Jumat, 15 Mei 2015

Dormitory Life

FF series baru nih....

Genre : Drama, School Life, Shounen Ai
Cast : All member JUMP
Main Cast : Takaki Yuya and Arioka Daiki

Intro

Musim semi telah tiba, menandakan bahwa tahun ajaran baru telah dimulai. Bunga sakura yang mekar dengan indahnya seperti menyambut para siswa baru yang bersiap untuk memulai kehidupan baru di sekolah baru. Muka-muka sumringah terpancar di wajah para siswa baru itu. Dengan langkah semangat, mereka mulai melangkahkan kaki menuju ke SMA Horikoshi. Salah satu sekolah favorit di kota ini. 

Di tengah-tengah muka bahagia para siswa baru, ada satu siswa yang tampak murung. Aura hitam tampak menyelimuti dirinya. Sesekali dia menendang kerikil yang ada di jalan. Sesekali juga dia menghela nafas panjang. Sama sekali tidak ada semangat yang terpancar di tubuhnya. 

"Daichan... daijoubu?", seorang cowok cantik menepuk bahunya. Raut wajahnya tampak sangat khawatir melihat kondisi teman cowoknya yang tampak tidak bersemangat. 

"Daijoubu yama chan. Aku hanya sedikit mengantuk", balas cowok yang dipanggil 'daichan' tersebut. 

Cowok itu kemudian menepuk bahu daichan itu sekali lagi. "Tidak usah sok tegar. Aku tahu kok kalau ini sangat berat bagimu. Aku siap mendengarkan keluh kesahmu kapan saja". 

Daiki, nama sebenarnya cowok itu, mengangguk sambil tersenyum. Teman cowoknya ini memang sangat perhatian padanya. Yamada memang selalu menemaninya di saat susah. Saat Daiki terpuruk akibat ditinggal sang nenek 3 hari yang lalu, Yamada selalu menemaninya. 

Nenek. Daiki teringat kembali pada neneknya. Dia masih belum bisa melupakan kesedihan akibat kehilangan sang nenek. Baginya, neneknya adalah satu-satunya keluarganya. Ibu Daiki sudah tiada saat Daiki masih bayi, sedangkan ayahnya sibuk bekerja di luar negeri sejak kematian ibunya. Semenjak itu, Daiki tinggal bersama dengan neneknya. Daiki adalah anak tunggal, sehingga dia selalu bermanja pada neneknya itu. 

Sebulan yang lalu, kesehatan neneknya menurun. Daiki sudah sangat cemas bila kesehatan neneknya semakin memburuk. Ketakutan Daiki akhirnya terbukti, 3 hari yang lalu, neneknya akhirnya meninggalkannya seorang diri. Daiki terus menangis semenjak kematian sang nenek. Hingga hari ini, duka masih menyelimutinya. 

"Berarti mulai hari ini kau akan tinggal di asrama ya?", tanya Yamada. Daiki mengangguk. 

"Kenapa kau tidak tinggal di rumahku saja sih? Ibuku juga sudah menawarkan agar kau tinggal bersama kami kan?", tanya Yamada lagi. 

Daiki menggeleng. "Aku tidak mau merepotkan kalian. Ayah juga setuju aku tinggal di asrama. Lagipula, di asrama nanti hidupku jelas terjamin kok". 

"Baiklah. Kalau itu sudah keputusanmu, apa boleh buat. Pintu rumah kami selalu terbuka untukmu kok" 

Daiki tersenyum pada teman kecilnya itu. Keluarga Yamada memang sangat baik padanya. Daiki merasa selalu di tolong oleh kebaikan keluarga itu. 

Daiki dan Yamada berjalan menuju sekolah. Sesampainya disana, mereka langsung masuk ke aula untuk melaksanakan upacara penerimaan siswa baru. Disana, Daiki dan Yama berpisah karena kelas mereka berbeda. Daiki di kelas 1-3, Yama di kelas 1-4. 

Daiki mengambil tempat di dalam barisan. Dia berdiri di sebelah cowok yang cukup tinggi. Daiki melirik sekilas ke arah cowok yang ada di sebelahnya. Cowok itu berambut pirang, kulitnya yang tampak berwarna kecoklatan terlihat sedikit eksotis. Di telinganya, ada sebuah anting yang menggantung. Daiki juga bisa melihat sebuah kalung berantai di kerah bajunya yang terbuka. Kesimpulan Daiki : anak yang ada di sebelahnya ini adalah anak yang kurang baik dan bermasalah. Daiki memutuskan agar tidak terlalu dekat dengan anak ini. 

Setelah upacara penerimaan siswa baru selesai, Daiki bergegas menuju ke asrama sekolah yang letaknya tidak jauh Dari sana. Dia ingin segera merapikan barangnya yang sudah lebih dulu tiba di asrama. Sebenarnya jadwal masuk asrama itu kemarin, tapi Daiki baru bisa masuk ke asrama hari ini. 

"Selamat datang di asrama bulan. Namaku Okamoto Keito, aku wakil ketua asrama ini. Siapa namamu?", seorang cowok yang bertubuh cukup kekar menyambut kedatangan Daiki. 

"Arioka Daiki" 

"Arioka ya...", cowok itu membuka lembaran kertas yang dia bawa, seperti mencari sesuatu. "Ah, kamarmu nomor 111, Ayo kuantar". 

Daiki masuk ke dalam asrama mengikuti Keito Dari belakang. Asrama itu cukup bersih untuk ukuran asrama pria. Awalnya Daiki mengira kalau kondisi asrama akan berantakan, tapi dugaannya salah. 

"Ini kamarmu", mereka berdua berhenti di sebuah kamar yang bertuliskan '111'. Di samping pintu kamar, ada 2 plat nama yang terpasang. Arioka Daiki dan Takaki Yuya. 

"Takaki Yuya", gumam Daiki pelan. Dia penasaran bagaimana rupa teman sekamarnya itu. Keito mengetuk pintu kamar, tapi tidak ada jawaban. 

"Tampaknya Takaki belum kembali kemari", gumam Keito. 

"Ada apa kalian di kamarku?", seorang cowok tinggi berambut pirang menghampiri mereka. Daiki mengenali sosok cowok itu, cowok yang berdiri di sebelahnya saat upacara. 

"Takaki, dia ini Arioka Daiki, teman sekamarmu. Arioka, dia Takaki Yuya", Keito memperkenalkan mereka berdua. 

Yuya hanya melengos masuk ke dalam kamar tanpa mempedulikan Daiki. Daiki sendiri hanya terdiam di depan pintu. Baru saja Daiki berniat agar tidak terlalu dekat dengan cowok itu, tapi tanpa diduga mereka berdua Malah teman sekamar. 

"Bagaimana kehidupanku di asrama ini???"

CHAPTER 1

Sekolah Horikoshi adalah salah satu sekolah favorit di kota ini. Banyak anak yang ingin menempuh pendidikan di sekolah ini. Ada gosip yang beredar kalau lulusan sekolah ini lebih mudah mendapatkan rekomendasi universitas untuk kuliah. Bahkan lulusan sekolah ini juga lebih mudah mendapatkan pekerjaan karena rekomendasi sekolah. Karena gosip seperti itu, maka banyak anak yang berlomba masuk ke sekolah ini. Karena banyak peminat yang masuk, maka standar nilai yang diterapkan sekolah ini juga tinggi. Tidak heran kalau sekolah ini juga terkenal dengan murid-muridnya yang pintar.

Murid sekolah ini tidak hanya berasal dari kota Tokyo saja. Ada juga siswa yang datang jauh-jauh dari Hiroshima, atau sendai yang ingin bersekolah disini. Untuk siswa yang berasal dari luar kota, sekolah menyediakan fasilitas asrama bagi mereka. Fasilitas asrama juga bisa digunakan siswa yang ingin tinggal sendiri.

Asrama sekolah Horikoshi terletak di 2 tempat. Di sebelah kiri sekolah Horikoshi adalah asrama bulan, tempat asrama laki-laki. Di sebelah kanan sekolah Horikoshi adalah asrama matahari, tempat asrama perempuan.

Suasana asrama hari ini sangat ramai, baik di asrama bulan maupun di asrama matahari. Kehadiran anak kelas 1 yang baru masuk ke dalam asrama membuat suasana asrama yang sebelumnya sedikit sepi setelah ditinggalkan murid kelas 3, kembali ramai dengan kehadiran murid baru. Murid-murid baru tampak sibuk membereskan barang-barang mereka di dalam kamar masing-masing. Satu kamar dalam asrama diisi oleh 2 orang. Asrama ini terdiri dari 3 lantai. Lantai 1 dihuni oleh murid baru, lantai 2 dihuni oleh siswa kelas 2, sedangkan lantai 3 dihuni oleh siswa kelas 3.

Daiki tetap berdiri terpaku di depan kamar bernomor 111. Keito, sang wakil ketua asrama, telah meninggalkannya seorang diri disana. Keito tadi segera pergi untuk membantu murid kelas 1 yang baru masuk. Pintu kamar telah terbuka, tapi Daiki sama sekali tidak berniat untuk masuk ke dalam kamar setelah mengetahui siapa yang telah menjadi teman sekamarnya.

“Mau sampai kapan kau ada disitu? Cepat bereskan barangmu ini. Mengganggu jalan tahu”

Daiki bersungut kesal mendengar ucapan Yuya. Dengan enggan dia akhirnya melangkah masuk ke dalam kamar. Daiki melihat isi kamar dengan seksama. Dia sama sekali tidak menyangka fasilitas dalam kamar asrama begitu lengkap. Ada 2 tempat tidur single bed yang terletak di sebelah kanan dan kiri. Di samping tempat tidur juga terdapat 2 meja belajar dan 2 lemari. Di tengah kamar, di atas jendela, ada sebuah AC. Bahkan kamar ini juga dilengkapi kamar mandi.

“Aku tidur disini, kau tidur disana”, tunjuk Yuya ke tempat tidur yang ada di sebelah kanan ruangan.
Daiki mengangguk setuju. Dia sama sekali tidak peduli mau tidur dimana, toh semuanya sama. Dia lalu menuju ke tumpukan kardus dan tas yang ada di tengah ruangan. satu persatu Daiki mulai membongkar isi tas dan kardus itu yang berisi barang pribadi miliknya.

Sementara Daiki sibuk membongkar barangnya, Yuya hanya berbaring santai di kasurnya sambil mendengarkan musik dan membaca majalah. Dia sama sekali tidak peduli dengan Daiki yang tampak kerepotan. Bahkan tampaknya dia sama sekali tidak berniat membantu.

Dengan cekatan Daiki meletakkan baju dan barangnya di tempat yang telah disediakan. Dia bersungut kesal saat melihat Yuya yang tampak asyik bersantai dan tidak peduli. Yuya bersikap seakan-akan Daiki tidak ada disana.

“Hei”, panggil Daiki. Tapi Yuya sama sekali tidak menyahut.

“Hei!”, panggil Daiki lagi. Yuya tetap asyik mendengarkan musik.

“Hei! Takaki Yuya!”, seru Daiki kesal. Dia melepas headset Yuya dengan paksa. Yuya melihat Daiki dengan wajah kesal.

“Apa sih?”

“Kau tidak lihat kalau aku sedang sibuk? Tidak bisakah kau membantuku membereskan barangku?”
Yuya melirik sekilas ke barang-barang Daiki yang masih berantakan di tengah ruangan. “Itu kan barang milikmu. Jadi kau sendiri yang membereskan. Lagipula, kau juga tidak membantuku saat aku membereskan barangku kemarin, jadi buat apa aku membantumu?”. Yuya lalu merebut kembali headset yang ada di tangan Daiki. Belum sempat dia mengenakan headsetnya lagi, tiba-tiba ponsel Yuya berdering.

“Halo? Kei? Ada apa?”

Yuya terdiam sejenak, tampaknya dia sedang mendengarkan apa yang dibicarakan lawan bicaranya. Daiki mengamati wajah Yuya yang sedang menerima telepon. Wajahnya terlihat sangat tenang, bahkan sesekali dia menunjukkan ekspresi yang lembut. Berbeda sekali dengan wajah yang dilihat Daiki barusan.

“Aku mengerti. Aku akan segera kesana”

Yuya langsung menutup telepon. Bergegas dia segera meraih jaketnya yang tergantung. Beberapa menit kemudian dia sudah menghilang dari kamar, meninggalkan Daiki sendirian di kamar dengan kondisi barangnya yang masih berantakan.

“Uwaah... dia benar-benar meninggalkan aku sendiri disini. Kira-kira siapa yang menelepon tadi ya? Dia tadi memanggilnya ‘Kei’, apa itu nama ceweknya ya?”

Daiki melihat ke arah barang-barang Yuya. Semuanya sudah tertata rapi pada tempatnya. Perhatian Daiki kini tertuju pada foto yang terpajang di meja belajar. Dalam foto itu ada Yuya bersama seorang gadis yang cukup cantik. Mereka berdua tampak dekat dan sedikit mesra.

“Hee... jangan-jangan cewek ini yang namanya ‘Kei’, cantik juga. Tidak kusangka cowok preman seperti dia punya pacar juga. Cantik lagi. Sedangkan aku, sudah 16 tahun terus menjomblo”, keluh Daiki.

Tiba-tiba Daiki teringat sesuatu. Dia dengan sigap membongkar barang bawaannya. Beberapa menit kemudian dia memajang foto neneknya di meja belajar.

“Nek, hari ini aku akan tinggal di asrama. Lihat aku dari sana ya! Aku janji aku akan jadi anak baik seperti harapan nenek. Aku juga tidak akan mengecewakan ayah”

Tok, tok, tok

Terdengar suara pintu kamar Daiki yang diketuk. Daiki segera menuju ke pintu untuk melihat siapa yang telah mengetuk pintu kamarnya.

“kalian siapa?”, tanya Daiki pada 2 orang siswa yang berdiri di depan pintu.

“Arioka Daiki?”, tanya pemuda yang bertubuh tinggi. Dia mengulurkan tangannya untuk bersalaman. “Perkenalkan, namaku Nakajima Yuto, ketua asrama disini. Kau bisa panggil aku Yuto. Aku siswa kelas 2, kelasku di kelas 2-1. Maafkan aku tadi tidak sempat menyapamu”

“Ah, salam kenal senpai”, balas Daiki sambil menjabat tangan Yuto. “Kalau yang ini?”, tanya Daiki pada pemuda yang berdiri di sebelah Yuto.

“Ah, namaku Yaotome Hikaru. Aku murid kelas 1 sama sepertimu. Kamarku berada tepat di sebelah kamarmu, kamar no.112, salam kenal ya”, ucap pemuda yang periang itu sambil mengulurkan tangannya. Daiki pun membalas uluran tangan pemuda itu.

“Arioka-kun, kau sendirian? Dimana Yuya?”, tanya Yuto

“Ah, sampai tadi dia masih ada disini. Tiba-tiba dia mendapat telepon dari seseorang yang bernama ‘Kei’. Lalu dia langsung pergi keluar tanpa mengatakan apapun”, jawab Daiki.

“Lagi-lagi Kei-san”, keluh Yuto.

“Dia memang selalu seperti itu kalau menyangkut Kei-san”, sahut Hikaru. “Baginya, Kei-san itu nomor 1. Dia tidak akan mempedulikan orang lain”

Daiki menatap kedua orang yang ada di hadapannya ini dengan heran. “Kalian berdua kenal dengan Takaki?”

Yuto dan Hikaru saling berpandangan. “Aku dulu temannya waktu SMP, sedangkan Yuto senpai ini sepupunya Takaki”, jawab Hikaru.

“Hee...”, gumam Daiki.

Hikaru mengintip sekilas ke dalam kamar Daiki yang tampak berantakan. “Kau masih membereskan barangmu? Mau kubantu?”, tawar Hikaru.

Daiki langsung tersenyum cerah pada Hikaru. Baginya, saat ini Hikaru terlihat seperti seorang malaikat. Berbeda sekali dengan Yuya yang sama sekali tidak peduli padanya. “Aku sangat berterimakasih dengan bantuanmu Yaotome. Kau malaikatku. Kau pahlawanku”, ucap Daiki sambil menggenggam erat tangan Hikaru.

“Ahahaha... tidak usah berlebihan seperti itu. Sesama teman memang harus menolong kan? Apalagi kita akan tinggal bersama selama 3 tahun di asrama ini. jadi sudah tentu kita akan saling membantu kan?”, ucap Hikaru sambil mengedipkan mata kirinya. “Satu hal lagi, panggil aku Hika. Aku tidak terlalu suka dipanggil Yaotome, terlalu panjang”

Daiki tertawa kecil, “Baiklah, Hika”

“Maaf ya, aku tidak bisa membantu kalian. Aku masih ada urusan setelah ini. Kalau kau butuh bantuan, beritahu saja aku. Kamarku ada di lantai 2, nomor 212”, ucap Yuto sesaat sebelum dia pergi meninggalkan kamar.

Berkat bantuan Hika, Daiki bisa lebih cepat membereskan barang-barangnya. Kurang dari 1 jam, semua barang Daiki telah tertata rapi di tempatnya. Daiki sangat puas melihat kondisi kamarnya yang kini terlihat lebih rapi.

“Terima kasih ya Hika. Berkatmu aku bisa lebih cepat membereskan kamar. Kau memang baik, tidak seperti si Takaki itu”. Daiki memberikan sekaleng minuman pada Hika sebagai ucapan terima kasih. Daiki masih sedikit kesal mengingat sifat Yuya yang tidak bersahabat.

Hika tertawa. “Takaki dari dulu memang seperti itu. Dia sama sekali tidak peduli dengan orang lain. Satu-satunya orang yang dia pedulikan hanyalah Kei-san. Cuma dia yang bisa menaklukan hewan buas itu”

‘Tampaknya orang yang bernama Kei ini benar-benar orang yang berarti bagi Takaki’, gumam Daiki sambil melihat foto Yuya dengan seorang gadis di meja belajar.

“Apa yang ingin kau lakukan setelah ini?”, tanya Hika sambil meneguk minuman yang diberikan oleh Daiki.

“Umm... Mungkin aku akan berkeliling asrama ini. Aku ingin melihat asrama ini seluruhnya”

“Kalau begitu aku akan mengantarmu berkeliling. Aku juga belum menjelajahi asrama ini seluruhnya. Kunamakan ini, ‘Petualangan dalam Asrama’”, ucap Hika penuh dengan semangat. Lagaknya sudah seperti orang yang akan menjelajahi hutan saja.

Mereka berdua lalu pergi ke luar kamar. Mereka menjelajahi asrama itu. Mulai berkeliling tiap kamar asrama dan berkenalan dengan anak kelas 1 yang lain. Mereka juga menyempatkan diri naik ke lantai 2 & 3. Sesekali mereka menyapa kakak kelas yang kebetulan berada di luar kamar. Beberapa ada yang menanggapi mereka dengan ramah. Tapi ada juga yang sama sekali mengacuhkan mereka. Dalam perjalanan kembali turun ke lantai 1, mereka kembali berpapasan dengan Yuto dan Keito yang tampak sibuk berkeliling tiap kamar.

“Uaahh.... asrama ini luas juga ternyata. Kakiku terasa sangat capek sekarang”, ucap Daiki sambil meregangkan kakinya.

Daiki dan Hika duduk santai di taman yang terletak di depan asrama. Mereka duduk di bawah salah satu pohon yang rindang. Angin yang berhembus membuat Daiki sedikit mengantuk.

“Aku takut kalau aku tidak bisa tinggal di asrama, tapi kurasa sekarang aku akan baik-baik saja”, gumam Daiki.

“Memangnya rumahmu dimana sih?”, tanya Hika.

“Ah, rumahku ada di Jl.XXXX”, jawab Daiki sekenanya.

“Eh? Bukankah itu dekat dari sini? Jaraknya pun tidak jauh dari sini. Kenapa kau malah tinggal di asrama?”

Daiki merebahkan tubuhnya di atas permukaan tanah yang tertutup rumput tebal sehingga terasa empuk. “Aku tinggal sendirian disana. Dulu aku tinggal bersama dengan Nenek, tapi nenekku sudah meninggal 3 hari yang lalu. Jadi, sekarang hanya aku sendiri yang tinggal disana. Aku tidak suka sendirian disana, apalagi di rumah itu penuh dengan kenanganku bersama dengan nenek”

“Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu sedih”, Hika merasa tidak enak karena tiba-tiba menyinggung soal yang tidak ingin diungkit oleh Daiki. “Lalu? Dimana kedua orangtuamu?”

“Ibuku sudah meninggal saat aku masih kecil. Aku juga tidak terlalu jelas mengingat wajah ibuku. Ayahku sekarang berada di luar negeri, dia sibuk bekerja dan jarang pulang”

Hika menepuk pundak Daiki. “Tenang saja. Mulai sekarang kita adalah teman. Aku tidak akan membiarkanmu merasa kesepian”

“Terima kasih Hika”, ucap Daiki lega. Dia merasa sangat senang bisa berkenalan dengan orang yang baik seperti Hika. Seandainya Hika adalah teman sekamarnya juga, tentu Daiki akan lebih bahagia lagi. Daiki langsung merasa masam lagi saat mengingat teman sekamarnya.

Perhatian Daiki tiba-tiba terfokus pada sebuah mobil sport mewah yang terparkir di depan pintu gerbang asrama. Mobil itu tampak cukup mencolok sehingga mudah menjadi pusat perhatian. Daiki semakin terkejut saat melihat sosok yang turun dari mobil itu.

“Takaki...”, gumam Daiki pelan saat melihat Yuya turun dari sana. Sesosok wanita cantik juga turun dari arah pintu kemudi. Daiki mengenali wanita itu. dia adalah wanita yang ada di foto bersama dengan Yuya.

“Ah, itu Takaki. Dia sudah kembali. Benar dugaanku, dia pasti sedang berjalan-jalan bersama dengan Kei-san”, gumam Hika.

‘Kei-san? Jadi wanita cantik itu adalah orang yang menelepon Takaki tadi?’, gumam Daiki dalam hati.

Daiki terus mengamati Takaki dan Kei dari kejauhan. Keduanya bagaikan model lukisan berjalan. Mereka sangat serasi. Tubuh Takaki yang tinggi dan tubuh Kei yang hampir sama tingginya dengannya membuatnya keduanya terlihat seimbang dan serasi.

Mereka berdua tampak bercakap-cakap sebentar. Sesekali Yuya tampak sedikit tertawa saat bersama dengan Kei. Daiki tampak sedikit tertegun melihat Yuya. Yuya yang dilihatnya saat ini terlihat seperti pemuda SMA biasa. Tidak tampak seperti seorang preman sedikitpun.

Tanpa sadar Daiki terus mengamati Yuya. Ekspresi wajah yang berbeda membuat Daiki sedikit tertarik dengan teman sekamarnya itu.

Daiki sedikit terkejut saat melihat Yuya mencium pipi Kei sebelum wanita itu kembali masuk ke dalam mobil. Mereka berdua seperti sepasang kekasih yang berpamitan dengan mesra. Setelah mobil Kei menjauh, Yuya melangkah masuk ke dalam asrama. Di tangannya terdapat sebuah kantung plastik. Rupanya dia habis berbelanja dengan Kei.

Entah apa yang dipikirkan Daiki, dia tiba-tiba berdiri menghadang Yuya.

“Mau apa kau?”, tanya Yuya.

Tsuzuku ~~~ :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar