semenjak itu, Daiki tinggal bersama dengan neneknya. Daiki adalah anak tunggal, sehingga dia selalu bermanja pada neneknya itu.
Sebulan yang lalu, kesehatan neneknya menurun. Daiki sudah sangat cemas bila kesehatan neneknya semakin memburuk. Ketakutan Daiki akhirnya terbukti, 3 hari yang lalu, neneknya akhirnya meninggalkannya seorang diri. Daiki terus menangis semenjak kematian sang nenek. Hingga hari ini, duka masih menyelimutinya.
"Berarti mulai hari ini kau akan tinggal di asrama ya?", tanya Yamada. Daiki mengangguk.
"Kenapa kau tidak tinggal di rumahku saja sih? Ibuku juga sudah menawarkan agar kau tinggal bersama kami kan?", tanya Yamada lagi.
Daiki menggeleng. "Aku tidak mau merepotkan kalian. Ayah juga setuju aku tinggal di asrama. Lagipula, di asrama nanti hidupku jelas terjamin kok".
"Baiklah. Kalau itu sudah keputusanmu, apa boleh buat. Pintu rumah kami selalu terbuka untukmu kok"
Daiki tersenyum pada teman kecilnya itu. Keluarga Yamada memang sangat baik padanya. Daiki merasa selalu di tolong oleh kebaikan keluarga itu.
Daiki dan Yamada berjalan menuju sekolah. Sesampainya disana, mereka langsung masuk ke aula untuk melaksanakan upacara penerimaan siswa baru. Disana, Daiki dan Yama berpisah karena kelas mereka berbeda. Daiki di kelas 1-3, Yama di kelas 1-4.
Daiki mengambil tempat di dalam barisan. Dia berdiri di sebelah cowok yang cukup tinggi. Daiki melirik sekilas ke arah cowok yang ada di sebelahnya. Cowok itu berambut pirang, kulitnya yang tampak berwarna kecoklatan terlihat sedikit eksotis. Di telinganya, ada sebuah anting yang menggantung. Daiki juga bisa melihat sebuah kalung berantai di kerah bajunya yang terbuka. Kesimpulan Daiki : anak yang ada di sebelahnya ini adalah anak yang kurang baik dan bermasalah. Daiki memutuskan agar tidak terlalu dekat dengan anak ini.
Setelah upacara penerimaan siswa baru selesai, Daiki bergegas menuju ke asrama sekolah yang letaknya tidak jauh Dari sana. Dia ingin segera merapikan barangnya yang sudah lebih dulu tiba di asrama. Sebenarnya jadwal masuk asrama itu kemarin, tapi Daiki baru bisa masuk ke asrama hari ini.
"Selamat datang di asrama bulan. Namaku Okamoto Keito, aku wakil ketua asrama ini. Siapa namamu?", seorang cowok yang bertubuh cukup kekar menyambut kedatangan Daiki.
"Arioka Daiki"
"Arioka ya...", cowok itu membuka lembaran kertas yang dia bawa, seperti mencari sesuatu. "Ah, kamarmu nomor 111, Ayo kuantar".
Daiki masuk ke dalam asrama mengikuti Keito Dari belakang. Asrama itu cukup bersih untuk ukuran asrama pria. Awalnya Daiki mengira kalau kondisi asrama akan berantakan, tapi dugaannya salah.
"Ini kamarmu", mereka berdua berhenti di sebuah kamar yang bertuliskan '111'. Di samping pintu kamar, ada 2 plat nama yang terpasang. Arioka Daiki dan Takaki Yuya.
"Takaki Yuya", gumam Daiki pelan. Dia penasaran bagaimana rupa teman sekamarnya itu. Keito mengetuk pintu kamar, tapi tidak ada jawaban.
"Tampaknya Takaki belum kembali kemari", gumam Keito.
"Ada apa kalian di kamarku?", seorang cowok tinggi berambut pirang menghampiri mereka. Daiki mengenali sosok cowok itu, cowok yang berdiri di sebelahnya saat upacara.
"Takaki, dia ini Arioka Daiki, teman sekamarmu. Arioka, dia Takaki Yuya", Keito memperkenalkan mereka berdua.
Yuya hanya melengos masuk ke dalam kamar tanpa mempedulikan Daiki. Daiki sendiri hanya terdiam di depan pintu. Baru saja Daiki berniat agar tidak terlalu dekat dengan cowok itu, tapi tanpa diduga mereka berdua Malah teman sekamar.
"Bagaimana kehidupanku di asrama ini???"
Di tengah-tengah muka bahagia para siswa baru, ada satu siswa yang tampak murung. Aura hitam tampak menyelimuti dirinya. Sesekali dia menendang kerikil yang ada di jalan. Sesekali juga dia menghela nafas panjang. Sama sekali tidak ada semangat yang terpancar di tubuhnya.
"Daichan... daijoubu?", seorang cowok cantik menepuk bahunya. Raut wajahnya tampak sangat khawatir melihat kondisi teman cowoknya yang tampak tidak bersemangat.
"Daijoubu yama chan. Aku hanya sedikit mengantuk", balas cowok yang dipanggil 'daichan' tersebut.
Cowok itu kemudian menepuk bahu daichan itu sekali lagi. "Tidak usah sok tegar. Aku tahu kok kalau ini sangat berat bagimu. Aku siap mendengarkan keluh kesahmu kapan saja".
Daiki, nama sebenarnya cowok itu, mengangguk sambil tersenyum. Teman cowoknya ini memang sangat perhatian padanya. Yamada memang selalu menemaninya di saat susah. Saat Daiki terpuruk akibat ditinggal sang nenek 3 hari yang lalu, Yamada selalu menemaninya.
Nenek. Daiki teringat kembali pada neneknya. Dia masih belum bisa melupakan kesedihan akibat kehilangan sang nenek. Baginya, neneknya adalah satu-satunya keluarganya. Ibu Daiki sudah tiada saat Daiki masih bayi, sedangkan ayahnya sibuk bekerja di luar negeri sejak kematian ibunya. Semenjak itu, Daiki tinggal bersama dengan neneknya. Daiki adalah anak tunggal, sehingga dia selalu bermanja pada neneknya itu.
Sebulan yang lalu, kesehatan neneknya menurun. Daiki sudah sangat cemas bila kesehatan neneknya semakin memburuk. Ketakutan Daiki akhirnya terbukti, 3 hari yang lalu, neneknya akhirnya meninggalkannya seorang diri. Daiki terus menangis semenjak kematian sang nenek. Hingga hari ini, duka masih menyelimutinya.
"Berarti mulai hari ini kau akan tinggal di asrama ya?", tanya Yamada. Daiki mengangguk.
"Kenapa kau tidak tinggal di rumahku saja sih? Ibuku juga sudah menawarkan agar kau tinggal bersama kami kan?", tanya Yamada lagi.
Daiki menggeleng. "Aku tidak mau merepotkan kalian. Ayah juga setuju aku tinggal di asrama. Lagipula, di asrama nanti hidupku jelas terjamin kok".
"Baiklah. Kalau itu sudah keputusanmu, apa boleh buat. Pintu rumah kami selalu terbuka untukmu kok"
Daiki tersenyum pada teman kecilnya itu. Keluarga Yamada memang sangat baik padanya. Daiki merasa selalu di tolong oleh kebaikan keluarga itu.
Daiki dan Yamada berjalan menuju sekolah. Sesampainya disana, mereka langsung masuk ke aula untuk melaksanakan upacara penerimaan siswa baru. Disana, Daiki dan Yama berpisah karena kelas mereka berbeda. Daiki di kelas 1-3, Yama di kelas 1-4.
Daiki mengambil tempat di dalam barisan. Dia berdiri di sebelah cowok yang cukup tinggi. Daiki melirik sekilas ke arah cowok yang ada di sebelahnya. Cowok itu berambut pirang, kulitnya yang tampak berwarna kecoklatan terlihat sedikit eksotis. Di telinganya, ada sebuah anting yang menggantung. Daiki juga bisa melihat sebuah kalung berantai di kerah bajunya yang terbuka. Kesimpulan Daiki : anak yang ada di sebelahnya ini adalah anak yang kurang baik dan bermasalah. Daiki memutuskan agar tidak terlalu dekat dengan anak ini.
Setelah upacara penerimaan siswa baru selesai, Daiki bergegas menuju ke asrama sekolah yang letaknya tidak jauh Dari sana. Dia ingin segera merapikan barangnya yang sudah lebih dulu tiba di asrama. Sebenarnya jadwal masuk asrama itu kemarin, tapi Daiki baru bisa masuk ke asrama hari ini.
"Selamat datang di asrama bulan. Namaku Okamoto Keito, aku wakil ketua asrama ini. Siapa namamu?", seorang cowok yang bertubuh cukup kekar menyambut kedatangan Daiki.
"Arioka Daiki"
"Arioka ya...", cowok itu membuka lembaran kertas yang dia bawa, seperti mencari sesuatu. "Ah, kamarmu nomor 111, Ayo kuantar".
Daiki masuk ke dalam asrama mengikuti Keito Dari belakang. Asrama itu cukup bersih untuk ukuran asrama pria. Awalnya Daiki mengira kalau kondisi asrama akan berantakan, tapi dugaannya salah.
"Ini kamarmu", mereka berdua berhenti di sebuah kamar yang bertuliskan '111'. Di samping pintu kamar, ada 2 plat nama yang terpasang. Arioka Daiki dan Takaki Yuya.
"Takaki Yuya", gumam Daiki pelan. Dia penasaran bagaimana rupa teman sekamarnya itu. Keito mengetuk pintu kamar, tapi tidak ada jawaban.
"Tampaknya Takaki belum kembali kemari", gumam Keito.
"Ada apa kalian di kamarku?", seorang cowok tinggi berambut pirang menghampiri mereka. Daiki mengenali sosok cowok itu, cowok yang berdiri di sebelahnya saat upacara.
"Takaki, dia ini Arioka Daiki, teman sekamarmu. Arioka, dia Takaki Yuya", Keito memperkenalkan mereka berdua.
Yuya hanya melengos masuk ke dalam kamar tanpa mempedulikan Daiki. Daiki sendiri hanya terdiam di depan pintu. Baru saja Daiki berniat agar tidak terlalu dekat dengan cowok itu, tapi tanpa diduga mereka berdua Malah teman sekamar.
"Bagaimana kehidupanku di asrama ini???"
CHAPTER 1
Sekolah Horikoshi adalah salah
satu sekolah favorit di kota ini. Banyak anak yang ingin menempuh pendidikan di
sekolah ini. Ada gosip yang beredar kalau lulusan sekolah ini lebih mudah
mendapatkan rekomendasi universitas untuk kuliah. Bahkan lulusan sekolah ini
juga lebih mudah mendapatkan pekerjaan karena rekomendasi sekolah. Karena gosip
seperti itu, maka banyak anak yang berlomba masuk ke sekolah ini. Karena banyak
peminat yang masuk, maka standar nilai yang diterapkan sekolah ini juga tinggi.
Tidak heran kalau sekolah ini juga terkenal dengan murid-muridnya yang pintar.
Murid sekolah ini tidak hanya
berasal dari kota Tokyo saja. Ada juga siswa yang datang jauh-jauh dari
Hiroshima, atau sendai yang ingin bersekolah disini. Untuk siswa yang berasal
dari luar kota, sekolah menyediakan fasilitas asrama bagi mereka. Fasilitas
asrama juga bisa digunakan siswa yang ingin tinggal sendiri.
Asrama sekolah Horikoshi terletak
di 2 tempat. Di sebelah kiri sekolah Horikoshi adalah asrama bulan, tempat asrama
laki-laki. Di sebelah kanan sekolah Horikoshi adalah asrama matahari, tempat
asrama perempuan.
Suasana asrama hari ini sangat
ramai, baik di asrama bulan maupun di asrama matahari. Kehadiran anak kelas 1
yang baru masuk ke dalam asrama membuat suasana asrama yang sebelumnya sedikit
sepi setelah ditinggalkan murid kelas 3, kembali ramai dengan kehadiran murid
baru. Murid-murid baru tampak sibuk membereskan barang-barang mereka di dalam
kamar masing-masing. Satu kamar dalam asrama diisi oleh 2 orang. Asrama ini
terdiri dari 3 lantai. Lantai 1 dihuni oleh murid baru, lantai 2 dihuni oleh
siswa kelas 2, sedangkan lantai 3 dihuni oleh siswa kelas 3.
Daiki tetap berdiri terpaku di
depan kamar bernomor 111. Keito, sang wakil ketua asrama, telah meninggalkannya
seorang diri disana. Keito tadi segera pergi untuk membantu murid kelas 1 yang
baru masuk. Pintu kamar telah terbuka, tapi Daiki sama sekali tidak berniat
untuk masuk ke dalam kamar setelah mengetahui siapa yang telah menjadi teman
sekamarnya.
“Mau sampai kapan kau ada disitu?
Cepat bereskan barangmu ini. Mengganggu jalan tahu”
Daiki bersungut kesal mendengar
ucapan Yuya. Dengan enggan dia akhirnya melangkah masuk ke dalam kamar. Daiki
melihat isi kamar dengan seksama. Dia sama sekali tidak menyangka fasilitas
dalam kamar asrama begitu lengkap. Ada 2 tempat tidur single bed yang terletak
di sebelah kanan dan kiri. Di samping tempat tidur juga terdapat 2 meja belajar
dan 2 lemari. Di tengah kamar, di atas jendela, ada sebuah AC. Bahkan kamar ini
juga dilengkapi kamar mandi.
“Aku tidur disini, kau tidur
disana”, tunjuk Yuya ke tempat tidur yang ada di sebelah kanan ruangan.
Daiki mengangguk setuju. Dia sama
sekali tidak peduli mau tidur dimana, toh semuanya sama. Dia lalu menuju ke
tumpukan kardus dan tas yang ada di tengah ruangan. satu persatu Daiki mulai
membongkar isi tas dan kardus itu yang berisi barang pribadi miliknya.
Sementara Daiki sibuk membongkar
barangnya, Yuya hanya berbaring santai di kasurnya sambil mendengarkan musik
dan membaca majalah. Dia sama sekali tidak peduli dengan Daiki yang tampak
kerepotan. Bahkan tampaknya dia sama sekali tidak berniat membantu.
Dengan cekatan Daiki meletakkan
baju dan barangnya di tempat yang telah disediakan. Dia bersungut kesal saat
melihat Yuya yang tampak asyik bersantai dan tidak peduli. Yuya bersikap
seakan-akan Daiki tidak ada disana.
“Hei”, panggil Daiki. Tapi Yuya
sama sekali tidak menyahut.
“Hei!”, panggil Daiki lagi. Yuya
tetap asyik mendengarkan musik.
“Hei! Takaki Yuya!”, seru Daiki
kesal. Dia melepas headset Yuya dengan paksa. Yuya melihat Daiki dengan wajah
kesal.
“Apa sih?”
“Kau tidak lihat kalau aku sedang
sibuk? Tidak bisakah kau membantuku membereskan barangku?”
Yuya melirik sekilas ke
barang-barang Daiki yang masih berantakan di tengah ruangan. “Itu kan barang
milikmu. Jadi kau sendiri yang membereskan. Lagipula, kau juga tidak membantuku
saat aku membereskan barangku kemarin, jadi buat apa aku membantumu?”. Yuya
lalu merebut kembali headset yang ada di tangan Daiki. Belum sempat dia
mengenakan headsetnya lagi, tiba-tiba ponsel Yuya berdering.
“Halo? Kei? Ada apa?”
Yuya terdiam sejenak, tampaknya
dia sedang mendengarkan apa yang dibicarakan lawan bicaranya. Daiki mengamati
wajah Yuya yang sedang menerima telepon. Wajahnya terlihat sangat tenang, bahkan
sesekali dia menunjukkan ekspresi yang lembut. Berbeda sekali dengan wajah yang
dilihat Daiki barusan.
“Aku mengerti. Aku akan segera
kesana”
Yuya langsung menutup telepon.
Bergegas dia segera meraih jaketnya yang tergantung. Beberapa menit kemudian dia
sudah menghilang dari kamar, meninggalkan Daiki sendirian di kamar dengan
kondisi barangnya yang masih berantakan.
“Uwaah... dia benar-benar
meninggalkan aku sendiri disini. Kira-kira siapa yang menelepon tadi ya? Dia
tadi memanggilnya ‘Kei’, apa itu nama ceweknya ya?”
Daiki melihat ke arah
barang-barang Yuya. Semuanya sudah tertata rapi pada tempatnya. Perhatian Daiki
kini tertuju pada foto yang terpajang di meja belajar. Dalam foto itu ada Yuya
bersama seorang gadis yang cukup cantik. Mereka berdua tampak dekat dan sedikit
mesra.
“Hee... jangan-jangan cewek ini
yang namanya ‘Kei’, cantik juga. Tidak kusangka cowok preman seperti dia punya
pacar juga. Cantik lagi. Sedangkan aku, sudah 16 tahun terus menjomblo”, keluh
Daiki.
Tiba-tiba Daiki teringat sesuatu.
Dia dengan sigap membongkar barang bawaannya. Beberapa menit kemudian dia
memajang foto neneknya di meja belajar.
“Nek, hari ini aku akan tinggal
di asrama. Lihat aku dari sana ya! Aku janji aku akan jadi anak baik seperti
harapan nenek. Aku juga tidak akan mengecewakan ayah”
Tok, tok, tok
Terdengar suara pintu kamar Daiki
yang diketuk. Daiki segera menuju ke pintu untuk melihat siapa yang telah
mengetuk pintu kamarnya.
“kalian siapa?”, tanya Daiki pada
2 orang siswa yang berdiri di depan pintu.
“Arioka Daiki?”, tanya pemuda
yang bertubuh tinggi. Dia mengulurkan tangannya untuk bersalaman. “Perkenalkan,
namaku Nakajima Yuto, ketua asrama disini. Kau bisa panggil aku Yuto. Aku siswa
kelas 2, kelasku di kelas 2-1. Maafkan aku tadi tidak sempat menyapamu”
“Ah, salam kenal senpai”, balas
Daiki sambil menjabat tangan Yuto. “Kalau yang ini?”, tanya Daiki pada pemuda
yang berdiri di sebelah Yuto.
“Ah, namaku Yaotome Hikaru. Aku
murid kelas 1 sama sepertimu. Kamarku berada tepat di sebelah kamarmu, kamar
no.112, salam kenal ya”, ucap pemuda yang periang itu sambil mengulurkan
tangannya. Daiki pun membalas uluran tangan pemuda itu.
“Arioka-kun, kau sendirian?
Dimana Yuya?”, tanya Yuto
“Ah, sampai tadi dia masih ada
disini. Tiba-tiba dia mendapat telepon dari seseorang yang bernama ‘Kei’. Lalu
dia langsung pergi keluar tanpa mengatakan apapun”, jawab Daiki.
“Lagi-lagi Kei-san”, keluh Yuto.
“Dia memang selalu seperti itu
kalau menyangkut Kei-san”, sahut Hikaru. “Baginya, Kei-san itu nomor 1. Dia
tidak akan mempedulikan orang lain”
Daiki menatap kedua orang yang
ada di hadapannya ini dengan heran. “Kalian berdua kenal dengan Takaki?”
Yuto dan Hikaru saling
berpandangan. “Aku dulu temannya waktu SMP, sedangkan Yuto senpai ini sepupunya
Takaki”, jawab Hikaru.
“Hee...”, gumam Daiki.
Hikaru mengintip sekilas ke dalam
kamar Daiki yang tampak berantakan. “Kau masih membereskan barangmu? Mau
kubantu?”, tawar Hikaru.
Daiki langsung tersenyum cerah
pada Hikaru. Baginya, saat ini Hikaru terlihat seperti seorang malaikat.
Berbeda sekali dengan Yuya yang sama sekali tidak peduli padanya. “Aku sangat
berterimakasih dengan bantuanmu Yaotome. Kau malaikatku. Kau pahlawanku”, ucap
Daiki sambil menggenggam erat tangan Hikaru.
“Ahahaha... tidak usah berlebihan
seperti itu. Sesama teman memang harus menolong kan? Apalagi kita akan tinggal
bersama selama 3 tahun di asrama ini. jadi sudah tentu kita akan saling
membantu kan?”, ucap Hikaru sambil mengedipkan mata kirinya. “Satu hal lagi,
panggil aku Hika. Aku tidak terlalu suka dipanggil Yaotome, terlalu panjang”
Daiki tertawa kecil, “Baiklah,
Hika”
“Maaf ya, aku tidak bisa membantu
kalian. Aku masih ada urusan setelah ini. Kalau kau butuh bantuan, beritahu
saja aku. Kamarku ada di lantai 2, nomor 212”, ucap Yuto sesaat sebelum dia
pergi meninggalkan kamar.
Berkat bantuan Hika, Daiki bisa
lebih cepat membereskan barang-barangnya. Kurang dari 1 jam, semua barang Daiki
telah tertata rapi di tempatnya. Daiki sangat puas melihat kondisi kamarnya
yang kini terlihat lebih rapi.
“Terima kasih ya Hika. Berkatmu
aku bisa lebih cepat membereskan kamar. Kau memang baik, tidak seperti si
Takaki itu”. Daiki memberikan sekaleng minuman pada Hika sebagai ucapan terima
kasih. Daiki masih sedikit kesal mengingat sifat Yuya yang tidak bersahabat.
Hika tertawa. “Takaki dari dulu
memang seperti itu. Dia sama sekali tidak peduli dengan orang lain.
Satu-satunya orang yang dia pedulikan hanyalah Kei-san. Cuma dia yang bisa
menaklukan hewan buas itu”
‘Tampaknya orang yang bernama Kei
ini benar-benar orang yang berarti bagi Takaki’, gumam Daiki sambil melihat
foto Yuya dengan seorang gadis di meja belajar.
“Apa yang ingin kau lakukan
setelah ini?”, tanya Hika sambil meneguk minuman yang diberikan oleh Daiki.
“Umm... Mungkin aku akan
berkeliling asrama ini. Aku ingin melihat asrama ini seluruhnya”
“Kalau begitu aku akan
mengantarmu berkeliling. Aku juga belum menjelajahi asrama ini seluruhnya.
Kunamakan ini, ‘Petualangan dalam Asrama’”, ucap Hika penuh dengan semangat.
Lagaknya sudah seperti orang yang akan menjelajahi hutan saja.
Mereka berdua lalu pergi ke luar
kamar. Mereka menjelajahi asrama itu. Mulai berkeliling tiap kamar asrama dan
berkenalan dengan anak kelas 1 yang lain. Mereka juga menyempatkan diri naik ke
lantai 2 & 3. Sesekali mereka menyapa kakak kelas yang kebetulan berada di
luar kamar. Beberapa ada yang menanggapi mereka dengan ramah. Tapi ada juga
yang sama sekali mengacuhkan mereka. Dalam perjalanan kembali turun ke lantai
1, mereka kembali berpapasan dengan Yuto dan Keito yang tampak sibuk
berkeliling tiap kamar.
“Uaahh.... asrama ini luas juga
ternyata. Kakiku terasa sangat capek sekarang”, ucap Daiki sambil meregangkan
kakinya.
Daiki dan Hika duduk santai di
taman yang terletak di depan asrama. Mereka duduk di bawah salah satu pohon
yang rindang. Angin yang berhembus membuat Daiki sedikit mengantuk.
“Aku takut kalau aku tidak bisa
tinggal di asrama, tapi kurasa sekarang aku akan baik-baik saja”, gumam Daiki.
“Memangnya rumahmu dimana sih?”,
tanya Hika.
“Ah, rumahku ada di Jl.XXXX”,
jawab Daiki sekenanya.
“Eh? Bukankah itu dekat dari
sini? Jaraknya pun tidak jauh dari sini. Kenapa kau malah tinggal di asrama?”
Daiki merebahkan tubuhnya di atas
permukaan tanah yang tertutup rumput tebal sehingga terasa empuk. “Aku tinggal
sendirian disana. Dulu aku tinggal bersama dengan Nenek, tapi nenekku sudah
meninggal 3 hari yang lalu. Jadi, sekarang hanya aku sendiri yang tinggal
disana. Aku tidak suka sendirian disana, apalagi di rumah itu penuh dengan
kenanganku bersama dengan nenek”
“Maafkan aku, aku tidak bermaksud
membuatmu sedih”, Hika merasa tidak enak karena tiba-tiba menyinggung soal yang
tidak ingin diungkit oleh Daiki. “Lalu? Dimana kedua orangtuamu?”
“Ibuku sudah meninggal saat aku
masih kecil. Aku juga tidak terlalu jelas mengingat wajah ibuku. Ayahku sekarang
berada di luar negeri, dia sibuk bekerja dan jarang pulang”
Hika menepuk pundak Daiki.
“Tenang saja. Mulai sekarang kita adalah teman. Aku tidak akan membiarkanmu
merasa kesepian”
“Terima kasih Hika”, ucap Daiki
lega. Dia merasa sangat senang bisa berkenalan dengan orang yang baik seperti
Hika. Seandainya Hika adalah teman sekamarnya juga, tentu Daiki akan lebih
bahagia lagi. Daiki langsung merasa masam lagi saat mengingat teman sekamarnya.
Perhatian Daiki tiba-tiba
terfokus pada sebuah mobil sport mewah yang terparkir di depan pintu gerbang
asrama. Mobil itu tampak cukup mencolok sehingga mudah menjadi pusat perhatian.
Daiki semakin terkejut saat melihat sosok yang turun dari mobil itu.
“Takaki...”, gumam Daiki pelan
saat melihat Yuya turun dari sana. Sesosok wanita cantik juga turun dari arah
pintu kemudi. Daiki mengenali wanita itu. dia adalah wanita yang ada di foto
bersama dengan Yuya.
“Ah, itu Takaki. Dia sudah
kembali. Benar dugaanku, dia pasti sedang berjalan-jalan bersama dengan
Kei-san”, gumam Hika.
‘Kei-san? Jadi wanita cantik itu
adalah orang yang menelepon Takaki tadi?’, gumam Daiki dalam hati.
Daiki terus mengamati Takaki dan
Kei dari kejauhan. Keduanya bagaikan model lukisan berjalan. Mereka sangat
serasi. Tubuh Takaki yang tinggi dan tubuh Kei yang hampir sama tingginya
dengannya membuatnya keduanya terlihat seimbang dan serasi.
Mereka berdua tampak
bercakap-cakap sebentar. Sesekali Yuya tampak sedikit tertawa saat bersama
dengan Kei. Daiki tampak sedikit tertegun melihat Yuya. Yuya yang dilihatnya
saat ini terlihat seperti pemuda SMA biasa. Tidak tampak seperti seorang preman
sedikitpun.
Tanpa sadar Daiki terus mengamati
Yuya. Ekspresi wajah yang berbeda membuat Daiki sedikit tertarik dengan teman
sekamarnya itu.
Daiki sedikit terkejut saat melihat
Yuya mencium pipi Kei sebelum wanita itu kembali masuk ke dalam mobil. Mereka
berdua seperti sepasang kekasih yang berpamitan dengan mesra. Setelah mobil Kei
menjauh, Yuya melangkah masuk ke dalam asrama. Di tangannya terdapat sebuah
kantung plastik. Rupanya dia habis berbelanja dengan Kei.
Entah apa yang dipikirkan Daiki,
dia tiba-tiba berdiri menghadang Yuya.
“Mau apa kau?”, tanya Yuya.
Tsuzuku ~~~ :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar