Jumat, 29 Mei 2015

TEN KNIGHTS

PART 19

“Hei Jin! Lepaskan aku dari sini!”, teriak Yuya. Kaki yuya masih dibelit  oleh lantai, bahkan separuh dari kakinya sudah mulai terbenam seakan-akan lantai itu menghisap Yuya ke dalam.

“Semakin kau berontak, kakimu akan semakin terhisap oleh lantai. Tenanglah sedikit. Dengarkan aku bicara dulu”, jawab Jin santai sambil menghisap batang rokoknya.Yuya mulai tenang, tidak berusaha untuk berontak lagi. Jin melihat ke arah kami semua, “mulai hari ini, kalian akan menjalani training khusus denganku”.

“Training khusus? apa maksudmu?”, tanya Yuto tidak mengerti.

“Training ini untuk meningkatkan kemampuan khusus dan kemampuan bertarung kalian. Yuto,Yuya, dan Chii, kemampuan khusus dan kemampuan bertarung kalian sudah cukup tinggi, tapi itu masih belum cukup untuk menghadapi maou tertinggi. Untuk Keito, aku akan melatih kemampuan bertarungmu, sedangkan untuk si chibi yang ada disana....”, Jin menunjuk ke arahku, “masih banyak yang harus kau pelajari, kemampuan bertarung dan kemampuan khususmu paling rendah di antara ksatria yang lain, maka aku akan melatihmu mulai dari dasar”.

“Jangan bercanda Jin! Kita tidak punya waktu untuk training sekarang! Daichan dan yang lainnya sedang menunggu kita!”, teriak Yuya penuh emosi. Kakinya mulai terbenam lagi ke dalam lantai.

“Tenanglah....belum ada jaminan kalau daiki ditangkap oleh makhluk kegelapan kan? Inoo dan Yabu juga sudah menuju kesana. Percayakan saja pada rekanmu itu. Terlebih, meskipun kalian semua pergi kesana, dengan kemampuan kalian saat ini, pasti kalian akan langsung dikalahkan dengan mudah oleh makhluk kegelapan itu”, ucap Jin.

“Aku pasti bisa mengalahkan mereka semua!”, seru Yuya. Tiba-tiba Jin melompat kearah Yuya dan memegang lehernya. Jin mencekik Yuya hingga mukanya mulai berubah menjadi pucat. Yuya terlihat seperti orang yang kehabisan nafas.

“Hentikan! Apa yang kau lakukan? Yuya bisa mati!”, teriakku.

“Dengar anak sombong! Aku mengakui kalau kau yang paling kuat diantara para ksatria yang lainnya, tapi kekuatanmu itu belum sebanding dengan maou tingkat tinggi.Aku tahu seberapa besar kekuatan mereka, dan kau sama sekali belum mencapai separuh dari kekuatan mereka. kalau kau pergi sekarang, itu sama saja dengan bunuh diri!’, Jin melepas tangannya dari leher Yuya, Yuya terbatuk-batuk sambil memegang lehernya yang berwarna kemerahan. Aku segera menghampiri Yuya dan membantu mengobatinya dengan kemampuanku. Jin juga melepas kaki Yuya darilantai hingga sekarang dia bisa bergerak lagi.

Jin kembali duduk di kursi dan menghisap rokoknya lagi. “Misalkan saja, kita memperhitungkan skenario terburuk yaitu Daiki sudah ditangkap oleh mereka,mereka tidak akan langsung membunuhnya begitu saja, mereka akan menunggu sampai saat bulan tidak tampak”.

“Saat bulan tidak tampak? Memangnya kenapa pada saat itu?”, tanyaku.

“Pada saat bulan tidak tampak, kekuatan makhluk kegelapan berada dalam kondisi yang paling baik, karena pada saat itu terjadi kegelapan sempurna, tidak ada cahaya sama sekali. Apalagi bila mereka ingin membangkitkan sang necromancer itu, mereka pasti akan membangkitkannya saat itu”, jawab Jin.

“Kapan saat bulan tidak tampak?”, tanyaku lagi.

“Satu bulan mulai dari sekarang”, jawab keito sambil memandang bulan di langit malam yang saat ini berbentuk seperti bulan sabit.

“Ya, kita punya waktu kurang lebih satu bulan. Aku ingin kalian menyerang mereka sebelum saat itu, dan mencegah mereka membangkitkan sang necromancer. Karena jujur saja, aku juga tidak ingin sang necromancer itu bangkit, merepotkan”, Jin menghisap rokoknya dan menghembuskan asapnya. “Dalam waktu 2  minggu, aku akan melatih kalian semua agar menjadi lebih kuat. Aku bisa meningkatkan kekuatan kalian, pak tua itu juga akan membantu melatih kalian”, tunjuk Jin pada master. Master hanya mengangguk pelan.

“Baiklah, ini sudah terlalu malam. Lebih baik kalian kembali ke rumah dan beristirahat. Kalian pasti capek setelah bertarung dengan makhluk kegelapan dan baru pulang dari luar negeri kan? Gunakan kesempatan ini untuk menenangkan pikiran kalian. Aku akan terus memantau Inoo dan Yabu dan akan segera menghubungi kalian bila ada kabar dari mereka”, ucap master. Satu persatu dari kami pun keluar dari ruangan dan menuju ke bawah untuk segera kembali ke rumah. Jin juga  ikut bersama kami kembali ke rumah, dia juga akan ikut tinggal bersama kami sambil melatih kami semua.

Jam menunjukkan pukul 2 pagi, kami sekarang telah kembali ke rumah. Entah kenapa, saat aku masuk ke dalamnya, aku merasa kondisi rumah sangat sepi. Lampu yang tidak menyala, tidak ada seorangpun yang menyambut kami, membuatku merasa rumah ini benar-benar kosong. Kami semua tetap diam semenjak kami keluar dari markas, bahkan selama perjalanan, tidak ada satupun dari kami yang bicara, hanya Jin saja yang terus bicara mengenai perjalanannya selama ini dan apa yang dilakukannya, tapi tidak ada satupun diantara kami yang menanggapi omongannya. Chinen yang biasanya banyak tingkah dan selalu menempel padaku pun hanya diam saja.

“Wuah!!! Rumah ini sekarang berubah ya, dulu tidak seperti ini. Ah iya, rumah ini direnovasi saat Yuto dan Daiki pindah kemari kan?”, ucap Jin memecah keheningan. Yuya hanya diam saja dan langsung naik menuju kamarnya, keito dan Yuto juga sama. Hanya tinggal aku, Chinen, dan Jin saja yang tinggal berada disana.

“Nah, aku tidur dimana?”, tanya Jin pada kami berdua.

“Dipojok sebelah sana ada kamar kosong, kau bisa tidur disana”, jawab Chinen sambil menunjuk ruangan yang ada di pojok ruangan sebelah kamar Ryuu. Jin segera melangkah kesana, tidak beberapa lama dia menoleh lagi kepada kami, “kalian anak kecil harus tidur, latihan akan dimulai nanti pagi. Aku tidak ingin kalian mati saat menjalani latihanku nanti”, ucap Jin sambil lalu. Aku tertegun di tempat dan memikirkan perkataan Jin barusan. Latihan apa yang akan kami jalani?, batinku.

“Saa....Ryochan, ayo kita juga tidur. Kau pasti capek setelah tadi menggunakan kemampuanmu terus menerus saat pertarungan kan?”, Chinen menggandeng tanganku lagi, senyum ceria mulai tampak di wajahnya. Aku menghembuskan nafas lega melihat Chinen yang ceria seperti biasanya. Kami pun masuk ke kamar masing-masing, aku merebahkan badanku di atas ranjang. Kucoba memejamkan mataku, tapi aku sama sekali tidak mengantuk. Terlalu banyak yang terjadi hari ini, pertarungan dengan salah satu maou tertinggi, berita mengenai kecelakaan yang menimpa daichan dkk, munculnya sang alchemist.

Aku khawatir dengan nasib rombongan Daichan dan yang lain, apa mereka semua baik-baik saja? aku bisa mengerti perasaan Yuya yang begitu emosi dan tidak tenang saat dia tidak bisa mengetahui apa yang terjadi pada mereka semua. Aku berharap mereka semua selamat. Aku mengambil buku harian ayah yang terletak dimeja, aku mulai membaca lagi buku harian ayah.

Tanggal xx, Bulan xx, Tahun xx

Master menceritakan pada kami semua mengenai asal usul ksatria dan apa yang akan terjadi nantinya. Aku tidak menyangka tugas yang kami jalani ini sangat berat. Kami semua pun baru mengetahui kalau master adalah keturunan dari sang magician. Master kemudian memperkenalkan pada kami seorang pemuda yang usianya lebih muda daripada kami semua. Namanya Akanishi Jin.  Dia adalah keturunan dari sang magician. Wajahnya yang terlihat seperti bocah tengik membuatku tidak percaya kalau dia adalah orang yang mempunyai kekuatan yang setara dengan master. Dia menunjukkan kepadaku kemampuannya yang hebat. Bahkan dia juga membantuku meningkatkan kemampuanku.

‘Ayah juga sudah mengenal Jin rupanya, pantas saat dia bertemu denganku dia tahu kalau aku adalah anak ayah’, gumamku pelan. Aku menutup buku dan mencoba memejamkan mata untuk tidur. Berkali-kali aku membuka mata, tampaknya aku sama sekali tidak bisa tidur. Tidak terasa, jam menunjukkan pukul 5 pagi. Aku akhirnya memutuskan keluar kamar. Aku mendengar suara dari arah dapur, aku menuju kesana dan kulihat Chinen sedang memasak disana.

“Apa yang kau lakukan?”, tanyaku. Chinen terperanjat kaget, tampaknya dia tidak tahu mengenai kedatanganku.

“Oh, Ryochan. Pagi! Tumben kau sudah bangun”, Chinen menyapaku dengan senyum. “Aku sedang menyiapkan sarapan untuk semuanya. Kau suka roti bakar dengan selai strawberry kan?”.

“Yup. Aku suka strawberry. Bagaimana kau bisa tahu?”, tanyaku.

“Hmm....bagaimana mungkin aku tidak tahu kesukaan pacarku sendiri?”, Chinen tersenyum dengan bangga. Aku melihat ada kantung hitam di sekitar matanya, mata dan hidungnya pun kemerahan.

“Kau tidak tidur tadi?”, tanyaku. Chinen terdiam tidak menjawab pertanyaanku. “Kau, memikirkan mereka?”, tanyaku lagi.

“Nee Ryochan, kau tahu? Daichan dan aku itu sepupu?”, tanya Chinen. Aku mengangguk pelan. “Dulu waktu kecil, kami sering bermain bersama. Ibuku dan ibunya Daichan adalah kakak beradik, selain itu, mereka berdua juga sama-sama ksatria, sehingga hubungan kami sama-sama dekat. Terkadang kami bermain bersama bila keluarga mereka main ke rumahku. Aku juga tahu kalau mereka sering dititipkan ke rumahnya Hika saat kecil. Daichan waktu kecil sangat manis, dia anak  yang suka tersenyum, baik, semua orang suka padanya. Dia punya julukan angel smile lo.... karena senyumnya membuat semua orang yang melihatnya juga ikut bahagia”, Chinen mengoleskan selai ke permukaan roti dan melanjutkan ceritanya, “tapi,suatu hari, senyum itu hilang dari wajah Daichan. Hari ketika kemampuan khususnya bangkit, saat itu juga daichan kehilangan semuanya. Saat ibuku membawanya kerumah, aku senang akhirnya bisa tinggal bersama dengannya. Aku bermaksud akan menghiburnya dan menyemangatinya, tapi.....”, Chinen memotong pembicaraannya, dia mengambil gelas kosong dan mengisinya dengan susu. “dia sama sekali tidak tersenyum. Dia sama sekali tidak keluar dari kamarnya. Ibuku dan master juga melarangku masuk ke kamarnya karena kekuatannya tidak terkendali, mereka memasang pelindung yang kuat di sekitar sana sehingga aku tidak bisa masuk. Setiap hari aku melihatnya dari luar jendela kamar”. Gerakan Chinen terhenti. Aku mengambil kotak susu yang ada di tangannya dan menggantikannya menuang susu.

“saat akhirnya dia diperbolehkan keluar, aku berusaha mengajaknya bermain. Tapi dia sama sekali tidak tersenyum. Wajahnya seperti orang yang sudah mati. Aku tidak  tega melihatnya. Suatu hari, makhluk kegelapan datang menyerang kami. Daichan menghadapi mereka dengan tangan kosong, dia tidak menggunakan kemampuannya karena takut akan mengenaiku. Akibatnya, daichan terluka parah saat melindungiku. Aku menyesal tidak bisa membantunya waktu itu. Saat itu, kemampuanku pun bangkit. Aku pun berjanji padanya akan melindunginya dan membantunya saat kesusahan. Aku tidak akan membiarkan dia menderita lagi. Untuk pertama kalinya, aku melihatnya tersenyum lagi semenjak dia tinggal bersama kami”, Chinen menghembuskan nafas panjang. Aku bisa melihat wajahnya yang murung.

“Seandainya aku ikut bersama dengannya waktu dia akan pergi, aku bisa mencegah hal ini terjadi. Padahal aku sudah berjanji seperti itu padanya. Aku sama sekali tidak bisa menepatinya. Waktu dia bertarung dengan Fuu juga begitu, aku hanya bisa lari dan dilindungi olehnya. Aku anak yang jahat!”, mata Chinen mulai berkaca-kaca. Spontan aku memeluk Chinen dari belakang.

“Yuri, kau anak yang baik. Kau selalu memikirkan orang lain. Kau bahkan terus memikirkan Daichan, kau terus mengkhawatirkannya bahkan kau sama sekali tidak bisa tidur memikirkan mereka kan?”, kataku.

“Tapi, tapi....”, suara Chinen mulai terdengar parau. Aku bisa merasakan ada tetesan air yang membasahi lengan bajuku.

“Aku percaya kalau Daichan saat ini pasti baik-baik saja. Kau sudah lama mengenal Daichan kan? Kau pasti tahu kalau dia tidak akan semudah itu dikalahkan. Dia bahkan bisa mengimbangi kekuatan Fuu yang juga maou terkuat kan?”, Chinen berbalik menghadap ke arahku. Dia memelukku dari depan. Aku mengelus rambutnya. Aku bisa mendengar isakan pelan. Aku membiarkan Chinen seperti ini untuk beberapa saat.

“Uwaah.....kalian berdua ini, masih pagi sudah mesra...”, seru Jin dari arah pintu. Aku langsung melepaskan pelukan Chinen. Chinen melihatku dengan muka cemberut.

“Sedang apa kau disini?”, tanya Chinen ketus. Tampaknya dia kesal karena aku melepas pelukannya.

“Aku lapar. Aku ingin sarapan. Yang lain mana?”, Jin langsung duduk di meja makan.

“A-a-aku akan memanggil mereka”, jawabku gugup dan langsung pergi keluar. Aku hampir saja bertrabakan dengan keito yang ada di pintu. Aku juga melihat Yuto yang sedang membuat pelindung dan sekarang akan menuju ruang makan. Tinggal Yuya yang masih belum turun. Aku naik ke lantai tiga untuk memanggil Yuya. Aku menghampiri kamarnya, aku tidak melihat siapapun di dalam. Kamarnya kosong. ‘pergi kemana dia?’, tanyaku dalam hati. Aku mencoba mengintip di kamar daichan yang berada di sebelahnya, aku bisa melihat Yuya terduduk diam disebelah tempat tidur Daichan. Tampaknya dia sudah berada disana semenjak kami pulang kerumah. Aku mengetuk pintu, tapi Yuya tampaknya tidak menyadarinya. Aku masuk dan menghampirinya.

“Yuya?”,tegurku pelan. Yuya menoleh ke arahku. Aku bisa melihat raut wajahnya yang lesu. “sarapan sudah siap, kau tidak mau makan?”, tanyaku.

“Aku tidak berselera makan. Kalian makan duluan saja”, jawab Yuya singkat. Aku hanya menyerah dan kembali turun.

“Loh? Yuya mana?”, tanya Chinen begitu aku masuk ke ruang makan.

“Dia tidak mau makan, tidak selera katanya”, jawabku.

“Biarkan saja si bodoh itu. Kita makan saja dulu”, ucap Jin cuek dan langsung mengambil roti yang tersedia di meja. “setelah ini, latihan dimulai. Bersiaplah!”.

“Boleh aku latihan setelah pulang sekolah?”, tanya Keito.

“Kau ingin masuk sekolah?”, tanya Jin heran.

“Ya, aku ingin membuat catatan untuk Daichan, kami sekelas. Selain itu, aku juga harus membantu di OSIS selama Daichan tidak ada”, jawab Keito.

“Kenapa kau harus membantu di OSIS?”, tanyaku heran.

“Karena aku sekretaris OSIS, selama Daichan tidak ada, banyak hal yang harus diurus. Aku akan membantu pengurus OSIS yang lain sampai Daichan kembali”, jawab Keito lagi.

“Baiklah, kalian yang masih pelajar, setelah ini pergilah ke sekolah. Pagi ini biar aku melatih Yuya dulu saja. kalian berempat akan latihan setelah pulang sekolah”, ucap Jin. Kami berempat mengangguk dan segera bersiap pergi ke sekolah setelah sarapan.

Di daerah pegunungan, di wilayah barat. Tempat Inoo dan Yabu.

“Disinikah tempatnya?”, tanya Yabu. Di sekitar pinggir jurang, terdapat garis polisi dan bekas tabrakan di pagar jalan. Dia melihat ke arah bawah dimana ada jurang yang cukup curam dibawah mereka. Bulu kuduknya terasa merinding melihat pemandangan itu.

“Tidak salah lagi, disini tempatnya. Tapi, bagaimana caranya kita turun?”, tanya Inoo sambil melihat ke bawah. Dia juga merasa merinding sama seperti Yabu.

“Tidak ada jalan lain, kita turun lewat sini aja langsung. Kalau kita memutar, akan membutuhkan waktu lama”, ucap Yabu. Dia memasang tali di pagar jurang, setelah memastikan ikatannya kuat, Yabu memeluk Inoo dengan kuat. Keduanya turun kebawah sambil berpegangan pada tali.
Kini mereka berdua telah melewati setengah perjalanan turun ke bawah jurang. Tali yang mereka pegangi telah habis. Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk melompat saja. Yabu melepas talinya dan mereka pun meluncur ke bawah. Mereka berhasil sampai dibawah meskipun pendaratannya tidak sempurna.

“Kota, kau tidak apa-apa?”, tanya Inoo. Posisi Inoo saat ini sedang menindih tubuh Yabu. Yabu berusaha melindungi Inoo saat mereka jatuh tadi.

“Tidak apa-apa. Kau tidak terluka?”, tanya Yabu sambil melihat ke wajah Inoo.

“Kau ini, aku baik-baik saja. bukankah kau yang terluka daripada aku?”, Inoo berdiri dan membantu Yabu untuk kembali duduk. Inoo mengusap luka yang ada di tubuh Yabu dengan saputangan yang ada di sakunya.

“Tidak apa-apa, aku ada untuk melindungimu. Kau adalah orang yang paling berharga bagiku, apapun akan kulakukan untukmu”, Yabu tersenyum pada Inoo yang terus melihatnya dengan muka yang tampak khawatir, seakan ingin menunjukkan bahwa luka yang diderita olehnya tidak terasa sakit sama sekali.
“Bagiku kau juga sangat berharga, sekali-kali pikirkan tentang dirimu sendiri juga. Kalau kau terluka gara-gara aku, aku tidak merasa senang”, Inoo menghela nafas pelan. Yabu hanya megusap kepala Inoo sambil tersenyum, “Aku mengerti”.
Mereka berdua mulai berdiri dan melihat keadaan di sekitar mereka. Mereka berdua melihat sisa mobil yang terbakar hangus di dekat mereka.

“Tidak salah lagi, ini mobil yang membawa rombongan Hika dan yang lain”, desah yabu pelan sambil mengamati plat nomor mobil.

“Ya ampun, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa bisa jadi seperti ini?”, Inoo menutup mulutnya dan membelalakkan matanya seakan tidak percaya dengan apa yang dilihat olehnya saat ini. Yabu mencoba membongkar puing-puing mobil yang ada didepannya. Mencoba memeriksa apakah ada orang yang ada di dalam mobil. Tapi, mereka berdua sama sekali tidak menemukan seorangpun disana.

Inoo memeriksa di sekitar puing mobil yang berserakan yang berada di dekat rongsokan mobil, melihat apakah dia bisa menemukan Hika, Ryuu, dan Daiki yang seharusnya menaiki mobil tersebut. “Hmm.... aneh. Aku sama sekali tidak bisa menemukan mereka bertiga. Dimana mereka?”, gumam Inoo pelan. Saat Inoo sedang sibuk memeriksa, terdengar suara yang berasal dari gerumbulan semak yang ada didekatnya. Spontan, gerakan Inoo terhenti dan memandang gerumbulan semak yang bergoyang dan menimbulkan suara tersebut. Dia merasa ada sesuatu yang ada dibalik sana.

“Kota....”,panggil Inoo pelan.

“Kota...”,panggil Inoo lagi. tapi tampaknya Yabu sama sekali tidak mendengar panggilan Inoo dan terus memeriksa puing-puing mobil yang ada di depannya. Inoo memegangi pinggangnya, dimana 2 pedang pendek miliknya terikat disana. Dia memasang kuda-kuda, bersiap untuk menghadapi apa yang ada di depannya. Suara itu semakin dekat dan menuju ke arahnya dan.... 

“WAAAAA!!!!”,teriak Inoo ketika ada sesuatu yang keluar dari semak yang ada di depannya. Yabu menoleh ke arah Inoo yang berteriak, “Kei, ada apa?”, tanya Yabu sambil berteriak.

Tsuzuku ~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar