Pemuda itu membuka pintu mobil lalu menyeret Yabu keluar. Perlahan kesadaran Yabu mulai kembali, mata Yabu mulai terbuka sedikit demi sedikit. Dia melihat ada sosok pemuda yang ada di hadapannya, awalnya pandangannya buram, perlahan menjadi jelas sehingga dia bisa melihat siapa yang berada di hadapannya saat ini. Alangkah terkejutnya Yabu saat dia melihat siapa yang ada di hadapannya.
“Kau___kenapa kau ada disini?”, tampaknya Yabu mengenali pemuda yang ada di hadapannya tersebut.
“aku tersanjung kau masih ingat padaku Yabu san. Aku yang menabrakmu tadi, kau tidak ingat?”, pemuda itu terduduk di samping Yabu. Dia menyeka darah yang keluar dari dahi dan melihat luka lecet yang ada di badan Yabu. “padahal tadi aku bermaksud menabrakmu sampai mati, tapi ternyata kau masih hidup. Yah, mungkin aku cukup puas melihatmu terluka parah. Tapi, tetap saja aku ingin membunuhmu”,pemuda itu mengarahkan tangannya ke leher yabu. Yabu mengelak, dia berusaha menggerakkan badannya lalu melompat ke belakang menjauhi pemuda tersebut. Sesaat kemudian Yabu membuat pelindung.
“Hooaaa.....dengan badan seperti itu kau masih bisa menggerakkan badanmu. Ternyata para ksatria tidak bisa dianggap remeh”, pemuda itu bertepuk tangan sambil berdecak kagum. Yabu bersusah payah untuk berdiri, badannya masih sakit semua tapi dia harus melawan pemuda yang ada di hadapannya tersebut.
“apa tujuanmu?”, tanya Yabu
“Hmm....King memerintahkanku untuk membunuh para ksatria secepat mungkin. Saat berjalan-jalan, tanpa sadar aku bertemu denganmu, lalu kupikir aku akan membunuhmu lebih dulu saja”, pemuda itu mengatakan hal itu sambil tersenyum.
“Tidak akan semudah itu kau membunuhku”, ucap yabu sambil mulai mengeluarkan kemampuannya. Semua air yang ada di sekitar situ mulai berkumpul dan membentuk sebuah pedang bening transparan.
“kita lihat saja, apakah kau bisa menjaga omonganmu itu”, pemuda itu menjetikkan jarinya. Perlahan dari dalam tanah muncul makhluk aneh. sosok mereka tampak seperti mayat hidup. Ada yang berwujud seperti anak kecil, orang tua, bahkan hewan pun juga ada.
“Zombie....”,ucap Yabu. Satu persatu makhluk itu mulai menyerang Yabu. Tidak seperti penampilan mereka yang kelihatan payah, gerakan mereka cukup cepat. Bahkan mereka jauh lebih cepat dari si ‘muka rata’ yang pernah dihadapi Daiki dkk.
“saa.....Let’s play yabu kun. Mari kita lihat siapa yang akan memenangkan permainan ini, kau atau aku”, pemuda itu mengamati Yabu yang bersusah payah menghadapi kumpulan zombie tersebut dari jauh.
Yabu berusaha menebas semua zombie yang ada di hadapannya, tapi mereka adalah lawan yang cukup merepotkan. Mereka tidak dapat berpikir sendiri sehingga mereka hanya bisa bergerak bila dikendalikan. Meskipun sudah ditebas berkali-kali oleh Yabu, zombie ini masih tetap hidup. Bahkan anggota tubuh mereka yang lepas pundapat bergerak dengan sendirinya. Berkali-kali serangan zombie itu berhasil melukai tubuhnya, Yabu tidak dapat menggerakkan tubuhnya dengan bebas akibat tabrakan tadi. Yabu berhasil mengurung beberapa zombie di dalam bola air yang dibuat olehnya. Akan tetapi masih banyak zombie yang tersisa. Yabu pun memilih menjauhi zombie itu sementara bersembunyi sambil memikirkan rencana untuk mengalahkan makhluk tersebut.
Di sekolah Horikoshi
Semua ksatria sedang mengikuti pelajaran, tapi mereka tampaknya menyadari ada pelindung yang dibuat. Mereka bertanya-tanya siapa yang membuat pelindung itu, Yabu,Yuya, atau Inoo.
Di ruang kelas 2A
Daiki melihat keluar jendela, dia tahu ada yang sedang membuat pelindung. Tapi dia bisa merasakan kalau yang membuat pelindung itu bukan Yuya. Sejenak dia menghembuskan nafas pelan, itu berarti yabu atau Inoo yang membuatnya. Entah kenapa, dia memiliki firasat bahwa pelindung itu milik yabu.
“keito, apa yang terjadi?”, daiki menyandarkan tubuhnya ke belakang.
“sebentar,aku lihat dulu”, keito mengeluarkan bola kristal dari tasnya dan meletakkannya di kolong meja. Dia mulai menggunakan kemampuannya untuk melihat siapa yang membuat dan apa yang sedang terjadi. Bola kristal itu mulai menampakkan gambar yabu yang terluka parah dan sedang menghindari kejaran puluhan zombie.
“Itu milik Yabu kun”, Keito memajukan tubuhnya agak ke depan. “saat ini dia sedang bertarung dengan puluhan zombie dan tampaknya dia sedang terluka parah. Kita harus membantunya”, bisik Keito lagi.
“kalau begitu aku sms Hika untuk memberitahunya soal ini”, Daiki mulai mengetikkan sms.
Di ruang kelas 3A
Hika merasakan ada yang membuat pelindung. Dia kenal sensasi pelindung ini, “Yabu kun”, ucap Hika pelan. Dia melihat ke arah luar jendela, entah kenapa dia merasakan firasat yang tidak enak. Tiba-tiba hpnya bergetar, Hika membukanya, sms dari Daiki tiba.
Hika, Yabu sekarat. Tolong bantu dia.
Hika kaget membaca sms dari Daiki, segera dia ambil tasnya dan keluar kelas menuju ke kelas 2. Di depan tangga, dia bertemu dengan keito yang sudah menunggunya disana.
“keito, apa itu benar? Yabu sekarat? Apa yang terjadi?”, tanya Hika panik.
“Tunggu, tenang dulu hika. Akan kujelaskan. Aku tadi melihatnya. Yabu sedang dikejar oleh puluhan zombie dan dia terluka parah sehingga dia kewalahan menghadapi zombie itu”, keito menjelaskan secara singkat.
“kalau begitu aku segera kesana”, Hika segera menuju tangga tapi langkahnya dihentikan oleh keito.
“Tunggu dulu. Hika kau ajak yama juga. Dia bisa menyembuhkan luka Yabu. Tunggu disini akan kupanggil dia”, keito berjalan menuju ke kelas 2B untuk memanggil Yama.
Di ruang kelas 2B
Tiba-tiba aku merasakan ada yang aneh, entah kenapa aku tahu ada pelindung yang sedang dibuat. Apakah ada ksatria yang sedang bertarung. Aku melihat ke arah Yuto dan Chinen yang tampaknya juga menyadari hal itu. Mereka berdua melihat ke arahku.
“kelihatannya ada yang sedang membuat pelindung”, bisik Yuto pelan.
“Tapi siapa? Apakah ini berarti ada yang sedang bertarung?’, bisikku lagi.
“Tampaknya seperti itu, tapi kita tidak tahu siapa yang membuatnya. Tapi yang pasti yang membuatnya ada di antara Yabu, yuya, dan Inoo. Hanya mereka bertiga saja yang ada diluar sana”, bisik Chinen.
Dari luar jendela aku melihat sosok keito yang sedang berdiri. Dia melambaikan tangannya ke arahku, tampaknya dia sedang memanggilku.
“aku keluar sebentar ya”, aku berjalan keluar lalu menghampiri Keito. “ada apa?”,kulihat Hika juga berdiri disana dengan tampang cemas.
“Yabu saat ini sedang bertarung, tapi dia terluka parah sehingga tidak bisa bertarung dengan baik. Kuminta kau pergi dengan Hika untuk membantu Yabu. Yabu membutuhkan kemampuanmu”, jelas keito.
“sekarang?”,tanyaku ragu. Aku takut menuju pertarungan yang sebenarnya. Aku masih belum siap menghadapinya.
“kumohon Yama, Yabu membutuhkanmu. Ikutlah denganku sekarang”, Hika memohon padaku. Dia terlihat sangat cemas dengan apa yang terjadi.
“baiklah, ayo kita pergi. Eh, tapi tasku gimana?”
“Tidak usah khawatir. Nanti aku akan menjelaskan pada Yuto dan Chii. Sekarang cepat kalian pergi. Oh iya, ini tempat Yabu berada”, Keito menyerahkan secarik kertas yang berisi lokasi Yabu berada.
“Terimakasih Keito”, Hika berlari menuju ke lantai 1. Aku pun juga berlari mengikutinya. Hika mengambil sesuatu dari lokernya. Sejenis pistol berukuran kecil. “Ini senjataku. Aku selalu menyimpan cadangan disini kalau terjadi sesuatu”, jelas Hika. Kami pun segera berlari menuju lokasi Yabu untuk menyelamatkannya.
Di tempat Yabu
Yabu bersandar di dinding, tubuhnya sudah tidak kuat lagi. darah yang keluar dari tubuh Yabu semakin banyak. Zombie-zombie diam mengelilinginya seakan mereka akan langsung bergerak bila Yabu bergerak selangkah saja. Yabu terdiam mengamati para zombie itu, dia tidak tahu harus berbuat apalagi.
“Dou? Tampaknya aku yang akan memenangkan pertarungan ini. Kau sendiri berdiri saja tampaknya sangat kesusahan. Sebelumnya, aku punya suatu hal yang ingin kusampaikan, tuan ksatria aku punya penawaran yang menarik untukmu”, ucap pemuda tadi.
“Penawaran?”,tanya Yabu dengan nafas yang berat.
“yup, King bilang aku boleh tidak membunuhmu, asalkan kau mau menjadi sekutu kami. Bagaimana? Menarik bukan. Kau juga tidak akan mati sekarang”
“sekutu kalian? Jangan harap aku mau. Lebih baik aku mati daripada menjadi sekutu makhluk yang terkutuk seperti kalian”, Yabu memalingkan mukanya dari hadapan pemuda itu. Seketika muka pemuda itu berubah. Sorot matanya menjadi dingin.
“kau berani menghina kami”, pemuda itu mulai naik pitam. “sayang sekali, padahal kalau kau menerimanya kau bisa hidup tanpa harus mati sekarang. Aku ingin langsung membunuhmu saat ini juga, tapi karena kau sudah menghina kami, maka lebih baik kusiksa dulu kau baru kubunuh”, pemuda itu melayangkan tendangannya ke badan Yabu. Yabu jatuh tersungkur hingga dia berbaring. Darah keluar dari mulutnya.
“kau tahu aku memiliki kemampuan yang lain kan?” pemuda itu mengarahkan tangannya kearah luka Yabu. Seketika luka di tubuh yabu mulai menghitam bahkan badannya pun juga mulai menghitam.
“ARGGGHHHHHHH!!!!!!!!!!”,yabu berteriak kesakitan. Pemuda itu tampaknya mengeluarkan sesuatu dari dalam tubuhnya dan meletakkannya di tubuh Yabu. Yabu terus meronta hingga badan Yabu menghitam seluruhnya. Yabu kembali tidak sadarkan diri, pelindung yang dibuat yabu pun lenyap.
“kelihatannya kau harus berakhir disini tuan ksatria. Terima kasih sudah menghiburku tadi”, pemuda itu mengacungkan tangannya. Di tangannya terdapat sebuah pisau kecil.Saat akan menghunus pisau itu, pemuda itu melihat ke sekelilingnya. Tampaknya pelindung yang baru telah dibuat. Itu berarti ada ksatria lain yang datang. Segera dia menjauh dari tempat tersebut dan memerintahkan para zombie untuk menghabisi Yabu.
“menjauh dari Yabu sekarang juga hei makhluk jelek!!”, teriak Hika. Dia mengeluarkan pistolnya dan mulai menembaki zombie itu satu persatu.
Aku mendekati Yabu yang terbaring. Kulihat badannya yang hitam dan luka yang amat banyak di sekujur tubuhnya. Sejenak aku terdiam melihat kondisi yabu yang seperti itu.
“Yama,apa yang kau lakukan. Cepat bawa Yabu pergi dari sini, biar aku yang menghabisi zombie-zombie ini”, seru Hika menyadarkanku. Segera kubopong tubuh yabu untuk menjauh dari kerumunan zombie tersebut. Aku mengeluarkan kemampuanku untuk menyembuhkan Yabu, tapi setelah sekian lama, belum ada perubahan kondisi Yabu.
“Hika, bagaimana ini? Aku tidak bisa menyembuhkannya. Kemampuanku sama sekali tidak bekerja”, kataku panik.
“jangan-jangan dia terkena racun. Gawat, kita harus segera menolongnya”, seru Hika sambil terus sibuk menghabisi zombie tersebut. Perlahan zombie ini mulai mendekatiku dan Yabu, aku kemudian memasang badanku dan menghajar satu persatu zombie yang mendekat. ‘apa yang harus kami lakukan?’, batinku panik.
Di sekolah Horikoshi
“Daichan, tampaknya keadaan semakin bertambah gawat”, Keito kembali berbisik pada Daiki.
“Apa yang terjadi?”
“Keadaan Yabu semakin kritis. Tampaknya dia terkena racun dari musuh”
“Bagaimana dengan Hika dan Yama? Mereka sudah tiba disana?”
“Sudah, tapi tampaknya Yama tidak bisa berbuat apapun. Kemampuannya tidak bekerja pada Yabu. Bahkan Hika sekarang sudah mulai kewalahan menghadapi para zombie itu”
“baiklah kalau begitu aku akan menyusul mereka kesana. Keito, tolong catatkan semua pelajaran hari ini ya. Oh iya, aku juga titip tasku ya.....”, Daiki berjalan keluar kelas. Di lorong dia bertemu dengan Chinen yang berdiri disana tampak seperti menunggu seseorang. “apa yang kau lakukan?”, tanya Daiki pada Chinen.
“aku cemas pada Ryochan, ini pertama kalinya dia bertarung kan? Lalu kau? Kenapa keluar?”, Chinen balik bertanya pada Daiki.
“Aku ingin menyusul kesana. Keadaan semakin gawat. Kemampuan Yama tidak mempan pada Yabu, tampaknya Yabu terkena racun yang sangat kuat dari musuh, dan Hika mulai kewalahan menghadapi musuh”
“aku ikut. Aku juga ingin membantu mereka”. Daiki dan Chinen segera berlari keluar.
“kau tahu berapa lama kita akan sampai disana?”, tanya Chinen pada Daiki.
“Keito bilang sekitar 20 menit dari sini”, jawab Daiki singkat.
“itu terlalu lama, baiklah kita akan tiba disana dalam waktu 5 menit. Kau bisa membuat pelindung kecil untuk kita berdua?”
“bisa,tapi apa yang kau rencanakan?”, Daiki mulai membuat pelindung yang mengelilingi mereka berdua. Chinen mulai merubah tubuhnya menjadi seekor burung yang cukup besar. Melihat hal itu, Daiki mengerti kalau Chinen sedang meniru kemampuan Ryuu.
“Nah, ayo naik ke punggungku”. Daiki menaiki Chinen yang sekarang berwujud seperti burung besar tersebut. Chinen mulai mengepakkan sayapnya dan mereka pun terbang. Tak lama, mereka bisa melihat lapisan pelindung. Chinen terbang kearah pelindung tersebut dan mereka berdua pun masuk. Dari atas, mereka mencari Hika dkk.
“Itu mereka!”, seru Daiki menunjuk kerumunan zombie yang ada di bawah. Tanpa pikir panjang, Daiki segera melompat dari atas menuju ke zombie yang siap menyerang Hika dari belakang.
“Daichan, kenapa kau kemari?”, Hika tampak kaget melihat Daiki yang berada di sampingnya.“kau datang darimana??”
“Dariatas”, Daiki menunjuk ke atas. Aku bisa melihat ada seekor burung besar yang terbang memutar. Burung itu kemudian menukik tajam ke arah zombie tersebut dan menyebabkan beberapa zombie terlempar. Burung itu tiba-tiba berubah wujud menjadi Chinen. Aku pun melongo melihat hal itu.
“Ryochan!!Kau tidak apa-apa? Maaf ya aku telat. Seharusnya dari tadi aku ikut denganmu”, Chinen memeluk tubuhku dengan erat.
“Hei,Chii!! Ini bukan saat yang tepat untuk bermesraan! Bantu kami membasmi zombie ini”, seru Hika.
“iya, iya....”, Chinen melepaskan pelukannya dariku, Dia mengambil tongkat besi yang tergeletak disana dan mulai menghajar para zombie ini satu persatu. Zombie itu langsung hancur seketika saat terkena pukulan tongkat dari Chinen. Sedangkan Daiki menghampiri Yabu tergeletak lemah. Nafasnya semakin lemah.
“Hmm....racun ya”, Daiki meletakkan tangannya di atas tubuh Yabu. Perlahan, tubuh Yabu yang menghitam mulai kembali normal, bahkan sekarang nafasnya mulai kembali.
“Apa yang terjadi?”, aku masih tidak mengerti apa yang terjadi barusan. Apa yang dilakukan Daiki barusan sehingga tubuh Yabu dapat kembali normal?
“Aku tadi mengambil racun dari tubuh Yabu”, jawab Daiki. “Selain mengeluarkan racun, aku juga bisa mengambil racun dari tubuh seseorang. Nah, karena semua racunnya sudah kuambil, kau bisa mengobati lukanya sekarang. Aku tadi hanya mengambil racunnya saja, sedangkan untuk menyembuhkannnya itu tugasmu kan?”, daiki tersenyum ke arahku. Segera ku menghampiri Yabu dan menggunakan kemampuanku padanya. Kali ini kemampuanku bekerja.
“Chii, kau disini saja. lindungi Yama dari zombie yang mendekat. Aku dan Hika akan membasmi semua Zombie ini”, ucap daiki yang berjalan menuju Hika untuk membantunya.
“Chii, Yama, Daichan, tutup telinga kalian. Aku akan mengeluarkan ‘itu’”, ucap Hika. Daiki dan Chinen langsung menutup telinga mereka. aku pun mengikutinya juga meskipun tidak tahu apa yang akan terjadi. Apa yang dimaksud ‘itu’?
Hika menarik nafas dalam-dalam, dia membuka mulutnya, lalu “AAAAAAAAAAA.......!!!!!!!!!!!”, teriakan Hika terdengar keras sekali. Benda-benda yang ada di sekitarnya langsung terbang berhamburan. Bahkan kaca jendela banyak yang pecah. Telingaku pun rasanya masih berdenging akibat teriakan Hika barusan.
“a-a-a-apa yang barusan terjadi?”, tanyaku
“itulah kemampuan ‘voice’ yang sebenarnya. Mengeluarkan suara dalam gelombang yang sangat besar. Coba lihat, bahkan beberapa zombie tersebut hancur terkena gelombang suara Hika kan?”, Chinen menunjuk kerumunan zombie yang kini hanya tinggal potongan daging yang berceceran. Beberapa zombie yang selamat dari gelombang suara itu masih berdiri akan tetapi gerakan mereka jadi lambat.
“Aduh,tahu begini tadi kubawa headsetku. Tadi kutinggal di dalam tas”, Daiki memegangi telinganya. Tampaknya dia juga terkena sedikit efek serangan itu akibat dia berdiri dekat dengan Hika.
“Gomen,tapi kalau tidak begini, akan semakin lama selesainya”, ucap Hika.
“Hei Hika, kau tahu dimana yang mengontrol mereka?”, tanya Daiki
“Tidak, semenjak aku tiba disini aku hanya bertemu dengan kerumunan zombie ini saja”
“keito bilang, dia melihat seorang pemuda. Pemuda itulah yang menabrak dan memberinya racun. Kau bisa mendengar dimana keberadaannya?”. Tiba-tiba mucul kerumunan zombie baru dari dalam tanah. Seakan-akan pasukan ini tidak akan ada habisnya.“kita harus menemukannya, dia masih ada dalam pelindung ini. Karena dia yang mengendalikan zombie-zombie ini, maka dia akan terus memunculkan zombie baru, kalau begini kita akan mati karena terlalu capek. Aku yang akan mengurusi mereka semua. Kau fokus saja melacak keberadaan musuh, mundurlah ke tempat Yama dan Chii. Chii, kau bisa meniru kemampuan Yuya kan?”, seru Daiki.
“Ya,eh, kau akan menggunakan kemampuanmu?”, tanya Chii.
“kalau tidak begitu, kita yang akan capek. Hika! Begitu aku mengalahkan mereka semua, kau harus sudah bisa mengetahui posisinya”, seru Daiki. Chinen mulai menggunakan kemampuannya untuk meniru kemampuan Yuya. Seketika saat itu, aku merasa ada sesuatu yang seperti pelindung yang ada di sekitar kami. Tapi, rasanya lebih hangat dan entah kenapa terasa nyaman.
Aku melihat Daiki yang berdiri dekat dengan kerumunan zombie tersebut. Beberapa zombie siap menerjangnya. Tiba-tiba zombie itu berubah menjadi debu. Aku bisa melihat ada sesuatu seperti serbuk berwarna ungu yang berada di sekitar tubuh Daiki. Perlahan debu itu menyebar ke arah zombie-zombie itu. Tidak butuh waktu lama, semua zombie yang ada musnah menjadi debu. Bahkan zombie yang ada didekat kami pun terkena efeknya. Aku bisa membayangkan seandainya Chinen tidak meniru kemampuan Yuya dan tidak ada yang melindungi kami, mungkin nasib kami akan sama dengan zombie itu. ‘inikah kemampuan sebenarnya daiki?’, batinku.
“Daichan! Disana! Dia berada di gedung itu!”, seru Hika tiba-tiba. Aku bisa melihat siluet dari jendela yang ditunjuk Hika. Daiki berlari menuju gedung tersebut, Hika pun mengikutinya mengejar sosok yang mereka lihat tadi. Dor! Dor! Dor!,Hika menembakkan pistolnya ke arah sosok itu. Tiba-tiba sosok itu keluar dengan sendirinya dan berjalan menghampiri kami.
“Wah, wah, wah, padahal kupikir tadinya bisa membunuh seorang ksatria. Tapi tampaknya aku salah”, sosok itu mendekat. Aku bisa melihat wujud yang katanya mengendalikan zombie tersebut. Seorang pemuda, mungkin seumuran denganku atau kurang. Saat aku melihat wajahnya, aku seperti mengenali wajahnya tapi dimana aku pernah melihatnya? Kulihat Hika dan Chinen yang berdiri di dekatku terdiam terpaku melihat pemuda tersebut.
“Lama tak jumpa, kak Hika, kak Chii____”, ucap pemuda itu.
Pemuda itu lalu menoleh ke arah Daiki yang juga tidak jauh dari pemuda tersebut. Aku bisa melihat raut wajah Daiki yang berubah saat melihat pemuda itu. “Lama tidak bertemu denganmu kau semakin cantik, kakak”, ujar pemuda itu ke arah Daiki.
Aku terbelalak tidak percaya dengan yang dikatakan pemuda itu barusan. ‘kakak? Pemuda itu memanggil Daiki kakak? Jangan-jangan, dia adiknya Daiki yang tadi dibicarakan oleh Yuri. Tapi, kenapa adiknya berada di pihak musuh?’, pikirku yang tidak mengerti apa yang terjadi saat ini.
Tsuzuku ~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar