Selasa, 19 Mei 2015

RESPONSE TO YOU

(Ini sekuel dari FF 'My Feelings For You' :) )

Cast : Arioka Daiki, Takaki Yuya
Genre : School Life, Drama, Romance, Shounen Ai

Daiki tidak bisa menyembunyikan rasa gugupnya. Berkali-kali dia mondar-mandir di depan rumah Yuya. Seperti biasanya, Daiki menjemput Yuya untuk berangkat sekolah bersama-sama. Tapi, kali ini berbeda. Mereka sudah bukan sahabat lagi, tapi lebih dari itu. Wajah Daiki memerah setiap kali dia mengingat apa yang terjadi di atap sekolah waktu itu. Dia sama sekali tidak menyangka kalau mereka akan melakukan hal yang seperti itu.\

“Daichan? Kau sudah datang? Tumben kau tidak meneriakiku seperti biasanya”

Daiki terperanjat kaget saat Yuya sudah berdiri di belakangnya. Dia langsung mengalihkan pandangannya. Daiki masih merasa gugup dan malu untuk melihat Yuya secara langsung.

“Ayo cepat berangkat. Nanti kita terlambat”, ucap Yuya sambil berlalu pergi.

Daiki menatap Yuya yang bertingkah seperti biasa. Dalam hati, Daiki sedikit merasa kecewa. Dia berharap kalau Yuya juga sama gugupnya seperti dia. Tapi, ternyata sikap Yuya biasa saja. Daiki lalu memikirkan bagaimana hubungan mereka setelah ini. Sudah jelas kalau Yuya menyukainya. Dan dia juga menyukai Yuya. Apakah hubungan mereka saat ini bisa dikatakan pacaran? Bukankah pacaran hanya bisa dilakukan oleh laki-laki dan perempuan? Bagaimana dengan hubungan kedua laki-laki? Apakah sama?

Saking sibuknya Daiki berpikir, dia tidak sadar kalau sepanjang jalan menuju sekolah, Yuya terus mengamatinya. Yuya ingin mengajaknya bicara seperti biasa, tapi melihat wajah serius Daiki, dia mengurungkan niatnya.

Tidak terasa, mereka telah sampai di sekolah. Sepanjang perjalanan mereka sama sekali tidak berbicara satu sama lain. Daiki merasa sedikit kecewa lagi karena dia biasanya bercerita dengan riang kepada Yuya, tapi hari ini dia hanya diam saja. Yuya lalu pergi menuju suatu tempat meninggalkan Daiki.

“Eh? Yuya? Kau mau kemana?”, panggil Daiki.

“Kemana?”, balas Yuya. Wajahnya sedikit keheranan. “Ke gym-lah. Aku ada latihan pagi hari ini. sekarang kan hari Rabu. Kau juga tahu soal ini kan?”

Daiki menepuk jidatnya. Benar juga, hari Rabu dan Jumat pagi Yuya ada latihan pagi. Daiki sudah hapal seluruh jadwal klub Yuya meskipun mereka tidak satu klub. Daiki ikut klub musik sedangkan Yuya ikut klub basket. Daiki sebenarnya juga ingin masuk klub basket tapi dilarang oleh Yuya. Katanya basket tidak cocok dengan Daiki. Yuya jugalah yang mengusulkan pada Daiki untuk masuk klub musik. Daiki sangat suka musik, jadi Yuya pikir itu akan cocok untuknya.

“Kalau begitu, mana tasmu”, Daiki menarik tas Yuya dan membawanya. “Aku akan membawa tasmu ke kelas. Oke?”

“Oke. Sampai nanti ya...”, Yuya melambaikan tangannya dan berlalu pergi menuju gym sekolah.

Daiki menatap punggung Yuya yang menjauh. Sosok Yuya yang tinggi terlihat cukup jelas meskipun saat ini dia sudah jauh dari Daiki.

Daiki masuk ke kelas dan meletakkan tas Yuya di bangkunya. Dia kemudian menuju bangkunya sendiri dan merenung. Akan bagaimana jadinya hubungan mereka? Sejak kecil mereka selalu bersama. Bahkan hingga saat ini. Daiki ingat, waktu kecil dia sempat takut dengan Yuya karena wajahnya yang terlihat galak. Tapi saat Yuya menolongnya dari anak-anak nakal yang mengganggunya, Daiki mulai melihatnya sebagai orang yang baik. Semenjak saat itu Yuya selalu berada di dekat Daiki untuk melindunginya.

Wajah Daiki menjadi cerah saat melihat Yuya melangkah masuk ke dalam kelas. Seketika Daiki membuka mulutnya untuk memanggil Yuya, tapi niatnya itu diurungkan setelah melihat Inoo berjalan di samping Yuya. Mereka berdua tampak serius membicarakan sesuatu.

‘huh, si Inoo itu mau apa lagi?’, kesal Daiki dalam hati. Semenjak kejadian di atap, Daiki mulai berprasangka buruk pada Inoo. Inoo lah yang merebut ciuman pertama Yuya seenaknya. Sampai saat ini Daiki belum memaafkan Inoo karena hal itu.

“Yuya!”, panggil Daiki setengah membentak. Yuya langsung kaget dan melihat ke arah Daiki.

“Ada apa Daichan?”, balas Yuya tenang. Inoo yang berdiri di sebelah Yuya pun menatap Daiki dengan pandangan sinis.

Merasa tertantang dengan pandangan Inoo, Daiki menghampiri Yuya dan menarik tangannya untuk menjauh dari Inoo. “Aku lihat PR-mu donk. Aku lupa”. Daiki menatap sinis ke arah Inoo, menyuruh Inoo untuk segera menjauh.

“Lagi? Daichan... Kau ini...”, Yuya menuju bangkunya dan mengambil buku bersampul coklat yang ada di tasnya.

“Cowok cemburuan itu tidak enak dilihat mata Daichan”, bisik Inoo. Daiki melotot ke arah Inoo, tapi Inoo membalasnya dengan senyum. Setelah itu Inoo kembali menuju ke bangkunya.

“Ini”, Yuya menyerahkan bukunya ke Daiki.

Daiki mengulurkan tangannya untuk meraih buku itu. “Ng... Yuya, apa yang kau bicarakan dengan Inoo?”, tanya Daiki. Dia sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada Yuya dan Inoo. Dua orang ini jarang berbicara, tapi Inoo tiba-tiba saja menyerang Yuya dan merebut ciuman pertama Yuya.

“Oh...”, Yuya terdiam sejenak. “Tidak ada apa-apa kok. Bukan hal penting. Sudah sana cepat salin PRnya sebelum guru datang”

Daiki melirik ke arah Yuya dengan pandangan curiga. Dia tahu kalau Yuya sedang berbohong. Daiki ingin menanyakan sekali lagi pada Yuya, tapi dia tidak mau dianggap menyebalkan oleh Yuya.

“Bakaki...”, gumam Daiki pelan.

---***---
Sekarang waktunya istirahat. Daiki segera bangkit dari kursinya dan menuju ke bangku Yuya untuk mengajaknya makan bersama. Tapi, bangku Yuya sudah kosong. Daiki bertanya pada Fukka yang duduk di sebelah Yuya. Fukka berkata kalau Yuya sudah pergi entah kemana.

Daiki melangkah menuju kantin dengan lesu. Daiki terus memikirkan kemana perginya Yuya. dia menduga kalau Inoo yang mengajaknya pergi. Inoo juga sudah menghilang. Prasangka buruk menghampirinya. Dia takut kalau mereka berdua melakukan sesuatu seperti kemarin. Inoo sudah berani mencium Yuya. Jangan-jangan Inoo akan memaksa Yuya melakukan hal yang lebih dari ciuman??

BRUK!
Pikiran Daiki yang penuh membuatnya tidak fokus melihat ke arah depan. Seseorang telah bertubrukan dengannya. Daiki memegang kepalanya yang kesakitan.

“Maaf, kau tidak apa-apa?”, tanya orang yang bertubrukan dengan Daiki.

Daiki menoleh untuk melihat wajah orang yang ada di depannya itu.

“AH!”, tunjuk Daiki ke arah wajah pemuda yang ada di hadapannya. Daiki pernah bertemu dengan laki-laki itu. dia adalah laki-laki lain yang ada di atap waktu itu, yang berlari mengejar Inoo.

“Ah...”. Tampaknya pemuda itu juga mengenali Daiki. “Kau yang waktu itu kan? Maafkan aku yang sudah membuat keributan”

“Eh.. tidak apa-apa kok. Aku juga membuat keributan disana”, balas Daiki.

“Kau sekelas dengan Inoo Kei kan? Dia ada di kelasnya?”, tanya pemuda itu lagi.

Daiki sedikit merasa kesal ketika mendengar nama Inoo disebut. “Dia tidak ada. Setelah bel berbunyi tadi dia pergi entah kemana. Yuya juga”, keluh Daiki.

“Yuya? Ah... laki-laki lain yang Inoo bilang kalau dia adalah pacar barunya ya?”, ucap pemuda itu sedih.

Dada Daiki sedikit merasa sakit. “Kau... Anoo....”

“Yabu Kota. Kau bisa memanggilku Yabu”, sahut pemuda itu.

“Ah, aku Arioka Daiki”, sahut Daiki. “Kalau aku boleh tahu, apa hubunganmu dengan Inoo?”

“Hmm... aku pacarnya”

“HEH?! KAU PACARNYA???”.

Daiki tidak sadar kalau dia sudah mengeluarkan suara yang keras. Beberapa murid yang ada di sekitar mereka sampai menoleh ke arah Daiki karena terkejut. Refleks, Daiki menutup mulutnya.

“Bukankah yang namanya pacaran itu untuk cowok dan cewek?”, kali ini Daiki berkata dengan suara setengah berbisik.

“Kata siapa? Selama kedua orang itu saling menyukai, tidak peduli itu sesama cowok, sah saja disebut pacaran”, jawab Yabu mantap.

“Hoo... Souka”, gumam Daiki mengangguk mengerti.

“Daichan!”

Daiki menoleh dengan riang saat mendengar suara yang sangat akrab di telinganya itu memanggil namanya. Tapi, wajah riangnya langsung berubah menjadi kusut saat melihat Inoo berjalan di belakang Yuya.

“Kau kemana saja? Aku mencarimu di kelas, ternyata kau ada disini. Ayo pergi makan”. Yuya menatap ke arah Yabu yang ada di samping Daiki. “Ayo Inoo. Kau harus jelaskan semuanya padanya”. Yuya mendorong Inoo yang awalnya terlihat bersembunyi di balik punggung Yuya.

Yuya menarik tangan Daiki dan berjalan meninggalkan Inoo dan Yabu. Daiki melihat ke arah dua pemuda yang tampak gugup berhadapan satu sama lain itu.

“Hei Yuya, tidak apa-apa membiarkan mereka berdua begitu saja?”, tanya Daiki cemas.

“Tidak apa-apa. Kalau begitu tidak akan ada akhirnya”, balas Yuya. “Aku lapar nih. Kau juga kan?”

Daiki merasa lega saat melihat wajah Yuya yang tersenyum seperti biasanya. Rasa khawatirnya sesaat menghilang. “Tapi kau yang traktir ya...”, ucap Daiki sambil berjalan lebih dahulu ke arah kantin.

“Eh....”, keluh Yuya.

---***---
Daiki dan Yuya pulang bersama. Sebelum tiba di rumah, Daiki mengajaknya pergi jalan-jalan. Jarang sekali Yuya bisa pulang cepat. Hampir setiap hari dia ada latihan klub. Karena hari ini kegiatan klub Yuya libur, Yuya jadi punya waktu luang. Kebetulan juga Daiki tidak ada kegiatan klub hari ini. Mereka berdua menghabiskan waktu mereka di game center. Mereka memang suka sekali main game.

“Ah Yuya, aku mau mampir kesana sebentar”, tunjuk Daiki ke sebuah warung makanan.

“Kenapa? Kau lapar?”

“Bukan. Aku mau beli makanan buat makan malam. Hari ini orangtuaku tidak ada di rumah. Mereka berdua pergi ke rumah nenek. Jadi aku sendirian”

“Oh... Kalau begitu makan di rumahku saja. Makan di rumahku lebih enak daripada makan sendirian kan?”

Mata Daiki berbinar-binar. “Eh? Boleh?”, tanya Daiki penuh harap.

“Waktu kecil dulu kan kau sering makan di rumahku. Tidak usah sungkan”, Yuya membelai lembut kepala Daiki. Daiki tersenyum riang. Sudah lama sekali Daiki tidak makan bersama keluarga Yuya. Meskipun Daiki sering menjemput Yuya, tapi Daiki jarang mampir ke rumahnya untuk main.

Daiki dan Yuya kini telah tiba di rumah Yuya. Ibu Yuya menyambut kedatangan Daiki dengan lembut. Ibu Yuya terlihat antusias saat Yuya mengatakan kalau Daiki akan ikut makan malam bersama dengan mereka. Sambil menunggu makan malam, mereka berdua menunggu di kamar Yuya.

“Wuah!!! Sudah lama aku tidak kemari!”

Daiki langsung melemparkan tubuhnya ke atas tempat tidur Yuya. Bau Yuya tercium samar-samar dari tempat tidur itu. Membuat Daiki ingin merebahkan tubuhnya lebih lama disana.

Yuya hanya menatap geli melihat tingkah orang yang disukainya itu. Meskipun sudah remaja, tingkah Daiki masih terlihat seperti anak-anak. Perlahan Yuya membuka kancing seragamnya satu persatu. Dada Yuya kini terlihat jelas. Yuya kemudian menghampiri Daiki yang berbaring. Yuya mendekatkan wajahnya ke wajah Daiki.

“Apa yang akan kau lakukan?”, gugup Daiki. Dia tidak menyangka akan diserang oleh Yuya di tempat ini.

“Kenapa? Kau takut? Padahal kita sudah melakukan sampai sejauh itu”, Yuya tersenyum tipis. Daiki menutup kedua matanya. Dia merasa kalau wajahnya saat ini pasti merah sekali. “Ah, disini ternyata”

Daiki membuka kedua matanya. Yuya mengambil remote AC yang tidak jauh dari mereka. AC pun dinyalakan.

“Ah... Sejuknya...”, ucap Yuya sambil menghadap ke arah AC.

“Eh? Jadi kau Cuma mau mengambil remote?”, tanya Daiki.

“Iya. Kau pikir aku mau melakukan apa padamu?”, goda Yuya.

Daiki memalingkan wajahnya. Saat ini dia tidak berani melihat Yuya secara langsung. Dia merasa sangat malu sekaligus kecewa. Dia berharap kalau Yuya akan melakukan sesuatu.

Daiki tiba-tiba teringat sesuatu. Sesuatu yang mengusik pikirannya selama di sekolah hari ini. “Yuya... sebenarnya apa yang terjadi pada kau dan Inoo? Apa hubungan kalian?”

Yuya menatap Daiki lekat-lekat. Wajah Daiki terlihat sangat serius. Yuya akhirnya memutuskan untuk memberitahu Daiki. “Inoo tahu kalau aku suka padamu, lalu dia mengancamku. Tapi, sekarang dia meminta tolong dan berkonsultasi padaku untuk memperbaiki hubungannya dengan Yabu karena dia tidak bisa cerita ke orang lain”

“Hanya itu?”, tanya Daiki tidak percaya.

“Iya. Hanya itu. Aku tidak melakukan hal yang aneh dengannya kok”

Daiki menatap Yuya setengah tidak percaya. “Kalau begitu, kenapa kalian berciuman?”

“Inoo yang memaksa duluan”, bela Yuya. “Lagian kenapa kita membahas ini lagi sih. Bukankah itu sudah lama berlalu?”

Daiki masih kurang puas. Rasa kesal karena ciuman pertama Yuya direbut oleh Inoo masih belum hilang.

“Yuya...”, panggil Daiki pelan. “Cium aku”

Yuya langsung menghentikan gerakannya dan melihat ke arah Daiki dengan pandangan tidak percaya. “Hah?!”

“Cium aku”, ucap Daiki mantap. Wajahnya terlihat cukup serius.

“Daichan... Kau kenapa? Kok jadi aneh begini?”

Daiki tidak menjawab pertanyaan Yuya. Tanpa menunggu jawaban dari Yuya, Daiki langsung menciumnya. Dalam sekejap, bibir Yuya sudah dilumat habis-habisan oleh Daiki. Yuya mencoba untuk melepaskan ciuman Daiki, tapi Daiki tetap bersikukuh untuk tetap mencium Yuya.

“Huwaa....”

Yuya menarik nafas lega saat bibir mereka berjauhan. Tapi, belum cukup lama Yuya mengambil oksigen, Daiki sudah menyerangnya lagi dengan ciuman yang kedua. Kali ini, ciumannya lebih panas dari yang pertama. Dengan lihainya, Daiki memainkan lidahnya di dalam mulut Yuya.

“Daichan, cukup!”. Yuya mendorong Daiki secara paksa untuk menghentikan ciumannya. “Kau mau membuatku mati kehabisan nafas?”. Yuya terlihat mengambil nafas dengan terburu-buru.

Yuya terkejut saat melihat Daiki yang ada di hadapannya itu mengeluarkan air mata. Daiki menangis. Daiki jarang sekali menangis, dia selalu tersenyum. Yuya hanya pernah melihatnya menangis waktu masih kecil saja.

“Eh, daichan... kenapa?”, panik Yuya. Dia sama sekali tidak mengerti alasan Daiki menangis.

“Huu...hu...hu...”, Daiki masih terus saja menangis. Yuya akhirnya memeluk Daiki sambil membelai kepalanya dengan lembut untuk menghentikan tangisan Daiki dan berharap Daiki merasa lebih tenang.

“Maafkan aku Daichan”, Yuya merasa kalau tindakannya barusan menyakiti hati Daiki.

“Aku kesal padamu...”, Daiki yang sudah sedikit tenang akhirnya mulai bicara.

“Eh? Kenapa?”, tanya Yuya tidak mengerti.

“Ciuman pertamamu...”

“Kenapa dengan ciuman pertamaku?”

“Kau melakukan ciuman pertamamu dengan Inoo. Bukan denganku... Itu yang membuatku kesal... Berkali-kali aku menciummu, tapi ciuman pertamamu bukan milikku... Hiks...Hiks...Hiks...”

“Eh, tunggu dulu...”, Yuya akhirnya mulai mengerti apa yang dimaksud oleh Daiki. “Kau bilang ciuman pertamaku dengan Inoo? Kau ini bicara apa? Yang merebut ciuman pertamaku kan kau”

“Eh?”, kali ini giliran Daiki yang tidak mengerti. “Aku? Kok bisa? Kapan?”. Daiki mulai mencoba mengingat, tapi dia sama sekali tidak bisa mengingat apapun soal ini.

Yuya menghela nafas panjang. “Kau ini... sudah kuduga kalau kau tidak ingat sama sekali. Yah, waktu itu Cuma kecelakaan sih, jadi wajar kalau kau tidak ingat”

“Kapan???”, tanya Daiki setengah memaksa.

“Kau ingat waktu kau sakit demam waktu SMP dulu? Waktu itu aku menjagamu karena orangtuamu tidak ada di rumah. Kau separuh sadar waktu itu. Ketika aku akan mengganti kompres di dahimu, kau tiba-tiba menarikku dan menciumku. Setelah itu kau langsung kembali tidur lagi. Aku sangat kaget dan senang waktu itu. Tapi setelah kau sadar dan sembuh, kau melupakan semuanya. Aku langsung kecewa berat”, jelas Yuya.

Daiki menepukkan kedua tangannya. “Ah, rupanya saat itu. Pantas kau terlihat bete seharian setelah aku sembuh. Kupikir kau tertular sakitku. Ternyata....”. Daiki tersenyum lebar dan menghela nafas lega. Dia sangat senang saat mengetahui kalau ciuman pertama Yuya tidak direbut oleh orang lain. bahwa dirinyalah yang menerima ciuman pertama Yuya.

“Nah, karena itu... Mumpung kau sudah berinisiatif duluan, bagaimana kalau kita lanjutkan saja?”, ucap Yuya sambil tersenyum.

Yuya lalu mendorong Daiki dan merebahkannya di atas tempat tidur. Jantung Daiki berdebar tidak karuan. Matanya terus melihat ke arah Yuya yang melihatnya dengan tatapan yang lembut. Di mata Daiki, Yuya terlihat sangat seksi. Yuya mendekatkan bibirnya ke arah dahi Daiki dan mengecupnya dengan lembut. Setelah itu dia beralih ke pipi Daiki yang terlihat mengembung seperti bantal dan mengecupnya secara bergantian. Daiki menahan nafasnya saat bibir Yuya mulai mendekati bibir Daiki.

“Yuya! Daiki! saatnya makan!”

“Ahahaha!!!!”,Yuya tertawa saat mendengar suara ibunya memanggil mereka. Dia langsung bangkit berdiri dan mengganti seragamnya dengan kaos biasa. Daiki hanya terduduk melongo di atas kasur. Wajahnya terlihat kecewa.

“Kenapa? Ayo makan. Ibuku sudah memanggil kita”

“Unn...”.

Daiki mulai bangkit menjauh dari kasur. Kekecewaan masih terlihat jelas di mukanya. Yuya menarik lengan Daiki dan memberi kecupan ringan di bibir Daiki.

“Kita bisa lanjutkan ini kapan-kapan”, ucap Yuya sambil mengacak-acak rambut Daiki. Daiki hanya bisa mengangguk pasrah.

Mereka berdua pun menuju ruang makan. Disana ibu Yuya sudah menunggu dengan hidangan makan malam yang tampaknya sangat menggugah selera. Daiki makan dengan sangat lahap. Sesekali, mereka tampak bercakap santai. Daiki banyak bercerita mengenai kehidupan sekolah. Yuya tidak pernah bercerita apapun mengenai sekolahnya, sehingga akhirnya Ibunya sangat senang saat Daiki menceritakannya.

“Ah ya, nak Daiki. Ini...”, ibu Yuya menyodorkan sebuah rantang makanan. “Orangtuamu tidak ada di rumah kan? Bawalah makanan ini untuk kau sarapanmu besok. Ini tinggal dihangatkan saja”

“Ah, terima kasih banyak! Ini bisa buat makan malamku juga”, Daiki menerima rantang itu dengan gembira.

“Makan malam?”, tanya ibu Yuya.

“Iya. Aku tidak tahu kapan ibu kembali. Ibu bilang kalau mungkin dia baru kembali akhir minggu nanti. Nenek sedang sakit, sehingga ayah dan ibu bergantian merawat nenek. Sedangkan kakak sedang pergi wisata selama seminggu”, jawab Daiki.

“Eh, jadi kau sendirian sampai akhir minggu nanti?”, tanya Yuya.

“Iya. Meskipun ini pertama kalinya aku ditinggal sendirian. Aku tidak apa-apa kok. Untunglah aku sudah besar dan bisa menjaga diri sendiri”, ucap Daiki sambil menyakinkan diri.

“Ah, tapi ibu merasa cemas denganmu. Ini pertama kalinya kau ditinggal sendiri kan?”. Ibu Yuya menunjukkan muka khawatir melihat anak sepolos Daiki tinggal sendiri. “Bagaimana kalau kau menginap disini saja?”

Daiki menggeleng. “Tidak apa-apa tante. Aku tidak mau merepotkan orang lain. Aku bisa sendirian kok”, jawab Daiki mantap dan meyakinkan. Daiki kemudian melirik ke arah Yuya yang sedang asyik menyantap buah. Sebuah ide terlintas di kepalanya.

“Kalau begitu, bagaimana kalau Yuya saja yang menginap di rumahku?”, usul Daiki.

Yuya sedang minum langsung tersedak saat mendengar usul Daiki. “Hah?!”

Ibu Yuya langsung menunjukkan wajah ceria. “Itu ide yang bagus. Yuya bisa menemanimu dan menjagamu. Ah, dia juga bisa memasakkan makanan untukmu. Yuya, siapkan barangmu”

“He? Yuya bisa masak? Aku baru tahu”, ucap Daiki terkejut.

“Benar sekali! Kalau kami tidak ada di rumah, dia memasak sendiri untuk makan”, sahut ibu Yuya dengan gembira.

“Mama...”, lirih Yuya pelan. Dia merasa malu pada Daiki. Yuya bermaksud menyembunyikan hal ini karena dianggapnya itu sangat memalukan. Sangat tidak disangka, ibunya sendiri yang membocorkannya. “Tapi, aku masih ada sekolah besok dan Jumat ma...”

“Kau kan bisa membawa seragam dan bukumu. Kebetulan hari ini, pamanmu datang. Dia ada urusan kerja. Mama bingung menentukan tempat tidur untuk pamanmu. Nah, kalau kau menginap di rumah Daiki, kamarmu bisa ditempati oleh pamanmu”

“Mama... berniat mengusirku sejak awal ya?”, ucap Yuya. Yuya berpura-pura menunjukkan wajah sedih.

“Kau tega meninggalkan temanmu ini sendirian? Daiki anak yang baik dan polos. Kalau ada orang jahat yang ingin berbuat macam padanya bagaimana? Sudah, cepat sana bereskan barangmu”

“Polos apanya? Anak yang polos tidak mungkin bisa meminta ciuman dan mencium orang lain secara paksa”, gumam Yuya pelan.

“Kau mengatakan sesuatu Yuya?”, tanya ibunya.

“Tidak kok ma”, Yuya buru-buru mengelak. Sedangkan Daiki yang duduk di dekatnya sedikit tersedak saat mendengar ucapan Yuya. Mukanya langsung merah padam.

Yuya lalu pergi menuju kamarnya untuk menyiapkan barang apa saja yang harus dibawa. Daiki mengikutinya untuk membantu Yuya. sedangkan Ibu Yuya tampak sibuk menyiapkan 1 rantang makanan lagi untuk dibawa.

“Ngg, Yuya. Kau tidak suka menginap di rumahku?”, tanya Daiki saat keduanya kini telah berada kembali di kamar Yuya.

“Tidak kok”, jawab Yuya singkat. Dia mulai memilih baju ganti yang akan dibawanya.

“Lalu, kenapa tadi kau kelihatan enggan menginap di rumahku?”, tanya Daiki. Yuya hanya terdiam tidak menjawab. “Aku... aku sangat senang kalau bisa bersamamu. Kalau bisa, aku ingin terus bersamamu. Jadinya aku mengusulkan hal itu. tapi, ternyata kau tidak setuju”

Yuya telah selesai menata bajunya. Dia menutup tasnya. Yuya berjalan keluar sambil menenteng tas besarnya dan tas milik Daiki. “Hah... pikiranmu masih separuh polos ternyata”, ucap Yuya sambil menepuk kepala Daiki. daiki hanya menatap Yuya tidak mengerti. “Sudahlah. Aku tidak keberatan kok. Ayo kita ke rumahmu. Aku tidak ingin bertemu pamanku soalnya. Dia orang yang super cerewet”

Daiki mengangguk kegirangan. Dia lalu mengikuti Yuya dengan langkah gembira. Ibu Yuya memberikan 2 rantang makanan untuk mereka berdua. Setelah mengucapkan terima kasih dan berpamitan, mereka berdua langsung pergi menuju rumah Daiki yang letaknya tidak jauh dari rumah Yuya. Hanya berjarak sekitar 15 menit.

“Tadaima!!!”, seru Daiki saat masuk ke dalam rumahnya yang kosong. Lampu rumah itu masih padam. Daiki segera berlari menuju tombol lampu dan menyalakannya. Kini suasana dalam rumah itu terang benderang.

“Permisi”, ucap Yuya saat melepas sepatunya.

“Nah Yuya, Yuya, kau mau main game? Atau kau mau mandi dulu? Ah, atau lebih baik kita nonton TV saja?”, ucap Daiki menggebu-gebu.

“Tenang sedikit Daichan...”. yuya berusaha menenangkan Daiki yang terlihat antusias itu.

Daiki mengatur nafasnya dan berusaha lebih tenang. “Habisnya... sudah lama kau tidak main kemari. Sudah lama sekali semenjak ada temanku yang main kemari”

“Sudah lama? Memangnya teman-temanmu tidak pernah kemari?”. Yuya kemudian menepuk jidatnya. “Ah, gara-gara rumor hantu itu ya”

“Iya”, Daiki menggembungkan kedua pipinya. Wajahnya terlihat cukup menggemaskan. Benar-benar seperti anak kecil. Yuya ingin sekali mencubit pipi Daiki tapi niatnya itu diurungkan. “Gara-gara Yamada itu. Semenjak dia menyebarkan isu ada hantu di rumahku, teman yang lain takut untuk ke rumahku”

“Yah... Yamada itu memang penakut kok. Aku tidak heran”

Yuya juga mengenal siapa Yamada yang dimaksud Daiki. Yamada adalah kouhai mereka. Daiki selalu mengenalkan teman-temannya pada Yuya sehingga Yuya tahu semua teman Daiki.

“Kau tidak takut hantu kan Yuya?”

“Tidak. Kan mereka sudah mati. Orang yang sudah mati tidak ada urusannya denganku”

Daiki menatap Yuya dengan pandangan kagum. Saat ini Yuya terlihat sangat keren. Daiki merasa beruntung sekali bisa mengenal Yuya. Yuya sangat bisa diandalkan. Yuya kini tampak sibuk menata makanan yang ada di dalam rantang. Satu persatu makanan itu diletakkan ke dalam kulkas.

“Yuya!!!”. Daiki tiba-tiba berlari memeluk Yuya dari belakang. Makanan yang ada di tangan Yuya hampir saja jatuh. Untung Yuya sigap menahannya. “Daisuki dayo!”

“Iya, iya. Aku juga menyukaimu. Tapi bisa kau lepas pelukanmu dulu? Makanan yang ada di tanganku ini hampir jatuh”

Daiki melepas pelukannya. Yuya pun kembali meletakkan makanan ke dalam kulkas. Setelah semua masuk, Yuya berbalik menatap Daiki. Yuya mendekatkan kepalanya ke arah Daiki. Sebuah kecupan manis dirasakan Daiki di tengkuk lehernya. Daiki merasa geli.

Ciuman itu kini mulai merambat perlahan ke telinga. Sesekali, Yuya menjilat telinga Daiki. Daiki merasa sedikit geli. Yuya menatap mata Daiki, perlahan jari Yuya meraba bibir kecil Daiki. Daiki mengulurkan kedua tangannya dan merengkuh kepala Yuya dalam pelukannya. Bibir mereka berdua kembali bertemu. Seakan sedang berlomba. Keduanya tidak mau kalah melumat bibir satu sama lain.

Tangan Yuya yang masih bebas kini mulai beraksi. Perlahan, Yuya membuka kancing seragam Daiki satu persatu. Tangan Yuya dengan bebas meraba kulit putih dan sedikit berlemak yang ada di hadapannya itu. Tidak ada satu daerah pun yang dilewatkan oleh Yuya. dia meraba seluruh tubuh Daiki dengan tangannya.

Kepala Daiki mulai kosong. Suara yang bisa didengar olehnya hanyalah suara decakan ketika mereka berdua berciuman. Bahkan Daiki sama sekali tidak menyadari desahan kecil yang dia keluarkan saat Yuya meraba tubuhnya.

Kini semua kancing Daiki telah terbuka. Tanpa menghentikan ciuman mereka, Yuya melepas baju seragam Daiki. Yuya mengangkat tubuh Daiki dan menggendongnya ke suatu tempat. Daiki semakin memperat pelukannya dan tidak ingin melepaskannya.

“Eh?”, ucap Daiki saat sadar tempatnya berada saat ini. Kamar mandi. “Kenapa kita disini?”, tanya Daiki tidak mengerti.

Yuya menurunkan Daiki dari gendongannya, “Kenapa kau diam saja? kau ingin aku membantumu melepas celanamu juga?”. Daiki langsung menahan tangan Yuya. “Asal kau tahu, badanmu bau sekali lo Daichan”, bisik Yuya sambil tersenyum mengejek sebelum menutup pintu kamar mandi.

Muka Daiki merah padam. “YUUYAAAA!!!!!”

END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar