Minggu, 17 Mei 2015

My Feelings For You

Genre : Romance, Shounen Ai, School Life
Warning : 18+
Main Cast : Takaki Yuya, Arioka Daiki

Perasaan cinta bisa datang kapan saja dan dimana saja. Bahkan terkadang, tanpa disadari, perasaan itu langsung muncul tiba-tiba tanpa peringatan. Kita bisa jatuh cinta pada siapapun, bahkan pada orang yang tidak terduga sekalipun.

---***---

Matahari berjalan pelan menuju ke peraduannya. Sebentar lagi waktu kerja sang matahari telah habis. Sang rembulan sudah bersiap-siap untuk menggantikan tugas sang matahari untuk menerangi bumi. Burung-burung sudah kembali menuju rumah mereka untuk beristirahat. Beberapa hewan malam mulai terbangun dari tidurnya untuk mencari makanan.

Suasana sekolah kini mulai terasa sepi. Hampir seluruh siswa telah berjalan pulang kembali ke rumahnya. Hanya tinggal beberapa siswa saja yang masih berada di sekolah. Seorang siswa tampak sedang tertidur pulas di sebuah bangku di dalam kelas. Wajah tidurnya yang sangat lucu tampak begitu sangat menggemaskan. Wajahnya tidak tampak seperti wajah seorang anak SMA.

Pintu kelas perlahan terbuka. Seorang siswa lain masuk ke dalam kelas. Siswa itu berjalan perlahan menuju siswa yang tertidur itu. Perlahan dia menarik kursi di depan siswa itu dan duduk di hadapannya. Tangannya meraih rambut siswa yang tertidur itu dan membelainya dengan perlahan. Wajah siswa itu sangat senang saat melihat wajah pulas siswa yang tertidur itu.

"Sudah kubilang beberapa Kali agar tidak menungguku, tapi kau tetap saja menunggu disini", gumam siswa itu. "Kau tahu, sifatmu yang seperti ini membuatku semakin menyukaimu"

Perlahan siswa itu mendekatkan bibirnya ke arah kening siswa yang tertidur itu. Dalam waktu sedetik, siswa itu memberikan kecupan kecil di kening siswa itu. Matanya terlihat sangat lembut. Menunjukkan kalau dia memiliki perasaan yang dalam terhadap siswa yang ada di hadapannya itu.

Siswa itu perlahan bangkit dari mejanya dan berjalan menjauh mendekati jendela. Dia tidak ingin berada dekat-dekat dengan temannya itu lebih lama lagi. Hasratnya yang terpendam sudah berusaha meronta keluar. Sebisa mungkin dia tidak ingin perasaannya itu diketahui siapapun. 

"Yuya?"

Siswa itu terperanjat kaget saat mendengar namanya dipanggil. Saking asyiknya dia melihat pemandangan luar, dia hampir tidak sadar kalau temannya itu sudah terbangun dari tidurnya.

"Sejak kapan kau disini? Huwaa, aku ketiduran!! Sekarang jam berapa? Owah, sudah gelap lagi!! Kenapa kau tidak membangunkanku?"

Pemuda yang bernama Yuya itu tersenyum geli saat melihat tingkah temannya itu. Seperti biasa, sekali mulutnya terbuka, maka beberapa kata langsung meluncur keluar dari mulutnya.

"Kau sendiri kenapa masih ada disini? Aku kan sudah bilang kau bisa pulang duluan. Tidak usah menungguku. Untung saja aku mampir kemari. Kalau tidak, kau bakal sendirian disini sampai besok pagi"

Pemuda itu langsung menggembungkan kedua pipinya, seakan menunjukkan kalau dia sedang cemberut. " Kita kan selalu pulang bersama. Kita sudah janji kalau akan terus pulang bersama kan?"

"Dasar keras kepala", Yuya berjalan mendekat ke arah temannya itu. "Ayo pulang. Nanti kita bisa ketinggalan kereta". Yuya berjalan menuju ke arah pintu diikuti oleh temannya itu. Secara berdampingan mereka berjalan bersama-sama menuju rumah.

---***---

"Yuya!!!!"

Yuyan segera berjalan keluar menuju depan pagar. Disana temannya itu, siswa yang tertidur pulas kemarin, sudah menunggu di depan pintu.

"Daichan... Ini masih pagi... Kasihan tetanggaku..."

"Kau ini bicara apa? Ini sudah waktunya berangkat. Kalau aku tidak menjemputmu sekarang, kau pasti masih tidur"

"Iya baiklah, tunggu sebentar"

Yuya kembali masuk ke dalam rumah. Tidak lama kemudian dia keluar rumah sambil membawa tasnya. Mereka berdua pun berjalan perlahan menuju ke sekolah. Rutinitas ini sudah berjalan bertahun-tahun. Semenjak SD, mereka selalu bersama. Karena mereka selalu bersama, timbul perasaan lain yang muncul di dalam hatinya. Yuya sangat menyukai sahabatnya ini, tapi Yuya tahu kalau temannya ini tidak memiliki perasaan apapun padanya. Hanya sebatas sahabat. Yuya tahu hal itu dan tidak ingin membuat hubungan mereka jadi rusak, makanya dia memutuskan untuk memendam perasaannya itu rapat-rapat.

Sesanpainya di sekolah. Kedatangan mereka berdua disambut oleh teman sekelas mereka. Seorang cowok berparaa cantik. 

"Takaki!!!"

Cowok cantik itu langsung berlari menuju ke arah Yuya.

"Inoo? Ada apa?"

"Ikut aku sebentar", cowok cantik itu menarik lengan Yuya. "Daichan, aku pinjam dia sebentar ya?"

Daiki mengangguk dan meninggalkan mereka berdua. Rasa penasaran masih memenuhi pikirannya, tapi dia memutuskan untuk tidak ikut campur. 

"Ada apa sih Inoo?"

Cowok cantik itu langsung tersenyum menyeringai. Dia mengambil HPnya dan menunjukkan sebuah foto yang ada disana. Yuya terperanjat kaget saat melihat fotonya yang sedang mencium Daiki berada di HP Inoo.

"Kau... Kenapa?"

"Ehehe... Kalau kau tidak ingin ini tersebar, ikuti perintahku. Oke?"

Yuya hanya bisa mengangguk pasrah. Dia tidak ingin kalau foto itu tersebar. Mau tidak mau, dia harus menuruti perintah Inoo.

"Apa maumu?", desah Yuya pasrah. Mau tidak mau dia terpaksa menuruti permintaan Inoo. Fotonya yang sedang mencium kening Daiki tersimpan di memori HP Inoo. Dia sama sekali tidak menyangka kalau ada temannya yang melihat apa yang dilakukan olehnya.

"Gampang kok. Aku cuma ingin kau menuruti perintahku saja. Ingat! Kau tidak bisa menolak. Kalau menolak, akan kusebarkan foto ini. Kau tidak ingin ada orang lain yang tahu kan?", senyum Inoo penuh kemenangan.

"Tidak kusangka, kau orang yang seperti ini Inoo". Yuya memang tidak terlalu mengenal Inoo dengan baik. Tapi melihat sifat Inoo selama di kelas, Yuya menyimpulkan kalau Inoo adalah anak yang baik. Tidak tampak seperti anak yang memanfaatkan orang lain menggunakan kelemahannya.

"Aku terpaksa melakukan hal ini. Tidak ada cara lain lagi", gumam Inoo pelan. Saling pelannya bahkan Yuya tidak bisa mendengarnya. Raut wajah Inoo tampak sedikit muram saat mengatakan hal itu. Tampak seperti ada sesuatu yang mengganjal perasaannya.

Yuya dan Inoo berjalan menuju kelas secara beriringan tanpa suara. Tidak butuh waktu lama, mereka kini sudah tiba di kelas mereka. Mata Yuya langsung tertuju pada Daiki yang senang asyik bercengkerama di bangkunya bersama teman-temannya. Perasaan bersalah langsung muncul Dari dalam hati Yuya. Seandainya dia tidak melakukan hal itu, Daiki tidak akan terkena masalah. Kalau sampai foto itu tersebar, Daiki juga akan terkena imbasnya.

Yuya melangkah lesu menuju bangkunya sendiri, dia tidak merasa bersemangat. Dia berusaha tidak berbicara dengan Daiki untuk menutupi perasaannya, tapi Yuya merasa hal itu tidak mungkin terjadi. Daiki pasti akan mengajaknya bicara.

"Hei, tadi apa yang kau bicarakan dengan Inoo?". daiki muncul tiba-tiba dan duduk di bangku depan bangku Yuya.

'Tuh kan, kalaupun aku tidak mengajaknya bicara, dia pasti yang mengajakku bicara', gumam Yuya dalam hati.

"Yuya?", Daiki memiringkan kepalanya sambil menatap Yuya dengan kedua matanya yang terbuka lebar. Mukanya terlihat sangat imut, Yuya langsung mengalihkan pandangannya agar tidak melihat wajah Daiki lebih lama.

"Ah, bukan pembicaraan penting kok", jawab Yuya singkat. "Kau sudah mengerjakan PR?", Yuya berusaha mengalihkan pembicaraan agar Daiki tidak menanyakan hal itu lebih jauh.

"UWAH!!!! Aku lupa!!! Doushiyou?! Mana aku absen pertama lagi... Yuya, pinjam PRmu donk.. Nanti kutraktir makan deh. Ya?", teriak Daiki panik. Beberapa temannya yang ada di dekat mereka spontan menoleh karena mendengar suara berisik Daiki. Yuya menyodorkan buku PRnya pada Daiki. Wajah Daiki langsung terlihat cerah. Tanpa pikir panjang, dia langsung mengambil buku Yuya dan menyalin isinya.

"Dasar...", gumam Yuya sambil menggelengkan kepalanya.

---***---

Waktu istirahat...

"Ikut aku..."

Inoo langsung menarik Yuya keluar. Yuya hanya bisa pasrah dengan tindakan Inoo dan mengikutinya begitu saja. Daiki yang ingin mengajak Yuya pergi ke kantin bersama, menghentikan Inoo dan Yuya yang ingin pergi keluar.

"Kalian mau kemana? Aku ikut donk", ucap Daiki. Yuya melihat ke arah Inoo, Inoo menggeleng tidak setuju.

"Maaf Daichan. Aku ada urusan. Kau pergi dengan yang lain saja ya...", Yuya langsung pergi meninggalkan Daiki begitu saja bersama dengan Inoo.

Daiki menatap kepergian keduanya dengan sedikit kesal. Ini pertama kalinya Yuya pergi tanpa mengajak dirinya. Biasanya kemanapun mereka pergi, mereka selalu berdua. "Bakaki", gumam Daiki pelan.

---***---
"Kita mau kemana?"

Inoo tidak mengindahkan pertanyaan Yuya dan langsung berlari menuju ke suatu tempat. Kini mereka telah berada di atap. Disana, ada seorang pemuda yang berdiri Tenang. Pemuda itu tampaknya sudah menunggu kehadiran mereka.

"Inoo-chan...", panggil pemuda itu.

Inoo langsung merangkul tangan Yuya denga erat dan bergelayut dengan manja. "Mulai hari ini, aku pacaran dengan dia. Hubungan kita sudah berakhir".

Pemuda itu langsung membelalakkan matanya karena terkejut. Yuya pun sama terkejutnya, ketika dia membuka mulutnya untuk protes, Inoo menginjak kakinya untuk menandakan bahwa lebih baik Yuya tetap diam dan tidak berkata apapun.

"Inoo... Dengarkan dulu... Kau salah paham. Aku tidak ada hubungan apapun dengan Hikaru", ucap pemuda itu lagi.

"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi Kota, kita sudah selesai. Kini aku pacaran dengannya". 

Setelah selesai berkata seperti itu, Inoo menarik kerah baju Yuya dan menempelkan bibirnya ke bibir Yuya. Inoo melumat bibir Yuya seakan ingin melahap seluruh bibir Yuya. Tangan kanan Inoo menahan belakang kepala Yuya agar Yuya tidak bisa berontak. Tangan kiri Inoo melingkar di pinggang Yuya, seakan mengunci tubuh Yuya dalam pelukannya.

Yuya yang terkejut dengan serangan mendadak Inoo itu awalnya tidak bisa berbuat apa-apa. Beberapa detik kemudian, Yuya sadar dan segera berusaha melepaskan diri dari Inoo. Tapi, ciuman Inoo yang panas, gerakan lidah Inoo yang bisa dirasakan oleh Yuya dalam mulutnya, membuatnya, entah mengapa, ingin melanjutkan ciuman itu. Yuya memejamkan katanya dan tanpa sadar melingkarkan kedua tangannya ke tubuh Inoo. Yuya membiarkan nafsunya menguasainya.

"Hentikan!!!"

Daiki yang baru saja tiba langsung memisahkan Yuya dan Inoo. Tanpa pikir panjang, Daiki langsung menampar Inoo. Yuya sangat terkejut saat melihat Daiki berdiri di hadapannya.

"Daichan? Kenapa kau ada di sini?", tanya Yuya.

Yuya berdiri kaku melihat Daiki yang berdiri di hadapannya. Yuya sangat terkejut melihat Daiki saat ini. Dia tidak menyangka kalau Daiki akan melihatnya sedang berciuman dengan Inoo. Yuya langsung menunduk lemas, dia takut menatap Daiki yang kini tampak sangat marah.

"Apa-apaan kau ini! Kenapa kau mencium Yuya? Dan lagi, kenapa kau mengaku-ngaku sebagai pacarnya?", bentak Daiki. Suaranya yang meninggi menandakan kalau dia sangat emosi saat ini.

Inoo memegangi pipinya yang merah akibat ditampar oleh Daiki. "Memangnya kenapa? Yuya mau mencium siapa itu haknya kan? Kenapa kau marah?", balas Inoo dengan suara yang tidak Malah tingginya.

Deg! Dada Daiki langsung terasa sakit saat Inoo mengatakan hal itu. Inoo benar. Kenapa dia marah kalau Yuya mencium orang lain? Daiki hanya sebatas sahabat, bukan pacar. Yuya bebas mencium orang yang dia suka. Yuya bebas dekat dengan siapa saja. Tapi sebelum disadari oleh Daiki, emosinya sudah mengendalikan tubuhnya untuk bertindak tanpa berpikir. 

Ini bukan pertama kalinya Daiki merasa seperti ini. Dada Daiki sering terasa sakit ketika melihat Yuya dekat dengan orang lain. Entah itu cewek atau cowok. Daiki tidak suka kalau melihat Yuya berbicara akrab dengan orang lain. Oleh karena itu, Daiki selalu berusaha untuk terus berada di dekat Yuya agar Yuya selalu memperhatikannya saja. Agar rasa sakit di dada Daiki tidak muncul.

"Tunggu dulu... Apa maksudnya ini?", tanya pemuda bermata sipit yang dipanggil Yabu oleh Inoo. Yabu mendekat ke arah Inoo dan mencengkeram kedua bahunya, "Kau bohong kan Inoo? Kau tidak pacaran dengannya kan?"

Inoo mendorong Yabu hingga cengkeraman di bahunya terlepas. "Ini bukan urusanmu. Apapun yang terjadi, aku tidak ingin kembali padamu!". Inoo langsung berlari keluar.

Yabu segera bangkit dan berlari menyusul Inoo yang telah pergi. Yuya yang mengamati kejadian itu dari awal hingga akhir, segera menggerakkan kakinya untuk menyusul Inoo. Akan tetapi, langkahnya terhenti karena tertahan oleh Daiki.

"Daichan...", lirih Yuya pelan.

"Biarkan saja mereka. Aku ingin bicara denganmu Yuya", Daiki semakin erat mencengkeram tangan Yuya.

"Tapi...", Yuya melihat sekali lagi ke arah pintu. Dia ingin menyusul Inoo dan Yabu untuk menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi.

Daiki merasa kesal karena Yuya tidak mempedulikannya. Tanpa pikir panjang, Daiki menarik tangan Yuya, Daiki melingkarkan kedua tangannya ke arah leher Yuya. Yuya tidak mengerti apa yang terjadi. Tapi begitu dia sadar, bibirnya dan bibir Daiki sudah menyatu.

"Apa yang kau lakukan Daichan?". Spontan, Yuya mendorong Daiki.

Daiki menatap Yuya dengan kesal. Rasa kesalnya semakin menjadi karena Yuya menolak ciuman darinya.

"Kau ini kenapa??? Kau tidak keberatan ciuman dengan Inoo, tapi begitu kucium kau mendorongku. Kau benar-benar suka padanya?"

Yuya menggeleng. "Tidak. Aku tidak suka padanya"

"Lalu kenapa kau menciumnya???"

"Itu... Dia duluan yang menciumku. Lalu... Karena terbawa suasana, aku...", Yuya terdiam. Dia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.

"Apa yang dia lakukan?", tanya Daiki setengah membentak.

"Eh?"

"Kubilang, apa yang dia lakukan sampai-sampai kau terbawa suasana?"

"Eh, itu...", Yuya salah tingkah. Bagaimana caranya menjawab pertanyaan Daiki?

Yuya berdiri terpaku sambil menatap Daiki yang melihatnya dengan pandangan kesal. Yuya bingung bagaimana menjawab pertanyaan Daiki, dia sama sekali tidak menduga kalau akan di tanya seperti ini oleh Daiki.

"Kenapa Yuya? Bukankah kita sudah berjanji tidak akan ada rahasia diantara kita?", Kali ini Daiki menatap Yuya dengan pandangan memelas.

"Jangan-jangan kau beneran suka dengan Inoo ya?", tanya Daiki lagi.

Yuya langsung buru-buru menggeleng. "Bukan. Aku tidak suka padanya. Yang kusuka itu orang lain!"

Yuya langsung menutup mulutnya begitu sadar dengan apa yang diucapkannya. Perasaannya hampir saja ketahuan. Daiki terkejut mendengar jawaban Yuya. Dia sama sekali tidak tahu kalau temannya itu suka dengan seseorang.

"Siapa? Kau tidak pernah cerita padaku kalau kau suka dengan seseorang"

"Aku memang tidak pernah menceritakannya pada siapapun"

"Siapa?", perlahan Daiki kembali mendekati Yuya. "Siapa orang itu?"

Yuya kini benar-benar terpojok. Punggungnya kini telah membentur pagar atap. Dia tidak bisa mundur lagi. Daiki tetap tidak bergeming Dari sana, dia menanti jawaban Dari Yuya. Yuya menghembuskan nafas panjang.

"Kau orangnya", lirih Yuya pelan.

"Ha?", suara angin membuat Daiki tidak bisa mendengar ucapan Yuya.

"Orang yang kusukai itu kau Daichan...", kini Yuya mengucapkannya dengan suara yang lebih keras.

Daiki membelalakkan matanya tidak percaya. Mukanya kini terasa panas. Daiki menduga kalau mukanya kini sangat merah. Selain itu, dia merasa jantungnya berdebar dengan cepat. Perasaannya kini campur aduk. Kaget pasti, tapi entah kenapa dia merasa sangat senang.

"Tunggu dulu...", Daiki tiba-tiba teringat sesuatu. "Kalau kau suka padaku, kenapa kau menolak ciuman dariku? Sedangkan ciuman Dari Inoo kau terima begitu saja"

"Ah itu...", Yuya bingung mau bagaimana dia menjelaskan hal ini. Tapi akhirnya dia memutuskan untuk memberitahu alasannya pada Daiki. "Aku sangat kaget saat tiba-tiba kau menciumku. Terlebih, gigimu membentur bibirku sehingga rasanya sakit sekali". Yuya menyentuh bibirnya. 

Daiki langsung salah tingkah dan merasa sangat malu. "Gomen... Aku langsung main cium saja"

"Terlebih kalau kau menciumku, bisa-bisa semua yang kutahan ini akan keluar tiba-tiba dan aku tidak bisa mengendalikan diriku"

Ding Dong!

Bel sekolah berbunyi. Waktu istirahat telah habis.

"Ah, bel sudah berbunyi. Yuk masuk", Yuya segera beranjak pergi.

"Tunggu", Daiki mencengkeram erat baju Yuya. "Kau belum dengar jawabanku kan?"

"Ah itu, kau bisa berikan jawabannya kapan saja kok. Aku tidak perlu mendengarnya sekarang. Ayo cepat, nanti kita telat"

"Harus sekarang!", ucap Daiki setengah membentak. Yuya bahkan sampai terperanjat kaget. "Aku... A... Aku... Aku kesal sekali saat melihatmu dekat dengan orang lain. Aku selalu berusaha agar tidak ada orang lain yang lebih dekat denganmu selain aku. Aku semakin kesal ketika aku melihatmu berciuman dengan Inoo. Rasanya darahku naik ke kepala".

"Lalu?"

Daiki memeluk Yuya dengan erat. "Waktu kau menolak ciuman dariku, aku sangat sedih. Kupikir kau benar-benar sudah direbut oleh Inoo. Lalu, kau bilang kau suka padaku. Kau tahu, aku sangat senang"

Pelukan Daiki semakin erat, sehingga Yuya tidak bisa berkutik lagi. "Aku pikir, aku.. Aku juga suka padamu"

Yuya melihat ke arah Daiki. Kepala Daiki seakan terbenam dalam Dada Yuya. Saling eratnya pelukan mereka berdua, Yuya dan Daiki sama-sama bisa merasakan detak jantung masing-masing. Detak jantung keduanya semakin cepat.

Yuya melonggarkan sedikit pelukan Daiki. Yuya mengangkat kepala Daiki. Yuya bisa melihat muka Daiki yang sedikit merah akibat malu. Yuya merasa kalau Daiki saat ini sangat manis.

"Daichan... Boleh aku menciummu?", tanya Yuya.

Daiki terperanjat kaget. Mukanya semakin merah.

"Tidak boleh? Bukankah kau sendiri yang kesal saat aku menolak ciuman darimu?"

Daiki tertunduk malu. Dia berusaha menutupi wajahnya dengan tubuh Yuya. Perlahan Daiki mengangguk pelan. Yuya tersenyum senang. Dia kembali mengangkat kepala Daiki. Daiki sudah memejamkan matanya rapat-rapat. Dia tidak berani melihat karena malu. Daiki bisa merasakan hembusan nafas Yuya yang semakin dekat. Tidak lama, Daiki merasa ada sesuatu yang lembut menempel di bibirnya. 

5 detik, 10 detik, 20 detik telah berlalu. Tapi Yuya dan Daiki masih saja berciuman. Yuya terus mencium Daiki seakan ingin membabat habis bibir kecil Daiki. Daiki bisa merasakan kalau bibirnya mulai basah.

"Fuaahhh..."

Daiki menghembuskan nafas panjang saat ciuman mereka berakhir. Selama ciuman, Daiki sepertinya lupa untuk bernafas. Saking tegangnya, dia lupa untuk bernafas secara normal. Daiki masih bisa merasakan bibir Yuya di bibirnya. Sensasi itu sangat sulit dilupakan. Berbeda dengan ciuman yang dilakukannya tadi. Ciuman Yuya terasa amat lembut dan menggoda. Dia ingin merasakannya lagi, tapi dia malu untuk mengucapkannya.

"Boleh aku menciummu lagi?"

Daiki kaget mendengar perkataan Yuya. Yuya seakan bisa membaca pikirannya. Daiki ingin sekali berkata iya, tapi dia sangat malu mengucapkannya.

"Kau tadi bilang kalau kau ingin tahu apa yang dilakukan Inoo kan?". Daiki tersentak. Dia mengangguk tanpa pikir panjang. 

Yuya tersenyum tipis. "Aku akan memberitahumu apa yang dilakukan oleh Inoo, tapi syaratnya, selama berciuman, bibirmu tidak boleh tertutup rapat"

Daiki melihat Yuya dengan pandangan tidak mengerti.

"Nanti kau akan tahu sendiri", bisik Yuya.

Yuya kembali mencium Daiki untuk kedua kalinya. Kali ini, Daiki mulai sedikit terbiasa. Perasaan tegangnya mulai hilang. Daiki mendadak terkejut saat dia bisa merasakan lidah Yuya masuk ke dalam mulutnya. Tapi, tidak butuh waktu lama untuk Daiki agar terbiasa. Daiki mulai bisa membalas ciuman Yuya.

Entah sudah berapa lama waktu berlalu. Yuya dan Daiki masih saja sibuk dengan ciuman mereka yang panas. Satu sama lain seakan tidak ingin melepaskan bibir lawannya. Rasa nikmat yang mereka rasakan membuat keduanya tidak ingin berhenti.

Yuya merasa ada yang aneh di tubuhnya. Dia kemudian melepaskan ciuman itu terlebih dahulu. Sebuah benang tipis masih menyambungkan bibir keduanya.

"Sudah cukup Daichan. Lebih Dari ini, aku tidak bisa mengontrol diriku lagi. Bisa-bisa aku menjadi binatang buas yang akan memburumu"

Daiki tersenyum lebar. "Selama itu kau, tidak masalah kok"

Deg! Dada Yuya berdetak kencang. Dia sudah tidak bisa mengendalikan dirinya lagi. Yuya kembali memeluk Daiki hingga Daiki jatuh sambil berbaring.

"Kau ini... Aku tidak akan melepaskanmu meskipun kau menangis ya"

Daiki terbaring kaku. Matanya terus menatap Yuya yang berada di atasnya. Dadanya terus berdetak cepat. Bahkan dia merasa kalau dia akan cepat mati kalau jantungnya berdetak kencang lebih Dari ini. Daiki tidak mengenal Yuya yang ini. Ini bukan Yuya, sahabatnya sejak kecil. Yuya yang ini jauh lebih dewasa Dari Yuya yang dia kenal.

"Daichan... Kalau kau mau lari, sekarang waktu yang tepat", ucap Yuya sekali lagi.

Daiki memang merasa takut. Tapi, dalam hatinya dia tidak merasa takut sama sekali. Daiki juga takut dengan hal yang lain, jika dia lari sekarang, dia takut Yuya tidak akan mendekatinya lagi untuk kedua kalinya.

Daiki merangkul leher Yuya dengan kedua tangannya. Sebuah ciuman kembali terjadi. Daiki kini sudah mulai sedikit mahir. Daiki mencoba melakukan hal yang sama dengan hal yang dilakukan Yuya sebelumnya. Memang tidak selihai Yuya, tapi ciuman itu cukup membuat keduanya terangsang.

Yuya merasa kalau Daiki tidak keberatan. Yuya pun kini tidak segan lagi mengeluarkan sifatnya yang sebenarnya. Yuya terus mengulum bibir Daiki seakan ingin melahap Daiki dalam sekali telan. Entah sudah berapa menit berlalu sejak mereka berciuman. Sesekali mereka berhenti untuk mengambil nafas, tapi setelah itu mereka akan melanjutkan kembali ciuman mereka yang membara.

Otak Daiki sudah mulai kacau. Dia tidak bisa memikirkan apapun lagi. Kepalanya hanya penuh dengan Yuya. Ciumannya dengan Yuya membuatnya terasa panas. Daiki semakin mempererat pelukannya, dia tidak ingin Yuya mengakhiri ciuman itu. Bahkan Daiki tidak ingin memberikan waktu bagi Yuya untuk bernafas. Air liur mereka kini sudah menyatu. Lidah mereka pun seakan sudah terikat satu sama lain.

Daiki menyerah. Kepalanya kekurangan oksigen. Dia mulai mengendurkan pelukannya. Muka Daiki terlihat begitu menggoda sehingga Yuya pun melanjutkan aksinya. Ciumannya berpindah ke telinga Daiki. Perlahan Yuya menjilat telinga Daiki dan menggigitnya. Ciumannya kini berpindah ke leher Daiki. Yuya meninggalkan jejaknya disana.

Selagi bibir Yuya asyik bermain dengan leher Daiki, tangan kanan Yuya mulai meraba-raba tubuh Daiki. Daiki merasa kegelian dengan aksi Yuya ini.

Daiki mendesah, tapi dia sendiri tampaknya tidak Sadar. Yuya sempat menghentikan gerakannya. Dia kemudian mengulangi lagi apa yang dilakukannya. Daiki mendesah lagi. Kini Daiki menutup mulutnya dengan tangannya karena dia sadar kalau mengeluarkan suara aneh.

"Kenapa? Suaramu manis kok. Aku ingin mendengarnya lagi", bisik Yuya sambil perlahan menjauhkan tangan Daiki Dari mulutnya. Muka Daiki bersemu merah.

Yuya melanjutkan ciumannya. Kini dia beralih ke Dada Daiki. Yuya membuka kancing baju Daiki satu persatu dimulai Dari atas. Bagian atas tubuh Daiki kini terbuka lebar. Kulitnya yang putih dan mulus tampak sangat menggoda. Yuya mulai meraba Dada Daiki. Suara desahan Daiki semakin keras.

Kepala Daiki mulai kacau. Tangan Yuya terasa sangat dingin. Sensasi aneh mulai dia rasakan setiap Kali tangan Yuya menyentuhnya. Entah apa yang dipikirkan Daiki. Tangannya mulai bergerak ke arah baju Yuya. Daiki mulai membuka kancing Yuya satu persatu. Kini Daiki bisa melihat tubuh polos Yuya dengan jelas. Dia sudah sering melihat tubuh Yuya tanpa baju, tapi ini pertama kalinya dia merasa Yuya sangat seksi.

"Ha...."

Daiki mendesah ketika Yuya mulai menjilati dadanya dan menciumnya. Yuya bahkan sempat menghisap kulitnya sehingga timbul tanda merah di tubuhnya. Daiki terus mendesah saat Yuya asyik bermain dengan tubuhnya. Yuya semakin bersemangat ketika mendengar desahan Daiki. Tangan dan bibirnya semakin asyik bermain dengan tubuh Daiki.

Yuya menarik kedua tangan Daiki sehingga Daiki kini duduk di pangkuannya. Kedua tangan Daiki kembali merangkul leher Yuya. Tubuh Daiki kini terasa sangat lemas sehingga dia menyandarkan seluruh tubuhnya ke Yuya.

Yuya kembali mencium Daiki. Ciuman mereka kini betul-betul panas. Selagi bibir Yuya sibuk, kedua tangan Yuya meraba punggung Daiki. Daiki merasa geli dan terangsang. Daiki menggeliat bereaksi dengan tindakan Yuya.

"Hyaa...."

Daiki sangat terkejut ketika salah satu tangan Yuya masuk ke dalam celananya. 

"Chotto... Yuya... A... Aku..."

"Sudah terlambat Daichan, aku sudah tidak bisa berhenti lagi. Dan yang lebih penting lagi, kau yakin kau ingin aku berhenti?", senyum Yuya sambil melirik ke bagian bawah Daiki. Daiki tersipu malu. Dia salah tingkah.

"Tenang saja. Aku cuma akan bermain dengan jariku saja kok. Nanti kalau kau sudah terbiasa, baru aku akan melakukannya. Ini pertama kalinya buatmu, jadi aku tidak ingin terburu-buru. Apalagi, aku ingin mempersiapkanmu dengan baik", bisik Yuya.

"Hyaa...!"

Daiki terkejut ketika dia bisa merasakan 1 jari Yuya dalam tubuhnya. Awalnya Daiki merasa jijik, tapi lama kelamaan dia mulai terbiasa. Daiki menjilati telinga Yuya dan mengigitnya. Leher Yuya pun menjadi sasaran Daiki. Sama seperti Yuya, Daiki pun memberikan tanda merah di tubuh Yuya.

Salah satu tangan Yuya yang bebas mulai bergerak perlahan ke arah resleting celana Daiki yang ada di depan. Kini kedua tangan Yuya mulai sibuk bermain dengan bagian bawah tubuh Daiki. Tangan kiri sibuk di bagian belakang, sedangkan tangan kanan sibuk di bagian depan.

"Yu...Yuya... Aku sudah tidak tahan lagi..."

"Belum Daichan... Belum saatnya..."

"Kumohon Yuya... Aku sudah tidak tahan lagi... Ya?", pinta Daiki sambil memelas.

"Baiklah..."

Yuya pun menuruti permintaan Daiki. Selang beberapa waktu kemudian, celana Daiki basah, bahkan celana Yuya terkena imbasnya. Daiki langsung menyandarkan tubuhnya di tubuh Yuya.

"Kau tidak apa-apa Daichan?", tanya Yuya cemas melihat kondisi Daiki yang kelelahan.

Daiki menatap Yuya, dia kemudian tersenyum lebar. "Aku sangat menyukaimu Yuya!", seru Daiki sambil memeluk Yuya.

Tamat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar