Jumat, 29 Mei 2015

TEN KNIGHTS

PART 18

Kami berempat. Aku, Chinen, Yuto, dan keito, segera menuju ke markas. Kami telah sampai di depan sebuah gedung di tengah kota yang dijadikan sebuah markas oleh para ksatria. Aku ingat pernah sekali mengunjungi tempat ini. Ya, waktu Yuto dan Yuya menjemputku dari sekolah dan langsung membawaku kemari. Disini aku diberitahu mengenai jati diriku yang sebenarnya, sebab kematian ayahku yang sebenarnya, juga pertemuan dengan beberapa ksatria yang sekarang menjadi teman baruku. Seandainya waktu itu aku tidak ikut dengan mereka, apa yang akan terjadiya?
Kami masuk ke dalam gedung, disana kami disapa lagi oleh seorang wanita di pintu depan yang juga menyapaku waktu pertama kali aku datang kemari.

“Selamat datang, Tuan Yuto, Tuan Keito, Tuan Yamada, dan Nona Chinen”, sapa wanita itu ramah sambil membungkukkan badannya kepada kami yang baru saja masuk ke dalam gedung. Kami berempat pun membalas sapaan wanita itu sambil menundukkan kepala kami. Aku melihat sekilas papan nama yang terpasang di dada wanita itu. ‘Himeka Naomi’, aku membaca papan nama tersebut. ‘Ah, ternyata nama wanita itu adalah Himeka Naomi. Lain kali kalau aku bertemu lagi dengannya akan kusapa dia’, batinku. Aku lalu bertanya dalam hati, bagaimana caranya dia bisa mengetahuinamaku? Padahal waktu pertama kali bertemu kami belum sempat berkenalan. Akan kutanyakan padanya kalau kami bertemu lagi.

Kami pun masuk ke dalam lift yang masih terbuka, di dalam lift ternyata sudah ada beberapa orang. Aku melihat wajah mereka, dan tampaknya wajah mereka sudah tidak asing lagi bagiku.

“Ohno-kun! Sedang apa disini? KYAAAA!!!! Sudah lama kita tidak bertemu!!”, Chinen langsung berlari memeluk salah seorang pria yang ada di dalam lift tersebut. Wajahnya terlihat sangat gembira.

“Kami disini untuk latihan sebelum konser. Kau juga kenapa ada disini?”, jawab pria yang dipanggil Ohno tersebut.

“Kami disini untuk bertemu dengan bos”, jawab Chinen. ‘Bos? Siapa itu? Apa mungkin yang dimaksud Chinen adalah master?’, pikirku.

“Apa kabar Matsumoto-kun, Aiba-kun, Nino-kun, dan Sakurai-kun”, sapa Keito pada 4 orang lainnya yang ada di dalam lift.

“kami dalam keadaan bagus. Oh ya, ini siapa? Aku belum pernah melihatnya”, tanya salah seorang pria yang berwajah imut dan tampaknya masih muda itu saat melihatku.

“Oh ya, perkenalkan ini pacar baruku, namanya Yamada Ryosuke”, jawab Chinen yang melepas pelukannya dari Ohno lalu memeluk tanganku dengan erat. “lalu, Ryochan. Perkenalkan mereka adalah Ohno Satoshi-kun, Matsumoto Jun-kun, Aiba Masaki-kun, Ninomiya Kazunari-kun, dan Sakurai Sho-kun”, Chinen memperkenalkan satu persatu pria yang ada di dalam lift secara berurutan mulai dari pria yang berada didepan pintu lift hingga yang berdiri paling belakang. Akhirnya aku ingat siapa mereka ini.

“mereka jangan-jangan idol grup Arashi yang sangat populer itu ya??”, tanyaku pada Chinen. Aku kaget dan tidak menyangka akan bertemu dengan artis terkenal didalam sebuah lift.

“Iya! Eh, kau baru sadar sekarang Ryochan? Mereka ini artis kebanggaan nomor satu di agensi ini. Dan ini____”, Chinen melepas pelukan dari tanganku dan kembali memeluk Ohno-kun. “dia adalah idola yang sangat kukagumi, Ohno Satoshi-kun”, Chinen mengatakan hal tersebut dengan bangga, wajahnya terlihat sama seperti fans-fans perempuan saat bertemu dengan idola pujaannya.

TING!! Lantai lift terbuka, tapi ini bukan lantai tujuan kami. Ohno-kun dan teman-temannya melangkah keluar lift. “Kami turun di lantai ini. Sampai bertemu lagi ya semua. Jangan lupa untuk menmonton konser kami ya!”, Ucap Ohno kun sesaat sebelum pintu lift menutup. Chinen melambaikan tangan dengan riang seakan memberi jawaban atas perkataan Ohno tadi.

“Uwah, aku tidak menyangka akan bertemu dengan artis populer”, kataku setelah grup Arashi sudah tidak ada di dalam lift.

“Kau akan lebih sering bertemu dengan artis terkenal bila kau sering mampir kemari”,kata Keito.

“Memangnya ada apa disini? Kenapa banyak artis terkenal disini?”, tanyaku.

“Ya jelaslah, ini kan kantor agensi Johnny’s entertainment yang terkenal itu. Yabu sudah pernah cerita kalau master punya sebuah agensi kan? Ya, disini tempatnya. Lantai 13 adalah tempat khusus ruangan master, disana kami membuat markas khusus untuk para ksatria. Tidak akan ada yang menyangka kalau markas para ksatria adalah sebuah kantor agensi kan?”, Jawab Yuto. Tepat setelah itu, pintu lift terbuka, kami telah sampai di lantai 13. Kami pun segera keluar dari lift.

“Lalu Yuri, siapa yang kau maksud dengan bos tadi? Apakah kita akan bertemu dengan seseorang yang lain?”, tanyaku pada Chinen yang berjalan di sampingku.

“Bos itu ya master, Ryochan.... di kantor ini, para artis memanggil master dengan panggilan bos. Sedangkan para ksatria saja yang memanggilnya master”, jawab Chinen. Aku mengangguk pelan, aku mulai memahami apa sebenarnya bangunan ini dan usaha apa yang dimiliki oleh master. Kami pun langsung masuk ke dalam ruangan master. Disana master sedang duduk terdiam melihat ke arah pintu, seakan seolah sedang menunggu kedatangan kami.

“Akhirnya kalian tiba juga disini”, master bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri kami. “Lalu, apa yang terjadi? Tampaknya kalian baru saja bertarung. Aku merasakan pelindung Chinen tadi. Siapa yang kalian hadapi?”

“Kami bertemu dengan seorang cewek, namanya Cikita, panggilannya adalah Queen, sang ratu kegelapan”, jawabku.

“Kalian bertarung dengan salah satu maou terkuat?”, tanya master kaget. “Lalu, bagaimana hasilnya?”

“Awalnya kami dalam keadaan terjepit. Cewek itu memiliki kecepatan serangan yang luar biasa. Tidak hanya itu, dia bahkan berhasil menghindari seranganku. Berkali-kali dia berhasil mengenaiku, jika tidak ada Ryochan, mungkin aku sudah babak belur dihajar olehnya”, jawab Chinen sambil tersenyum ke arahku. “Setelah itu, Yuto dan Keito datang menghampiri kami dan membantu kami. Kami semua bekerjasama melawannya. Tapi, kami hanya berhasil mengenainya sedikit”.

“Sudah kuduga, ternyata tidak semudah itu menghadapi maou terkuat”, gumam master.

“Lalu master, anda meminta saya untuk datang kemari. apa terjadi sesuatu?”, tanyaKeito.

“Ah iya, aku memintamu untuk melihat dengan kemampuanmu apa yang terjadi pada Yaotome, Morimoto dan Arioka”, kata master.

“Apakah telah terjadi sesuatu master?”, tanyaku yang mulai sedikit khawatir.

“Ah tidak. Ini masih firasat saja. tapi____” master terdiam.

“Tapi apa master?”, tanya Chinen yang tampaknya mulai tidak sabar ingin mengetahui apa yang terjadi.

“Coba kalian lihat berita ini”, master menyalakan TV yang ada di ruangan itu. TV itu menyiarkan rekaman siaran berita hari ini. Ada kecelakaan mobil di daerah pegunungan di wilayah barat. Mobilnya masuk ke dalam jurang dan ada sebuah ledakan besar yang terjadi. Aku bisa melihat asap yang mengepul dari jurang. Belum diketahui apakah ada korban jiwa karena belum bisa dilakukan evakuasi akibat jurang yang terlalu curam. Di akhir berita, aku bisa melihat ciri-ciri mobil yang diperkirakan masuk ke dalam jurang tersebut. Setelah siaran tersebut selesai, master mematikan TV tersebut. Semua orang yang ada di dalam ruangan terdiam.

“Ciri-ciri mobil yang ada di berita itu.... bukankah sama dengan mobil yang dinaiki oleh rombongan Hika?”, Chinen mulai membuka suara.

“Ahahaha....kau bicara apa Chii? Mobil seperti itu tidak hanya satu, tapi banyak. Bisa saja itu mobil lain kan?”, Yuto membantah perkataan Chinen. Dia tidak ingin percaya itu adalah mobil yang ditumpangi oleh teman-temannya.

“Aku tidak bisa melihat mereka”, Keito ikut membuka suara. Dia melihat bola kristal yang ada di tangannya. “Ada sesuatu seperti kabut yang menutupi penglihatanku. Aku tidak bisa memastikan keadaan mereka”.

“Aku tadi sudah  mencoba menghubungi mereka bertiga. Tapi tidak ada satupun telepon yang terhubung”, ucap master. Kami semua pun terdiam dan mulai berpikiran buruk bahwa mobil yang kecelakaan itu adalah mobil yang membawa teman kami. Apa yang sebenarnya terjadi pada Hika,Daichan, dan Ryuu?

“Lalu? Apa yang harus kita lakukan? Aku juga mau kesana master. Akan kucari mereka bertiga”, ucap Chinen. Dari wajahnya aku bisa melihat kalau dia mulai panik.

“Tenanglah, aku sudah menyuruh Yabu dan Inoo untuk pergi kesana. Kita berharap saja mendapat kabar yang bagus dari mereka berdua. Kalian berempat tetap disini saja. Sebentar lagi Jin, si alchemist itu akan tiba kemari nanti malam”, kata master.

“Tunggu, kalau Jin akan kemari, itu tandanya Yuya juga akan pulang. Bagaimana ini? Dia pasti tidak tenang kalau mendengar apa yang terjadi pada Daichan”, ucap Yuto yang juga agak panik.

“Aku sendiri nanti yang akan mengatakan pada Takaki, kalian berempat jangan bicara apapun”, perintah master. Kami semua pun menunggu di dalam markas hingga malam tiba.

Malam harinya

Jam menunjukkan pukul 23.00, sudah hampir tengah malam, tapi aku tidak merasakan kantuk sekalipun. Rasa khawatir yang kurasakan mengalahkan rasa kantukku. Bahkan aku tidak berselera saat makan malam tadi. Aku berusaha menghilangkan pikiran buruk yang ada, tapi tetap saja tidak bisa.

“Tenanglah,kalau kau memasang wajah seperti itu, kau bisa cepat tua”, ucap Keito sambil menyodorkan segelas kopi padaku. Wajahnya terlihat tenang, tidak ada ekspresi cemas sama sekali.

“Kau tidak khawatir dengan mereka?”, tanyaku pada Keito.

“Hmm....Sejujurnya aku selalu khawatir setiap saat. Kau tahu kemampuanku kan? Berkat kemampuan ini aku bisa tahu apa yang terjadi pada teman-temanku. Tidak jarangaku melihat temanku yang terluka dan pertarungan yang tanpa henti”, Keito terdiam lalu melanjutkan perkataannya, “Kita, para ksatria, ditakdirkan untuk terus bertarung melawan makhluk kegelapan, dari dulu bahkan sekarang. Tidak ada yang tahu kapan pertarungan ini akan berakhir. Pertarungan bisa terjadi kapan saja, dimana saja, dan menimpa siapa saja. terkadang kami bisa melewati suatu pertarungan tanpa terluka, tapi kami juga sering terluka parah saat pertarungan”, Keito meminum kopi yang ada di tangannya. Aku pun teringat kejadian yang menimpa Daiki tempo hari. “Dulu, saat kau belum bergabung dengan kami, saat ada anggota yang terluka parah, luka yang diderita bisa lama sembuhnya, bisa berhari-hari. Pernah ada kejadian, seluruh ksatria terluka dan ada pertarungan yang harus dilewati. Maka dalam kondisi terluka pun kami bertarung. Oleh karena itu, kami berterimakasih atas kehadiranmu dan kemampuanmu”, ucap Keito.

“Kau tidak usah khawatir. Hika, Daichan, dan Ryuu adalah ksatria. Mereka adalah orang-orang yang tangguh”, ucap Keito dengan menyakinkan.

“Kenapa kau bisa berkata seperti itu? Kenapa kau bisa sangat yakin pada mereka?”,tanyaku.

“Karena aku percaya pada mereka. mereka pasti akan baik-baik saja. meskipun dengan kemampuanku saat ini aku tidak bisa melihat apa yang terjadi pada mereka, tapi aku bisa merasakan bahwa mereka akan baik-baik saja. aku terus melihat apa yang terjadi pada kalian sehingga aku bisa berkata seperti itu”, jawab Keito. mendengar ucapan Keito aku merasa sedikit tenang. Keito berusaha berpikiran positif kalau mereka baik-baik saja, aku pun berusaha untuk seperti Keito.

“Cih, Jin ini lama sekali sih? Katanya akan tiba malam ini”, ucap Chinen yang mondar-mandir dari tadi.

“Mungkin pesawat yang mereka tumpangi ada sedikit masalah. Bersabarlah”, ucap Yuto yang berdiri mengamati keadaan di luar jendela.

“Wuaahhhh, tapi aku sudah tidak sabar”, teriak Chinen melepaskan rasa kesalnya. Tiba-tiba pintu ruangan terbuka.

“Maaf, aku terlambat. Yahhooo! Semuanya. Tadaima!!”, seorang pria yang cukup tampan masuk ke dalam ruangan. Penampilannya yang cukup sederhana, celana jeans, kaosputih, jaket jeans, dan kacamata hitam yang dipakai seakan tidak bisa menutupi ketampanan dari pria itu.

“JIN! Kau lama sekali......”, teriak Chinen kesal. Tampaknya dia ingin melepaskan rasa kesalnya saat itu juga.

“Ya,jangan salahkan aku donk. Salahkan mereka yang memilih pesawat. Mereka memesan tiket pesawat, tapi tidak tahunya pesawat tersebut delay. Sampai di bandara,mereka juga tidak bisa mencarikan tumpangan taksi. Makanya kami telat datang kemari”, jawab pria yang dipanggil Jin itu.

“Kau masih tetap seperti dulu Akanishi”, kata master menyapa pria itu.

“Kau juga masih tetap sehat, pak tua”, balas Jin.

“Jin! Itu tidak sopan tahu!”, seru Chinen jengkel. Jin hanya melengos lalu duduk disofa.

“Jin! Seenaknya saja kau pergi. Bawa sendiri barang-barangmu donk!”, Yuya yang baru saja tiba, masuk ke dalam ruangan sambil membawa beberapa tas besar yang kelihatannya cukup berat.

“Selamat datang Yuya”, ucapku.

“Hee.....begitu ucapanmu pada gurumu hah?”, kata Jin sambil mulai menyalakan rokok. Yuya hanya mencibir pelan dan meletakkan tas di sudut ruangan.

“Dia, si alchemist itu?”, bisikku pelan pada keito yang duduk di sebelahku. Pria itu lalu menoleh ke arahku, aku kaget saat melihatnya.

“Hoi chibi! Siapa namamu?”, Jin menunjuk ke arahku.

“Yamada Ryosuke”, jawabku singkat.

“Hee....jadi kau anaknya Yamada Ryoichi”, gumam Jin sambil melihatku mulai dari atas hingga bawah. “Kau memang mirip dengannya. Kemampuanmu Healing kan?”, tanya Jin.

“Bagaimana kau bisa tahu?”, tanyaku keheranan.

“Warna auramu menunjukkan kalau kau punya kemampuan itu”, jawab Jin singkat. ‘warna aura? Apa maksudnya?’, saat aku ingin bertanya lagi pada Jin, dia sudah memulai pembicaraan lain.

“Jadi,sudah sampai mana?”, tanya Jin pada master.

“Kelihatannya sudah sampai tahap pertama”, jawab master.

“Cih,itu berarti waktunya semakin dekat”, kata Jin.

“Anuu, apa yang kalian bicarakan?”, tanyaku tidak mengerti.

“Kalian masih ingat tentang necromancer yang tersegel itu kan?”, tanya master pada kami. Kami semua mengangguk. “Tampaknya makhluk kegelapan berencana membangkitkan kembali sang necromancer”.

“Bukankah ada segelnya? Tidak semudah itu akan terbuka kan?”, tanyaku.

“Kalau kau tahu caranya, maka segel itu bisa dibuka. Segel itu seperti gembok. Untuk membukanya kau membutuhkan suatu cara yang disebut kunci”, jawab Jin.

“Memangnya bagaimana melepas segelnya?”, tanyaku.

“Gampang saja, cukup alirkan darah dari keturunan ksatria murni maka segel itu akan melemah dan siapapun bisa merusak segel itu”.

“Keturunan ksatria murni?”, tanyaku lagi.

“Ksatria itu bermacam-macam, ada yang berasal dari ksatria campuran, yaitu ksatria yang lahir dari seorang ksatria dan manusia biasa, contohnya adalah kalian semua yang ada di ruangan ini. Bukankah ayah atau ibu kalian salah satunya adalah ksatria, yang lain Cuma manusia biasa?”. Aku mengganguk mendengar perkataan Jin. Ayahku ksatria, tapi ibuku memang Cuma manusia biasa.

“Ada juga yang berasal dari pasangan manusia biasa. Hal ini adalah kasus istimewa, biasanya diketahui kalau ada leluhur mereka yang juga seorang ksatria seperti kakek atau nenek buyut mereka. contohnya adalah Inoo, Yabu, dan Ryuu. Merekabertiga lahir dari pasangan manusia biasa tapi memiliki kemampuan khusus seperti seorang ksatria sehingga mereka juga termasuk seorang ksatria. Nah,untuk yang terakhir ini golongan yang sangat langka, bahkan bisa dibilang sampai saat ini tidak pernah terjadi”, kata Jin sambil menyalakan rokoknya yang baru karena rokok yang lama sudah habis. “Yup, mereka adalah ksatria yang berasal dari keturunan 2 orang ksatria. Keturunan ksatria murni”.

“Kenapa mereka bisa disebut langka?”, tanyaku.

“Keturunan seorang ksatria tidak selalu menjadi seorang ksatria juga. Bukankah tadi ada contohnya? Kakek dari Inoo adalah seorang ksatria, tapi ayah dan ibunya adalah manusia biasa, baru cucunya yaitu Inoo yang memiliki kemampuan sebagai seorang ksatria. Apalagi bila 2 ksatria menikah, biasanya anak mereka malah menjadi anak normal, bukan seorang ksatria. Kejadian ini terus berlanjut hingga beberapa ratus tahun mulai dari dulu hingga sekarang, sehingga banyak yang mengasumsikan kalau keturunan ksatria murni itu tidak ada. Tapi keyakinan itu bisa dibantah saat ini”, kata Jin lagi.

“Apakah ada keturunan ksatria murni diantara kami?”, tanyaku. Semua orang terdiam, tampaknya mereka semua tahu siapa yang dimaksud.

“Daichan.....”, lirih Yuya pelan. “daichan-lah keturunan ksatria murni”.

“Daichan?”,aku tersentak kaget. Aku ingat pernah membaca di buku harian ayah kalau ayah dan ibu Daiki adalah ksatria, sama seperti ayah. “Jadi, Daichan.....”

“Tunggu dulu, kenapa harus darah dari keturunan ksatria murni? Apakah darah ksatria biasa tidak bisa?”, tanya Chinen.

“Bodohnya.....ksatria yang berasal dari keturunan ksatria murni itu memiliki kekuatan 2x lipat lebih besar dari ksatria pada umumnya. Kalian, para ksatria yang berasal dari campuran, hanya memiliki kekuatan ksatria yang diturunkan oleh satu ksatria. Berbeda dengan keturunan ksatria murni, karena memiliki 2 orang ksatria yang diturunkan pada satu anak. Coba bayangkan kalau 2 kekuatan ksatria bergabung menjadi satu wadah, seberapa besar kekuatan yang ada. Bukankah sampai sekarang Daiki itu belum bisa mengontrol kekuatannya? Itu menunjukkan seberapa besar kekuatan yang ada di tubuhnya”, jawab Jin.

“Bila makhluk kegelapan berhasil menangkap anak itu. Maka urusan membuka segel menjadi mudah”, kata Jin enteng. “Lalu, dimana anak itu sekarang? Aku tidak melihatnya disini”. Mendengar ucapan Jin kami semua yang ada di ruangan terdiam, tampaknya kami mulai berpikiran sama.

“Hei, daichan mana? Mereka belum pulang?”, tanya Yuya.

“Takaki, dengarkan dulu dengan tenang. Kami semua belum bisa menghubungi mereka yang sedang berangkat ke misi. Tadi ada berita yang mengabarkan ada kecelakaan didaerah pegunungan, tempat misi mereka, kami berharap itu bukan mereka, tapi sampai saat ini kami tidak bisa menghubungi mereka”, ucap master tenang. Aku bisa melihat raut wajah Yuya yang berubah menjadi panik dan tingkah lakunya pun berubah menjadi seperti orang yang tidak tenang.

“Misi apa?”, tanya Jin pada master.

“Aku sudah memberitahumu kan? Kalau para makhluk kegelapan mulai berkumpul di daerah barat. Nah, aku meminta beberapa ksatria untuk mengecek apa yang terjadi disana karena Okamoto tidak bisa melihat apa yang terjadi. Arioka mengusulkan diri untuk pergi kesana, yaotome dan Morimoto juga ikut pergi menemaninya”, jelas master. Jin tertawa begitu mendengar jawaban master.

“wah,wah, pak tua. Kau benar-benar payah. Kau membiarkan mereka pergi kesana? Kau tahu kan kalau Daiki itu adalah sasaran mereka? bahkan sejak awal kekuatan Arioka bangkit, bukankah mereka sudah mengincar dia?”, Jin berkata sambil tertawa terbahak-bahak seakan-akan itu adalah sesuatu yang sangat lucu.

“Jadi, sejak awal Daichan itu sudah diincar?”, tanyaku.

“Benar, saat Daiki dan Fuka masih kecil, kami dan para ksatria yang lain sudah memantau keadaan mereka. awalnya kami mengira kalau anak-anak itu bukanlah seorang ksatria, hanya anak normal. Tapi, saat makhluk kegelapan itu menyerang mereka dan kekuatan Daiki bangkit, maka kami yakin kalau Daiki adalah anak yang dicari oleh makhluk kegelapan. Kami langsung melindungi Daiki agar tidak diserang oleh mereka”, kata Jin.

“Tapi, kenapa mereka tidak langsung menyerang Daichan? Lalu, bagaimana dengan Fuu adiknya? Setahuku saat bertarung kemarin, mereka berdua memiliki kemampuan yangsama”, tanyaku lagi.

“Kemampuan Fuka itu berasal dari Daiki. Waktu kemampuan Daiki bangkit, Fuka juga berada disana kan? Fuka terkena efek serangan dari Daiki, sehingga secara tidak langsung kemampuan Daiki terpendam di dalam tubuhnya dan menjadi kemampuan dia sendiri. apalagi, dia dirasuki oleh salah satu maou, jadi dia bisa menggandakan dan meningkatkan kemampuan Daiki yang berada dalam tubuhnya”, jawab Jin. “Yuya, kau mau kemana?”, tanya Jin yang melihat Yuya beranjak pergi keluar ruangan.

“Aku ingin mencari Daichan, aku tidak punya waktu berdiam diri disini. Kalau sampai dia ditangkap oleh makhluk kegelapan......”, Yuya terdiam tidak melanjutkan perkataannya, aku sendiri pun seakan tahu apa yang ingin diucapkan oleh Yuya.

“Aku sudah mengutus Yabu dan Inoo untuk mencari mereka. Sampai saat ini belum ada kepastian kalau mereka tertangkap makhluk kegelapan kan? Lebih baik kau tenang saja disini dan tunggu kabar dari mereka”, kata master.

“Aku tidak mau! Aku ingin memastikan keselamatan daichan dengan mataku sendiri”, Yuya berontak. Dia segera berbalik ke arah pintu, akan tetapi langkahnya seakan terhenti. “Jin, kau.....”, geram Yuya. Aku bisa melihat lantai dibawah kaki Yuya seakan membelit kakinya. Lantai itu terlihat liat.

“Tenanglah, Baka! Aku tahu kalau kau cemas dengan keadaan kekasihmu, tapi emosi bukan hal yang tepat untuk memecahkan masalah”, Jin berkata dengan tenang seolah-olah tidak ada sesuatu yang gawat terjadi. “Kalau kau mau diam dan mendengarkan apa yang kukatakan, kupastikan bahwa kekasihmu itu akan kembali dengan selamat”,kata Jin lagi.

‘Sebenarnya, apa yang ingin dikatakan oleh Jin?’, tanyaku dalam hati.

Tsuzuku ~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar