Selasa, 19 Mei 2015

ACCIDENT

Cast : Okamoto Keito, Yaotome Hikaru
Genre : ???

Keito sedang asyik membaca buku di halaman. Sesekali dia melihat ke arah sekumpulan anak yang sedang asyik bermain bola. Matanya tertuju pada seorang pemuda bertubuh tinggi yang tampak begitu mencolok di antara sekumpulan anak yang sedang bermain bola itu. Keito ikut tersenyum ketika melihat pemuda itu tersenyum.

“Lagi-lagi Yuto...”

Keito terkejut ketika mendengar ada seseorang yang tiba-tiba berbisik di telinganya.

“Hika-senpai...”, gumam Keito pelan saat melihat senpainya itu berdiri di belakangnya.

“Hmm? Kenapa? Kau sepertinya malas bertemu denganku”, tanya Hika ketika melihat Keito yang enggan melihatnya.

“Tidak kok senpai. Itu hanya khayalanmu saja”

Keito sebenarnya malas bertemu dengan Hika. senpainya yang ini suka sekali menjahilinya. Sudah berkali-kali Keito terkena jebakannya.

“Hei Keito, coba lihat sini”

Hika mencolek pipi Keito, refleks Keito menoleh.

“Hyaa!!! Dingin!!! Apaan ini senpai?!”

Keito langsung memegang pipinya yang kedinginan. Hika langsung tertawa terbahak melihat Keito. tangan kanannya masih memegang kantung plastik yang berisi es. Keito langsung menunjukkan ekspresi cemberut. Hika malah semakin terlihat senang melihat juniornya itu kesal.

“Ah, kau sedang nganggur kan Keito? bisa bantu aku?”

“Tidak. aku sedang sibuk”, jawab Keito yang masih kesal.

“Bohong. Kalau kau sedang sibuk, kenapa kau duduk disini sambil mengamati Yuto? Aku sedari tadi melihatmu dan kau hanya duduk saja, tidak ada kegiatan lain sambil melihat Yuto kesukaanmu itu bermain bola”

Keito menelan ludah. Hika benar. Dia sama sekali tidak sibuk. Tapi, Keito tidak ingin meninggalkan halaman, dia masih ingin melihat Yuto bermain bola. Keito dan Yuto tidak sekelas, jadi waktu istirahat adalah satu-satunya kesempatan bagi Keito bisa melihat Yuto.

“Ayolah bantu aku... Tidak lama kok”, Hika menarik tangan Keito. Tapi Keito masih belum mau beranjak. Matanya masih menatap Yuto yang asyik bermain di halaman.

“Kalau kau tidak mau, akan kupanggil Yuto dan memberitahunya tentang perasaanmu”

Keito melotot ke arah Hika. hika hanya tersenyum jahil. Keito mengangguk pasrah dan mengikuti Hika pergi. Dia tidak mau Hika yang bermulut ember ini berbicara tentangnya pada Yuto.

Hika menarik Keito dan menuju ke sebuah ruangan. hika mengeluarkan sebuah kunci dan membuka pintu. mereka berdua pun masuk ke dalam. Ruangan ini sangat gelap dan tampaknya sedikit berdebu. Karena posisi ruangan ini cukup dekat dengan gudang dan berada di tempat yang terpisah dengan sekolah, maka bisa dikatakan kalau tidak banyak cahaya yang masuk kedalam ruangan ini.

CKLEK.

“Ada apa ini senpai?”, tanya Keito saat mendengar suara pintu yang terkunci.

“Tidak apa. Aku hanya memastikan agar kau tidak bisa kabur dari sini”

“Kabur?”, perasaan Keito mulai tidak enak. Perlahan dia berjalan muncur ke belakang.

“Nah Keito, cepat lepas bajumu”, perintah Hika.

“Ha?”, Keito kaget mendengarnya.

“Lepas bajumu, atau kau ingin aku yang melepasnya?”, tanya Hika sambil mulai memegang kerah baju Keito.

“Ti-ti-tidak usah, aku bisa sendiri”, Keito segera berjalan mundur dan membuka bajunya.

“Wah, kau punya otot yang bagus”, gumam Hika sambil mengamati lengan Keito yang berotot. Keito merasa sedikit risih dilihat oleh Hika.

“Kalau begitu kita mulai saja ya Keito”, ucap Hika sambil mulai membuka bajunya.

“Ke-ke-kenapa senpai juga buka baju?”, gugup Keito.

Hika tersenyum menyeringai sambil berjalan mendekat ke arah Keito dengan bertelanjang dada. Keito perlahan berjalan mundur ke belakang. “Aku tidak ingin seragam kita kotor. Buka celanamu juga. Kalau celanamu kotor kan bisa repot. Kau tidak ingiin celanamu terlihat kotor kan?”

“Eh?”, tanya Keito tidak mengerti sambil melihat Hika yang tampaknya sudah melepas celananya.

Tidak berapa lama....

“Sen-senpai... aku sudah tidak kuat lagi...”,ucap Keito sambil terengah-engah. Nafasnya tidak beraturan. Keringatnya pun mulai bercucuran.

“Kau ini payah... Kita baru saja mulai Keito... masa kau sudah mulai menyerah?”

“Tapi senpai... aku benar-benar sudah tidak kuat. Senpai kejam... kenapa memperlakukanku seperti ini?”

Hika tersenyum, “Ini karena aku sayang padamu Keito... Aku selalu memperhatikanmu. Bahkan aku lebih mengerti dirimu dibandingkan Yuto yang kau kagumi itu”

“Kalau kau sayang padaku, kau tidak akan melakukan ini padaku. Ini pemaksaan namanya!”

“Kau sendiri yang mau kubawa kesini”

“Itu kan karena senpai yang memaksa! Aduh, Hyaaa!!!”, Keito mengerang kesakitan. Keringatnya semakin banyak yang bercucuran.

“Tahan sedikit Keito... Aku sudah memasukkan dua, tinggal satu lagi”

“Senpai... mustahil melakukannya di atas meja... meja ini tampaknya tidak kuat menahan kita berdua”

“Justru kalau tidak ada meja ini, kita tidak bisa melakukannya. Di kursi terlalu sempit”, jawab Hika. “Keito, aku akan sedikit bergerak. Tahan ya...”

“Hah... Hah... Jangan senpai... aku sudah tidak kuat... sakit sekali rasanya”, mata Keito mulai sedikit sembab. Keito menggigit bibirnya agar air matanya tidak keluar.

Hika tidak menghiraukan Keito dan menggerakkan badannya. Akibatnya Keito mengerang dengan keras. Air matanya sudah mulai menetes karena tidak tahan dengan rasa sakit yang dia derita.

“Senpai... Kita hentikan saja ya...”, pintaKeito.

“Jangan... Tanggung nih. Tinggal sedikit lagi. Keito, kau bisa maju sedikit? Biar aku mudah bergerak”

“Maju gimana? Badanku sudah tidak kuat lagi”

“Kalau aku yang bergerak, kau bakal kesakitan. Makanya kau saja yang bergerak ya...”

“Sama saja senpai... Punggungku sudah sakit semua ini... Kakiku juga sudah mulai mati rasa”

“Kau ini... ototmu besar, tapi staminamukurang. Padahal masih ada beberapa hal yang belum kita lakukan”

“Eh??? Masa ada lagi? aku sudah tidak kuat lagi senpai... ini sudah puncaknya... Aduh!!!!”, jerit Keito.

CKLEK!

Suara pintu terbuka. Hika dan Keito sontak melihat ke arah pintu.

“Yabu???”, ucap Hika terkejut.

“Kalian... apa yang kalian lakukan disini? Pintu terkunci, tapi ada suara dari dalam. Akhirnya kubuka karena penasaran.Ternyata ada kalian. Kalian berdua... apa yang terjadi pada baju kalian? Dan lagi, kenapa Hika berada di atas Keito?”, tanya Yabu sambil memandang Hika dan Keito bergantian.

“Baju kami masih ada kok. tuh disana”, tunjuk Hika ke arah seragam yang terlipat rapi yang terletak tidak jauh dari pintu. “Kami melepasnya karena aku tidak ingin seragamku jadi kotor. Jadinya kami memakai baju seragam petugas kebersihan ini”, tunjuk Hika pada baju kusam yang dipakai mereka.

“Lalu? Apa yang kalian lakukan? Kenapa Keito terlihat kelelahan seperti itu?”, tanya Yabu yang melihat Keito yang terbaring kelelahan.

“Ah dia... aku meminta bantuannya untuk membetulkan lampu. Aku meminta Keito menjadi tumpuan kakiku. Meja ini kurang tinggi. Jadi aku meminta Keito berjongkok di atas meja dan aku akan berdiri diatas punggungnya untuk mengganti lampu”

“Oh...”, ucap Yabu mengerti. “Lalu, pekerjaan kalian sudah selesai?”

“Belum. Masih ada 2 lampu lagi yang perlu diganti. Tapi Keito sudah tidak kuat lagi. Mungkin akan kami lanjutkan besok”, Hika berjalan ke arah tumpukan seragam yang terlipat rapi. “Keito, cepat ganti bajumu. Sebentar lagi masuk”, Hika melempar seragam Keito.

“Dasar senpai kejam...”, gumam Keito pelan.

END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar