Minggu, 17 Mei 2015

13 CM

New Series

Genre : Romance, School Life, Drama
Main Cast : Takaki Yuya

Chapter 1

Sebuah bis berhenti di sebuah halte. Tidak lama kemudian, beberapa anak berseragam sekolah turun dari bis itu. Seorang cewek bertubuh tinggi turun dari bis itu, berkat tinggi badannya itu, penampilannya jadi terlihat lebih mencolok dibandingkan cewek-cewek berseragam lainnya. Cewek itu membawa tas sekolahnya di tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya membawa sebuah tas besar berisi baju olahraga, sepatu, dan bola basket.

“Taka-chan!”, seru seorang cewek dari arah belakang. Cewek bertubuh tinggi itu berhenti dan menoleh ke belakang. Tampak ada seorang cewek berambut hitam sebahu dan berkacamata berlari menghampirinya. Di sebelahnya, berdiri seorang cowok yang lebih tinggi dari cewek yang ada di sebelahnya, berambut hitam kecoklatan, jangkung, dan sama seperti dirinya, membawa tas besar berisi perlengkapan olahraga.

“Inoo-chan, Yabu-kun”, sapa cewek itu sambil tersenyum melihat kedua temannya menghampirinya.

“Selamat pagi Taka-chan!”, sapa cewek bernama Inoo ini. “Kau mau latihan pagi ini?”, tanya Inoo saat melihat tas besar yang dibawa oleh cewek yang dipanggil Taka-chan ini.

“Iya. Kau juga kan Yabu-kun?”, Takaki menoleh ke arah Yabu sambil menunjuk tas yang dibawa oleh Yabu. Yabu mengangguk mengiyakan.

“Kalian berdua benar-benar kapten yang bisa diandalkan”, puji Inoo. “Kalau kalian membutuhkan sesuatu, bilang saja padaku”.

“Kau juga sudah membantu kami kok. Malah aku kasihan padamu, apa kau tidak capek mengurusi tim basket cowok dan cewek sekaligus? Kenapa kau tidak merekrut orang lagi untuk membantumu?”, tanya Yabu.

“Hmm.... sebenarnya banyak yang berminat masuk untuk menjadi manajer, tapi tidak ada satupun yang serius. Aku tidak mau merekrut orang yang tidak niat”, jawab Inoo. “Kuharap nanti saat penerimaan anggota baru, ada orang yang berniat sungguh-sungguh menjadi manajer”.

Beberapa langkah di depan, terdapat kerumunan siswa berkumpul di depan sebuah papan yang lebar. Di papan itu tertempel beberapa kertas yang berisikan nama-nama siswa. Di atas kertas, tertulis nama kelas. Rupanya papan itu berisi kertas pengumuman pembagian kelas. Takaki, Yabu, dan Inoo berjalan menghampiri papan tersebut sebelum menuju gedung olahraga untuk latihan basket.

“Yay! Aku sekelas dengan Taka-chan! Sudah lama aku tidak sekelas lagi dengan Taka-chan!”, seru Inoo riang saat melihat namanya dan nama Takaki berada di grup yang sama, kelas 3C.

“Ah, aku ada di kelas 3A”, gumam Yabu. Dia merasa sedikit murung karena harus berbeda kelas dengan Inoo.

“Kau kan masih bisa bertemu dengannya selama kegiatan klub. Toh, kita bertiga berada di klub yang sama. Kalau kau mau, kau juga bisa sering mampir ke kelas kami”, bisik Takaki. Takaki tahu kalau Yabu diam-diam memendam perasaan suka kepada Inoo. Yabu hanya tertunduk malu, sedangkan Takaki hanya tersenyum geli melihat Yabu yang salah tingkah.

“Kalian berdua, kalian mau latihan pagi atau tidak? Kita masih ada sedikit waktu sebelum upacara penerimaan murid baru”, sela Inoo.

“Ah iya, ayo Takaki, kita latihan bersama”, balas Yabu sambil berjalan tergesa-gesa.

“Eh tunggu Yabu kun....”, Takaki berjalan terburu-buru hingga dia tidak melihat ada seseorang yang berjalan dari arah samping. BRUK! Tabrakan antara keduanya tidak dapat dihindarkan. Takaki langsung terduduk di tanah. Pantatnya terasa sakit.

“Ah maafkan aku, kau baik-baik saja?”, seorang cowok yang tadi menabrak Takaki mengulurkan tangannya. Takaki menoleh untuk melihat langsung si pemilik tangan tersebut. Seorang cowok berparas tampan dan berambut pirang lurus berdiri di hadapan Takaki sambil mengulurkan tangannya. Takaki hanya terdiam terpesona melihat sosok cowok yang berdiri di hadapannya.

“Ah, maaf, kau baik-baik saja?”, tanya cowok itu lagi, membuat Takaki sadar dari lamunannya. Dengan malu, dia meraih tangan cowok itu dan bangkit berdiri. Takaki kembali mengamati cowok itu. Tingginya hampir sama dengannya, atau mungkin lebih tinggi. Ada pita merah terpasang di bagian dada seragamnya. Takaki melihat ke arah wajah cowok yang ada di hadapannya, mukanya terlihat jauh lebih tampan saat dilihat dari dekat.

“Maafkan aku. Aku tidak melihat kalau ada orang yang berjalan”, cowok itu membuka suara.

“Ah ti-ti-tidak apa-apa. Aku juga salah tidak melihat ke sekelilingku”, Takaki tergagap saat cowok itu berbicara lagi dengannya.

“Kau terluka? Apa mau ke UKS?”, tanya cowok itu.

Takaki menggeleng, “tidak apa-apa kok. Tidak ada yang terluka”, jawab Takaki. Dia tidak mau bilang kalau pantatnya terasa sedikit sakit akibat jatuh tadi. Mana mungkin dia bilang hal itu di depan cowok yang baru ditemui?

“Ah, benarkah? Syukurlah kalau begitu”, cowok itu menghembuskan nafas lega sambil tersenyum.

“Yuto!”, seru seseorang sambil melambaikan tangannya ke arah cowok yang ada di hadapan Takaki. Cowok itu membalas dengan melambaikan tangan juga.

“Kalau begitu aku duluan ya. Sekali lagi aku minta maaf karena sudah menabrakmu”, cowok itu lalu berlalu pergi menghampiri temannya. Takaki terus memandang cowok itu hingga tidak menyadari kalau Yabu dan Inoo berdiri di sampingnya.

“Hee... cowok itu benar-benar tipemu ya..”, ucapan Inoo mengagetkan Takaki.

“Inoo-chan, kenapa kau disini?”, seru Takaki kaget.

“Kau tidak segera menyusul kami. Akhirnya kami berdua pergi mencarimu”, jawab Inoo.

“Dan ternyata kau malah asyik berbicara dengan seorang cowok”, sahut Yabu.

“Kau sendiri yang berjalan meninggalkanku”, gerutu Takaki kesal ke arah Yabu.

“Sudah, sudah, kalian berdua cepat latihan sana, nanti aku menyusul kalian”, Inoo mendorong Takaki dan Yabu.

“Kau mau kemana?”, tanya Yabu heran.

“Aku mau bertemu pelatih terlebih dahulu, mengenai penerimaan anggota baru. Pelatih berharap kalau kita bisa menerima anggota baru yang lebih banyak dibandingkan dengan tahun kemarin”, balas Inoo.

“Oh begitu....”.

“Oke, aku ke ruang guru dulu ya...”, Inoo berlalu pergi menuju ke gedung sekolah untuk bertemu dengan pelatih basket. Sedangkan Takaki dan Yabu berjalan menuju gedung olahraga untuk berlatih basket bersama.

Sesampainya di gedung olahraga, mereka mendengar suara pantulan bola basket. Takaki dan Yabu saling memandang keheranan, siapa yang bermain basket pagi-pagi begini? Selain mereka berdua, anggota klub basket yang lain tidak pernah bermain basket di pagi hari. Yabu membuka pintu gedung olahraga. Mereka berdua bisa melihat ada seorang cowok bertubuh pendek sedang mendrible bola basket. Mereka berdua tidak pernah melihat cowok itu sebelumnya. Gerakannya sangat lincah. Yabu dan Takaki sampai dibuat kagum oleh gerakan cowok itu. Cowok itu berlari mendekati ring, dia melompat, dan melemparkan bolanya ke arah ring. BLUSH! Bola basket itu masuk ke dalam ring dengan mulus.

“Uwah!!! Bagus sekali! Nice shoot!”, ucap Yabu sambil menepukkan kedua tangannya. Cowok itu langsung menghentikan gerakannya, ekspresi wajahnya yang kaget terlihat cukup jelas. Tampaknya cowok itu tidak menyadari kalau gerakannya diamati oleh Takaki dan Yabu.

“Gerakanmu bagus sekali!”, ucap Yabu penuh kagum. Dia berjalan mendekati cowok bertubuh pendek itu. “Eh, aku tidak pernah melihat wajahmu, kau murid baru?”, tanya Yabu.

Cowok itu mengangguk pelan. Pandangan mata Takaki dan cowok itu bertemu. Cowok itu langsung tersenyum lebar saat melihat Takaki. Dia lalu berlari menuju Takaki dan tidak menghiraukan Yabu yang berdiri di dekatnya.

“Senpai!!! Akhirnya kita bertemu kembali!!!”, ucap cowok itu. Takaki langsung tersentak kaget. Cowok itu tampaknya pernah bertemu dengannya, tapi dimana? Samar-samar Takaki merasa pernah bertemu cowok pendek ini.

“Daichan!”, tiba-tiba seorang cewek muncul di depan pintu. Napasnya terlihat terengah-engah. Di seragamnya terpasang pita merah, sama seperti cowok jangkung yang ditemui Takaki sebelumnya. “Kau ini.... kucari kemana-mana, ternyata ada disini. Ayo cepat pergi, sebentar lagi upacara dimulai, nanti kita terlambat”,ucap cewek itu. Mukanya terlihat kesal. Setelah memarahi cowok pendek yang dipanggil Daichan ini, cewek itu lalu berlalu pergi.

“Yamachan! Tunggu....”, cowok itu lalu dengan segera menyambar tas yang terletak di dekat pintu. Sebelum keluar, cowok itu menoleh ke arah Takaki, “Sampai nanti senpai!!!”, setelah berkata seperti itu, cowok itu lalu berlari keluar. Yabu dan Takaki saling berpandangan satu sama lain. Satu pertanyaan yang sama ada di kepala mereka, ‘Siapa cowok itu sebenarnya?’.

Tsuzuku ~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar